BARUCH [BENEDICTUS] D’ESPIÑOZA

(¤ AMSTERDAM, 24-11-1632 – † AJAX, 21-2-1677)

Permenungan filosofis Spinoza berhubungan erat dengan pencaharian makna hidup sejati. Kebalikan dari Cartesius yang mencari kebenaran ilmiah, Spinoza berupaya menemukan kebenaran yang dapat memberikan kesempurnaan dan kepenuhan hidup manusia. Spinoza mencari kebahagiaan sejati (eudaimonia). Bila permenungan filosofis Cartesian berciri gnoseologis-epistemologis, maka refleksi Spinozian berciri etis-moral. Diskursus metodologis Spinozian (Tractatus de intellectus emendatione) merupakan suatu pencaharian disiplin baru bagi hidup dan eksistensi manusia, suatu proses katarsis dari kebahagiaan yang tampak nyata dan pasti seperti kesenangan badaniah, karir yang mapan, gelimang harta dan berbagai macam privilegi ke suatu tatanan yang mengambang. Mungkinkah ada kebenaran yang sejati dan kebahagiaan abadi, sehingga manusia merasa bahwa dirinya utuh dan sempurna?

Berkaitan dengan kesenangan inderawi, Spinoza mengatakan demikian. “Kesenangan inderawi, misalnya menyentuh jiwa secara demikian, ditempatkan sebagai suatu kebaikan, menghalanginya berpikir tentang yang lainnya; tetapi sesudah penikmatan timbul kesedihan yang besar, sehingga nalar terganggu dan kacau, karena ikut terkena”.

Mengenai kekayaan, Spinoza memberi catatan kritis yang pantas diperhatikan. Mana kala dikejar sebagai kebaikan tertinggi, kekayaan menghisap habis manusia, menyerap semua aksinya dan menggiringnya pada kepemilikan kekayaan. Semakin banyak kekayaan diperoleh, semakin besar keinginan untuk menambahnya, sehingga timbul ambisi untuk melipatgandakannya tanpa henti. Namun demikian, ambisi mengejar kekayaan berujung pada kegagalan; manusia diliputi oleh kedukaan tertinggi dan terkapar tanpa daya.

Penilaian kritis diberikan pula pada soal kehormatan. Untuk mendapatkan kehormatan, yang diperoleh dari orang lain, orang harus menyelaraskan hidupnya dengan cara yang sesuai dengan selera orang lain, dengan menghindar dari yang mereka hindari dan mencari yang mereka cari secara serampangan.

“Sesungguhnya, segala sesuatu yang dikejar bukan hanya tak sejalan dengan pelestarian eksistensi kita, malah merugikan, bahkan sering mendatangkan kematian bagi yang memilikinya. Berapa yang telah mengalami penganiayaan dan mati karena kekayaannya dan untuk melipat-gandakanya berapa yang terjerumus ke dalam aneka bahaya, sehingga membayar kebodohannya dengan maut. Tak kalah banyak mereka yang mengejar kehormatan atau mempertahankannya, lalu berakhir dalam kepapaan. Akhirnya, contoh orang-orang yang mempercepat kematiannya karena nafsu buta sudah tak terbilang. Lalu, apa penyebabnya? Menurutku,  tiap kebahagiaan atau ketakbahagiaan bergantung pada hakekat obyek yang kita ingini. Bila terjadi sesuatu tidak disenangi, tiada pernah pertengkaran, kesedihan maupun kecemburuan kepada yang memilikinya, rasa takut dan benci; yang tak disukai-dicintai tiada membangkitkan apapun. Sementara sikap sebaliknya timbul karena orang menyukai dan mencintainya”.

Untuk menghindarkan diri dari kesusahan dan kedukaan yang mendalam karena suka dan cinta pada kesenangan inderawi, kekayaan dan kehormatan, maka Spinoza menganjurkan agar ketiga kesenangan tersebut jangan dijadikan sebagai tujuan in se, melainkan sebagai sarana niscaya bagi individu dalam hidupnya guna mengejar kebahagiaan sejati. “Mengejar duit, kelekatan pada kesenangan dan kemuliaan diri merupakan halangan sejauh orang mencarinya sebagai akhir dan bukan sebagai sarana untuk yang lain”.

Kebaikan tertinggi dan kebahagiaan sejati yang dicari manusia selalu mensyaratkan kebaikan dan kebahagiaan sementara sebagai jalan dan jembatan untuk sampai padanya. Jadi, kepenuhan dan kesempurnaan dari semua kebutuhan, keinginan, kemauan dan harapan manusia berpuncak pada Kebaikan dan Kebahagiaan Tertinggi. Untuk itu, a) perlu mengenal alam sejauh niscaya bagi perwujudan tujuan termaksud; b) membentuk suatu sosietas yang mampu membawa pada pencapaian tersebut bagi sebanyak mungkin orang; c) mengelaborasi suatu moral dan pedagogi yang sejalan dengan visi dan intensi termaksud; d) menguasai ilmu medis secara memadai agar sehat walafiat, sehingga memudahkan orang mengikuti arah yang dituju; e) perlu pula menguasai mekanika dan teknik untuk menghemat tenaga dan waktu dan f) membersihkan dan meluruskan nalar guna mempertajamkannya, sehingga dapat memahami kebenaran sebaik mungkin.

