Dari Kekaguman Menuju Kematian: Dunia Virtual Membunuh Eksistensi Manusia

Selama beberapa tahun terakhir kita telah melihat peningkatan teknologi virtual pada kecepatan yang dramatis, dari pengenalan dan keberhasilan koneksi nirkabel[1]. Banyak orang sekarang memiliki kemampuan untuk menemukan “dunia baru” dari kenyamanan realitas. Kita telah melihat pengenalan dunia maya begitu cepat. Semua memerlukan computer dan broadband dan imajinasi manusia akan mengurus.

Dunia virtual mengubah manusia. Memungkinkan manusia menciptakan virtual replika. Setelah diciptakan berbagai teknologi, manusia diharapkan bisa keluar untuk berjalan-jalan menghabiskan uang virtual, untuk barang-barang seperti pakaian. Dengan begitu cepat dapat bertemu sahabat baru, orang baru yang semuanya bak bayangan. Disamping itu dunia maya memungkinkan kemampuan untuk terbang, melakukan kunjungan ke sebuah negara baru semudah berjalan-jalan di taman.

 Dengan latar situasi yang demikian itu, penulis mencoba menganalisa effect lain dari dunia virtual, khususnya berkaitan dengan eksistensi manusia. Dengan kata lain tulisan ini dimaksudkan memberi analisis kritis atas dampaknya bagi eksistensi manusia. Penulis menyadari pentingnya hal ini, mengingat selama ini masyarakat modern kurang memikirkannya. Sehingga dengan demikian, mampu mempertahankan eksistensinya di tengah dunia yang tervirtualisasi.

Bermula dari Kekagumanan

            Filsafat bermula dari kekaguman atau keheranan akan alam semesta.[2] Dari kekaguman itu manusia mulai bertanya dari mana asal dunia, siapa yang mengaturnya, mau kemana akhirnya dan apa relevansinya bagi manusia? Adakah semuanya itu untuk manusia? Apa peran manusia dalam dunia? Munculnya pertanyaan-pertanyaan demikian reflektif menjadi titik berangkat munculnya filsafat, meskipun belum punya sebuah sistem.

Dalam perjalanan waktu manusia tak pernah berhenti  bertanya. Manusia juga berusaha memberi jawaban, karena hanya mahkluk berakal budi yang bisa menjawab pertanyaan. Meski pertanyaan dan jawaban berasal dari manusia, tetaplah hal itu mengagumkan. Maka munculah ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan manusia tidak statis melainkan dinamis, karena manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman, refleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya memahami dunianya[3]. Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang itu kemudian menjadi cikal bakal munculnya teknologi virtual sebagaimana yang dikenal zaman sekarang. Seperti misalnya, HP, internet, telepon, televisi dsb.

Lahirnya ilmu teknik – khususnya ilmu teknik virtual sekarang ini, – menghadirkan wacana baru bagi manusia, lagi-lagi problem keterkaguman. Siapa dari manusia yang tidak tercengang, terpesona penuh kekaguman menyaksikan perubahan potensi-potensi dunia?[4] Dunia sekarang bukan main hebatnya. Ia seperti memperlihatkan kekuasaannya kepada “akal” manusia. Siapa yang tidak tertarik pada kehebatan tersebut? Sebagai mahkluk berakal budi, manusia pasti takkan pernah diam. Ia merenungkan apa saja yang baru baginya, akan apa saja yang membuatnya penasaran.

Kekaguman dan Natalitas

Keberadaan manusia berawal dari apa yang disebut natalitas. Sejak manusia lahir dari rahim ibunya saat itulah ia eksis dalam dunia nyata. Moment natalitas itu merupakan moment kelahiran harapan, kelahiran tindakan-tindakan. Pengharapan bukanlah kata akhir untuk kehidupan, melainkan juga sebuah tindakan. Dimana harapan tidak berujung pada ke-pasifan, tetapi justru pada aktivitas. Maka manusia yang lahir ke dunia haruslah menjadi manusia yang aktif; berpikir. Tanpa berpikir manusia dianggap tidak ada atau tidak lahir.[5]

Sebab itu, perspektif natalitas dalam tindakan sehari-hari dimengerti sebagai pemenuhan harapan. Lain dengan Heidegger yang mengatakan bahwa manusia terkodrat sebagai makhluk yang terbuang menuju kematiannya[6]. Kelahiran seolah-olah harus ada untuk mengerti “apa itu kematian”. Maka seringkali, istilah natalitas dioppositkan dengan terminologi mortalitas.

