TEMPORALITAS MENURUT HEIDEGGER

Dalam bagian kedua Being and Time, Heidegger mengajukan pendapat untuk menempatkan makna ontologis “perhatian” (care) sebagai temporalitas. la menunjukkan bahwa hakikat Dasein paling tepat dipahami sebagai temporalitas. Ketika membaca Heidegger, temporalitas seharusnya tidak dipahami dalam arti kronologis. Sebaliknya, temporalitas merupakan gerakan proses menjadi dari Dasein (the movement of Dasein’s becoming). Hal ini berarti bahwa kita selahi bergerak menuju masa depan kita. Dalam menjalani proses ini, kita sedang menjadi siapa diri kita. Kita menjadi hadir bagi diri kita. Temporalitas yang merupakan hal fundamental bagi Dasein, menunjukkan kepada kita keterbatasan kita.

Heidegger mengusulkan bahwa bagian pertama dari Being and Time mengembangkan suatu deskripsi Dasein yang didasarkan pada ‘only a partial “having” of Dasein.’ Penjabaran perhatian (Care) sebagai suatu straktur dari hakikat Dasein, berfungsi hanya sebagai sebuah deskripsi awal. Bagian pertama dari analisis terfokus terutama pada keseharian dari Dasein dan pada aspek-aspek Dasein, seperti disposisi-disposisi atau mood-mood tertentu. Tugas yang tersisa adalah untuk memahami Dasein sebagai suatu keseluruhan dan keautentikan. Haidegger bermaksud mengembangkan lebih lanjut suatu deskripsi tentang Dasein yang akan menguak Dasein dalam totalitas autentiknya. Heidegger memfokuskan refleksi pada kematian untuk memahami Dasein dalam totalitasnya. la memfokuskan refleksi pada hati nurani (conscience) untuk memahami autentisitas Dasein.

Kematian

Heidegger mengatakan bahwa kematian membatasi dan menentukan posibilitas Dasein. Jika Dasein harus dipahami dalam totalitasnya, kematian harus disertakan. Jika kita harus memahami diri kita, kita harus memahami kematian kita. Tetapi sejauh Dasein ada, kematian masih di luar atau melampaui dirinya. Sepanjang kita hidup, kita sedang memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan bagi diri kita. Biarpun kita sadar bahwa kita dapat mati, atau sekurang-kurangnya akan menyadari hal tersebut ketika kita menjadi tua, kita tetap terus berpikir tentang masa depan. Kita merencanakan apa yang akan kita lakukan sore ini, besok, minggu depan, dan tahun depan. Sebagaimana ditunjukkan oleh Heidegger, kita selalu lebih dahulu dari diri kita. Jika analisis Heidegger dilanjutkan, akan terdapat suatu jalan bagi Dasein untuk memahami kematiannya.

Sebuah kemungkinan adalah bahwa Dasein bisa mengalami kematian orang lain. Tentu saja banyak hal bisa dipelajari dengan mengamati kematian orang lain. Ketika kita menyaksikan orang lain meninggal kita mengamati suatu transisi dari sebuah makhluk menjadi makhluk yang lain. Dalam bahasa Heidegger, kita bisa mengamati sebuah perubahan entitas dari sebuah Dasein menjadi suatu entitas “present-at-hand.” Tetapi kita tidak pernah bisa mengalami kematian orang lain. Heidegger menegaskan bahwa Dasein adalah setiap dari kita. Analisis Dasein adalah sesuatu yang dapat dan harus kita lakukan sendiri. Jika Dasein harus dipahami dan dikaji dalam totalitasnya, setiap dari kita harus mampu mengerti kematian kita sendiri. Heidegger percaya bahwa kita dapat melakukan hal ini. Dia tidak memaksudkan bahwa setiap dari kita dapat tahu waktu dan hakikat kematian kita. Tetapi Kita sungguh dapat dan sungguh ada sebagai makhluk menuju kematian (being-toward-death). Kita mengerti kemortalitasan kita.