Semua persyaratan metodologis demikian dapat dicapai bila orang memperhatikan norma darurat berikut ini: a) hendaklah berbicara dalam bahasa rakyat, menyesuaikan diri dengan sikap dan tingkah laku mereka guna mencegah kesulitan-halangan dalam mewujudkan tujuan kita. Sikap demikian memberikan banyak keunggulan, baik membuat rakyat bersimpati kepada kita maupun terutama agar mereka mudah mendengarkan kebenaran; b) menikmati segala kesenangan sejauh berguna untuk menjaga kebugaran-kesehatan; d) mencari uang dan harta benda lainnya hanya untuk memenuhi kebutuhan dan ukuran hidup yang wajar-layak-sehat dan menyelaraskan diri dengan adat kebiasaan setempat, sehingga terhindar dari halangan dalam realisasi seluruh tujuan yang ingin diraih. Norma hidup Spinozian dapat diringkas dengan istilah hati-hati dalam bertutur dan bersikap”.

Teodisea

Metode pembuktian eksistensi Allah a là Spinoza adalah deduktif-geometris dan metode ini dibahas secara khusus pada bab Ethica ordine geometrico demonstrata dalam buku Ethica. Pola penalaran metodologis demonstratif mengikuti alur berpikir yang bertolak dari definisi, aksioma, proposisi, pembuktian dan penjelasan. Pola penalaran yang diungkapkan dalam pembuktian seturut tata geometris merupakan sebuah upaya keluar dari cara berpikir silogistis skolastik, retoris rinascimental dan metode rabinis Yahudi.

Bertitik tolak dari definisi berarti berangkat dari suatu kepastian dan keniscayaan. Dalam gagasan Spinozian, kepastian dan keniscayaan tersebut adalah realitas rasional absolut, yakni Allah sendiri. Semua dapat disimpulkan dari eksistensi Allah sebagai Substansi Absolut. Karena itu, dalam prosedur penalaran demikian, tiada ruang bagi emosi dan perasaan untuk mengambil peran dan tempat dalam pencaharian rasional. Aktivitas tunggal yang diperkenankan hanyalah berpikir dan berpikir: “nec ridere, nec lugere, neque detertari, sed intelligere”.

Allah-Substansi

Satu gagasan dasar yang dielaborasi secara mendalam dan rinci oleh Spinoza adalah konsep dan makna substansi. Apa arti substansi? Pertanyaan tersebut bersifat mendasar dan sentral dalam sistem berpikir Spinozian dan mempunyai dimensi metafisik. Bertanya tentang substansi berarti bertanya tentang ada itu sendiri.

Berbeda dari gagasan substansi Cartesian yang polivox atau analogis[1], Spinoza yakin bahwa substansi adalah univox – tunggal. Substansi tunggal tersebut adalah Allah saja. Allah adalah Ada yang untuk berada dan dipahami tanpa mensyaratkan ada yang lain. Dia adalah Ada yang harus ada dan sebab bagi dirinya sendiri (autofondamento dan causa sui). Allah-Substansi berada dan berkarya secara demikian karena keharusan kodratiNya. Karena itu, Allah-Substansi adalah bebas dalam artian harus berada dan bekerja seturut hakekatNya dan  DIA abadi dalam diriNya mengingat hakekatNya memuat secara niscaya eksistensiNya. Segala sesuatu yang ada adalah ada dalam Allah dan tanpa Dia tiada sesuatupun dapat ada maupun terpahami. Semua terjadi berkat hukum kodrati Allah semata dan mengalir dari keniscayaan hakekatNya.

Konsepsi tentang Allah sebagai Substansi tunggal membawa dalam dirinya afirmasi bahwa mustahil berpikir tentang Allah-Substansi sebagai causa sui tanpa memahamiNya sebagai Ada secara niscaya. Meskipun demikian, Allah dalam pemahaman Spinoza adalah tanpa makna personalitas atau berkehendak dan bernalar. Baginya, mengerti Allah sebagai persona sama saja dengan merendahkan Allah pada tataran ciptaan dan manusiawi. Allah tidak menciptakan apapun yang berada di luar diriNya dan sekaligus dapat saja tidak menciptakan sama sekali. Allah Spinoza adalah causa immanentis, bersatu dengan ciptaan yang mengalir dari padaNya.

