GERAKAN PEREMPUAN ISLAM

1.      Pengantar

Realitas sosial di lingkungan masyarakat muslim menjelaskan secara nyata betapa perempuan masih mengalami diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan. Ironisnya, hampir semua perlakukan destruktif tersebut mendapat justifikasi agama. Buktinya sangat kasat mata. Atas nama syariat islam, perempuan dilarang berkiprah di dunia politik dan juga dilarang menjadi pemimpin karena jika terpilih menjadi kepala negara dikhawatirkan akan membawa bencana dalam kehidupan bangsa. Bahkan di lingkup rumah tangga saja perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Atas dalih agama, perempuan dipandang makhluk kotor sehingga harus dienyahkan dari rumah ibadat ketika menstruasi dan sama sekali tidak diberikan akses untuk memimpin ritual agama.

Potret buram tentang perempuan Islam dalam realitas sosiologis tersebut mengingatkan kita akan sebuah gerakan Islam yang dewasa ini sangat diperdebatkan yaitu gerakan perempuan Islam. Gerakan perempuan Islam atau lebih sering dikenal sebagai gerakan feminisme Islam merupakan suatu perjuangan membebaskan perempuan dari kedudukan yang tersubordinasi, terepresi dan termarginalisasi menuju kedudukan yang seimbang dengan kaum laki-laki. Apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh gerakan tersebut dan apakah gerakan tersebut merupakan suatu gerakan Islam yang orisinal dan bagaimana gerakan tersebut dalam konteks Indonesia? Semua pertanyaan tersebut akan  dibahas dalam paper ini.

2.      Perempuan dalam al-Quran dan Hadis

Sebagai sumber hukum Islam, dan sumber Islam secara keseluruhan, al-Quran dan Hadis juga menyinggung persoalan perempuan, baik perempuan sebagai individu, sebagai istri, sebagai anggota masyarakat atau identitas lainnya. Penggambaran al-Quran tentang perempuan dijelaskan menurut kejadian dan konteks tertentu. Misalnya, sebagai istri al-Quran menyebutkan bahwa perempuan bisa dikenai sanksi oleh suami bila istri membantah perintah suami (yang dikenal dengan istilah nusyuz dalam Hukum Islam)

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain , dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri  ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya . Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”(QS. 4:34)

Selain bisa dipukul bila membangkang, istri juga bisa dipoligami oleh suaminya.

”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap  perempuan yang yatim , maka kawinilah wanita-wanita  yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka  seorang saja , atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. 4:3)

Namun dalam kesempatan lain, al-Quran juga mempersepsikan perempuan sebagai individu yang memiliki hak setara dengan laki-laki. Perempuan juga dijamin oleh al-Quran sebagaimana laki-laki bisa mencapai kesempurnaan dalam ketaqwaan.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16:97)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut  Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS.33:35)

Dengan demikian ada dua bentuk konseptualitas al-Quran atas perempuan :

1.      Konseptualitas yang berwatak kesetaraan. Hal demikian biasanya disinggung oleh ayat yang menyangkut hal-hal umum, misalnya ibadah, identitas kemanusiaan, kejadian manusia, keadilan dan sebagainya.

2.      Konseptualitas yang bersifat ketidaksetaraan. Hal ini biasanya disinggung oleh ayat-ayat yang berkaitan dengan hal-hal khusus seperti kehidupan rumah tangga, perkawianan dan sebagainya.[1]

Model konseptualitas yang sama dengan di atas juga bisa dijumpai di dalam Hadis Nabi. Di dalam Hadis Nabi, perbincangan tentang perempuan secara umum terbagi menjadi dua : Hadis-Hadis yang memiliki pandangan kesetaraan dan Hadis-Hadis yang tidak setara atau dikenal dengan istilah misoginis (kebencian).[2] Misalnya di dalam Hadis ada ungkapan  “Tidak akan mencapai kebahagiaan bagi suatu kaum yng menyerahkan urusan mereka kepada wanita”(HR. al-Bukhari). Ada juga Hadis yang menyatakan bahwa “Perempuan adalah makhluk lemah karena agama dan nalarnya kurang dibanding laki-laki” (HR. Ibnu Majah). Namun terdapat juga Hadis-Hadis yang menyatakan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Misalnya“Ibnu Mas’ud menyebutkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi muslim, pria dan wanita” (HR. al-Tabrani)[3]

