Allah dan Senjata: Gereja dan Terorisme: Tinjauan Kritis atas Kitab Kenabian

Abstraksi

               Sebuah pemahaman alkitabiah tentang hubungan Allah dengan Israel dan dunia membantu kita menafsirkan ayat-ayat dalam literatur kenabian yang menghubungkan Allah dengan kekerasan. Keprihatinan tentang kekerasan Allah dalam Perjanjian Lama itu telah memicu berkembangnya kekerasan kumulatif selama abad ke-20 dengan aktivitas-aktivitas teroris, dan penyebaran konflik antar agama. Kultur kekerasan yang telah dibangun, sebagai buah dari interpretasi-interpretasi atas Kitab Suci yang sangat bervariasi, dan benyaknya kontroversi dalam tradisi-tradisi agama telah melampaui persoalan kehendak Allah. Penggunaan kekerasan Allah melalui para nabi dalam Kitab Suci tidak pernah menjadi tujuan dari kekerasan itu, melainkan memiliki tujuan ganda: penghakiman dan keselamatan. Melalui keterlibatan tersebut, Allah memperhitungkan efek kekerasan dari aktivitas manusia yang penuh dosa dan dengan demikian memungkinkan masa depan tanpa kekerasan bagi umat Allah.

Prolog

               Salah satu fenomena yang mengetarkan di akhir abad 20 adalah munculnya apa yang disebut dengan ‘terorisme’ dalam tradisi keagamaan dunia. Peristiwa peledakan bom di klinik di Alabama dan Georgia tahun 1997, membuat banyak kalangan di dunia mengutuk peristiwa itu. Publik dunia dicekam rasa khawatir dari rasa ketakutan yang mendalam. Dari peristiwa itu, aktivitas terorisme yang ditampilkan seringkali mengerikan dan menimbulkan luka yang mendalam. Para teroris dalam melakukan aksinya sangat brutal dan sadis. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh dan membinasakan lawan-lawannya. Para teroris menembaki jemaat yang ada di mesjid, membunuh para dokter dan perawat klinik aborsi, membunuh presiden/perdana mentri, pengboman fasilitas sipil dan fasilitas militer. Mereka anti terhadap nilai-nilai positif masyarakat modern. Mereka tidak mau ambil pusing dengan urusan demokrasi, pluralism, toleransi beragama, perdamaian, kebebasan berbicara, atau pemisahan antara Gereja dan Negara. Para teroris Kristen menolak klaim-klaim ilmu biologi dan fisika tentang asal muasal kehidupan. Mereka berpendapat bahwa Kitab Kejadianlah yang benar dalam memberikan rincian ilmiah tentang hal tersebut. Mereka tetap teguh mengikuti wahyu yang mereka yakini.[1]

Literatur kenabian diisi dengan teks-teks tindakan kekerasan, baik oleh manusia dan Allah. Dalam Kejadian 6:11-13, allah mengumumkan sebuah pola tentang kekerasan manusia dan Allah yang akan bertahan sepanjang norma-norma agama: “I have determined to make an end of all flesh, for the earth is filled with violence because of them”[2] Juga terdapat kekerasan manusia dalam hubungannya dengan perang  termasuk antisipasi perang, pelaksanaan perang, dan sesudah perang yang memberikan suasana yang ditulis dalam sebagian besar literatur kenabian.

Keprihatinan tentang kekerasan Allah dalam perjanjian lama itu telah meningkat dalam tahun-tahun terakhir. Alasan-alasan itu memicu perkembangan yang meliputi: kekerasan kumulatif selama abad ke-20 dengan senjata-senjata yang mematikan, pengalaman yang terbaru (peristiwa 9 september 2011, aktivitas-aktivitas teroris), dan penyebaran konflik antar agama, semua itu terekspose di media harian, baik cetak maupun elektronik[3]. Juga meningkatnya kesadaran bahwa kekerasan dalam Alkitab ikut berperan dalam menyebarkan kekerasan di dunia. Tindakan Allah dalam Alkitab seringkali diklaim sebegai pembenaran atas kekerasan, dari perang salib hingga perang saudara di Belfast irlandia. Ada kekeliruan dalam menafsirkan Alkibat pada saat peristiwa itu terjadi, tetapi setidaknya kita mengakui bahwa Alkitab tidak memberikan pengamanan dalam menafsirkan teks-teks Alkitab tersebut.

