ETIKA DALAM FILSAFAT AKU DAN LIYAN

Pengenalan akan eksistensi ‘Aku’ adalah sebuah permulaan dari aktivitas berfilsafat. Aktivitas inilah yang biasa disebut juga sebagai konsep Kesadaran Diri. Konsep ‘Aku’ sebagai muara yang menggiring kepada sebuah pengertian tentang etika. Pelbagai macam pemikiran dari beberapa filosuf yang akan menterjemahkan konsep ‘Aku’ sebagai dasar dari pengertian etika. Mulai dari Fichte yang mejelaskan ‘Aku’ sebagai ‘Aku absolut’ yang menjelaskan keseluruhan realitas hidup manusia. Keseluruhan realitas hidup manusia bukan hanya dalam tataran ‘kesadaran mengenai nama, alamat, atau segala yang bersentuhan dengan ‘aku’, melainkan melingkupi keseluruhan yang bersentuhan dengan ‘aku’ sendiri. Dengan kata lain keseluruhan ini adalah apapun yang terjadi dalam relalitas di dalam ‘aku’.

Dasar Etika Berasal dari “Aku”

Konsep ‘aku’ tidak akan lepas dari keseluruhan realitas hidup manusia. Manusia untuk dapat dimengerti dengan membedakan ‘aku’dan ‘Bukan Aku”. Pernyataan tersebut dapat dimengerti dengan mengingat konsep yang diusung oleh para filosof awal yang menyebutkan manusia terdiri dari Jiwa dan Badan. Walaupun Plato sendiri mengatakan Badan adalah penjara bagi jiwa, akan tetapi bukan berarti pengertian ini bermakna negatif. Plato mengusung konsep tentang ‘aku’ sebagai suatau entitas yang bersifat dualistis. Ini adalah gaya dari pemahaman yang berkembang pada abad Yunani, yang memandang badan ini adalah yang fana, sedangkan jiwa merupakan dari kesempurnaan “Aku Absolut”. Sehingga ketikan konsep manusia tentang ‘Aku’ dan” Bukan Aku”  dimunculkan akan menjadi sebuah kesadaran, yang di dalamnya terdapat hamparan kebenaran dan keindahan. Inilah keseluruhan dari konsep dan realita tentang keseluruhanku. Kesadaran ini membawa manusia kepada pengertian bahwa aku adalah makhluk yang berakalbudi. Sehingga secara jelas bahwa kebenaran dan keindahan akan nyata, ketika hal itu dikejar dengan berakalbudi.

Kesadaran tentang ‘aku’ akan menunjukkan tentang kesadaran akan pengalaman secara menyeluruh, dan bukan sekedar aktivitas berpikir. Sedangkan konsep ‘Bukan Aku’ adalah apa saja yang merupakan keseluruhan dari kemanusiaanku. Apa saja yang merupakan keseluruhanku ini mau menegaskan keterpisahan antar bagian-bagian dari apa yang ada dalam hidupku atau kemanusiaanku sebagai bukan yang terpisah-pisah melainkan bagian per bagian yang menghadirkan keseluruhan dari keterpisahan. Dengan kata lain konsep ‘aku’ adalah kemanusiawian sedangkan “Bukan Aku”merupakan hal yang ada pada kemanusiaanku yang dapat binasa.

Dalam konsep ‘aku’ yang tidak dapat dipisah-pisahkan itulah yang dimaksud dengan manusia. Manusia bukan hanya sekedar seperti apa yang di katakana oleh para filosof awal, sebagai badan dan jiwa, melainkan manusia adalah “aku”. Hal ini yang menjadikan manusia adalah ‘aku’ dari keindahan, kebaikan, kebenaran, keutuhan, dan kesempurnaan. Sketsa inilah yang disebut dengan sketsa keindahan manusia dalam kehadirannya. Sketsa ini muncul dari tindakan dan pengharapan. Tindakan dan pengharapan ini muncul dari aktivitas berpikir dan kerinduan akal budinya yang berujung pada suatu kerinduan yang tak pernah tuntas.