Dalam kehidupan keseharian kita kematian biasanya disembunyikan. Praktek-praktek terkait dengan kematian dewasa ini membuktikan hal ini. Kita jarang berkata bahwa seseorang mati. Sebaliknya, kita sering mengatakan seseorang wafat (passed), atau mengindikasikan bahwa seseorang telah pergi ke suatu tempat seperti surga, atau bersama dengan Tuhan, atau dengan seseorang yang telah meninggal sebelumnya. Kita juga meyakinkan orang, bahkan mereka yang kita tahu segera akan mati, bahwa mereka telah melewati masa hidup panjang. Heidegger mengatakan bahwa dalam kehidupan keseharian kita, ketika kita ditelan oleh atau larut dalam “mereka,” kita lari dari kematian. Tetapi pelarian ini menyatakan bahwa pengertian kita bahwa kematian adalah pasti dan tidak tentu. Kita tahu bahwa kita akan mati, dan kita tahu bahwa kapan kita mati adalah tidak tentu. Kita juga tahu bahwa kita akan mati sendirian. Heidegger menulis, “death, as the end of Dasein, is Dasein’s ownmost possibility – non relational, certain and as such indefinite, not to be outstripped” (BT 258-59).

Heidegger menunjukkan bahwa bahkan ketika kita mengembangkan struktur-struktur sosial yang membantu kita untuk menyembunyikan dan lari dari kematian, kita menyatakan pemahaman kita yang terdalam bahwa kita dapat mati. Kematian dapat membantu kita untuk memahami diri kita sebagai suatu totalitas, ketika kita menerima kematian sebagai kemungkinan diri kita yang paling pribadi. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus memikirkan terus kematian dan putus asa. Juga bukan berarti bahwa kita harus berusaha mempercepat kematian seolah kita kita punya kemungkinan lain dimana diri kita bisa kita arahkan. Jika kita mengantisipasi kematian, kita menjalani diri kita secara autentik. Heidegger berkata bahwa kita dapat menghidupi kehidupan kita dengan suatu “kebebasan menuju kematian” (BT 266). Kebebasan ini tidak membebaskan kita dari ilusi-ilusi yang terjadi dalam “mereka.” Kita mengerti bahwa kita telah hilang dalam “mereka”dan kita bisa menemukan diri kita.

Kebebasan semacam ini kadang-kadang dijumpai dalam diri orang yang mempunyai pengalaman menjelang ajal, atau mereka yang tersentuh secara mendalam oleh kematian orang lain. Ketika mereka mengerti kematian kematian mereka sendiri, mereka terbebaskan untuk menikmati hari ini. Mereka mungkin mencoba melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka coba sebelumnya. Mereka mungkin mengajukan pendapat yang sebelumnya tidak pernah mereka ajukan karena terjebak pada apa yang akan dipikirkan oleh orang lain. Kita berkata bahwa mereka telah menerima kematian. Tetapi penerimaan ini tidak membuat mereka tidak waras atau depresi. Dalam terang kematian, setiap momen dihargai dan setiap keputusan dipertimbangkan dengan seksama. Heidegger berkata, dalam kebebasan ini, Dasein bisa mendengar suatu panggilan hati nurani (conscience).

Nurani (Conscience)

Conscience, menurut Heidegger, adalah kesadaran akan keterbatasan kita yang telah dibangunkan, suatu eksistensi moral. Dia mengatakan bahwa ketika kita terserap dalam “mereka” kita mendengarkan pembicaraan-pembicaraan kosong dan celotehan umum yang terus berlangsung. Apa yang tidak mampu kita dengar adalah diri kita sendiri. Panggilan hati nurani mematahkan rampian ini. Panggilan hati nurani tidak ambil bagian dalam obrolan-celotehan, tetapi diam-diam meminta kita untuk menghadapi siapa diri kita. Heidegger mengatakan panggilan semacam itu meminta kita untuk menuju ke posibilitas kita (BT 274).

Panggilan hati nurani harus tidak dipahami sebagai yang berasal dari suatu kekuatan yang melampaui atau di luar Dasein. Heidegger tidak ingin panggilan tersebut dipahami sebagai panggilan Tuhan atau apapun yang melampaui keterbatasan manusia. la menulis,

Conscience manifests itself as the call of care: the caller is Dasein, which, in its thrownness is anxious about its potentiality-for-Being. The one to whom the appeal is made is this very same Dasein, summoned to its ownmost potentiality-for-Being. Dasein is falling into the “they,” and it is summoned out of this falling by the appeal. (BT 177).

Hati nurani meminta kita untuk menjadi jujur terhadap diri kita.

Heidegger mengatakan bahwa suara hati berbicara kepada kita tentang kesalahan kita. Lagi-lagi, Heidegger menggunakan kata-kata yang bernuansa religius, khususnya kristen, dan yang kadang-kadang bisa menyesatkan. Kesalahan sebaiknya tidak dipahami sebagai suatu kesalahan moral. Panggilan hati nurani tidak mengatakan bahwa kita salah karena terus makan snack, atau karena kita melukai orang lain. Our guilt is our incompleteness. What we are guilty of is a refusal to acknowledge our own finitude. Kita bisa menolak panggilan hati nurani dan menjadi tidak autentik. Hal ini berarti bahwa kita tetap tinggal dalam “mereka,” bersembunyi dari realitas mortalitas kita. Atau, kita bisa menjawab panggilan hati nurani dan menjadi autentik.

