Jalan-jalan yang Ditempuh dalam Tugas Perutusan

I. Pengantar

Allah ingin menyelamatkan manusia dari dosa dan ingin mempersatukan semua manusia dalam persatuan Allah Tritunggal. Allah melaksanakan rencanaNya dengan mengutus Yesus Kristus PutraNya. Sebelum Yesus kembali ke surga, Yesus mendirikan Gereja untuk melanjutkan karya penyelamatan. Gereja yang mendapat tugas perutusan dari Kristus ingin mewartakan Kristus kepada semua bangsa. Hal ini diwujudkan oleh Gereja dengan kegiatan misionernya di tengah kehidupan bangsa-bangsa dan persekutuan di antara Gereja-gereja.

Langkah-langkah konkrit yang dilakukan oleh Gereja dalam perutusannya meliputi pembentukan Gereja-gereja setempat, pendayagunaan komunitas-komunitas Gerejani, penanaman nilai injili ke dalam budaya-budaya, dialog dengan saudara-saudara beragama lain, memajukan dan membentuk suara hati.

II. Pembahasan

II.1. Pembentukan Gereja-gereja Setempat

Allah berkehendak menyelamatkan umat manusia yang terbelenggu dalam dosa. Allah mengangkat manusia menjadi putera-puteriNya yang terkasih dan mempersatukan semua manusia dalam persatuan Allah Tritunggal. Untuk melaksanakan rencana dan kehendakNya,  Allah mengutus PuteraNya yang terkasih Yesus Kristus[1]. Selama tiga tahun Yesus Kristus, sang gembala agung itu melaksanakan tugas perutusan dari Allah. Ia menyerukan pertobatan, mewartakan kabar baik dari Allah dan menghimpun semua manusia menjadi satu kawanan. Ia memanggil  manusia untuk berpartisipasi di dalam hidup-Nya dalam kesatuan dengan Allah Tritunggal. Karya keselamatan Allah dalam diri Yesus berlaku bukan saja untuk perseorangan tetapi bagi semua orang. Sebelum Yesus naik ke surga, Yesus mendirikan Gereja untuk melanjutkan karya keselamatanNya dan mengutus Gereja ke penjuru dunia.

Gereja melaksanakan tugas perutusan dari Yesus dengan mewartakan pertobatan dan kabar baik dari Allah kepada bangsa-bangsa dan berusaha untuk menghantar orang pada pembaptisan. Orang–orang yang sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kemudian dihimpun menjadi satu komunitas Kristiani. Inilah tujuan utama Gereja.  Hal ini sesuai dengan rencana dan karya Allah yang mau menjadikan dan menghimpun umat manusia menjadi satu sebagai anak-anak-Nya dan bertumbuh dalam cinta-Nya melalui Gereja yang didirikan-Nya.

Kita sebagai Gereja dipanggil bekerjasama dengan Yesus membangun komunitas-komunitas Kristen yang lain dan mengembangkan komunitas-komunitas itu menuju kematangan dan kedewasaan rohani[2]. Untuk membina Gereja yang sudah terbentuk menuju kematangan dan kedewasaan rohani sangat diperlukan kegiatan pastoral yang baik.

Komunitas-komunitas Kristen yang sudah terbentuk di mana-mana hendaknya menjadi tanda kehadiran Allah di tengah-tengah dunia. Kita menyadari banyak sekali daerah-daerah yang banyak penduduknya namun tidak ada Gereja, oleh sebab itu perlu membangun Gereja/komunitas-komunitas baru. Gereja universal dan Gereja setempat bertanggung jawab untuk membangun komunitas kristiani di sana.

Tanggung jawab dan tugas Gereja ini diwujudkan dalam penghayatan karunia iman pemberian Allah dalam komunitas. Iman itu diwujudnyatakan dalam kesaksian hidup sehari-hari melalui perkataan maupun melalui perbuatan. Itulah panggilan kita untuk keluar dari diri sendiri dan membagikan kepada orang lain kebaikan-kebaikan yang kita miliki.