3.      Spiritualitas Wanita dalam Islam[4]

Nabi Muhammad SAW memberikan kaum wanita kedudukan yang mulia dan sepadan dengan peranan serta tanggung jawab kewanitaan mereka. Hal yang paling penting dari semuanya itu ialah bahwa pandangan-pandangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan spiritualitas terbuka sepenuhnya bagi jenis kelamin wanita. Akibatnya dalam konteks spiritualitas Islam, begitu seorang wanita berjuang dalam kehidupan spiritual, maka dia akan mampu mendapat akses pada seluruh kemungkinan dari tradisis Islam dan menjadi sebagaimana kaum pria, wakil Tuhan di bumi. Meskipun al-Quran ditujukan kepada seluruh umat manusia, ia juga ditujukan kepada kaum wanita secara khusus. Selain Surah Al-Nisa (wanita), ada banyak ayat yang tersebar di berbagai surahyang mengacu pada kedudukan kaum wanita, haknya dan tanggung jawabnya. Demikianlah sehingga dikatakan dalam ayat pertama Surah Al-Nisa :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya  Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan  laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan  nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan  hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS 4:1)

Perintah untuk patuh kepada Sang Pencipta dan kepada kaum wanita sebagai Ibu dalam ayat yang sama merupakan pertanda dari penghormatan yang diberikan kepada kaum Ibu dan pengakuan Islam atas hak-hak seorang wanita dalam peranan spiritulaitasnya sebagai seorang Ibu. Ada beberapa Hadis terkenal yang menyatakan atau mengisyaratkan bahwa peranan Ibu dijalankan sesuai dengan syariah merupakan pengungkapan dari peranan spiritualitas seorang wanita. Al-Quran dan Sunnah menekankan bahwa Ibu pantas dihormati, dilayani, dan diperhatikan dengan penuh kasih sayang; ketidakpatuhan kepadanya atau pengabaian terhadap kebutuhan-kebutuhan atau hak-haknya dikecam keras, dan anak-anak diberi nasihat bahwa “surga berada di telapak kaki Ibu

Mukjizat sang Pencipta berupa penciptaan manusia terjadi di dalam rahim Ibu sehingga penghormatan dan kelembutan harus ditunjukkan kepada seorang Ibu yang sedang mengandung. Penggambaran al-Quran mengenai Perawan Maryam, Ibu Isa, mendorong kaum muslim untuk menanggap Maryam sebagai lambang ruh yang menerima ilham  Ilahi dan menjadi teladan kesucian dan ciri khas spiritualitas dari seorang Ibu. Ibu mengandung “jiwa yang akan lahir” di dalam rahimnya, dari saat pembuahan dan melewati tahapan-tahapan selanjutnya, yang digambarkan al-Quran dengan kata-kata berikut ini :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati  dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani  dalam tempat yang kokoh . Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk  yang  lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.( QS 23: 12-14.)

4.      Kemunculan dan Arah Gerakan Perempuan  Islam

4.1 Sejarah Singkat Munculnya Gerakan Perempuan Islam

Munculnya gerakan perempuan Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dunia sebab gerakan perempuan islam merupakan wujud dari interaksi dengan gerakan-gerakan perempuan di penjuru dunia lainnya termasuk gerakan perempuan di Eropa. Gerakan perempuan di barat dikenal dengan isltilah gerakan feminisme. Secara umum, feminisme di Eropa adalah gerakan untuk mencapai kesetaraan politik, sosial, dan pendidikan antara perempuan dan laki-laki. Gerakan ini muncul pertama kali di Eropa dan AS. Pada abad ke-18, kaum perempuan di sana masih dilarang untuk mengikuti pemilu, memperoleh pendidikan tinggi, atau menerjuni profesi-profesi tertentu (misalnya, Elizabeth Blackwill, dokter wanita pertama di dunia yang lulus kuliah tahun 1849, sempat diboikot teman-temannya dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran). Isu-isu yang dikemukakan oleh para feminis Eropa dan AS antara lain adalah hak untuk bekerja di luar rumah, hak untuk mendapatkan pendidikan, kesamaan kewajiban untuk mendidik anak, hak menggunakan kontrasepsi dan melakukan aborsi, kesetaraan gaji dengan laki-laki, perubahan peran dalam keluarga, dan keterwakilan perempuan dalam politik.[5]