Untuk menelusuri implikasi lebih lanjut dari literatur kenabian terhadap fenomena global tersebut, tulisan ini hanya akan memfokuskan diri pada terorisme yang ada di dalam agama Kristen. Terorisme yang akan ditulis dalam tulisan ini adalah terorisme abad ke-20 yang muncul sebagai reaksi terhadap kebudayaan sekular dan ilmiah.

Latarbelakang Terorisme

Peristiwa penembakan yang terjadi dalam sebuah acara peringatan hari kebangsaan Yahudi oleh seorang aktivis pergerakan identitas Kristen (Christian identity) pada 10 Agustus 1999, peledakan bom pada pesta olahraga olimpiade Atlanta tahun 1996, pengrusakan gedung federal Oklahhoma City, dan serangan-serangan terhadap klinik-klinik aborsi dalam periode waktu yang sama[4]. Masyarakat Amerika mulai hidup berdampingan dengan kekerasan dan terror yang mengerikan dan menakutkan, karena semua aksi terror tersebut mengatasnamakan agama. Agama khususnya agama Kristen digunakan sebagai alat justifikasi.

Ada yang menarik, hampir setiap aksi kekerasan yang dilakukan oleh para teroris didasari oleh prinsip-prinsip ajaran agama Kristen. Agama Kristen yang mengajarkan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” di saru sisi mempunyai akar kekerasan. Dalam Kitab perjanjian lama, literatur kenabian berbicara tentang kekerasan, baik yang dilakukan oleh manusia maupun Allah. Pola kekerasan manusia dan Allah yang bertahan sepanjang norma-norma agama hingga saat ini. Juga terdapat kekerasan manusia dalam hubungannya dengan perang termasuk antisipasi perang, dan sesudah perang yang memberikan suatu suasana tertentu, yang ditulis dalam sebagian besar literatur kenabian. Bentuk lain dari kekerasan itu  berhubungan dengan penindasan kaum miskin yang sering dikaitkan oleh para nabi degan pecahnya perang (misalnya, Yes 10:1-5; Mikha 2:1-3; Yehezkiel 22:29-31). Kekerasan membawa kekerasan dibelakangnya. Efek merusak dari penghakiman Allah atas anak-anak, perempuan, dan lingkungan (misalnya, Ratapan 2:19-21; 4:4, 10; 5:11). Kekerasan membawa kekerasan dibelakangnya[5]. Dalam kitab suci perjanjian lama, terdapat teks-teks yang memberikan referensi untuk ‘perang’ antara lain: Kel 17:16; “Allah berperang melawan Amalek turun-temurun”; Bil 31:3, “Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Baiklah sejumlah orang dari antaramu mempersenjatai diri untuk berperang, supaya mereka melawan Midian untuk menjalankan pembalasan TUHAN terhadap Midian”; Pengkotbah 3:8; “ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai”. Teks tersebut telah menyebabkan berbagai upaya ‘proyeksi’ dari  perilaku manusia, atau bahkan menafsirkan teks-teks dari Alkitab dengan tidak melihat konteks peristiwa saat itu.

Menurut Mark Juergensmeyer, justifikasi teologis dari kitab suci atas aksi-aksi tersebut relative bervariasi.  In United States, at least two major school of thought lie behind Christian abortion clinic bombings, one based on Reconstruction Theology and the other on ideas associated with the Christian Identity movement. The latter also provides the ideological support for many of America’s militia movements. The violence in Northern Ireland is justified by still other theological position, Catholic and Protestan[6]. Perbedaan justifikasi teologis dari teks-teks alkitab akan mempengaruhi dukungan ide-ide dan orientasi dari aksi-aksi kekerasan (teoritis) itu, seperti aksi serangan terhadap klinik-klinik aborsi di Amerika Serikat dan kekerasan di Irlandia Utara.

Pengertian Terorisme Agama

Mark Juergensmeyer memberikan pengertian terorisme sebagai berikut:

Terrorism is meant to terrify. The word comes from the Latin terrere”, to cause to tremble”, and came into common usage in the political sense, as an assault on civil order, during the reign of terror in the French Revolution at the close of the eighteenth century. This fear often turns to anger when we discover the other characteristic that frequently attends these acts of public violence: their justification by religion[7].

