MANUSIA DALAM PANDANGAN XÚN zĬ

I  Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk sosial. Dikatakan demikian karena manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan selalu membutuhkan orang lain. Xún Zĭ sendiri mengatakan bahwa manusia hidup berkelompok-kelompok dan membentuk organisasi untuk memperoleh dukungan dan saling menguatkan satu sama lain.[1] Namun kehidupan bersama ini, tidak dapat berjalan mulus karena ada kecenderungan-kecenderungan jahat dalam diri manusia. Jika manusia ingin kehidupan bersama dalam suatu kelompok berjalan dengan baik maka terlebih dahulu ia harus mengekang bahkan melenyapkan segala kecenderungan jahat. Lebih lanjut dalam tulisan ini akan dibahas mengenai kodrat manusia menurut Xún Zĭ dan bagaimana cara memperbaiki kodrat tersebut. Di samping itu disinggung pula hubungan antara pandangan Xún Zĭ dengan realitas kehidupan saat ini.

II Hidup dan Karya[2]

Xún Zĭ dilahirkan di negeri Zhao dengan nama Xún Kuàng dan diberi nama kehormatan  Oing. Dia juga mempunyai nama lain yakni Ming. Nama Xún Zĭ sendiri berarti tuan Xun. Ia kemudian belajar dan mengajar di Akademi Jixia. Ia hidup pada masa perang antar negara dan berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain mulai dari Qi yang pada saat itu dipimpin oleh Raja Xiang. Karena difitnah di pengadilan, ia kemudian pergi keNegara Chu dan bekerja pada Raja Chunshen. Kemudian tahun 238 SM ia berhenti dari pekerjaannya setelah raja dibunuh dan tinggal di Lanling (Shandong) sampai akhir hidupnya. Dia mempunyai dua orang murid yang setia yakni Lǐ Sī dan Hán Fēi. Selama masa hidupnya dia menghasilkan banyak karya tulis sehingga dipandang sebagai penulis terbesar dalam sejarah filsafat Cina.

III Pemikiran

1.    Kodrat Manusia Adalah Jahat

Xún Zĭ merupakan salah satu tokoh terkenal dalam filsafat Konfusianisme. Tokoh-tokoh lain dalam filsafat ini ialah Konfusius dan Mencius. Ketiga tokoh ini berbicara mengenai banyak hal termasuk soal moralitas. Namun tidak berarti bahwa pandangan ketiga tokoh ini sama. Tentunya ada perbedaan mendasar dari masing-masing pribadi. Xún Zĭ sendiri yang hidup sesudah Konfusius dan Mencius berusaha untuk menyusun dan membangun suatu karya tersendiri. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa kedua karya tokoh ini sangat mempengaruhi karyanya. Dengan kata lain kedua tokoh ini menjadi inspirator bagi Xún Zĭ dalam menulis karyanya.

Di samping itu, ajaran-ajaran Xún Zĭ juga dipengaruhi oleh aliran-aliran lain seperti Dao, Legalist dan Mohist, sehingga tidak mengherankan jika ajarannya kelak bukanlah ajaran Konfusius murni.[3] Namun dia tetaplah seorang tokoh penting mengingat jasanya dalam menyusun kembali dan memperdalam ajaran Konfusius sehingga lebih sistematis. Penyusunan ini dilatarbelakangi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Cina pada saat itu. Banyak pemikir yang muncul dengan ajaran yang beraneka ragam. Melihat kenyataan ini Xún Zĭ akhirnya berusaha untuk menyelamatkan masyarakat Cina dengan mengembangkan kembali filsafat Konfusianisme.

Salah satu gagasan menarik dalan ajaran Xún Zĭ adalah pandangannya mengenai kodrat manusia. Ia mengatakan bahwa Kodrat manusia atau yang lebih dikenal dengan sifat dasar adalah jahat.[4] Yang dimaksudkan “jahat” oleh Xún Zĭ bukanlah suatu perbuatan atau tindakan anarkis, melanggar peraturan dan bertindak amoral tetapi lebih mengarah kepada kecenderungan dan kehendak manusia yang tidak teratur. Hal ini terjadi karena manusia tidak memiliki kebaikan ketika ia dilahirkan.[5] Lebih lanjut Xún Zĭ mengelompokkan kejahatan manusia menjadi 3 bagian yakni, pertama: manusia dilahirkan dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan dan jika dipenuhi maka akan timbul pertengkaran dan keserakahan sehingga rasa sopan santun dan mengalah menjadi sirna;  kedua: manusia dilahirkan dengan rasa iri dan benci dan jika diikuti maka akan timbul kekejaman dan kekerasan sehingga kesetiaan dan kehendak baik akan sirna; ketiga: manusia dilahirkan dengan nafsu telinga dan mata, jika diikuti maka akan timbul kemesuman dan ketidakteraturan sehingga Li dan Yi menjadi sirna.[6]

