PARA FILOSOF PRA-SOCRATEAN

Sejarah pemikiran filsafat sistematis dalam sejarah peradaban manusia Barat dan bahkan dunia bermula dari bangsa Yunani. Affirmasi ini kedengaraannya terasa janggal dan seolah-olah mengabaikan pemikiran filosofis dalam kebudayaan Timur. Kiranya harus kita akui bahwa permenungan filsafat secara sistematis dan rasional tentang alam semesta dan berikutnya tentang dunia dan manusia tanpa embel-embel Allah atau Tuhan dan dewa-dewi tertera secara historis dan faktual dalam pemikiran para filosof Yunani. Adakah refleksi dan permenungan metafisis dan distingsi yang tegas, rinci dan sistematis tentang realitas ada, moralitas, politik dst. seperti kita temukan dalam Metafisica, Etika Nicomacea, Politeia, Anima dll. karya-karya Aristoteles, dalam pemikiran filosofis Timur? Karena alasan di atas, kita memberikan perhatian cukup besar pada sejarah perkembangan pemikiran filosofis dalam kebudayaan Yunani klasik.

1.     Hakekat dan Problem dalam Filsafat Kuno

Secara filosofis kita dapat mengatakan bahwa filsafat merupakan sebuah aktivitas berpikir manusia dalam rangka mengenal segala sesuatu yang berada dan hidup dalam sementa raya: benda-benda mati baik di langit maupun di bumi, makhluk hidup, manusia dan tingkah lakunya, kematian dan masa depan sesudahnya. Singkat kata, filsafat ingin mengerti semua yang ada dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Untuk lebih singkatnya, kita dapat memperlihatkan beberapa ciri dasar filsafat.

a)     Muatan atau isi

Filsafat bermaksud menjelaskan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Penjelasan yang dimaksud bukanlah sekedar memahami kulit luar dari suatu realitas, melainkan ingin memahami secara mendalam dan menyeluruh. Filsafat bermaksud menemukan prinsip, sebab dan intisari dari segala sesuatu. Karena itu, filsafat selalu dimulai dengan pertanyaan mengenai apa yang menjadi prinsip dari totalitas ada dan bagaimana ada-ada dapat berada secara demikian serta mengapa semua ini dapat berada dalam semesta ini?

b)     Metode

Satu-satunya metode yang digunakan oleh filsafat untuk mencoba mengenal, memahami dan menjelaskan totalitas ada adalah pendekatan rasional. Senjata utama filsafat adalah nalar, akal, budi manusia semata tanpa embel-embel wahyu maupun tradisi religius apapun. Berbeda dari ilmu-ilmu sosial lainnya yang banyak berkutat dengan data dan pengalaman, filsafat menempatkan diri di atas data-data, fakta-fakta dan pengalaman individu. Argumentasi rasional sebagai pola penjelasan filsafat selalu terarah pada penemuan sebab-sebab utama, alasan-alasan prinsipil dan prinsip-prinsip dasar dari totalitas ada.

Dalam arti tertentu, kita bisa mengatakan bahwa pendekatan filsafat bersifat ilmiah seperti ilmu-ilmu lainnya. Namun perbedaan antara keilmiahan filsafat dan ilmu-ilmu lainnya terletak dalam karakter keumuman, universalitas, keluasan filsafat dan kekhususan, specifisitas dan keterbatasan ilmu-ilmu sosial-empiris.

Ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mempelajari dan menelaahi salah satu aspek saja dari realitas sesuai dengan bidang garapan, tuntutan metodis dan tujuan ilmiah tertentu. Dapat saja bahwa studi-studi ilmu-ilmu bersangkutan lebih mendalam dan mendetil dalam informasi dan pemahaman, namun karakter partikular membatasi kesimpulan yang mesti diambil. Mengingat obyek studinya hanya menyangkut salah satu bagian dari realitas ada, maka kesimpulannya bersifat sektoral semata.

c)      Tujuan

Tujuan utama filsafat adalah menemukan kebenaran per se. Filsafat memiliki karakter teoretis murni atau kontemplatif. Yang dikontemplasikan dan yang dicari oleh seorang filosof adalah kebenaran dalam dirinya sendiri tanpa kepentingan sosial-politik-ekonomi apapun. Karena itu filsafat merupakan disiplin ilmu yang mencari, menemukan dan mencintai pengetahuan semata (philo dan sophia), yakni cinta akan kebenaran. Aristoteles mengungkapkan secara eksplisit tujuan sejati filsafat. “Sesungguhnya manusia telah mulai berfilsafat karena kekaguman. […] Dengan demikian, jika orang-orang telah berfilsafat untuk membebaskan diri dari ketidaktahuan, menjadi semakin jelas bahwa mereka mencari pengetahuan hanya untuk ilmu (pengertian) semata dan bukan untuk mengejar kegunaan praktis”[1].