Lalu bagaimana dengan dunia Islam? Apakah ada gerakan sejenis yang muncul? Di dalam dunia Islam gerakan perempuan sejenis itu dikenal dengan gerakan “Tahrirul al-Mar’ah”. Secara bahasa “Tahrirul al-Mar’ah” berarti pembebasan perempuan, terdiri dari dua rangkaian kata Arab, tahrir (pembebasan) dan al-Mar’ah, perempuan. Dalam Bahasa Inggris istilah itu biasnya diterjemahkan dengan emancipation atau liberation atau dengan istilah yang terkenal yaitu feminisme. Tapi secara umum gerakan Tahrir al-Mar’ah dan feminisme di barat hampir memiliki nuansa yang sama, yaitu suatu perjuangan membebaskan perempuan dari kedudukan yang tersubordiansi, terrepresi dan termarginalisasi menuju kedudukan yang seimbang dengan kaum laki-laki.[6]

Kemunculan gerakan Tahrir al-Mar’ah tidak bisa dilepaskan dari gerakan feminisme Barat. Bahkan boleh jadi munculnya gerakan perempuan di negara-negara Islam merupakan pengaruh dari gerakan perempuan di Barat. Atau bisa juga sebaliknya, sebab secara konsepsional ide kesetaraan laki-laki dan perempuan telah lama berakar dalam ajaran Islam. Secara praksis, gerakan perempuan telah muncul pada masa-masa awal Islam. Pada Masa Nabi Muhammad, kalangan perempuan bisa dan boleh melakukan aktivitas sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki. Boleh dikatakan masa Nabi merupakan masa kehidupan ideal bagi perempuan karena adanya kebebasan bagi perempuan yang dilindungi oleh Nabi. Menurut catatan Ruth Roded, perempuan yang berhubungan dengan Nabi pada masa awal islam tidak hanya isteri-isteri Nabi sebagaimana dikesankan oleh para penulis muslim. Menurutnya ada seribu dua ratus perempuan dari beribu-ribu sahabat yang berhubungan langsung dengan Nabi. Mereka ini bukan perempuan pasif . Mereka melakukan gerakan, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakatnya.[7]

Pada pasca Nabi, khususnya masa Umar bin Khattab (634-644), perlakuan yang membebaskan terhadap perempuan relatif menurun. Umar mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sedkit banyak meminggirkan peran perempuan dari arena publik. Sikapnya yang keras mengesankan ia kasar terhadap perempuan dalam urusan kehidupan publik dan privat; ia sangat temperamental terhadap isterinya dan secara fisik memaksa mereka untuk tetap di rumah dan mencegah kehadiran mereka beribadah di Masjid. Ia melembagakan ibadah yang tersegresi dan memilih imam sesuai dengan jenis seksualnya. Ia memilih imam perempuan untuk perempuan dan sebaliknya lakai-laki untuk laki-laki, tetapi laki-laki boleh mengimami perempuan. Pada masa Usman (644-656 M) janda-janda nabi diizinkan lagi menunaikan haji. Usman menarik kembali peraturan Umar tentang imam. Laki-laki dan perempuan boleh hadir ke Masjid bersama-sama meskipun perempuan dikelompokkan dalam tempat yang tersendiri dan berdiri di belakang laki-laki. Selanjutnya pada masa Dinasti Abbasiyah kaum perempuan secara mencengangkan benar-benar dirasakan absensinya dari arena-arena sentral urusan masyarakat.

Kemudian pada masa abad pertengahan, khususnya pada abad ke-15 sampai awal abad ke-18 M di negara-negara Islam seperti Turki, Mesir dan Syria nampaknya kondisi kaum perempuan tidak berebada jauh dari abad sebelumnya. Pada akhir abad ke 18 M kaum perempuan sudah bisa menerima pelajaran membaca pada beberapa sekolah. Pada awal ke 19 M, masyarakat Timur Tengah mulai mengalami perubahan sosial yang cukup fundamental. Pengerukan kekayaan oleh negara-negara Barat atas negara-negara Islam (imperialisme), kemunculan fenomena negara bangsa (nation state) yang memerdekakan diri mereka sendiri maupun yang dimerdekakan.

