SALIB DALAM HIDUP EDITH STEIN: (Sebuah Refleksi Kehidupan tentang Salib)

Pengantar

Salib seringkali bukanlah menjadi impian manusia. Bahkan salib merupakan hal yang ingin dihindari oleh setiap manusia. Namun tidak demikian dengan santa Teresia Benedikta dari Salib. Dia sangat mencintai salib. Dengan sukacita dia rela memikul salib demi cintanya yang besar kepada Tuhan. Sampai akhir hayatnya, salib tetap menjadi bagian dari hidupnya. Kecintaanya yang besar terhadap salib inilah yang memampukan dia memandang segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah bagian dari rencana Allah. Sehingga dalam segala keadaan yang dialaminya, dia mampu mengambil makna dari salib. Dan salib menjadi bermakna jika dipersatukan dengan penderitaan Yesus.

1. Riwayat Hidup

Santa Theresia Benedikta dari Salib mempunyai nama kecil Edith Stein, lahir di Breslau, Jerman pada tahun 1891. Dia lahir dalam keluarga Yahudi yang sangat saleh. Hari kelahirannya merupakan hari yang istimewa karena bertepatan dengan hari Yom Kippur, yang bagi orang-orang Yahudi hari itu merupakan hari pertobatan. Ia adalah anak termuda dari 11 bersaudara.

Perjalanan hidup rohaninya dimulai ketika dia mulai kehilangan imannya pada umur 13 tahun. Meski terlahir dalam keluarga Yahudi yang saleh, Edith Stein mulai merasakan kehampaan dalam batinnya. Semakin lama imannya semakin meredup, tetapi dia tetap pergi ke sinagoga meskipun itu dilakukanya hanya untuk menemani ibunya dan dia pun tetap berpuasa. Delapan tahun lamanya dia bergulat dengan dirinya untuk dapat memahami Allah. Selama waktu itu pula dia menjadi seorang atheis.

Perkenalannya dengan Max Scheller di universitas membuka cakrawala baru bagi Edith untuk masuk dalam dunia rohani. Scheller adalah seorang Katolik yang memberikan pandangan bahwa hanya agama saja yang dapat menjadikan manusia seorang manusia. Dan ini mendapatkan respon positif dari Edith. Ia mulai membaca Kitab Suci Perjanjian Baru untuk mengenal Kristus dan hatinya begitu terpikat dengan autobigrafi Santa Teresa dari Yesus. Pada tanggal 1 Januari 1922, Edith dibaptis menjadi seorang Katolik.

Panggilan untuk hidup membiara dirasakan oleh Edith Stein setelah dia menerima Sakramen Penguatan (2 Februari 1922). Tetapi niat ini harus ditundanya seturut nasehat bapa pembimbing rohaninya. Dia tidak kecewa tetapi melihat peristiwa ini dalam koridor rencana Allah. Setelah sekian lama menanti, pada tahun 1933 dia masuk dalam Biara klausura Karmelites OCD. Dan pada tanggal 10 April 1934 dia mengenakan jubah Karmel. Namanya diganti menjadi Sr. Teresa Benedikta dari Salib. Nama dari Salib dia pilih karena begitu besar cintanya kepada Yesus yang wafat di kayu salib. Dengan cinta itu pula, Edith dapat menahan semua beban berat salib hidup.

Pada tanggal 14 September 1936 Edith harus menanggung salib demi cintanya kepada Tuhan. Tanggal itu adalah hari dimana Edith memperbaharui kaul kebiaraannya. Bertepatan pula dengan pembaharuan kaul itu, peristiwa lain yang tidak akan dilupakan oleh Edith adalah kematian ibunya. Saat itu adalah Pesta Salib Suci. Edith Stein menerima semua peristiwa itu sebagai rencana Allah.

Tanggal 2 Agustus 1942 adalah babak baru bagi Sr. Teresa Benedikta untuk lebih mencintai Tuhan lewat salibnya. Dia ditangkap oleh tentara Nazi. Penangkapan ini sebenarnya merupakan suatu kesalahpahaman dari priorinnya yang menyangka tentara Nazi itu adalah petugas imigrasi. Tetapi Sr. Teresa Benedikta yakin bahwa peristiwa penangkapan dirinya ini adalah bagian dari rencana Allah. Dia tidak marah apalagi dendam, malahan dalam deritanya dia berusaha menghibur saudari-saudarinya di Echt dengan mengirim surat kepada mereka.