Penciptaan “Aku”

 Kehadiran konsep ‘aku’ dalam realitas merupakan perwujudan dari kompleksitas yang kaya, yaitu adanya konsep Penciptaan ‘aku’ serta ‘being’ aku. Penciptaan ‘aku’merupakan sudut pandang teologis yang berdasarkan dari kisah penciptaan ketika Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan. Siapakah Adam, yaitu Tuhan menciptakan pastilah pertama-tama ‘aku’-nya Adam. Hal ini menegaskan dia adalah makhluk pertama-tama adalah makhluk dengan kesadaran ‘aku’. Semakin menarik ketika Adam ini adalah makhluk ciptaan yang berbeda dari makhluk ciptaan yang lain. Dimana letak perbedaan itu? Kesadaran ‘aku’ juga seolah-olah tidak berasal dari bagian tertentu yang berkembang atau mengalamai evolusi seperti yang ditegaskan oleh Darwin. Kesadaran ‘aku’ adalah kekhasan dari manusia yang hanya dimiliki oleh manusia, makhluk lain tidak memiliki kesadaran ‘aku’, sehingga kesadaran ‘aku’ adalah kesekaligusan dari kehadiran manusia. Sedangkan mengenai ‘Being’aku terletak pada keindahan manusia itu sendiri. Keindahan yang terletak dalam manusia terdapat di keindahan dari Sang Pencipta. Hal ini menjadi penting sekali dalam melihat manusia secara keseluruhan, terlebih dalam kasus pembunuhan, mengapa manusia tidak boleh saling membunuh, alasananya terketak pada ‘Being’ada ini, yaitu manusia itu adakah makhluk ciptaan tuhan yang paling indah. Maksudnya, sejauh manusia ‘mengada’, manusia adalah peraturan normative dan etis sekaligus. Segala yang berlaku kapan pun dan dimana pun, sebab keberadaannya adalah hukum etika itu sendiri.

Dalam kisah penciptaan manusia, Adam mencapai ke-Aku-annya dari sebuah proses yang bernama relasi. Aku yang berelasi ini pertama-tama dibangun oleh manusia kepada Sang Pencpta ‘aku’. Sehingga dapat dikatakan juga bahwa ketika hanya Adam yang memiliki ‘aku’, ia hanya dapat berelasi dengan Pribadi lain, yang lebih besar dari dirinya, yang adalah sang ‘Aku’. Keserupaan ini menjadi nyata dalam posibilitas komunikasi. Gagasan ini menjadi lebih jelas ketika Martin Buber memiliki konsep relasi I dan Thou. Manusia tidak bias hidup sendiri, ia adalah homo Socius. Ia hidup dalam realitas yang saking berkaitan antara pribadi satu dengan lainnya. Hidupnya ada karena orang lain dan untuk orang lain. Manusia berusaha mencari kepenuhan hidupnya di dalam setiap perjumpaan yang dialaminya bersama dengan orang lain. Kepenuhan itu memuncak pada saat manusia mengalami perjumpaan yang ia bangun bersama dengan realitas Absolut, yakni Tuhan sendiri. Melalui relasi I and Thou manusia berziarah menuju kepenuhan hidupnya dalam relasi ini.

Relasi I and Thou adalah relasi yang menampilkan keseluruhan kondrat kamunikasi manusia yang paling mungkin. Aku adalah ‘aku’ ketika kita berelasi dengan ‘Engkau’. Komunikasi yang dibangun dalam konsep Buber ini memandang lawan bicara tidak hanya sebagai ‘engkau’ saja melainkan meneguhkan kesadaran ‘aku’. Inilah inti dari sebuah persahabatan. Aku-Engkau bukan memaksudkan “things” melainkan sebuah relasi kesadaran dan komunikasi kedekatan. Kesadaran mengandung arti juga bahwa manusia hadir dengan keseluruhan dirinya, bukan hanya secara fisik  tetapi juga pengalaman suka-duka yang dialaminya. Kedekatan yang juga ditampilkan dalam sebuah komunikasi Aku-Engkau semakin menguatkan realitas manusia sebagai “aku” subjek.