Pada dasarnya gerakan perempuan dalam Islam dimulai dari gerakan-gerakan perempuan yang terjadi di negara-negara Timur Tengah (Mesir, Turki dan Syria). Secara langsung munculnya kesadaran tentang status perempuan memang terjadi akibat kolonialisme. Tapi perdebatan dunia Eropa tentang status perempuan yang sudah lama terjadi, juga berpengaruh terhadapa gerakan perempuan dalam Islam. Namun gerakan perempuan sebagai suatu wacana dalam Islam  nampaknya berkembang  dari Mesir terlebih dahulu. Umumnya tokoh-tokoh pembentuk wacana tentang gerakan peempuan dari Islam pernah belajar di Eropa. Gerakan pemikiran modern di Mesir dimulai dari pengiriman sarjana-sarjana pada masa pemerinthan Muhammad Ali untuk belajar ke Eropa. Dari sini kemudian muncul Rifa’ah Tahtawi yang melakukan pembaharuan terhadap kondisi kaum perempuan dan memberikan hak-hak mereka sebagaiamana yang diterapkan oleh syariah islam. Dengan konsep pengajarannya terhadap kaum perempuan , Rifa’ah merupakan tokoh yang pertama kali menggembor-gemborkan  “Tahrirul al-Mar’ah” khususnya di Mesir dan umumnya di dunia Islam.

Tokoh gerakan perempuan  berikutnya ialah Qasim Amin. Intelektuil Muslim laki-laki yang satu ini tidak bisa lepas dari setiap pembicaraan mengenai gerakan pembebasan perempuan di kalangan Islam. Tulisannya yang paling kontroversial yang mengguncang  masyarakat Mesir pada waktu itu ialah  “Tahrirul al-mar’ah”. Di dalamnya terkandung pokok-pokok pikiran : pertama, tentang  jilbab bagi perempuan. Keduanya tentang perlunya memabatasi hak suami dalam memutuskan ikatan perkawinan dengan talak, karena hak talak pada dasarnya tidak mutlak pada laki-laki. Ketiga, kritiknya terhadap sistem pernikahan poligamai. Tali estafet gerakan perempuan pasca Qasim Amin kemudian dilanjutkan oleh Malak Hafni Nasif. Ia adalah orang pertama yang melihat persoalan perempuan dari kacamata perempuan. Setelah Malak Hafni Nasif perjuangan gerakan perempuan terus berlanjut hingga generasi-generasi berikutnya.

Dari uraiaan di atas dapat dikatakan bahwa sejarah munculnya gerakan perempuan merupakan dampak dari hubungan “Negara-Negara Timur Tengah” – yang nota bene Islam – dengan negara-negara barat yang sudah lama memeberdayakan perempuan. Baik hubungan tersebut terjadi karena kolonialisme maupun karena proses modernisasi yang sangat diminati oleh negara-negara Islam pada masa itu. Meskipun pengaruh barat ada, namun bukan berarti tidak ada kesadaran internal dari tokoh-tokoh pencetus gerakan Tahrirul al-mar’ah. Selain itu Islam sebagai agama secara prinsipil memang menyediakan banyak argumen-argumen yang memperkuat kesetaraan laki-laki dan perempuan.

4.2  Gerakan Perempuan Islam di Persimpangan Jalan

Kini gerakan perempuan islam berada di persimpangan jalan, di antara kelompok yang konservatif dan moderat. Kelompok konservatif memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dengan langsung merujuk pada sumber-sumber ideal – al-Quran, hadis dan pendapat ulama- dan memandang sumber-sumber tersebut telah menempatkan perempuan dalam kedudukan yang terhormat. Yang jelas tidak ada yang dipersoalkan tentang perempuan. Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum perempuan. Kelompok ini biasanya mengkritik gerakan perempuan model barat yang dinilainya tidak islami. Golongan ini menyatakan bahwa tidak ada kesamaan antara laki-laki dan perempuan. Yang ada adalah kesamaan dalam ketidaksamaan. Sebab nyatanya selain kesamaman yang diungkap dalam al-Quran ternyata lebih banyak ketidaksamaannya.[8]