Allah adalah Ada niscaya absolut. Dari diriNya mengalir secara niscaya dan abadi semua atribut dan cara beradaNya yang membentuk semesta raya. Res cogitans dan res extensa Cartesian bukanlah substansi, melainkan dua atribut substansi, sedangkan pikiran setiap orang dan hal yang berkeluasan serta semua ungkapan empirisnya merupakan modifikasi [affectiones substantiae] substansi atau modus substansi. Baik atribut maupun modus substansi dapat dipahami hanya sejauh berada dalam kesatuan dan melalui substansi belaka. Sama seperti dalil-lalil muncul secara niscaya dari bentuk-bentuk geometri, demikian pula segala sesuatu mengalir dari hakekat Allah. Perbedaan antara bentuk geometri dan Allah terletak pada kenyataan bahwa figura geometri bukanlah causa sui, sehingga asal usul geometris matematis tetap sebagai sebuah analogi yang menggambarkan sesuatu yang per se lebih tinggi dan absolut.

Dalam keniscayaan Allah, Spinoza menemukan ration d’être, prinsip utama dari segala kepastian, sumber ketenangan abadi dan damai sejati. Keniscayaan adalah solusi terakhir bagi semua persoalan dan pencaharian makna hidup.

Atribut Substansi

Substansi mengungkapkan dan menyatakan hakekatnya dalam beragam bentuk dan cara. Cara dan bentuk penyataan dan ungkapan diri substansi dinamakan atribut. Adapun atribut-atribut substansi tersebut mesti dipahami per se atau manidiri.

“Meskipun dua atribut dipahami sebagai terbedakan secara konkrit, yakni berdikari, namun tidak dapat disimpulkan bahwa keduanya merupakan dua ada atau dua substansi yang berbeda; sesungguhnya, dari hakekatnya setiap atributnya dimengerti per se; dengan demikian semua atribut yang dimiliki substansi selalu berada bersamanya, dan atribut yang satu mustahil dihasilkan oleh atribut yang lain; namun tiap atribut menyatakan realitas atau adanya substansi. Mempertalikan semua atribut pada substansi tunggal bukanlah suatu yang nirnalariah, malah yang paling jelas secara hakiki: bahwa setiap ada harus dipahami dalam suatu atribut dan mempunyai banyak atribut, penyataan keniscayaannya, yakni keabadiannya, ketakberhinggaannya, betapa luas realitas atau ada yang dipunyainya; maka tiada hal yang lebih jelas daripada ini: ada absolut yang tiada berhingga mesti didefinisikan secara niscaya sebagai ada yang terdiri atas sekian atribut; setiap atribut mengungkapkan hakekat abadi dan tak berhingga secara pasti”.

Dari sekian atribut, terdapat dua yang utama, yakni pikiran ( res cogitans) dan keluasan (res extensa). Tentu saja Spinoza beranggapan bahwa semua atribut adalah sederajad dan sama, meskipun res cogitans berbeda dari semua atribut lainnya berkat fakultas berpikir yang dimilikinya. Sebaliknya, Spinoza mengangkat dan mentransendenkan res extensa. Maksudnya, bila keluasan adalah atribut substansi (Allah) dan menyatakan hakekat ilahi, maka Allah dapat disebut extensio attributum Dei est atau Deus res extensa est. Penamaan Allah sebagai realitas berkeluasan bukan dalam pengertian badani, melainkan spasialitas. Tubuh bukanlah atribut substansi; tubuh hanya sekedar cara berhingga atribut spasialitas. Jadi dunia ditinggikan dan ditempatkan pada posisi teoretis baru; dunia tidak bertentangan dengan Allah melainkan dipertalikan dengan atribut ilahi secara struktural.

Modus Substansi

Spinoza mendefinisikan modus substansi sebagai “modifikasi [affections] substansi, yakni sesuatu yang berada dalam yang lain,  lewat mana modus tersebut terpahami”. Modus dapat dipahami hanya sejauh berada dalam kesatuan dengan substansi dan atributnya, sehingga secara eksistensial, modus merupakan determinasi atribut substansi.

Menurutnya, sama seperti atribut adalah tak-berhingga demikian pula halnya dengan modus substansi. Ungkapan ketidak-berhinggaan modus bila diterapkan pada atribut infinitus pikiran adalah misalnya, pikiran yang tanpa batas, kehendak yang tiada berhingga dan pada atribut infinitus ekstensi ternyana pada gerak dan quiete. Modus infinitus merupakan juga suatu totalitas, karena meskipun modus tersebut berjumlah tak-berhingga, ia tetap tinggal tetap, karena merupakan ungkapan dari seluruh alam raya.

“Sesuatu yang tunggal, yakni sesuatu yang berhingga dan memiliki eksistensi tertentu, tidak bisa berada maupun tergerak bekerja bila tidak diberadakan dan ditentukan berkarya oleh sebab lain yang juga berhingga serta mempunyai eksistensi tertentu. Proses tersebut berlangsung secara tak-berhingga”. Yang tak-berhingga melahirkan yang tak-berhingga, sedangkan yang berhingga melahirkan yang berhingga.