Para misisonaris yang datang dari negara-negara yang lain hendaknya bekerja sama dengan Gereja partikular demi pengembangan komunitas kristen. Tugas ini terletak pada pundak para misionaris sesuai dengan petunjuk dari para uskup. Akan tetapi mereka juga harus bekerja sama dengan orang-orang yang bertanggungjawab pada tingkat setempat untuk mendorong memajukan penyebarluasan iman dan pengembangan Gereja dalam lingkungan-lingkungan non Kristen.

II.2. Kerjasama dengan Gereja Lain

Dalam menjalankan tugas missioner Gereja, Gereja perlu menjalin kerja sama dengan orang Kristen lain. Hal ini sangat penting dalam tugas perwartaan Kabar Baik karena jika orang Kristen itu terpecah-pecah akan memperlemah kesaksian pewartaan. Selain itu dengan persatuan  pewartaan kita menjadi semakin efektif karena banyaknya orang yang terlibat dalam tugas missioner Kristus. Persatuan di antara umat Kristen itu sebagai tanda bahwa Allah sedang melaksanakan karya pedamaian di tenga-tengah dunia.

Persatuan di antara umat Kristen ini memang tidak sempurna walaupun menerima pembaptisan dalam Kristus. Akan tetapi kita tidak boleh perbedaan-perbedaan itu melainkan mengembangkan persatuan itu sedemikian rupa. Persatuan itu diwujudkan menurut kaidah-kaidah dekrit ekumene melalui pengakuan iman akan Allah dan Kristus, melalui kerja sama dalam bidang sosial dan teknik maupun dalam hal-hal budaya dan agama.

Persatuan di antara Gereja-gereja ini menjadi kesaksian pewartaan akan Yesus Kristus. Persatuan ini juga menghasilkan buah yang berlimpah. Betapa pentingnya bekerja sama dan memberi kesaksian bersama karena sekte-sekte kristen dan parakristen sedang menaburkan benih kekacaun melalui kegiatan mereka. Perkembangna sekte-sekte ini merupakan ancaman bagi gereja katolik dan bagi semua persekutuan-persekutuan gerejai yang terlibat dalam dialog dengannya.

II.3. Pendayagunaan Komunitas-komunitas Gerejani Sebagai Kekuatan Evangelisasi

Hendaknya komunitas Kristiani yang telah terbentuk dikembangkan menjadi komunitas kristiani yang mempunyai daya kekuatan evangelisasi. Yang dimaksud  dengan komunitas gerejani itu adalah komunitas basis. Komunitas basis adalah keluarga-keluarga kristiani atau umat di lingkungan yang berlandaskan cinta Kristus yang berkumpul bersama untuk berdoa, membaca Kitab Suci, mengadakan katekese, berdiskusi tentang masalah dalam masyarakat dan juga gereja untuk membuat komitmen bersama. Kelompok basis ini menjadi pusat pembinaan umat kristen dan penyebaran misionernya.

Komunitas basis yang didirikan harus memenuhi beberapa hal yaitu doa, Sabda Allah, Ekaristi, hidup dalam persekutuan yang ditandai dengan kesatuan hati dan jiwa dan saling berbagi. Paus Paulus VI juga mengatakan bahwa Komunitas Kristen hidup dalam kesatuan Gereja setempat dan Gereja semesta[3]. Mereka hidup dalam kesatuan gembala-gembala Gereja dan Magisterium. Pendapat Paus Paulus VI ini semakin diperkuat oleh sinode para Uskup, yang mengatakan bahwa Gereja adalah persekutuan, oleh sebab itu komunitas-komunitas basis harus hidup dalam kesatuan Gereja yang dijiwai oleh Kristus. Komunitas tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri melainkan harus selalu peduli dengan orang lain di sekitarnya. Dan lebih dari itu, mereka harus selalu berjalan di dalam arahan gereja dan Magisterium.

