BIOETIKA KRISTIANI

PENGANTAR

I          Bioetika di Tengah Zaman Pluralis

A     Perkembangan Sains

1      Ilmu Fisika dan Kimia

2      Biologi dan Kedokteran

3      Sains dan Ideologi

B     Munculnya Bioetika

1      Etimologi

2      Dua Metodologi Pokok: deontologis dan teleologis

C     Bioetika yang Berpusat pada Pribadi Manusia

1      Martabat dan Hak Asasi Manusia

a      Dignitas (Romawi-Yunani)

b      Imago Dei (Biblis)

c      Rasionalitas dan “bukan sarana” (Kant)

d      Konstitusi Modern

2      Kesehatan dan Penyakit

a      Apa itu sehat dan sakit?

b      Makna Tubuh dan Biologisme

c      Kehidupan Kekal

3      Tanggung Jawab Pribadi atas Kesehatan

II         Bioetika Kristiani

A     Allah Sang Pencipta dan Pencinta Kehidupan

1      Makhluk Ciptaan

2      Kesatuan Total

3      Kesetaraan Radikal

4      Penciptaan Berlanjut dalam Prokreasi

5      Bertindak sebagai Allah dan Menyangkal Diri sebagai Ciptaan

6      Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati

B     Yesus Kristus, Sang Penyembuh Agung

1      Penyembuhan Kristus

2      Sakramen-sakramen Penyembuhan

C     Hormat dan Mencintai Anugerah Kehidupan

1      Hidup sebagai anugerah Allah

2      Menghormati dan membela kehidupan

3      Mencintai kehidupan

D     Norma moral Kristiani

1      Prinsip Akibat Ganda (Duplex Effectus)

2      Kerjasama Legitim (Legitimate Cooperation)

3      Persetujuan Bebas dan Dipahami (Free and Informed Consent)

4      Konfidensialitas

E     Pengambilan keputusan yang bijaksana

III       Permasalahan Klinis dan Tinjauan Bioetika Kristiani

A     Seksualitas dan Reproduksi

1      Arti seksualitas manusia

2      Awal kehidupan manusia

3      Aborsi

a      Pengertian dan kesalahpahaman

b      Kontroversi tentang timing

c      Metode

d      Aborsi dan Hukum

4      Teknologi reproduksi manusia

a      In vitro fertilization

b      Inseminasi artifisial

c      Beberapa metode lain

5      Kloning manusia

6      Riset Sel Punca

7      Hibridisasi (humanimal)

8      Amniosintesis

B     Rekonstruksi dan Modifikasi Fungsi Tubuh

1      Transplantasi

2      Operasi rekonstruktif dan kosmetik

3      Percobaan dan riset menggunakan manusia

C     Penderitaan dan Kematian

1      Misteri kematian

a      Ketakutan

b      Mengungkapkan kebenaran

c      Hormat pada jenazah

2      Menentukan Kematian

a      Tahap-tahap kematian

b      Brain death is death?

3      Problematika Bunuh Diri

a      Bunuh diri

b      Bunuh diri dengan bantuan

c      Euthanasia (Mati Gembira)

4      Membiarkan Mati: Mempertahankan atau Menghentikan Bantuan Hidup?

5      Pribadi yang Tak Sadar Diri (Persistent Vegetative State/PVS)

6      Rasa Sakit

IV       Tanggung Jawab Sosial

A     Keluarga sebagai palungan suci kehidupan

B     Profesi Penanggung Jawab Kesehatan

C     Bioetika dan Kebijaksanaan Publik

D     Tanggung Jawab Rumah Sakit Katolik

V        Aspek Pastoral

A     Tujuan Pelayanan Pastoral

B     Konseling Pastoral/Bimbingan Rohani

C     Perhatian Pastoral pada Pelayan Kesehatan

D     Merayakan Kesembuhan dan Kesehatan

PENUTUP

PENGANTAR

Kemajuan teknologi berjalan dengan cepat. Sejak lahirnya zaman modern perkembangan sains tidak terelakkan dan pengaruhnya terhadap cara kita berpikir, bertindak dan hidup tidaklah sedikit. Abad ke XXI merupakan zaman biologi, tepatnya mikrobiologi, setelah abad-abad pertama zaman modern menghantar umat manusia memasuki babak zaman fisika dan kimia. Dampak positif banyak kita tuai, namun tak dapat disangkal bahwa dampak negatif juga tertebar di sana-sini.

Kedua dampak dalam perkembangan sains dan teknologi tidaklah dapat dihindari karena sains dan teknologi ada di tangan manusia. Manusialah yang menentukan arah perkembangan dan penggunaan sains dan teknologi. Maka dari itu sains dan teknologi tidak berdiri di ranah yang netral. Dalam hal ini, pertanyaan yang dapat dilontarkan adalah apakah jika kita bisa melakukan sesuatu, lalu kita harus melakukannya?  Sains untuk manusia dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu diperlukanlah etika yang menjadi teman seperjalanan sains dan teknologi, lebih tepatnya adalah etika di bidang hidup dan kesehatan, yakni bioetika.

Buku ini dimaksudkan untuk menyajikan panorama umum pada bidang bioetika yang jangkauannya luas itu, sehingga mereka yang baru mulai menggeluti bidang ini memiliki kerangka dasar dan mengetahui isu-isu pentingnya. Buku ini menyajikan bioetika yang bernafaskan Kristiani, maka tidaklah keliru jika buku ini juga dapat dinamai teologi moral tentang hidup dan kesehatan, namun pendekatan yang bernafaskan Kristiani bukanlah pendekatan yang eksklusif, karena nilai-nilai Kristiani justru menggarisbawahi nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu buku ini dapat dibaca oleh siapa saja yang berkehendak baik. Pendekatan yang dipakai dalam buku ini adalah pendekatan holistik. Kerangka dasarnya sebagai berikut: pertama mempelajari dengan jeli pemikiran-pemikiran zaman dan problematikanya, kemudian menilainya dalam terang iman dan akal budi, untuk akhirnya dapat membuat keputusan etis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Buku ini dimulai dari bab pertama yang menganalisa perkembangan sains dan teknologi dan lahirnya cabang dari etika yang bernama bioetika. Bab ini menyajikan juga prinsip-prinsip umum yang digunakan dalam bioetika, sekaligus membatasi ruang lingkup bioetika dengan memusatkan pada pribadi manusia.

Bab kedua memberikan pendasaran teologis pada bioetika. Bab ini dimulai dari refleksi biblis beserta ajaran Gereja yang berpusat pada penciptaan, perintah kasih dan cinta pada anugerah hidup. Kemudian bab ini akan semakin mengerucut pada teologi moral dengan membahas dialog iman dan akal budi, keutamaan, dan norma-norma moral kristiani yang dipakai dalam bioetika kristiani.

Setelah memahami zaman, pemikiran, problematika, dan berefleksi atas wahyu Ilahi, bab ketiga mengajak kita untuk masuk dalam isu-isu konkret dalam bidang hidup dan kesehatan. Isu-isu ini dibahas secara sistematis dari awal sampai akhir hidup manusia.

Bab keempat dan kelima mengajak kita meninjau kembali tanggung jawab sosial dalam bidang hidup dan kesehatan manusia, di sinilah bioetika bersinggungan nyata dengan etika sosial. Dan pada bab terakhir akan disajikan aspek pastoral dari bioetika.

Selain untuk membantu proses belajar mengajar, buku ini ditulis untuk membantu para pembaca dalam membangun kerajaan Allah mulai dari saat ini sambil mengharap akan kepenuhannya kelak yang hanya Allah saja sanggup menggenapinya. Dalam berjuang membangun kerajaan ini kita juga perlu menyebarkan budaya kehidupan sehingga semakin banyak orang menyayangi kehidupan sebagai anugerah Allah. Namun budaya kematian selalu menghadang dan menghalangi, hanya perjuangan yang disertai dengan doa yang mendalam yang mampu mencapai kemenangan. Untuk itu mendiang Yohanes Paulus II dalam Evangelium Vitae berkata, “Apa yang sangat dibutuhkan saat ini adalah suatu gerakan bersama hati nurani dan usaha etis yang terpadu untuk membangkitkan suatu perjuangan dalam mendukung kehidupan. Bersama-sama, kita mesti membangun suatu budaya baru kehidupan… Sesungguhnya, tujuan Injil adalah untuk ‘mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru.’ Seperti ragi yang meresapi seluruh adonan (bdk. Mat 13:33), Injil dimaksudkan untuk meresapi seluruh budaya dan memberi mereka hidup dari dalam, sehingga mereka dapat mengungkapkan seluruh kebenaran akan pribadi dan hidup manusia” (EV 95).

Selamat membaca dan berjuang untuk membangun budaya kehidupan agar janji Kristus menjadi nyata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10).

BAB I

BIOETIKA DI TENGAH ZAMAN PLURALIS

A             Perkembangan Sains

Untuk memahami dengan baik munculnya bioetika, perlulah kita secara garis besar mengenal perkembangan sains, karena memang dari konteks perkembangan sainslah cabang dari etika yang menyangkut paut kehidupan ini mulai menunjukkan perkembangan yang pesat pada zaman kita ini.