Sr. Teresa Benedikta dari Salib dinyatakan meninggal pada tanggal 9 Agustus 1942. Data ini berdasarkan pada sebuah dokumen yang diterbitkan oleh Palang Merah Belanda pada 15 Februari 1950. Ia meninggal di kamp konsentrasi di Auschwitz dalam kamar gas beracun. Dia dikremasi di Auschwitz, karena membela iman Kristen setelah mempersembahkan dirinya sebagai korban sembelihan bagi bangsa Israel. Dia diangkat sebagai beata oleh paus Yohanes Paulus II di Koeln pada tanggal 1 Mei 1987dan digelari kudus pada tanggal 11 Oktober 1998.

2. Makna Salib menurut Edith Stein

A. Salib sebagai Partisipasi Derita Tuhan

Edith Stein lahir dalam lingkungan pendidikan yang kuat. Semasa kuliah di Gottingen, dia menangkap mata kuliah yang diberikan dengan cepat, sehingga dia tampak menonjol di antara teman-temannya. Dia kemudian menjadi asisten dosen pada bidang fenomenologi dari Edmund Husserl dan mengembangkan sendiri pemikirannya. Dia mengaku pada usia 13-21 tahun menjadi seorang atheis, bahwa dia dengan sadar sungguh-sungguh dan atas kemauan sendiri berhenti berdoa. Bagi Edith, doa identik dengan percaya kepada Tuhan. Selama seseorang masih berdoa, ia masih mempunyai iman, tetapi kalau ia berhenti berdoa, ia tidak beriman. Namun Edith masih tetap melaksanakan kebiasaan orang Yahudi. Dia mengatakan bahwa “sejak berumur 13 tahun, saya selalu setia berpuasa dan tidak seorangpun dari kami membebaskan diri dari puasa ini, bahkan ketika kami semua meninggalkan agama ibu dan tinggal di luar rumah, kami tetap melaksanakan peraturan ritual tersebut”.

Ketika salah seorang tokoh filsafat yang dikagumi Edith, Adolph Reinach, meninggal di medan perang pada tahun 1918, ia bertemu jandanya, Anna Reinach dan memintanya mengatur karya-karya peninggalan suaminya. Edith heran karena janda tersebut tidak bersedih dan hanyut dalam kedukaannya. Anna mengatakan bahwa sebelum suaminya meninggal, ia dan suaminya telah menjadi katolik. Ketegaran hati Anna karena Anna menyadari bahwa Kristuslah sumber ketegaran itu. Peristiwa itu sangat mempengaruhinya dan dia mulai membaca kitab suci Perjanjian baru. Dia menyebut peristiwa yang sama sebagai “saat ketidakpercayaanku musnah dalam gulita dan Cahaya Kristus bangkit menerangiku, Kristus dalam misteri salib-Nya”.

Pada tanggal 16 Juli – 13 Agustus 1933 dia tinggal di biara Carmelites Cologne Lindenthal di bagian tamu. Dia menjalankan orientasi dalam biara dan dia merasakan kebahagiaan, yang membuatnya semakin yakin untuk masuk biara kontemplatif. Maka pada tanggal 14 Oktober dia secara resmi menjadi postulan selama enam bulan. Ia mengaku, “Bukanlah tindakan manusia yang dapat menolong kita, melainkan penderitaan Kristus. Mengambil bagian dalam derita Kristus itulah yang menjadi hasratku”. Dia merefleksikan nama salib pada namanya, ketika dia menulis surat kepada suster Petra Bruning, OSU, pada tanggal 31 Oktober 1938 yang berbunyi, “Dengan salib, aku memahami nasib umat Allah. Saya pikir, mereka semua yang menyadari hidupnya sebagai salib, harus mengambilnya dan memikulnya bagi semua orang”.