Kesatuan dan rasa persaudaraan yang sudah dibangun  komunitas-komunitas basis itu semakin lama semakin berakar dan juga akan membuahkan hasil yang baik bagi kelompok kecil itu maupun dalam paroki sebagai tempat persekutuan mereka yang lebih besar. Mereka menjadi ragi, demikianlah artikel ini menyebutnya. Mereka menjadi ragi bagi kepedulian terhadap orang kecil dan tersingkirkan. Kesungguhan yang tampak dalam hati mereka membawa kualitas hidup dan pelayanan yang mengarah kepada pelayanan Kristus, yakni pelayanan Cinta Kasih.

Selama melaksanakan tugas perutusanNya, Yesus melayani sesamaNya dengan penuh cinta kasih maka hendaknya orang Kristen juga harus melayani sesamanya dengan cinta kasih pula. Cinta Kristus adalah dasar mereka untuk mencintai semua orang. Cinta Kristus juga menjadi modal untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi seperti; masalah kesukuan, rasisme,dll. Kita tahu bahwa persoalan-persoalan seperti ini sering ditemui dalam masyarakat tradisional. Oleh karena itu, setiap orang Kristen yang berada di komunitas basis haruslah menjadi teladan kerukunan dan perdamaian bagi masyarakat.

Hanya dengan perbuatan dan sikap orang Kristen yang layak diteladani, ditiru itulah makna terdalam evangelisasi dapat terwujud. Evangelisasi dalam arti luas merupakan ungkapan yang tepat dan padat tentang seluruh misi Gereja. Dengan kata lain, seluruh hidup Gereja membawa dalam dirinya suatu “Tradition Evangelii”, yaitu mewartakan dan memberitakan Injil, yang pada hakikatnya sama dengan Yesus Kristus. Karena itu, evangelisasi bukan hanya berarti menyampaikan sutau ajaran tetapi juga berarti memaklumkan Tuhan Yesus dalam kata-kata dan perbuatan, menjadi saksi dari kehadiran-Nya di dunia.

II.4. Menjelmakan Injil Dalam Kebudayaan Para Bangsa

Ketika Gereja melaksanakan kegiatan misioner di antara para bangsa, Gereja berjumpa dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda dan terlibat dalam proses inkulturasi. keterlibatan Gereja dalam perjumpaannya dengan budaya untuk sekarang ini menjadi semakin penting. Merasuknya Gereja ke dalam kebudayaan ini bukanlah masalah adaptasi yang hanya di luar saja melainkan suatu inkulturasi. Inkulturasi di sini berarti suatu proses transformasi nilai-nilai kebudayaan otentik secara mendalam. Dalam proses inkulturasi ini juga mengandaikan adanya suatu proses integrasi, yaitu suatu proses transformasi nilai-nilai kebudayaan otentik secara mendalam ke dalam Kekristenan dan meresapnya kekristenan ke dalam berbagai kebudayaan umat manusia. Proses ini adalah suatu proses yang mendalam dan menyeluruh, yang mencakup pesan Kristen dan juga refleksi serta praktek Gereja. Dilain sisi proses ini adalah suatu proses yang sulit, karena proses inkulturasi ini tidak boleh membahayakan kekhususan dan keutuhan iman Kristen. Melalui inkulturasi, Gereja mencoba untuk memasukkan injil dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda dan sekaligus membawa masuk para bangsa dan kebudayaan-kebudayaan mereka ke dalam persekutuan Gereja sendiri.

Dalam proses inkulturasi ini Gereja menyampaikan nilai-nilainya yang ia miliki kepada mereka; tetapi dari mereka Gereja juga mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan itu dan memperbaharuinya dari dalam. Dengan mengambil unsur-unsur yang baik itu Gereja memperkaya dirinya dengan bentuk-bentuk ungkapan dan nilai-nilai dalam berbagai bidang kehidupan Kristen, seperti evangelisasi, peribadatan, teologi dan karya-karya cinta kasih. Dengan demikian Gereja akhirnya dapat mengetahui misteri Kristus dan mengungkapkannya secara lebih baik, sambil terus didorong untuk melakukan upaya pembaharuan yang berkelanjutan.

