Menjadi saudara bagi mereka yang miskin (Refleksi atas Populorum Progressio Art. 45

Pengantar

Pesatnya perkembangan zaman sekarang, membawa manusia pada sebuah kekuasaan yang penuh dengan keserakahan. Manusia semakin mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan nasib banyak orang khususnya nasib mereka yang miskin. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa dengan dengan perkembangan zaman ini, membuat manusia semakin buta akan keadaan sekitarnya. Bahkan lebih kejam lagi yaitu bahwa manusia semakin lupa akan siapa sesamanya manusia. Manusia semakin egois dengan sesamanya.

Bagaimana dengan nasib orang miskin yang tidak dapat merasakan kemajuan zaman ini. Mereka semakin terpinggirkan oleh khalayak ramai. Mereka semakin miskin dan menderita dalam kemiskinan dan penderitaanya, sementara yang kaya semakin kaya dengan kesombongan harta yang dimilikinya[1]. Dengan melihat secara sepintas akan keadaan zaman sekarang ini, bagaimana Gereja dapat bertindak. Apa yang dapat dilakukan Gereja terhadap mereka yang miskin? Selain itu, dibahas juga Yesus sebagai tokoh ‘pembela kemanusiaan’ yang kedatangan-Nya membawa kabar suka cita bagi mereka yang ‘menderita’. Inilah yang akan diperdalam dalam paper ini, dengan bertitik tolak dari Ensiklik Populorum Progressio, khususnya lewat artikel 45, dimana Gereja dipanggil menjadi saudara bagi mereka yang miskin.

Paper ini mencoba menguraikan artikel 45, dan menganalisisnya secara kritis. Kemudian juga akan diuraikan secara singkat situasi yang sedang terjadi khususnya di Indonesia. Pada akhirnya, diupayakan adanya suatu tindakan nyata yang tentunya cukup relevan bagi zaman sekarang, sekurang-kurangnya mencoba membawa pada kesadaran bahwa Gereja sesungguhnya dipanggil menjadi saudara bagi mereka yang miskin.

Analisa kritis atas Ensiklik Populorum Progressio artikel 45[2]

Populorum Progressio (“Perkembangan Bangsa-Bangsa”), ditulis oleh Paus Paulus VI tahun 1967. Lahirnya ensiklik ini guna untuk mencoba menyoroti perkembangan semua bangsa, khususnya nasib mereka yang miskin, menderita dan tersingkir, berpartisipasi aktif dalam mendapatkan bagian yang lebih besar dalam keuntungan peradaban, serta perbaikan lebih aktif sifat maupun bakat manusiawinya mereka: bangsa-bangsa yang secara sadar memperjuangkan pengembanga diri yang lebih penuh. Gereja memandang sebagai kewajibannya membantu semua orang mengkaji masalah yang berat itu dalam segala dimensinya, dan pada saat sejarah yang gawat ini meyakinkan mereka akan perlunya kegiatan yang terpadu[3].

Tema yang diangkat dalam ensiklik Populorum Progressio artikel 45 adalah mengenai sikap mengutamakan kaum miskin. Dari sini kita boleh bertanya, siapa itu kaum miskin dan sejauh mana orang itu dikatakan miskin? Dalam ensiklik ini dikatakan bahwa kaum miskin ialah mereka yang tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari. Kaum miskin juga adalah mereka yang tidak mampu membiayai hidup keseharian, yang menanggung kelaparan sehingga banyak anak-anak kecil yang meninggal akibat kekurangan gizi, sehingga anak-anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik dan mental.

Pilihan atau sikap mengutamakan kaum miskin dalam dunia ini memang suatu permasalahan yang tidak ada ujung pangkalnya, dan menjadi sesuatu yang tidak ada habis-habisnya untuk dibahas dan dibicarakan serta diperjuangkan, baik oleh kalangan aktivis (pemerhati nasib banyak orang miskin) juga oleh Gereja sendiri. Selain itu, masalah kemiskinan juga menjadi masalah yang selalu disoroti karena kemiskinan ini tidak hanya dialami oleh sekelompok orang tertentu dalam suatu bangsa melainkan banyak orang dalam suatu negara atau bangsa.

