NEOLIBERALISME PENDIDIKAN DI INDONESIA

Carut-marut pendidikan di Indonesia bukanlah hanya disebabkan tidak adanya komitmen pemerintah untuk menatanya, tidak jelasnya arah pendidikan, faktor kemiskinan, dan sebagainya. Kehancuran pendidikan kita itu juga disebabkan oleh faktor yang lebih luas dan lebih membahayakan, yaitu neoliberalisme. Neoliberalisme adalah ideologi kaum kapitalis yang mempunyai ambisi untuk menata seluruh aspek kehidupan manusia dengan logika pasar. Menurut mereka, seluruh bidang kehidupan manusia termasuk hak-hak mendasar seperti kesehatan, pendidikan, harus ditata sesuai dengan mekanisme pasar. Apa akibat dari asumsi ini? Program kapitalis ini bukan hanya mereduksi manusia menjadi mahluk pasar, tetapi lebih fatal dari itu, melindas orang miskin.

Dalam sub bab ini, penulis akan menjelaskan dampak kapitalisme dan neoliberalisme terhadap pendidikan nasional. Pertama-tama penulis akan menjelaskan apa itu neoliberalisme, ekspansinya terhadap semua aspek kehidupan, dan apa implikasinya; kedua, ekspansi neoliberalisme terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Ekspansi Neoliberalisme ke Seluruh Aspek Kehidupan

Neoliberalisme adalah isu penting yang harus dimengerti untuk memahami gelombang ekonomi pasar yang mengguncang tata kehidupan manusia saat ini. Dewasa ini, neoliberalisme mereduksi manusia menjadi hanya sebagai mahluk ekonomi pasar. Sistem ekonomi pasar ingin diaplikasikan ke seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk hal-hal mendasar seperti kesehatan dan pendidikan. Segala aspek kehidupan diukur dengan daya beli. Siapa yang mempunyai daya beli tinggi akan menang, sedangkan yang mempunyai daya beli rendah akan kalah.

Apakah neoliberalisme itu? Untuk mengertinya, kita perlu menelusuri perkembangannya mulai dari liberalisme. Liberalisme ekonomi adalah cikal-bakal neoliberalisme. Liberalisme sendiri telah mempunyai sejarah panjang, yaitu sejak abad ke-18, yang digagas oleh Adam Smith dan para filsuf lainnya. Liberalisme Adam Smith (1723-1790) dikenal dengan liberalisme ekonomi. Liberalisme ekonomi Smith ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Program Smith adalah mendobrak Merkatilisme yang menjadi corak ekonomi dan politik Inggris pada zaman itu. Merkantilisme adalah paham ekonomi-politik yang berkembang sejak abad ke-17, berisi gagasan bahwa kekayaan dan kekuasaan suatu bangsa berasal dari pemilikan logam berharga seperti emas. Untuk mencapai tujuan itu, tata ekonomi-politik bertujuan memperkecil impor dan memperbesar ekspor, sehingga semakin banyak keuntungan yang diperoleh, dan kemudian dimanfaatkan untuk membeli emas sebanyak mungkin. Berbeda dengan Merkantilisme itu, Smith menggagas tata ekonomi-politik dengan apa yang disebut sistem pasar bebas. Dalam sistem pasar bebas ini, orang mengumpulkan harta (akumulasi kapital) bukan dengan membeli emas, melainkan dengan melakukan transaksi jual beli di pasar secara bebas. Apa yang terjadi di pasar ialah bahwa setiap orang bebas menawarkan apapun yang menjadi permintaan di pasar, dan juga bebas membeli apapun yang tersedia di pasar. Inilah yang disebut sistem pasar bebas. Dengan demikian, sistem pasar—yakni interaksi antara penawaran (supply) dan permintaan (demand)—ini akan menciptakan ekuilibrium (keseimbangan dalam masyarakat). Dengan kata lain, pasar akan melakukan seleksi terhadap barang dan jasa yang ditawarkan. Produktivitas dan daya beli akan mendatangkan keuntungan sebanyak mungkin. Jadi, kebebasan pasar menjadi syarat untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Sejak Adam Smith, pasar bebas menjadi satu-satunya sistem ekonomi yang diyakini banyak orang akan mendatangkan keuntungan sebanyak mungkin.

