Allah Islam dan Tuhan Dalam Alkitab

Dalam kehidupan sehari-hari, kerap kita dengar suatu ungkapan bahwa semua agama adalah sama, bahkan ada pula yang berpendapat, walaupun agama kita berbeda, akan tetapi Tuhan yang kita sembah itu sama. Semua agama adalah benar dan baik, sebab memiliki tujuan yang mulia, hanya saja setiap agama mempunyai caranya masing-masing. Islam dengan Al-Quran dan Al-Hadist sedang Kristen dengan Alkitabnya, pendapat ini sering dihubung-hubungkan dengan kata-kata mutiara, banyak jalan menuju Roma. Pemahaman ini secara logis mengandung arti yang positif bahwa konsep Tuhan – Al-Quran akan sama dalam segala hal konsep Tuhan – Alkitab. Akan tetapi jika pemahaman ini diterima maka segala ajaran yang tertulis dalam Al-Quran menjadi kabur[1]. Inilah suatu permasalahan yang menjadi sebuah perbincangan cukup panjang bagi sebagian ahli Theologi bahkan permasalahan ini juga yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Suasana yang panas dan mengusik dalam hati kita bila permasalahan ini muncul sebagai suatu diskusi bersama, entah dalam ranah intelektual ataupun hidup bersosial. Permasalahan ini pula yang akhirnya menimbulkan sebuah pertanyaan besar, apakah Allah Islam sama dengan Allah Kristen? Spontan pertanyaan ini dijawab oleh orang Islam bahwa Allah orang Islam sangat berbeda dengan Allah orang Kristen[2].  Dasar yang mereka gunakan adalah menolak bahwa Yesus bukanlah almasih (Qs. 5:72). Semua permasalahan ini akan kita kupas perlahan dalam pembahasan berikutnya.

HAKEKAT ALLAH dan TUHAN
Konsep Allah

Ajaran pertama dan yang terpenting dalam keyakinan Islam ialah ajaran tentang Allah. Muhammad mengetahui semenjak masa kecilnya, sebelum agama Islam, adanya kepercayaan pada Allah, yang berarti “Tuhan”; Tuhan yang samar, maha tinggi, yang menciptakan dunia, yang kemudian menjadi Allah. Dia juga mengetahui suku Najran yang hampir seluruhnya beragama Kristen dan berpengaruh besar dibagian Utara Arab. Ada pula ayah Muhammad  bernama Abdulah, yang berarti “Hamba Allah”. Dengan kata lain Muhammad sepenuhnya menyadari kepercayaan masyarakatnya tentang adanya Allah yang satu[3].

Inti atau jati-diri Allah meliputi keberadaanNya, kekekalanNya, keadaan tidak dapat dirasa, tidak berfisik, maha penting, maha hadir, tidak berbentuk, dam unik. Sifat-sifatnya meliputi hidup, kuat-kuasa, berpengetahuan, berperasaan, dan berbicara. Pencipta, pemelihara, nubuat, dan menetapkan takdir merupakan pekerjaan Allah.[4] Qur’an menitik beratkan ajarannya pada kesatuan dan keunikan Allah yang mutlak. Islam adalah penganut yang tidak dapat ditawar-tawar atas monotheisme. Dosa yang tak terampunkan ialah syirik yaitu menghubungkan atau menyatukan allah-allah lain dengan Allah yang ditekankan dalam Islam. Walaupun Alkitab ke kristenan dua-duanya mutlak mengimani satu Allah (monotheisme), tetapi monotheisme Islam menyangkal ajaran Alkitab tentang Trinitas, dan salah mengartikan menjadi tritesime (tiga Tuhan)

Orang-orang saleh yang percaya kepada Allah dapat mengharapkan kenikmatan hawa nafsu yang berkelimpahan. Di surge akan tersedia kemewahan yang abadi, kenikmatan jasmani, makanan, air bersih, gedung-gedung, bidadari-bidadari cantik dan perawan-perawan.[5]

 

