GEREJA DAN BUDAYA MODERN: Gerakan Pembaharuan Kharismatik Gereja Katolik Indonesia

PENGANTAR

Gereja selalu membarui diri. Pernyataan tersebut sudah tidak asing lagi bagi kalangan para pemimpin dan pejabat Gereja. Pembaruan Gereja dilakukan meliputi berbagai macam hal dan bidang, mulai bidang liturgi hingga pelayanan. Tulisan berikut ini akan membahas pembaruan yang terjadi dalam tubuh Gereja. Pembaruan yang akan dibahas yaitu Pembaruan Kharismatik Katolik yang terjadi dalam gereja Katolik dan secara khusus Gereja Katolik Indonesia. Pembahasan ini akan diawali dari sejarah munculnya gerakan pembaruan Kharismatik Katolik dan kemudian dilanjutkan dengan apa yang mendasari pembaruan Kharismatik Katolik. Setelah mengetahui beberapa hal tersebut akan dijelaskan secara singkat sejarah pembaruan Kharismatik Katolik di Indonesia dan kemudian diakhiri dengan beberapa persoalan yang muncul sebagai tanggapan atas gerakan pembaruan Kharismatik Katolik.

SEJARAH AWAL MUNCULNYA KARISMATIK

Sejarah awal tahun 1950-1975 sangat sulit untuk dipastikan kapan dan dimana tepatnya Karismatik Katolik mulai muncul sebagai gerakan yang cukup berpengaruh dalam sejarah kehidupan menggereja. Namun demikian, pada umumnya dapat dikatakan bahwa Dennis Bennett yaitu seorang dari Gereja Episkopal Amerika seringkali disebut-sebut sebagai pionir dari gerakan ini.

Pada tahun 1960, Bennet sebagai seorang Rektor Gereja Episkopal Santo Markus, Van Nuys, California, Amerika Serikat, mengumumkan kepada jemaatnya bahwa ia telah menerima pencurahan Roh Kudus. Segera setelah peristiwa ini, ia pindah di Vancouver melayani banyak lokakarya dan seminar mengenai karya Roh Kudus.  Pelayanannya banyak memengaruhi puluhan ribu kaum Anglikan di seluruh dunia dan sekaligus memulai gerakan pembaharuan di dalam tubuh Gereja Katolik Roma dan Gereja-Gereja Ortodoks.

Antara tahun 1960-1970, muncul pembaharuan di kalangan gereja-gereja aras utama, seperti Episkopal, Lutheran, dan Katolik, untuk mendapatkan karunia-karunia Roh Kudus. Pembaharuan Karismatik Katolik  diawali oleh Kevin Ranaghan dan pengikutnya adalah South Bend, Indiana, dan University of Notre Dame pada tahun 1975-2000. Sejak tahun 1975, gerakan Karismatik tampaknya dipengaruhi oleh gerakan Hujan Akhir. Para pengajar dari gerakan tersebut, adalah William M. Branham.

PEMBARUAN KHARISMATIK KATOLIK

Semua orang dipanggil untuk menjadi kudus dan berkaitan dengan hal ini maka semua orang dituntut untuk selalu membaharui diri dari hari kehari. Pembaruan terhadap diri sendiri akan memberi pengaruh dan berdampak pada gereja sehingga semua orang diharapkan dapat membaharui Gereja secara pribadi. Pembaruan Gereja dilakukan meliputi berbagai macam hal dan bidang, mulai bidang liturgi hingga pelayanan. Pembaruan yang akan dibahas yaitu pembaruan Kharismatik Katolik. Pembaruan ini berkembang cepat dan telah hadir dalam hampir semua keuskupan terutama di Indonesia. Pembaruan Kharismatik bukan hal baru bagi Gereja Katolik, namun bagi banyak kalangan umat yang berada di Indonesia hal ini masih terasa aneh terutama bagi umat yang tinggal didaerah-daerah yang bukan perkotaan. Pembaruan Kharismatik Katolik harus dipahami dengan baik agar tidak menimbulkan kebingungan sehingga membuat perpecahan dalam Tubuh Gereja. Pembaruan Kharismatik Katolik diharapkan dapat mengajak segenap umat, agar Gereja semakin menjadi satu persekutuan yang terus menerus membarui iman kepada Allah dalam Sang Putera berkat kekuatan Roh-Nya.[1] Gereja menerima banyak karunia. Karunia hendaknya lebih diakai untuk membangun Gereja. Dalam hal ini banyak karunia yang berbeda-beda harus dipahami secara baik dan lebih dewasa dalam menghadapi berbagai perbedaan cara pandang dan cara merumuskan, mengungkapkan serta mewujudkan iman. Keberagaman itu harus diterima tanpa kehilangan kesatuan. Rasa saling menghargai dan saling menghormati serta saling menerima merupakan sikap yang sangat dibutuhkan dalam menghadpi setiap perbedaan. Maka dengan demikian Gereja dapat menjadi pewarta Kabar Gembira secara meyakinkan.

