ABORSI

Semenjak pembuahan organisme adalah suatu pribadi yang mempunyai jiwa spirituil. Ia tumbuh menjadi suatu individu baru dan unik yang berbeda dengan ayah dan ibunya. Ia  adalah seorang individu yang bebas.

Dalam perkembangan cara pikir dan cara pandang masyarakat modern dewasa ini telah melahirkan suatu gagasan baru mengenai tubuh. Tubuh adalah milik dari sang pemilik tubuh tersebut. Jika ia adalah milik maka ia bebas dalam menggunakan tubuhnya. Demikian pula dengan para wanita yang memandang tubuh sebagai milik dan ia mempunyai suatu hak untuk memperlakukannya sesuai dengan kehendaknya. Termasuk dalam kehamilan.

Ini menjadi suatu permasalahan yang pelik tatkala wanita dengan haknya menggunakan aborsi sebagai suatu jalan pemecahan dari masalahnya. Di sisi lain bahwa janin pun mempunyai hak moral untuk hidup. Maka di sini perlu adanya suatu pandangan yang menyeluruh.

ABORSI

Aborsi adalah masalah modern yang sangat serius dalam perkembangan manusia dewasa ini. Tidak hanya pada satu negara, tetapi telah menjadi suatu permasalahan yang sangat global. Suatu permasalahan rumit yang tidak mudah untuk dipecahkan.

Aborsi di mengerti sebagai suatu tindakan penghentian kehamilan dengan maksud kematian janin yang ada dalam kandungan ibu. Dalam dunia dewasa ini, aborsi dikenal dengan nama abortus provocatus dan abortus spontaneus. Dua tindakan aborsi yang berbeda satu sama lain. Abortus provocatus lebih mengarah pada suatu tindakan aborsi yang disengaja, sedangkan abortus spontaneus lebih dipandang sebagai suatu keguguran ataupun sebagai suatu tindakan medis yang diberikan untuk menyelamatkan jiwa ibu. Sebagian besar prosedur aborsi yang dilakukan adalah tipe abortus provocatus.

Abortus provocatus adalah istilah latin yang secara resmi digunakan dalam kalangan hukum maupun dalam kedokteran. Dalam bahsa Indonesia dikenal sebagai penguguran. Aborsi ini adalah suatu tindakan aborsi yang dilakukan terhadap janin dengan maksud kematian janin secara langsung, baik dalam tahap setelah pembuahan maupun dengan maksud membuang janin saat janin tidak lagi dapat hidup. Aborsi dengan cara ini sangat dikenal luas dalam kalangan medis, bahkan sangat beraneka ragam cara yang digunakan.

Aborsi dengan cara ini dapat dengan mudah dilakukan dan tidak lagi mengenal batas usia kehamilan. Dalam trisemester pertama kehamilan misalnya, seorang ibu yang melakukan aborsi dapat memperoleh metode kuret isap (suction curettage). Metode ini dilakukan dengan cara mengisap keluar janin dari rahim ibu. Biasanya metode ini dilakukan saat umur janin ada dalam usia 7-12 minggu. Dan penanganan dari metode ini sangat cepat karena sangat sederhana, cukup dengan menggunakan anestesi dalam serviks.

Di Amerika, misalnya, dikenal metode “partial-part abortion” yang pernah disetujui oleh mayoritas senat Amerika Serikat. Metode aborsi ini tidak terjadi pada saat janin berumur 7-12 minggu ataupun 12-20 minggu, tetapi aborsi ini dilakukan pada saat janin masuk pada bulan-bulan terakhir masa kehamilan.

Berbeda dengan kuret isap yang dapat dilakukan dengan mudah. Aborsi dengan menggunakan metode ini sangat rumit, karena dilakukan pada saat janin telah mempunyai struktur manusia yang lengkap. Pertama-tama, janin yang akan diaborsi itu, dengan bantuan ultrasound, dibalik dari posisi normalnya ke keadaan di mana kaki ada di mulut leher rahim. Dari keadaan ini, kemudian janin di tarik keluar seolah-olah seperti hendak mengalami persalinan. Pada saat sebagian tubuh janin telah ada diluar, tetapi kepala janin masih ada dalam rahim, dimasukkan gunting yang berguna untuk membuat irisan pada kepala janin tersebut. Tindakan yang menyusul kemudian adalah memasukkan slang keirisan kepala yang telah dibuat di kepala itu, yang berfungsi untuk menyedot otak keluar dari isi kepala janin. Dan pada akhirnya, aborsi pun dapat diselesaikan. Anak yang mati itu “dilahirkan.” Tindakan “partial part-abortion” biasanya dilakukan pada saat kehamilan berusia kira-kira 20 minggu (4 ½ bulan) sampai dengan usia kehamilan 6 bulan, bahkan juga sampai saat akan mengalami kelahiran.