Di sini, Spinoza meninggal satu persoalan besar sekali: bagaimana gerak dari tak-berhingga ke yang berhingga terjadi? Atau bagaimana dunia yang berhingga ini dapat berada secara demikian, kalau yang tak-berhingga bukan sebagai penyebab keberadaannya?

Spinoza menerangkan bahwa dari sekian modus, manusia hanya mengenal dua saja, yakni keluasan dan pikiran. Maka dalam tataran alam semesta terdapat dua modus dari atribut Substansi yang bisa dicerap, yakni berbagai macam modus yang berkaitan dengan keluasan dan yang berhubungan dengan pikiran.

Dalam konteks ini, benda merupakan modus determinan atribut ilahi berkeluasan atau ungkapan konkrit hakekat Allah sebagai realitas berkeluasan. Sementara pikiran merupakan modus determinan atribut pikiran ilahi atau ekspresi determinan hakekat Allah sebagai realitas berpikir.

Dalam semesta modus, modus pikiran merupakan yang paling utama, karena menjadi syarat bagi berbagai modus kesadaran. Penting dicatat bahwa dengan istilah pikiran, Spinoza memasukkan pula kehendak, keinginan, cinta kasih, dll.

Kosmologi

Garis pemikiran Spinoza tentang alam semesta mengikuti alur penalaran metafisiknya. Allah adalah substansi dengan tak-berhingga atributNya. Adapun dunia terdiri dari semua modifikasi (berhingga dan tak-berhingga) substansi. Dunia merupakan akibat niscaya eksistensi Allah, tanpa Allah dunia tidak akan pernah ada.

Spinoza menyebut Allah sebagai natura naturans. Natura naturans berarti Allah adalah sebab dari eksistensiNya sendiri (causa sui) dan segala sesuatu. Dunia dinamai natura naturata. Natura naturata merujuk pada eksistensi dunia sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sebab. Sebagai akibat, dunia berada dalam penyebabnya. Sama seperti sebab berada secara imanen dalam akibat, demikian juga akibat berada secara imanen dalam sebab. Allah adalah causa immanens dari segalanya dan semua berada dalam Allah.

“Saya mau menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan Natura naturans dan natura naturata, atau lebih tepat membuat suatu catatan tentangnya… Natura naturans berarti sesuatu yang ada in se dan dipahami per se, yaitu atribut-atribut substansi yang mengungkapkan suatu esensi abadi dan tak-berhingga, yakni Allah sejauh dimengerti sebagai sebab yang mandiri. Adapun natura naturata adalah segala sesuatu yang mengurai dari keniscayaan hakekat Allah atau dari setiap atributNya, yakni semua modus/modifikasi atribut Allah, sejauh dipahami sebagai segala sesuatu yang berada dalam Allah dan tanpa Dia mustahil ada dan terpahami”.

 Dari penjelasan tersebut tampak bahwa substansi adalah tunggal, yakni Allah saja. Pola pemahaman ini menjunjukkan bahwa Spinoza mencoba keluar dari alur berpikir umum masa itu mengindentikkan Allah dengan Logos atau Ratio. Dengan menempatkan Allah sebagai substansi tunggal dan nalar sebagai modus dari atribut Substansi Spinoza berhasil menghindarkan diri dari aneka macam kesulitan seperti yang terjadi pada Cartesius.

Telah dikemukakan sebelumya bahwa manusia hanya mengenal modus keluasan dan modus kesadaran. Kedua modus tersebut mengungkapkan dua realitas alam semesta, yaitu realitas dan tatanan berkeluasan (ordo rerum) dengan realitas dan tatanan berkesadaran (ordo idearum). Tatanan dan realitas berkesadaran berkaitan secara niscaya dan sempurna tatanan dan realitas berkesadaran karena keduanya mengungkapkan hakekat Allah yang dipahami dari aspek yang berbeda-beda. Artinya keterkaitan secara niscaya dan sempurna antara kedua realitas dan tatanan tersebut muncul dari faktor bahwa masing-masing modus dan tatanan mengungkapkan hakekat Allah dengan cara yang sederajad. Jadi ada kesejajaran dan kesamaan yang sempurna di antara keduanya – ordo et connexio idearum idem est ac ordo et connexio rerum.

Dalam alur berpikir ini, alam semesta bukanlah karya cipta Allah, bukan dikehendakiNya maupun dicintaiNya. Bagi Spinoza menempatkan alam semesta sebagai obyek yang dipikirkan, dikehendaki dan dicintaiNya merupakan satu pemikiran yang mendahului Allah sendiri. Padahal, alam semesta mengalir dari, muncul sesudah atau dalam hubungan sebab-akibat merupakan satu konsekwensi niscaya dari eksistensi Allah.