Pembaruan Gereja dalam Roh. Roh Kudus senantiasa bekerja dan berkarya atas karya ciptaan Allah. Dengan berbagai cara yang tidak diketahui dan tidak diduga ataupun ditebak, Allah senantiasa membarui umat dan ciptaa-Nya. Dalam Sejarah keselamatan, banyak orang seperti para Nabi dan utusan Tuhan, para pendiri tarekat hidup bakti maupun tokoh modern seperti Ibu Theresa dari Calcutta diterima sebagai wujud nyata kehadiran dan karya Roh didunia yang mau membarui iman umat.[2] Roh Allah senantiasa membimbing dan membarui gereja melalui orang-orang yang berkenan kepada Allah. Allah tidak dapat tinggal diam, namun Ia terus bekerja. Dalam mereka itu, umat percaya bahwa Allah menghembuskan nafas hidup baru dalam ‘lembah kedukaan’ menyongsong ‘langit dan bumi yang baru’.[3]

Dari lain sudut pandang kita belajar juga dari sejarah umat beriman, bahwa Tuhan membimbing dengan cara yang beraneka, Tuhan membangkitkan pembaruan-pembaruan yang beraneka warna serta menolong kita menagkap bisikan Roh-Nya seturut kekayaan belaskasihan-Nya. Pembaruan selalu membawa dampak-dampak yang tidak selalu dapat diterima oleh kalangan banyak orang. Namun menaggapi hal ini Gereja tidak pernah putus asa, sebab Tuhan mempunyai jalan yang jauh lebih besar dari cara manusia untuk membarui Gereja-Nya. Mungkin begitulah cara Roh Kudus mau mengingatkan agar terus-menerus mencari kesempurnaan. Kesempurnaan yang hanya akan diraih dengan jalan iman. Iman bukan hanya urusan batin  melainkan merasuki seluruh diri manusia: termasuk pikiran, perasaan dan seluruh kodratya.[4] Namun iaman juga harus dapat dibuktikan antara lain yaitu dengan melihat hasil atau buah-buahnya. Maka iman menuntut adanya suatu tindakan nyata. Gereja dapat terbantu bila ada usaha terus-menerus untuk memperlihatkan betapa iman menyentuh lubuk hati manusia yang terdalam, sehingga orang terbebaskan dari penderitaan dan ikatan yang mencekik, seperti ketergantungan pada obat, ketidak jujuran, kekacauan hidup rumah tangga, iri dan cemburu berlebihan, ketidakadilan, kemiskinan, bahkan sakit fisik.

Ditengah arus besar pembaruan Gereja itu, kami melihat Pembaruan Kharismatik Katolik pertama-tama sebagai suatu cara baru menghayati keyakinan bahwa karisma dasar kita adalah iman akan Roh yang memberi kita kepercayaan kepada Bapa dalam Yesus Kristus.[5] Atas dasar itu Gereja merupakan persekutuan orang beriman, bahwa hidup manusia bukan hanya rangkaian sebab-akibat atau kumpulan kegiatan politik belaka, melainkan wujud manusiawi dari kegiatan Roh yang menggerakkan seluruh umat manusia dalam cintakasih menuju kepada persatuan kekal dengan Allah berkat ajaran Yesus Kristus. Bagi pembaruan Kharismatik Katolik, iman itu menjadi daging, dalam arti bahwa keluarga Karismatik mengalami hidup dan karya Roh dalam segala segi hidup sampai ke inti diri.[6]

Pentakosta merupakan awal hidup Gereja. Pembaruan Kharismatik Katolik secara tepat sangat menghormati pentakosta, tatkala para murid secara teraba dan terasa mengalami jamahan kasih Roh secara luar biasa. Para Murid menerimanya dengan penuh iman. Iman akan kuasa roh justru memungkinkan para murid Yesus Kristus memahami kesatuan dengan sang Penebus dalam jatuh bangunnya hidup dan ditengah pergulatan menjadi saksi Kerajaaan Allah. Dengan adanya pencurahan Roh Kudus pada pentakosta inilah gereja mulai berkembang. Roh Kudus adalah pemeran utama, sebab inilah yang telah dijanjikan oleh Kristus sendiri.

Pembaruan Kharismatik Katolik tidak berjalan tanpa dasar. Pembaruan Kharismatik Katolik mendasarkan pembaruannya pada Kitab Suci. Pembaruan Kharismatik Katolik menemukan sumber kekuatannya dalam Kitab Suci sehingga dapat mendorong umat untuk bangga menjadi pengikut Kristus sekaligus memiliki kerendahan hati karena mengakui bahwa pelaku utama dalam Pembaruan Kharismatik Katolik adalah Roh Kudus.