Aborsi spontanius adalah suatu tindakan aborsi yang terjadi secara tidak disengaja.  Aborsi spontanius ini biasanya terjadi karena keguguran maupun suatu tindakan medis yang dilakukan untuk menyelamatkan diri ibu, dengan berpegang pada prinsip bahwa kematian janin bukanlah suatu tujuan dari tindakan tersebut. Keadaan ini diambil karena bertujuan untuk menyelamatkan diri ibu dari suatu hal yang membahayakan dirinya. Bila hal ini yang terjadi maka prinsip double effect diterapkan dalam hal ini, yakni[1]:

1.      perbuatan itu harus “in se” baik atau indefferen.

2.      akibat positif yang dikehendaki harus langsung keluar dari perbuatan itu seperti akibat negatif. Jadi akibat positif tidak boleh lewat akibat negatif sebagai jalan untuk akibat positif.

3.      maksud pelaku harus baik. Jadi tidak boleh voluntarium directum.

4.      ada alasan seimbang, ini mengandung syarat; tidak ada jalan lain untuk mencapai akibat positif yang dituju.

HAK WANITA DAN HAK JANIN

Pemikiran yang lebih modern mengatakan bahwa perempuan hamil mempunyai hak terhadap tubuhnya. Ini sangat terkait dengan pertimbangan apakah ia hendak meneruskan kehamilanya itu ataukah sebaliknya, ia akan mengambil keputusan untuk menghentikan kehamilannya itu. Tentunya dengan cara menggugurkan kandungannya dengan berbagai macam metode yang sekarang sedang berkembang.

Denes (1976) dan Francke (1978) mencoba memberikan beberapa pertimbangan-pertimbangan yang dapat digunakan oleh para wanita untuk mengambil suatu tindakan terkait dengan kesetujuan mereka dalam mengambil tindakan[2].

1.   seorang wanita harus menanggung resiko dan beban kehamilan, kelahiran dan kesehatan anak sebagaimana pilihannya, meskipun itu akan berat baginya.

2.   dalam kasus wanita yang sangat muda, wanita yang terbelakang mentalnya dan dalam kasus inces maupun pemerkosaan, yang memiliki respon yang sangat sedikit mengenai kehamilannya, masih harus menanggung konsekuensinya.

3.   saat wanita bertanggung jawab terhadap kehamilannya, ia masih mempunyai hak terhadap kehidupan seks yang normal dan ketika alat kontrasepsi tidak memberikan perlindungan terhadap kehamilan, ia berhak menggunakan aborsi sebagai jalan terakhir.

4.    wanita yang menanggung anak yang tidak dikehendaki menyebabkan ketegangan beban psikologis bagi anak karena anak akan diabaikan.

5.    wanita yang mengetahui bahwa anak yang dikandungnya mengalami cacat, berhak tidak membawa anak itu masuk ke dalam dunia.

6. wanita tidak tergantung pada pertolongan masyarakat mengenai perawatan anak yang tidak dikehendakinya.

7.     wanita tidak boleh dipaksa untuk memperoleh aborsi ilegal.

8.   wanita modern bebas membuat solusi mengenai kontrol populasi dengan menggunakan aborsi sebagai cadangan bila kontrasepsi dirasakan gagal dalam mengatasi masalah tersebut.

9.   wanita tidak perlu malu-malu untuk menggunakan haknya itu.