Pemahaman Edith Stein mengenai ikut terlibat dalam derita salib Kristus menjadi titik pusat imannya yang menjelaskan pengalaman sisa hidupnya sebagai orang Yahudi dan Kristen. Saat dalam Biara dia disuruh mengembangkan kemampuannya dan menulis “Pengetahuan Salib” (Kreuzeswissenschaft). Buku ini berisi refleksi atas tulisan-tulisan Yohanes Salib. Bagi Edith ‘Salib’ hanya dapat dipahami dan dihayati apabila orang telah mengalami salib amat dekat. Dia mengatakan, “Aku telah diyakinkan tentang hal ini sejak semula dan menyatakan dengan sepenuh hati: Ave Crux, spes unica! (Salam, hai Salib, harapanku yang utama!)”

Edith Stein mengajak para pembacanya untuk merenungkan alasan mencintai salib penderitaan dan bukan hanya mengenang perjalanan penuh derita Tuhan Yesus, agar secara manusiawi lebih dekat pada-Nya dengan mengikuti-Nya. Yesus sebagai pemenang atas dosa, kematian dan maut menjadi terlupakan. Inti makna salib yang ditanggung oleh Yesus adalah sifat dan tindakan manusia yang berkonsekuensi dengan dosa dan penderitaan sehingga mengakibatkan jatuhnya kemanusiaan. Kristus yang jatuh 3 kali di bawah salib melambangkan kejatuhan manusia Kristen. Pertama, jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa; kedua saat bangsa terpilih menolak Yesus; ketiga jatuhnya iman yang menyebut dirinya Kristen. Namun Kristus tidak memanggul salibnya sendiri, ada orang-orang yang turut ambil bagian, misalnya: Maria, Simon dari Kirene, Veronika. Mereka membantu Sang Penyelamat demi cintanya kepada-Nya.

B. Salib sebagai Korban Silih

Banyak orang sempat meragukan kanonosasi Edith Stein atas kemartirannya karena dia dibunuh bersama dengan orang Yahudi lainnya dan dia hidup pada masa pemerintahan Nazi. Orang dapat salah menafsirkan pandangannya atas keprihatinan Edith Stein pada iman orang Yahudi. Padahal kita harus memahami bahwa dia hidup pada masa kekristenan yang memandang agama Kristen sebagai satu-satunya keselamatan (eksklusivisme) dan terjadi hanya melalui Yesus Kristus. Orang harus bertobat dan memeluk agama Kristen jika mau selamat.

Namun bagi Edith Stein penderitaan bangsa Yahudi merupakan suatu undangan untuk terlibat dalam salib Kristus. Dia memandang penderitaan itu bukan semata-mata suatu tindakan yang kejam. Ada suatu peluang yang terbuka bagi para korban untuk menjadikan penderitaan mereka sebagai rahmat daripada sebagai kesengsaraan belaka. Maka dia berharap akan adanya pertobatan orang Yahudi pada kekristenan, sehingga penderitaan yang terjadi itu dapat menjadi suatu korban yang sempurna. Korban yang sempurna itu harus dimaknai sebagai ambil bagian aktif dalam penderitaan kristus di salib. Hal ini tidak berarti bahwa Tuhan kejam sehingga manusia harus memberikan korban silih. Edith Stein menegaskan pengorbanan sebagai ekspresi keterlibatan manusia untuk menerima penderitaan dan bergulat di dalamnya. Ketika pengorbanan tidak dipahami oleh banyak orang, maka telah tiba waktunya untuk melakukan korban yang sempurna itu.

Tuhan bukan Allah yang kejam dan ‘haus akan darah’ sehingga harus diperdamaikan dengan ‘korban berdarah’. Kadang-kadang Edith Stein juga terpengaruh bahasa teologi pada waktu itu. Timbul pertanyaan mengenai sebab dosa dan kejahatan, kesengsaraan dan kematian; pertanyaan mengenai sebab kesengsaraan Kristus, merupakan pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara logis. Iman memberikan cahaya dalam perjalanan hidup dan membimbing setiap orang dalam pencariannya, tetapi iman tidak sepenuhnya memenuhi keinginan orang untuk mengetahui semuanya. Jawaban iman yang sungguh-sungguh tepat adalah pribadi yang hidup, Yesus Kristus sendiri dan salib-Nya. Dalam Rm 3:25 Paulus menyebutkan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (bdk. Rm 5:15).