Para pemikir telah muncul ribuan tahun yang lalu, mereka kagum ketika memandang alam semesta yang mereka hidupi setiap harinya, terutama ketika mereka mengalami perubahan-perubahan yang terjadi di sana sini. Di belahan dunia Timur, tepatnya di Cina, sejak sekitar tahun 700 SM telah muncul bentuk awal buku tentang perubahan yang disebut dengan I-Ching.[1] Buku ini serta pemikiran di dalamnya menjadi lebih dikenal sekitar tahun 200 SM. Buku ini menelaah dinamika antara yin-yang dan beranjak lebih jauh untuk mempelajari berbagai kombinasi yang terjadi dalam dinamika itu. Dinamika tersebut dituangkan dalam heksagram. Pemikiran kosmologis buku ini kemudian mempengaruhi para filsuf seperti Konfusius (551-479 SM) dalam menyusun etikanya dan Lao Tzu (600/400 SM) dalam menulis filsafat alamnya. Selain berpengaruh pada para bijak dari Timur, ribuan tahun kemudian para ilmuwan Barat melihat pola dasar heksagram I-Ching dalam sistem biner, kalkulus dan differensial yang menjadi dasar berkembangnya ilmu komputer. Bahkan ada yang mencermati, seperti Martin Schonberger, bahwa heksagram tersebut sesuai dengan struktur DNA.

Di belahan dunia Barat, para filsuf alam Yunani menjadi  seperti Heraclitos (500 SM), Pythagoras (570-495 SM), Xenophanes (570-495 SM) juga takjub akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam, sembari menuliskan pemikiran kosmologis mereka. Para pujangga Yunani ini juga sangat terampil dalam perumusan matematis, terutama dalam bidang geometri.[2]  Sekitar tahun 384-322 SM muncullah sang ilmuwan awali yang bernama Aristoteles, anak seorang dokter. Karya tulisnya seperti, Physica, De Caelo, De Partibus Animalium, De Generatione Animalium, De Generatione et Corruptione, De Anima dan Historia Animalium sarat bertemakan ilmu alam.[3] Buah pikirannya menjadi salah satu landasan kokoh bagi perkembangan sains modern.

Tak dapat kita lewati peranan seorang filsuf besar yang menjadi bapa di bidang medis, yakni Hippocrates (460-370 SM). Meskipun diragukan keotentikan karya tulisnya, namun sekolah hippokratik menghasilkan suatu corpus hippocraticum yang memuat teks perjanjian yang menjadi wibawa besar dalam dunia medis. Teks perjanjian tersebut berbunyi demikian:

I swear by Apollo the Physician and Asclepius and Hygieia and Panaceia and all the gods, and goddesses, making them my witnesses, that I will fulfill according to my ability and judgment this oath and this covenant:

To hold him who has taught me this art as equal to my parents and to live my life in partnership with him, and if he is in need of money to give him a share of mine, and to regard his offspring as equal to my brothers in male lineage and to teach them this art–if they desire to learn it–without fee and covenant; to give a share of precepts and oral instruction and all the other learning to my sons and to the sons of him who has instructed me and to pupils who have signed the covenant and have taken the oath according to medical law, but to no one else.

I will apply dietetic measures for the benefit of the sick according to my ability and judgment; I will keep them from harm and injustice.

I will neither give a deadly drug to anybody if asked for it, nor will I make a suggestion to this effect. Similarly I will not give to a woman an abortive remedy. In purity and holiness I will guard my life and my art.

I will not use the knife, not even on sufferers from stone, but will withdraw in favor of such men as are engaged in this work.

Whatever houses I may visit, I will come for the benefit of the sick, remaining free of all intentional injustice, of all mischief and in particular of sexual relations with both female and male persons, be they free or slaves.

What I may see or hear in the course of treatment or even outside of the treatment in regard to the life of men, which on no account one must spread abroad, I will keep myself holding such things shameful to be spoken about.

If I fulfill this oath and do not violate it, may it be granted to me to enjoy life and art, being honored with fame among all men for all time to come; if I transgress it and swear falsely, may the opposite of all this be my lot.[4]

Dari perjanjian yang sarat bernada religius ini kita dapat melihat bahwa profesi seorang dokter berimbang dengan posisi seorang raja atau imam. Suatu profesi yang serius yang menuntut suatu moralitas yang serius pula.[5] Perjanjian ini dimulai dengan menyebut nama-nama ilahi dan diakhiri dengan berkat bagi para dokter yang menjalankan profesinya dengan baik dan kutuk bagi mereka yang melanggar perjanjian “suci” ini.

Selama puluhan abad, para pemikir besar ini menjadi guru bagi perkembangan sains, namun sains sebagai cabang tersendiri yang bekerja menurut polanya sendiri belum muncul. Dalam dunia Barat, sains masih terintegrasi dengan baik dalam sistem filsafat. Sains seperti yang kita kenal saat ini baru muncul beriringan dengan munculnya abad modern.

Samir Okasha mencatat, “Awal mula sains modern terletak dalam peridoe perkembangan cepat sains yang terjadi di Eropa antara tahun 1500 dan 1750, yang kita kenal sekarang sebagai revolusi sains.”[6] Bapa revolusi ini adalah Copernicus yang menyerang model geosentris semesta alam dan menawarkan kesimpulan baru model semesta alam yang heliosentris. Cuatan ide yang sekarang kita anggap biasa ini, pada waktu itu menimbulkan perdebatan sengit, karena Copernicus “melawan” kosmologi biblis yang dipegang teguh oleh banyak kalangan, termasuk gereja. Percepatan perubahan ini disebut dengan revolusi kopernikan.

Langkah awal Copernicus ini diikuti oleh Yohanes Kepler dan Galileo Galilei. Gelileo-lah yang memulai perkembangan baru dalam dunia sains. Ia membuktikan bahwa matematika bukanlah hal abstrak yang terpisah dari peristiwa kehidupan sehari-hari. Di sini diletakkanlah dasar pernikahan antara matematika dengan dunia fisik yang kemudian melahirkan ilmu fisika. Sumbangan besar lain yang Galileo berikan adalah ia memperkenalkan pentingnya untuk menguji atau memverifikasi suatu hipotesis dengan eksperimen. Mulailah sejak saat itu mentalitas baru dalam dunia sains yakni mencoba mengukur realitas. Inilah loncatan besar dari persepsi kualitatif ke kuantitatif atas alam semesta. Oleh karenanya, semua hal tanpa kecuali harus dapat diukur dan diverifikasi sehingga hal tersebut dapat disebut ilmiah.

Fisika dan Kimia

Perkembangan sains modern dimulai dengan bidang fisika. Rene Descartes, seorang filsuf dan matematikawan memperkenalkan filsafat mekanikal. Ia berkeyakinan bahwa seluruh semesta alam ini hanya terdiri dari partikel-partikel kecil yang saling berinteraksi dan bertumbukan satu dengan yang lain. Dengan demikian ia menawarkan suatu dunia yang mekanis. Berdasarkan pengalamannya bahwa rasa seringkali menipu Descarte mengembangkan metode falsafati yang meragukan segalanya sampai dicapai suatu kepastian ilmiah, maka lahirlah adagiumnya yang terkenal, “Cogito ergo sum.” Pemikirannya ini menambahkan satu khazanah baru lagi dalam dunia sains yakni untuk tidak mudah percaya sebelum data-data empiris didapatkan dan logika deduksi diberlakukan.

Revolusi sains mencapai puncaknya dalam karya Isaac Newton. Ia setuju dengan fisafat mekanikal dari Descartes, tapi dia mencoba meneliti lebih dalam lagi apa yang terjadi dengan partikel-partikel kecil yang saling berinteraksi itu. Newton membuka tabir rahasia alam yang amat mempengaruhi perjalanan sains selanjutnya yakni gravitasi. Karena sifatnya yang sangat perfeksionis, Newton mencoba mengukur dinamika gravitasi dengan perhitungan matematis yang amat teliti. Lahirlah dari sini teknik matematis yang kita kenal dengan kalkulus.[7] Pemikiran Newton mewarnai perkembangan sains pada abad ke 18 dan 19.

