Natal Sebagai Misteri Keselamatan

Memahami Makna Adven dan Natal

Pengantar

Waktunya akan tiba, bahwa umat kristiani seluruh dunia, akan merayakan Natal, sebagai peringatan akan kelahiran Yesus sang Juruselamat manusia. Namun, seringkali umat kristen kurang mengerti apa arti dan makna Natal. Natal sering kali hanya menjadi sebuah perayaan besar-besaran. Sehingga tidak menutup kemungkinan, bahwa ada sebagian orang sudah merayakan Natal, sebelum tiba waktunya. Karena itu, tulisan ini mencoba melihat kembali apa arti dan makna Natal dalam peristiwa yang akan dirayakan pada tanggal 25 desember nanti. Namun sebelum melihat arti dan makna natal, alangkah baiknya kita melihat dulu latar belakang sejaran dan susunan masa natal.

Susunan Masa adven dan Natal

Adven dan Natal menjadi salah satu tonggak dari Tahun Liturgi Gereja Katolik. Keduanya merupakan lingkaran yang independen dari pesta Paskah, namun tetap dalam kesatuan dengan Misteri Kristus. Karena itu, antara Natal dan Paskah memiliki memiliki susunan yang kurang lebih mirip yaitu:

Persiapan (Adven)

Hari Raya (Natal-Epifania)

Perpanjangan masa Natal (pelbagai perayaan – Baptisan Tuhan di Grj Latin) dan sampai pada Yesus Dipersembahkan di Kenisah.

Data dan perkembangan perayaan Adven tidak jelas. Namun Gereja Katolik Roma (Gereja Barat) dan Gereja Timur sudah memberikan makna teologi dan pastoral. Beberapa catatan penting untuk memahami perkembangan lingkaran ini, dalam perkembangan liturgi ditemukan dalam kotbah dan perayaan Paskah muncul ungkapan-ungkapan dan perayaan misteri Inkarnasi. Dari perkembangan refleksi teologis, misteri Kristus dan Maria, terutama sejak abad IV, melalui misteri Paskah, terarah pada Inkarnasi Sabda dan keibuan Maria.

Di balik perayaan ini, ditemukan unsur kepercayaan rakyat/kafir tentang misteri cahaya dan matahari yang tak terkalahkan, baik di Timur maupun di Barat; pesta yang oleh umat Kristiani “diinjili” dan disesuaikan.  Pengaruh  Gereja Induk Yerusalem dengan perayaan-perayaan yang dihubungkan pada tempat kelahiran Yesus di Betlehem, di gua dan Basilika Kelahiran. Disamping itu, adanya faktor saling pengaruh antara Gereja Timur dan Barat yaitu Gereja Timur merayakan lebih dahulu tgl 6 Januari sebagai Pesta Penampakan Tuhan, yg dihubungkan dengan pesta cahaya, namun terarah kepada peringatan misteri cahaya dalam Pembaptisan Kristus. Juga Gereja Barat (khususnya Roma) menetapkan tgl 25 Desember, yang dlm pesta kafir dirayakan titik balik musim semi untuk menghormati Matahari yg tak Terkalahkan, dengan perayaan Natal Kristus. Pada akhir abad IV, Timur juga merayakan Natal Kristus tgl 25 Desember (Yoh. Krisostomus, Barat jg merayakan Epifania yg menjadi puncak manifestasi Tuhan dalam liturgi Roma: Majus, Baptisan, Kana.

Akhirnya, di sekitar Natal, lahirlah perayaan awal Maria dalam Gereja, yang merupakan perkembangan logis peran serta Maria dalam karya keselamatan. Pesta Maria ini merupakan penjabaran dari Bacaan Injil tentang Kabar Gembira sebelum Natal dan suatu synaxis ungkpana syukur menghormati Bunda Allah pada saat Natal Tuhan. Perayaan para kudus juga mendapatkan cikal bakalnya dalam Natal Tuhan (Stefanus, kanak-kanan suci, Yohanes rasul).