Bercermin dari Hidup Yesus Sendiri

Yesus Kristus Sang Guru Abadi menjadi inspirator umat Kristiani. Dalam hidup Yesus tampak bahwa dalam hidup-Nya sendiri selalu dipenuhi dengan mengutamakan orang miskin. Hal ini tampak dalam Injil Lukas 4:18-19: “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Lewat Injil Lukas di atas hendak dikatakan bahwa keselamatan yang telah dinantikan oleh umat manusia kini hadir dan tampak nyata dalam diri Yesus Kristus. Artinya bahwa keselamatan kini hadir dalam diri Yesus karena Ia datang membawa kabar gembira bagi setiap orang yang menderita dan yang berkekurangan. Yesus datang ke dunia hendak memberikan pembebasan kepada orang-orang miskin, kepada orang-orang tawanan yaitu orang yang tertawan akibat dosa dan kejahatan.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Yesus melakukan itu semua bagi manusia, Dia sendiri sebenarnya adalah Putera Allah, tentunya ia telah memiliki hidup yang nyaman melebihi setiap manusia di dunia. Malah yang dilakukan ialah mengambil rupa hamba dan menjadi sama dengan  manusia. Bahkan ketika hidup di dunia Yesus tidak memilih untuk tinggal dalam kalangan bangsawan yang serba berkecukupan, melainkan lebih memilih untuk hidup dalam situasi yang serba sulit. Ia memilih untuk hidup dalam lingkungan orang yang berkekurangan, yang tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan. Selain itu juga, Ia lebih memilih keluarga yang miskin yang mayoritas ada di dunia ini. Selain itu juga, Ia hidup dan tinggal bersama ayah-Nya Yoseph seorang tukang kayu yang sederhana.

Tentunya pilihan yang diambil oleh Yesus ini bukanlah sekedar kebetulan belaka. Akan tetapi maksud pilihan ini tentu mau menunjukkan bahwa Ia juga memiliki hati bagi banyak orang, mau solider dengan orang-orang yang serba kekurangan, merasakan penderitaan dan kesulitan hidup yang dialami oleh banyak orang. Sikap yang diambil oleh Yesus ini benar-benar merupakan suatu sikap yang jarang sekali kita temui dewasan ini. Yesus mau menunjukkan kepada setiap manusia bahwa Ia yang adalah Allah juga mau solider kepada mereka yang miskin. Sikap ini merupakan bentuk kedalaman cinta Yesus yang sangat mendalam dan luar biasa. Yesus mau turut serta merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. “Terpujilah Allah selama-lamanya, karena Ia peduli dengan ‘keberadaan’ manusia”.

Terlebih lagi, bahwa pengalaman hidup Yesus ini tidak hanya sampai pada sikap solider pada mereka yang berkekurangan dan yang menderita, Ia tidak hanya merasakan tetapi ia juga mengangkat harkat dan martabat mereka. Hal ini tampak dari sikap dan perbuatannya. Ia mau menyembuhkan setiap orang yang sakit, apapun penyakitnya. Ia mau memberikan suatu penglihatan kepada mereka yang buta, sehingga ia dapat melihat dunia kembali. Ia bahkan memberikan suatu kehidupan kepada mereka yang telah meninggal.

Situasi zaman sekarang

Dalam hal ini, situasi zaman yang lebih disoroti yaitu situasi zaman negara Indonesia sekarang ini. Kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia telah mencapai kemerdekaannya selama 66 tahun. Akan tetapi kita bisa bertanya dengan bertitik tolak pada kenyataan atau realitas yang terjadi yaitu apakah kemerdekaan yang dulu dikumandangkan oleh negara ini sudah benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia sekarang ini?. Jika sudah, dalam bentuk apa? Selain itu juga, apakah kesejahteraan umum, yang juga dulu dicita-citakan, sudah dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia atau masih oleh sebagian orang saja?. Sebuah pertanyaan yang menggugah hati. Menurut pengamatan yang terjadi saat ini, penderitaan akibat kemiskian masih dirasakan oleh kebanyakan orang. Pengangguran masih memegang peranan yang penting dalam surat kabar dan dalam pembiacaraan masyarakat kita.