Pada awal abad ke 20, teori Newton digoncangkan dengan munculnya dua perkembangan baru dalam dunia fisika yakni teori relativitas dan kuantum mekanik yang ditawarkan oleh seorang Yahudi-Jerman yang bernama Albert Einstein. Einstein mencoba menjelaskan lebih dalam lagi tentang gravitasi. Ia percaya bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini dapat dijelaskan dengan matematika elegan, asalkan kita dapat memecahkan teka-tekinya. Ungkapannya yang terkenal adalah, “Allah tidak bermain dadu.” Ini berarti seluruh semesta alam ini dapat diprediksi dengan tepat. Teori relativitasnya menyanggah mekanika newtonian jika diterapkan pada benda berukuran raksasa atau benda yang bergerak dengan kecepatan amat tinggi. Dengan teori kuantum mekaniknya, Einstein membuktikan bahwa teori Newton tidak dapat diterapkan pada dunia mikro, subatomis. Kedua teori baru ini adalah teori yang amat radikal dan aneh. Banyak orang belum dapat memahaminya dengan penuh. Einstein dibuat pusing dengan penemuannya sendiri yang menggoncang perziarahannya mencoba memahami pikiran Allah. Ternyata ia menemukan bahwa semesta alam ini tidak dapat diprediksi dan ia harus mengikutsertakan ketidakpastian untuk dapat mencapai kepastian ilmiah. “Munculnya teori-teori ini menyebabkan pergolakan besar dalam dunia fisika yang terus berlangsung sampai sekarang.”[8]

Dunia kimia juga mengalami kemajuan pesat beriring dengan kemajuan kakak mereka dalam sains, yakni fisika. John Dalton (1893) mengemukakan teori bahwa seluruh semesta alam tersusun dari atom yang amat kecil dan tak dapat dibelah. Filsafat kuno Yunani tentang atomos (yang tak dapat dibelah) masih bergelayut di benak ilmuwan ini. Namun Eugene Goldstein (1885) menemukan partikel-partikel positif dari atom, disusul oleh J.J. Thompson (1897) yang menemukan adanya elektron yang bermuatan negatif. Pada tahun 1911, Ernest Rutherford menawarkan suatu model atom yang seperti kita terima saat ini, yakni bahwa atom sebagian besar tersusun dari ruang hampa yang di tengahnya terdapat nukleus yang bermuatan positif dan penuh dengan proton, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif dan bergerak sangat cepat. Dengan penemuan-penemuan ini riset pada level dunia sub-atomis telah dimulai.

Biologi dan Kedokteran

Dalam dunia biologi, cukup lama setelah Aristoteles, muncullah seorang tokoh besar, cucu dan anak dari seorang dokter, Charles Darwin. Pelayarannya ke kepulauan Galapagos dan beberapa tempat lain membuat matanya terbuka akan banyaknya variasi spesies hewan. Akhirnya ia sampai pada suatu spekulasi tentang pohon kehidupan, di mana semua makhluk hidup berawal dari akar yang sama dan kemudian bercabang membentuk keberagaman spesies.

Dari sinilah Darwin mengusulkan teori evolusi. Teori dasarnya adalah survival of the fittest. Individu dalam spesies beraneka ragam, lingkungan sekitar yang terus berubah mempengaruhi setiap individu. Inilah yang disebut seleksi alam. Si lemah akan mati dan punah, sedangkan yang paling kuat dan teradaptasilah yang akan hidup. Ini yang disebut dengan adaptasi. Kemudian individu-individu yang telah beradaptasi dan berubah ini menurunkan keturunannya. Di sinilah letaknya mekanisme evolusi.[9] Proses prubahan gradual dan lambat ini berlangsung selama ribuan tahun. Proses ini memungkinan terjadinya loncatan spesies, karena spesies datang dan pergi begitu saja. J.A. Moore menambahkan, “Berkelanjutan selama beratus-ratus generasi, seleksi alam mungkin menghasilkan suatu populasi yang sangat berbeda dengan populasi awalinya, bahkan dapat pula disebut sebagai suatu spesies baru.”[10] Setiap bentuk kehidupan berasal dari jenis yang rendah ke jenis yang tinggi.[11] Untuk manusia, dalam The Origin of Species, Darwin mengambil perkembangan embrio sebagai suatu “bukti” bahwa manusia berasal dari spesies yang lebih rendah.[12]

Pada tahun 1865 George Mendel, seorang biarawan Austria, memperkenalkan prinsip-prinsip hereditas setelah melakukan berbagai percobaan dengan kacang-kacangan. Namun bertahun-tahun lamanya kalangan medis dan para ahli biologi belum memahami pentingnya prinsip ini dalam studi tentang mamalia. Kini Mendel disebut sebagai bapa genetika. Kurang lebih seabad kemudian pada tahun 1953 James Watson dan Francis Crick memperkenalkan struktur molekul DNA (deoxyribo nucleid acid). Penemuan ini mempercepat laju perkembangan biologi mikro.

Daerah reproduksi manusiapun mulai dirambah oleh sains. Robert G. Edwards dan Patrick Steptoe menjadi pionir perkembangan teknologi reproduksi manusia dengan menemukan teknik fertilisasi in vitro, yang secara populer dikenal sebagai bayi tabung. Studi ini menghasilkan seorang bayi tabung pertama pada tahun 1978, ia bernama Louise Brown.[13]  Sejak saat itu jutaan orang dari seluruh dunia mengambil keuntungan dari kemajuan teknologi reproduksi manusia ini untuk mengatasi ketidaksuburan mereka. Riset dalam bidang biologi molekuler ini membuat manusia memahami bagaimana gen bertingkah laku dan oleh karenanya manusia semakin dapat memecahkan rahasia kehidupan. Ian Wilmut dan koleganya pada tahun 1997 menggunakan teknik somatic cell nuclear transfer (SCNT) untuk menghasilkan hewan yang sama persis dengan induknya. Dalam bahasa populer teknik ini disebut dengan kloning. Mamalia pertama hasil kloning adalah domba Dolly. Kloning ini memicu berkembangnya riset sel punca (stem cell) yang menggunakan embrio, bahkan embrio manusia. Perkembangan terkini adalah dirampungkannya Human Genome Project (HGP) pada tahun 2003, setelah berproses selama 13 tahun untuk merunut genom manusia. Koordinator proyek ini adalah U.S. Department of Energy dan National Institutes of Health, bersama dengan Wellcome Trust (U.K.), serta negara-negara peserta lain semacam: Jepang, Prancis, Jerman, dan Cina.[14]

Sains dan Ideologi

Secara amat ringkas kita telah memahami perkembangan sains dari awal. Terdapat perbedaan yang cukup mendasar dari sains awali dan sains modern. Sains awali mengagumi alam dan karenanya mencari tahu apakah sesuatu itu dengan tujuan untuk dikontemplasikan seraya memuaskan akal budi si pencari tahu. Sedangkan sains modern mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pemuas dan kenyamanan bagi semua orang.[15] Perkembangan sains modern ini pada gilirannya mempercepat lajunya budaya teknologis yang memahami semuanya hanya secara mekanis. Karena berhubungan dengan kenyamanan dan kepuasan bagi banyak orang, maka sains dan teknologi modern menyatu dalam kerangka ekonomi. Dari perkawinan inilah sains modern, yang sudah tak terpisahkan lagi dari teknologi, menguat membentuk ideologi bahwa segala-galanya hanya bisa diselesaikan secara ilmiah. Capaian dan harapan baru bermunculan di sana-sini oleh karena sains. “Akhirnya, kebenaran-kebenaran yang ditemukan oleh sains modern – juga tentang manusia – semuanya netral dari nilai, menerapkan teknologi tanpa batas dan dengan sempurna teradaptasi di dalamnya.”[16]

Budaya teknologis yang berpikir mekanis ini merupakan manifestasi dari keinginan manusia untuk memperoleh kebebasan total untuk menguasai dan membentuk ulang dunia, bahkan mendefinisikan ulang makna menjadi manusia. Yohanes Paulus II mencermati hal ini dan menulis, “Kala rasa akan Allah hilang… manusia menganggap dirinya hanya sebagai salah satu dari makluk hidup lainnya. Kehidupan itu sendiri dianggap hanya sebagai ‘benda,’ yang sepenuhnya berada di bawah kontrol dan manipulasinya” (Evangelium Vitae 22).

Dalam bidang biologi yang sangat berhubungan dengan studi kita ini, budaya baru ini membentuk ulang pemahaman-pemahaman pokok dan oleh karenanya menyebabkan keterbatasan permanen biologi modern. Keterbatasan-keterbatasan ini adalah: Homogenisasi yang melihat bahwa tak ada beda yang signifikan antara material  (benda mati) dan manusia. Tendensi analitis dan reduktif yang memandang bahwa seluruh organisme hidup itu membingungkan dan terlalu sulit untuk ditelaah, maka lebih mudahlah memperlajarinya bagian per bagian, dengan demikian terabaikanlah bahwa manusia memiliki kontinuitas, kisah hidup, sejarah dan identitas sebagai seorang manusia yang unik. Materialisme yang memahami dan menjelaskan struktur dan aktivitas makluk hidup melulu sebagai material sehingga memudahkan untuk diobservasi dan diukur sebagai obyek eksperimen. Non teleologis, dalam pemikiran ini makluk hidup dipandang sebagai mesin yang bergerak secara otomatis tanpa tujuan. Darwinisme menawarkan evolusionisme yang terus berargumen tentang loncatan spesies. Dalam darwinisme ini, contohnya, manusia diyakini berasal dari spesies yang lebih rendah, terbukti dari perubahan struktur tubuhnya selama proses perkembangan embrionik. Dan akhirnya dominasi yang mengubah pemikiran dasar biologi dari memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang kita hidupi, menjadi sebagai sesuatu yang kita observasi untuk pada akhirnya kita kuasai.

Dari informasi yang telah kita dapatkan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sains modern membutuhkan etika, terutama di bidang kehidupan, yakni bioetika. Bioetika bukanlah menjadi pesaing atau penghambat laju sains, tetapi mesti dipandang sebagai rekan seperjalanan yang selalu dinamis berkomunikasi dan berdialog agar keduanya dapat menyumbangkan apa yang terbaik bagi umat manusia.