Kelompok konservatif memandang perempuan memiliki kepemimpinan, namun kepemimpinan perempuan terbatas dalam rumah tangga. Gerakan perempuan yang terbaik adalah dedikasi kaum perempuan dalam rumah tangga, membantu suami dan penjaga moralitas keluarga. Mereka memandang bahwa krisis moral yang melanda dunia anak dan generasi muda disebabakan oleh kecilnya andil perempuan sebagai penjaga rumah tangga. Kecil karena lebih tertarik berperan di dunia publik. Bagi kelompok ini gerakan perempuan di barat direduksi semata-mata kebebasan seksual, prostitusi, dansa-dansi, lesbian dan sebagaianya. Mereka tidak melihat satupun aktivitas lain yang dianggap baik dari feminisme barat. Dalam bidang agama, kelompok konservatif biasanya mendukung jilbab sebagai kewajiban, mendukung poligami sebagai keadilan, menentang karir perempuan di dunia publik, menentang perempuan menjadi kepala pemerintah dan hakim berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pemahaman al-Quran dan Hadis secara tekstual apa adanya.

Lawan dari kelompok konservatif adalah kelompok moderat. Secara teoretis dan metodologis kelompok ini banyak mengambil konsep gerakan perempuan di dunia barat, namun tetap menyertakan catatan-catatan kristis. Hal ini dilakukan karena secara metodologis dan teoretis, feminisme Barat memang lebih memiliki landasan gerakan yang bersifat paradigmatis dan epistemologis. Meskipun demikian secara ideal dan normatif, kelompok moderat ini tetap menggunakan al-Quran dan Hadis sebagai landasan gerakannya. Gerakan feminisme barat dijadikan sebagai model tindak aksi dan Islam dijadikan sebagai kerangka tindak aksi.

Dalam mengkaji tafsir al-Quran dan Hadis Nabi mereka relatif kristis karena menganggap dua hal tersebut sebagai wacana ilmiah yang tidak lepas dari kritik ilmiah. Mereka relatif berani mengkritik sahabat-sahabat Nabi selama ada bukti-bukti yang kuat dan akurat. Kritiknya bukan kritik yang ngawur, tapi menggunakan jalur yang sesuai dengan teori dan metodologi ilmu Hadis. Keunggulan dari kelompok moderat ini adalah sifatnya yang terbuka terhadap nilai-nilai baru, baik yang berkembang di dalam dunia Islam sendiri atau yang berkembang dan berasal dari luar Islam. Sifat keterbukaaan ini sama sekali tidak menyalahi doktrin teologis islam yang memang sejak awal perkembangannya sangat terbuka bagi nilai-nilai baru.

Sampai kini masing-masing kelompok memiliki basis dukungannya sendiri-sendiri. Tarik menarik antara kedua kelompok tersebut terjadi dalam dunia politik. Mereka yang moderat berpatronase dengan partai politk yang moderat begitu pula sebaliknya mereka yang konservatif berpatronase dengan partai politik yang memilik visi dan misi keagamaan yang konservatif juga. Selain pada level politik praktis, tarik menarik antara yang pro konservatif dan pro kelompok moderat masih terjadi dalam kehidupan non politik praktis. Misalnya, keduanya saling bersaing dalam pembentukan diskursus intelektual melalui penerbitan buku-buku. Melihat semua situasi ini memang wajar kalau dikatakan bahwa gerakan Tahrirul al- mar’ah sedang di persimpangan jalan. Menuju konservatifkah atau moderatkah ?

5.      Gerakan Perempuan Islam di Indonesia

Di indonesia gerakan perempuan lebih dikenal dengan sebutan emansipasi sedangkan istilah feminisme merupakan istilah yang baru di Indonesia. Emansipasi diilhami oleh perjuangan Kartini pada akhir abad ke-19. Karena menyoal konsep Indonesia yang mendasar, feminisme dapat menimbulkan kebingungan dan menjadi kata yang menakutkan. Ini karena konsep mengenai feminisme masih diasumsikan sebagai nilai Barat sehingga tidak sesuai dengan konteks Indonesia.