Inkulturasi merupakan suatu perjalanan yang lambat, yang menyertai seluruh kehidupan missioner. Inkulturasi melibatkan orang-orang yang berkarya dalam tugas perutusan Gereja kepada para bangsa, komunitas-komunitas Kristen sepanjang perkembangan mereka, dan para Uskup, yang bertugas memberikan tilikan yang mendalam serta mendorong usaha pelaksanaannya.

Para misionaris, yang datang dari Gereja-gereja dan negara-negara yang lain, mesti masuk kedalam lingkungan kebudayaan orang-orang yang mereka layani. Mereka perlu mempelajari bahasa, membiasakan diri dengan ungkapan-ungkapan penting dari kebudayan setempat, dan menemukan nilai-nilai yang mereka miliki melalui pengalaman hubungan langsung dengan mereka. Dengan adanya kesadara seperti itu, para misionaris akan mampu membawa suatu pengetahuan rahasia yang tersembunyi kepada orang-orang, dengan berhasil dan dapat diterima. Dalam hal ini yang dimaksud bukanlah bahwa para misionaris itu harus melepaskan identitas kebudayaan mereka sendiri, tetapi lebih pada soal pemahaman, menghargai, mendorong dan membuat kebudayaan lingkungan setempat sesuai dengan injil. Dengan demikian mereka akan mampu berkomunikasi secara efektif dan dapat menerima suatu cara hidup yang merupakan tanda kesaksian injil dan tanda kesetiakawanan dengan bangsa yang bersangkutan.

Komunitas-komunitas gerejani yang sedang berkembang, yang diilhami oleh injil, akan mampu mengungkapkan pengalaman Kristen mereka dalam bentuk-bentuk dan cara-cara yang asli sesuai dengan tradisi-tradisi kebudayaan mereka sendiri, tetapi tradisi-tradisi itu harus selaras dengan tuntutan-tuntutan obyektif dari iman itu sendiri. Dalam hal ini, khusunya dalam hal inkulturasi yang lebih sulit, Gereja-gereja partikular dan Gereja seluruh dunia perlu saling bekerjasama. Dengan adanya kerjasama, mereka akan mampu menerjemahkan harta karun iman dalam berbagai bentuk ungkapan yang sesuai dengan ajaran yang sah. Kelompok-kelompok yang telah menerima injil juga perlu membantu menerjemahkan pesan injil, dan memperhatikan unsur-unsur positif yang telah diperoleh dari pertemuan kekristenan dengan kebudayaan yang berbeda-beda.

Berkaitan dengan hal ini, suatu proses inkulturasi perlu disesuaikan dengan Injil dan persekutuan dengan Gereja sedunia. Selain itu para uskup yang adalah penjaga iman perlu memberikan pemikiran yang tajam dengan cara pendekatan yang benar-benar mendalam dan seimbang. Dalam proses inkulturasi ini juga ada suatu bahaya, yaitu bahaya untuk menghargai secara berlebihan suatu kebudayaan yang belum dikenal sebelumnya. Oleh karena itu, kebudayaan yang adalah ciptaan manusia yang ditandai oleh dosa itu perlu disehatkan, diangkat dan disempurnakan.