B             Munculnya Bioetika

Untuk memahami dengan lebih baik bidang studi kita ini, kita perlu darimana dan kapan munculnya cabang baru dari etika ini. Kemunculan pertama term bioetika adalah karena interaksi antara dunia religius dan sekular. Sebelumnya term yang digunakan adalah etika pastoral atau etika medis. Pada awal tahun 1971 Van Rensselaer Potter dalam bukunya Bioethics: The Bridge to the Future membahas berbagai hubungan antar isu-isu biologis yang lahir dari ilmu-ilmu kehidupan dan implikasi sosialnya. Potter menyebutnya sebagai “suatu disiplin ilmu baru yang menggabungkan antara pengetahuan biologis dan pengetahuan tentang sistem nilai manusiawi.”[17] Dalam visi Potter bioetika diharapkan dapat mengkritisi dan memberikan rambu-rambu yang perlu atas perkembangan sains, karena menurutnya dengan kemajuan sains dan teknologi keberlangsungan hidup umat manusia dapat terancam. Hal ini dapat dimaklumi karena pada zamannya perkembangan pesat rekayasa genetika memberi kesempatan besar untuk berkembangnya senjata biologis yang dapat berkembang menjadi bio-terorisme dan eksperimen-eksperimen untuk menciptakan bentuk kehidupan baru.

André Hellegers, pendiri Kennedy Institute of Ethics (Washington, DC), menganggap bioetika sebagai maieutika, yakni sebagai “ilmu yang mampu menyatukan nilai-nilai melalu dialog antara ilmu medis, filsafat dan etika.”[18] Singkat kata, Hellegers memperkenalkan bioetika sebagai suatu studi aspek-aspek etis dalam praktek klinis, dengan demikian dialah yang memperkenalkan bioetika dalam dunia universitas. Tak lama kemudian muncullah Hastings Center di tempat yang berdekatan, yakni di Georgetown University. Sebagai langkah spesialisasi, maka Kennedy Institute mendirikan Center for Bioethics, Edmund D. Pellegrino menjadi bidan dan sekaligus direkturnya. Nama lain yang penting dalam bioetika adalah T.L. Beauchamp dan J.F. Childress dengan buku mereka yang terkenal: Principles of Biomedical Ethics. Beberapa pusat studi yang muncul dengan berbagai nuansa berbeda antara lain Pope John XXIII Center di Massachusetts dengan nuansa Katolik, Center for Human Bioethics di Monash University – Australia dengan nuansa sekuler di bawah asuhan filsuf kontroversial Peter Singer. Di benua yang sama ini pula lahir pusat-pusat bioetika yang bernuansakan Katolik yakni The Thomas More Center dan St. Vincent’s Bioethics Center. Di Spanyol pada tahun 1980 lahirlah Instituto Borja de Bioética dari fakultas teologi San Cugat del Valles, Barcellona. Menyusul kemudian pada tahun 1983 di universitas katolik Louvaine, Brussel lahirlah Centre d’Études Bioéthiques. Menyusul kemudian beberapa pusat di Eropa dan kemudian Asia.

Istilah baru ini memicu banyak pandangan dan perdebatan, namun yang jelas metodologi yang digunakan adalah sekular dan tidak lagi melulu berdasarkan tradisi religius seperti yang telah dipakai sebelumnya.[19] Tentu saja ketika pertama kali diperkenalkan perdebatan di sana-sini muncul, terutama mengenai metode beretika yang tercermin dari pemakaian kata ini. Setelah berproses akhirnya kalangan Gereja Katolik menggunakan istilah sekular ini tanpa kesulitan yang berarti. Kita dapat memahaminya karena Gereja mempunyai tradisi rasional dan hukum kodrat yang kuat.

Etimologi

Term bioetika mengemban dua kata yang berbasis Yunani, yakni bios (kehidupan) dan ethos (kebiasaan). Secara etimologis bioetika berarti “etika tentang kehidupan.” Term ini kemudian menyempit dan mengemban makna “aplikasi prinsip-prinsip dan norma-norma moral umum pada isu-isu etis yang menyangkut hidup manusia, termasuk pelayanan kesehatan, praktek terapeutis dalam obat-obatan dan psikologi, serta riset-riset medis dan biologis.”[20] Atau seperti yang didefinisikan D’Agostino & Palazzani, “Studi sistematis tingkah laku manusia di bidang ilmu tentang kehidupan dan ilmu tentang pemeliharaan kesehatan dalam terang nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral.”[21] Jadi bioetika adalah salah satu cabang dari etika terapan (applied ethics).

Dari etimologi ini dapat kita lihat betapa kompleks cabang ilmu yang baru ini. Ilmu ini muncul dan menjadi “jembatan” antara ilmu alam (biologi/kedokteran) dan ilmu kemanusiaan (etika). Tema kehidupan (bios) memang luas dan padat makna, maka sebuah pembicaraan tentang kehidupan (bio-logi) mesti berjalan seiring dan menggandeng pembicaraan tentang bagaimana hidup dan mengatur kehidupan dengan baik (bio-etika). Etika, yang merefleksikan tentang nilai-nilai yang membedakan antar baik dan buruk dan tentang apa yang harus diperbuat manusia untuk berbuat baik dan menghindari yang jahat, lahir dengan perhatian yang sama dengan biologi yang merefleksikan tentang manusia. Dialog antara fakta biologis dan nilai-nilai etis tidak dapat dihindari dalam bioetika. Biologi bukanlah bebas nilai. Teknologi tanpa etika akan membahayakan kehidupan di bumi ini, dan pada gilirannya juga manusia. Oleh karena itu bioetika dapat juga disebut sebagai ilmu untuk bertahan hidup (science of survival).[22] Dalam buku ini kita akan juga mendekati kehidupan manusia dengan lebih holistik, yakni dengan melibatkan teologi, tepatnya: antropologi kristiani, suatu pengikutsertaan wahyu ilahi. Pewahyuan yang dianugerahkan Allah untuk manusia dan demi kebaikan hidup manusia. Oleh karena itu pendekatan yang mewarnai buku ini juga sarat bernafaskan kristiani.

Dua Metodologi Pokok

D’Agostino & Palazzani mencatat adanya beberapa macam “aliran” dalam bioetika, yakni: bioetika liberal, bioetika utilitaristis, bioetika prinsip-prinsip, bioetika berdasarkan keutamaan, bioetika feminis, bioetika berdasarkan tanggungjawab, bioetika personalis. Juga ada dua sudut pandang yang berbeda antara bioetika sekular (awam) dan religius (kristiani).[23] Pendekatan yang akan kita lakukan dalam buku ini adalah suatu pendekatan yang mencoba untuk tidak mengikuti distingsi awam-religius, namun menyatukan keduanya dalam perspektif yang lebih holistis. Oleh karena akal budi dan iman adalah hal penting tak terpisahkan.

Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang dengannya manusia terangkat mengkontemplasikan kebenaran; dan Allah telah meletakkan dalam hati manusia hasrat untuk mengetahui kebenaran, yang pada gilirannya juga untuk mengenal dirinya sendiri, sehingga dengan mengetahui dan mencintai Allah, manusia boleh juga sampai pada kepenuhan kebenaran mengenai diri mereka sendiri (Fides Et Ratio, pembukaan).

Seperti halnya pada pembahasan dalam teologi moral fundamental, yang mencatat adanya dua metode besar yakni deontologis dan teleologis, demikian juga dalam metode-metode bioetika. Ashley, dkk menyebutnya sebagai duty ethics (etika berdasarkan hukum/perintah) dan ends-means ethics (etika berdasarkan tujuan dan cara).[24] Seperti telah kita ketahui bersama dalam moral fundamental, dua metode etika ini terus berada dalam ketegangan. Namun kita tidak perlu menggarisbawahi ketegangan itu, yang patut kita lakukan adalah melihat kedua pendekatan ini sebagai saling mengisi dan melengkapi.

Kita tidak perlu membahas lebih dalam metode-metode ini, karena sudah diandaikan pengetahuan dasar tentang hal ini. Yang perlu kita catat adalah bahwa pendekatan yang deontologis, yang diawali oleh Kant, lingkupnya lebih sempit dan ada bahaya jatuh dalam kasuistri.[25] Oleh karenanya, perhatian orang lebih tertuju pada pendekatan teleologis. Metode ini menilai suatu perbuatan untuk menolak atau menerimanya, tak hanya berdasarkan kodifikasi hukum tentang yang benar dan yang salah, tapi dengan menentukan apakah suatu perbuatan sungguh efektif atau tidak untuk mencapai tujuan menjadi sungguh-sungguh manusiawi dalam suatu komunitas manusia.[26] Untuk itulah etika teleologis membuka diri pada etika yang berdasarkan pada keutamaan. Suatu metode etika yang mulai dibangkitkan lagi.