Di Indonesia, perdebatan mengenai perempuan dan Islam adalah isu baru. Perdebatan ini menjadi isu yang lumrah semenjak awal 1980an. Wardah Hafidz, salah seorang yang terlibat dalam perdebatan tersebut memberikan alsan bahwa perempuan muslim di Indonesia hidup di bawah bayang-bayang langit (surga) meskipun kondisi mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan perempuan di Arab Saudi. Dia dan banyak aktivis perempuan menyatakan bahwa, berdasarkan hasil penelitian mereka, problem perempuan Indonesia tetap masih tersembunyi dan harus segera diselesaikan.

Dua faktor penting yang mempengaruhi yang mempengaruhi penyebaran dan kemunculan gerakan perempuan islam di Indonesia ialah pertama : kontak antara feminis muslim Indonesia dengan feminis Muslim lain di dunia. Hubungan antara feminsi muslim Indonesia dengan feminis msulim dari beberapa Negara bermula dari keikutsertaan mereka pada konferensi-konferensi internasional seperti konferensi di Kairo dan di Beijing pada tahun 1995, dan beberapa workshop yang bertujuan menginternasionalisasikan feminisme. Lebih-lebih lembaga-lembaga islam , kelompok-kelompok diskusi dan penelitian juga telah mendukung hubungan antar mereka.

Kedua, pengaruh literatur kaum feminis. Untuk melihat bagaimana literature berkaitan dengan isu-isu perempuan berpengaruh terhadap penyebaran isu-isu tersebut, kita dapat mengelompokkan ke dalam tiga kelompok. Pertama, dari perspektif pesantren, yang berarti bahwa karya-karya beberapa ulama yang ditulis pada masa lampau masih tetap digunakan. Kedua, dari buku-buku, dan ketiga dari karya-karya asli sarjana Muslim Indonesia. Kategori ini termasuk semua buku yang terbit dari tahun 1990 sampai tahun 2000 kecuali buku-buku yang digunakan di pesantren. Ini karena cetak ulang sangat mempengaruhi bagaimana perempuan harus bersikap dalam kaitannya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan.[9]

1.      Dua Aliran Gerakan Perempuan Muslim Indonesia

Di indonesia gerakan perempuan muslim terbagai menajadi dua aliran yakni aliran konservatif dan aliran modern.

 a). Aliran Konservatif

Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini ialah zakiah Daradjat. Ia adalah seorang sarjana Islam terkemuka di Indonesia. Dia lahir di Bukittinggi pada tahun 1929.90 Meskipun dikenal sebagai seorang psikolog, dia juga menulis beberapa buku dan artikel mengenai isu-isu perempuan. Zakiah dalam beberapa hal nampak berjuang untuk kaum perempuan, tetapi dia tidak menggunakan teori feminis untuk menganalisis isu-isu nyata kaum perempuan. Ini penting karena dalam gerakan perempuan, perdebatan nampaknya untuk memecahkan problem ini. Buku-buku Zakiah memuat pengalaman yang terjadi di kliniknya sehingga banyak argumentasi yang ditulis berasal dari nasihat dia untuk pasien-pasiennya. Pemikirannya mengenai perjuangan perempuan sederhana. Kasus-kasus yang dia buat jauh dari realitas problem perempuan di Indonesia. Persepsinya juga tetap didasarkan pada keyakinan lama bahwa rumah tangga atau masyarakat tergantung pada perempuan dan bukan tanggung jawab laki-laki.

Dia memberikan tuntutan normatif terhadap perempuan, meskipun dia mempunyai klinik di mana dia banyak menemukan persoalan perempuan seperti kekerasan, perceraian dan lainnya. Zakiah mendukung perempuan, tetapi juga memberikan peran ganda kepada mereka. Dia memberi banyak perhatian terhadap perempuan, tetapi hanya dalam bentuk norma-norma yang tidak berguna untuk membebaskan perempuan, tetapi memberi peran ganda untuk bertanggung jawab kepada keluarga. Pembelaannya terhadap kaum peempuan tetap menyatu dalam sistem patriarchal yang menganut keyakinan lama.[10]