   Proses penyehatan, pengangkatan dan penyempurnaan ini perlu terjadi secara perlaha-lahan, sehingga pada akhirnya sungguh-sungguh menjadi ungkapan dari pengalaman umat Kristen. Sebetulnya, inkulturasi mesti melibatkan seluruh Umat Allah, karena umat itu memantulkan suatu rasa keimanan yang otentik yang tidak pernah boleh diabaikan. Inkulturasi perlu dituntut dan didorong, tetapi bukannya dipaksakan, agar tidak membangkitkan reaksi-reaksi negatif di antara orang-orang Kristen. hal ini mesti merupakan suatu ungkapan dari kehidupan komunitas, sesuatu yang mesti menjadi matang di dalam komunitas itu sendiri, dan bukannya semata-mata merupakan hasil dari suatu penelitian ilmiah. Nilai-nilai tradisional akan dapat dijaga dengan karya iman yang matang.

II.5. Dialog dengan Saudara dan Saudari Kita yang Beragama lain

Dalam pewartaan kabar gembira dari Allah, Gereja bertemu dengan agama-gama lain seperti Budhisme, Hinduisme dan Islam. Gereja mengakui apa yang benar dan kudus dalam tradisi keagamaan Budhisme, hinduisme, dan Islam mengandung kebenaran yang menerangi semua orang dan mereka pun dapat menerima rahmat Allah dan dapat diselamatkan Kristus. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Gereja  tidak perlu

Hal ini tetap tidak menghalangi Gereja untuk memberitakan bahwa Yesus Kristus adalah jalan dan kebenaran dan kehidupan dan menjalankan misi penginjilan kepada semua bangsa. Perutusan ini tetap dilaksanakan Gereja Karena Gereja yakin bahwa Allah memanggil semua manusia kepada DiriNya dan membagikan cintNya kepada semua orang. Gereja juga yakin bahwa Allah juga hadir dalam bangsa-bangsa melalui kekayaan rohani mereka meskipun jika mereka mengandung cela, kekurangan, kekeliruan; pemeluk agama lain pun dapat menerima rahmat Allah dan penyelamatan Kristus. Gereja juga yakin bahwa Kristus mendirikan Gereja sebagai sarana keselamatan dan Gereja memiliki sarana keselamatan. Gereja menerima perutusan dari Yesus untuk mengenalkan Kristus dan Injilnya kepada orang lain yang belum mengenal Kristus.

Gereja melaksanakan tugas perutusan ini dengan mengadakan dialog dengan saudara-saudari yang beragama lain. Dialog antar agama termasuk misi penginjilan Gereja. Akan tetapi dialog ini pertama-tama bukan untuk mengkristenkan melainkan untuk saling mengenal dan memperkaya. Dalam dialog Gereja berusaha untuk menemukan benih sabda yang ada dalam setiap tradisi keagamaan dan tanda kehadiran Kristus dan karya Roh Kudus  dalam setiap tradisi keagamaan. Dengan dialog antar agama Gereja diajak untuk semakin mendalami idenstitas dirinya sehingga mampu memberikan kesaksian tentang kepenuhan wahyu yang telah diterimanya. Dalam dialog anatar agama ini hendaknya didasarkan atas rasa hormat yang mendalam, pengharapan, dan cinta.

Masing-masing orang yang terlibat dalam dialog ini hendaknya tetap konsisten dengan tradisi-tradisi dan kebenaran-kebenaran dalam agama mereka, terbuka untuk memahami dan menghormati orang lain, mempunyai sikap rendah hati, menyingkirkan prasangka dan sikap tidak toleran dan mempunyai pikiran positif tentang dialog yaitu memperkaya masing-masing pihak dan ketaatan pada Rh Kudus. Dalam dialog hendaknya tidak mengabaikan prinsip-prinsip yang ada dan sekedar mencari kedamaian yang palsu.

Bentuk-bentuk dialog antar agama yang dapat dilakukan yaitu tukar pikiran antara para ahli atau wakil resmi dalam tradisi-tradisi keagamaan, kerjasama demi perkembangan integral dan demi pemeliharaan nilai-nilai keagaamaan, sharing pengalaman spiritual, dialog kehidupan. Melalui dialog kehidupan ini masing-masing kaum beriman dari agama yang berbeda memberikan kesaksian tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kerohanian mereka, dan saling menolong satu sama lain untuk membangun masyasrakat yang lebih adil dan bersaudara.

