DFT dalam pemikiran John Duns Scotus

Paus Yohanes Paulus II menggagas suatu relasi yang matang mengenai Filsafat dan Teologi, beliau menggambarkan seperti  dua sayap yang dengan mesra terbang bersama-sama mengarungi cakrawala untuk mencari kebenaran. Konsep ini menjadi semangat juga dalam pergumulan iman yang mencari sebuah pengertian. Pergumulan ini sangat hangat dibicarakan dalam diskusi-diskusi, maupun di bangku perkuliahan.  Iman yang mencari pengertian (fides querens intellectum)  pertama-tama dibahas melalui dialog oleh para pemikir-pemikir handal, dalam sebuah dialog Filsafat Telogi. Konsep dialog ini pun bukan pertama-tama lahir dari spekulasi atau imaginasi, melainkan dari sebuah kegelisahan, kerinduan, juga kecemasan manusia yang menggali kedalaman relasi dengan Sang Pencipta.[1]

Kegelisahan untuk mencari sebuah pengertian tentang kebenaran berangkat dari suatu pengenalan yang mendalam akan Tuhan, yang dengan sendirinya juga akan mengalir kedalam realitas hidup manusia. Suatu relasi yang diawali sebagai relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, kemudian relasi antar ciptaanNya. Relasi ini merupakan relasi yang absolut dengan yang fana. Sehingga dialog yang dilakukan merupakan suatu pengalaman manusia dalam keseluruhan budi dan batinnya atau bahkan sebuah perziarahan hidup manusia.

Dialog Filsafat Teologi bertanggung jawab atas sebuah pertaruhan eksistensial relasi antara manusia dan TuhanNya dan relasi dengan sesamanya. Karena menyangkut eksistensi Tuhan, sehingga dialog ini akan dikemas dengan pemikiran Jhon Duns Scotus. Pembahasana ini juga tidak mengesampingkan tokoh-tokoh yang sudah terlebih dahulu mengusung dialog, seperti Paulus, Agustinus, Anselmus, serta Thomas Aquinas. Melainkan pemikiran dari Jhon Don Scotus dielaborasikan dengan pemikiran mereka. semuanya dilakukan dengan maksud memperkaya serta menguatkan argumen tentang eksistensi Allah.

 

Panorama DFT

Memandang DFT ini secara menyeluruh tidak bias terlepas dari suatu konsep tentang Eksistensi Allah. Sebab hal inilah yang menjadi sumber diskusi pada dialog filsafat dan teologi. DFT ini secara cerdas dapat dimengerti berkat cetusan-cetusan pemikiran dari para ahli, seperti St. Paulus dalam perjumpaannya dengan para filosof Atena. Waktu itu Paulus mengalami kebuntuan penjelasan tentang kebangkitan badan. Hal ini sangat sulit dimengerti menurut konsep orang Yunani yang memiliki kebuduayaan rasionalitas tinggi. Konsep mereka sangat kental dipengaruhi oleh filsafat Epikuras dan Stoa, dimana akhir dari kehidupan dimengerti sebagai akhir dari penderitaan atau kesenangan yang dapat dirasakan badan serta badan ini bukanlah manusia, sebab eksistensi manusia terletak di jiwa.[2] Disinilah letak kebuntuan dari pewartaan St. Paulus dalam menyebarkan iman. Selain Paulus,

DFT ini juga diusung kedalam pemikiran Agustinus, sebagai suatu pengembaraan untuk mengajar kebenaran dan cinta Tuhan. Dalam Confessiones, Agustinus menggambarkan dirinya yang terlambat untuk mencintai Allah, disinilah makna “Kebenaran” Agustinus. Relasi yang dilakukan Agustinus pertama-tama adalah memuji Tuhan. Dari sini keinginan tersebut berasal dari Tuhan yang dianugrahakan kepada manusia, tetapi masihlah harus dicari. Konsekuensi yang terjalin adalah bahwa manusia harus berlari mengejar kebenaran demi memuaskan kegelisahan hidupnya. Akhirnya, pemaknaan filosofis Agustinus merupakan kegelisahannya untuk mengenal dan mengerti Allah. Relasi ini akan terjalin hanya melalui sebuah pergumulan iman.