Memang banyak juga orang yang memiliki pekerjaan, tetapi apakah pekerjaan yang mereka peroleh itu sesuai dengan keahlian mereka. Selanjutnya apakah gaji yang mereka peroleh sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Sering kali hal itu tidak dipersoalkan oleh mereka karena mereka merasa ketakutan. Mereka takut karena bagi mereka adalah sesuatu yang cukup bagi mereka bila mereka mendapatkan pekerjaan. Mereka takut bila mereka nanti mengeluarkan suara mereka, mereka mendapatkan sangsi dari atasan mereka berupa pemecatan atau penurunan gaji. Situasi yang menakutkan ini apakah dapat dinamakan sebagai suatu kemerdekaan? Ataukah mereka masih diperbudak oleh beberapa orang yang egois dan mementingkan diri mereka sendiri.

Di tengah pernderitaan yang dialami oleh para pekerja itu kita melihat bahwa negara kita ini mempunyai hasrat yang tinggi untuk terus mengadakan pembangunan dan mengadakan kemajuan. Tetapi kemajuan yang mereka galakkan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada yang dialami oleh negara ini. Peristiwa ini mungkin bisa disebut sebagai sesuatu yang ironi karena ditengah orang yang sibuk membangun dan terus memajukan negara tetapi masih ada saudaranya yang masih miskin dan berkekurangan. Sebagi contoh ialah penyakit korupsi yang semakin lama menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. Sulit disembuhkan karena orang yang teribat didalamnya merasa nyaman. Tentu kenyamanan itu akan membuat setiap orang yang tinggal di dalamnya menjadi malas untuk beranjak dari tempat itu.

Beberapa masalah itu tentunya tidak dapat mewakili segala permasalahan yang dialami oleh negara Indonesia. Tetapi dari masalah-masalah yang diuraikan di atas, tentunya telah menunjukkan bahwa negara kita ini masih belum mencapai kemerdekaan yang sejati. Selain itu, bukti nyata belum adanya kemerdekaan sejati itu ialah dengan adanya bentuk penindasan secara tidak langsung terhadap kaum yang lemah. Tentu terjadinya penindasan ini diakibatkan oleh karena masih banyaknya orang mengalami kemiskinan dan kesengsaraan yang berkepanjangan.

Refleksi Gereja atas situasi masalah sosial

Perutusan Yesus oleh Bapa di tengah-tengah dunia untuk menawarkan keselamatan kepada manusia. Tawaran keselamatan itu dengan jelas Yesus nyatakan dalam perbuatan konkrit dalam situasi sosial masyarakatNya yang tertindas, miskin, menderita, terbuang dari struktur masyarakat. Yesus melihat situasi sosial masyarakatnya, mempertimbangkan dan memutuskan langkah-langkah konkrit yang akan dilakukan dan berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah sosial yang ada. Yesus menyembuhkan orang yang sakit, memperhatikan mereka yang tersingkir, mengampuni orang yang berdosa, menghibur orang yang berkesusahan, mengembalikan mereka yang terbuang dari masyarakat, memberi makan yang kelaparan, membela mereka yang diperlakukan tidak adil. Sebelum Yesus naik ke surga Yesus mempersiapkan para murid untuk melanjutkan karya keselamatan di tengah masyarakat. Para murid inilah yang menjadi dasar Gereja meneruskan karya keselamatan Yesus.

Yesus mendirikan Gereja di tengah-tengah dunia, di tengah realitas sosial masyarakat. Gereja yang didirikan oleh Yesus itu merupakan sakramen keselamatan maka Gereja tidak dapat lepas dari realitas sosial yang ada karena Gereja hadir untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi dunia, bagi seluruh manusia. Gereja yang menerima tugas perutusan Yesus untuk melanjutkan karya keselamatan perlu mewujudkan keselamatan itu bukan saja dengan memperhatikan kebutuhan rohani saja tetapi juga perlu mengikuti teladan Yesus yang juga terlibat dalam masalah sosial yang dialami umatnya dan masyarakat pada umumnya.

Gereja adalah realitas sosial. Gereja itu terdiri dari orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Orang-orang ini bukan hanya manusia rohani saja tapi manusia yang manusiawi. Orang-orang ini berada di tengah-tengah masyarakat, di tengah dunia, pasti dengan sendirinya orang-orang ini mempunyai masalah sosial atau terlibat dengan masalah sosial yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu Gereja tidak dapat lepas dari permasalahan sosial yang ada. Di sinilah Gereja ditantang untuk menjadi sarana dan tanda keselamatan bagi masyarakat dunia.