A.    ADVEN = MASA PENANTIAN
A.1. Arti dan Latar Belakang Sejarah

Asal mula masa Adven sebagai masa liturgi memperisapkan Natal mengalami perkembangan sejarah & teologi (menyatukan 2 kedatangan Kristus) yang cukup kompleks. Catatan sejarah pd abad IV perayaan ini tersebar di pelbagai Gereja, terutama di Barat, yg dpt membantu kita melihat bagaimana Adven dirayakan sebagai persiapan Natal, setidaknya sesudah Leo Agung yg mengacuhkan masa ini:

–          Di Spanyol

Kanon Konsili Zaragoza (380-381) mengundang umuat beriman menghadiri pertemuan selama 3 minggu mendahului Epifania. Jadi dimulai sekitar 17 Desember. Umat diundang untuk menghindarkan mereka dari pesta kafir masa itu, bersatu dalam persekutuan, untuk menghindari penitensi berlebihan (berjalan tanpa kasut, bersembunyi di gunung). Pada akhirnya, menjadi masa persiapan baptisan, menurut kebiasaan Timur, untuk dibaptis pada Pesta Pembaptisan Tuhan.

–          Di Perancis

Menurut teks sebelum abad XI yg dianggap berasal dari Hilarius dari Poitiers (+367), umat menjalankan 3 minggu masa penitensi sebagai reaksi terhadap pesta kafir pada akhir bulan Desember. Pada abad V ditemukan semacam “prapaskah” atau masa persiapan Natal 25 Desember, yang dimulai 6 minggu sebelumnya. Selain itu, Kotbah St. Maximus dr Turin:”Dalam mempersiapkan Natal Tuhan, kita membersihkan hati nurani kita dari setiap kecemaran, memenuhinya dengan pelbagai kelimpahan rahmat …”

–          Di Ravenna

Ravenna, menjadi pusat kerajaan, dengan basilika yg indah, budaya yg luar biasa, persiapan Natal memiliki ciri yg lebih bernuansa misteri, melalui doa-doa yg menunjuk pada kelahiran Tuhan dan persiapannya dalam PL. Dalam Kotbah St. Petrus Krisologus & doa-doa Rotolo dari Ravenna, yang diterbitkan bersamaan dengan Sacramentario Veronese, terlihat persiapan yang lebih kontemplatif terhadap misteri inkarnasi drpd asketik, lebih teologis drpd penitensi. Di sini disebutkan lbh bnyk tentang misteri Sabda yg berinkarnasi, keterlibatan Maria, penantian Zakaria & Elisabet.

 –          Di Roma

Sementara itu, di kota Roma, masa Adven yang tetap mulai dikenal dalam abad VI. Dari perayaan 6 minggu sebelumnya, yg masih ditemukan dalam ritus Ambrosianus, ditetapkan 4 minggu oleh Gregorius Agung. Ciri eskatologis masa ini sepertinya dipengaruhi oleh St. Columbanus, ditegaskan dalam homili Gregorius Agung tentang Luk 21:25-33, dengan tema penghakiman terakhir, yg menandai minggu pertama Adven.

Adven merupakan kedatangan raja, dipakai dalam liturgi sebagai penantian kedatangan mulia Kristus, yg adalah penampakan definitifnya ke dunia pada akhir jaman. Bagaimanapun kedua kedatangan Kristus yang tampak dalam Adven sekarang, berasal dari jaman dulu. Katekese 15 dari Sirilus yang dipakai Gereja dalam Ibadat Sabda Minggu Pertama Adven merupakan buktinya.

A.2. Struktur Liturgi Masa Adven Dewasa ini

Struktur masa Adven terdiri dari 4 minggu yang dibentuk dalam dua periode:

Minggu I-16 Desember: penantian eskatologis

17-24 Desember: persiapan merayakan Natal Tuhan.