Mengingat bahwa alam semesta, natura naturata merupakan akibat turunan dari eksistensi Natura naturans, tampak jelas bahwa semesta raya ini berada dalam Allah. Dengan demikian, prinsip dasar kosmologi Spinozian adalah panteistis, dalam artian semuanya adalah ungkapan niscaya Allah: Deus sive natura – Allah atau alam.

Antropologi

Gagasan tetang substansi tunggal membawa implikasi yang besar bagi konsepsi Spinoza tentang manusia. Manusia bukanlah substansi maupun atribut. Ia adalah kombinasi, perpaduan dari modifikasi atribut Allah sendiri, yakni modus cogitans – modifikasi berpikir dan modus extensa – modifikasi berkeluasan.

Spinoza tetap mengikuti pola berpikir klasik mengenai badan dan jiwa sebagai unsur konstitutif manusia. Bila terapkan pada gagasannya tentang kesejajaran koneksi ordo rerum dan ordo idearum dan modus cogitans dengan modus extensa, maka  padanannya adalah jiwa merupakan modifikasi modus cogitans, yang berada pada tataran dan relasi ide, sementara badan ialah modifikasi modus extensa, yang masuk dalam tingkatan dan relasi materi serta menjadi obyek pikiran. Jiwa atau pikiran manusia adalah ide; pengetahuan tentang badan.

 Spinoza mengatakan: “Dibandingkan dengan yang lainnya, kalau saja tubuh lebih layak melakukan atau mengalami lebih banyak hal secara bersama, terlebih lagi jiwa, dibandingkan dengan yang lainnya, lebih pantas mencerap banyak hal secara bersamaan, dan semakin tindakan badan bergantung pada dirinya belaka,  makin berkurang tubuh yang lain bersaing dengannya dalam tindakan, maka semakin pikirannya lebih cakap mengetahui secara distingtif”.

Epistemologi

Satu aspek penting dalam epistemologi Spinozian yang perlu diperjelas adalah gagasan tentang ide. Konsepsi Spinozian tentang ide berbeda sama sekali dari pengertian Platonian dan skolastik. Tiada kaitan sama sekali antara ide dengan kemampuan nalar manusia; akar dan sumber dari ide adalah Allah sendiri. Allah memiliki ide tentang diriNya sendiri maupun semua ide dari segala sesuatu yang mengalir secara niscaya dari hakekatNya.

Ide-ide dan hal ihwal yang berkaitan dengannya mengatasi hubungan sebab-akibat dan paradigma-contoh. Maksudnya, di satu pihak segala sesuatu bukan diciptakan Allah seturut gambaran atau citra (ide) yang terdapat dalam hakekatNya dan di pihak lain, seluruh ide bukan pula dihasilkan dalam dan oleh manusia melalui abstraksi atas benda konkrit. Dengan demikian tampak bahwa tatanan konseptual sejajar dengan tatanan material dalam Allah sendiri sejauh sebagai res cogitans dan sekaligus res extensa.

Dengan doktrin paralelisme antara ordo idearum dan ordo rerum, Spinoza berhasil menyingkirkan semua kesulitan yang ditemui Cartesius. Justru karena ordo et connexio idearum idem est ac ordo et connexio rerum maka setiap ide[2] berkaitan secara niscaya dengan realitas eksternal dan sebaliknya, sehingga modifikasi apapun yang berlangsung pada kedua domain tersebut pasti saling mempengaruhi. Dengan demikian, tampak bahwa isi pikiran manusia adalah obyektif dan secara hakiki merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama.

Spinoza membagi pengetahuan dalam tiga  tingkatan berikut ini.

Pengetahuan empiris

Pengetahuan empiris bertalian erat dengan pencerapan inderawi dan gambaran yang selalu bersifat membingungkan dan kabur. Selain opini dan imaginasi, secara mengejutkan Spinoza memasukkan pula gagasan universal (universalitas: manusia, binatang, ada, badan) ke dalam kategori pengetahuan empiris. Jawaban atas keanehan ini mungkin disebabkan oleh posisi filosofisnya yang melihat berpegang pada paralelisme antara ordo idearum dan ordo rerum, dan bukan keyakinannya pada nominalisme. Dalam bangunan ilmu, pengetahuan empiris berciri niscaya dan keniscayaan itu mengalir dari kegunaannya, meski kabur dan ambigu.

Pengetahuan rasional

Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang khas ilmu dan berlaku umum bagi semua manusia. Kekhasan dan keumumannya justru mengalir dari ciri kejelasan (clara) dan ke-lain-an (distincta). Yang tergolong ke dalam pengetahuan rasional adalah matematika, geometri dan fisika, karena ide kwantitas, forma, gerak, sebangun berciri umum, jelas dan distingtif. Rasionalitasnya terungkap dalam kemampuan pengetahuan ini menangkap dan menemukan ikatan yang menghubungkan ide yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain, dinamakan pengetahuan rasional karena mencari sebab, prinsip, keterkaitan di antara semesta ide, sehingga mampu melihat keniscyaannya.