Dewasa ini masalah sosial tidak hanya menjadi milik sebagain orang dalam suatu negara tetapi telah meluas dan menjadi milik setiap orang yang menjadi penghuni bumi, yang menjadi bagian dari warga dunia. Jika demikian, bagaimana gereja menganggapi masalah-masalah tersebut dan apa upaya yang dilakukan Gereja agar dapat mengarahkan dirinya bagi setiap orang yang miskin dan menderita.

Kembali kepada ajaran Kristus sendiri bahwa Kristus telah mengajarkan cinta kasih bagi semua orang yang menderita. Demikian jugalah Gereja harus mengusahakan dan melaksanakan hukum cinta kasih itu yakni cinta kasih yang mengutamakan kaum miskin. Segala perbuatan Gereja tentunya harus tertuju kepada mereka yang lapar, serba berkekurangan, tuna wisma, tuna pelayanan kesehatan dan terutama yang tanpa harapan akan masa depan yang lebih cerah.

Kenyataan-kenyataan yang ada disekitar Gereja, kesusahan yang dialami oleh saudara-saudara kita itu, tentu menjadi perhatian bagi Gereja juga karena mereka juga adalah bagian dari hidup Gereja. Lebih dari itu perhatian Gereja tentunya juga diberikan bagi mereka karena mereka memiliki kodrat yang sama dengan kita, mereka juga merupakan citra Allah sama seperti dengan umat lainnya. Jika mereka memiliki citra yang sama dengan kita tentu mereka juga saudara-saudara kita.

Lukas dalam injilnya menggambarkan hal serupa dengan perupamaan tentang “si kaya”  yang pura-pura tidak tahu-menahu tentang pengemis Lasarus yang terkapar di dekat pintu. Si kaya membiarkan membiarkan saudaranya yang berkekurangan itu terkapar didekat pintu. Padahal orang yang kaya itu memiliki makanan yang berlimpah. Hal ni tentunya merupakan suatu hal yang tidak manusiawi. Sebagai saudara si kaya telah lalai akan tuganya untuk memperhatikan saudaranya yang malang yangmembutuhkan perhatiannya.

Upaya yang perlu dilakukan dalam konteks universal

Hal yang sama tentunya juga dilakukan oleh para pemimpin bangsa-bangsa dan para ketua  lembaga-lembaga. Di satu sisi mereka juga perlu memperhatikan dimensi manusia dalam setiap rencana pengembangan mereka, tetapi disisi yang lain mereka juga harus memperhatiakan saudara-saudara merek yang miskin. Hal ini menjadi hal yang sangat penting dan dimasukkan dalam artikel ini tentunya memiliki nilai yang penting. Perhatian tidak hanya dicurahkan oleh sebagian orang, tetapi disarankan bahwa perhatian itu harus menjadi tanggung jawab setiap lembaga-lembaga internasional dan bahkan setiap pemimpin bangsa-bangsa.

Hal ini perlu diperhatiakan oleh mereka karena merekalah yang memiliki kekuatan yang besar dalam memperhatikan saudara mereka yang berkekurangan. Tentunya ini juga merupakan tanggung jawab mereka. Kebersamaan di antara mereka untuk saling bekerja sama tentunya sangat dibutuhkan. Dari kerja sama itu apa yang nampaknya berat akan menjadi ringan dan ketika berada dalam kesulitan, maka satu sama lain saling membantu. Tetapi sekali lagi hal ini hanya bisa terjadi jika dalam diri kita sudah menyadari tujuan dan arah yang sama yaitu memperhatiakan dan membantu saudara-saudara kita yang miskin.

Perhatian kepada mereka yang miskin itu memang perlu menjadi perhatian seluruh umat manusia dari segala lapisan dan juga dari berbagai negara. Kemiskinan yang dulunya tidak terlalu kita rasakan, hari demi hari telah bertambah menjadi-jadi. Kemiskinan itu ternyata tidak hanya terjadi di negar-negara  yang belum begitu maju tetapi juga di negara-negarayang sudah maju. Tanpa disadari pertumbuhan penduduk dalam suatu negara semakin bertambah banyak. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat itu sering kali tidak diimbangi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai. Lapangan pekerjaan yang minim yang mengakibatkan adanya penganguran besar-besaran. Dengan demikian menyebabkan kemiskinan semakin merajalela.