Cetusan dalam DFT ini kita juga tidak boleh melupakan dua tokoh yang sangat berpengaruh dalam filsafat mediovalr in, mereka adalah Anselmus dan Thomas Aquninas. Keduanya sangat member kontribusi yang sangat penting bagi pemaknaan DFT ini dalam kehidupan beriman. Mereka bukan lagi berbicara mengenai doktrin-doktrin yang hanya berupa tulisan melainkan iman yang benar-benar mencari pengertian dalam kehidupan sehari-hari manusia. Pergulatan yang dialami Anselmus memang berbeda dengan pergulatan yang dialami oleh Thomas, akan tetapi mereka menjadi sama ketika iman ini harus dimengerti ke dalama kehidupan sehari-hari. Dari panorama menganai DFT ini dapat ditarik kesimpulan bahwa DFT ini merupakan perziarahan hidup manusia yang terus secara continue berlanjut, tak akan pernah habis. Hingga pada akhirnya sampai pada tahun sekitar 1265-1308, perziarahan ini sampai kepada seorang teolog serta filosof yang bernama John Duns Scotus. Scotus mengunyah kembali mengenai DFT ini sebagai suatu pergumulan imannya, sehingga DFT ini semakin diperkaya oleh pemikiran-pemikiran beliau

 Skema DFT John Duns Scotus

Dialog Filsafat Teologi yang dikembangkan oleh Scotus ini tidak  akan lepas dari konsep Aristoteles. Sebagai Aristotelian, dia berpikir bahwa semua pengetahuan kita dimulai dalam beberapa cara dari pengalaman manusia yang masuk akal. Bahkan dia yakin bahwa dari awal yang sederhana seperti itu kita bisa datang untuk memahami Allah.  Scotus setuju dengan Thomas Aquinas bahwa semua pengetahuan kita tentang Allah dimulai dari makhluk, dan bahwa sebagai hasilnya kita dapat membuktikan keberadaan dan sifat Allah dengan apa yang  disebut Quia argumen (penalaran dari efek menyebabkan), bukan dengan argumen propter pound (penalaran dari esensi terhadap karakteristik). Aquinas dan Scotus selanjutnya setuju bahwa, untuk alasan yang sama, kita tidak dapat mengetahui esensi Tuhan dalam hidup ini. Perbedaan utama antara kedua penulis adalah bahwa Scotus percaya kita dapat menerapkan predikat tertentu secara univokal – dengan arti yang sama persis – kepada Tuhan dan makhluk, sedangkan Aquinas menegaskan bahwa ini tidak mungkin, dan bahwa kita hanya dapat menggunakan cara  analogis, di mana sebuah kata seperti yang diterapkan kepada Allah memiliki arti yang berbeda,  meskipun terkait, arti dari kata yang sama yang diterapkan pada makhluk[3].

Argumen lain untuk konsep univocal didasarkan pada argumen dari Anselmus. Anselmus mengatakan “Sekarang orang-orang menyingkirkan mereka yang hanya kerabat, karena relatif tidak mengungkapkan sifat dari suatu hal sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri. (Jadi kita tidak berbicara tentang pribadi seperti “makhluk tertinggi” atau “Pencipta,” karena meskipun mereka benar menerapkan kepada Allah, mereka tidak menceritakan apa-apa tentang Tuhan yang ada di dalam dirinya sendiri, hanya tentang bagaimana ia berhubungan dengan yang lain.) perkataan dari Anselmus ini kiranya jangan dipandang sebagai suatu ajaran bidaah, melainkan harus dipandang sebagai suatu pergumulan seseorang yang bergulat pada imannya, yang sangat merindukan pengenalan dan pengertiaan yang lebih mendalam akan Tuhannya, sehingga pergumulan ini sebagai relasi cinta dirinya dengan Tuhannya.[4]

Jadi Scotus mengklaim bahwa kesempurnaan murni adalah milik Allah. Tapi dia mengambil langkah lebih jauh dari Anselmus. Dia mengatakan bahwa “mereka harus didasarkan secara univokal kepada Allah,  jika tidak seluruh  usaha  untuk menjadi sempurna tidak akan masuk akal. Berikut argumen. Jika kita akan menggunakan konsep dari Anselmus, pertama kita harus datang dengan konsep kita – misalnya, dari yang baik. Kemudian kita memeriksa konsep untuk melihat apakah itu dalam segala hal lebih baik untuk menjadi baik dari pada tidak-baik.

Bukti Keberadaan Allah

Scotus argumen untuk keberadaan Tuhan secara benar dianggap sebagai salah satu kontribusi paling menonjol yang pernah dibuat untuk teologi alamiah. Argumen ini sangat kompleks, dengan beberapa sub-argumen untuk hampir setiap kesimpulan penting. Scotus bermula dengan argumen bahwa ada agen pertama (makhluk yang pertama di kausalitas efisien). Scotus kemudian melanjutkan untuk menyatakan bahwa ada tujuan akhir dari kegiatan (makhluk yang pertama di kausalitas final), dan makhluk secara maksimal sangat baik (makhluk yang pertama, Scotus menyebutnya  “keunggulan”). Scotus kemudian berpendapat bahwa seorang dapat menikmati “keunggulan” ketika ia diberkahi dengan kecerdasan dan kehendak,  dan bahwa setiap makhluk tersebut adalah tak terbatas.  Akhirnya, ia berpendapat bahwa hanya ada satu makhluk tersebut, yaitu Allah sendiri.