A.3. Tiga Tokoh Alkitabiah Masa Adven

a.       Yesaya

Pewartaan Yesaya lebih memperlihatkan pengharapan besar: meneguhkan hati dan menghibur hati umat. Dipilih bagian2 paling berarti utk membentuk kesatuan warta pengharapan abadi bagi manusia segala jaman.

 b.      Yohanes Pembaptis

Yohanes pembaptis menjadi pendahulu Mesias yang menghayati sungguh masa penantian. Seruannya: persiapkan jalan bagi Tuhan …Selain itu, ia juga memperkenalkan dan menunjuk Yesus (Bandingkan dengan Yoh 1:29-34).

c.       Maria

Marialis Cultus 3-4 mengatakan bahwa Adven adalah masa yang tepat merenungkan peranan Maria dalam karya keselamatan. Karena itu, sejak hari pertama Adven, ada pelbagai unsur yang menampilkan penantian dan penerimaan misteri Kristus oleh Perawan dari Nazaret. Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda ditempatkan sebagai “persiapan pokok kedatangan Penyelamat dan permulaan yg penuh gembira dari Gereja yang tak bernoda dan tak berkerut” (MC 3).

Pada tanggal 17-24 Maria menjadi tokoh utama dalam bacaan liturgi, prefasi Adven II yang menampilkan penantian Sang Bunda, dalam doa (terutama 20 Desember) yang menampilkan teks kuno Rotolo dari Ravenna, atau doa persiapan persembahan Minggu IV Adven yang merupakan seruan khas yang menyatukan misteri Ekaristi dengan Natal dalam parelisme antar Maria dan Gereja oleh Roh Kudus.

Maria merupakan Perawan Adven dalam dua dimensi liturgis: penantian dan teladan. Penantian artinya penantian Maria akan kelahiran Yesus, dan penantian akan “pemberian” diri Allah dalam Yesus Kristus. Dalam hal teladan, Maria menjadi teladan bagi Gereja yang hidup seperti Maria, sebagai Hawa baru, yang bersih dari dosa, dan taat dalam iman.

A.4 Teologi dan Pastoral Masa Adven

4.1  Tiga dimensi teologis masa Adven

Adven mengingatkan kita akan dimensi historis-sakramentalis-keselamatan. Tuhan yang dinantikan adalah Tuhan dalam sejarah hidup manusia, Tuhan yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Selain itu, Adven menampakkan dengan jelas dimensi eskatologis kehidupan pengikut Kristus: menantikan kepenuhan keselamatan Kristus pada kedatangan-Nya ang definitif. Masa Adven juga mengingatkan Gereja akan tugas misionernya dan persiapan yang terus menerus menyambut kedatangan Kerajaan Allah.

Adven dihayati dengan beberapa sikap dasar: sikap siap siaga, optimisme dalam pengharapan, tobat dan berpaling pada Allah. Selain itu, Adven merupakan suatu perjalanan Penantian dalam Kristus. Ada dua bentuk seruan kedatangan Mesias yaitu seruan Marana tha  yang berarti datanglah, ya Tuhan (bdk. Why 20:22), dan seruan Maran atha: “Tuhan dating” (bdk 1Kor 16:22).

Kepastian bahwa penantian dalam Perjanjian Lama dan kedatangan Kristus dalam daging, mendorong penghayatan akan penantian kedatangan-Nya dalam kepenuhan kemuliaan . Masa Adven menjadi sebuah perjalanan bersama Roh Kudus dimana Roh Kudus telah mendahului kedatangan Yesus dimana Roh Kudus berbicara dengan pengantaraan para nabi, menginspirasikan nubuat-nubuat mesianis, dan memenuhi hati Zakaria, Elisabet, Yohanes dan Maria dengan sukacita besar, serta bernubuat dalam Benedictus dan Magnificat.

4.2  Pastoral masa Adven

           Masa adven menjadi suatu perjalanan Gereja misionaris dan peziarah. Liturgi Adven menempatkan Gereja dalam masa penuh ungkapan spiritual: penantian, pengharapan, doa demi keselamatan universal. Selain itu, Gereja berdoa bagi Adven definitif, di mana Kristus datang bagi semua orang di atas bumi yg belum mengenal-Nya.