Namun, agar kita tak terjebak dan menjadi berat sebelah, seperti yang telah saya ungkapkan di atas, kedua pendekatan ini saling melengkapi. Pendapat Bohr patut kita cermati,

Sebagai suatu bidang khusus dari etika terapan, tentunya bioetika memiliki jangkauan yang lebih besar daripada sekedar memperhatikan keputusan-keputusan moral yang melingkupi prosedur-prosedur yang bersangkut paut dengan kesehatan dan kehidupan seorang pasien. Etika medis, dalam pengertian kuno, cenderung terbatas menggunakan kasuistri untuk meneliti kelayakan moral suatu tindakan dan prosedur medis tertentu. Pendekatan yang individualistis dan terfokus pada perbuatan ini menyuburkan pemikiran yang perhatiannya hanya tertuju pada menerapkan peraturan dan hukum pada kasus-kasus partikular. Fokus yang terbatas ini dapat dengan mudahnya terjebak dalam moralisme atau legalisme. Norma dan peraturan memang amat penting, namun maksud fundamentalnya mesti diketahui dan dipahami dengan baik. Kita tidak boleh lupa bahwa tujuan dari norma dan peraturan adalah untuk melindungi nilai-nilai manusiawi yang menunjuk pada suatu visi holistik akan kehidupan dan makna tertingginya. Oleh karena itu, dalam tradisi Kristiani, bioetika, seperti etika seksual, bergantung pada antropologi kristen, pada visi Injili tentang siapakah kita.[27]

Dengan demikian kita telah menentukan arah pembahasan kita dalam buku ini. Meskipun kita akan memasuki bidang-bidang di luar teologi, namun visi dasar kristiani kita tidaklah dilunturkan. Kita akan berdialog di sepanjang jalan akademis dan intelektual kita dengan misteri-misteri iman. Dari hasil dialog inilah kita akan diperkaya dan pada gilirannya kita dapat memperkaya dunia dengan visi kristiani kita, suatu visi yang tidak bertentangan dengan akal budi, namun menantang dan memberikan makna yang mendalam tentang hakekat kita sebagai manusia.

C    Bioetika yang Berpusat pada Pribadi Manusia

Diskusi tentang bioetika yang berpusat pada pribadi manusia tidak dapat dilepaskan dari pemahaman kita tentang martabat dan hak asasi manusia. Di sini kita menarik garis batas yang tegas, bahwa studi kita terbatas pada manusia, bukan menyangkut makluk hidup yang lain. Memang manusia memiliki hubungan yang erat dengan alam dan makluk hidup yang lain, namun hendaknya menjadi catatan bagi kita agar tidak rancu dalam memahami bahan studi, semua diskusi yang bersangkut paut dengan makluk hidup yang lain dan alam, dipandang dari sudut antroposentris.

Martabat manusia (human dignity) adalah suatu nilai intrinsik yang khas melekat pada setiap manusia. Nilai ini penting dan menjadi dasar yang kokoh untuk etika, khususnya bioetika. Inilah sebabnya mengapa kita perlu memahami konsep ini baik-baik sebelum masuk dalam diskusi bioetis yang rumit. Adam Schulman, salah seorang anggota badan penasihat etika untuk presiden Amerika, membantu kita dalam mengklasifikasikan empat sumber konsep martabat manusia. Sumber-sumber itu adalah: filsafat barat klasik, agama biblis, filsafat moral Kantian, dan konstitusi serta deklarasi internasional abad ke 20. Setiap sumber menunjukkan pada kita berbagai makna berbeda tentang martabat manusia, perbedaan ini memperlengkap pemahaman kita tentang martabat manusia.

1       Martabat dan Hak Asasi Manusia

Perspektif Yunani-Romawi: Dignitas

Filsafat barat klasik memiliki term dignitas untuk menunjuk pada martabat manusia. Dignitas artinya “kelayakan untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan.”[28] Term ini diambil dari kata Latin dignus (layak) or dignitas (kelayakan). Konsep ini berbasiskan pada keunggulan (excellence) manusia. Di antara makluk lainnya manusia memiliki tempat khusus, karena ia memiliki dignitas. Ada suatu kelayakan yang tertera secara intrinsik pada manusia yang membuatnya ditinggikan di antara makluk lain. Manusia mesti mengemban ”sesuatu” yang membuatnya layak memiliki martabat khusus. Dalam tulisan Cicero, McCrudden menganalisa, “dignitas menunjuk pada martabat manusia sebagai manusia, tak tergantung pada status tambahan lainnya. Dalam hal ini manusia dipertentangkan dengan binatang.”[29]

Sekolah Stois percaya pada martabat manusia dapat dikenakan bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang latar belakang, status sosial atau prestasi-prestasinya.[30] Hal ini dikarenakan manusia memiliki akal budi, dan di atas segalanya akal budi menginformasikan pada kita bahwa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan kita ada dalam control kita. Maka dari itu kaum Stoik percaya bahwa, ”tak satupun yang dapat seseorang katakan atau lakukan pada kita dapat merampas dari kita martabat dan integritas kita.”[31]

Perspektif Biblis: Imago Dei

Konsep tentang martabat manusia yang mendasarkan diri pada wahyu ilahi yang tertulis dalam Kitab Suci memiliki pengaruh yang lebih besar daripada konsep yang berdasarkan pada kebijaksanaan klasik. Perspektif biblis ini menawarkan suatu makna yang kuat tentang siapakah manusia, yakni, manusia diciptakan menurut citra Allah. Perspektif ini diakui oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam. Memang ada sedikit perbedaan nuansa di masing-masing agama, namun inti pokoknya sama, yakni  bahwa “manusia, karena ia serupa dengan Allah, memiliki martabat yang diembannya sejak ia ada dan martabat ini tak dapat ditukaralihkan.”[32] Implikasi lain dari persepektif ini adalah bahwa kita manusia, walaupun diciptakan serupa dengan Allah, bukanlah Allah itu sendiri, namun ciptaanNya. Allah adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan. Ada perbedaan teramat besar antara Allah dan manusia, dengan demikian perspektif ini menyediakan suatu ide yang membuat kita menjadi rendah hati. Schulman menambahkan,

“Dicipta menurut citra Allah” memiliki konsekuensi bahwa bukan saja manusia yang sehat dan utuh, namun mereka yang rapuh-sakit dalam badan dan jiwanyapun mengambil bagian dalam martabat yang dianugerahkan Allah ini. Martabat semacam ini memberikan pada kita arahan etis dalam menjawabi berbagai pertanyaan tentang apa yang mesti kita lakukan pada awal hidup manusia, pada mereka yang berada pada tahap akhir hidupnya, kepada mereka yang cacat berat secara fisik dan mental, bahkan juga kepada embrio-embrio mungil. Memandang manusia sebagai dicipta menurut citra Allah dapat berarti menghargai manusia lain seperti Allah menghargai mereka. Hal ini berarti kita melihat adanya martabat, ketika banyak orang melihatnya sebagai kecacatan, dan memandang embrio sebagai manusia, ketika banyak orang menganggapnya hanya sebagai segumpal sel.[33]

Perspektif ini sungguh kuat, namun sisi lemahnya adalah agama-agama non biblis dan para ateis tidak akan mempercayainya. Namun perspektif ini tetap dapat membantu kita untuk “mengartikulasikan dan memikirkan dengan penuh keberhatian intuisi terdalam kita tentang manusia, kemampuan dan tingkah laku khususnya serta hak dan kewajiban yang kita percayai sebagai milik mereka.”[34] Mereka yang menentang perspektif ini akan membebani diri untuk menjelaskan murni dengan istilah secular, siapakah manusia itu dan apa yang memewajibkan kita untuk memperlakukan sesama manusia dengan penuh hormat. Meskipun perspektif ini teologis, namun ia memberikan kepada kita pendasaran etis untuk memahami martabat manusia. Secara lebih menyeluruh penjabaran tentang hal ini akan kita diskusikan lagi di bab yang berikutnya.

Perspektif Kantian: rasionalitas dan “bukan sarana”

Pada abad ke 18, Immanuel Kant menawarkan suatu pengertian universal tentang martabat manusia, berdasarkan pada pemikiran rasional murni. Dengan demikian Kant menawarkan suatu definisi non religius. Dalam dunia yang pada waktu itu diwarnai dengan matematika dan fisika, Kant melawan arus. Dia menunjukkan bahwa kebebasan moral dan tanggung jawab masih mungkin. Semua manusia memiliki martabat karena  otonomi rasionalnya, yakni, kemampuan manusia untuk dengan bebas menaati hukum moral yang mereka sendiri adalah pembuatnya. Etika Kant dapat dirumuskan sebagai berikut: “Jangan pernah memperlakukan manusia seolah-olah dia hanyalah bukan pribadi manusia atau hargailah selalu pelaku moral sedemikian rupa sehingga mereka diperlakukan sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri.”[35] Schulman menjelaskan, “Doktrin Kant tentang martabat manusia menuntut suatu hormat yang seimbang bagi semua manusia dan melarang untuk menggunakan orang lain melulu sebagai alat untuk mencapai tujuan.”[36] Dengan bejralannya waktu, Kant menjadi pengarang tentang martabat manusia berdasarkan penalaran akal budi. Beberapa orang memang menganggapnya sebagai bapa dari konsep modern martabat manusia.[37]

Perintah moral Kant tampak begitu kuat, namun dalam diskusi bioetis argumennya ini menunjukkan titik lemah, khususnya dalam meletakkan martabat manusia sepenuhnya pada otonomi rasional. Bagaimana dengan bayi atau embrio yang belum memiliki otonomi rasional? Bagaimana dengan orang yang tidak dapat menggunakan kemampuan otonomi rasionalnya? Meskipun Kant telah menyumbangkan suatu pemahaman yang berharga tentang martabat manusia, tampaknya sulit untuk seluruhnya memandang martabat manusia dari perspektif otonomi rasional.