Dapat dikenal vs Tidak dapat Dikenal
Menurut Alkitab, Tuhan dapat dikenal. Yesus Kristus dating ke dunia ini agar kita boleh mengenal Tuhan (Yoh. 17:3) “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Namun dalam Islam, Allah tidak dapat dikenal. Allah begitu tinggi dan mulia, sehingga tidak ada seorangpun yang pernah secara pribadi mengenalNya. Allah menurut Al-Quran barada di tempat yang sangat jauh dan sangat abstrak, sehingga tidak ada seorang pun yang pernah secara pribadi mengenalNya. “dan tatkala Musa datang untuk (bermujat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan, dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah musa, ‘Ya Tuhan,tampakkanlah (diri Engkau ) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ Tuhan berfirman. ‘kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu. Maka, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh, dan Musa pun pingsan. Setelah sadar kembali, Musa berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Qs. al-A’raf 7:143). Suatu kewajaran apabila kaum mukmim amat mencintai Tuhannya. Apabila mencintai sesuatu, manusia umumnya berharap dapat melihatnya. Allah SWT mengetahui segala yang terlintas di benak kaum mukmim[6]. Karena itu, dengan kemurahan dan rahmat-Nya, Allah SWT akan mewujudkan keinginan kaum mukmim tersebut di Surga kelak. Sementara menurut Alkitab, manusia dapat datang dan berhubungan secara pribadi dengan Tuhan yaitu Yesus Kristus.[7]

Allah dan Yesus Kristus
Ada dalam Qs.20.28, yang bunyinya demikian:”Innamaa ilaa hukumullohul ladzii laa ilaaha illa huwa”, “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia”. Dengan demikian seluruh umat Islam diwajibkan mengucapkan shahadat tain (kalimat tauqid) mengucapkan Keesaan Allah, yang bunyinya:”Ashadu anaa ilaa ha illalah” artinya: “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah”. Dengan pernyataan itu jelas orang Islam tidak akan menerima dan mengakui Tuhan selain Allah. Oleh sebab itu dalam menyikapi dan memahami pribadi Yesus oleh orang Kristen disebut Tuhan atau Allah, orang Islam jelas akan salah paham atau salah pengertian di dalam menafsirkan. Memang Tuhan itu adalah Allah dan Allah itu adalah Tuhan. Dua kalimat kata “Tuhan dan Allah” tidak bisa dipisahkan namun bisa dibedakan.

Tuhan adalah: Kuasa Allah atau kewibawaan Allah. Seperti kalimat “Allahu rabbul alamin” artinya: Allah adalah Tuhan alam semesta atau Allah adalah penguasa alam semesta. Terus bagaimana kalau kalimat seperti ini “Mukholafatuhu lilkhawadzisi” (Allah wujud-Nya tidak serupa dengan makhluq-Nya), lantas dihubungkan Yesus yang keberadaan-Nya manusia. Kalau Yesus disebut Allah mengacu pada pra keberadaan-Nya yang hakekatnya adalah Firman Allah menjadi manusia. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu melekat sehakekat dengan Elohim (Allah) dan Firman itu adalah Elohim (Allah). Yohanes 1:1 Muncul pertanyaan, Siapakah yang dimaksud “pada mulanya” dalam kalimat ayat itu? Yaitu Yesus sebelum menjadi manusia dan keberadaan-Nya sebagai Firman. Sekarang mari lanjutkan Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia”. Coba sekarang renungkan di ayat pertama mengatakan: “Firman itu adalah Allah”, jadi Firman atau Allah itu yang menjadi manusia. Terus sekarang hubungkan dengan Qs. 4:171 “Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya”. Atau renungkan juga bunyi Hadits ini “Isa faa innahu Rohulullah wa kalimatuhu”, “Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Kalam Allah” (Hadits Anas Bin Malik hal. 72). Jadi disini jelas sekali baik Kitab Injil, Al Qur’an dan Hadits ketiganya sama-sama menyatakan bahwa Yesus atau Isa dalam pra keberadaan-Nya sebagai manusia adalah Firman Allah.[8]

Jika Tuhan dalam konsep pengertian Islam adalah yang memiliki Kuasa dan berwibawa, maka dalam Injil Matius 28:18, dikatakan bahwa “Yesus mendekati mereka dan berkata: “kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di Surga dan di bumi.” Makna yang ditampilkan dalam pesan injil ini juga dibahas dalam Al-Quran yang berbunyi “Ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya namanya Almasih Isa Putra Maryam. Seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang yang terdekat dengan Tuhan” (Qs. Ali Imran 3:45). Dari kedua teks ini cukup membingungkan. Dalam paham Al-Quran sendiri kuasa atas bumi dan akhirat hanya dimiliki oleh Allah, sedangkan Isa Almasih (Yesus) juga memiliki kuasa tersebut. Akan tetapi menjadi rumit ketika Yesus ditolak mentah-mentah ke-Allah-Nya oleh orang Islam sendiri. Penolakan ini semakin menimbulkan pertanyaan akan eksistensi Yesus sendiri, Siapa Dia sebenarnya? Jawabnya adalah Roh Allah, Kalam Allah yang menjadi manusia. Makanya Isa itu bisa memberitahu tentang hari kiamat Qs. 43:61, “Isa itu dikatakan Iman Mahdi (Pemimpin yang Agung) dan Hakim yang Adil. Yesus itulah nanti yang menentukan secara mutlak seseorang dimasukkan ke Surga atau neraka. “Lalu semua bangsa akan dikumpulkan dihadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akam menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Mat 25:32-34). “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk 16:16). Jadi jelasnya Yesus itu adalah Allah karena Dia adalah Pribadi yang Awal dan yang Akhir. Dalam kitab Wahyu Yesus berkata:”Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” (Wahyu 1:8,17; 2:8; 22:13). “Huwal awwalu wal akhiru wadhdhariru wal bathinu; wa huwa bikulli syaiin ‘aliim” “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dzhahir dan Yang Batin ( Yang Nampak dan Yang Tidak Nampak); dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” Qs. 57:3.