Akan tetapi, sebenarnya natalitas dimengerti bukan saja sebagai kelahiran. Hanna Arendt (14 Oktober 19064 Desember 1975)[7] menyodorkan sebuah arti baru termonologi natalitas.[8] Bagi Hanna Arendt natalitas merupakan prinsip filsafat, yang juga disebutnya sebagai ke-kreaturan. Natalitas merupakan suatu kekaguman akan yang baru. Dimana sesuatu tak dapat diidentifikasi berdasarkan yang lama. Jadi, dalam natalistas terdapat dan terjadi apa yang tak dapat dilihat sebelumnya, apa yang mengejutkan, sesuatu seperti mujizat[9]. Dengan demikian kekaguman dimengerti sebagai natalitas itu sendiri.

Kematian Eksistensialis

Pengertian baru dari Hanna Arendt, membuka ruang bagi pemikiran kita. Berdasarkan pemikiran tersebut kita bisa mengerti; bahwasannya setelah kelahiran manusia menanti kematian, yang berarti; setelah kekaguman manusia juga menuju kematian. Karena ketika manusia sampai pada hasil yang demikian mengagumkan, eksistensi manusia terancam. Manusia tersihir oleh dunianya. Sihir itu semata-mata adalah jalan menuju kematian.

Kekaguman akan dunia seolah-olah memaksa manusia memasuki dilema realitas. Sebuah dilema bagi mahkluk berakal. Ia tidak mungkin pasif jika berhadapan dengan sesuatu yang mengagumkan dan menantang akal untuk berpikir. Ia tertarik akan sesuatu di luar dirinya. Sementara itu, di sisi lain ia juga sulit untuk aktif, karena keaktifan itu akan mengantarnya pada kematian. Yakni kematian eksistensialis.

Lantas dimana letak kematian tersebut? Pertanyaan ini mengandaikan ketidakpercayaan banyak orang bahwa kekaguman itu bisa mengantar pada kematian. Inilah persoalan yang mau digagas.

Sejak awal manusia lahir penuh kelemahan. Ia berbeda dari mahkluk lain. Manusia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenal dunianya, untuk bergerak, bahkan untuk mempertahankan kehidupannya[10]. Waktu yang dibutuhklan tak lagi bisa direduksi oleh apapun, itu sudah menjadi bagian dari eksistesi manusia.

Akan tetapi dunia virtual berkata lain dari prinsip tersebut. Manusia dipaksa bertumbuh cepat, berpikir cepat dan beradaptasi dengan cepat di luar apa yang sudah menjadi biasa. Misalnya saja; anak yang seharusnya masih disapih dan berada dalam gendongan dan pangkuan orang tuanya, kini sudah kenyang dengan apa yang namanya, internet, HP dsb. Maka mempercepat pertumbuhannnya sama saja dengan membunuh proses alami manusia.[11] Membunuh proses tersebut, berarti mengakibatkan kematian eksistensialis. Kematian dari keberadaaanya sebagai manusia dan lahir baru sebagai mahkluk lain yang lebih rendah darinya.

Apakah ada tendensi dari manusia untuk mengerti kematian demikian itu? Apakah situasi yang demikian menjadi jawaban atas apa yang dikatakann Martin Heidegger bahwa; “Ada kita adalah untuk kematian?”[12] Tapi tampaknya terlalu jauh jika kita berpikir sampai ke sana. Sebab kematian yang dimaksudkan Heideegger ditakuti oleh manusia manapun, bahkan ketakutan akan kematian itu menjadi problem semua orang.

Sementara itu kematian eksistesialis (kematian manusia jaman sekarang) adalah kematian yang tidak ditakuti. Bahkan seolah-olah kematian itu disongsong oleh manusia dengan keterikatan akan dunia virtual. Ironisnya, manusia tak pernah sadar bahwa ia mati dari eksistensinya sebagai manusia.