Beberapa penjelasan berikut ini hendak menunjukkan beberapa hal yang menjadi dasar Gerakan Kharismatik. Gerakan Kharismatik dalam hal ini dapat ditinjau dari beberapa hal, antara lain yaitu:

1.     Karismatik ditinjau dari Kitab Suci Perjanjian Baru

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru nama Karismatik  di ambil dari peristiwa Pentekosta yaitu  Kisah Para Rasul 2:1-13. Pengalaman Pentakosta merupakan langkah awal Gereja perdana yang berusaha mencoba memahami tentang bagaimana peran Roh Kudus dalam kehidupan mereka. Peran Roh Kudus pada Gereja Awali sangat luar biasa, dimana para rasul diberikan kekuatan untuk menerima tugas baru dalam karya pewartaan kebangkitan Kristus dan sekaligus menjadi saksi mata  kebangkitan Kristus. Oleh karena itu, awal munculnya nama Karismatik berasal dari pengalaman Gereja Awali yaitu para rasul dalam peristiwa Pentakosta. Istilah awal  karismatik yaitu Pentakosta Katolik.  Nama ini mengandung dua makna/pengertian. Makna pertama merujuk pada pengertian Biblis. Mengapa demikian? Karena peristiwa pentekosta merupakan peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul untuk menerima tugas baru dalam karya pewartaan kebangkitan Kristus dan sekaligus menjadi saksi-saksi kebangkitan. Makna kedua merujuk pada “gerakan” gerakan disini mau menunjukkan kepada  suatu tahap perkembangan dari Pentakostalisme.[7] Makna kedua ini mau menunjukkan kepada perkembangan Pentakostalisme yang sangat pesat. Dalam perjalanan waktu, istilah Pentakosta Katolik mengalami pembaharuan. Meskipun mengalami pembaharuan, namun pengalaman  Gereja Awali  yang berpusat pada peristiwa Pentakosta merupakan titik berpijaknya Karismatik sampai saat ini.

2.     Pengertian karismatik menurut gereja dewasa ini

Karismatik merupakan salah satu gerakan persekutuan doa yang ada, tumbuh dan berkembang dalam Gereja Katolik. Gerakan ini berkaitan dengan pengalaman karya Roh Kudus dan praktik  karunia-karunia Roh.[8] Karunia-karunia Roh yang di maksudkan disini bukan dalam arti yang luar biasa seperti yang dialami oleh Para Rasul, para Kudus dan para Mistik, melainkan  karunia-karunia  Roh  untuk  mengabdi kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Karunia-karunia yang kedua ini, dipandang sebagai karunia yang biasa  dan umum bagi semua anggota Gereja.[9]

3.     Pengertian tentang pembaharuan Karismatik

Pembaharuan Karismatik diartikan sebagai anugerah Allah yang amat besar untuk gereja dalam jaman ini, dimana tantangan yang dihadapi gereja begitu besarnya, sehingga hanya dengan kuasa Roh Kudus saja kita akan dapat menghadapinya.[10] Disini dapat dilihat, makna pembaharuan karismatik yaitu sebagai anugerah Allah buat  Gereja-Nya, agar Gereja-Nya sadar bahwa seluruh karyanya berasal dari Allah dan berpusat pada Allah, dan bukan hanya pada usaha manusia. Dalam rangka menghidupi Gereja-Nya, Gereja dituntut untuk hidup didalam Roh. Kesadaran akan hidup didalam Roh merupakan suatu kesadaran diri untuk hidup berada dalam tanda kehadiran-Nya. Kuasa Roh Kudus bukan hanya kepada Karismatik saja atau kepada orang-orag tertentu saja, melainkan kepada semua umat Allah yang percaya pada Kristus. Roh Kudus diperuntukkan bagi seluruh Gereja. Kehadiran Roh Kudus menyadarkan bahwa seluruh hidup harus mengarah kepada Allah. Bukti dari kehadiran Allah, yaitu bahwa “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya” (Flp 2:13).[11] Kehadiran Allah disini hendak menunjukkan bahwa setiap usaha manusia tidak terlepas dari Allah, termasuk hidup didalam Roh. Hidup didalam roh adalah hidup yang seturut dengan kehendak Allah. Dengan demikian, inti dari pengertian pembaharuan karismatik yaitu cara berpikir, cara kerja dan cara hidup orang-orang Kristen.[12] Itulah pengertian pembaharuan karismatik.

4.     Awal Pembaharuan Karismatik Katolik

Dasar dari gerakan ini adalah peristiwa pentakosta di mana para rasul Yesus menerima karunia pencurahan dari Roh Kudus. Awal dari gerakan ini ialah bersama pentakosta Katolik, lalu dalam perjalanan waktu  namanya berubah menjadi karismatik katolik atau yang secara lengkap disebut ” gerakan pembaharuan karismatik.”