Setiap anggota kaum beriman dan semua komunitas Kristen dipanggil untuk mengadakan dialog. Dalam hal ini kaum awam mempunyai peran yang penting karena mereka dapat memanfaatkan hubungan-hubungan dengan para pengikut agama lain melalui teladan hidup mereka di dalam kegiatan hidup mereka sehari-hari seperti di tempat kerja, di masyarakat. Para misionaris dan komunitas Kristen yang lain lebih sulit melaksanakan dialog karena seringkali disalah mengerti dalam memberikan kesaksian tentang Kristus dan memberikan pelayanan kasih pada orang lain. Akan tetapi hal ini tidak boleh mematahkan semangat untuk tetap berdialog dengan saudara-saudari kita yang beragama lain.

II.6. Memajukan Pembangunan dengan Membentuk Suara Hati

Gereja juga diutus kepada bangsa-bangsa yang belum merasakan kemerdekaan, mereka yang mengalami penindasan, kemiskinan baik materiil, moral dan spiritual. Hal ini terjadi karena kemajuan dan perkembangan teknologi, pengaruh budaya hedonisme, konsumerisme, liberalisme, egoisme, dan pengabaian akan nilai-nilai kebenaran yang ditawarkan oleh agama.

Ketika Yesus berkarya di dunia Yesus juga berjumpa dengan mereka yang miskin, sakit, tertindas, tersingkir. Yesus menghibur, menolong dan membebaskan mereka dari semua penindasan itu. Gereja juga diutus untuk mewartakan damai kepada bangsa-bangsa. Gereja diundang untuk selalu peduli dengan bangsa yang masih membutuhkan sentuhan damai. Bila dilihat relaitas zaman dahulu dan sekarang, kita dapat berbagga bahwa Gereja Katolik masih setia melakukan tugas perutusan ini. Banyak tarekat misi yang selalu memberi perhatian kepada misi dunia. Mereka mengirimkan para misionaris mereka ke seluruh dunia untuk berbagi dan mewartakan kehidupan dan damai. Para misionaris berani meninggalkan rumah dan tanah airnya dan pergi ke daerah misi untuk memperjuangkan hak dan martabat manusia.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apa saja yang dilakukan oleh para misionaris di tanah misi? Atau pertanyaan umum, sejauh mana kita terlibat, dalam memaujukan perdamaian dunia? Bagaimana pandangan Gereja dan apa sumbangsih Gereja dalam keterlibatannya dalam memajukan perdamaian dunia?

Gereja tidak punya cara teknis dan langsung untuk menangani persoalan yang terjadi khususnya yang terkait pada masalah sosial-ekonomi, politik, politik, atau pembangunan secara material[4]. Pelayanan Gereja tidak terletak pada hal materi. Gereja tidak memiliki tanggung jawab moral dalam mengembangkan ekonmi masyarakat tetapi lebih kepada pelayanan rohani dan pembentukan mental dan semangat agar masyarakat dapat memperjuangkan dirinya. Gereja dapat membantu untuk memajukan dan mengembangkan manusia sebagai pelaku utama dari pembangunan.

Gereja mempunyai tugas untuk mewartakan Kristus sebagai pembawa perdamaian kepada orang yang masih ditindas. Melalui pewartaan injil kepada mereka yang tertindas Gereja memberi kesempatan pada manusia untuk menjadi lebih baik, membantu manusia untuk hidup dan bertindak sebgai Putera Allah, membebaskan manusia dari ketidakadilan dan mendukung pembangunan manusia secara menyeluruh. Maka Gereja mengutus para misionarisnya untuk mendorong terciptanya damai di daerah-daerah yang masih mengalami penindasan.