Paham yang dianut oleh kaum liberal ini diradikalkan oleh kaum neoliberal di kemudian hari. Dua tokoh yang sering dianggap sebagai tokoh neoliberalisme adalah Friedrich von Hayek (dari Austria) dan Milton Friedman (dari Amerika Serikat). Untuk mengerti neoliberalisme ini, kita mulai terlebih dahulu melihat fenomena ekonomi dewasa ini. Ekonomi pasar bebas dewasa ini bergerak amat sangat cepat, intensif, maksimal. Contohnya, dalam ekonomi klasik perdagangan membutuhkan tempat dan waktu lama serta menekanakan pada kepemilikan properti. Sedangkan dalam ekonomi neoliberal sekarang ini, para pedagang saham tidak membutuhkan banyak waktu dan tidak perlu pergi ke mana-mana untuk melakukan transaksi; mereka cukup memegang gagang telepon atau handphone saja, miliaran atau triliunan uang sudah berpindah pemilik. Teknologi canggih seperti komputer, internet, membuat transaksi itu semakin cepat, mudah, intensif. Dalam situasi seperti ini tidak heran bahwa perdagangan uang saat ini seperti video game. Orang tinggal mengawasi loncatan-loncatan cursor pada layar monitor, dan dengan sekali menekan tombol, jutaan dollar telah berpindah pemilik. Hal ini tidak dapat dibayangkan dalam liberalisme klasik. Singkatnya, dalam neoliberalisme terjadi maksimalisasi transasksi, maksimalisasi volume transasksi, maksimalisasi kontrak, dan seterusnya. Apa yang dicari oleh para kapitalis dengan percepatan luar biasa dari pasar itu? Tidak lain dan tidak bukan ialah mengumpulkan laba sebayak mungkin. Ini yang menjadi tujuan mereka. Mereka mengembangkan modalnya, membangun perusahaan-perusahaan (lokal sampai multi-nasional) demi meraup untuk sebanyak mungkin.

Karakter mencolok dari neoliberalisme ialah liberalisasi-deregulasi-privatisasi. Kaum neoliberal berpandangan bahwa segala bentuk izin, kontrol dari pemerintah, merupakan halangan bagi pasar bebas, yang membuat orang tidak bebas mengembangkan segala modalnya. Pasar harus dibiarkan bergerak sebebas mungkin sehingga setiap orang bebas mengembangkan modalnya. Oleh karena itu, harus dilakukan minimalisasi perizinan atau kontrol negara atas pasar (deregulasi). Para kapitalis itu menuntut deregulasi soal campur tangan pemerintah, soal pajak dari negara, tetapi mereka justru meminta pemerintah untuk melakukan kontrol atas buruh, kontrol atas serikat-serikat buruh, yang semuanya itu bertujuan demi kentungan kaum kapitalis itu. Jadi, di satu sisi mereka menuntut kebebasan, namun di sisi lain mereka justru memasung kebebasan. Selain deregulasi dan liberalisasi, privatisasi menjadi karakter mencolok dari neoliberalisme. Aset-aset dan harta kekayaan yang sangat besar jumlahnya dimiliki oleh hanya segelintir orang.

Kalau begitu, apakah sistem pasar itu jelek? Pasar itu bukan sesuatu yang jelek, melainkan sesuatu yang baik dan penting. Tanpa pasar, kita tidak mungkin hidup. Pasar itu sangat dibutuhkan manusia untuk bertransaksi agar bisa hidup. Sejauh diterapkan dalam lingkup ekonomi, pasar bebas itu tidak ada masalah. Masalah timbul karena ternyata sistem pasar itu tidak hanya diterapkan dalam perdagangan atau ekonomi, melainkan diterapkan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Pasar neoliberal ternyata bukan hanya urusan ekonomi, melainkan mereka melakukan ekspansi terhadap semua bidang kehidupan. Neoliberalisme pertama-tama bukan urusan ekonomi, tetapi suatu proyek filosofis yang beraspirasi menjadi teori komprehensif tentang manusia dan tatanan masyarakat. Kaum neoliberal bermimpi bahwa segala aspek kehidupan harus ditata dalam sistem ekonomi pasar. Mereka ingin menerapkan logika ekonomi pasar ke seluruh bidang kehidupan; inilah yang disebut dengan fundamentalisme pasar (neoliberalisme).

Pandangan mereka bermula dari pengandaian bahwa pada kodratnya manusia adalah homo oeconomicus. Apa artinya bahwa manusia itu pada dasarnya mahluk ekonomi? Artinya, bahwa seluruh tindakan dan relasi manusia itu ditentukan oleh kinerja pasar. Dengan kata lain, seluruh aspek kehidupan manusia itu dinilai berdasarkan untung-rugi, daya beli, kompetisi, produktivitas.

Jantung neoliberalisme dapat diringkas sebagai berikut. Cara-cara kita bertransaksi dalam kegiatan ekonomi bukanlah satu dari berbagai model hubungan antarmanusia, melainkan satu-satunya model yang mendasari semua tindakan dan relasi antarmanusia, baik itu persahabatan, keluarga, hukum, tata negara, maupun hubungan internasional. Dengan kata lain, tindakan dan hubungan antarpribadi kita maupun tindakan dan hubungan legal, sosial dan politis kita hanyalah ungkapan dari model hubungan menurut kalkulasi untung-rugi individual yang terjadi dalam transaksi ekonomi. Manusia pertama-tama dan terutama adalah homo oeconomicus. Itulah ontologi (kodrat) manusia.