           Gereja menemukan kembali misi pewartaan mesianisnya bagi seluruh bangsa yang “berkehendak baik”, serta membaharui misi eskatologisnya bagi dunia, menyatakan harapannya, mengarahkan semua manusia akan kedatangan mesias. Karena itu, Adven perlu menampakkan harapan bagi dunia sekarang ini yg penuh dengan konsumerisme dan ketakberdayaan.

Selain itu sebaiknya diadakan perayaan penitensi yang bertemakan penantian. Dapat juga diadakan pelbagai bentuk doa yang menggunakan teks-teks liturgi bagi umat beriman dan anak-anak.

           Upaya lain yang bisa dilakukan dalam karya pastoral yaitu menyusun doa-doa yg terinspirasikan kehadiran & penantian Maria di masa Adven, atau juga menggunakan himne Akathistos atau perayaan lain seperti Angelus dari OSM. Dapat dipakai beberapa simbol lain, seperti lingkaran Adven yang menggambarkan 4 minggu penantian. Di beberapa tempat diadakan novena Adven, yakni penantian dekat kelahiran Yesus Kristus.

A.5 Liturgi masa Adven: Bacaan Sabda Allah pada Masa Adven

Bacaan Harian

Dalam bacaan harian, bagian pertama Adven yaitu Adven I sampai tanggal 17 Desember dibacakan kitab Nabi Yesaya secara berurutan, namun tidak berkesinambungan, dengan kutipan2 messianis dan eskatologis. Sementara itu, dalam bacaan Injil dipilih dengan yang berhubungan dengan penampakan pertama Tuhan dengan janji kedatangan eskatologis.

            Selain itu, dari hari Jumat Minggu Adven II dibacakan seluruh teks yang berbicara tentang Yohanese Pembaptis, pendahulu Mesias. Bagian ke dua Adven (sesudah 17 Desember), dibacakan dibacakan nubuat2 mesianis dari PL, dan teks Injil tentang masa kanak-kanak Yesus menurut Matius & Lukas

Bacaan Minggu

Dalam bacaan pertama berunsur profetis terutama dari Yesaya, juga Yereima, Mikha, Barukh, Zefanya. Bacaan ke dua dari Surat Rasul dengan seruan agar berjaga-jaga dan hidup yang layak, dari Paulus, Yakobus dan Ibrani. Sementara Injil minggu pertama bersifat eskatologis. Minggu ke dua menyinggung sang Pendahulu. Minggu ke empat mengenai kedatangan Tuhan yang sudah dipersiapkan.

Lingkaran masa adven dalam kaitan dengan bacaan hari minggu dapat dilihat sebagai berikut:

Lingkaran Tahun A: pewartaan kepada Yosef.

Lingkaran Tahun B: pewartaan kepada Maria.

Lingkaran Tahun C: visitasi

B.     NATAL

B.1 AWAL MULA PERAYAAN

Pada Tahun 336 Natal sudah dirayakan di Roma pada tanggal 25 Desember. Yoh anes Krisostomus: Natal 25 Desember berbeda aspeknya dari perayaan Epifania 6 Januari. Kemudian Gereja mengambil alih perayaan kafir Romawi Dies Natalis Solis Invicti, untuk mengkristenkan perayaan itu, dan menanggapi bidaah-bidaah Kristologis (konsili Nicea, Efesus, Calcedon, Konstantinopel).

B.2 STRUKTUR LITURGI MASA NATAL

2.1 SABDA ALLAH

Masa natal dihitung mulai Ibadat Sore I Hari Raya Natal – Minggu sesudah Epifania (Pesta Pembaptisan Tuhan = Minggu Biasa I). Dalam Tradisi Romawi dirayakan 3 Ekaristi:

q        Ekaristi Malam (Misa Malaikat) = kelahiran Yesus Kristus di Betlehem (uk 2:1-14).

q        Ekaristi Fajar (Misa Gembala) = para gembala mengunjungi Yesus (Luk 2:15-20).

q        Ekaristi Siang (Misa Sabda) = misteri Sang Sabda menjadi Daging (Yoh 1:1-8).