Sesungguhnya letak permasalahan tidak hanya pada kurangnya lapangan pekerjaan tapi juga hal-hal yang lain, misalnya tingkat pendidikan yang rendah, ekonomi, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleha anggota Gereja, dan sebagainya. Karena itu, masalah-masalah inilah yang seharusnya menjadi titik utama fokus perhatian bagi mereka yang menjadi pemimpin bangsa-bangsa ataupun lembaga-lembaga internasional. Akan tetapi tanggungjawab yang besar itu tentunya tidak menjadi tanggungjawab mereka yang berada di atas tapi juga menjadi tanggungjawab setiap kita manusia universal.

Dalam dokumen Ajaran Sosial Gereja artikel 45 dipandang perlu untuk menegaskan kembali asas karakteristik ajaran sosial Kristiani yaitu bahwa: harta benda dunia ini pada mulanya dimaksudkan bagi semua orang. Jika demikian berarti harta benda itu tidak diperuntukkan bagi sebagian orang saja, tetapi menjadi milik setiap orang yang berada dan bertempat yang tinggal di dunia ini. Hak atas milik perorangan memang berlaku dan perlu juga tetapi tidak menghapus prinsip itu.

Dengan kata lain hak milik perorangan juga tidak boleh diabaikan tetapi perlu dijaga dan diperhatiakan. Menjadi sesuatu yang tidak dapat dibenarkan bila harta benda dunia itu hanya kita miliki seorang diri. Karena pada kenyataannya milik perorangan itu terikat pada “kewajiban sosial”, dan itu akan benar-benar menajdi fungsi sosial bila harta benda itu diperuntukkan bagi semua orang.

Hal lain yang juga perlu diperhatiakan dari mereka yang miskin ialah bentuk khas dari kemiskinan mereka, artinya hak-hak asasi manusiawinya, khususnya hak atas kebebasan beragama dan hak atas kebebasan berprakarsa di bidang ekonomi. Seringkali apa yang dimiliki oleh kaum minoritas diabaikan begitu saja oleh kebanyakan orang. Padahal apa yang dimiliki oleh kaum minoritas itu juga menjadi bagian dari kaum mayoritas. Misalnya kebebasan untuk beragama, dimana setiap orang berhak untuk memiliki kebebasan untuk memeluk agamanya dan menjalankan agamanya sesuai dengan kepercayaan mereka. Apabila hak kebebasan beragama ini tidak diperhatikan tentu akan menajdi suatu permasalahan dalam kehidupan bersama.

Demikian juga hak kebebasan dalam berprakarsa di bidang ekonomi. Setiap orang memiliki haknya untuk mengembangkan diri dalam bidang ekonomi. Akan menjadi hal yang tidak dapat dibenarkan bila hak atas perekonomian ini hanya dimiliki oleh sebagian orang yang memang memiliki kekuatan yang besar. Karena memiliki kekuatan mereka yang kuat seringkali mengabaikan yang kecil dan tidak memberikan ruang gerak kepada mereka yang masih dalam tahap proses. Tentu sikap yang seperti itu adalah sikap yang keliru karena hak orang lain yang seharusnya dapat dijalankan tidak dapat dijalankan.

 Bagaimana Gereja terlibat dalam masalah sosial?

Gereja pertama-tama dipanggil untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan yang nyata bagi dunia. Untuk itu Gereja tidak cukup hanya menyuarakan nilai-nilai, ajaran-ajaran atau doktrin-dotrin saja. Hal itu memang penting dan ini perlu sekali sebagai pendasaran dalam tindakan yang konkret. Gereja bukan hanya melihat, menilai tetapi yang penting adalah tidakan, aksi nyata yang menjadi tanda keselamatan harus diwujudkan.