Gagasan dasar mengenai tujuan filsafat sebagai pertualangan untuk mencari, mendapatkan dan merenungkan kebenaran semata tanpa tujuan apa-apa, bermaksud mempertegas superioritas filsafat dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dalam hal ini, Aristoteles membedakan secara jelas kegunaan dan derajad atau status suatu ilmu: “semua ilmu lainnya akan menjadi lebih perlu dan penting daripada ini (filsafat), tetapi tiada satupun yang akan lebih tinggi daripadanya”[2]. Dalam gagasan demikian, kita dapat menemukan bahwa salah satu unsur dasar dalam filsafat adalah kebebasan pribadi dalam berkarya dan menikmati apa yang dilakukannya terlepas dari tuntutan-tuntutan praktis-pragmatis lainnya. Karena itu, ketika filsafat kehilangan orientasi dasar pada kontemplasi kebenaran dan berpretensi mengubah dunia, pada saat itu pula filsafat telah mengubah diri menjadi sebuah sistim ideologis atau ideologi tertentu. Tiada lagi keagungan, keluhuran, kebebasan dan kontemplasi maupun spekulasi dan kekaguman, melainkan hanya ada kepentingan, perhitungan untung rugi, pendalaman dan strategi atas dasar pertimbangan kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan. Dengan kata lain, pengalihan filsafat dari spekulasi murni ke tujuan praktis-pragmatis telah mengubah filsafat dari ilmu dan pengetahuan menjadi alat kekuasaan dan status quo.

2.     Beberapa Problem Filosofis Kuno

Totalitas ada sebagai obyek studi filsafat hendaknya dimengerti dalam kerangka dan cakrawala yang menyeluruh dan luas sekali. Totalitas ada menyangkut seluruh realitas dalam berbagai aspek dan dimensi masing-masing yang saling tersangkut dan terkait. Atas dasar keberagaman aspek dan dimensi itu, maka pusat perhatian, permenungan, pengkajian para pemikir mengalami juga tahap-tahap dan bidang-bidang yang berbeda-beda. Dalam artian bahwa terdapat permasalahan-permasalahan tertentu yang menjadi titik tekan dalam kajian para filosof. Berikut adalah klasifikasi problem secar garis besar.

a)     Kosmologis

Persoalan pertama yang dihadapi oleh para pemikir Yunani klasik adalah totalitas ada konkret dan empiris, physis atau kosmos. Mereka terkagum dan terkesima oleh semesta raya dan dari keterkaguman dan keterkesimaan muncul sekian banyak pertanyaan: bagaimana dunia dan semesta raya ini muncul? Apa yang menyokong dan menjadi prinsip utamanya? Apa dan bagaimana tahap-tahap dan momen-momen pemunculannya? Pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan filosofis semacam inilah yang mendominasi permenungan awal para filosof.

b)     Antroplogis

Dalam tahap permenungan selanjutnya, pokok bahasan filosofis bergerak dari persoalan kosmologis ke persoalan antropologis. Pusat perhatian adalah realitas manusia itu sendiri. Fokus permenungan adalah persoalan-persoalan moral dan nilai keutamaan (arête). Peralihan tersebut disebabkan oleh perubahan multi dimensi yang dibawa oleh perluasan wilayah taklukkan Aleksander Agung. Perluasan wilayah menciptakan realitas kosmopolitan, sehingga sendi-sendi kehidupan sosial-politik-ekonomi-kultural dengan segenap perangkat nilai dan keyakinannya ikut mengalami perubahan yang radikal. Kosmopolitanisme menciptakan krisis identitas, krisis nilai dan krisis budaya, sebagaimana terungkap dalam kehancuran polis sebagai fondasi dan rujukan hidup setiap warga. Dengan kata lain, kosmopolitanisme menyadarkan para pemikir Yunani klasik tentang siapa, apa peran, kedudukan, nilai dan bagaimana manusia harus hidup, bersikap dan menemukan dirinya dalam relasi dengan sesama, lingkungan dan dewa-dewi. Persoalan antropologis merupakan karakter utama permenungan para sofis dan Socrates.

c)      Entis, epistemoologis, antropologis dan estetis

Permenungan filosofis selanjutnya mewarisi persoalan-persoalan sebelumnya. Persoalan kosmologis menjadi persoalan mengenai ada itu sendiri: ada tetap dan ada berubah, sebab-sebab pengada, substansi dan aksiden, dunia ide dan dunia konkret. Dari persoalan entis ini lahir distingsi bidang-bidang kajian dan displin ilmu masing-masing yakni fisika dan metafisika.

Persoalan antropologis sebelumnya terus diperluas dan diperdalam secara rinci dan skematis dari sekedar tema siapakah manusia kepada bagaimana relasi dan interaksi antar individu dan individu dengan polis. Maka lahir sebuah pemahaman yang cukup komprehensif tentang jatidiri manusia sebagai pribadi dan sekaligus anggota masyarakat (zoon politikon) dan pokok perhatian bertambah menjadi soal etis dan politik.

Hal baru yang muncul pada tahap ini adalah problem espistemologis, logis dan estetis. Para pemikir Yunani klasik mulai menganalisa proses-proses berpikir, kebenaran dan cara-cara untuk mencapai kebenaran, pengalaman inderawi dan berpikir benar atau keliru, soal buruk, baik dan indah. Dengan demikian mulai digagas dan ditetapkan aturan-aturan berpikir secara benar, bentuk-bentuk logika dengan mana manusia berpikir, menilai dan memutuskan serta syarat-syarat keindahan. Persoalan filosofis ini mewarnai permenungan Platon dan Aristoteles bahkan hingga saat ini.

