Dialog Filsafat Teologi Dalam Perspektif St. Anselmus dari Canterbury

Pada zaman mediovale, ciri khas pemikiran atau pergulatan intelektual yang lebih dominan yakni menyangkut iman yang mempergunakan akal budi guna untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam misteri iman. Misteri iman menjadi bahan atau tekhnik pembelajaran pada masa itu. Tekhnik yang dilakukan ialah dialektika atau penggunaan aktivitas rasional. Dengan kata lain, ciri khas metode skolastik ialah fides quarens intellectum (iman yang mencari pengertian). Pemikiran ini merupakan bagian dari pergumulan Anselmus dalam kaitannya dengan upaya pencarian akan eksistensi Allah dengan menggunakan akal budi, yakni bagaimana akal budi mampu menemukan, mengerti dan mengetahui eksistensi Allah. Namun pertama-tama Anselmus mencoba menjelaskan hubungan antara teologi dengan filsafat. 

1.  Hubungan antara akal budi dan iman (Filsafat dan Teologi)

Dalam kaitan antara iman dan akal budi, Anselmus dalam bukunya tentang Proslogion mengungkapkan kaitan antara keduanya yaitu “credo ut intelligam” (saya percaya supaya saya mengerti). Tentu ungkapan ini mengandung dua makna penting yaitu perlunya iman dalam pengetahuan akan kebenaran religius dan kebenaran moral. Selain itu, juga penggunaan akal budi sehingga dalam beriman itu, tidak menjadi buta atau pasif, melainkan senantiasa menggunakan akal budi (intelligam).[1]

Argumen ini tampaknya sederhana untuk dipahami dan mudah disanggah, akan tetapi dalam menolak ajarannya, hampir sama sulitnya dengan membuktikannya. Argumen ini disebut dengan argumen ontologis karena menjelaskan eksistensi Allah berdasarkan pada definisi tentang Allah. Argumen ini mulai dengan penjelasan tentang Allah sebagai “keberadaan (being), di mana tidak dapat dibayangkan terdapat sesuatu yang lebih besar daripadanya” dan menyimpulkan bahwa, karena kita dapat membayangkan Allah di dalam pikiran, Allah harus berada (exist) dalam realitas, sebab berada dalam realitas lebih besar atau lebih sempurna dibandingkan dengan hanya merupakan keberadaan mental. Dalam kata-kata Anselmus, intisari argumen tersebut adalah:

Yang jelas adalah tidak ada sesuatu yang lebih besar, yang dapat dibayangkan, tidak ada di dalam pengertian saja. Karena seandainya dia ada di dalam pengertian saja: maka dia dapat dibayangkan berada di dalam realitas; suatu realitas yang lebih besar. Karena itu, jika tidak ada sesuatu yang lebih besar, yang dapat dibayangkan itu, ada dalam pengertian saja, ia adalah ada yang sesungguhnya, di mana tidak ada yang lebih besar darinya yang dapat dibayangkan, ada satu yang lebih besar yang dapat dibayangkan. Namun, jelas bahwa hal ini tidak mungkin. Dengan demikian, tidak ada keraguan bahwa ada suatu keberadaan (being), di mana tidak dapat dibayangkan terdapat suatu yang lebih besar daripadanya, dan dia ada baik dalam pengertian maupun dalam realitas.[2]

Jadi Anselmus memiliki cita-cita untuk membuktikan bahwa Allah itu ada. Namun dia hanya mengajukan  apa yang disebut dengan terminologi cogitari (dipikirkan). Dengan kata lain, Anselmus hanya menggunakan argumen tunggal untuk mengatakan bahwa Allah yang dapat dipikirkan. Allah niscaya ada sebab dengan menolak eksistensi-Nya berarti melawan dirinya sendiri.[3] Anselmus menyimpulkan bahwa hanya orang bodoh yang dapat berkata dalam hati mereka, “Allah tidak ada.”