Perspektif Konstitusi-Konstitusi Modern 

Konsep martabat manusia juga berkembang dan banyak digunakan dengan baik dalam konstitusi-konstitusi modern abad 20 dan dalam deklarasi-deklarasi internasional. Beberapa contohnya:

 Pembukaan Piagam PBB (1945) memulai demikian:

 Kami, anggota persekutuan bangsa-bangsa, berketetapan untuk menyelamat generasi-generasi berikut dari kengerian perang, yang telah dua kali dalam kehidupan kita telah membawa kesengsaraan tak terkatakan bagi umat manusia, dan untuk menegaskan kembali keyakinan tentang hak-hak asasi manusia, tentang martabat dan harga manusia, tentang hak-hak pria dan wanita serta hak-hak para bangsa besar maupun kecil.[38]

 Piagam ini hendak mengatakan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat pada dirinya, bahwa kita harus saling mengakui dan menghormati martabat ini. Piagam bersama ini merupakan suatu keyakinan mendasar bahwa mesti ada hokum yang melindungi berbagai macam hak dan kebebasan yang kita sebut dengan hak-hak asasi manusia.[39]

            Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (1948), artikel 1, menulis:

“Semua manusia dilahirkan bebas dan sederajat dalam martabat dan hak-hak. Mereka diwarisi dengan akal budi dan hati nurani dan mereka mesti memperlakukan satu sama lain dalam semangat persaudaraan.” Dan dalam pembukaannya dikatakan bahwa tentang martabat yang melekat dan tentang hak-hak yang sederajat dan tak tergantikan dari seluruh anggota keluarga manusia merupakan “dasar dari kebebasan, keadilan dan damai di dunia.” [40]

 Indonesia dalam dasar negaranya, Pancasila, meletakkan konsep tentang martabat manusia dalam sila yang ke dua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Makna dari falsafah hidup bangsa ini adalah suatu prinsip yang menuntut agar manusia dihargari seturut martabatnya sebagai ciptaan Allah. Hal ini menggarisbawahi bahwa masyarakat Indonesia tak dapat mentolerir tekanan fisik atau batin pada sesama manusia dari orang sebangsa atau dari bangsa-bangsa lain.[41]

             Meskipun dokumen-dokumen ini dengan jelas menggunakan frase “martabat manusia” dan mengakuinya sebagai nilai terunggul yang padanya semua hak dan kewajiban manusia bergantung, mereka tidak mendefinisikan dengan eksplisit arti, isi, dan dasar dari martabat manusia. Dokumen-dokumen ini hanya merefleksikan consensus politis antara bangsa-bangsa.[42] Banyak bangsa dan negara yang masih mempertahankan dan memberlakukan pengertian mereka sendiri tentang martabat manusia, meskipun secara resmi mereka menyetujui deklarasi internasional tentang martabat manusia. Ini menunjukkan bahwa ”martabat manusia menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan hak-hak asasi manusia dan kebebasannya.[43] Karena itu, masih ada masalah yang tersisa di sini yakni apakah fondasi dari martabat manusia itu.

            Dari keempat perspektif tentang martabat manusia di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa perspektif yang ke dualah, yakin bahwa manusia dicipta menurut citra Allah, yang tetap memegang peranan penting.[44] Senada dengan Schulman saya melihat bahwa perspektif ini menawarkan suatu pendekatan yang labih holistik terhadap pemahaman tentang martabat manusia, dan oleh karenanya menjadi dasar yang kuat bagi etika untuk membela martabat manusia dan menghormati manusia. Perspektif yang tidak membahas tentang siapakah manusia akan mempersulit pembahasan etis tentang bagaimana memperlakukan manusia. Tentunya dunia sekular akan bertanya kritis, ”Apakah mungkin mengikutsertakan ide teologis dalam diskusi tentang etika universal?” Jawabannya afirmatif, ”Ya!”

            Untuk ini Francesco Compagnoni berargumen, ”Mungkinlah mengikutsertakan dalam diskusi rasional bioetis, setidaknya, secara linguistik dapat dikomunikasikan, suatu kategori martabat manusia absolut karena ia dicipta menurut citra Allah. Barangsiapa yang tidak menerima dasar ini, dia tak mungkin dapat memahami apa arti martabat manusia itu dan akhirnya mau tidak mau ia harus menolak martabat manusia dan keabsolutannya.”[45] Dalam nada yang sama Ebehard Schockenhoff juga mencari pendasaran rasional akan martabat manusia, namun iapun tidak menolak pentingnya Allah, bahkan pentingnya iman manusia pada Allah.[46] Dia menekankan, “Fondasi teologis utama tentang martabat manusia, yang bersandar pada orientasi transenden manusia, tidak bertentangan dengan karakter universalnya yang mengikat.”[47] Michael J. Perry, yang juga mendiskusikan pendasaran secular martabat manusia, tidak berkeberatan untuk juga mengikutasertakan Allah dalam argumennya. Ia menulis, “Dia, yang mencoba untuk menunjukkan bahwa moralitas tak membutuhkan dasar-dasar metafisik… harus membiarkan suatu moralitas yang mengabaikan peran utama Allah, maka jagad moralitasnya akan runtuh.”[48]

            Meskipun demikian, kita dapat menggunakan perspektif-perspektif yang lain, yang pada gilirannya juga akan memperkuat perspektif ke dua ini. Dengan demikian studi kita tentang martabat manusia diperkokoh dari berbagai sudut serta semakin mungkin untuk menyapa semakin banyak orang.

2       Tubuh Manusia, Kesehatan dan Penyakit

            Setelah memahami siapakah manusia dan martabat agung yang diembannya, kita kini mendiskusikan kualitas yang dapat mengenai manusia. Dalam konteks bioetika ada dua kualitas pokok yakni sehat dan sakit. Kita perlu memahami dengan baik dua kualitas ini agar detil-detil diskusi yang lebih spesifik nanti dapat kita pahami dalam kerangka besar yang melingkupinya.

Makna Tubuh dan Biologisme

            Tubuh manusia adalah manusia itu sendiri. Mungkin pernyataan ini membuat kita bertanya: bagaimana dengan eksistensi jiwa? Pertanyaan ini benar, tapi sekaligus mengandung suatu konsep dualistis, yaitu: terpisahnya tubuh dan jiwa. Dalam sejarah pemikiran tentan siapakah manusia itu telah terjadi banyak perdebatan, seringkali dengan kecenderungan hanya melihat salah satu sisi, argumentasi yang berkembang mengarah ke dua sisi ekstrim yang mementingkan tubuh atau jiwa. Ekstrim yang mementingkan tubuh disebut dengan biologisme dan sebaliknya, spiritisme.

            Antropologi Thomistik menawarkan suatu konsep yang menyatukan kedua ekstrim ini sekaligus memberikan pendasaran yang kokoh tentang pribadi manusia.[49] Konsep yang ditawarkan adalah bahwa manusia itu embodied soul (jiwa yang membadan). Dari definisi ini kita masih dapat “melihat” perbedaannya secara intelektual, tapi de facto jiwa dan badan itu menyatu dalam kesatuan yang harmonis. Persatuan ini adalah persatuan psikosomatis. Jadi tubuh adalah jiwa, jiwa adalah tubuh.

            Antropologi ini bersumber dari konsep tentang persona yang ditemukan oleh Boethius. Substantia individua rationalis naturae, yang berarti: substansia individual yang berhakekat rasional. Term substantia berarti “suatu makluk individual dengan jenis tertentu.”[50] Substansia “tak dapat kehilangan hakekat utamanya dan ia terus bereksistensi.”[51] Contoh, Rudi adalah substansia dengan hakekat khusus yang kita sebut ”manusia.” Substansia Bleki adalah individu juga, tapi bukan manusiawi, karena hakekatnya adalah seekor anjing. Substansia tidak pernah berubah. Rudi akan tetap manusia, Bleki akan tetap anjing seumur hidup mereka. Tidak pernah bisa Bleki berubah substansianya menjadi kura-kura. Substansia memiliki potensi untuk berubah menjadi ini dan itu, tapi perubahan itu tidak pernah dapat menyentuh hakekatnya. Rudi dapat menjadi penyanyi, pastor, manajer, muda, tua, sakit, cacat, pandai, terbelakang, dan sebagainya, namun Rudi tetaplah manusia dengan tubuh dan jiwa manusia, karena itu adalah hakekatnya.[52]

            Pemikiran tersebut berbeda dengan konsep yang ditawarkan oleh Rene Descartes yang berpendapat bahwa tubuh manusia itu layaknya sebuah mesin dan kekuatan yang menggerakkannya adalah jiwa. Jadi jiwa itu seperti hantu di dalam mesin (ghost in a machine). Perjumpaan antara tubuh dan jiwa merupakan perjumpaan yang sulit, bahkan cenderung saling bermusuhan.[53] Konsep inilah yang kemudian mewujud pada padangan ekstrim yang melihat tubuh hanya sebagai suatu “mesin biologis.” Pandangan ini bisa kita sebut dengan biologisme.