Awal Pembaharuan Karismatik Katolik merujuk pada peristiwa khusus yakni akhir pekan di Duquesne yaitu semacam retret akhir pekan yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa beserta beberapa dosen dari Universitas Duquesne di Pittsburgh, Amerika Serikat, pada tanggal 16-18 Februari 1967. Sebelumnya beberapa orang kebetulan berkenalan dengan gerakan Karismatik yang telah tersebar di lingkungan Episkopalan.[13]

Gerakan Karismatik sendiri sebenarnya telah terjadi pada awal mula Gereja Perdana, yaitu pada saat peristiwa pentakosta. Pada saat itu semua Rasul Kristus  berkumpul pada satu ruangan. Mereka menunggu harapan akan turunnya Roh Kudus. Pada saat Roh Kudus mencurahkan Rohnya keatas mereka, maka pada saat itu mereka semua berbicara dengan bahasa yang sama sekali baru bagi mereka sendiri. Gerakan Roh Kudus inilah yang memberi semangat kepada para murid untuk mewartakan kabar Gembira yaitu tentang kebangkitan Kristus. Sebaliknya semangat karismatik yang terjadi di Duquesne akhirnya berkembang hingga keluar wilayah dan meluas hingga ke Negara-negara lain.

Proses awal dan perkembangan Pembaharuan Karismatik Katolik adalah suatu pengalaman penting yang dialami oleh banyak orang yaitu adanya pengalaman baptisan dalam Roh Kudus dan tidak jarang pula pengalaman itu disertai dengan sebuah keyakinan baru akan adanya karunia-karunia Roh Kudus. Doa Paus Yohanes Paulus XXIII mohon rahmat Roh Kudus bagi terselenggaranya Konsili Vatikan ternyata langsung dijawab dengan lahirnya Pembaharuan Karismatik Katolik dua tahu setelah konsili tersebut.[14]

PEMBARUAN KHARISMATIK KATOLIK DI INDONESIA

1.     Sejarah Singkat Pembaruan Kharismatik Katolik di Indonesia

Pada umumnya tahun 1976 diangap sebagai titik awal ketika Kharismatik Katolik secara resmi mulai di Indonesia.[15] Pembaruan Kharismatik Katolik di Indonesia dimulai didua tempat pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu di Malang pada tahun 1975 dan di Jakarta pada tahun 1976. Di Malang Pembaruan Kharismatik Katolik dimulai oleh Rm. Mollink O.Carm bersama dengan Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm. pada awalnya mereka memulai suatu persekutuan doa yang dihadiri oleh 12 orang dan bertahan setahun hingga akhirnya berkembang pesat. Kemudian dari Malang meluas ke Surabaya dan ke tempat-tempat lain.

Pembaruan Kharismatik Katolik di Indonesia dimulai Di Jakarta. Sr. Bernadette, RGS sudah memperkenalkan persekutuan doa Karismatik di Susteran Gembala Baik Jakarta. Kegiatan tersebut dihentikan sesuai dengan permintaan Mgr Leo Soekoto, SJ. Perkembangan di Lembang dan Bandung tidak bisa dipisahkan dari peran Sr. Yohana, OCD. Sebagai pemimpin biara kontemplatif Karmel di Lembang, ia memperkenalkan cara-cara berdoa yang baru. Ia dibimbing oleh Pendeta Hoekendyk. Namun dalam proses perjalanannya muncul banyak persoalan. Prior jendral OCD datang dari Roma dan memberi dua pilihan: tetap tinggal pada jalur Spiritualitas Karmel atau pergi. Akhirnya Sr. Yohana memilih untuk meninggalkan biaranya dan pergi ke Amerika Serikat bersama beberapa suster lain. Sebelum kepergiannya , Sr, Yohana telah berinisiatif untuk mengundang Rm. Paul O’Brien, SJ ( Superior Jenderral SJ dari Thailan, Bangkok) dan Rm. Herbert Schneider, SJ (dosen Kitab Suci di Loyola School of Theology, Manila). Setelah Sr. Yohana pergi, inisiatif tersebut diambil alih  Mgr. Leo Soekoto dan meminta kepada kedua imam tersebut agar secara resmi memperkenalkan gerakan ini di Indonesia.[16]

Sejak tahun 1980-an Pembaruan Kharismatik Katolik terus meluas keseluruh Indonesia dengan begitu pesat, sehingga dalam tahun  1981 diadakan Konvensi Nasional I di Jakarta yang diikuti oleh kurang lebih 200 orang peserta yang hampir semuanya datang dari Jawa. Pada tahun 1983 diadakan Konvensi Nasional II di Malang dan pesertanya jauh lebih banyak, yaitu sekitar 450 orang dan sudah cukup banyak wakil-wakil dari luar Jawa. Pada waktu itu juga dibentuklah Badan Pelayanan Nasional yang masih tetap berfungsi sampai sekarang. Pada tahun 1985 Konvensi Nasional III diadakan di Salatiga, Jawa Tengah, dengan peserta lebih dari 700 orang.