2. Eksistensi Allah

Ajaran mengenai bukti-bukti eksistensi Allah dapat ditemukan dalam kedua buku yang menjadi hasil permenungan Anselmus yaitu Monologion dan Proslogion

2.1 Monologion

            Monologion sering juga disebut dengan argumen tunggal (soliloque).[4] Monologion ini lebih bersifat teologis karena merupakan sebuah rincian doktrinal tentang Trinitas. Artinya bahwa apa yang dipercayai tidak berarti tidak masuk akal. Anselmus dalam monologion ini hendak menunjukkan eksistensi Allah hanya dengan melalui akal budi, membedakan dari wahyu dan akhirnya sampai kepada Allah Tritunggal. Dalam monologion, Anselmus telah menunjukkan bagaimana refleksi rasional dapat menemukan kebenaran-kebenaran iman. Anselmus mengembangkan bukti adanya atau eksistensi Tuhan dari tingkat-tingkat kesempurnaan yang ditemukan dalam ciptaan-ciptaan. Jadi argumennya pertama-tama bersifat aposteriori, yakni dari akibat menuju sebab.[5]

Namun meskipun demikian, tidak semua para pemikir abad pertengahan mampu menerima apa yang menjadi hasil pergulatan Anselmus dalam kaitan dengan eksistensi dalam pikiran ke eksistensi dalam realitas, yang diantaranya ialah seorang biarawan bernama Gaunilo.[6] Menurut Gaunilo, argumen Anselmus tentang eksistensi Tuhan ini terlalu berlebihan, sebab jika argumen tersebut dapat membuktikan konsep tentang kebesaran atau kesempurnaan Allah bahwa Allah ada, mengapa Anselmus tidak bisa menerima hal yang sama dari konsep tentang suatu pulau yang sempurna bahwa pulau itu juga ada.[7]

Ketika menjawab Gaunilo, Anselmus menyatakan bahwa meskipun ia tidak percaya argumennya membuktikan eksistensi dari suatu pulau yang sempurna, apabila Gaunilo dapat meyakinkannya bahwa hal itu terbukti, maka ia akan menemukan pulau tersebut di suatu tempat di alam semesta ini. Dari jawaban ini dapat di tanya lagi mengapa Anselmus begitu demikian yakin bahwa argumennya membuktikan eksistensi Allah, dan bukan eksistensi dari wujud keberadaan yang lainnya?.[8]

Jawaban terhadap pertanyaan ini ialah dengan menekankan bahwa konsep tentang Allah itu berbeda dari berbagai konsep lainnya, karena Allah dijelaskan sebagai Being (Sang Ada) dengan kemahaunggulan tertinggi. Namun, kemahaunggulan tertinggi memerlukan kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kesempurnaan total, terlebih lagi yang harus diketahui ialah bahwa kekekalan dan eksistensi-Nya berasal dari diri-Nya sendiri. Inilah yang membedakan Allah dari segala sesuatu yang lainnya. Hanya Allah yang kekal, hanya Allah yang eksistensi-Nya berasal dari diri-Nya sendiri. Hal yang tidak mungkin ialah membayangkan Allah sebagai yang menerima suatu eksistensi; ide itu bertentangan dalam diri-Nya sendiri. Inilah argumen Anselmus dalam berusaha menunjukkan eksistensi Allah bahwa Allah itu ada.

Anselmus telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan memaksa pembacanya untuk berfikir juga. Karena itu, argumen ini dikenal juga sebagai argumen kosmologis yang hampir sama dengan pemikiran Thomas Aquinas. Selain itu, Anselmus memang adalah seorang teolog yang merasa bertanggung jawab dan merasa wajib untuk memberi dasar kebenaran yaitu kebenaran tentang dan yang dari Allah.

2.2 Proslogion[9]

            Dalam pembukaan buku ini, Anselmus memulainya dengan sebuah doa.[10] Mungkin karena alasan inilah maka buku ini disebut dengan Proslogion atau dialog dengan Tuhan lewat doa. Menurut beberapa catatan yang memberikan argumen tentang proslogion, hampir semuanya mengatakan bahwa buku ini merupakan buku yang sangat berat, sehingga Anselmus sendiri hampir mengalami keputusasaan, kehilangan semangat dan hampir meninggalkan usahanya serta tidak lagi berniat untuk memikirkannya. Namun entah mengapa, ide itu kemudian muncul kembali lagi ditengah keputusasaan yang dialaminya.[11]

            Ide pokok yang disampaikan Anselmus dalam Proslogion ini ialah tentang Allah kepada Allah sebagai suatu realitas, yakni sebagai realitas yang ada.[12] Dalam Proslogion ini, Anselmus mengemukakan beberapa pemikiran yang cukup logis mengenai eksistensi sebuah realitas. Dia mengatakan bahwa mengatakan bahwa apapun yang ada (being), dapat dipikirkan tidak ada (exist). Pemikiran ini tentu berkaitan dengan ciptaan. Artinya bahwa apapun yang ada, pernah tidak ada. Artinya juga bahwa apapun yang ada, pernah tidak ada, dan juga suatu saat tidak akan ada. Dapat diringkas bahwa apa yang ada, dapat dipikirkan tidak ada.

