Ajaran Infalibilitas di Dalam Gereja

Dalam Kanon 749 dikatakan bahwa Tiada suatu ajaran pun dianggap sudah ditetapkan secara tak-dapat-sesat, kecuali jika hal itu sudah jelas dan pasti, secara jelas menggambarkan posisi dari ajaran ini di dalam Gereja. Dalam teologi Katolik, infalibilitas kepausan adalah dogma yang menyatakan bahwa, dengan kuasa Roh Kudus, Sri Paus dilindungi dari (bahkan) kemungkinan membuat kesalahan ketika ia secara resmi menyatakan atau mengumumkan kepada Gereja mengenai sebuah ajaran dasar tentang iman atau moralitas seperti yang terkandung di dalam wahyu Tuhan, atau setidaknya memiliki hubungan yang sangat dalam dengan wahyu Tuhan. Untuk semua ajaran infalibilitas, Roh Kudus juga berkerja lewat tubuh Gereja untuk memastikan bahwa ajaran-ajaran tersebut diterima oleh semua umat Katolik.

Doktrin ini memiliki arti dogmatis dalam Konsili Vatikan Pertama tahun 1870. Menurut teologi Katolik, ada beberapa konsep yang penting untuk dipelajari agar bisa mengerti tentang infalibilitas dan wahyu Tuhan: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Suci. Ajaran-ajaran infalibilitas kepausan adalah bagian dari Magisterium Suci, yang juga terdiri atas dewan-dewan ekumenikal (kumpulan para uskup) serta majelis-majelis biasa dan dunia. Dalam teologi Katolik, infalibilitas kepausan adalah salah satu terusan dari infalibilitas Gereja. Infalibilitas kepausan harus berdasarkan pada, atau minimal tidak mengkontradiksi, Tradisi Suci maupun Kitab Suci. Infalibilitas kepausan tidak berarti bahwa Sri Paus adalah suci sempurna, yakni dirinya khusus dibebaskan dari beban dosa.

Semakin berkembangnya zaman permasalahan mengenai ajaran tak-dapat-sesat atau yang dikenal dengan sebutan infalibilitas mengalamai kontradiskis.  Permasalahan ini semakin menjadi ketika Eknsiklik Humane Vitae dimunculkan ke public sebagai jawaban Gereja terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Jika dilihat dalam kisah perjalanan dari Gereja, melaui adanya ajaran ini, Gereja mengalami masa kegelapan. Mulai dari reformasi Kristen, sampai kepada kenyataan bahwa ilmu-ilmu empiris dapat mengubah ajaran dari Gereja yng sudah dipupuk selama bertahun-tahun. Kenyataan ini membuat pukulan tersendiri di dalam tubuh Gereja.

Sejarah Teologi

Abad Pertengahan

Dalam abad pertengahan dan abad pencerahan doktrin infalibilitas kepausan dikembangkan pertama kali. Teolog pertama yang secara sistematis membahas infalibilitas dari dewan-dewan ekumenikal adalah Theodore Abu Qurra di abad ke-9. Beberapa teolog abad pertengahan mendiskusikan infalibilitas kepausan ketika memutuskan masalah-masalah iman dan moralitas, termasuk di antaranya Santo Thomas Aquinas dan John Peter Olivi. Pada tahun 1330, Guido Terreni, seorang uskup dari ordo Karmel, menjelaskan penggunaan rahmat infalibilitas oleh Sri Paus dalam kata-kata yang sangat mirip dengan apa yang digunakan dalam Konsili Vatikan Pertama.

Definisi yang menjadi Dogma pada tahun 1870

Di akhir bab ke-empat konstitusi dogmatis tentang Gereja yang disebut Pastor Aeternus, yang diumumkan secara resmi oleh Paus Pius IX, Konsili Vatikan Pertama tahun 1870 mendeklarasikan hal berikut (dengan penolakan dari Uskup Aloisio Riccio dan Uskup Edward Fitzgerald):

“Kita mengajarkan dan mendefinisikan bahwa suatu hal adalah sebuah dogma yang dinyatakan oleh Tuhan ketika Uskup Roma mengatakannya ex cathedra, yakni ketika memutuskan dari kedudukannya sebagai imam dan guru semua umat Kristiani, berdasarkan kekuasaan apostolis tertingginya, ia menetapkan sebuah doktrin mengenai iman atau moralitas untuk diikuti oleh seluruh Gereja, dengan bantuan Tuhan yang dijanjikan kepadanya melalui Santo Petrus yang terberkati, yang dimilikinya dari bagian infalibilitas dimana dengannya Tuhan Sang Penebus Dosa berkehendak agar Gerejanya diberkati dengan kekuasaan untuk menetapkan doktrin mengenai iman dan moralitas, dan oleh karenanya ketetapan-ketetapan dari Uskup Roma yang berasal dari dirinya sendiri dan bukan berasal dari persetujuan Gereja adalah tidak bisa diubah. Oleh karenanya kemudian, apabila ada seseorang, semoga Tuhan melarang adanya, memiliki keberanian yang salah untuk menolak keputusan yang telah kami ambil, biarkanlah dia menjadi yang terbuang.” (Konsili Vatikan, bagian IV , Const. de Ecclesiâ Christi, Bab IV)