Heidegger menyebut jawaban atas panggilan hati nurani, keteguhan hati (resoluteness). la mengatakan bahwa resoluteness adalah suatu modus distingtif dari penyibakan Dasein. Dalam menjawab panggilan hati nurani, Dasein memutuskan untuk menjadi benar-jujur bagi dirinya. Hal ini berarti bahwa hidup dalam cara sedemikian untuk menyibak hal-hal orang lain, diri sendiri sambil juga mengakui keterbatasan fundamental dari Dasein.

Temporalitas dan Keterbatasan (finitude)

Setelah mengkaji kematian dan hati nurani, Heidegger kembali ke ‘concern’ dengan mana ia memulai bagian kedua dari karyanyang Being and Time. Ia mengembangkan suatu deskripsi yang memungkinkan kita untuk memahami Dasein dalam totalitasnya. Di bagian akhir dari divisi pertama, care hampir menyediakan kesatuan ini. Pada point tersebut Heidegger mendefinisikan care sebagai “ahead-of-itseif-already-being-in (a world) as Being -alongside (entities encountered-within-the-world)” (BT 327). Kajian tentang kematian dan hati nurani telah rnengarahkan ke ‘resoluteness’. Heiddeger menunjukkan bahwa resoluteness menunjukkan kepada kita a “unity of a future which makes present in the process of having been” (BT 326). Kedua konsep ini didefinisikan dalam terminus “of a relational structure” yang menunjukkan apa yang secara umum dipandang sebagai a future, past, and present. Heidegger mengatakan bahwa kesatuan yang nyata daiam CARE dan yang dinyataakan lagi dalaam RESOLUTENESS paling tepat dipahami sebagai temporalitas.

Care dan Resoluteness menunjukkan struktur dasar Dasein sebagai temporalitas bermatra tiga. Sementara analisis Heidegger mencakup kompleksitas yang secara filosofis penting, deskripsi dia pada suatu tataran cukup bisa dipahami dengan gampang.

To be human is to be directed towards the future, to always be becoming oneself. However, in moving into the future, our past is always with us. The past is both our individual past and the historical past that has halped form our pre-understandings. In the process of becoming what we already are, we are present. We disclose ourselves to ourselves and others and we disclose things in their present, situated, relationship to us. This entire process is temporality. Because of this, Dasein’s present, and so all meaning is disclosed, is always finite. It is incomplete and in the process of becoming.

Akan tetapi Heidegger ragu-ragu untuk sekedar menggunakan bahasa ‘future, present, and pasti. Terminus-terminus tersebut mengandung banyak pengandaian yang berusaha ia lewati/ tinggalkan. Dalam mengembangkan konsep temporalitas, Heiddeger mengembangkan apa yang ia sebut “the ECSTASES”of temporality (BT 329). Cara untuk mengartikulasikan temporalitas ini dikembangkan di tahun 1926, sejenak sebelum flnalisasi terbitan Being and Time. Pemilihan terminus tersebut dimaksudkan untuk membuat hubungan antara eksistensi dan temporalitas lebih jelas dan untuk menekankan hakekat process dari temporalitas. Kita mempunyai kecenderungan untuk memahami waktu dalam arti sebagai serangkaian titik-titik spatial. Heiddeger meletakkan suatu pemahaman tentang temporalitas yang membantu kita memahami keterbatasan kita dari posisi pengalaman hidup kita. Heidegger menyebut ecstases of temporality ini juga sebagai “primordial time”.

Dalam memilih terminus ‘ecstases’ Heiddeger sedang menunjuk cara dalam mana eksistensi kita selalu berada di luar dirinya (our existence is always outside of itself). Hal ini tidak berarti bahwa kita pertama-tama merupakan substance atau self yang kemudian bergerak keluar dari diri sendiri. Melainkan, bahwa eksistensi kita selalu mempunyai arah/direksi. Kita selalu terorientasikan pada kemungkinan-kemungkinan, terarah ke masa lalu sebagaimana hal itu merupakaan bagian dari eksistensi kita, dan teraraah pada entitas-entitas di dunia eksistensi kita. While these moments are differentiated, they also constitute a unified whole. This is temporality.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s