Pengetahuan intuitif.

Pengetahuan intuitif berada pada tingkatan tertinggi dalam skala nilai dan berhubungan langsung dengan penglihatan segala sesuatu dalam Allah. Pengetahuan jenis ini berawal dari pengenalan terhadap hakekat Allah dan semesta ide yang menjadi atributNya. Ketika orang melihat Allah melalui modus dan atributNya, maka pada saat yang sama ia dapat mengenal semesta ide hakiki dari segala sesuatu; sebab semua berada dalam Allah. Jadi, pengenalan yang benar terhadap realitas mengikutsertakan secara niscaya pengetahuan akan Allah.

Landasan konseptualnya terletak pada keyakinan Spinoza bahwa pikiran manusia merupakan satu bagian dari Nalar ilahi, sehingga sewaktu dikatakan bahwa intelek manusia mencerap sesuatu berarti Allah sendiri yang melakukannya dan memilikinya.

Mengingat bahwa semua ada berada dalam Allah dan dikenal melalui DIA, maka segala kejadian dan perkara, keberadaan dan aktivitas ada berciri niscaya, harus demikian adanya. Ruang bagi kontingensi tiada sama sekali. Dalam Pikiran, tegas Spinoza, tiada kehendak absolut atau bebas; tapi Pikiran ditentukan menghendaki ini dan itu oleh satu sebab yang digerakkan oleh sebab yang lain, dan begitu seterusnya tanpa akhir. Semua mengalir dari Kehendak dan Pikiran ilahi.

Etika

Doktrin filosofis Spinoza merupakan sebuah disiplin hidup. Pemikirannya dalam aneka bidang bermuara pada satu tujuan, yakni hidup sebagai pribadi yang beradab dan bermartabat sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk rasional. Karena itu, doktrin filosofisnya berpuncak pada etika hidup. Dalam rangka mewujudkan manusia etis yang ideal, Spinoza mengelaborasi beberapa gagasan tradisional dengan pengertian dan muatan baru secara bertahap. Langkah pertama adalah menggagas ulang konsepsi tentang dunia keinginan (passio) yang dalam pemahaman tradisional dipandang rendah. Kedua, berupaya melampaui kriteria baik-buruk, benar-salah, bernilai-mubazir yang begitu baku dalam etika klasik. Fase ketiga membangkitkan kembali gagasan etika socratesian yang berciri rasionalis, dengan menyempitkan perkembangan hidup etis pada gerak maju pengetahuan. Tahap keempat meletakkan idealitas tertinggi manusia dalam visi intelektif tentang realitas dalam Allah.

Pada fase pertama, Spinoza menggagas ulang pengertian tentang dunia keinginan dengan mengikuti prosedur geometris. Dalam artian, beragam teorema geometris berasal secara niscaya dari ukuran ruangan dan ukurang ruangan dibentuk dari kombinasi titik, garis dan tingkatan. Hidup manusia juga merupakan kombinasi dari beragam faktor dan pola hidupnya selaras dengan tatanan alam. Seperti semua makhluk hidup lainnya, manusia memiliki pula beragam insting dan keinginan. Insting dan hasrat bukanlah ungkapan kelemahan dan kerapuhan manusia, kelabilan dan kemandulan jiwanya, melainkan bawaan kodratnya. Di bawah tatanan warisan kodrati itu, maka aksi-reaksi makhluk hidup adalah sama dan serupa. Karena itu, dunia insting dan dorongan serta pengungkapannya mesti disikapi dan dipelajari dengan baik dan bukan malah disesali dan direndahkan.

Spinoza beranggapan bahwa semesta keinginan mengalir dari kecenderungan (conatus) untuk melestarikan eksistensi setiap makhluk selama mungkin yang disertai oleh kesadaran atau gagasan. Manakala tendensi tersebut melulu pada level nalar, maka disebut voluntas-kehendak, dikaitkan dengan tubuh dinamakan appetitio-keinginan. Dorongan yang menyokong hasrat untuk melestarikan diri dan mengembangkannya secara positif disebut sukacita, kebalikannya adalah derita. Semua perasaan lainnya mengalir dari kedua hasrat utama tersebut. Apa yang dimaksud dengan cinta adalah rasa sukacita yang dibarengi dengan ide tentang satu sebab eksternal dan dianggap sebagai alasannya dan benci rasa sakit yang disertai oleh ide tentang penyebab dari luar yang memicunya.

