KEBERANIAN DALAM DIALOG LAKHES

Pendahuluan

Keberanian bukanlah kata yang asing. Kata “keberanian” adalah kata yang biasa digunakan, didengar dan diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun apa itu keberanian? Secara leksikal kata keberanian sama dengan kata courage dalam bahasa Inggris.

Courage: the quality of mind or spirit that enables one to face difficulty, danger, pain with firmness and without fear; bravery.[1]

(Keberanian adalah kualitas dari pikiran atau kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk menghadapi kesulitan, bahaya, kesakitan dengan kuat dan tanpa rasa takut; dengan keberanian.)

Jika kata “keberanian” ditafsirkan berdasarkan pengalaman hidup setiap orang, jawaban yang diberikan pasti akan berbeda. Konteks kebudayaan, lingkungan dan masyarakat tempat tinggal dapat memengaruhi jawaban dan defmisi yang diberikan atas pertanyaan “Apa itu keberanian?” Sebagai contoh sederhana, dalam masyarakat Dayak zaman dahulu, keberanian bukanlah sesuatu yang mudah didapat atau mudah untuk digelarkan kepada seseorang. Tradisi mengayau (adat mencari kepala manusia) menjadi salah satu buktinya. Setiap laki-laki yang sudah dewasa haras terlibat dalam tradisi mengayau ini. Hal ini dilakukan sebagai bukti bahwa seorang laki-laki sungguh pemberani karena telah mampu mengalahkan rasa takut yang luar biasa dalam hidupnya dengan mengambil risiko yang besar. Singkat kata, bagi kebanyakan orang Dayak pada zaman dahulu, keberanian adalah sikap ksatria dari seorang laki-laki dengan menunjukkan sikap kejantanannya dengan berperang atau mengalahkan musuh.

Jika keberanian sungguh-sungguh dipandang seperti yang telah diuraikan di atas, akan timbul persoalan yang kiranya tidak mudah untuk dipecahkan. Persoalan yang pertama, apakah istri atau keluarga yang menunggu suaminya di rumah dapat dikatakan sebagai seorang yang penakut? Padahal mereka tidak ikut bukan karena takut tetapi karena adat yang melarang. Atau, jika dibandingkan dengan zaman sekarang, bagaimana dengan banyaknya kaum muda Dayak? Mereka pergi ke luar pulau bukan untuk mengayau tetapi untuk bersekolah demi meningkatkan kualitas masyarakat Dayak sendiri. Dapatkah mereka yang mempunyai cita-cita yang begitu mulia dikatakan penakut? Inilah persoalan-persoalan yang kiranya dapat membawa kita pada pandangan seorang filosof tentang keberanian yang sesungguhnya. Persoalan yang kiranya bisa mengantar kita untuk lebih memahami keberanian dalam Lakhes.

Para ahli telah sepakat bahwa dialog berjudul Lakhes adalah salah satu karya Platon pada masa mudanya, Dalam dialog ini Platon melibatkan tiga tokoh yang cukup terkenal pada masa itu. Mereka adalah Sokrates, Nikias dan Lakhes. Dialog karya Platon ini sebenarnya berciri Sokratik; artinya dialog ini sangat dekat dengan metode dan pemikiran Sokrates dalam memberikan pelajaran. Namun mengapa dialog ini diberi judul Lakhes dan bukan dari nama peserta dialog yang lain? Persoalan ini akan kami bahas terlebih dahulu untuk memahami apa kaitan erat tokoh “Lakhes” dengan keberanian. Lantas, keberanian ini akan kami dibahas dalam bagian selanjutnya.

Persoalan-persoalan Teks Lakhes[2]

Kita perlu mengetahui mengapa dialog Platon ini disebut sebagai dialog yang bercirikan Sokratik. Pertama, pemikiran Sokrates terpusat pada penelitian etika[3] dan politik. Dalam Lakhes titik perhatian pada soal moral ini bisa ditemukan dalam tema pokok dialog yang menyelidiki pendidikan dan kodrat keberanian. Kedua, Sokrates selalu ingin menemukan definisi universal untuk hal-hal yang ia diskusikan.