Pembaruan Kharismatik Katolik sekarang telah tersebar di seluruh Indonesia, sehingga hampir semua keuskupan  sudah mempunyai persekutuan doa kharismatik. Kehadiran Pembaruan Kharismatik Katolik di berbagai keuskupan mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda. Ada keuskupan yang terbuka, tetapi ada juga yang tertutup, bahkan hingga sekarang. Tahun 1983, KWI mengeluarkan sebuah pedoman pastoral untuk Pembaruan Kharismatik Katolik. Konverensi para uskup Indonesia mengakui bahwa Pembaruan Kharismatik Katolik benar-benar dari Roh Kudus, namun sekaligus juga menghimbau, agar supaya dijaga jangan sampai ada penyelewengan dan penyimpangan. Di antara Para Uskup ada yang sungguh-sungguh mendukung dan ada yang secara aktif terlibat didalamnya, namun ada juga yang hanya mengizinkan dan ada pula yang rupanya masih ragu-ragu, bahkan melarang Pembaruan Kharismatik Katolik didalam keuskupannya. Pembaruan Kharismatik Katolik telah menjangkau berbagai macam lapisan masyarakat dan dari segala suku.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa ada aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dari pihak Gereja, yang pertama yaitu kerinduan. Kerinduan dalam hal ini ialah merupakan kerinduan untuk bertemu Allah dan membagikannya kepada sesama. Kerinduan merupakan satu hal yang amat penting dalam beriman, namun kerinduan yang dimiliki oleh sebagian umat kadang kurang mendapat perhatian secara khusus dan dengan baik, karena juga tidak jarang perhatian yang diberikan oleh gereja disalah gunakan oleh pihak-pihan tertentu, sehingga Gereja selalu berhati-hati dalam menanggapi setiap adanya suatu gerakan yang muncul dalam lingkup Gereja. Namun kadang juga sebaliknya, tidak jarang juga kerinduan tersebut sungguh datang dari Roh Kudus yang terus bekerja dalam hati umat beriman sehingga meskipun mendapat berbagai halangan, gerakan ini masih terus ada dan mencoba menghasilkan buah. Atau lebih tepat harus dikatakan bahwa Roh Allah sendiri telah bekerja terlebih dahulu dengan menumbuhkan dalam diri mereka kesadaran akan adanya sesuatu yang kurang dan kerinduan untuk mengalami Roh Allah itu sendiri secara nyata dalam hidup mereka.[17]dengan kata lain kharismatik merupakan suatu bentuk kerinduan dalam tubuh Gereja untuksemakin menjadi satu dengan Allah penciptannya. Setelah aspek kerinduan akan kesatuan dengan Allah, maka aspek berikutnya ialah “berbagi cerita” (sharing). Berbagi merupakan salah satu hal yang penting. Mengapa demikian? Kekayaan rohani merupakan suatu hal dapat semakin bertambah bila dibagikan dan akan menjadi rugi bila tidak dibagikan. Dengan saling berbagi maka akan saling memperkaya. Pengetahuan dan pengalaman akan mendatangkan buah yang jauh lebih besar ketika semua itu dibagikan.

Gerakan pembaruan Kharismatik Katolik merupakan gerakan kebangkitan dikalangan awam Katolik. Pada tahap awal gerakan ini muncul masih kurang mendapat perhatian dari pihak Gereja. Peran hierarki dan para gembala tidak terlalu tampak pada tahap awal, dengan kata lain Roh Allah sendiri yang telah menggerakkan secara langsung para awam untuk mencari dan akhirnya mengalami sendiri sesuatu yang baru yang membantu untuk semakin lebih total dalam pengabdian  Gereja. Perkembangan tahap awal memperlihatkan bahwa betapa pentingnya peran para gembala, uskup dan imam untuk terus memberi kesempatan bagi gerakan Pembaruan Kharismatik Katolik untuk mencoba hal baru.

2.     Persoalan Seputar Karismatik

Persoalan yang dapat kita telusuri dalam peristiwa timbulnya gerakan karismatik ialah banyak orang yang pada salah satu titik dalam hidup  ialah mereka pernah mendapat pengalaman yang begitu mengejutkan. Pengalaman itu bisa berupa pengalaman akan kebesaran cinta kasih Tuhan yang mengubah hidup mereka dari hidup yang biasanya. Dengan situasi pengalaman akan kasih Tuhan ini manusia semakin yakin akan Kasih Tuhan di dunia hidup manusia. Maka oleh dorongan semangat seperti itu manusia mencari cara untuk semakin memuji dan meluhurkan Tuhan dalam hidup mereka dengan cara yang luar biasa bagi mereka. Pengalaman yang begitu indah akan kasih Tuhan misalnya ialah karena berkat doanya pada akhirnya bisa mengubah hidup mereka serta setiap doa dan permohonan mereka selalu terjawab. Dengan situasi seperti inilah yang juga memicu adanya keinginan untuk berterima kasih pada Tuhan dengan hati dan gelora yang tinggi yaitu dengan puji-pujian kepada Tuhan dengan cara yang luar biasa. Dalam kehidupan di jaman modern sekarang begitu banyak hal yang harus diketahui seputar gerakan karismatik. Manusia semakin berpengetahuan dan semakin memahami akan kehadiran Tuhan sendiri melalui cara yang berbeda, dan persoalan hidup lainnya yang semakin rumit sehingga tindakan dalam mengekpresikan imannya lebih cenderung dengan tindakan yang lebih bersemangat dan gelora yang menggebu-gebu dalam diri setiap orang. Selain itu karena kejenuhan akan cara dan tindakan yang monoton dalam tindakan memuji Tuhan, maka tidak mengherankan orang-orang banyak mencari cara yang baru dan lebih bersemangat. Tentu hal ini juga dikarenakan pula orang tersebut memiliki semangat hidup rohani yang mengebu-gebu. Dan biasanya tindakan tersebut dikarenakan mereka mengalami hasrat atau keinginan untuk bedoa secara tiba-tiba menjadi sangat kuat dan tidak terbendung lagi. Dorongan semacam inilah yang memungkinkan timbulnya gerakan atau kegiatan karismatik tersebut.