Dari pelbagai peristiwa yang terjadi, hampir sebagian besar aktivitas terorisme melibatkan agama. Agama sebagai penyalur ideology, motivasi dan bahkan struktur organisasi para pelaku kekerasan. Agama yang seharusnya menjadi pembawa damai, berubah menjadi sumber terror.

Mark Juergensmeyer juga mencatat data dari the U.S. State Department roster of International terrorist mengenai aktivitas kelompok teroris internasional sebagai berikut:

In 1980 the U.S. State Department roster of International terrorist groups listed scarcely a single religious organization, in 1998, U.S. Secretary of State Madeleine Albright listed thirty of the world’s most dangerous groups; over half were religious[8].

Menurut catatan RAND, St. Andrews Chronology of International terrorism, proporsi kelompok-kelompok agama ini tercatat sebagai berikut: Sixteen of forty-nine terrorist groups identified in 1994 to twenty-six of the fifty-six groups listed the following year[9]. Dari penjelasan data tersebut, jelas sekali adanya perkembangan signifikan dari aktivitas kelompok-kelpompok teroris yang berlandaskan agama. Agama sebagai sumber ketenteraman dan kedamaian dipakai sebagai dasar pergerakan kelompok-kelompok teroris di dunia. Secara langsung maupun tidak langsung, dunia akan berhadapan dengan kekerasan yang dapat mengancam keamanan dan kedamaian kehidupan masyarakat dalam publik.

Sejarah Terorisme Agama

Terorisme yang dilakukan atas nama agama telah lama menjadi peristiwa utama hidup manusia. Sejarah manusia, peradaban, bangsa, dan kerajaan penuh dengan contoh orang-orang percaya menjadi ekstrimis sejati yang terdapat dalam kekerasan untuk mempromosikan keyakinan mereka. Beberapa teroris agama terinspirasi oleh motif defensive, yang lain berusaha untuk memastikan dominasi agama mereka, dan lainnya termotivasi oleh agresif campuran dari kecenderungan ini. Terorisme religious bisa bersifat komunal, genosida, nihilistic, atau revolusioner. Terorisme religious dapat dilakukan oleh sendirian, sel klandestin, gerakan pembangkang besar, atau pemerintah. Dan, tergantung pada perspektif seseorang, seringkali ada perdebatan tentang apakah pelaku harus diklasifikasikan sebagai teroris atau pejuang kebebasan beragama.[10]

Kasus-kasus berikut merupakan contoh sejarah kekerasan agama. Ini adalah selektiff survei (sama sekali tidak lengkap) yang akan menunjukkan bagaimana beberapa contoh kekerasan berbasis agama sebagai tindakan terorisme, dan bagaimana setiap contoh harus dipertimbangkan dalam konteks sejarah dan budaya.

A.     Yahudi-Kristen Awal

Dalam sistem kepercayaan Yahudi-Kristen, referensi dalam Alkitab tidak hanya untuk pembunuhan dan penaklukan tetapi juga untuk pwnghancuran musuh Negara atas nama agama. Salah satu kampanye seperti dijelaskan dalam kitab Yosua. Kisah penaklukan tanah Kanaan oleh Yosua adalah kisah puncak dari Ibrani kuno “kembali ke Kanaan”. Bagi Yosua dan para pengikutnya, Kanaan adalah tanah terjanji yang dijanjikan Allah kepada umat pilihan. Menurut alkitab, kota-kota Kanaan hancur dan para pengikut Yosua menyerang orang Kanaan sampai “Tidak ada satu orang tersisa bernafas”. Dengan susmsi bahwa Yosua dan pasukannya menghukum pedang seluruh penduduk terdiri dari 31 kota yang disebutkan dalam alkitab, dan dengan asumsi bahwa setiap kota rata-rata 10.000 orang, penaklukannya harus membunuh 310.000 orang )lih. Yos 11:1, 4-8, 10-14)

Bagian lain dalam alkitab yang memiliki gambaran mengenai gambaran kekerasan komunal agama atau terorisme, seperti cerita berikut dari kitab Bilangan 25:1.6-8:

Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu Kemah Pertemuan. Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya, mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya. Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya.[11]

B.     Perang Salib

Selama abad pertengahan, Gereja Kristen Barat (yaitu, Katolik Roma) telah mengirimkan sedikitnya Sembilan kali invesi ke daerah Islam bagian Timur, yang pertama terjadi pada tahun 1905. Invasi ini disebut dengan perang salib, karena mereka disatukan dengan ‘salib’. Tujuan dari perang salib adalah merebut tanah suci dari pasukan Muslim, yang juga disebut Saracen. Ksatria Kristen dan tentara salib  menjawab panggilan itu karena berbagai alasan. Janji, tanah, rampasan, dan kemuliaan sebagai tujuan utama. Alasan lain yang penting adalah janji rohani, yang dibuat oleh Paus Urbanus II, yang berjuang dan tewas atas nama Salib akan mati sebagai martir dan memperoleh jaminan tempat di surga. Pembebasan tanah suci akan membawa keselamatan kekal.