Banyak hal yang dikatakan menanggapi pemikiran bahwa wanita mempunyai hak terhadap tubuhnya. Pertama, tidaklah benar bahwa wanita mempunyai hak mutlak terhadap tubunya. Suatu kesalahan bila seorang wanita mengatakan bahwa dengan kehamilannya ia berhak untuk menggugurkan kandungannya. Terkait masalah bahwa janin itu ada dalam tubuhnya. Dan ia bebas dalam memperlakukan janin tersebut sesuka hatinya.

Janin yang ada dalam tubuh wanita yang hamil bukanlah bagian dari tubuhnya. Ia individu dan ia bebas. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa janin memang tidak mempunyai hak legal, tetapi ia mempunyai hak moral. Suatu hak yang dimiliki olehnya untuk hidup dan berkembang menjadi individu dewasa. Memang permasalahan yang tidak dapat ditutup-tutupi terkait dengan hal ini adalah: mulai kapankah janin mempunyai jiwa spirituil? Sehingga dengan bebas janin menjadi obyek dari suatu intervensi manusia.

Tidak ada suatu kepastian yang jelas. Namun Embriologi modern  menekankan beberapa hal yang patut untuk mendapat perhatian[3] bahwa:

1.   Sejak pembuahan atau sejak penggabungan sel telur dan sel benih, mulailah suatu mahluk baru yang mengatur sendiri pertumbuhannya sampai menjadi seorang bayi yang dapat dilahirkan. Tentu saja, pertumbuhan ini masih sangat tergantung dari zat-zat yang disediakan oleh tubuh ibunya dan dari suasana jiwanya.

2.    Manusia ini sudah ditentukan sedemikian rupa, sehingga hanya dapat tumbuh menjadi manusia tertentu; kemungkinan terjadi kembar identik secara genetika tidak bertentangan dengan kenyataan ini.

3.   pertumbuhan selanjutnya berlangsung secara kontinyu dan tidak ada tahap lain yang merupakan titik awal perkembangan yang baru.

Terlepas dari kapan jiwa spirituil masuk dalam fetus, prinsip yang utama yang harus dimengerti bahwa semenjak pembuahan telah tumbuh suatu mahluk baru, yang merupakan suatu individu yang baru pula. Ia hanya mempunyai satu potensia saja, yakni menjadi manusia dan bukan menjadi yang lain.  Dengan “memakai” haknya, janin adalah bagian dari tubuhnya, dan mengadakan suatu aborsi sebenarnya ibu telah menggunakan haknya itu untuk merusak manusia yang lain. Ini merupakan suatu tindakan yang tidak adil dan sangat bertentangan dengan martabat moralnya sebagai seorang manusia.

Kedua, kondisi kehamilan diakibatkan oleh adanya hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan mempunyai suatu tanggung jawab yang sama terhadap kehamilan itu. Salah satu pihak tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Hal ini pun menyangkut pula bila ada kesalahan dalam penggunaan alat kontrasepsi.

Kegagalan yang disebabkan oleh alat kontrasepsi tidak dapat menyebabkan adanya suatu keputusan untuk mengadakan aborsi. Setiap hal yang dilakukan senantiasa harus disadari mengandung suatu konsekuensi, begitu pula dengan hubungan seksuil yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Dan  bila ini terjadi, tidak dapat dielakkan bahwa  kehamilan itu harus dipertanggungjawabkan. Pemilihan jalan aborsi terhadap janin sebagai jalan terakhir untuk mencegah adanya kehamilan merupakan suatu tindakan yang kurang tepat. Hal ini mengacu pada pertimbangan dengan adanya aborsi dapat terjadi bahwa salah satu pihak melihat jalan ini sebagai tujuan yang terbaik untuk menghindari kehamilan, khusunya dari pihak ayah. Bila ini benar-benar terjadi, maka tidak dapat dielakkan bahwa sebenarnya aborsi itu telah menarik tanggung jawab dari sang ayah untuk memberi dukungan terhadap kehamilan istrinya dan meringkankan penderitaannya. Dan pula institusi keluarga sebagai suatu relasi yang mesra antara dua orang yang mencintai akan rusak karena nilai-nilai cinta yang dibangun didalamnya musnah.