Scotus dalam  membukti tentang keberadaan Tuhan,  klaim bahwa Allah itu tak terbatas sangatlah cepat. Seperti yang telah kita lihat, konsep “makhluk tak terbatas” memiliki peran istimewa dalam konsep Scotus ini. Sebagai pendekatan pertama, kita dapat mengatakan bahwa tak terhingga secara ilahai adalah untuk Scotus yaitu  kesederhanaan ilahi yang juga merupakan konsep dari Aquinas. Tetapi ada beberapa perbedaan penting antara peran kesederhanaan dalam Aquinas dan peran tak terhingga di  Scotus. Yang paling penting, saya pikir, adalah bahwa dalam kesederhanaan Aquinas tindakan secara ontologis berguna untuk semantik teologis.  Kesederhanaan adalah hal kunci tentang keberadaan Tuhan, metafisika hanyalah merumitkan bahasa kita tentang Tuhan. Allah seharusnya menjadi sederhana, tetapi karena bahasa kita semua berasal dari makhluk,  yang semuanya baik subsisten tapi kompleks atau sederhana tetapi non-subsisten,  manusia tidak memiliki cara untuk menerapkan bahasa yang valid kepada Allah.

Perziarahan yang panjang

Kegagalan DFT terletak pada anggapan kita bahwa dialog ini adalah sebagai sintesis atau informasi Filosofis serta Teologis semata. Atau juga dialog ini diterjemahkan sebagai sebuah aktivitas yang berhenti di ranah akal budi adalah sebuah kenaifan. Melainkan dialog ini harus dicerna sebagai suatu aktivitas KETERLIBATAN. Aktivitas ini juga sebagai suatu yang memiliki sifat memanusiawikan.  Jhon Duns Scotus berperndapat bahwa pengetahuan kita tentang Allah dimulai dari makhluk, dan bahwa sebagai hasilnya kita dapat membuktikan keberadaan dan sifat Allah.

Kiranya pemikiran Scotus membuka cakrawala kita agar sayap filsafat dan teologi dapat terbang secara bersama-sama untuk sampai kepada kebenaran yang tertinggi yaitu pemahaman kita mengenai iman akan Allah. Sehingga dialog yang seharusnya dibangun sungguh-sungguh berasal dari pengalaman hidup manusia, dan bukan berasala dari akal budi semata, melainkan berasal dari kecemasan, kesedihan, kesusahan dari sesama kita, dari siapa yang ada di dekat kita. inilah perwujudan yang sempurna, ketika iman mencari sebuah pengertian,dan pengertian itu muncul dari suara atau jeritan sesama kita. Pengenalan kita akan Allah, dapat dipahami ketika kita berani keluar dari diri kita dan bergegas berlari menuju suatu perbuatan yang nyata kepada sesama kita yang membutuhkan. Iman tanpa perbuatan adalah mati.  Konsep ini yang juga menjadi semangat dalam peristiwa pembaharuan Gereja dalam Konsili Vatikan II. Dimana berfilsafat dan berteologi harus berangkat dari pengalaman manusia dan mengabdi pada kehidupan sehari-hari. Inilah makna perziarahan yang tak pernah tuntas dari Dialog Filsafat Teologi.

Daftar Kepustakaan

 

Riyanto, Prof. Dr. Armada, DFT: Dialog Filsafat Teologi (makalah) dalam Dies Natalis STF Driyarkara pada 25 Februari 2012

Internet

 

Mulholland, Fr. Seamus. “The Metaphysics of John Duns Scotus” dalam             www.philosophypathways.com/essays/mulholland3.html, diunduh pada 10 Mei 2012

Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2009. “John Duns Scotus” dalam http://plato.stanford.edu/entries/duns-scotus/, diunduh pada 10 Oktober 2012


[1] .  Dr. Armada Riyanto, DFT: Dialog Filsafat Teologi (makalah) dalam Dies Natalis STF Driyarkara pada 25 Februari 2012, hlm. 1

[2] Ibid, hal. 3

[3] Mulholland, Fr. Seamus. “The Metaphysics of John Duns Scotus” dalam             www.philosophypathways.com/essays/mulholland3.html, diunduh pada 10 Mei 2012

[4] Prof.  Dr. Armada Riyanto, op cit, hal. 11

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s