Mengikuti Dia dalam Sengsara-Nya

Getsemani: Sakratmaut Yesus

‘Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar’

 

“Sangat takut dan gentar”

Hanya satu kali pengarang Injil memakai kata-kata yang begitu kuat. Yesus sendiri mengatakan beratnya saat itu; “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mrk 14:34). Di sinilah kita melihat secara jelas unsur kemanusiaan Yesus, yakni ketika Dia berada di Getsemani.

Keterharuan dan air mata yang dicucurkan-Nya atas kematian Lazarus, keluhannya dalam melihat nasib yang akan menimpa kota Yerusalem, memperlihatkan kemanusiaan hati Yesus. Hal ini bukan kelemahan, tetapi merupakan kemampuan untuk ambil bagian, ikut serta dalam penderitaan orang lain; tangisan yang memperlihatkan solidaritas-Nya dengan manusia.

Namun ketika berada di Getsemani sangat berbeda. Ketakutan dan kegentaran Yesus di sini seperti menjadi sebuah skandal. Ini merupakan tekanan lain dari yang mendorong-Nya sebelum menuju kepenuhan misi-Nya, menuju “saat wafat-Nya” atau wafat-Nya yang akan mengakhiri hidup-Nya (Bdk. Luk 12:50). Di sini ditampakkan bahwa dorongan atau tekanan itu menjadi sebuah “kegentaran”, kendati dihadapi dengan kesadaran penuh untuk memenuhi apa yang dikehendaki Bapa-Nya. Di Getsemani, Yesus tampak kelihatan seolah-olah hancur di bawah beban keputusan yang harus diambil; dan malaikat yang datang untuk membantu-Nya pun, seperti tidak memberikan banyak hiburan. Namun yang diakutkan Yesus bukan semata-mata ketakutan akan sengsara, tetapi pikiran akan maut, sebagai penghalaman baru bagi kemanusiaan Yesus.

Segi manusiawi ini sangat berbeda dengan sikap umum para pahlawan dan juga para martir, sehingga pada masa awal Gereja, ayat-ayat ini dihapus, sebab terlalu menonjolkan segi-segi manusiawi Yesus.

Mengapa terjadi hal seperti ini? Mengapa orang harus berjuang mati-matian membela aspek kemanusiaan Yesus yang nyata dan tampak sebagai suatu skandal? Karena di belakang semuanya itu tersembunyi apa yang seperti dikatakan oleh Rasul Paulus sebagai skandal dan kebodohan salib (Bdk. 1Kor 1:23), bahwa Kristus adalah kekuatan dan kebijaksanaan Allah.

Maka kita umat manusia diminta untuk mampu melihat ketakutan dan kegentaran yang dialami Yesus ini, benar-benar sebagai satu aspek dari kemanusiaan Kristus; sebagai drama realitas manusia. Ketakutan dan kegentaran itu merupakan reaksi manusia terhadap maut yang mendekat, sedangkan yang dialami Yesus sebenarnya adalah sesuatu yang lebih dahsyat. “Seperti mau mati rasanya” merupakan pengalaman kesepain total, rasa kutukan, pengalaman neraka.

Sebab sama seperti jiwa yang apabila jiwa mengalami kesepian dan kegentaran itu “seperti mau mati rasanya” berarti itulah pengalaman ditinggalkan Allah sendirian. Dalam keadaan itu, Simon Weil berkata, “Allah itu tidak hadir lebih dari kehadiran seorang mayat, lebih jauh dari cahaya dalam kegelapan paling gelap. Sejenis ketakutan raksasa menimpa jiwa. Selama ketidakhadiran ini tidak ada, suatu pun yang mau dicintai.”

Dalam situasi itu, orang mengalami apa artinya kutukan: Yesus, yang mau menjadi dosa karena mau memikul semua dosa manusia, merasa ditolak dan mengalami jaraknya yang tak terjangkau antara Allah dan manusia pendosa. Allah sebagai sumber satu-satunya setiap kebaikan tidak ada lagi artinya bagi Dia; Allah, yang satu-satunya motivasi hidup-Nya seolah-olah tidak ada lagi. Kesadaran akan keterpisahan ini menjadi sumber katakutan, kegentaran, dan kesedihan Yesus sendiri.

Pengalaman ini merupakan pengalaman neraka. Hal yang sama seperti ini juga dialami oleh para mistikus pada saat mereka dekat dengan Allah. Pada saat-saat itu, jiwa dilepaskan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan kita, dengan kehidupan kita. Di situ jiwa memahami bahwa dosa membuat jiwa menjadi jauh dari sember kebahagiaan, yaitu Allah sendiri; yang akhirnya jiwa itu mengalami penderitaan, sehingga bukan tubuh yang mengeluarkan keluh kesakitan tetapi jiwa yang berteriak. Pada saat keadaan demikian, penderitaan jiwa sedemikian besar, sehingga melupakan penderitaan tubuh itu sendiri.

Jauh dari Allahnya, jiwa mengalami suatu kesepian aneh, yang tidak dapat diatasi oleh makhluk manapun di dunia dan di surga, kecuali oleh Dia yang dicintai jiwa, tetapi Dia tidak hadir. Dahulu jiwa ingin sekali mati untuk berada bersama yang dicintai, tetapi tidak mati dan keadaan ini membuat ia mati rindu. Sekarang jiwa takut mati melihat jaraknya dengan yang dicintai.

Jelas ini adalah ketakutan yang disebabkan kelemahan natura humana. (lihat St. Theresia dari Avila). Memang orang-orang kudus dalam pengalaman mereka, tetap dapat melihat dan berpegang juga sedikit pada pengalaman Kristus, sedangkan Kristus sendiri tidak! Ia sungguh-sungguh sendirian; surga juga tertutup bagi-Nya.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s