C. Mengontemplasikan Salib Tuhan Yesus

Dalam Berita Karmel edisi spesial Donna Orsuto menyebutkan empat mosaik dalam kapel ‘Redemtoris Mater’ di istana Kepausan Vatikan. Dalam mosaik itu Maria berdoa dengan tangan terangkat ke atas dikelilingi oleh para rasul, yang menantikan Roh Kudus. Ada empat ornamen menarik yang menggambarkan ‘empat jalan mengikuti Yesus Kristus’ dan nyala merah terang. Nyala merah terang itu meliputi empat pribadi lain. Pertama, nyala itu meliputi St. Paulus, yang mengingatkan kita pada jalan kemartiran. Kedua, menyelimuti orang Samaria yang baik hati: mengingatkan kita pada tindakan cinta kasih dan pelayanan terhadap sesama. Ketiga, menyelimuti Ana dan Yoakim, mengingatkan kita pada cintakasih perkawinan sebagai jalan kekudusan. Dan yang terakhir, nyala itu meliputi Edith Stein yang mewakili jalan kontemplatif.

Dalam mosaik itu Edith Stein ‘memeluk’ nyala api itu. Hal ini merupakan perjalanan kontemplatif, dimana memeluk berarti menjadi satu, erat tak terpisahkan lagi, masuk dalam realitas itu dan realitas itu menjadi bagian dari dirinya. Bagi Edith Stein nyala api itu adalah ‘nyala Auschwitz’ yang mengantarnya pada kemartiran. Kemartiran Edith Stein ada bersama saudara-saudarinya di Auschwitz dan mengantarnya pada kontemplasi. Dalam peristiwa ini Tuhan berbicara padanya seperti Tuhan berbicara pada perjumpaan Musa dan Yahweh.

Saat pembaharuan kaul yang tiba pada pesta Salib Suci, 14 September 1939, Edith Stein menulis: ”karena itu Penyelamat kita memandang kita, menguji dan bertanya pada kita masing-masing: ‘akankah kamu tetap setia pada Dia yang tersalib? Pikirkan betul-betul …. Jika kamu memutuskan untuk Kristus, harganya adalah hidupmu. Pikirkan betul-betul apa yang akan kamu janjikan…!” Edith Stein mengajak kita semua yang mengikrarkan kaul agar selalu siap sedia untuk memikul salib kemartiran dalam hidup kita. Jika kaul hanya sebagai syarat dan tanda bahwa kita sebagai biarawan, maka kita tidak siap untuk menderita bersama Kristus. Edith Stein mengingatkan pada kaum biarawan untuk selalu memikirkan kaul sebagai jalan kesucian dan kemartiran.

Edith Stein selalu merenungkan ‘suatu dunia yang terbakar’ (the world is in flames). Dia mengikuti Kristus tidak dengan tanggung-tanggung, tetapi dengan penuh kemantapan dan kesadaran. Karena Kristus yang direnungkannya adalah Kristus yang tersalib, Kristus yang taat sampai mati dan mati di kayu salib. Kristus yang tersalib dan telanjang mengingatkan kita akan kaul kemiskinannya, dan mengikuti Yesus dalam kemiskinan dan kemurnian demi Yesus yang tersalib adalah satu-satunya kerinduan, keinginan dan pikirannya.

Menurut Edith Stein salib merupakan jantung bagi spiritualitas Karmel dan mengikuti Yesus. Itulah yang menjadi pusat kontemplasinya. Para religius sering mengatakan mengikuti Yesus secara radikal, namun yang pertama-tama adalah mengenal Dia dan menjalin relasi yang intim dengan-Nya. Itu berarti masuk dalam kematian-Nya, kenosis-Nya dan pengosongan diri-Nya yang pada akhirnya membawa kita pada hidup baru dalam Dia. Paulus mengatakan: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:7-8). Inilah cita-cita kita para pengikut Kristus.

Salib tidak dapat dihindari sebagai seorang pengikut Kristus. Sebab salib dalam iman Kristen adalah Paskah. Hidup kontemplatif adalah perjalanan menghayati misteri Paskah, dimana salib merupakan dasar hidupnya. Inilah yang disebut sebagai transformasi. Maka menurut Donna Orsuto kita diajak untuk merenungkan bahwa:

  • Ø Jumat suci berarti ‘hilangnya kehidupan’: sebutkan ‘kematian’ anda: apa saja dari masa lalu anda atau mimpi anda sebagai masa keemasan, tetapi sekarang telah berlalu? Apa sebaliknya yang harus ‘mati’?
  • Ø Minggu Paskah berarti ‘menerima hidup baru’. Dalam terang Paskah ini, apa yang anda lihat sebagai harapan baru dalam hidup anda? Adakah hidup dan energi baru? Di manakah itu?
  • Ø Masa 40 hari, dari Minggu Paskah sampai Kenaikan Tuhan, berarti ‘masa untuk menangisi yang lama dan menerima yang baru’. Biarkan diri anda untuk menangisi apa yang baik di masa lampau tetapi telah hilang. Biarkan hati dan pikiran untuk menerima realitas yang baru.
  • Ø Kenaikan, berarti ‘biarkan yang lama pergi dan menerima berkat’. Kita diundang agar dapat ‘menolak untuk terikat’ agar dapat menerima yang baru.

 Pentakosta, berarti’menerima roh baru bagi hidup baru’.Ø

D. Salib sebagai Spiritualitas Pengharapan

Pengalaman dan refleksi Edith Stein masih relevan sampai saat ini. Ada berbagai tindak kekerasan yang terjadi dan menimbulkan banyak korban, dan banyaknya bencana alam dan perang yang tak berkesudahan. Selain itu yang dekat dengan kita, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (ayah kepada anak, majikan kepada pembantu, dll). Korban kekerasan adalah mereka yang tidak dapat mengubah keadaan yang dialaminya, yaitu yang tidak berdaya terhadap tindak kekerasan tersebut.

Tindak kekerasan yang sering terjadi disekitar kita menimbulkan kejengkelan, karena korban seperti menyetujui tindakan tersebut. Salah satu contoh adalah seorang ibu muda yang kawin pada usia relatif muda, memberikan sharingnya. Ia sering mengalami kekerasan dari suaminya, namun ia tidak pernah dapat keluar dari perderitaannya ini. Dalam kesedihannya ia menceritakan, ”Biarlah semua ini saya tanggung, demi orang-orang yang saya cintai; suami dan anak kami satu-satunya. Merekalah harta milik saya satu-satunya. Buruk atau baik, saya akan berusaha menunjukkan cinta saya dan berharap bahwa suatu saat keadaan akan berubah” (ROHANI No. 09, th ke-54, September 2007).

Pengalaman di atas sulit untuk dimengerti oleh orang yang belum memahami arti salib dan cinta akan keluarga. Maka bahasa hati yang dapat memahaminya, bahwa segala sesuatu yang buruk tidak selalu buruk bagi pertumbuhan rohani. Kadang-kadang keadaan tertindas malah melahirkan orang-orang yang tahan banting dan tabah terhadap segala tantangan. Ibu muda tadi menujukkan suatu kesadaran memeluk penderitaan sebagai wujud cinta kasih yang tak terbatas dan wujud konkret cinta Kristus yang ditunjukkan lewat penderitaan-Nya di salib.

Edith Stein mewariskan pesan penting bagaimana kita memahami derita korban dan meletakkkan sikap bela rasa sebagai wujud hormat atas derita yang dialami oleh korban. Kita sering kali ingin cepat-cepat mengatasi penderitaan, sehingga kita tidak mampu melihat rahmat tersembunyi dalam penderitaan itu. Dia menunjukkan sikap hormatnya pada orang Yahudi dan penderitaannya. Bahkan dia ambil bagian dalam penderitaannya dan akhirnya menyerahkan dirinya juga. Bela rasa yang ditanggungnya ini menyebabkan perdamaian dapat terjadi. Maka St. Edith Stein akhirnya mengajak kita untuk turut ambil bagian dan bela rasa yang sama dengan para korban tindak kekerasan.

Penutup

Perjalanan rohani Edith Stein dapat menjadi teladan perjalanan hidup rohani semua orang, baik yang hidup dalam Biara maupun yang hidup sebagai awam. Perjalanan hidup ini diwarnai dengan pencarian yang penuh liku. Dia menemukan iman Kristen karena cintanya kepada Yesus dan bangsanya. Sebaliknya dia tahu bahwa bangsanya telah membunuh Yesus yang dikasihinya. Karena kesadarannya akan penderitaan Yesus di salib untuk menyelamatkan manusia, Edith Stein menginginkan keselamatan bagi umat Kristen (sang korban) dan umat Yahudi (sang pembunuh).

Tinggalkan komentar

Filed under Orang Kudus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s