Sementara itu, yang perlu diketahui juga bahwa bacaan dari tiga Misa ini ini memberi kesaksian akan misteri yang dirayakan:

q         Yesaya: dibacakan karena dialah yang mewartakan pertama kali kegembiraan mesianis kedatangan Sang Raja.

q         Paulus: berbicara tentang karunia Allah dan kasihnya kepada manusia, philantrophia divinia yang terungkap dalam Natal. Penulis surat kepada orang Ibrani menggambarkan Sabda Allah Bapa yang terwujud dalam Kristus.

q         Lukas: penulis Injil kanak-kanak Yesus, menawarkan pewartaan tentang kelahiran Yesus, penghormatan para gembala. Yohanes dalam Prolognya menggambarkan Sang Sabda yang ada pada Bapa dan menjadi daging.

2.2  DOA GEREJA

Dalam Gereja Katolik, ada banyak ungkapan yang indah dan kaya tentang Natal. Pertama natal sebagai Poros teologis. Poros teologi natal terlihat dalam tiga prefasi Natal. Selain itu Doa pembuka dan doa-doa lain sangat tepat menggambarkan pelbagai aspek misteri Natal. Teks-teks Ibadat Bacaan mengisahkan suatu teologi natal yang kaya dengan misteri Natal. Bisa dilihat dalam Madah Sedulius atau antifon-antifon dari Ibadat Harian

Ù  Allah Bapa kami, Engkau membuat malam suci kudus ini bermandikan cahaya sejati. Kami mohon, semoga kami yang di dunia ini mengagumi misteri cahaya, kelak di surga dapat menikmatinya pula dengan sukacita. Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kami …

Ù  Allah Bapa kami yang mahakuasa, kami telah Kausinari cahaya baru, ialah cahaya Sabda-Mu yang menjadi manusia. Kami mohon, semoga cahaya itu memancar di dalam karya kami, sebagaimana memancar di dallam budi kami karena iman. Demi Yesus Kristus …

 B.3 EKARISTI NATAL

Pusat perayaan Natal ada pada Ekaristi. Natal menjadi misteri yang hadir nyata, bukan karena lahirnya bayi YESUS di atas altar, tetapi karena dalam Ekaristi hadir Sabda yang Berinkarnasi, yang wafat dan yang dimuliakan. Dalam teologi Yohanes, Roti Hidup adalah Roti yang turun dari Surga. Dalam perayaan Ekaristi dan dalam communio ekaristis, misteri Natal adalah kehadiran yang menyelamatkan dari Dia yang lahir bagi kita.

Sesudah Natal dirayakan tiga pesta orang kudus, yang disebut Pendamping Kristus (comites Christi) yaitu: St. Stefanus, St. Yohanes Rasul, dan Para Kanak-kanak Suci, martir.

Minggu dalam oktaf Natal dirayakan Pesta Keluarga kudus, yang bisa digolongkan devosional, dari Kanada abad XIX.

Paus Leo XIII menetapkan pesta ini pada tahun 1892 agar umat menghormati Keluarga Kudus di mana2, agar umat beriman dapat menjadikan keluarga kudus sebagai model kehidupan keluarga. Pada tanggal 26 Oktober 1921 Kongregasi Ibadat Ilahi (di bawah Paus Benediktus XV) memasukkan Pesta ini ke dalam Kalender Liturgi Latin.

Pada tahun 1972 Paus Paulus VI menulis dalam Seruan Apostolik Marialis Cultus:
Pada Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf (Minggu dalam Oktaf Natal) Gereja merenungkan dengan rasa hormat yang mendalam terhadap hidup kudus yang dijalani dalam rumah di Nazaret oleh Yesus, Anak Allah dan Anak Manusia, Maria ibunya, dan Yusuf yang tulus (cf. Mat. 1:19).