Menurut teologi Katolik, hal ini adalah ketetapan dogmatis yang tidak bisa salah yang diambil oleh Dewan Ekumenikal. Infalibilitas kepausan lantas secara formnal ditetapkan pada tahun 1870, walaupun tradisi dari pemikiran ini telah ada jauh sebelumnya seperti yang tertulis di atas.

Konstitusi dogmatis Lumen Gentium dari Konsili Vatikan Kedua yang ekumenikal, yang juga merupakan sebuah dokumen mengenai Gereja itu sendiri, secara jelas menegaskan lagi ketetapan mengenai infalibilitas kepausan, untuk menghindari kesangsian apapun mengenainya, yang terpapar dalam kata-kata berikut:

“Konsili Suci ini, mengikuti secara dekat langkah-langkah Konsili Vatikan Pertama, terutama tentang Konsili tersebut mengajarkan dan menetapkan bahwa Yesus Kristus, Sang Gembala Abadi, mendirikan Gereja Suci-Nya, telah mengutus para rasul seperti juga diri-Nya sendiri telah diutus oleh Allah Bapa; dan Ia menghendaki agar para penerus rasul-rasul-Nya itu, yang disebut Uskup, tetap menjadi para gembala dalam Gereja-Nya bahkan hingga pada saat dunia ini telah menjadi sempurna. Dan agar keuskupan itu sendiri satu dan tidak terpecah-belah, Ia menempatkan Santo Petrus yang terberkati di atas rasul-rasul yang lain, dan menganugerahi di dalam dirinya sumber dan dasar yang kekal dan jelas bagi kesatuan iman dan persaudaraan. Dan semua ajaran ini mengenai lembaga, kekekalan, arti dan alasan bagi kedudukan tinggi yang suci dari Keuskupan Roma dan bagi magisteriumnya yang tidak bisa salah, Konsili Suci ini menyatakan lagi untuk secara kuat dipercaya oleh semua umat.”

Oleh karena ketetapan tahun 1870 tidak dipandang oleh umat Katolik sebagai sebuah produk Gereja, namun sebagai wahyu dogmatis mengenai kebenaran akan Magisterium Kepausan, ajaran-ajaran Paus yang dikeluarkan sebelum tahun 1870 dapat dianggap memiliki unsur infalibilitas juga apabila ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan kriteria yang dijabarkan dalam ketetapan dogmatis. Ajaran Ineffabilis Deus adalah salah satu contoh dari hal ini.

 

Semakin Dipertanyakan

Infalibilitas dimengerti sebagai bebas dari kemungkinan sesat/salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan iman dan moral yang diwahyukan. Ini dianugerahkan oleh Kristus kepada seluruh Gereja dengan perantaraan Roh Kudus (Yoh 16:12-15; Lumen Gentium 12), khususnya kepada seluruh dewan uskup dalam kesatuan dengan paus, pengganti Petrus (lih. Kis 15:1:29; 1Kor 15:3-11; LG 25). Konsili Vatikan I mengajarkan bahwa paus tidak dapat sesat/salah, dalam jabatan sebagai gembala seluruh orang beriman dan pengganti Petrus, untuk mengajarkan kebenaran tentang iman dan moral ex cathedra (DS 3065-3075). Ex cathedra menunjuk pada sifat resmi suatu pernyataan kepausan. Ketetapan ex cathedra yang dikeluarkan seorang paus sebagai gembala dan guru semua orang Kristen dan sebagai kepala dewan uskup didasarkan pada kewibawaan apostolik tertinggi yang diserahkan kepadanya untuk menjaga kemurnian ajaran iman dan moral kristiani. Buku Jesus of Nazareth adalah refleksi Paus Benediktus selaku pribadi.

Paus sendiri membuka kesempatan bagi khalayak ramai untuk mengkritisi karyanya. Gambaran Yesus dalam buku itu adalah refleksi dan sudut pandang pribadinya, bukan ajaran resmi Gereja Katolik Roma. Dalam konteks ini, kesalahan kecil dalam karya tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk menafikan atau mempertanyakan ajaran tentang infalibilitas.