Keberadaan manusia tidak bisa dipisahkan dari ciptaan-ciptaan yang lain, terlebih Sang Pencipta sendiri. Ia akan terus bergumul dengan hidup dan dunia sekitarnya untuk meraih kesempurnaan hidupnya. Perjumpaan demi perjumpaan manusia dengan semuanya ini akan membawa kepadanya kesempurnaan hidupnya. Dari perjumpaan – perjumpaan itulah manusia akan membangun sebuah relasi. Relasi yang mengandung banyak arti dan penuh kedalam makna, karena manusia membangun relasi atas dasar I and Thou dan berpuncak pada I and Eternal Thou, sehingga manusia mengalami kepenuhan hidupnya. Relasi “Aku-Engkau” membawa manusia kepada proses pencaharian hidupnya untuk semakin meneguhkan kesadaran eksistensinya. Pencaharian itu membuat manusia semakin mengenal kesejatian dirinya. Manusia akan semakin memperdalam pencaharian hidupnya ketika ia masuk ke wilayah “Aku-Engkau(Tuhan)”. Buber menyebut relasi ini dengan I and Eternal Thou.

Persepsi berbagai agama tentang etika bermacam-macam. Budha Gautama yang melihat ketimpangan dalam etika Hindu (kasta), mencoba mengeluarkan etika baru yang meliputi delapan perkara: melakukan kebaikan, bersifat kasih sayang, suka menolong, mencintai orang lain, suka memaafkan orang, ringan tangan dalam kebaikan, mencabut diri sendiri dari sekalian kepentingan, berkorban untuk orang lain. Demikian juga halnya dengan LaoTse dan Kong Fu Tse. Dua tokoh Tiongkok itu juga berusaha memperbaiki tingkah dan etika manusia pada zamannya dengan berbagai ajaran kebaikan, demi keselamatan tatanan kehidupan manusia. Banyak lagi tokoh seperti Socrates, Antintenus, Plato, Aristoteles, dan lainnya bermunculan mengemukakan konsep dan teorinya, bagaimana agar manusia bertingkah laku baik, menjauhkan kerusakan dan kebinasaan pribadi maupun orang lain.

Aturan yang mereka buat hanya didasarkan kepada pendapat orang-orang sesuai dengan fikiran dan perasaannya. Tentu saja pendapat yang satu berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa saja pendapat kemarin dibantah dengan munculnya pendapat baru. “Kebenaran” seorang tokoh akan ditolak dengan ditemukannya “kebenaran” orang sesudahnya. Sekitar abad ketiga sebelum masehi, muncul aliran dalam hal etika yang dikenal dengan aliran Natularisme. Aliran yang diprakarsai Zeno (340-264 SM) itu berpendapat bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia adalah manakala manusia itu secara natural mengikuti akalnya dalam mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Jadi menurut pendapat ini hidup manusia harus mengikuti petunjuk akal, dengan mengikuti petunjuk akal berarti telah memiliki etika tinggi.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Epikuros (341-270 SM) berpendapat bahwa ukuran baik buruk terletak pada kelezatan sesuatu, dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Bila perbuatan manusia menimbulkan suatu kenikmatan dialah orang yang mempunyai moral dan etika yang tinggi. Pendapat ini dinamakan Hedonisme. Pada awal-awal abad kedelapan belas, J.S. Mill menperkenalkan teori etika yang baru. Agaknya ada sedikit kemajuan. Teori ini dikenal dengan Utilitarisme. Mill mengemukakan bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu didasarkan atas besar kecilnya manfaat yang ditimbulkannya bagi manusia. Dengan pendapat ini ia menghendaki agar manusia menemukan kebahagiaan di tengah orang banyak dengan memanfaatkan diri dan pengorbanannya.

Ada lagi aliran idealisme. Aliran ini tidak bicara definisi, tapi apa yang ada dibalik etika tersebut. Tokohnya, Immanuel Kant (17251804), Ia berpendapat bahwa seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan oleh orang lain, melainkan atas dasar kemauan sendiri (atau rasa kewajiban). Perbuatan baik akan dilakukan juga walaupun diancam atau dicela orang lain karena terpanggil oleh kewajiban.

Sedangkan aliran etika Vitalisme mengukur baik buruknya perbuatan manusia dengan ada tidaknya daya hidup maksimum yang mengendalikan perbuatan itu. Maka, yang dianggap baik ialah orang yang kuat dan dapat memaksakan kehendaknya serta mampu menjadikan dirinya selalu ditaati. Pencetus aliran ini ialah Freedrich Witzche (1844-1900). Filsafat dalam aliran ini adalah atheistic. Karenanya, Witzche juga berjuang menentang gereja di Eropa.