Perbuatan atau aksi nyata itu tidak perlu terlalu muluk tetapi sederhana namunsungguh  beartiuntuk sedikit membantu mengatasi masalah sosial yang ada. Tindakan konkrit yang dapat membantu menangani masalah sosial antara lain: pendirian sekolah pendidikan yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dengan tidak mengurangi kualitas atau mutu pendidikan dibandingkan dengan sistem pendidikan yang sudah maju.Hal ini mengingat banyak anak yang kesulitan memperoleh pendidikan yang baik dan murah. Juga perlunya pendirian poliklinik guna untuk membantu biaya kesehatan bagi mereka yang tidak mampu membiayai hidup kesehatan.

Selain itu juga perlunya pendirian Credit Union (CU), atau koperasi-koperasi yang dapat membantu persoalan ekonomi banyak orang, pendampingan para buruh dan juga para petani. Hal ini mengingat banyaknya buruh yang diperlakukan dengan tidak adil dan mereka tidak dapat menyelesaikan persoalannya sendiri. Demikian halnya para petani yang tidak memiliki modal untuk mengembangkan sistem pertaniannya; juga menyiapkan tenaga-tenaga yang siap terjun atau untuk membantu menangani masalah-masalah sosial yang ada. 

Penutup

Seperti yang penulis uraikan di atas dalam enseklik “Populorum Progressio” artikel 45 secara khusus membicarakan mengenai kaum miskin. Kemiskinan yang tiada hentinya ini menjadi masalah bagi banyak orang. Masalah kemiskinan ini pun sekarang masih dirasakah oleh banyak orang tidak hanya di negara kita tetapi juga negara-negara lainnya. Banyak cara telah di usahakan untuk mengatasi masalah ini.

Saat inilah yang paling diperlukan oleh mereka yang miskin dan berkekuarangan ialah penerimaan dari kita atas mereka. Sebagai sesama manusia tentu kita memiliki kewajiban untuk memperhatiakan saudara kita terlebih ketika mereka berada dalam kekaurangan. Bagaimana sikap kita terhadap mereka sampai saat ini? Inilah yang perlu kita renungkan dari setiap kita. Kita perlu berfikir dan berefleksi apakah sampai saat ini kita masih sibuk dengan diri kita sendiri yang berusaha sekuat tenaga memenuhi segala keinginan kita yang mungkin tidak perlu.

Mengutamakan kaum miskin itu berarti merupakan suatu bentuk pilihan atau bentuk khusus prioritas dalam mengamalkan cinta kasih Kristiani. Orang Kristen terkenal dengan ajaran cinta kasihnya. Sudah saatnya kita berjuang bersama dan saling bahu membahu memerangi kemiskinan. Usaha yang keras dan kebersamaan kita dengan umat seluruh dunia akan membuat pekerjaan yang kita lakukan tidak terasa berat. Bagaimana kita mewujudkan hal itu? Hal yang pertama yang perlu kita lakukan ialah menumbuhkan kesadaran dalam diri Gereja bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi saudara yang memiliki hak yang sama antara satu dengan yang lain.

Dengan kesadaran bahwa kita sebagai anggota Gereja adalah saudara, semakin lama kita akan merasa bahwa kita wajib bertanggung jawab juga atas nasib saudara yang lain, khususnya mereka yang miskin, menderita, tertindas dan tersingkirkan. Seperti halnya Kristus sendiri yang turut merasakan segala kelemahan kita dan permasalah yang dihadapi oleh umatnya, demikian juga hendaknya kita sebagai para muridnya.

*Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang Semester 5

Daftar Pustaka

Sumber Utama

Paulus VI. Populorum Progressio, Dalam Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991 dari Rerum Novarum sampai dengan Centesimus Annus, terj. R. Hardawiyana, SJ, Jakata: Dokpen KWI, 1999.

Buku Referensi

Congar, Yves M. J. Gereja Hamba Kaum Miskin. Yogyakarta: Kanisius, 1973.

Mandaru, Hortensius. Solidaritas Kaya Miskin Menurut Lukas. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Suryawasito, SJ, dkk. Kemiskinan dan Pembebaasan. Yogyakarta: Kanisius, 1987.


[1] Bdk. Konstitusi Patoral “Gaudium et Spes” tentang Gereja dalam Dunia Modern, art 63, hlm 354

[2] Paulus VI. Populorum Progressio, Dalam Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991 dari Rerum Novarum sampai dengan Centesimus Annus, trj. R. Hardawiyana, SJ (Jakata: Dokpen KWI, 1999), hlm 421

[3] Ibid., art.1, hlm 397.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s