Permenungan sesudah Aristoteles mengembangkan secara lebih sistematis tema-tema yang telah digarap sebelumnya yakni fisika, logika dan moral. Sejalan dengan perubahan sosial, politik dan kultural yang tengah berlangsung, filsafat sebagai ilmu ikut berubah diri. Salah satu tema utama yang menjadi pusat perhatian dan permenungan adalah persoalan-persoalan moral. Para pemikir post Aristotelian mencoba menemukan cara-cara untuk menemukan hidup ideal dan kebahagiaan jiwani. Problem-problem fisika dan logika diarahkan untuk menciptakan suatu kondisi hidup ideal seorang bijak. Tampak di sini bahwa filsafat sebagai spekulasi teoretis murni mengalami modifikasi secara internal. Tugas dan fungsi filsafat adalah bagaimana manusia dapat hidup dalam secara benar dan dalam kebenaran.

3.     Beberapa Periode Filsafat Kuno

Sejarah filsafat Yunani klasik berlangsung dari abad VI SM sampai dengan 529 M; sebuah sejarah permenungan yang sangat panjang dan sarat dengan kekayaan intelektual yang tiada terkira nilainya. Hingga saat ini pun segala permenungan filosofis selalu menoleh kepada para filosof Yunani klasik dan hal ihwal yang telah mereka uraikan. Kajian-kajian filosofis yang mereka lakukan ternyata mempunyai nilai yang lintas generasi dan mengatasi jaman: selalu aktual dan secara prinsipil menyentuh intisari dan hakekat ada itu sendiri.

Kelenyapan filsafat Yunani berjalan beriringan dengan kemunculan kristianisme yang menyodorkan pola berpikir, cakrawala atau visi tentang dunia manusia dan semesta raya dan titik tolak yang jauh berbeda dan komprehensif. Secara kronologis, penghabisan filsafat Yunani terjadi pada 529 atas kemauan kaisar Ystinianus, tulen yang menghendaki agar sekolah-sekolah paganis ditutup, perpustakaan-perpustakaan dimusnahkan dan para pengikutnya diceraiberai-kan. Dengan kata lain, segala permenungan filosofis dan ilmiah selalu berada dalam bingkai iman kristiani dan kepentingan kekaisaran Romawi.

Kita dapat membedakan sejarah pemikiran Yunani klasik dalam beberapa periode berikut ini[3].

a)     Periode naturalistis. Periode ini dicirikan oleh persoalan-persoalan seputar semesta raya atau problem kosmologis-physis. Adapun para filosof yang masuk dalam periode ini adalah kelompok ionis, pitagoris, eleatis dan pluralistis.

b)     Periode humanistis. Krisis dalam permenungan seputar alam semesta dan ditambah dengan perubahan multi dimensi menyebabkan pusat perhatian berpaling kepada manusia. Permenungan tentang manusia dimulai oleh kelompok sofis, tetapi upaya yang lebih mendalam untuk menemukan hakekat manusia dilakukan oleh Socrates.

c)      Periode berikutnya merupakan era penyimpulan. Persoalan mengenai tetap dan berubah, yang menjadi problem utama para filosof naturalis dan permenungan tentang manusia menemukan sintesisnya dalam pemikiran Platon dan Aristoteles. Platon menggagas dunia ide, sedangkan Aristoteles mengemukakan gagasan tentang aktus dan potensi serta sebab-sebab ada.

d)     Periode keempat dicirikan oleh sekolah helenis yang ditandai oleh kemunculan dan perkembangan tiga sistim utama yakni stoicism, epicurisme dan skeptisisme. Dalam perkembangan selanjutnya muncul juga sebuah aliran yang disebut ekletisme.

e)     Periode terakhir ditandai dengan pertemuan kebudayaan dan permenungan Yunani klasik dengan kristianisme. Pada periode ini juga platonisme muncul kembali, yang terkenal dengan sebutan neoplatonisme.

Permenungan Yunani klasik tetap tinggal sebagai warisan pusakan peradaban dunia sampai kapanpun. Kemunculan kristianisme sama sekali tidak menghapus filsafat Yunani, sebaliknya menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk memperkaya pemahaman mereka tentang iman kepercayaan akan Yang Absolut dan relasi antar-manusia. Tentu saja dengan bersikap kritis dan menyaring gagasan-gagasan yang ada, para pemikir Kristen mencoba memadukan permenungan rasional Yunani klasik dengan wahyu untuk memberikan sebuah fondasi yang kuat bagi dunia filsafat itu sendiri maupun dunia teologi. Perpaduan keduanya mewarnai seluruh permenungan filosofis hingga dewasa ini.


[1]Aristoteles, Metafisica, A2, 982 b, 11-26.

[2]Ibid., A2, 982 b, 29 dst.

[3]Giovanni Reale, Storia della Filosofia Antica, vol. I, Milano: Vita e Pensiero, 1997, h. 40-41.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s