Ada kemungkinan lain, yaitu “Mereka tiba-tiba memiliki rasa cinta yang luar biasa akan Kitab Suci, bahwa mereka memiliki kehausan untuk lebih mengenal Sabda Tuhan, dan untuk menggali kekuatan dari Kitab Suci. Mereka memiliki semangat luar biasa untuk bersaksi, untuk mewartakan cinta kasih Tuhan.”[18]  Adanya kerinduan umat manusia yang begitu mendalam untuk menerima pengalaman Pentakosta yang baru di jaman modern ini. Pada jaman modern ini orang lebih suka mencari sensasi-sensasi yang baru, maka tidak menutupi kemungkinan pula setiap orang akan mencari pemuasan dalam tindakan memuji Allah. Hal ini karena mereka ingin mengungkapkan rasa cinta mereka pada sang kasih yaitu Tuhan Yesus sendiri, maka dengan berbagai daya upaya dilakukan agar semakin mampu mewujudnyatakan kasih Tuhan itu melalui tindakan doa yang dilakukan dengan gaya dan cara yang unik, menarik, dan luar biasa.

Dalam percakapan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat umum seringkali ada ungkapan bahwa seseorang itu memiliki karisma atau bakat tertentu. Maka karena karisma yang dia miliki itu, ia menjadi sosok yang unik dan menarik yang bisa memikat perhatian orang banyak. Bahkan tidak hanya sebatas menarik, tetapi lebih dalam lagi menarik banyak orang untuk menjadi pengikutnya, bukan hanya menarik menjadi pengikutnya saja tetapi lebih jauh lagi ialah bisa mempengaruhi cara berpikir orang lain secara kuat, contohnya dapat diperhatikan melalui kisah berikut ini.

“Sepanjang hari sabtu itu seluruh kelompok bertemu untuk pendalaman bahan dan berdoa. Sabtu malam akan disediakan untuk sedikit relaksasi. Sebenarnya direncanakan untuk membuat sebuah pesta ulang tahun istimewa untuk satu dari para imam yang hadir dalam retret itu. Sebagaimana dikisahkan oleh seorang mahasiswi: “kami sudah lelah berdoa, dan kami tidak akan menghabiskan malam itu untuk berdoa juga.”

Paul Grey dan Maryanne Springle yang ketika itu sudah bertunangan telah mendengar tentang “Baptisan dalam Roh Kudus” dan mereka berdua mendambakannya. Maka mereka mendekati Ralph Keifer dan meminta kepadanya untuk mendoakan mereka supaya Roh Kudus bisa menjadi aktif sepenuhnya dalam hidup mereka. Diam-diam mereka pergi ke lantai atas, terpisah dari kelompok, dan di sana, mereka dijamah secara mendalam oleh Roh Kristus. Roh itu segera memperlihatkan diri dalam rupa karunia bahasa Roh yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan itu untuk memuji Allah. Setelah beberapa saat mereka memutuskan untuk kembali ke kelompok di lantai bawah, tanpa menceritakan apa yang telah terjadi atas mereka. Mereka tidak tahu bahwa pada waktu yang sama, salah satu mahasiswi Duquesne, Patti Galagher, telah merasa tergerak untuk pergi ke kapel, dan di sana ia merasakan secara kuat kehadiran Roh Kristus. Dalam ketakjubannya, ia meninggalkan kapel dan segera mendesak yang lain yang berada di gedung itu untuk bergabung dengannya di sana. Satu demi satu mereka menuju ke kapel. Dan ketika mereka sedang berkumpul di sana dalam doa, Roh Kudus mencurahkan diri-Nya atas mereka.