Disting clara et distincta atau kebalikkannya berlaku pula dalam dunia hasrat. Misalnya, kepasivan nalar dalam menganggapi suatu peristiwa atau obyek disebabkan oleh hasrat yang kabur dan tidak cocok dengannya. Jadi semua perasaan individu merupakan bawaan, warisan dari alam, sehingga mesti diterima sebagai milik dan dipelajari dengan tepat.

Pada elaborasi fase kedua, Spinoza menarik konsekwensi praktis dari elaborasi tahap pertama. Jika hasrat merupakan bawaan alamiah, berasal dari kodrat manusia, maka sama seperti dalam alam tiada baik dan jahat, sempurna dan cacat, maka dalam tatanan hidup manusia tidak ada pula ruang benar dan salah, betul dan keliru, berguna dan mubazir. Semua konsep tersebut merupakan modus pikiran yang bersumber dari perbandingan yang dikerjakan manusia antara obyek yang dihasilkannya dan realitas yang berada di luar sana.

 Istilah yang lebih tepat untuk mengungkapkan realitas ekspresif pikiran adalah berguna dan percuma. Yang baik berarti yang berguna dan yang buruk sama dengan sia-sia. Karena itu, apa yang disebut dengan virtuskebajikan, tiada lain adalah tindakan merealisasikan kegunaan dan vitium-cacat tindakan yang sia-sia.

Pada langkah ketiga, Spinoza menarik kesimpulan sementara bahwa fondasi keutamaan dan cara manusia membebaskan diri dari pengaruh perasaan adalah melalui pengetahuan yang clara et distincta. Ilmu adalah jalan pembebasan dan penebusan melawan rongrongan perasaan. Maka, sesuatu dapat dikatakan baik atau buruk hanya jika atau menuntun pada pengetahuan atau merintangi jalan pengetahuan. Begitu orang memperjelas konsepnya, maka pada saat itu pula ia terbebas dari belenggu hasratnya.

Adapun pengetahuan yang clara et distincta merupakan pengetahuan pada tingkatan tertinggi atau pengetahuan intuitif-intuisi intelektif. Pada momen ini manusia melihat segala sesuatu mengalir dari Allah dan dalam Allah (sub specie aeternitatis), sehingga apa saja yang dimengerti dan dipahami dalam pengetahuan tahap ini memberikan kegembiraan dan menyempurnakan diri manusia.

Pengetahuan intuitif merupakan pemahaman bahwa Allah adalah sebab dan pengertian demikian memberikan amor Dei intellectualis, kasih rasional pada Allah, sukacita intelektual. Ketika kita paham bahwa Allah adalah sebab dari segalanya, semuanya itu memberikan sukacita dan menghasilkan cinta padaNya. Mengapa demikian? Karena, kasih intelektual Nalar pada Allah (amor Dei intellectualis) merupakan kasihNya sendiri, kasih yang dengan mana Allah mengasihi diriNya, bukan dalam artian Dia tak-terjangkau, melainkan sejauh dimengerti melalui esensi Nalar manusia, dipahami di bawah kwalitas keabadian (sub specie aeternitatis); kasih intelektual Nalar pada Allah merupakan satu bagian dari Kasih tak-terbatasNya yang Allah pakai untuk mengasihi diriNya.

Sosio-politik-religius

Hakekat dan Fungsi Agama

Spinoza menempatkan agama pada tingkatan pertama pengetahuan yang didominasi oleh fantasi dan imaginasi. Muatan agama bukanlah gagasan rasional melainkan hidup imaginasi. Agama menuntut ketaatan dan justru karena tendensi ini, banyak diktator memanfaatkan agama semaksimal mungkin untuk meraih tujuan mereka.

Agama dinafkahi dan diringi dengan sikap takut dan takhayul dan menyelesaikan aneka macam masalah dalam praktek peribadatan. Meski mengakui iman yang bersendikan kasih, damai, sukacita dan sikap setia, dalam hidup nyata kaum beriman saling bertarung dan relasi antar individu diwarnai oleh dendam dan sikap bermusuhan. Ciri khas hidup beragama lebih diwarnai oleh kekerasan daripada penghargaan dan perdamaian.

Tujuan agama adalah menuntun dan mendidik umatnya agar mentaati Allah, memujaNya dan melayaninya. Karena itu, iman tidak menuntut kebenaran dogma, melainkan dogma yang membangkitkan kesalehan, sehingga mampu menghasilkan ketaatan umat.

Hakekat dan Fungsi Negara

Berkaitan dengan konsepsi Spinoza mengenai realitas sosio-politik, penekanan utama diberikan pada kebebasan individu dalam mengungkapkan diri secara bebas dan tugas negara sebagai penjamin, pengayom dan pendorong kebebasan dan demokrasi[3]. Gagasan negara demokratis dan politik yang melindungi kebebasan individu mengalir dari pengalaman pahit Spinoza sebagai keturunan Yahudi yang terpaksa mengungsi ke negeri Belanda dan pengucilan dirinya kemudian dari komunitas Yahudi. Satu-satunya harapan dan sandaran terakhir adalah keamanan dari sudut politik yang diberikan oleh negara kepada hak hidup setiap individu dan relasi politik yang humanis.