SUDUT PANDANG GEREJA

Terhadap tantangan yang begitu berat ini, Gereja menyikapi bahwa tak pernah ada alasan apapun yang dapat membenarkan penghancuran sengaja manusia yang tak bersalah[4]. Pandangan tegas ini ingin menekankan bahwa seluruh kehidupan manusia ini sangat berharga adanya. Hormat kepada kehidupan manusiawi merupakan suatu hukum yang universal dan keberadaannya tidak dapat ditawar-tawar lagi. Maka hal yang utama adalah membuat kehidupan itu berjalan sebagai mana adanya, tanpa intervensi dari manusia.

Aborsi telah mencerminkan suatu perkembangan kehidupan kepada budaya kematian. Sejak semula manusia diciptakan oleh Allah untuk hidup dan mengusahakan dunia ini kepada suatu kebaikan yang sejati[5]. Ia diciptakan oleh Allah menurut rupa dan gambaran-Nya, maka ia menjadi secitra dengan Allah. Oleh karena manusia menjadi secitra dengan Allah, ia menjadi rekan sekerja Allah di dunia ini. Maka segala perkembangan teknologi maupun science hendaknya menjadi ciri kerjasama antara manusia dengan Sang Penciptannya dan bukan diarahkan untuk menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri, terutama pada masa awal kehidupan manusia.

Kehidupan manusia ini memang paling mudah dilukai pada saat ia akan memasuki dunia[6]. Di banyak negara maju aborsi menjadi suatu yang legal dan dijamin dengan undang-undang, sehingga praktek aborsi dapat secara terang-terangan dilakukan. Selain itu, kemajuan cara pikir dan cara pandang telah merubah konsep lama kepada suatu konsep baru bahwa setiap orang bebas memperlakukan apa pun yang ada padanya, termasuk tubuhnya. Sehingga tidak dapat dielakkan bahwa aborsi menjadi suatu jalan pintas untuk mengatasi segala kesulitan ketika kehamilan menjadi suatu pengganggu.

Tradisi kristiani sejak awal mula telah menentang praktek aborsi ini. Sejak saat jemaat kristiani perdana bertemu dengan dunia yunani-romawi, mereka telah menentang praktek aborsi yang telah banyak terjadi pada waktu itu. Mereka menganggap aborsi sebagai suatu tindakan pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah. Kitab Didache mengatakan bahwa “janganlah membunuh fetus dengan aborsi dan jangan membunuh anak yang sudah lahir.” Athenagoras, penulis Yunani,  menyebutkan bahwa wanita-wanita yang melakukan aborsi, dalam pandangan umat kristiani, dengan bantuan intervensi dari medis adalah seorang pembunuh.

PENUTUP

Berbicara mengenai aborsi, memang bukan suatu perkara yang mudah untuk diselesaikan. Bukan masalah tanggapan “boleh” atau “tidak boleh” untuk dilakukan, tetapi lebih dalam daripada itu bahwa kehidupan itu adalah suatu anugerah yang tidak dapat diintervensi oleh manusia begitu saja. Kehidupan itu adalah milik dari Sang Pemberi Kehidupan itu sendiri.

Sudah pasti hal ini akan banyak mendapat tanggapan dan respon, baik yang mendukung maupun menentang. Namun segala hal itu hendaknya diarahkan untuk mencapai satu tujuan, yakni membawa kebaikan pada hidup manusia itu sendiri. Sebagiamana dikatakan bahwa manusia adalah citra Allah, sudah selayaknya untuk berpandangan bahwa segala apa yang kita punyai semata-mata adalah untuk membawa kebaikan bagi manusia itu sendiri.

Jadi hak ibu untuk memilih hendaknya disadari dalam kerangka sebagai kerjasama antara manusia dengan Allah. Dalam seorang wanita, tersimpan suatu tugas mulia untuk membawa suatu kehidupan baru dalam dunia. Hendaknya ini dimengerti sebagai suatu penghormatan yang besar akan arti kehidupan. 


[1] Piet Go. Diktat Teologi Moral Fundamental. Malang: STFT Widya Sasana, 2003, hlm. 23-24

[2] Seluruh data ini diambil dari Ashley-O’Rourke, Health Care Ethics, 258-259

[3]  A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991, vol. I, hlm. 19

[4] Paus Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae. Art. 58

[5] Bdk. Kej 1: 28

[6] Evangelium Vitae, art. 44

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s