Lalu bagaimana dengan Allah? Allah tidak bisa dipikirkan tidak ada, artinya Allah itu selalu ada. Allah adalah Dia yang lebih besar daripada itu tidak dapat dipikirkan atau dibayangkan. Jika dikatakan bahwa Allah itu melampaui segalanya, maka Allah tidak dapat dipikirkan tidak ada, maka inilah pemikiran orang-orang yang bodoh atau dungu. Tentu yang ingin ditekankan oleh Anselmus lewat Proslogion ini ialah bahwa akal budi manusia tidak bisa tidak memikirkan atau mengerti Allah sebagai yang tidak ada. Akal budi memiliki struktur yang memastikan adanya Allah. Allah ada, ada dalam akal budi. Eksistensi Allah ada dalam struktur akal budi.

Allah tidak bisa dipikirkan tidak mungkin ada. Allah adalah ITU [Dia] yang tentangnya tiada apapun yang lebih besar dari pada-Nya dapat dipikirkan. Maka benar bahwa Allah (Being) yang tentangnya tidak ada apa pun yang lebih besar daripada-Nya dapat dipikirkan, sungguh-sungguh ada (exist), bahwa Dia tidak dapat dipikirkan tidak ada (non exist). Dia yang dapat dipikirkan tidak ada, pasti bukan Allah. Sebab, mungkinkah memikirkan suatu ada (being) yang tidak dapat dipikirkankan tidak ada? O Tuhan, Engkau selalu ada.

Daftar Pustaka

Hopkins, Jasper dan Herbert Richardson (Penterj), Complete Philosophical and Theological Treatises of Anselm of Canterbury, Minneapolis: The Arthur J. Banning Press, 2000

Isdaryanto, Johanes Bosco, Lic, Dikat kuliah Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan, Malang: Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, 2006

Kie, Liem Sien, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, terjemahkan dari Linwood Urban, A Short History of Christian Thought, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Riyanto, Armada CM, Makalah DFT-Dialog Filsafat Teologi dalam acara Dies Natalis STF Driyarkara 25 Februari 2012


[1]Pada bukunya bab 1 tentang Proslogion dikatakan bahwa “Aku bukannya mencoba menyelidiki kebesaran-Mu ya Tuhan, sebab akal budiku sama sekali tidak sebanding dengan kebesaran-Mu. Akan tetapi aku ingin sedikit memahami kebesaran-Mu yang dipercayai dan dicintai hatiku. Dan aku tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, melainkan aku percaya agar bisa memahami. Sebab, aku pun mengakui bahwa aku tidak akan mampu memahami, kalau aku tidak percaya”  Bdk. Jasper Hopkins and Herbert Richardson (Penterj), Complete Philosophical and Theological Treatises of Anselm of Canterbury, Minneapolis: The Arthur J. Banning Press, 2000, hlm 90.

[2] Ibid., hlm 93.

[3] Liem Sien Kie, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, diterjemahkan dari Linwood Urban: A Short History of Christian Thought, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hlm 205-207.

[4] Armada Riyanto, Makalah DFT-Dialog Filsafat Teologi dalam acara Dies Natalis STF Driyarkara 25 Februari 2012, hlm 6.

[5] Johanes Bosco Isdaryanto, Lic, Diktat kuliah Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan, Malang: Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, 2006, hlm 57.

[6] Liem Sien Kie, Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Lebih banyak diuraikan kembali dari pelajaran di kelas mengenai pokok pelajaran tentang Anselmus.

[10] Isi doanya demikian; “Speak now, my whole heart; speak now to God: I seek Your countenance; Your countenance, 0 Lord, do I seek. So come now, Lord my God, teach my heart where and how to seek You, where and how to find You. If You are not here, 0 Lord, where shall I seek You who are absent? But if You are everywhere, why do I not behold You as present? But surely You dwell in light inaccessible. Yet, where is light inaccessible? Or how shall I approach unto light inaccessible? Or who will lead me to and into this [light] so that in it I may behold You?” Dalam Jasper Hopkins and Herbert Richardson, Op. Cit., hlm 90.

[11] Liem Sien Kie, Op. Cit.

[12] Johanes Bosco Isdaryanto, Lic, Op. Cit, hlm 59.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s