Biologisme lahir dari suatu tendensi materialisme dari biologi modern. Biologisme memandang struktur dan aktifitas tubuh melulu dari sudut material. Hal ini dikarenakan oleh cirri khas sains adalah tersedianya data yang dapat diobservasi, diukur, dan diakui oleh berbagai kalangan.[54] Segala sesuatu harus dikuantifikasi, jika tidak maka tak dapat dianggap ilmiah dan tak dapat dipercaya. Contohnya, penglihatan didefinisikan sebagai pigmen penyerap cahaya yang terletak di retina mata. Apakah ini yang dimaksud dengan keseluruhan penglihatan? Bagaimana dengan hubungan dengan organ dan kelenjar yang lain sehingga seseorang dapat dikatakan “melihat”? Apakah pigmen itu sendiri memang penting, namun terlepas dari organ dan kelenjar lain apakah ia “melihat”? Kaas menambahkan bahwa kemampuan/kekuatan tubuh untuk beraktivitas itu bukan material walaupun ia ada di dalam dan tak terpisahkan dari materi.”[55] Maka sebenarnya biologisme mereduksir manusia ke tingkat benda-benda.       Biologisme juga menganjurkan untuk selalu menanyakan, “bagaimana tubuh bekerja?” Namun karena manusia secara keseluruhan adalah kompleks, maka analisis harus dipersempit dengan mempelajari satu bagian dari “mesin manusia” ini. Maka kemudian biologisme mempersempit pandangan tentang manusia berdasarkan bagian-bagian tubuhnya saja.

Kehidupan Kekal

            Dalam diskusi tentang kesehatan dan penyakit, orang sering menghindari pembahasan tentang kehidupan kekal. Hal ini terjadi karena orang modern takut menghadapi kematian. Kita akan kembali membahas tentang kematian, pada bab-bab selanjutnya, di sini kita membahas sekilas tentang kehidupan kekal.

            Dalam Summa Theologiae, Aquinas memberikan suatu arah besar hidup manusia. Kala memulai pengajaran bagaimana manusia dapat kembali ke Allah dalam perjalanan hidupnya, dengan jelas Aquinas menegaskan tentang tujuan hidup manusia. Ia berkata, “Manusia melakukan sesuatu mesti demi suatu tujuan… Kebahagiaan itulah yang merupakan tujuan akhir hidup manusia…Kebahagiaan manusia itu hanya dapat ditemukan dalam Allah… Konsekuensinya kebahagiaan sempurna itu hanya dapat dicapai dalam persatuan hidup manusia dengan Allah” (S.T., q. 1, 1.8; 2, 8; 3, 8). Aquinas membuka ajaran panjang lebarnya tentang hidup moral dengan suatu dasar dan keyakinan pasti bahwa manusia sebenarnya hanya mempunyai tujuan akhir yakni kebahagiaan sejati dalam Allah. Inilah titik tolak ajarannya tentang moral. Aquinas tidak memulai ajaran moralnya bahwa ada suatu hukum dan kita semua harus menaati hukum itu, bukan. Sebaliknya ia mengajarkan ada suatu kebahagiaan sejati dalam Allah, kejarlah itu, berjalanlah menuju ke sana. Dalam pengajaran selanjutnya yang sangat detil dan falsafati tentang moral, sebenarnya Aquinas dengan sederhana mau mengatakan, “Nilailah semua perbuatanmu itu apakah sesuai dengan tujuan akhir hidupmu dan apakah dengan perbuatan itu engkau sedang berjalan mendekati tujuan akhir hidupmu atau malah menjauh darinya.”

            Kebahagiaan sejati itu disebut dengan visio beatifica dan visio ini hanya akan dialami sepenuh-penuhnya dalam kehidupan kekal. Hal ini akan memberikan suatu visi yang lain pada kita untuk menilai dan menempatkan makna hidup dan kesehatan. Pius XII dalam pernyataannya tentang “Memperpanjang Hidup” (1957), mengatakan: “Sesungguhnya hidup, kesehatan, seluruh aktivitas temporal disubordinasikan pada tujuan-tujuan spiritual.” Secara sederhana pernyataan ini dapat dimengerti bahwa meskipun hidup dan kesehatan manusia itu sangat bernilai penting, namun kehidupan kekal yang merupakan tujuan hidup manusia tidaklah boleh dipandang rendah nilainya.

Apa itu sehat dan sakit?

Sehat

            Ada pengertian yang berlapis tentang apa itu sehat. Secara etimologis kata sehat berasal dari kata health yang juga mengakar dari kata healing (kesembuhan), holiness (kekudusan) dan wholeness (keseluruhan). Semuanya ini mengarah pada satu konsep “kelengkapan” (completeness) yakni suatu keseluruhan yang memiliki semua bagiannya.[56] Dalam pengertian ini orang yang pincang dianggap kurang sehat karena salah satu bagian tubuhnya hilang atau rusak.

            Kesehatan juga dapat dipahami secara dinamis yakni lengkap secara fungsional, yakni seluruh fungsi tubuh ada dan bekerja sama dengan harmonis. Dalam konteks ini sakit bukan berarti hilangnya organ atau bagian tubuh, tapi terjadinya disfungsi, yakni kurangnya harmoni dan keseimbangan antar fungsi-fungsi bagian tubuh, misalnya: diabetes (kurang berfungsinya pankreas), hipertiroidisme (kurang berfungsinya kelenjar gondok).

            Konsep penting tentang kesehatan ini rupanya tidak banyak dipahami oleh dunia medis yang telah terpengaruh banyak oleh mentalitas sains modern yang cenderung bersandar pada kuantifikasi. Dalam dunia ini kesehatan diukur dari “parameter fisiologis standar”[57] seperti: tanda-tanda vital (nafas, denyut nadi, temperatur tubuh), kadar kimia darah, hasil-hasil test eletroneurologis, juga analisis anatomis dan histologis[58]. Semua ini tergantung dari kalkulasi komputer dan test fisiologis, maka kesehatan didefinisikan sebagai tergantung pada suatu “model apa yang normal.”

            Pemikiran seperti ini problematik, karena: pertama, model universal tentang kesehatan itu tidak mungkin, kita hanya mungkin memberikan ambang batas ukuran-ukuran kesehatan. Ukuran individu yang satu berbeda dengan yang lain, belum lagi tendensi ras atau suku tertentu yang saling berbeda. Bagaimana kemudian kita dapat memberikan model akan apa yang dianggap normal? Sulit. Normal di sini akhirnya dinilai bukan sebagai ukuran rata-rata, tapi sebagai ideal. Jadi jika seseorang tidak mencapai ideal kesehatan tertentu, ia dianggap tidak sehat? Kuantifikasi kesehatan semacam ini menyempitkan apa arti sehat. Kita sehat bukan karena kita memenuhi syarat ukuran tertentu.

            Definisi kesehatan seharusnya lebih luas daripada ukuran-ukuran tertentu, karena organisme itu sendiri merupakan kemungkinan yang terbuka. Kesehatan mencakup keutuhan struktur dan fungsi organisme manusia dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. WHO kemudian mendefinisikan kesehatan sebagai, “Suatu keadaan sejahtera yang lengkap secara fisik, mental dan sosial dan bukan melulu tiadanya penyakit atau kelemahan.” Dari sudut religius Kristiani kita bisa segera menambahkan juga kesejahteraan spiritual. Di sinilah kita mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang kesehatan.

Sakit

            Setelah kita memahami dengan baik konsep kesehatan yang multidimensi tersebut, maka kita akan dengan mudah dapat mendefinisikan makna sakit. Kesehatan dipahami sebagai berfungsi secara optimal. Organisme dapat hidup dengan baik dan dikatakan sehat meskipun fungsi-fungsinya tidak optimal. Namun tanpa fungsi yang optimal organisme akan mengalami disfungsi. Misalnya, seseorang dapat dikatakan hidup sehat meskipun ia malas berolah raga, namun dalam jangka waktu yang panjang kemalasan tersebut akan mengakibatkan organ-organ tubuhnya menjadi aus (atrophy).

            Ashley dan O’Rourke membagi konsep tentang penyakit menjadi dua, yakni: ontologis dan fisiologis. Konsep ontologis memandang bahwa penyakit adalah suatu entitas tersendiri yang dapat diklasifikasikan dan diberi nama seperti hewan atau tanaman. Penyakit dianggap sebagai penyerang dari luar yang mengganggu atau merusak harmoni tubuh. Organisme terus menerus melawan serangan dari luar ini dengan mendesak keluar penyakit. Penyembuhan dilakukan dengan cara menamai penyakit ini dan mencari penangkalnya dengan obat-obatan yang tepat atau usaha pembedahan untuk “mengeluarkan” penyakit.

