HAKEKAT CINTA: Sebuah Tinjauan Filosofis

 Pengantar

Mungkin selama ini bahkan hingga saat ini, kita telah pernah dan mungkin sedang mengalami sesuatu yang cukup “indah dan menyenangkan” dalam hidup kita. Tentu perasaan senang itu dapat diakibatkan oleh berbagai macam sebab. Tetapi dalam hal ini, baiklah saya mencoba memfokuskan permasalahan sumber kesenangan ini yang disebabkan oleh karena kehadiran seseorang dalam hidup kita, entah itu pacar, suami atau istri, teman, sahabat, bahkan orang tua kita sendiri, dengan maksud untuk mempermudah mengerti dan membahas persoalan tentang hakekat cinta yang sebenarnya.

Ketika pertama kali kita mengalami sesuatu yang berbeda dalam hidup kita, tidak jarang membuat kita menjadi merasa ‘aneh’ dengan diri kita sendiri. Kita mungkin menjadi gelisah, cemas, takut, bingung, bimbang atau mengalami kebahagiaan yang luar biasa, senang, sehingga membuat hati kita berbunga-bunga, bernyanyi sendiri di kamar mandi atau di mana saja, ingin menari, tersenyum sendiri di depan cermin, dan lain sebagainya.

Akan tetapi tak jarang juga orang menjadi pesimis dan tertutup dengan apa yang dialami, bertanya dengan tentang apa yang dialaminya; apakah yang aku alami sekarang ini, mengapa aku menjadi seperti ini, apakah aku sudah gila, tapi aku koq malah merasa senang, bahagia, apalagi bila bertemu dengannya, mendengar sapaan suaranya lewat telpon di pagi hari atau malam sebelum tidur. Apakah aku sedang jatuh cinta kepadanya?. Mengapa menjadi seperti ini? Apakah cinta itu memang seperti ini? Apa sih cinta itu?

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan bertanya demikian, ketika kita mengalami hal yang demikian, bahkan tidak hanya pada saat mengalami cinta yang demikian, melainkan hingga seumur hidup kita, kita masih tetap bertanya dan bertanya tentang arti cinta itu sendiri.

Pengertian.

Cinta merupakan salah satu bagian dari persoalan dalam etika kehidupan manusia. Karena itu, terminologi cinta dalam terminologi etika menunjuk pada philia (friendship), philein (love), philos (friend). Philia bukanlah hanya sekedar persahabatan (frienship) melainkan mencakup kasih di antara anggota keluarga, atau kasih sebagai anggota keluarga, juga mencakup aktivitas yang saling menguntungkan/saling memberi keleluasaan untuk berkembang/saling menumbuhkan di antara masing-masing partner, mencakup sharing keutamaan, atau cinta itu adalah keutamaan itu sendiri. Philia juga meminta semacam feeling, perasaan keterlibatan satu sama lain bukan hanya sekedar masing-masing memiliki niat baik atau kehendak untuk saling menguntungkan.

Aristoteles membedakan philia dalam tiga tingkatan yang berbeda yaitu: the good, the useful, dan the pleaseant. Level cinta dengan obyek the good, merupakan taraf yang paling tinggi, menyusul di bawahnya adalah kegunaan (useful), dan yang paling rendah adalah apabila obyek cinta disempitkan pada apa-apa yang menyenangkan (pleaseant), atau memberikan kenikmatan (fisik).

Cinta yang benar ialah cinta kebaikan. Artinya, apabila ada dua orang atau lebih saling mencintai, itu maksudnya bahwa mereka adalah orang-orang yang menghendaki kebaikan bagi satu dan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang saling menumbuhkan dalam kebaikan. Dan, akhirnya, karena cinta mereka semua menjadi orang-orang yang baik semuanya, atau orang-orang yang menuju kepada kebaikan.

Karakter Cinta

Jadi dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa cinta itu memiliki karakter subyektif, dan tidak pernah obyektif. Adanya cinta menjadi sebuah kemungkinan plenitudo bagi manusia. Artinya bahwa cinta itu menjadi sebuah kemungkinan, sekaligus sebuah kepenuhan bagi manusia. Karena cinta itu adalah sebuah kemungkinan, dan sekalgus kepenuhan, maka cinta itu tidak pernah tuntas. Artinya bahwa cinta itu tidak pernah ditunjukkan sebagai sesuatu yang jadi.

Cinta itu sebuah posibilitas menjadi pribadi yang berbeda. Cinta juga bukan sebuah aktivitas tunggal. Barangsiapa mencintai, ia tidak pernah berpikir tunggal. Orang yang mencintai ialah orang yang paling kreatif di dunia. Cinta itu juga memiliki karakter transenden. Artinya mengatasi, melampaui, yakni melampaui keterbatasannya (melampaui kesehariannya). Konsekwensi dari pernyataan ini ialah bahwa cinta itu tidak hanya begitu-begitu saja seperti yang dialami setiap hari, sebab bila hanya demikian, maka itu bukanlah cinta.

Cinta: sebuah kebebasan dan keindahan

Sering kali juga kita mendengar bahwa cinta itu buta, cinta itu gila, cinta itu ngawur. Tidak. Akan tetapi, cinta itu memiliki paradigma moral. Dimana letak moralitasnya? Yakni bahwa cinta yang sesungguhnya ialah cinta yang berasal dari kebebasan. Cinta harus berangkat dari sebuah kebebasan. Apa artinya kebebasan? Artinya ialah tidak terikat pada yang lain, juga menunjukkan disposisi pemberian diri hanya untuk yang dicintai. Dengan kata lain, cinta itu memiliki fokus. Jika tidak memiliki fokus, maka tidak akan pernah mampu mengatakan ‘aku cinta padamu’.

Cinta juga merupakan esensi keindahan kehadiran pada cinta, sebab keindahan manusia itu tidak dihadirkan pada hanya sebatas wajah, penampilan fisik, cara tersenyum, dan lain sebagainya. Keindahan manusia hadir dalam dan lewat cinta itu sendiri. Dengan demikian, cinta itu bukan hanya sekedar perasaan belaka, melainkan benar-benar dirasakan lewat kehadiran. Kehadiran cinta itu dirasakan. Karena kehadiran cinta itu begitu terasa, maka akhirnya orang yang mampu mengalami demikian akan sampai pada titik tertentu di mana cinta itu tidak lagi perlu diucapkan lewat kata-kata belaka, melainkan dengan diam namun hadir bagi mereka yang dicintainya.

Penutup

Cinta itu hadir sekaligus bahwa kehadirannya begitu terasa. Cinta bukan hanya sekedar perasaan dan juga tidak berdiam diri begitu saja atau selalu bersikap memaafkan diri; misalnya dengan mengatakan “aku memang seperti ini atau seperti itu”, maka orang yang mencintainya dipaksa untuk memaklumi atau menerimanya sikap yang demikian karena takut hubungan mereka akan berakhir. Namun sesungguhnya hal ini bukanlah cinta.

Cinta yang sejati dan benar ialah cinta itu tidak pernah tinggal sama dari hari ke hari dan selalu diiringi dengan perubahan yang lebih mendalam dalam hidupnya. Karena itu, mari kita menjadikan hidup ini menjadi sebuah keindahan, bukan dengan ornamen yang mewah, hiasan atau prestasi, melainkan hidup yang menghasilkan cinta.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s