Pandangan Xún Zĭ mengenai kodrat manusia ini sangat bertentangan dengan pandangan Mencius. Mencius mengatakan bahwa kodrat manusia pada dasarnya adalah baik. Manusia lahir dengan membawa sifat-sifat baik dan kejahatan muncul sebagai akibat relasi dengan lingkungan. Hal inilah yang merupakan perbedaan mendasar antara Xún Zĭ dan Mencius. Tetapi dari perbedaan ini akan muncul pula suatu persamaan pandangan. Persamaan ini dilatarbelakangi oleh pandangan Xún Zĭ lebih lanjut mengenai kejahatan. Bahwa meskipun manusia dilahirkan dengan kodrat yang jahat namun ada jalan untuk membuat kodrat manusia tersebut menjadi baik yakni melalui latihan-latihan.[7] Pada poin ini dapat kita lihat adanya persamaan gagasan yang dimiliki oleh keduanya, bahwa tetap ada konsep mengenai kebaikan dalam diri manusia.

2.    Upaya Untuk Memperbaiki Kodrat Manusia

Xún Zĭ menegaskan bahwa ada jalan untuk memperbaiki kodrat manusia yang jahat. Hal ini didasarkan pada pernyataannya bahwa manusia di samping memiliki kejahatan, juga memiliki kecerdasan. Kecerdasan inilah yang memungkinkan manusia untuk menjadi baik. Kecerdasan yang dimiliki disebabkan oleh akal budi yang ada pada masing-masing manusia. Dengan adanya akal budi, manusia mampu membedakan hal-hal baik dan buruk, sehingga tidak jatuh pada kejahatan. Jika demikian maka manusia dapat menjadi seorang pribadi yang baik, bijaksana dan bermoral.

Dengan menekankan pentingnya akal budi, Xún Zĭ hendak menunjukkan bahwa manusia tidak bergantung pada Tuhan dan alam sekitarnya. Dia bergantung pada dirinya sendiri karena hanya dialah yang mampu merubah nasibnya. Dari sini dapat dilihat bahwa akhirnya kodrat manusia dapat diperbaiki dan diganti dengan sifat baru yang jauh lebih baik. Sifat baru tersebut merupakan hasil pengolahan manusia secara terus-menerus dan berkesinambungan. Artinya bahwa pengolahan ini tidak hanya berhenti pada suatu kesempatan tertentu saja, melainkan terus berlanjut sehingga membentuk suatu kebudayaan. Sifat baru tersebut dipandang sebagai kebudayaan karena merupakan hasil karya manusia yang di dalamnya terkandung kebenaran dan nilai-nilali luhur. Untuk dapat sampai pada tahap ini maka manusia perlu melewati dua tahap yakni pendidikan dan Li.

a.    Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting dalam memperbaiki kodrat manusia. Melalui pendidikan manusia diarahkan untuk mencapai dan memperoleh kebaikan. Dalam menjalankan misinya ini, manusia membutuhkan sosok yang dapat membantu dan mengarahkan. Sosok yang dimaksud di sini ialah seorang guru. Tanpa adanya guru yang menuntun maka apa yang diiginkan tidak akan tercapai. Tidak mengherankan jika Xún Zĭ kemudian menekankan peran penting guru dalam membentuk moralitas dengan mengumpamakannya seperti seorang tukang tembikar yang membuat pot bunga. Pot tersebut tidak dapat hadir dengan sendirinya tanpa campur tangan tukang tembikar, demikianlah orang tidak dapat membentuk kodratnya tanpa bantuan seorang guru.[8]

Lebih lanjut Xún Zĭ menegaskan bahwa seorang guru harus mengajarkan Dao kepada muridnya. Hal ini dimaksudkan agar Dao dapat menerangi akal budi sehingga manusia mampu melawan segala kecenderungan jahat yang merupakan kodrat dasarnya. Di samping itu, manusia juga perlu mempelajari buku-buku klasik dan hukum-hukum alam agar menjadi orang yang pandai dan terpelajar. Namun orang tidak boleh hanya berhenti pada poin ini tetapi harus terus mengembangkan diri sampai pada tingkat bijaksana.[9]

b.   Li

Selain pendidikan, Xún Zĭ juga mengajukan cara lain untuk memperbaiki kodrat manusia. Cara tersebut adalah Li, yang diterjemahkan sebagai upacara, ritual atau aturan-aturan sosial.[10] Namun dalam pembahasan selanjutnya, ia lebih menekankan Li sebagai aturan-aturan perilaku sosial yang berfungsi untuk mengatur kehidupan bersama. Kita tahu bahwa kodrat manusia itu jahat dan oleh karena itu segala perbuatanyang dilakukan pun adalah jahat. Manusia memiliki keinginan dan kecenderungan jahat seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Hal ini tentunya akan sangat mengganggu manusia dalam relasinya dengan sesama. Dengan kata lain dapat merusak kehidupan bersama. Oleh karena itu dibutuhkan Li untuk mencegah Keinginan dan kecenderungan jahat manusia agar kehidupan bersama dapat berlangsung dengan aman, damai, harmonis dan serasi.