Facebook penyebab kematian?

Apakah kematian eksistensialis ditengarai oleh dunia virtual seperti facebook? Mungkin setiap orang dapat memberi jawaban yang berbeda. Akan tetapi, jika kita kembali kepada manusianya, dimana tubuh manusia telah diciptakan untuk bertemu secara fisik dan psikis.[13] Pertemuan fisik semacam itu membuat manusia mengenal secara benar manusia lain, ia masuk dalam konflik realitas, cinta dan berbagai perasaan dan bahkan membaca emosi orang lain. Sementara dunia facebook, tak memungkinkan orang untuk mendapatkan hal itu, sebab orang merasa dekat dan intim di dunia maya, tapi tak saling sapa dalam dunia nyata.

 “Dunia tersihir facebook”, demikian judul tulisan Budi Swarna di harian kompas. Apa yang dikatakan oleh Budi tersebut diatas memang sudah tampak sejak diperkenalkan facebook oleh Marek Zuckeber pada februari 2004. Dalam waktu 24 jam, 1.200 orang tergabung dalam jejaring itu dan hingga kini mencapai lebih dari 150 juta pengguna aktif.[14] Sungguh sebuah sihir. Apa yang dapat membuat sesuatu berubah begitu cepat kalau bukan sihir? Oleh karena itu tak dapat dipungkiri, bahwa jejaring paling popular ini, menjadi salah satu penyebab kematian manusia.

 “Demam facebook sedang melanda. Orang seperti keranjingan berbagi informasi, rasa, canda tawa, hasrat, ekspresi dan impian lewat jejaring sosial di dunia maya”, tambahnya.[15] Semuanya berawal dari kekaguman dan berlanjut pada keaktifan di dalamnya. Dunia begitu cepat beralih dari waktu yang satu kewaktu berikut. Dari pihak manusia sendiri, ia terasa tergesa-gesa. Ia tak sabar lagi dengan segala pertumbuhan yang alami dan manusiawi. [16] Ia ingin segera mencicipi apa yang dikatakan orang sekitarnya ‘menakjubkan’.

Sebuah Ambivalensi

Tidak dapat disangkal bahwa manusia sekarang penuh kecemasan. Kecemasan itu ditengarai oleh ambivalensi perkembangan teknologi yang memvirtualisasi budaya, tempat manusia bereksistensi. Artinya; teknologi itu berakibat positif sekaligus negatif.

Kekaguman manusia akan telepon dan internet serta komunikasi lain, pertama-tama dikarenakan mendatangkan kemudahan bagi hidup manusia. Kemudahan itulah yang diimpikan manusia modern. Muculnya perangkat tersebut memudahkan orang berkomunikasi dengan siapaun, dimanapun dan kapan pun. Dan Francis Bacon sudah menyadari aspek ini dengan menekankan “knowledge is power”[17]. Karena pengetahuan itu melahirkan kemudahan bagi manusia.

 Akan tetapi apa yang diagungkan manusia, yang konon berguna bagi manusia, sekarang seolah-olah “dikutuk” oleh Martin Heidegger. Dan hal inilah yang menunjukan sifat ambivalen tersebut. Menurut Martin; “Kita sekarang berada dalam situasi yang mengharukan, karena apa yang dirancang manusia sebagai sarana untuk menguasai dunia, menjadi sukar untuk dikuasai sendiri, malahan tidak dapat dikuasai. Apa yang diciptakan manusia untuk menguasai dunia sekarang menguasai dunia.”[18]

Dengan kata lain, manusia sekarang ini bukan lagi ditindas oleh manusia lain, bukan ditindas oleh kelompok lain, tetapi ditindas oleh suatu sistem yang menguasai semua orang.[19] Sistem itu begitu totaliter, sebab ia menguasai siapa saja. Ia menguasai orang lemah, orang kaya, miskin dan bahkan kaum intelekual.