Banyak tudingan-tudingan terhadap Yesus yang adalah Allah. Berbagai macam usaha untuk melihat dan membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah, antara lain Islam memberikan pandangan adanya kekeliruan mengenai konsep Ketuhanan Yesus dengan melihat silsilah biologis Yesus[9]. Selain itu ada pula keberatan dari pihak Islam dengan kisah penyaliban Kristus sebagai perwujudan karya keselamatan[10]

ALLAH ISLAM = ALLAH KRISTEN?

Soal yang sama terjadi dalam hubungan dengan pertanyaan mengenai apakah ‘Allah Islam sama dengan Tuhan Kristen?’. Jawabannya perlu kita lihat dari Kitab Suci Islam (Al-Quran) maupun Kristen (Al-Kitab), dan juga sejarah bangsa dan bahasa Semit.

EL SEMIT

Faktanya, bila kita membandingkan agama Yahudi (Alkitab Perjanjian Lama), Kristen (Alkitab Perjanjian Lama dan Baru), dan Islam (Al-Quran), kita dapat melihat bahwa ada butir-butir yang sama, namun banyak butir-butir lainnya yang tidak sama (jadi bukan semua sama atau semua tidak sama). Bila kita melihat Alkitab PL, kita dapat mengetahui bahwa nama Tuhan ‘El/Elohim’ adalah pencipta langit dan bumi, manusia dan segala isinya. Dan ia juga Tuhan yang menyatakan dirinya kepada Adam, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub. Agama Yahudi, Kristen dan Islam mempercayai itu semua, namun mereka berbeda dalam kepercayaan akan wahyu mana yang dari El yang sama itu yang dipercayai. Agama Yahudi mempercayai wahyu yang dibukukan menjadi Alkitab Perjanjian Lama, namun sekalipun agama Kristen menerima hal ini, agama Kristen juga mengakui penggenapan dalam Tuhan Yesus Kristus yang wahyunya dibukukan dalam Perjanjian Baru padahal Yahudi menolak. “Katakanlah: Kami telah beriman kepada Allah dan (kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Y’qub dan anak-anaknya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan ‘Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga di antara mereka itu dan kami patuh kepada Allah” (Al-Quran, Al-Baqarah, 2:136, Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim). [11]

 Agama Islam, sekalipun menerima kitab yang diterima Ibrahim, Ishak, Yakub dan Isa, namun lebih menerima kitab wahyu yang diterima Muhammad dari jalur Ismael, dan menerima kitab-kitab Ibrahim, Ishak, Yakub dan Isa sejauh diterima oleh Muhammad yang dipercayai sebagai nabi, dan sekalipun menerima kitab-kitab Yahudi dan Kristen, namun karena dianggap telah dipalsukan, maka kepercayaan kepada berita Al-Kitab terbatas hanya bila hal itu dikuatkan dalam Al-Quran. Jadi, dari terang Alkitab (PL+PB) dan Al-Quran jelas terlihat bahwa sebagai pelaku dengan namanya, Allah Islam adalah Tuhan Yahudi dan Kristen. Namun karena wahyu yang dipercayai berbeda, dengan sendirinya banyak pengajaran (aqidah)nya yang berbeda. Agama Yahudi, kepercayaannya hanya bergantung kepada Perjanjian Lama, akibatnya mereka memandang Tuhan ‘El’ (yang sejak Musa diberi nama juga sebagai ‘Yahweh’ (Kel.6:1-2) sebagai Tuhan monotheisme yang transenden dengan hukum Taurat sebagai pedoman, namun agama Kristen berbeda dan menerima kenyataan bahwa El Abraham itu juga telah menyatakan diri dalam pelaku Yesus dalam ke-Tritunggalannya, dan hukum kasih/Injil menjadi pedomannya. Islam mengikuti jalur Abraham mempercayai Tuhan ‘El’ itu yang dalam dialek Arab disebut ‘Allah’ (dari al-ilah). Dalam bahasa Ibrani kata sandang ‘the’ (‘al’ dalam dialek Arab dan ‘ha’ dalam dialek Aram-Siria namun diletakkan di belakang menjadi ‘alaha’) tidak digunakan bila menyebut Tuhan.