 

B.4 Makna natal: beberapa Teori

Pada zaman awali, peristiwa natal dimaknai sebagai bentuk tanggapan atas pesta kafir Ianus Bifronte dengan sukaria tak terkendali dan kemesuman. Selain itu, natal juga merupakan sebagai bentuk penghormatan akan peran Maria sebagai theotokos dan tanggapan atas bidaah Nestorius (Konsili Efesus). Namun oleh Gereja Katolik Roma, Natal dimaknai sebagai berikut:

a. Natal sebagai Misteri Keselamatan: Artinya bahwa natal bukan sekadar fakta masa lampau, namun terus menerus menjadi baru bagi hidup sekarang à “Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Titik awal kisah Misteri Paskah, Sabda yang menjadi daging yang akan menjadi kurban sembelihan di atas salib. Munculnya masa natal ini, juga dengan maksud melawan pandangan  yang dianggap bidaah oleh Gereja Katolik yaitu gnosticisme, arianisme, doketisme, manikheisme dan monofisitisme.

B. Natal sebagai Persilangan yang Menakjubkan antara Kodrat Ilahi dan Kodrat Manusiawi:  Artinya bahwa Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi seperti Allah. Selain itu, adanya partisipasi manusia pada kodrat ilahi Sang Sabda.

B.5 Spiritualitas Perayaan Natal

1. Natal = perayaan Misteri Terang dimana Kristus adalah terang dunia dimana kelahiran-Nya di tengah malam merupakan terang bagi dunia yang digelapkan dosa.

2. Pemulihan Kosmis:

Setelah dosa menghancurkan dunia, Natal menjadi pemulihan kosmis: Sabda yang berinkarnasi menyatukan kodrat Allah dan manusia dalam diri-Nya. Maria menjadi Hawa baru, dan terbentuk bumi baru.

3. Misteri Peralihan menuju Penebusan. Manusia menemukan kembali citranya dalam Kristus, diciptakan kembali dan dilahirkan kembali dalam Kristus.

C. Penutup dan Refleksi

Dengan mengetahui sejaran, asal usul masa adven dan natal, Gereja mengajak untuk senantiasa menanti kedatangan Kristus yang akan dating yaitu dalam masa Natal. Penantian ini tentu tidak menjadi sebuah kegiatan yang pasif, namun senantiasa dipenuhi dengan suka cita dan dalam sikap pertobatan hati secara terus menerus. 

Namun sebagai refleksi kritis akan Natal tahun ini, saya mengajak kita semua untuk melihat lebih dalam lagi kedalaman makna sebuah natal. Natal janganlah dilihat hanya sebagai kesempatan untuk bersuka cita karena kelahiran Kristus. Yah..menurut saya hal ini tidak salah, karena sebagai tanda bentuk ungkapan syukur, dimana Allah melalui Yesus Kristus telah turut ambil bagian dalam kemanusiaan kita, sekalipun Dia tidak sama dengan kita dalam hal kedosaan manusia. Akan tetapi, jika hal ini yang lebih utama dalam kita rayakan dalam peristiwa natal, alangkah disayangkan karena ternyata begitu dangkalnya iman kita akan Kristus.

Akan tetapi, baiklah kita melihat makna di balik peristiwa natal itu sendiri. Natal telah kita alami. Jika boleh saya katakan bahwa natal hendaklah kita rayakan setiap saat dan paling kurang setiap hari. Artinya apa? Dengan kuasa yang kita terima dari Allah yaitu kuasa istimewa, dimana kita menjadi anak-anak Allah, kita telah dimampukan Allah untuk “berbuat lebih” dalam kehidupan kita.

Artinya, bahwa dengan kemampuan itu, Allah mengajak kita untuk senantiasa terus-menerus membaharui diri (baca: lahir kembali secara terus menerus) dalam kehidupan kita. Karena itu kita bisa bertanya, sejauh mana kita telah merayakan natal dalam kehidupan kita? Apakah natal hanya dirayakan pada saat 25 Desember yang akan dating??. Mari kita melihat diri kita, sejauh mana kita telah merayakan natal dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan komentar

Filed under Liturgi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s