Banyak bentuk pelayanan yang Gereja tawarkan bagi perkembangan intelektual dan kehidupan orang banyak. Gereja dan para misionarisnya berusaha untuk memajukan pembangunan melalui sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, media cetak, universitas-universitas dan pertanian. Lewat pelayanan misi ini Gereja mau membangkitkan suara hati manusia. Gereja mau membantu pembentukan pola pikir hati nurani serta tingkah laku manusia. Melalui pembentukan suara hati Gereja mau menyingkapkan Allah yang dicari manusia, mau menunjukkan keagungan manusia yang diciptakan seturutgambar Allah. Dengan pembangunan masyarakat dan pelayanan-pelayanan di atas Gereja mau menyadarkan manusia bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan yang harus berkembang berusaha memperjuangkan dirinya sendiri.

Gereja dalam tugas perutusannya berusaha memberikan daya kekuatan untuk pembebasan yang mendorong pembangunan manusia seutuhnya, membantu memajukan pengakuan akan martabat orang lain, mendorong kesetiakawanan dan pelayanan akan sesama. Gereja mau menekankan bahwa Gereja memiliki pelayanan dan kepedulian kepada manusia yang belum merasakan damai, membantu manusia yang masih terbelakang. Gereja mewartakan pertobatan hati dan cara berpikir bagi umat manusia agar seluruh umat manusia memiliki kesadaran akan pentingnya; kepedulian kepada sesama, penghormatan martabat umat manusia, kesetiakawanan, pentingnya memperjuangkan perdamaian dan keadilan di dalam hidup ini. Dan Yesus adalah model kita untuk peduli kepada orang lain.

Evangelisasi Gereja bukan hanya melawan kemiskinan material dan keterbelakangan di dunia Selatan saja, melainkan mencakup dunia Utara, yang terperangkap dalam kemiskinan moral dan kemiskinan spiritual oleh karena kemajuan dunia yang berlebihan. Artinya, Gereja mau mengajak kita untuk berteologi kontekstual. Oleh karena itu pewartaan Gereja harus dilakukan dalam dua konteks yang sungguh berbeda. Mewartakan Injil kepada orang yang belum mengenal Yesus. Akan tetapi mewartakan moralitas di dunia yang sudah modern juga sangat penting. Tujuannya agar mereka tidak larut dalam kemewahan dan kemapanan. Dan supaya mereka tidak mendewakan hal-hal materi yang sifatnya sementara. Kita mengajak mereka agar memiliki sikap solider dan peduli kepada orang yang masih dalam kemiskinan dan teralienasi.

Sekali lagi artikel ini menyadarkan kita akan pentingnya kontekstualisasi dari pewartaan dan pelayanan serta teologi kita. Di Afrika, para misionaris masih perlu mengenalkan siapa Yesus karena orang Afrika masih banyak yang belum mengenal siapa pribadi Tuhan Yesus. Namun, di Eropa pewartaan kita sepertinya bukan lagi mewartakan Yesus historis, melainkan Yesus sebagai teladan dalam moral. Para misionaris, teolog harus berupaya menyerukan pentingnya kesederhanaan dan  ugahari di negara-negara yang serba maju. Para misionaris dan pelayan Gereja juga harus selalu tanpa henti mewartakan Allah di segala tempat dan situasi dengan cara yang paling cocok dan kontekstual.

III. TINJAUAN KRITIS

Ensiklik Redemtoris Missio dikeluarkan oleh Bapa Suci Yohanes Paulus pada tahun1990 untuk mengingatkan akan panggilan missioner Gereja untuk mewartakan kabar gembira Kristus. Surat edaran ini sangat penting bagi tugas perutusan Gereja dalam mewartakan Yesus Kristus Sang Penyelamat dunia khususnya bagi Gereja di Indonesia. Ensiklik Redemtoris Missio ini selain memberi landasan teologis juga memberi langkah-langkah konkret dalam tugas perutusan sesuai konteks yang dihadapi Gereja di Indonesia.

III.1. Gereja di Indonesia berhadapan dengan agama lain.