Tidak ada paksaan, tidak ada petunjuk-petunjuk tentang apa yang harus dilakukan. Masing-masing dari mereka begitu saja berjumpa dengan pribadi Roh Kudus sebagaimana telah dialami orang-orang lain beberapa minggu sebelumnya. Ada yang memuji Allah dalam bahas-bahasa baru, ada yang secara tenang menangis karena sukacita, ada yang berdoa dan bernyanyi. Mereka berdoa sejak jam sepuluh malam sampai jam lima pagi berikutnya. Tidak semua orang dijamah seketika itu juga, tetapi sepanjang malam itu Allah mendekati tiap orang di sana secara menakjubkan.”[19]

Dalam kalangan umat biasa, secara khusus di daerah Kalimantan Barat sudah mengenal adanya gerakan atau kegiatan doa bersifat karismatik. Umat begitu antusias menyambut adanya kegiatan doa karismatik. Hal yang membuat mereka antusias dan tertarik ialah, dalam kegiatan doa disertai pula sharing berbagi pengalaman orang yang mengalami kasih Tuhan yaitu yang dulunya tidak percaya akan rahmat Tuhan kini telah menjadi percaya. Misalkan salah satu dari beberapa diantaranya ialah ada seorang bapak, yang dulunya beragama Islam kemudian pindah agama menjadi Katolik dan percaya pada rahmat Tuhan dan terkadang bapak tersebut memiliki karunia untuk menyembuhkan penyakit. Oleh karena melalui mendengar sharing tersebut umat Katolik banyak yang tertarik dengan kegiatan doa karismatik dan sangat cocok dengan nuansa hati mereka. Tidak jarang juga ada yang berambisi untuk memiliki karunia juga melalui doa tersebut. Apa lagi kegiatan doa karismatik itu membangkitkan sensasi bagi umat, di mana doa dengan disertai puji-pujian dan gerakan-gerakan yang begitu menghentak hati mereka dan dianggap hal baru bagi umat maka mereka kebanyakan menyukainnya. Apa lagi anak-anak muda, mereka bersemangat dan semakin menggemarinya karena nuansannya sangat cocok untuk mereka. Akan tetapi berkaitan dengan hal ini dijawa timur kususnya dikota Jember. Ada seorang anak yang pindah agama dari muslim ke Katolik karena mengikuti agama dari ayah angkatnya, namun setelah ayah angkatnya tersebut mulai mengikuti suatu kelompok doa karismatik dan doa tersebut diadakan dirumahnya, anak yang sudah menjadi beranjak dewasa ini mulai bimbang akan imannya sebagai seorang Katolik. Karena kebimbangannya ini akhirnya ia berbalik kembali untuk menganut agama Islam (syaring dari pastor paroki Jember).

Di kota Ketapang sendiri mulai adanya gerakan doa karismatik itu dimulai oleh kelompok para ibu-ibu yang berperan aktif dalam kegiatan doa di paroki. Para ibu-ibu tersebut mulai memperkenalkannya dalam kelompok besar mereka, kemudian lama-kelamaan pada akhirnya ada juga beberapa pastor yang tertarik dengan metode doa karismatik tersebut. Hingga sekarang malahan ada seorang pastor yang aktif bersama kelompok ibu-ibu tersebut mengembangkan kegiatan doa karismatik dengan pergi ke tempat-tempat lain mengadakan persekutuan doa tersebut. Tanpa seorang pastor kegiatan doa karismatik juga dapat berlansung, ini pulalah salah satu yang membuat umat semakin menyukainya, sebab dalam kegiatan doa tersebut umat secara bebas mengekspresikan doa dari dalam hati mereka untuk dieksplorasikan.

Disisi lain adanya persekutuan doa tersebut karena adanya karya Tuhan yaitu kesembuhan setelah di doakan, itulah yang semakin memicu umat untuk semakin meyakini dan menghidupkan kegiatan doa karismatik. Sering pengalaman dari beberapa umat juga, ternyata mereka merindukan hal semacam itu, dan mereka sendiri merasa menyesal dan kecewa jika tidak ikut kegiatan doa tersebut. Kegiatan doa karismatik ini pula terjadi karena adanya ketakutan dari pihak katolik. Ketakutan tersebut ialah karena dalam Agama Protestan sekarang banyak kegiatan doa yang begitu menarik umat untuk pindah ikut agama protestan. Orang-orang protestan begitu bersemangat pula, dan bahkan sudah masuk dan menjelajahi ke daerah-daerah pedalaman kota Ketapang. Maka upaya yang memungkinkan umat agar tidak mudah pindah agama, ialah dengan mengadakan kegiatan doa yang baru dan mendukung umat yaitu doa karismatik.

Hal menarik yang lain dari doa karismatik ialah dalam doa tersebut tidak menuntut banyak ritusnya, melainkan mudah dan sederhana dan mengena di hati umat. Kecenderungan umat sekarang ingin dan lebih suka kegiatan doa yang sederhana dan menarik saja, maka tidak salah jika doa karismatik semakin berkembang dan semakin diminati umat. Ada sharing pengalaman dari umat yang pernah ikut persekutuan doa karismatik. Pengalamannya ialah ketika mereka ikut terlibat secara penuh dalam persekutuan doa karismatik itu bisa menjawabi kebutuhan iman mereka. Selain menjawabi kebutuhan iman mereka, mereka juga merasa puas dan bangga jika bisa ikut bergabung dalam kegiatan persekutuan doa karismatik tersebut. Bahkan keikutsertaan dalam kegiatan doa tersebut menjadi sebuah kebanggan tersendiri, apalagi jika sudah pernah melakukan penyembuhan dan sudah pernah mendapat rahmat dari Tuhan, serasa semuanya ada dalam diri mereka sendiri dan merasa bahwa mereka yang terhebat dalam berdoa.