Karena manusia adalah homo oeconomicus, maka sosok manusia sejati adalah pengusaha. Setiap manusia dituntut menjadi pengusaha. Manusia-pengusaha itu harus melihat dan mengubah segala aspek kehidupannya dengan idiom pasar. Artinya, segala aspek kehidupan itu, termasuk hal mendasar seperti kesehatan dan pendidikan, dilihat sebagai modal yang harus diubah menjadi laba. Dengan kata lain, neoliberalisme berarti finansialisasi segalanya. Daya beli menjadi syarat utama dalam kompetisi pasar ini. Orang yang mempunyai daya beli tertinggi adalah pemenang, sementara yang daya belinya rendah akan kalah.

Bagi kaum neoliberal, segala unsur dan karakter neoliberalisme itu ingin diaplikasikan ke seluruh aspek hidup manusia. Interaksi, relasi manusia yang satu dengan yang lain harus didasari tata ekonomi pasar bebas. Dengan demikian, neoliberalisme menjadi dasar atau pandangan hidup yang ideal yang harus diterapkan oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, tidak ada lagi pembedaan antara ekonomi pasar dan masyarakat pasar dalam neoliberalisme ini. Pasar telah menjadi seperti etika masyarakat neoliberal; yang ada hanya pasar: masyarakat pasar, budaya pasar, nilai-nilai pasar, orang-orang pasar (pengusaha).

Apa implikasi dari totalisasi pasar ke dalam semua aspek kehidupan ini? Implikasinya sangat fatal jika tata kehidupan kita diatur hanya berdasarkan sistem ekonomi pasar. Pertama, manusia direduksi hanya menjadi mahluk pasar atau mahluk ekonomi. Kritik terhadap ekonomi pasar bukan karena sistem pasar itu jelek, melainkan karena sistem ekonomi pasar ini ingin diterapkan ke seluruh aspek hidup manusia, bahkan yang paling mendasar sekalipun, seperti pendidikan, kesehatan, hukum, politik dan sebagainya. Kecenderungan totalisasi logika ekonomi pasar ke bidang-bidang lain dalam tata hidup bersama itulah rupanya yang sedang menyerbu kita bagaikan gelombang yang sangat kencang. Manusia direduksi hanya sebagai homo oeconomicus, padahal manusia itu mempunyai banyak aspek lain, seperti manusia adalah mahluk biologis, mahluk sosial, mahluk religius dan sebagainya. Benar memang bahwa salah satu aspek manusia itu adalah ekonomi; manusia adalah mahluk ekonomi. Namun tidak keseluruhan manusia itu adalah ekonomi.

Kedua, neoliberalisme merupakan bentuk kolonialisme dan imperialisme. Melalui ekspansi ekonominya, kaum kapitalis mengontrol seluruh ekonomi dunia. Amerika Serikat, yang merupakan dalang dari kapitalisme itu, melakukan imperialisme dan kolonisasi ke seluruh dunia melalui kontrol ekonomi-politik dunia. Mereka melakukan kampanye tentang demokrasi ke seluruh dunia, membangun opini publik tentang pasar bebas, tentang globalisasi, dan sebagainya. Namun di balik kampanye demokrasi, globalisasi, pasar bebas itu, Amerika Serikat ternyata sedang melakukan ekspansi imperialisme.

Ketiga, ini implikasi yang paling fatal dan tidak manusiawi, neoliberalisme melindas orang-orang miskin di dunia ini. Sudah dikatakan di atas bahwa ciri neoliberalisme adalah mengumpulkan kapital sebanyak mungkin melalui kompetisi. Daya beli menjadi syarat utama dalam kompetisi ini. Pertanyaannya, bagaimana dengan orang-orang yang tidak mempunyai modal untuk berkompetisi? Bagaimana bisa mereka mempunyai daya beli kalau tidak mempunyai pundi-pundi? Jawabannya jelas: mereka akan terhempas dari kehidupan. Dengan kata lain, jika logika ekonomi pasar diterapkan terhadap semua segi kehidupan—bahkan yang paling mendasar seperti pendidikan dan kesehatan—pendidikan dan kesehatan itu bukan lagi sebagai hak asasi melainkan soal daya beli. Inilah yang akan dialami 108,78 juta orang Indonesia yang mempunyai daya beli rendah (biaya hidup sekitar 2 dollar AS per orang per hari, sesuai dengan kategori orang miskin menurut Bank Dunia). Inilah ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh kapitalisme dan neoliberalisme.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s