Gereja di Indonesia berada di tengah-tengah agama-agama lain, seperti Islam, agama mayoritas di Indonesia, Hindu, Budha, Konghucu dan agama tradisional. Gereja memang temasuk kelompok minoritas walaupun demikian Gereja tidak boleh tenggelam. Gereja harus berani menjadi saksi yang nyata akan cinta Kristus. Seperti anjuran dalam ensiklik Redemtoris Missio, Gereja harus mengusahakan dialog dengan umat beragama lain khususnya dengan saudara-saudara muslim untuk membina persaudaran dengan umat beragama lain. Gereja di Indonesia memang sudah memulai usaha untuk mengadakan dialog dengan saudara-saudara beragama lain akan tetapi tampaknya usaha itu belum terlalu menjadi gerakan bersama. Ada Gereja yang giat untuk mengusahakan dialog antar agama akan tetapi masih banyak gereja yang tidak peduli akan hal ini.

III.2. Gereja di Indonesia berhadapan dengan masyarakat yang miskin

Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia sebagian besar masih terdiri dari orang-orang miskin yang tertindas. Pertanyaannya apakah Gereja di Indonesia sudah mewartakan sekaligus menghadirkan Yesus Kristus yang peduli kepada orang-orang miskin dan tertindas? Memang Gereja di Indonesia secara konkret telah menyatakan diri berihak kepada mereka yang miskin, tertindas. Akan tetapi ini pun masih berupa slogan, Gereja tampaknya masih belum melaksanakan himbauan dari ensklik Redemtoris Missio secara sungguh-sungguh. Usaha pembinaan dan pengembangan manusia sebagai pelaku pembangunan belum maksimal. Sebagai bukti adalah biaya pendidikan di sekolah-sekolah dan universitas katolik sangat mahal sehingga mereka yang berasal dari golongan miskin tidak dapat mengenyam pendidikan yang baik.

III.3. Gereja di Indonesia berhadapan dengan berbagai macam budaya

Indonesia mempunyai banyak suku dengan adat istiadat dan budaya masing-masing. Tiap budaya mempunyai kekayaannya masing-masing juga kekurangannya. Gereja di Indonesia mempunyai tantangan yang besar dalam tugas pewartaanya. Gereja harus mempelajari budaya dan adat istiadat tiap daerah secara tepat sehingga Gereja dapat menanamkan nilai-nilai injil ke dalam budaya dan Gereja dapat menimba nilai-nilai budaya yang baik ke dalam kekristenan. Sejauh ini  Gereja di Indonesia belum mampu melaksanakan proses inkultrasi dengan baik. Gereja masih sebatas memasukkan budaya ke dalam Gereja seperti lagu-lagu, tarian, arsitektur dan lain-lain[5]. Hal ini disebabkan karena proses inkultarsi bukanlah hal yang mudah. Proses inkulturasi sangat membutuhkan waktu yan panjang dan kecermatan. Gereja tidak boleh menyerah. Gereja harus tetap mengusahakan proses inkulturasi karena kebudayaan Indonsia penuh kekayaan yang tak ternilai.

Daftar Pustaka

Konsili Vatikan II. “Dekrit Tentang Ekuminisme” (UR), dalam Dokumen Konsili Vatikan II, terj R. Hardawirayana, S.J. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor, 2002

“Dekrit Tentang kegiatan Misioner Gereja” (AD), dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawirayana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor, 2002

Konsii“Dekrit Tentang Ekuminisme” (UR), dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawirayana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor, 2002

“Dekrit Tentang kegiatan Misioner Gereja” (AD), dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawirayana, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor, 2002


[1] Lih. Yoh 3:16

[2] .Bdk. Dekrit Ad Gentes bab II, 19-22.

[3] Lih. Himbauan apostolik Evangelli Nuntiandi, hlm 58.

[4] Lih. ensiklik Sollicitudo Rei socialis

[5]  Keterangan dari kuliah katekese dasar.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s