Dari sejarah kita mengetahui bahwa sejak awalnya ‘El’ bisa memiliki arti umum sebagai sebutan untuk ‘Tuhan/Ketuhanan’ dan ‘Elohim’ sering digunakan dalam arti kata jamak (politheistik) dan dipakai oleh suku-suku keturunan Sem (menjadi rumpun Semit) dan karena perkembangan zaman sering merosot sehingga dimengerti dalam berbagai-bagai ajaran aqidah, namun ‘El/Il’ juga digunakan untuk menyebut ‘nama diri’ Tuhan. Dari sejarah ini kita dapat melihat bahwa ‘Allah’ di kalangan bangsa dan bahasa Arab tidak lain menunjuk pada ‘El’ Semit’ yang sama, ini dijelaskan dalam buku-buku teologi Kristen maupun Ensiklopedia Islam bahwa setidaknya bangsa Arab mewarisi tiga jalur nenek moyang yang semuanya mengenal ‘El Abraham’ yaitu sebagai keturunan Sem, Yoktan (keturunan Eber), dan Adnan (keturunan Ismael anak Abraham). Bahwa ajaran/konsep mengenai ‘Allah’ (El) itu kemudian merosot dan makin tidak mendekati hakekat yang di’nama’kan dan ditujukan kepada pribadi lain seperti yang terjadi pada jalur Ishak (Kel.32, Anak Lembu Emas disebut ‘Elohim’ dan ‘Yahweh’) maupun jalur Ismael (masa jahiliah, dewa berhala disebut ‘Allah’), tentu tidak mengurangi hakekat nama itu sendiri sebagai menunjuk kepada ‘El’ semitik dan monotheisme Abraham. Namun, sekalipun diyakini bahwa ‘Allah’ Yahudi, Kristen dan Islam sama, tentu tidak disimpulkan bahwa Tuhan Semua Agama sama. Dalam pengertian ‘Universalisme’ (pluralisme agama) disebutkan bahwa semua agama itu menyembah Tuhan yang sama (universal) namun melalui jalan-jalan yang berbeda (partikular).

Dari kenyataan ini kita tahu bahwa nama Allah bukanlah kata Islam melainkan kata Arab sebab sudah digunakan sejak keturunan Semitik suku Arab yang menyebut El Semitik dalam dialek mereka, dan juga digunakan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen jauh sebelum kehadiran masa jahiliah dan Islam. Ulil Absar Abdala dalam seminar LAI mengakui bahwa 70% data Al-Quran berasal dari tradisi agama Yahudi dan Kristen, ini berarti Islam menggunakan istilah Allah dari kedua sumber itu dan digabungkan dengan konsep Allah nenek moyang mereka penganut agama Hanif. Di negara-negara berbahasa Arab, saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama Allah , dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Kairo kota lama, ada gereja Al-Mu alaqqah dimana dipintunya ditulis kaligrafi Arab yang berbunyi Allah Mahabah (Allah itu kasih), dan dipintu lainnya Ra isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah (Permulaan Hikmat Adalah Takut kepada Allah), dan dari situ ada sinagoga Ben Ezra dimana disebut bahwa dahulu di situ Rabbi Moshe Ben Ma imun menulis buku Al-Mishnah dan Dalilat el-Hairin dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana El/Elohim diterjemahkan Allah.[12]

Tuhan dalam menyebarkan firmannya menggunakan kendaraan bahasa-bahasa. Pada zaman Ezra, Alkitab Ibrani sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Aram, dan sejak itu sampai abad ke-XIX bahasa Ibrani hanya digunakan dalam penulisan/penyalinan Kitab Suci saja. Ketika bahasa Yunani menguasai kawasan sekitar Laut Tengah, atas perintah imam besar di Yerusalem, Eliezer, Alkitab PL diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani (Septuaginta/LXX), inilah yang digunakan Yesus, para Rasul, umat Kristen dan dipakai juga di sinagoga-sinagoga. Demikian juga di hari Pentakosta, Roh Kudus sendiri mengilhami para Rasul untuk mengkotbahkan firman (termasuk nama El/Theos) ke bahasa-bahasa pendengar, dalam arti kata penerjemahan nama Tuhan ke dalam bahasa-bahasa lokal didorong oleh Roh Tuhan/Kudus sendiri.