Itulah beberapa kisah tengan usaha manusia mencari rumusan etika. Semua konsepnya semu, semua ajarannya tak ada yang menghunjam dalam hati nurani. Lebih jauh, tak sedikit dari konsep etika di atas yang salah. Akibatnya, bukannya terjadi kehidupan manusiaa yang beretika. Justru sebaliknya terjadi berbagai kehancuran di muka bumi.

Etika yang benar, adalah etika yang bersandar kepada kebenaran wahyu. Dalam terminologi etika, etika ini dikenal dengan aliran Theologis. Aliran ini berpendapat bahwa baik-buruk perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan yang dibawa para nabi kepada umatnya. Etika Theologis inilah yang dalam Islam disebut dengan akhlaq. Ia bersumber dari sang Khaliq.

Etika berawala dari Konsep Diri

Etika yang kita lakukan sehari-hari : Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusia.

Etika tidak langsung membuat manusia menjadi lebih baik (karena itu ajaran moral), tapi etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.

Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Pluralisme moral diperlukan karena:

(a)  Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;

(b) Modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional;

(c) Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.

Selama manusia berupaya mencari jati dirinya, eksistensi dirinya dan berada dalam suatu “ situasi “ kehidupan, manusia memerlukan semacam kompas moral, pegangan, dan orientasi kritis agar tidak terjebak, bingung atau ikut-ikutan saja dalam pluralisme moral yang ada dan terlebur dalam kehidupan yang nyata. Peran etika menjadi nyata agar orang tidak mengalami krisis moral yang berkepanjangan. Etika dapat membangkitkan kembali semangat hidup agar manusia dapat menjadi manusia yang baik dan bijaksana melalui eksistensi, profesinya. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Selain itu, etika juga bukan merupakan sistem norma yang langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik, melainkan sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Peranan etika menjadi nyata ketika etika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam tingkah laku dan pergaulan hidup manusia, pergaulan ilmiah, maupun dalam etika profesi.

 Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan, karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebasdengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabankan tindakannya itu, karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia betindak begitu. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalankan hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang patut dilakukan. Oleh karena itu etika merupakan bagia n dari wujud pokok budaya yang pertama yaitu gagasan atau sistem ide. Menyangkut masalah budaya atau kebudayaan di sini, bukan berarti budaya dalam arti yang sempit, yang hanya bergerak dalam tataran seni (art) seperti seni tari, seni rupa, seni pahat, sen i suara, seni suara atupun seni drama. Namun menyangkut tentang hal ikhwal terkait dengan hajad hidup manusia sebagai makhluk sosial.

Etika Plato

Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/ adat kebiasaan saja dan bukan physis/ kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kdratnya hidup dalam polis atau negara.

Di antara pemikiran etika Plato adalah “Cinta kepada Sang Baik”. Hal ini sebagaimana anekdot Plato tentang tawanan dalam goa, yang digambarkan secara singkat; sebelum ia dapat lepas dari tali yang mengikatnya, ia hanya punya persepsi, dikiranya apa yang dilihatnya dalam goa adalah realitas, ternyata hanyalah bayangan dari pantulan sinar yang berada dibelakang punggungnya. Namun setelah dapat lepas dari ikatan dan dapat membalikkan badan dan pandangannya, kemudian ia melihat sinar yang menariknya untuk keluar mengikuti arah sinar, sesampai di luar ia pun mengetahui realitas yang sesungguhnya, yang menakjubkannya, tidak hanya itu ia juga tertarik untuk melihat ke atas, kepada sumber terang, yaitu matahari, inilah sumber realitas, katanya. Dari gambaran ini, etika Plato ini dengan singkat bisa dikatakan “karena cinta ke-Baik-an akan selalu menuju ke Yang Baik”, selanjutnya “karena Baik selalu memberi ke-Baik-kan”. Sang Baik itu memang baik sehingga membuat seseorang selalu rindu dan cinta kepada Nya. Rasa inilah yang disebut eroos, yaitu rasa cinta akan keindahan mutlak.

 

Daftar Kepustakaan

 Riyanto, Armada, Aku & LIYAN, Malang: Widya Sasana Publication, 2011

 Suseno, Franz Magnis, 13 Tokoh Etika, Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, III/1999

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s