Dengan demikian, ‘ksatria’ yang dengan setia memanggul salib, akan mendapat remisi dari hukuman duniawi untuk semua dosa-dosanya., jika dia meninggal dalam pertempuran ia akan memperoleh pengampunan dosa-dosanya. Ideology tercermin dalam seruan perang dari Perang Salib awal: Deus lo volt! (God wilss it!) Selama perang salib pertama, ksatria barat terutama tentara kaum Frank berhasil menguasai Yerusalem dan Betlehem. Ketika kota-kota dikuasai, sebagian besar penduduk Muslim dan Yahudi, tewas, kebiasaan umum dalam peperangan abad pertengahan. Ketika Yerusalem dikuasai pada bulan Juli 1099, ksatria kaum rank membantai ribuan Muslim, Yahudi, dan penduduk Kristen Ortodoks.

Selama perang salib, Albigensian yang brutal di Perancis selatan selama abad ke-13, cerita tentang kekhawatiran umat Katolik  yang setia dan tak berdosa yang dibunuh dan menjadi target dari anggota sekte Cathar. Perwakilan Paus, Arnaud Amaury, kemudian menjawab, “Kill them all; God wil know his own”.[12]

C.     Revolusi Puritan

Revolusi Puritan adalah perang saudara di Ingris dari pertengahan tahun 1600-an. Istilah puritan berasal dari tahun 1560-an untuk menggambarkan gerakan yang berkembang untuk memurnikan dan mereformasi Gereja Ingris. Beberapa pemikiran kaum puritan merupakan perkembangan dari pemikiran reformasi. Mereka melihat kekerasan sebagai alat yang sah dari otoritas sipil dalam membela kehendak Allah dan menggambarkan legitimasi kekerasan dalam Alkitab. Seperti Calvin, mereka memahami kekristenan untuk membentuk institusi-institusi duniawi. Lebih jauh, kaum puritan memandang dunia politik dengan kemiliteran dan menyandang citra peperangan.

Kaum Puritan adalah gambran antusias Allah sebagai komandan dalam perang. Citra mereka diaplikasikan pada Allah sebagai “pahlawan perang”, Kristus sebagai “kapten” dan para malaikat sebagai “tentara’. Bumi digambarkan sebagai “medang perang” dan orang Kristen sebagai “prajurit” melawan musuh-musuh rohani atau bidaah.

Hal yang paling bahwa perang ofensif diprbolehkan untuk pemeliharaan kebenaran dan kemurnian agama, seperti perang dalam kitab suci yang dialami oleh Abraham, Yosua, beberapa Hakim dan para raja. Allah member bantuan kepada mereka saat perang dan mereka memperoleh jarahan dan janji kemenangan sebagai berkah. Seperti perang salib, mereka percaya yang mati dalam pertempuran dengan tujuan baik akan menjadi tangan-tangan Allah.[13]

D.     Perusakan dan Pengeboman Klinik Aborsi

Pada suatu malam bulan Februari yang dingin mencekam di tahun 1984, ketika Pendeta Michael Bray dan salah seorang rekannya mengendarai sebuah sedan berwarna kuning dari rumahnya di Bowie menuju Delaware. Bagasi mobil bermuatan barang-barang berupa sebuah bloksinderu untuk memecah jendala, kaleng-kaleng berisi bensin untuk menyiram isi dan sekeliling klinik, kain dan korek untuk menyulutkan api. Mobil meluncur dan insiden kecil pun terjadi, kedua penumpang selamat. “sebelum pagi tiba, bilik-bilik aborsi yang ada di Dover dilalap api dan ruang pembunuhan bayi-bayi itu pun hangus” kata Bray. Tahun berikutnya, Bray dan dua orang anggotanya yang lain melakukan aksi pengrusakan terhadap tujuh tempat aborsi di Delaware, Maryland, Virginia dan distrik Columbia, yang menelan kerugian total mencapai lebih dari satu juta dolar AS.[14] Bray meng-identifikasikan dirinya dengan gerakan Bala Tentara Kristus.[15]