Namun ada tindakan ingin memperkenalkan kehebatan doa kelompok tersebut “ingin pamer” bahwa doa mereka selalu didengar oleh Tuhan. Hal inilah yang seharusnya dihindari, terutama dalam doa karismatik itu menyertakan pula bahasa baru, yaitu kita kenal dengan sebutan bahasa roh. Ternyata hal ini juga menjadi hal yang menarik bagi orang lain, sehingga menggoda untuk ikut dan mempelajarinya. Bahasa roh ternyata bukan hanya menarik, tetapi bisa memberikan sensasi tersendiri bagi orang yang bisa melakukannya. Setelah orang sudah banyak yang fasih berbahsa roh mulailah mereka untuk meneruskan misi ketempat lain untuk memperkenalkan dan berusaha untuk menerapkannya kepada orang lain. Bahasa roh pula dipahami sebagai sesuatu rahmat yang istimewa dari Tuhan sendiri kepada orang yang mendapatkannya, maka itu timbul berbagai motivasi untuk mengembangkan bahasa tersebut dan menjadikannya sarana pewartaan kasih Tuhan kepada sesama. Tindakan selanjutnya yang mereka lakukan ialah pergi ke tempat-tempat lain untuk memberikan pengetahuan tentang doa karismatik itu sungguh hebat dan dahsyat.

KESIMPULAN

Dari penjealasan diatas dapat diambil sebagai kesimpulan pertama yaitu bahwa Pembaruan Kharismatik Katolik merupakan suatu bentuk perpanjangan dari peristiwa Pentakosta. Pembaruan Kharismatik Katolik dirasa hidup kembali pada tahun-tahun pertama setelah Konsili Vatikan II. Maka sejak saat itu gerakan ini mulai berkembang dan akhirnya meluas hingga sampai Indonesia. Munculnya gerakan ini secara tidak langsung dilatar belakangi oleh rasa kerinduan umat atau gereja untuk hidup lebih dekat dengan sang penciptanya.

Kedua, tujuan Pembaruan Kharismatik Katolik adalah menghayati hidup Kristiani secara penuh dan menghayati Injil secara utuh. Ketiga, menjadi bahan refleksi bagi gereja bahwa dengan adanya Pembaruan Kharismatik Katolik yang telah menarik banyak perhatian umat Katolik bahkan umat dari agama lain, dapatkah dari gerakan Pembaruan Kharismatik Katolik menghasilkan buah-buahnya dalam kehidupan sehari-hari, ataukah hanya untuk mengejar kesalehan semu semata dengan mengikuti gerakan Pembaruan Kharismatik Katolik ini.

Penghayatan hidup Kristiani secara penuh dan penghayatan Injil secara utuh harus berbuah dalam kehidupan sehari-hari yaitu mulai ditandai dengan adanya kepekaan dan kepedulian terhadap situasi-situasi sosial dewasa ini terlebih terhadap mereka yang miskin dan menderita serta bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan.

Daftar Pustaka

Dokumentasi dan Penerangan KWI. Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor, 2009.

Indrakusuma Yohanes O.Carm, Pembaharuan Karismatik Katolik, Jogyakarta: Kanisius, 2010.

Kirchberger  Georg dan Jhon Mansaford Prior (ed), Kekuatan ketiga Kekristenan, Maumere: Ledalero, 2007.

Dokumentasi dan Penerangan KWI. Aneka Karunia, Satu Roh, Jakarta: Obor, 1993.

Ramadhani Deshi, SJ, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik?, Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Sugino P. SCJ, Penilaian terhadap Pembaharuan Karismatik Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 1982.


[1] KWI, Aneka Karunia, Satu Roh. Jakarta: OBOR, 1993, hlm. 8

[2] Dokumen Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Consilium, art. 1.

[3] KWI, Op. cit,. hlm. 10

[4] Ibid., hlm 12

[5] Ibid., hlm 12

[6] Ibid., hlm 12

[7] Deshi Ramadhani, SJ, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik?. Yogyakarta: Kanisius, 2008,

hlm 33.

[8] Bdk. Georg kirchberger dan Jhon mansaford prior (ed,), Kekuatan ketiga Kekristenan, Maumere: ledalero, 2007. Hlm. 6.

[9] Deshi Ramadhani, SJ, Op Cit, hlm189

[10] Yohanes Indrakusuma O.Carm, Pembaharuan Karismatik Katolik, Jogyakarta: Kanisius, 2010, hlm. 40.

[11] Ibid. hlm. 40.

[12] Ibid. hlm. 40.

[13] P. Sugino SCJ, Penilaian terhadap Pembaharuan Karismatik Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 1982, hlm. 14.

[14] Deshi Ramadhani, SJ, Op. cit. hlm. 61.

[15] Ibid, hlm. 65

[16] Ibid, hlm 67

[17] Ibid, hlm 69.

[18]  Ibid, hlm.32.

[19]  Ibid, hlm.54.

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s