Di samping itu Li menjadi penting karena tidak semua orang mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini pendidikan dari seorang guru. Orang–orang yang tidak terpelajar ini pastinya akan susah menjalankan kehidupan besama. Mereka tentunyaakan mengalami masalah dalam membedakan sesuatu yang baik dan jahat. Mereka juga tidak akan mengenal moralitas. Karena itu dibutuhkan Li yang merupakan upacara, ritual atau aturan-aturan perilaku sosial. Dengan adanya hal ini maka setiap orang akan sungguh menghayati kehidupannya. Namun perlu diperhatikan bahwa Li  ini tidak akan dapat berjalan dan berhasil dengan baik tanpa adanya usaha dari manusia. Usaha yang dimaksud di sini ialah latihan-latihan. Proses latihan tentu bukan hanya sekali, dua kali, atau pun tiga kali melainkan secara terus-menerus. Hal ini dimaksudkan agar moralitas manusia dapat terbentuk dan berkembang ke arah yang lebih baik seiring dengan perkembangan waktu. Dengan kata lain latihan tersebut akan mengubah kodrat manusia yangjahat sehingga menjadi baik.

IV  Relevansi

Terlepas dari persoalan kodrat manusia, Xún Zĭ sebenarnya menawarkan dua hal penting yang menarik dan berguna bagi kehidupan manusia yakni pendidikan dan Li. Pada pembahasan sebelumnya telah digambarkan secara jelas dan nyata bahwa kedua hal ini sangat membantu manusia dalam membentuk kodratnya. Orang yang tidak memilki kedua hal ini akan tetap tinggal pada kodratnya semula yakni “jahat” dan tidak akan berkembang menjadi baik. Dua hal yang dipaparkan oleh Xún Zĭ ini sebenarnya tidak hanya penting dan berguna pada masanya saja tetapi berguna juga untuk masa sekarang. Mungkin juga akan tetap aktual dan berguna di masa yang akan datang. Pendapat ini tentunya tidak telalu berlebihan mengingat apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Meskipun peradaban manusia telah mengalami kemajuan pesat hingga saat ini namun tidak dapat dipungkiri bahwa terjadi juga kemunduran–kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satu contoh nyata dapat kita amati dalam dunia perpolitikan di tanah air. Begitu banyak orang yang berebut mencalonkan diri untuk menjadi menjadi anggota legislatif. Tentunya tidak semua caleg mempunyai kemampuan yang sepadan dengan tugas yang akan diembannya. Jika orang-orang seperti ini yang terpilih, tidak dapat dibayangkan mau dibawa kemana bangsa ini. Dengan demikian dapat dilihat betapa pentingnya kedua hal tersebut. Jika manusia ingin berhasil maka ia harus mengisi diri terlebih dahulu dengan pengetahuan sebanyak-banyaknya, menjalankan dan menghidupi dengan sungguh-sungguh segala upacara, ritual dan aturan perilaku sosial. Hanya melalui cara inilah maka manusia akan menjadi seorang pribadi yang pandai, bijak dan mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sehingga keberhasilah dan kesuksesan akan tercapai.

V  Penutup

Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kodrat manusia yang digambarkan sebagai sesuatu yang jahat bukanlah menjadi penghalang bagi manusia dalam menjalin relasi dengan sesamanya. Hal ini dibuktikan dengan dua jalan yakni pendidikan dan Li. Kedua unsur ini harus menguasai dan menggerakkan hidup manusia agar bertindak sesuai dengan moralitas. Agar dapat sampai pada tingkatan ini dituntut pula suatu latihan dan praktik yang terus-menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Driyarkara, Tim Redaksi (ed). Jelajah hakikat Pemikiran Timur.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993

Lan, Fung Yu. Sejarah Filsafat Cina. terj. John Rinaldi. Yoyakarta : Pustaka Pelajar, 2007

Lie, Agustinus. Slide Perkuliahan “Xún Xĭ. Malang, 2010

Reksosusilo, S. Sejarah Awal Filsafat Timur. Malang : Pusat Publikasi Filsafat Teologi Widya Sasana, 2008


[1]Bdk.,Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat Cina, terj. John Rinaldi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007, hlm. 189-191.

[2]Bdk., Agustinus Lie, Slide Perkuliahan” Xún Xĭ”, Malang, 2010.

[3]Bdk., S. Reksosusilo, Sejarah Awal Filsafat TimurI, Malang : Pusat Publikasi Filsafat Teologi Widya Sasana, 2008, hlm. 55.

[4]Bdk.,Fung Yu-Lan, Op. cit., hlm. 187.

[5]Bdk., Agustinus Lie, Loc. Cit.

[6]Bdk., S. Reksosusilo, Op.cit., hlm. 56.

[7]Bdk.,Fung Yu-Lan, Op. cit., hlm. 188-189.

[8]Bdk., Agustinus Lie, Slide Perkuliahan”Xún Xĭ”, Malang, 2010.

[9]Bdk., S. Reksosusilo, Op.cit., hlm. 62-63.

[10]Bdk.,Fung Yu-Lan, Op. cit., hlm.191-192.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s