E.      Umat Katolik dan Protestan di Belfast

Irlandia Utara adalah sebuah wilayah yang tercabik-cabik oleh serangan teroris sejak awa; tahun 1960-an. Peristiwa peledakan bom yang menghancurkan dua took dan sebuah pub di Belfast pada tanggal 2 Agustus 1998, dan sebuah ledakan bom mobil dua minggu sesudahnya, yang menghancurkan bangunan-bangunan didekat perkampungan omagh dan menewaskan dua puluh empat orang. Masalah-masalah ini dilahirkan oleh para nasionalis Irlandia (Katolik) yang ingin menggabungkan enam wilayah Irlandia Utara ke dalam Republik Irlandia Utara; di pihak lain aktivitas Protestan yang tinggal di Irlandia Utara selama beberapa generasi ingin mempertahankan loyalitas wilayahnya kepada kesatuan kerajaan Ingris.[16]

Pendeta Ian Paisley adalah tokoh yang membawa agama ke dalam politik di Irlandia Utara dan menggunakan ide-ide agama untuk melegitimasi penggunaan kekerasan dalam konflik Katolik-Protestan. Dia mengutuk perundingan perdamaian yang digagas oleh Perdana Menteri Ingris Margaret Thatcher dalam doa selama pelayanan kebaktian pada hari minggu. Dia berdoa:

O God,Paisley intoned, in wrath take vengeance upon this wicked, treacherous, lying woman. “Then, as if to good God more quickly into action, Paisley prayed, “Grant that we shall see a demonsration of Thy Power. “it is open to question whether God ever assented to Paisley’s request and performed acts of vengeance on moderate British leader; Irish Catholics members of the IRA and officers in their political party, Sinn Fein; and anyone else whom Rev Paisley found annoying.[17]

Dia menggunakan tulisan-tulisan yang bernada anti katolik dari tokoh-tokoh Protestan seperti John Kalvin dan John Wesley, Paisley member label Katolik sebagai bearess of ‘satanic deception”.[18]

Gereja dan Terorisme

Apa yang dipikirkan oleh tentara Salib, kaum Puritan, dan Michael Bray tentang pandangan Allah? Psti tidak semua imat Kristen setuju dengan kultur kekerasan yang telah mereka bangun. Interpretasi-interpretasi atas kitab suci yang sangat bervariasi, dan banyaknya kontroversi dalam tradisi-tradisi agama telah melampaui persoalan kehendka Allah. Disiplin teologi tersebut lahir sebagai upaya manusia mencoba menjabarkan theologos, yang secara literal, diartikan pengetahuan atau pemikiran yang berhubungan dengan Allah. Bahkan pemikiran semacam ini jarang sekal menjustifikasi aksi-aksi kekerasan. Dengan adanya justifikasi atas kekerasan tersebut dalam pikiran, maka teroris Kristen menjalankan aksi pembunuhan bersama dengan kepastian bahwa mereka mengikuti logika Allah. [19]

Faktor kunci yang harus mempertimbangkan informasi dari kekerasan alkitab adalah sentralitas hubungan refleksi teologis bangsa Israel pada waktu itu. Kekerasan Allah yang telah lama menyatu dengan tradisi Yudea Kristen, dan memiliki akar yang mendalam di dalam teks Alkitab. Keterkaitan itu merupakan karakteristik dasar tidak hanya lewat hubungan Allah-Israel (dan Allah-dunia) tetapi juga sifat dari tatanan ciptaan. Ketika dosa manusia berteriak keluar dan mempengaruhi seluruh ciptaan (lihat hubungan antara kekerasan manusia dalam Hosea 4:1-3), maka setiap makhluk akan mempengaruhi satu dengan yang lain; masing-masing individu terlibat dalam penderitaan yang satu dengan yang lain.[20]

Kekerasan yang dilakukan, bergema di mana-mana melalui struktur relasional yang hidup, bahkan mengarah pada kekerasan lebih lanjut. Israel menyadari bahwa Allah berhubungan dengannya, dan memang sangat terlibat dalam urusan di dunia ini, bahkan Sang Pencipta akan terpengaruh dan terjebak dalam setiap tindakan kekerasan.