Spinoza dengan tegas memprioritaskan hak hidup dan berkarya sebagai tuntutan kodrati atau keniscayaan alamiah. “Untuk hak dan prinsip dasar kodrat saya memaksudkan tiada lain adalah tata aturan kodrati setiap makhluk, tata aturan seturut mana kita memahami setiap orang sebagai demikian adanya untuk melakukan sesuatu secara alamiah dan tertentu. Ikan, misalnya ditentukan demikian oleh alam untuk berenang, yang besar memangsa yang kecil; dan dengan demikian, oleh karena hak kodrati tertinggi, ikan memiliki wilayah kekuasaannya dalam air dan ikan yang lebih besar memakan yang lebih kecil”.

Dalam tingkatan manusia, individu yang dikuasai oleh keinginan dan kemarahan adalah musuh bebuyutan secara alamiah. Hanya oleh kemauan hidup dan berada semampunya guna melindungi diri dari konflik yang berkelanjutan, maka umat manusia membuat perjanjian sosial. Sesungguhnya, tanpa saling membantu, manusia mustahil hidup dengan gampang dan mendidik batinnya. Dengan demikian tampak bahwa landasan utama perjanjian sosial bukanlah berciri ontologis, melainkan pragmatis-utilitarian, yakni kegunaan untuk melindungi hidup dan karya masing-masing individu dari ancaman sesamanya.

Perjanjian sosial antar-manusia melahirkan institusi negara. Hanya saja negara sebagai pemangku hak yang telah diserahkan oleh setiap warga secara fungsional bukan berciri absolut- totalitarian alà Hobbes. Mengingat dalam diri manusia terdapat beberapa hak yang tidak dapat dihilangkan (inalienabile); menyangkal hak-hak demikian berarti mengerdilkan manusia sebagai manusia. Jadi, finalitas negara bukanlah tirani, melainkan kebebasan.

“Jika tiada seorangpun dapat menyerahkan kebebasan berpikir dan menilai seturut kriteria dirinya dan bila masing-masing orang karena hak kodrati yang tidak-dapat diganggu gugat merupakan tuan atas pikirannya, maka dalam satu persekutuan politik, upaya memaksa manusia yang berbeda dan bertentangan pendapat agar merumuskan penilaian dan ekspresi diri  seturut dengan kaidah yang telah dimaklukan oleh penguasa akan melahirkan hasil yang menghancurkan. Di sisi yang lain, manusia tidak bisa diam: tidak sanggup berhati-hati dan bijak, apa lagi rakyat jelata. Mempercayakan maksud dan pikiran sendiri kepada orang lain, walaupun seharusnya berdiam diri merupakan sebuah tanda kelemahan yang begitu umum. […] Finalitas tertinggi dari organisasi kenegaraan bukanlah mendominasi maupun membatasi manusia dengan ketakutan maupun menjerumuskannya ke tangan orang lain, melainkan membebaskan setiap orang dari ketakutan, sehingga sebisa mungkin dapat hidup dengan aman dan secara lebih baik lagi melestarikan hak kodratinya untuk berada dan berkarya tanpa membahayakan diri dan sesama. Tujuan akhir negara – saya ulangi – bukan mengubah manusia dari makhluk rasional menjadi binatang atau mesin. Kebalikannya, tugas negara adalah mewujudkan fungsinya baik fisik maupun mental secara aman, memakai nalarnya dengan bebas, menghentikan hubungan antar-pribadi yang dilandasi dendam, amarah, muslihat dan perilaku curang. Singkat kata, tujuan organisasi politik adalah kebebasan”.


[1] Substansi adalah sesuatu yang berada tanpa memerlukan ada lain selain dirinya sendiri – res quae ita existit ut nulla alia re indigeat ad existendum dan realitas tercipta – res cogitans dan res extensa – yang untuk berada memerlukan sokongan dari Allah.

[2] Bagi Spinoza tidak ada istilah gagasan yang benar dan keliru; yang ada adalah sesuai dan tidak sesuai, mengingat setiap ide senantiasa berkaitan dengan benda  (korelasi antara dimensi corporal dan batiniah).

[3] Keluarga Spinoza berimigrasi dari Spanyol akibat penindasan yang terjadi terhadap komunitas Yahudi di negara tersebut. Spinoza mempelajari Talmud dana doktrin religius Yahudi lainnya semasa kecil, tetapi setelah dewasa ia melepaskan diri dari ikatan iman tersebut dan menjadi seorang pemikir bebas tanpa keterikatan pada institusi religius manapun. Satu-satunya sandarannya sebagai individu dan berelasi dengan orang lain adalah akal budinya.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s