Sebuah definisi dikatakan universal bila bisa diterapkan dan dikenakan pada semua kasus. Dialog Lakhes menunjukkan perhatian seperti itu karena dialog itu berambisi mencari definisi universal keberanian. Ketiga, Sokrates banyak menggunakan cara berpikir induktif, alur dialog dan pemikiran akan memuncak menuju sebuah proposisi umum dan luas. Dan ini terdapat dalam Lakhes.

Selain ketiga hal pokok di atas, dialog Lakhes juga memiliki ciri Sokratik lainnya, yaitu dialog yang bersifat menyanggah atau sering disebut dengan elegkhos (dialog sanggahan). Dialog sanggahan adalah teknik argumentasi dengan model tanya jawab pendek. Arahnya adalah menyudutkan pihak yang membuat definisi ke jawaban-jawaban yang saling bertentangan. Sejauh mempraktikkan metode elegkhos Sokrates selalu sudah mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa, sehingga ia selalu bebas dari kewajiban menjawab jika ada pertanyaan balik.

Dialog Lakhes juga sering disebut sebagai dialog aporetik, karena dialog ini sepertinya berakhir dalam sebuah aporia (jalan buntu) yang merupakan ciri dari pengajaran Sokratik. Dalam hal ini Sokrates selalu menyatakan dirinya tidak tahu, sekaligus juga Sokrates adalah orang yang paling tahu. Artinya, sejauh Sokrates tidak tahu maka wajar kalau dia tidak tahu dan tidak bisa mendefmisikan apa pun. Dan kalau Sokrates adalah orang yang paling tahu, maka wajar juga kalau lawan-lawan dialognya tidak bisa memberikan definisi tentang keutamaan yang sedang dibicarakan, karena mereka selalu kurang tahu dari dirinya. Sikap seperti inilah yang membuat dialog menjadi buntu (aporia) seperti yang terdapat dalam dialog Lakhes.[4]

Kembali pada permasalahan awal, yaitu mengapa dialog karya Platon ini diberi judul Lakhes! Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa pendapat dari para ahli yang kiranya menjadi alasan pemberian judul Lakhes pada dialog Platon ini. Perkiraan judulnya demikian karena dalam dialog ini figur Lakhes adalah figur ideal yang dengan rela hati menerima elegkhos (dialog sanggahan) Sokratik, sebagaimana telah kita ketahui ciri dari pengajaran Sokrates,

Sebaliknya, Nikias tidak bisa menerima fakta bahwa pendapatnya disanggah oleh Sokrates. Dengan sombong ia meninggalkan diskusi sambil menyatakan bahwa pemecahan untuk kesulitan-kesulitannya saat diskusi akan ditemukan setelah ia bertemu dengan teman-temannya. Besar kemungkinan Platon memilih nama Lakhes sebagai judul dialognya karena ia hendak menunjukkan figur manusia yang cocok dengan spirit Sokratik. Dia adalah orang yang selalu termotivasi untuk belajar dan tidak puas dengan diri sendiri. la mengakui bahwa dirinya tidak tahu dan untuk itu ia selalu berkeinginan mencari tahu. Nikias jelas jauh dari sikap rendah hati yang menjadi ciri nyata Lakhes yang memiliki hasrat untuk senantiasa belajar.[5]

Kodrat Keberanian

Definisi keberanian secara leksikal dan secara khusus (dalam kebudayaan Dayak) sudah sedikit disinggung pada bagian pendahuluan. Pada bagian ini akan dibahas secara khusus apa itu keberanian dalam dialog Lakhes. Definisi keberanian dalam dialog Lakhes ini seakan-akan tidak tercapai. Dengan kata lain dialog Sokrates kali ini juga menemui aporia (jalan buntu). Namun demikian, jalannya dialog Lakhes ini tetap perlu diikuti. Dari alasan-alasan atau sanggahan-sanggahan yang Sokrates kemukakan pada lawan diskusinya dalam dialog Lakhes ini, hadir kemungkinan untuk menemukan kodrat keberanian. Alasan-alasan yang Sokrates kemukakan merupakan alat untuk membongkar pendapat umum yang terkesan sempit dalam mendefmisikan keberanian. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kodrat keberanian dalam dialog Lakhes bukan seperti yang didefinisikan oleh banyak orang pada umumnya.