Berbeda dengan ‘El’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai ‘Theos’ dan bahasa Barat sebagai ‘God, Gott, Dieu’, maka nama ‘Allah’ (Arab) sebenarnya bukan terjemahan melainkan perkembangan dialek dalam rumpun Semit sendiri untuk menyebut El (di samping a.l. Alaha dalam bahasa Aram-Siria). Islam sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-XIII, Kristen Katolik baru masuk abad ke-XVI dan Protestan pada abad ke-XVII, ini berarti sudah tiga abad lebih dimana agama Islam dan bahasa Arab sudah merakyat di Indonesia, dan kemudian nama ‘Allah’ masuk menjadi kosa-kata bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam bahasa Indonesia, ada banyak kosa-kata yang berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Arab (1.495, termasuk kata ‘Allah’), Inggeris (1.610), dan Belanda (3.280), maka adalah tepat bila kata yang sekarang menjadi kosa-kata Indonesia itu dipakai untuk menyebut El/Elohim Perjanjian Lama dan Theos Perjanjian Baru dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, karena kata itu bukan saja dekat tetapi termasuk keluarga serumpun Semit dengan bahasa Ibrani.

Dari pembahasan di atas dapatlah disimpulkan jawab atas pertanyaan judul artikel ini, yaitu bahwa sebagai oknum dengan namanya “Allah Islam adalah Tuhan Kristen” atau “Allah Islam adalah Allah Kristen” pula, namun perlu disadari bahwa karena Kitab Suci yang dipercayai keduanya berbeda, maka jelas pula bahwa sekalipun ada samanya, keduanya memiliki banyak perbedaan dalam hal konsep/ajaran/aqidah.

 PENUTUP

Umat beriman sudah semestinya setia pada iman pribadi dan komunitasnya. Komunitas inilah yang telah memperkenalkan dan menyuburkan iman mereka. Mereka harus melihat kesesuaian  antara agama yang normative dengan pengalaman hidup mereka yang nyata. Jika umat Islam dan Kristen saling mendorong untuk menjadi lebih beriman dan saling membantu dalam nilai-nilai yang penting dalam hidupnya, maka mereka juga akan sadar menengenai hal-hal yang bisa menyatukan mereka dan memisahkan mereka[13].

Bertobat kepada Allah merupakan satu-satunya cara yang dapat membuat diri kita memiliki kebebasan rohani. Bertobat memang bukan berarti ganti agama. Bertobat dalam hal ini lebih menjurus kepada “perobatan rohani” dimana dosa-dosa disadari dan kemudian memohon pengampunan dari Allah . Dengan pengampunan dari Allah, Ia dapat menyucikan iman kita dan mengubah hati kita. Dengan pertobatan seperti ini akan muncul kesadaran baru atas tuntutan keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian terbentuklah kemungkinan saling hormat dan persahabatan yang labih baik.[14]


[1] Qs. 5:72, “Laqad kafarol ladziina qooluu innallaha huwal masiikhubnu maryama”, artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “sesungguhnya Allah ialah Almasih putra Maryam”

[2] Pertanyaan ini diajukan kepada mahasiswa Universitas Muhamaddiyah Malang, pada tanggal 19 November 2011

[3] Dr. Anis A. Shorrosh, Kebenaran Diungkapkan, Jakarta: Yayasan Pusat Penginjil Alkitabiah, 1988  hal. 9

[4] Ibid. hal 10

[5] Ibid. hal 11

[6] Ensiklopedi AL-Qur’an

[7] Robert Morey, ISLAMIC INVASION, Las Vegas:Christian Scolars Press, 1992,hal 63.

[8] Berdasarkan penjelasan dari salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

[9] Muhammad Ali Al-Khuli, Islam dan Kebenaran Yesus, Surabaya:Target Press Surabaya, 2002, hal 6

[10] Ibid. hal 81

[11] http://www.yabina.org/layout2.htm. Diakses tanggal 25 oktober 2011

[12] http://sabda.org/artikel/nama_allah. diakses tanggal 25 oktober 2011

 [13] P. Maurice Borrmans, PEDOMAN DIALOG KRISTEN-MUSLIM, YOGYAKARTA: YAYASAN PUSTAKA NUSANTARA,2003, hal. 71

 [14] Ibid. hal. 72

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas, Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s