Allah bertindak ke dalam dunia karena bangsa Israel tidak mentaati peraturan-peraturan-Nya dan banyaknya penderitaan dan kekerasan yang telah dilakukannya. Maka, Allah bertindak secara langsung, tetapi selalu lewat pelbagai macam cara yang dipakai dengan sangat mengagumkan. Allah bekerja melalui ciptaan-Nya untuk membawa ciptaan baru (Kejadian 1:11), melalui bahasa manusia untuk memanggil para nabi (Yesaya 6:8-13), melalui ritual-ritual pengorbanan untuk pengampunan dosa, melalui raja-raja dan pasukan bukan dari keturunan Israel yang mengakibatkan adanya dua aspek yaitu penghakiman dan keselamatan, dan melalui tatanan moral yang dibuat-Nya.[21]

Pembaca akan menemukan lebih dari satu tempat di mana Allah memposisikan diri-Nya di dalam alkitab, maka dari itu, teks-teks alkitab tidak selalu memberikan arah yang jelas. Untuk semua pengamatan eksternal, Allah tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan militer dan politik, tetapi teks-teks mengakui bahwa kehendak Allah adalah sesuatu yang bekerja bahkan di dalam dan melalui kekerasan dengan tujuan keselamatan.

Penggunaan kekerasan Allah melalui para nabi tidak pernah menjadi tujuan dari kekerasan itu, melainkan memiliki tujuan ganda: penghakiman dan keselamatan. Jadi, misalnya, Allah menggunakan kekerasan Persia di bawah raja Koresy sebagai penilaian terhadap perbudakan Babel sebagai alat untuk membawa keselamatan bagi orang-orang buangan (mis. Yesaya 45:1-8; 47:1-15). Dengan kata lain, Allah menggunakan kekerasan baik untuk menyelamatkan Israel dari efek dosa-dosa orang lain (lih. Keluaran 15:1-3) dan untuk menyelamatkan umat Allah dari akibat dosa mereka sendiri.[22]

Kedua cara penggunaan kekerasan Allah ini bertujuan untuk menumbangkan kekerasan manusia dalam rangka untuk membawa kedamaian. Walter Brueggemann juga menulis:

it is likely that the violence assigned to Yahweh is to be understood as counterviolence, as which functions primarily as a critical principle in order to undermine and destabilize other violence”. And so God’s violence is ‘not blind or unbridled violence’, but purposeful in the service of a non-violence end.[23]

Jadi, Allah bertindak menggunakan kekerasan untuk mengakhiri kekerasan itu dan supaya tidak menimbulkan kekerasan yang lebih buruk.

Pada hari Jumat, 28 Oktober 2011, Paus Benediktus bersama sekitar 300 pemimpin yang mewakili agama-agama di seluruh dunia di kota Asisi, Italia untuk memperingati 25 tahun doa sepanjang hari untuk perdamaian atau yang disebut Spirit Asisi yang diinisiasi almarhum Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986. Doa itu bertujuan untuk mengakhiri konflik perang dingin. Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa agama tidak boleh pernah digunakan sebagai alat pembenar untuk perang atau aksi terorisme. Ia  mengatakan; “ Sungguh ironis bahwa sekarang agama dipakai untuk membenarkan kekerasan. Dia menegaskan bahwa; “adalah sesuatu yang salah memisahkan iman dari kehidupan setiap hari, melalaikan Allah dari kehidupan harian manusia sungguh berbahaya”.[24]

Ajaran konsili vatikan II dalam Gaudium et Spes juga mengecam kekerasan dan keganasan akibat perang karena dapat menimbulkan kerusakan besar. Dalam GS artikel 77 dijelaskan makna perdamaian yang otentik dan amat luhur, serta mengecam keganasan perang, bermaksud menyerukan penuh semangat kepada umat Kristen untuk menggalang perdamaian dalam keadilan dan cinta kasih diantara mereka.[25] Kemudian ditegaskan kembali dalam GS artikel 78, karena manusia itu pendosa, maka selalu terancam bahaya perang. Tetapi sejauh orang-orang terhimpun oleh cinta kasih mengalahkan dosa, juga tindakan kekerasan akan diatasi, hingga terpenuhilah sabda: “mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (Yes 2:4b).