Kutipan-kutipan dari pembicaraan yang dilakukan Sokrates, Nikias dan Lakhes ini dapat mempertegas pernyataan tersebut.

Sokrates :… Ayo, cobalah merumuskan apa yang kuminta: apa itu keberanian?

Lakhes    : Demi Zeus, Sokrates, tidak sulit untuk merumuskannya. Setiap orang yang menjaga teguh posisi dalam barisannya, siap menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri, kamu boleh yakin bahwa orang itu adalah pemberani.[6]

Apa yang dilakukan Sokrates dalam diskusi atau pembicaraan selanjutnya? Sokrates menyanggah pendapat Lakhes yang sempit dan terpengaruh oleh kebudayaan pada saat itu. Sokrates menyatakan bahwa ada banyak prajurit yang menggunakan strategi berperang “mengejar dan melarikan diri”. Dan mereka itu juga dikatakan pemberani karena pandai dan tangkas dalam memilih strategi perang. Sokrates juga membandingkan dengan orang-orang yang membuktikan keberanian saat menghadapi bahaya-bahaya, di laut, tabah dalam kemiskinan, dalam sakit dan dalam banyak hal termasuk dalam politik. Dapatkah defmisi yang diberikan Lakhes diterapkan pada keberanian-keberanian seperti itu? Tidak sama sekali, sehingga Lakhes kembali memberikan definisi yang kedua tentang apa itu keberanian.

Lakhes    : Jadi, keberanian adalah semacam keteguhan jiwa. Seperti itulah bila memang harus mengatakan keberanian sebagai hal yang secara kodrati tampak dalam contoh-contoh tadi.[7]

Sekali lagi Sokrates menyanggah pendapat Lakhes yang kedua ini. Sokrates berpendapat bahwa tidak semua keteguhan jiwa akan dikatakan sebagai keberaman, bahkan keteguhan yang ditopang oleh kebijaksanaan yang bersifat elok dan baik sekali pun. Sokrates memberi contoh demikian: Seseorang yang teguh membelanjakan uangnya secara bijaksana, karena ia tahu bahwa dengan berbelanja seperti itu ia akan mendapat hasil lebih banyak. Orang itu tidak dikatakan pemberani. Jadi dengan pernyataan tersebut Sokrates mau mengatakan bahwa definisi yang diberikan Lakhes bukanlah definisi dari kodrat keberanian yang sesungguhnya.

Diskusi yang dilakukan Sokrates dengan Nikias pun tidak jauh berbeda dengan diskusi yang dilakukan Sokrates dan Lakhes. Dalam diskusi bersama Nikias pun Sokrates terus-menerus menyanggah pendapat Nikias tentang keberanian. Hanya saja dalam diskusi ini Nikias tidak bisa menerima sanggahan-sanggahan dari Sokrates. Bahkan ia terkesan membela diri untuk menutupi ketidaktahuan dan kelemahannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kodrat keberanian yang dibicarakan dalam dialog Lakhes, bukanlah definisi sempit seperti yang telah dikemukakan. Bisa jadi kodrat keberanian yang dimaksudkan itu ada dalam pikiran kita masing-masing tetapi tidak dapat kita gambarkan dengan kata-kata, seperti yang dikatakan oleh Lakhes: “Aku merasa jengkel karena tidak bisa menyatakan apa yang ada dalam pikiranku. Karena rasanya jelas dalam pikiranku apa itu keberanian, tetapi . . . aku tidak bisa merumuskan dan menyatakannya”.[8] Atau seperti yang dikatakan oleh Sokrates sendiri bahwa ketika kita bersikap teguh dalam mencari kebenaran, mungkin keteguhan semacam inilah yang disebut keberanian.

