Übermensch dalam hidup manusia

“Allah telah mati! Allah tetap mati! Kita telah membunuhnya!”

“Aku mengajarkan kalian Übermensch. Manusia adalah makhluk yang mesti dilampaui. Apa yang telah kalian lakukan untuk melampauinya?”

Übermensch itulah makna dunia. […] Tetaplah setia pada dunia dan jangan percaya pada orang-orang yang mengoceh pada kalian tentang harapan-harapan pada dunia atas sana! Entah tahu atau tidak, mereka itu penebar racun. Mereka itu orang-orang yang melecehkan kehidupan!”

Berawal dari membaca dan rasa terkesan terhadap potongan kalimat tersebut, kemudian berlanjut pada kotbah yang dibawakan seorang frater. Saya memperhatikan sepotong frase kalimat dalam kotbah tersebut. Sepotong frase kalimat tersebut ialah “menghayati peraturan”. Spontan dalam diriku muncul pertanyaan “apa itu menghayati?” Inilah hasil pergulatan kecilku memaknai kata “menghayati” bersama Nietzsche.

Kata “menghayati” kuhubungkan dengan kata “hayat” yang berarti hidup. Menghayati berarti menghidupi, menjadikan ‘itu’ sebagai bagian dari hidupku. Pengertian ini berdampak bahwa ‘itu’ yang kujadikan bagian dari hidupku seharusnya berada pada posisi setara dengan hidupku bahkan dibawahnya. Saya membandingkannya dengan hubungan antara tubuh secara keseluruhan dengan anggota-anggota tubuh. Bukankah anggota-anggota tubuh yang merupakan bagian-bagian dari tubuh memiliki posisi yang “lebih rendah”/ kurang penting jika dibandingkan dengan keseluruhan tubuh? Itulah makna “menghayati” yang kurenungkan.

Kemudian, soal peraturan yang akan dihayati. Saya kembali bertanya “apa maksudnya menghayati peraturan/ menghidupi aturan?” Saya mencoba merenungkannya dengan merujuk pada pendapat Nietsche di atas. Mungkin perenungan ini agak sedikit berputar, karena saya mencoba memahami terlebih dahulu kata-kata Nietzsche di atas. Ia mengatakan bahwa Allah telah mati. Menurut saya, bagaimana mungkin Allah/Tuhan bisa mati? “. . . jika Tuhan ada dan benar-benar dapat mati (bahkan dapat dibunuh oleh kita!), maka jelas itu bukan Tuhan.” Maka, jelas tidak relevan kalau kita mempertanyakan apakah Allah/Tuhan itu benar-benar sudah mati, seperti yang dipersoalkan beberapa kaum atheis.

Daripada mempersoalkan pertanyaan tersebut, saya lebih mengusulkan suatu pertanyaan yang baru sebagai berikut: “siapa itu Tuhan/Allah dan bagaimana kita dapat membunuhnya?” Tuhan berarti Yang Tak Terbatas, Yang Absolut, Sang Kebenaran, dimana kita seharusnya tidak dapat mendefinisikan-Nya, “menangkap-Nya”. Ia menjadi mati, seperti kata Nietzsche, ketika kita mencoba menjelaskannya. Menjelaskan berarti menjadikan Tuhan suatu idée fixee di dalam pikiran kita. Menjelaskan seringkali diberi bentuk konkret yaitu peraturan-peraturan. Artinya, manusia seringkali membuat suatu peraturan dan celakanya peraturan tersebut dianggap sebagai Tuhan, Sang Kebenaran. Akibatnya, manusia tidak lagi mencari Tuhan. Ia tidak lagi gelisah karena berpegangan pada berhala yang telah ia buat. Lebih celaka lagi, dengan kekuasaan orang ini menyerukan bahwa siapapun yang tidak menaati peraturan tersebut dianggap tidak dapat mencapai Kebenaran. Manusia itu telah membatasi Sang Kebenaran dengan peraturan-peraturan yang dianggapnya benar. Sejak itulah “kematian” Tuhan terjadi dan kitalah (manusia) pembunuhnya.

Peraturan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Ia menjadi salah, menjadi sesuatu yang absurd, ketika ia kehilangan sifat dinamisnya. Dinamis disini berarti peraturan seharusnya mampu mengembangkan manusia, mengantar manusia menjadi lebih manusiawi, dan semakin mendekati Sang Kebenaran. Jika tidak membawa pada perkembangan manusia, peraturan perlu dicurigai dan dikritisi. Perkembangan manusia itu tampak dalam semakin meningkatnya produktifitas serta kualitas hidup. Dengan kata lain, jika seseorang semakin berkembang dalam hidupnya yang dibatasi oleh peraturan, maka peraturan itu “sehat” dan orang itu dapat dikatakan sebagai Übermensch, yaitu makhluk-yang melampaui. Ia bukan orang yang menciptakan berhala-berhala dan menyembah pada berhala tersebut. Übermensch bukan berarti manusia yang berhasil menyiksa dirinya sehingga seolah-olah roh menang terhadap daging. Tetapi Übermensch adalah manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara roh dan daging. Ia melampaui keduanya untuk berdiri di hadapan Sang Kebenaran, Allah sendiri.

Jika kita kembali ke persoalan “apa itu menghayati peraturan”, kita dapat mengatakan bahwa menghayati peraturan sama dengan menjaga kedinamisan peraturan tersebut. Peraturan dibuat untuk manusia, bukan manusia dibuat untuk peraturan. Beranikah Anda menjaga kedinamisan peraturan demi perkembangan kemanusiaan Anda? Berhati-hatilah terhadap ide-ide dalam pikiran dan berbagai macam bentuk yang dihasilkannya. Hati-hati dengan berbagai bentuk kebudayaan. Hati-hati terhadap segala sesuatu yang dihasilkan manusia. Jangan-jangan Anda telah menjadi atau dijadikan penyembah berhala. Majulah dalam ketidakpastian, jangan percaya pada kepastian. Hidup itu pada dasarnya adalah lautan ketidakpastian.

“Sungguh, kita para filsuf dan ‘pemikir bebas’ (free spirit, harafiah: roh yang bebas) merasa, saat kita mendengar kabar bahwa ‘Tuhan yang tua sudah mati’, seakan-akan fajar baru menyinari kita; hati kita dilimpahi rasa syukur, ketakjuban, isyarat dan penantian. Pada akhirnya, horizon tampak terbuka lagi bagi kita meski belum terang benderang; pada akhirnya kapal-kapal kita dapat berlayar lagi, berlayar menempuh segala bahaya; semua keberanian pencinta pengetahuan diizinkan lagi; lautan, lautan kita, terbuka lagi; mungkin belum pernah ada ‘lautan terbuka’ seperti itu” (GS § 343)”

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s