b). Aliran Moderat

Tokoh terkenal dari aliran moderat ialah Wardah Hafidz. Ketika membicarakan Islam dan feminisme di Indonesia, Wardah adalah orang yang paling terkemuka pada periode 1990an. Dia lahir di Jombang, pada tanggal 28 Oktober 1952 dalam sebuah keluarga yang religius. Menanggapai isu-isu perempuan dan Islam, dia menganalisis kepemimpinan perempuan sebagai isu yang telah berkembang dalam Islam dan bagaimana latar belakang kultural telah mempengaruhi pemikiran Islam. Analisisnya sepertinya tidak menyeluruh. Dia terlihat sebagai motivator dan pengusung Islam dan feminisme, bukan pemikir. Sungguh, gerakan yang dia usung telah memacu masyarakat untuk menguji hubungan antar mereka. Pada sisi lain, dia adalah satu-satunya orang yang cukup berani untuk mempermasalahkan isu pada masa itu dan menyegarkan kembali kesadaran perempuan menganai Islam dan feminisme.

Pada dasarnya ia nampak mengakui bahwa teks-teks agama harus direkonstruksi untuk menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Meskipun dia tidak ahli dalam bidang agama, Wardah menegaskan anggapan dasar bahwa agama sering digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan atau bagaimana budaya yang mapan dapat mempengaruhi dan menentukan penafsiran mengenai tugas dan peran perempuan.[11]

2.      Tanggapan Publik atas Gerakan Perempuan Muslim

Ada berbagai tanggapan yang muncul menyangkut gerakan perempuan Islam Indonesia saat ini. Seperti halnya gerakan perempuan muslim ada dua aliran demikian pula tanggapan publik ada dua macam yakni yang konservatif dan moderat. Anwar seorang mahasiswa UNISMA berpendapat: “sebenarnya tidak ada masalah menyangkut kaum perempuan dalam dunia islam. Semuanya sudah diatur secara jelas dalam al-Quran dan Hadis. Tidak ada penindasan terhadap perempuan malah perempuan dihormati sesuai dengan harkat dan martabatnya. Bahwa laki-laki harus menjadi pemimpin dan perempuan tidak boleh menajdi pemimpin itu bukan suatu persoalan”.[12] Hal yang senada juga diungkapkan oleh Ira Dahlia seorang penjaga warnet lulusan STIKOM : “Gerakan perempuan muslim itu tidak sesuai al-Quran, mereka terlalu kebarat-baratan, menolak banyak hal dalam Islam, tidak mau pakai jilbab dana mau jadi imam shalat. Jadi perempuan muslim yang itu tidak banyak menuntut tetapi harus taat kepada ajaran Agama.”[13]

Tapi hal lain yang diungkapkan oleh Mutia Arif, seorang Mahasiswi UNHAS dan sekaligus sekretaris Aliansi pembebasan Perempuan Islam Makassar : “Perempuan saat ini mengalami banyak penindasan khususnya perempuan Islam, sayang… selubung penindasan itu belum berani dibuka karena ini menyangkut harga diri agama. Kalau kita berani membuka selubung itu dan mencoba membenahinya sebenarnya akan menunjukkan bahwa islam itu adalah suatu ajaran yang sangat ideal dan sempurna.”[14]

 6.      Suatu Refleksi Kritis dan Sumbangan Pemikiran atas Gerakan Perempuan Islam

Kita telah menyaksikan bersama bagaimana perjalanan gerakan perempuan Islam secara garis besar. Ada banyak hal yang menjadi point penting. Satu hal yang patut dicatat ialah perjuangan kaum perempuan muslim selalau terhambat oleh justifikasi agama. Segala bentuk kekerasan terselubung terhadap perempuan seakan-akan dibenarkan oleh agama. Satu prinsip kebenaran universal yang harus dipegang ialah bahwa kekerasan terhadap manusia dalam bentuk apapun harus dihentikan karena tidak memberikan ruang kepada manusia untuk bertumbuh.