Relevansi

Apa yang dapat kita petik dari dialog Lakhes ini? Kendati percakapan Sokrates dengan Lakhes berhenti dalam suatu kebuntuan, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada definisi yang memadai untuk melukiskan makna sejati keberanian. Keberanian tidak dapat didefinisikan dalam untaian kata-kata. Keberanian hanya dapat dimengerti ketika manusia menghadapi sesuatu yang mengancam dirinya, namun ia tetap berusaha menghadapinya. Dalam permenungan akan suatu keputusan untuk menghadapi saat-saat mengerikan inilah manusia dapat memahami apa itu keberanian.

Di negara kita sering terjadi kekacauan-kekacauan yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Adanya teroris, kerusuhan antar pelajar dan masih banyak lagi kejadian lain, yang menggambarkan ketidakberesan manusia-manusia zaman ini. Disadari atau tidak oleh kita, alasan mereka melakukan perbuatan-perbuatan itu bukan hanya sebagai pembelaan atau tuntutan atas haknya. Mereka mau melakukan tindakan yang tidak manusiawi itu, karena degan tindakan itu mereka dapat membuktikan keberanian mereka. Keberanian dalam mengambil risiko yang besar. Keberanian bukan perkara mencari masalah dan menunjukkan diri bahwa “aku berani menghadapi bahaya atau risiko.” Keberanian merupakan keputusan untuk merendah sebagai makhluk yang belum penuh dan membiarkan diri dipenuhi oleh kebijaksanaan dan pengetahuan yang benar.

Mengambil suatu keputusan sejatinya merupakan suatu keberanian karena dalam setiap keputusan ada risiko yang harus diambil sebagai konsekuensinya. Namun bukan keputusan untuk mencari masalah.

Penutup

Sokrates mengakhiri dialog ini dengan uraian panjang tentang hasil diskusi yang telah mereka lakukan. Terhadap undangan Lysimakhos dan Melesias, Sokrates menjawab sesuai hasil diskusi, bahwa ia merasa tidak satu pun di antara peserta diskusi, termasuk dirinya, yang pantas menjadi pendidik bagi anak-anak muda. Alasannya karena dalam dialog yang mereka lakukan tidak satu pun dari mereka yang mampu menemukan kodrat dari keberanian yang menjadi tema diskusi. Diskusi yang mereka lakukan berujung pada aporia. Meskipun dialog ini tampak berakhir pada jalan buntu, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa kodrat keberanian yang dimaksudkan ialah definisi keberanian yang bersifat umum dan dapat dikenakan pada semua kasus. Bukan defmisi keberanian yang bersifat sempit, seperti pandangan kebanyakan orang, yang dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaan, tempat tinggal dan lingkungan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Russell,Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Wibowo, A.  Setyo. Mart Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes).  Jakarta: ipublishing, 2011.

Yerkes,David. Webster’s Encyclopedic Unabridged Dictionary Of The English Language. New York: Gramercy Book, 1989.


[1] David Yerkes, Webster’s Encyclopaedia Unabridged Dictionary Of The English Language, New York: Gramercy Book, 1989, hlm. 334.

[2] Kata Lakhes yang bercetak miring merujuk pada judul buku/ judul dialog, sedangkan yang bercetak lurus merujuk pada nama Lakhes sendiri.

[3] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, him. 123.

[4] Bdk. A. Setyo Wibowo, Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes), Jakarta: ipublishing, 2011, hlm.. 51-57.

[5] Ibid. him. 78-80.

[6] Ibid. hlm. 109-110.

[7] Ibid. hlm. 113.

[8] Ibid., hlm 118.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s