Paus juga manusia. Selaku pribadi, seorang paus tentu dapat salah, baik dalam perkataan maupun tindakan. Namun segala perkataan dan tindakan seorang paus sebagai pribadi tidak bisa dikaitkan dengan infalibilitas. Dengan kata lain, infalibilitas dikenakan pada jabatan paus, bukan pada pribadinya (bdk. KHK 749 § 3). Dalam kenyataannya, ajaran-ajaran yang kebal salah (yang disampaikan ex cathedra) biasanya dihasilkan oleh konsili-konsili ekumenis. Amat jarang dari seorang paus. Seorang paus wajib menyelidiki iman seluruh umat beriman sebelum memberikan suatu ajaran resmi.

Dalam usaha menafsirkan ajaran-ajaran yang kebal salah, orang harus membedakan antara inti ajaran dan rumusannya. Yang kebal salah adalah inti ajaran yang mau disampaikan. Rumusan tentu dapat ditinjau ulang mengingat keterbatasan bahasa dan latar belakang zaman ketika rumusan itu dibuat. Kebenaran kristiani terlampau luas maknanya untuk dirumuskan secara memadai dalam kata-kata. Oleh karena itu umat beriman harus menyatakan Kebenaran itu dalam karya cinta kasih yang nyata yang melampaui rumusan kata-kata.

 

Pembaharuan Ajaran

Pada dasarnya, dogma Infalibilitas Paus menyatakan bahwa apabila Paus berbicara tentang iman dan moral dalam kapasitasnya sebagai kepala Gereja Katolik Roma, maka ia tidak dapat salah karena perlindungan ilahi.

Hal ini dianugerahkan oleh Yesus Kristus kepada seluruh Gereja dengan perantaraan Roh Kudus, sesuai dengan yang dinyatakanNya sendiri didalam Injil Yohanes: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu.” (Yoh 16: 12-14)

 

Infalibilitas dan Ineransi Alkitab

Sadarkah kita bahwa kita hidup di dalam zaman yang menghadapi tantangan dari berbagai doktrin atau pengajaran yang salah? Tentu itu bukanlah hal yang baru, karena dari sejarah gereja kita juga dapat melihat bagaimana doktrin yang benar sangat penting untuk ditegakkan dan diteruskan ke generasi-generasi berikutnya. Secara khusus mengenai doktrin Alkitab, begitu banyak pandangan dan pengajaran yang salah yang di dalam kesalahannya dapat membuat kehidupan Kristen menjadi terombang-ambing dan tidak sehat.

Pengwahyuan Firman Tuhan, otoritas Alkitab, kanonisasi, infalibilitas (infallibility) dan ineransi (inerrancy) Alkitab merupakan pokok-pokok dari doktrin Alkitab yang sangat penting untuk kita mengerti. Selain itu hal-hal yang berkaitan dengan naskah asli dan terjemahan Alkitab juga menjadi hal yang esensial bagi kehidupan kekristenan kita. Artikel ini lebih berfokus pada doktrin infalibilitas dan ineransi Alkitab.

Suatu kenyataan yang menyedihkan adalah ketika mendengar ada orang-orang yang menyelidiki Alkitab bukan untuk semakin tunduk pada otoritasnya, melainkan berusaha untuk mendaftarkan semua kesalahan dan pertentangan yang menurut pendapat mereka terdapat di dalam Alkitab.Pandangan ortodoks yang percaya Alkitab adalah Firman Allah yang merupakan kebenaran yang absolut dan obyektif, mendapat tantangan baik dari pandangan liberal/ neo-liberal dan pandangan neo-ortodoks.

Pandangan liberal menyatakan bahwa ada bagian-bagian dari Alkitab yang merupakan Firman Allah, tetapi bagian-bagian lainnya hanyalah perkataan manusia. Mereka bahkan percaya bahwa mereka dapat menentukan bagi mereka sendiri bagian mana yang benar dan yang salah. Pandangan neo-ortodoks atau disebut juga barthianism percaya bahwa seluruh bagian Alkitab merupakan perkataan manusia yang mungkin salah, tetapi ketika seseorang membaca Alkitab, Tuhan dengan cara-Nya memakai setiap perkataan itu sehingga melalui kata-kata tersebut, sang pembaca menerima di dalam akal pikirannya perkataan Tuhan Allah yang benar. Berdasarkan konsep yang demikian maka bagi mereka ada bagian tertentu dari Akitab yang bagi satu orang merupakan Firman Tuhan sedangkan bagi orang lain bagian tersebut bukan Firman Tuhan.

Pandangan ortodoks secara tegas menyatakan bahwa keseluruhan Alkitab (setiap kata dari Akitab) adalah Firman Allah yang menyatakan kebenaran dari Tuhan. Tidak ada bagian dari Alkitab yang tidak diinspirasikan Allah. Alkitab adalah Firman Allah.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s