Penutup

Keprihatinan tentang kekerasan Allah dalam perjanjian lama telah memicu perkembangan kekerasan kumulatif selama abad ke-20 dengan aktivitas-aktivitas teroris, dan penyebaran konflik antar agama. Juga meningkatnya kesadaran bahwa kekerasan dalam alkitab ikut berperan dalam menyebarkan kekerasan di dunia. Tindakan Allah dalam menafsirkan alkitab dalam peristiwa itu, tetapi setidaknya kita mengakui bahwa alkitab tidak memberikan pengamanan dalam menafsirkan teks-teks kitab suci tersebut.

Kultur kekerasan yang telah mereka bangun, dari interpretasi-interpretasi atas kitab suci yang sangat bervariasi, dan banyaknya kontroversi dalam tradisi-tradisi agama telah melampaui persoalan kehendak Allah. Dengan adanya justifikasi atas kekerasan tersebut dalam pikiran, maka para teroris Kristen menjalankan aksi pembunuhan bersama dengan kepastian bahwa mereka mengikuti logika Allah.

Dalam literer kenabian, Allah memilih untuk terlibat dalam kekerasan dalam rangka membawa kepada tujuan yang baik. Dengan demikian Allah dapat mencegah kejahatan yang lebih besar. Melalui keterlibatan tersebut, Allah memperhitungkan efek kekerasan dari aktivitas manusia yang penuh dosa, dan dengan demikian memungkinkan masa depan tanpa kekerasan bagi umat Allah.

Daftar pustaka

Dokumen Gereja

Dokumen Konsili Vatikan II, “Gaudium et Spes” Seri Dokumen Gerejawi No. 19, Jakarta:1992

Buku-buku

Armstrong, Karen, Berperang Demi Tuhan, Bandung: Mizan, 2002

Cahill, Lisa Sowle, “Love Your Enemies”: Discipleship, Pacifism, and just War Theory, USA: Augsburg Forterss, 1994

Fretheim , Terence E., “ I was only a little angry”: Divine Violence in the prophets, (Interpretation: October 2004)

Juergensmeyer, Mark., Teror in the Mind of God”, USA: University of California Press, 2000

Internet

http://www.sagepub.com/upm.data/33557_6.pdf

http://www.suarapembaharuan.com/internasional/paus-agama-tidak-boleh-digunakan-sebagai-pembenaran-perang-dan-terorisme/12926


[1] Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan, Bandung: Mizan, 2002, hlm. IX

[2] Terence E. Fretheim, “ I was only a little angry”: Divine Violence in the prophets, (Interpretation: October 2004) p- 365

[3] Ibid., p-366

[4] Mark Juergensmeyer., Teror in the Mind of God”, USA: University of California Press, 2000, p-19

[5] Terence E. Fretheim., Op. Cit., p-366

[6] Mark Juergensmeyer., Op. Cit., p-366

[7] Ibid., p-5

[8] Ibid., p-6

[9] Ibid.,

[10]  http://www.sagepub.com/upm.data/33557_6.pdf, (chapter 6: Religious Terrorism), diakses 10 Mei 2012.

[11] Mark Juergensmeyer, Op.Cit

[12] Mark Juergensmeyer,  Ibid.

[13] Lisa Sowle Cahill, “Love Your Enemies”: Discipleship, Pacifism, and just War Theory, USA: Augsburg Forterss, 1994, p. 143-45

[14] Mark Juergensmeyer, Op. Cit., p-20

[15] The Army of  God movement was established in his trial some years ago when the initials AOG were found on abortion buiding’s that he was assucesed

[16]Mark Juergensmeyer,  Ibid., p-23

[17] Ibid., p-36

[18] Mark Juergensmeyer, Op. Cit p-39

[19] Ibid., p-40

[20] Karen Armstrong, Op. Cit., p-238.

[21] Ibid., p-368

[22] Karen Armstrong, Op. Cit.,p-371

[23] Ibid.

[24] http://www.suarapembaharuan.com/internasional/paus-agama-tidak-boleh-digunakan-sebagai-pembenaran-perang-dan-terorisme/12926, diakses 01 Mei 2012

[25] Dokumen Konsili Vatikan II, “Gaudium et Spes” Seri Dokumen Gerejawi No. 19, Jakarta:1992, hlm. 93Teologi

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s