Maka, lahirlah manusia yang lebih menghargai kualitas individu[20]. Akan terformat manusia kompetitif, artinya, persaingan antar individu akan memuncak. Di satu sisi, persaingan yang ketat semacam ini akan meningkatkan produktifitas manusia. Mereka yang siap menghadapi persaingan akan tetap ekisis sedangkan mereka yang belum siap akan menjadi manusia frustasif. Hasilnya, adalah hilangnya “natalitas” (sebagai harapan),  dan datangnya kematian.

Penutup

Adanya sarana dan fasilitas yang begitu canggih, HP, internet, televisi, dsb., membuat manusia kehilangan eksistensis di dunia nyata. Teknologi itu dirancang untuk manipulasi “akal” yang memungkinkan manusia merasa “hanya saat ini dan itu sungguh nyata”. Jika manusia merasa menjadi lelah, lemah dan tak berdaya tanpa bantuan perangkat teknologi canggih tersebut, itu berarti manusia berada diambang pintu kematian. Yakni; kematian eksistensialis.

Memang, manusia pantas untuk kagum akan perubahan dalam teknologi yang bergerak sangat cepat pada masa ini, karena itulah bukti bahwa manusia punya akal. Akan tetapi manusia tetaplah yang berkuasa atas semuanya itu.

*****

Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang

Daftar Pustaka

Berten, K. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.

————. Filsafat Barat Kontemporer Inggris Jerman. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Mangunwijaya, YB. Pasca Indonesia, Pasca Einstein. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Petrus, Simon L. Tjahjadi.  Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Majalah Basis. No.05-06 Mei-Juni, 2009.

Harian Kompas. Minggu 15 Maret 2009.

http://www.johns-company.com/, diakses pada tanggal 23 Oktober 2009.

http://www.forumbudaya.org, diakses pada tanggal 23 Oktober 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Hannah_Arendt, diakses pada tanggal 22 Oktober 2009.

http://indrajayaadriand.wordpress.com/2008/04/01/antara-generasi-muda-globalisasi-dan-peranan-ict/, diakses pada tanggal 22 Oktober 2009.

*****


[1] Bdk . http://www.johns-company.com/, diakses pada tanggal 23 Oktober 2009.

[2] Bdk. Simon Petrus, L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm.15-19.

[3] Bdk. K. Berten, Etika, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 280-288.

[4] YB.Mangunwijaya, Pasca Indonesia, Pasca Einstein,(Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm.125.

[5] Ungkapan paling monumental dari Rene Deskartes, “cogito ergo sum” dan ia menambahkan “Benar, aku hanyalah mahkluk berpikir,…” bagi dia hakikat manusia adalah pemikiran. Bdk. Simon Petrus, hlm. 207.

[6] http://www.forumbudaya.org

[7] Hannah Arendt adalah Ia dilahirkan dalam keluarga Yahudi sekular di kota Linden. Ia belajar filsafat di bawah Martin Heidegger di Universitas Marburg, dan lama menjalin hubungan romantik yang sporadis dengannya. Ia seorang teoretikus politik Jerman. Ia mengikuti pandangan masyarakat tanpa berpikir secara kritis tentang akibat dari tindakan atau kelalaian mereka untuk bertindak. http://id.wikipedia.org/wiki/Hannah_Arendt dan  artikel dalam http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/biography/arendt.html diakses pada tanggal 22 Okt 2009.

[8] Bdk. Sindhunata, “Tato-Tato Hutang” dalam, Basis,no.05-06 Mei-Juni, 2009, hlm. 53.

[9] Ibid,  hlm. 53.

[10] Ibid, hlm.52.

[11] Ibid, hlm.52-54.

[12] http://www.forumbudaya.org

[13] Bdk. Keintiman pun terkikis, Kompas, Minggu 15 Maret 2009, hlm.18.

[14] Budi Swarna, Dunia Tersihir Facebook”, dalam Kompas, Minggu15 Maret 2009, hlm.17.

[15] Ibid, hlm.18

[16] Bdk. Sindhunata, hlm. 47.

[17] Bdk. K. Berten, Etika, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 285.

[18] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris Jerman, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), Hlm.171.

[19] Bdk. Ibid,170-175.

[20] http://indrajayaadriand.wordpress.com/2008/04/01/antara-generasi-muda-globalisasi-dan-peranan-ict/. Diakses pada tanggal 22 Okt 2009.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s