Dalam konteks ini ada dua gagasan pemikiran yang menojol bagi kelangsungan gerakan perempuan Islam. Hal yang paling fundamental yang perlu diusahakan ialah suatu usaha penafsiran ulang terhadap al-Quran dan Hadis. Kedua sumber tersebut harus juga dibaca dari perspektif perempuan. Metode penafsiran yang literer kiranya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, perlu dipikirkan suatu metode penafsiran yang sungguh sesuai dengan konteks zaman. Namun hal ini merupakan suatu proyek jangka panjang dan melibatkan seluruh lapisan Islam di Seluruh dunia. Hendaknya ini menjadi suatu gerakan Islam di seluruh dunia.

Dalam konteks Indonesia hal yang mendesak dan relevan untuk diusahakan ialah pengembangan pesantren yang sungguh-sungguh memberikan ruang pembebasan bagi perempuan muslim. Hal ini akan mengarah kepada proses pemberdayaan perempuan muslim. Agar pesantren menjadi pusat pemberdayaan perempuan diperlukan perjuangan karena sebelumnya pesantren adalah habitus laki-laki. Proses menuju habitus perempuan kini sudah berlangsung, namun proses ini bisa saja terhenti di tengah jalan bila tidak mendapat dukungan, baik dari kalangan perempuan maupun dari kalangan laki-laki, singkatanya seluruh lapisan masyarakat.

   Pada akhirnya perjuangan perempuan Islam harus mendapat dukungan semua pihak bukan pertama-tama demi suatu kepentingan politis tetapi ada sautu nilai hakiki yang diperjuangkan di sanan yaitu nilai kemanusiaan universal. Setiap orang ingin mencapai kepenuhannya sebagai manusia dan itu menjadi dambaan hakiki setiap orang. Setiap orang mengalami kepenuhan dalam relasi dengan orang lain tetapi terkadang manusia tidak sadar bahwa ia menjadi penghambat melalui suatu tindak kekerasan.

Daftar Pustaka

Al-Sheha,  Abdul-Rahman. Women In Islam & Refutation of some Common Misconceptions. Riyadh : Islam Land 2001.

 Badran, Margot. Feminism in Islam.  England:  One world Publications 2009.

Ensiklopedi Hukum Islam no 6. PT Ichtiar Bau Van Hoove, Jakarta, 1996.

Hasyim, Syafiq.  Bebas dari Patriarkisme Islam. Depok : Katakita, 2010.

Hossein Nasir, Seyyed (ed.). Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam. Bandung:  Mizan, 1997.

Kynsilehto, Anitta. Islamic Feminism: Current Perspectives. Tempere : University of Tempere, 2008.

Nadjib, Ala’I. Feminis Muslim Indonesia. Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010.

Y. Sulaeman, Dina. Feminisme dan Kesalahan Paradigma. diakses dari (http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/).

Wadud, Amina. Qur’an And Woman, Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York : Oxford Oxford University Press 1999.

BIODATA PENULIS

NAMA                                                            : RATA DIAJO MANULLANG

PEKERJAAN                                              : MAHASISWA

TEMPAT/ TANGGAL LAHIR            : KARING, 11 OKTOBER 1987

ALAMAT                                                       : JALAN TERUSAN RAJABASA 4

                                                                              MALANG


[1] Syafiq Hasyim, Bebas dari Patriarkisme Islam, Depok : Katakita, 2010, hlm. 45.

[2] Ibid., hlm. 46

[3] Seyyed Hossein Nasir (ed.), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Bandung, Mizan, 1997, hlm. 273-277.

[4] Dina Y. Sulaeman , Feminisme dan Kesalahan Paradigma, hlm. 1, diakses dari (http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/).

[5] Syafiq Hasyim, Op. cit., hlm. 50.

[6] Margot Badran, Feminism in Islam, England:  One world Publications 2009, hlm. 17-23.

[7] Anitta Kynsilehto, Islamic Feminism: Current Perspectives,Tempere : University of Tempere, 2008, hlm. 56-89.

[8] Ibid.

[9] Ala’I Nadjib, Feminis Muslim Indonesia, Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010, hlm.44.

[10] Ibid., hlm. 45.

[11] Ibid.

 [12] Hasil wawancara dengan salah seorang Mahasiswa Islam pada tanggal 25 Oktober 2011, pkl. 20.00 WIB

[13] Hasil wawancara dengan seorang perempuan Islam pada tanggal 6 November 2011.

[14] Hasil wawancara via Email dengan seorang praktisi feminis muslim.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s