Pengharapan Natal

Realitas manusia dewasa ini seakan tidak memberi ruang untuk bicara mengenai pengaharapan. Sebab dalam pengalaman hidup, kita menemukan betapa keburukan lebih dominan daripada kebaikan. Kesombongan lebih mendominasi hati manusia daripada cinta kasih. Berita-berita di media menyuguhkan fakta bahwa kehancuran lebih banyak daripada perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan semakin menutup ruang tersebut.

Kita baru saja diperlihatkan puluhan nyawa manusia tewas akibat letusan gunung Merapi. Sementara itu, Mentawai mengabarkan bahwa ratusan nyawa hilang dalam waktu yang tidak lama akibat gempa dan Tsunami.  Belum selesai berpikir soal itu, fenomena lain sudah muncul kembali; belum lagi kaum buruh berdemostrasi siang dan malam, sebagai pertanda bahwa ketidakadilan melanda kehidupan mereka. Bahkan tak jauh dari belakang rumah kita,  kita pasti menemukan fakir miskin dan anak-anak terlantar. Fakta yang demikian itu menutup ruang pengharapan. Kita masih dapat menyebut hal lain yang lebih banyak.

Paradoks baru kita kita hadapi. Ditengah dunia yang carut marut, gema Natal kembali berkumandang. Lonceng-lonceng gereja berdentang bersahut-sahutan di sudut-sudut kota dan desa di seluruh penjuru dunia. Benarkah Natal merupakah celah untuk berharap kembali?

Apa yang sesungguhnya kita harapkan? Kekayaaan? Kebahagiaan? Kekuasaa atau apa? Kalau manusia hanya mengharapkan kekayaan, maka Tsunami akan datang untuk mengakhirinya; kalau manusia mengharapkan jabatan, maka Gunung berapi menjadi jawabannya; kalau manusia hanya mengharapakan kebahagiaan; maka tak satupun tempat untuk memenuhinya. Kalau hanya itu yang kita harapkan memang benar bahwa dunia tak lagi memberi ruang. Sebab pengharapan yang demikian tak lagi mencerminkan pengharapam yang menunjukkan hubungan mendalam dengan Tuhan yang memberi arti pada semua usaha kerja keras manusia. Kita mengharapkan banyak hal, namun tidak mengharapkan hadirnya Tuhan dalam hidup manusia.

 

Natal Ruang Pengharapan

Peristiwa Natal merupakan solusi bagi manusia yang hampir kehilangan harapan. Natal berarti lahirnya Sumber pengharapan bagi manusia. Yesus yang lahir adalah jawaban bahwa dunia masih mempunyai ruang pengharapan. Natal membawa manusia bahkan untuk menemukan pengharapan. Natal manjadi batu pijakan untuk kelahiran harapan dalam kehidupan yang semakin terpuruk. Maka akan selalu ada celah, kesempatan, keberanian, kepercayaan, kemungkinan dan bahkan hikmat baru yang sarat makna.

Berita Natal dapat menjadi kesempatan memulihkan pesimisme. Pengharapan yang konon mulai kendur atau hancur berkeping-keping akibat kehancuran yang silih  berganti, kini menemukan indentitasnya kembali.  Sebab Natal adalah bukti nyata bahwa Yesus peduli terhadap situasi yang dihadapi manusia. Penantian yang seakan sia-sia saat ini menemukan jawabannya. Dalam situasi apa pun, Dia memulihkan kita, Dia datang untuk menyelamatkan manusia.

Maka, Natal bisa dimaknai sebagai momen bangkitnya tindakan-tindakan yang bernuansa pengharapan. Harapan yang sesungguhnya tidak berhenti pada perkataan semata; tapi pada kemauan untuk merubah kehidupan. Keberadaan manusia berawal dari apa yang disebut natalitas. Sejak manusia lahir dari rahim ibunya saat itulah ia eksis dalam dunia nyata. Moment natali merupakan moment kelahiran harapan, kelahiran tindakan-tindakan. Pengharapan tentu saja bukan kata akhir, melainkan juga sebuah tindakan. Dimana harapan tidak berujung pada ke-pasifan, tetapi justru pada aktivitas. Maka manusia yang lahir ke dunia haruslah menjadi manusia yang aktif berpikir dengan rasionya dan bertindak dengan segala hidupnya. Tanpa berpikir dan bertindak manusia dianggap tidak ada atau tidak lahir.

Natal juga bisa kita maknainya sebagai ajakan bagi setiap kita untuk memunculkan tindakan-tindakan kreatif, aktif, dan motivatif dalam hidup di tengah dunia yang pilu ini. Peristiwa ini pula menjadi inspirasi kekuatan dan tumpuan kita, saat alam dan bumi seolah-olah tidak berpihak pada manusia; saat bencana datang setiap saat.

Kerelaan Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus adalah tindakan yang mengubah. Ia ingin memulihkan kehidupan manusia; sekaligus memberi harapan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan. Maka, tindakan sekecil apa pun yang dapat kita lakukan untuk menolong para korban, peduli pada orang lain dan memulihkan kehidupan ini adalah tindakan yang sangat berguna. Kalau kita berharap dan melakukan sesuatu karena kita percaya, maka kita akan sadar bahwa hidup bukan hanya hari ini saja. Kita masih punya masa depan.

Kalau kehancuran lebih banyak daripada kebaikan, apakah kita berhenti untuk berharap?

 *Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s