            Konsep fisiologis memandang penyakit sebagai gangguan atau kerusakan sistem internal tubuh yang biasanya berfungsi secara harmonis. Gangguan ini diakibatkan bekerjanya fungsi-fungsi tubuh secara hiper (berlebihan) atau hipo (kekurangan). Disfungsi ini membuat organisme lemah dan mendapat serangan dari luar, misalnya: bakteri, namun dalam konsep ini bukan bakterilah yang menjadi agen utama penyakit, tapi disfungsi tubuh. Dalam konsep ini penyakit tidak dapat dinamai karena penyakit merupakan kondisi individual dari organisme yang mengalami disfungsi. Penyembuhan atas penyakit menurut konsep ini adalah dengan latihan dan mengubah cara hidup. Penggunaan obat atau pembedahan bukanlah solusi yang diutamakan.

            Kedua konsep ini tidak perlu dipertentangkan, karena organisme itu sendiri adalah sistem yang dinamis. Kedua konsep ini membantu kita untuk memahami apa itu penyakit.

Obat dan Pengobatan 

            Obat atau pengobatan diterjemahkan dari satu kata Inggris: medicine. Kamus medis menyediakan berbagai macam definisi[59]:

(1) Suatu obat atau penyembuhan.

(2) Seni menghindari, merawat dan membantu dalam menyembuhkan penyakit dan merawat yang sakit/terluka.

(3) Perawatan pengobatan secara medis terhadap suatu penyakit, sebagaimana dibedakan dari pengobatan dengan pembedahan.

            Dari ketiga definisi yang berbeda ini term medicine menyangkut: bahan kimia, seni, dan relasi antar manusia. Dari sini kita dapat memahami bahwa obat/pengobatan tidak boleh direduksir pada definisi pertama, suatu definisi yang seringkali dengan spontan muncul dalam benak kita. Pengobatan bukan saja pil atau puyer atau sari tetumbuhan/hewan, namun juga suatu seni menghindari, merawat dan membantu orang lain dan hal ini mengandaikan adanya suatu relasi antara mereka yang merawat dan dirawat. Di sini kita dapat melihat hubungan relasional antara dokter dan pasien sebagai sesama pribadi manusia.

            Sumpah Hipokrates di atas menulis, “I will come for the benefit of the sick, remaining free of all intentional injustice.” Di sinilah letaknya aspek etis dari obat/pengobatan, karena keduanya menyangkut relasi antar pribadi, dengan pasien sebagai agen utama.[60] Si pasien yang mengalami gangguan kesehatan karena suatu penyakit (lih. pemikiran tentang sehat-sakit di atas), dan dokter hadir sebagai agen pembantu si pasien untuk kembali memulihkan kesehatannya. Kita akan melihat kaitan penting hal ini dengan prinsip pokok dalam bioetika yakni persetujuan bebas dan dipahami (free and informed consent) dari seorang pasien.

3       Tanggung Jawab Pribadi atas Hidup dan Kesehatan

            Banyak orang mengira bahwa bertanggung jawab pada kesehatan adalah dengan pergi ke dokter atau secara rutin memeriksakan kesehatan. Pendapat ini tidak salah, namun juga tidak lengkap. Janji Hipokrates di atas menyuratkan pada para dokter untuk menyarankan “gaya hidup, obat dan pembedahan.” Gaya hidup yang dimaksud di sini adalah hal-hal yang bersangkut paut dengan pilihan makanan (diet), istirahat dan olah raga.[61] Jadi bertanggung jawab pada kesehatan adalah juga memperhatikan gaya hidup yang sehat. Mens sana in corpore sano, budi yang sehat terletak dalam tubuh yang sehat.

            Dunia medis sekarang lebih cenderung ke arah kuratif daripada preventif. Bisnis yang berupa rumah sakit dan industri obat-obatan bertebaran di mana-mana. Orang modern cenderung menggantungkan diri pada obat-obatan atau pembedahan atas penyakit yang mereka tanggung. Kemungkinan di masa depan akan terjadi pergeseran dari rumah-rumah sakit ke pusat-pusat pelatihan dan pengajaran untuk meningkatkan pola hidup yang sehat. Pola hidup yang sehat bukan saja pada level personal, tapi juga sosial. Pola hidup sehat menuntut pula perombakan tatanan sosial yang hanya berpikir industri, namun melupakan pelestarian lingkungan hidup. Lingkungan yang tercemar menyebabkan munculnya penyakit-penyakit baru, sehingga walau bagaimanapun dalam level personal orang menjaga kesehatannya, ia tetap terkena dampak buruk lingkungan yang rusak.

            Selain terpengaruh oleh lingkungannya, orang modern tidak punya cukup waktu untuk beristirahat, bukan karena kekurangan waktu tidur, tapi karena orang terlalu stress. Contohnya, orang mungkin dipermudah hidupnya oleh hadirnya mobil. Namun di kota-kota besar kehadiran mobil membawa kemacetan, dan kemacetan menimbulkan banyak stress pada penduduknya. Belum lagi rutinitas yang dihadapi setiap harinya dengan beban pekerjaan yang makin berat karena target-target yang harus dicapai. Padahal tradisi Yahudi dan Kristiani yang berlandaskan pada pewahyuan Allah mewajibkan istirahat dan refleksi di hari Tuhan yang disebut suci (bdk. Kel 20:3-12, Mrk 2:27).

            Orang yang terlalu terstimulasi semacam ini akan membuatnya pasif dalam berimaginasi dan dimiskinkan dalam refleksi dan meditasi. Mereka terlalu banyak mendapatkan informasi, dari internet misalnya, namun menjadi sangat dangkal dalam berefleksi. Otak memang penuh, tapi rasa menjadi tumpul. Hal ini berpengaruh pada kesehatan mental seseorang, mereka akan mengalami kekosongan, hidup tanpa arti, dan kesepian yang absurd, karena hubungan yang mendalam antar pribadi menjadi nol.

            “Hidup yang penuh dengan stress dapat membawa pada kecanduan, yakni diperbudaknya manusia pada kenikmatan yang intens, atau pada pelarian diri dari sakitnya hidup ini.”[62] Kecanduan semacam ini tidak saja dapat ditemukan dalam narkoba, tapi juga dalam merokok, alkohol dan obat-obatan penenang. Kecanduan ini juga bisa mengambil bentuk kenikmatan seksual. Berapa juta situs pornografi berkembang setiap harinya. Ini semua untuk menjawabi kecanduan itu. Namun dampaknya pada kesehatan juga tidak kecil. Penyakit menular seksual dan HIV-AIDS bertebaran dan berkembang di mana-mana. Bukan saja tubuh yang dirusak oleh kecanduan ini, tapi keutuhan dan kesejahteraan hidup berkeluarga dapat digoncang hebat.

            Akhirnya, orang modern kekurangan berolah raga. Memang gaya hidup yang mendorong orang berolah raga digiatkan terus, namun orang lebih suka menikmati olah raga dengan menonton daripada aktif bermain di dalamnya. Opus manuale (kerja tangan) sudah banyak dilupakan dan kemudahan-kemudahan teknis menyebabkan orang modern tidak “bergerak.” Maka tidaklah mengherankan jika di Amerika Serikat, misalnya, satu dari lima anak yang lahir menderita obesitas. Selain dari murahnya dan mudahnya makanan tak sehat (junk food) didapatkan, tapi juga karena olah raga sering dilupakan atau tidak sempat dilakukan karena padatnya waktu tuntutan untuk bekerja.

BAB II.

BIOETIKA KRISTIANI

A      Allah Sang Pencipta dan Pencinta Kehidupan

            Hampir sebagian besar pembahasan tentang manusia sebagai gambar dan rupa Allah ditemukan dalam Perjanjian Lama (PL), terutama Kitab Kejadian (Kej). Pola pikir dalam Kej amatlah jauh berbeda dengan pola pikir skolastik yang menekankan distingsi dan penjelasan yang amat detil-rasionalistis. Untuk mengerti kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya sebagai dasar pemikiran teologis bioetika Kristiani, kita perlu memasuki ranah pikir kebijaksanaan timur kuno. Agar tidak terjebak dalam detil eksegesis, yang bukan tujuan kita di sini, kita perlu untuk melihat garis besar pesan teologis yang disampaikan Kej.

            Pertama, dalam membaca Kej 1-3 kita mesti mencatat baik-baik bahwa pelaku utama di sini bukanlah manusia, seperti kesan banyak orang, tetapi Allah sendiri. Allah tampil di sini sebagai Sang Pencipta. Ini ide dasar yang amat penting, yang mewarnai pemikiran teologis umat Israel dan Gereja.  Allah yang berperan aktif dalam sejarah umat manusia dan dalam penciptaan adalah “selalu Allah Pencipta.”[63] Kata elohim (Kej 1:1) sebagai nama diri Allah menunjukkan “relasinya yang transenden terhadap ciptaan… Allah yang tidak seperti manusia itu adalah Allah yang tak berawal, tak dikandung, tak bertentangan dalam diriNya sendiri, dan tak terbatas kuasaNya.”[64] Fokus pada Allah ini membuat kisah penciptaan lebih dimengerti sebagai teologi daripada sebuah antropologi. Inilah pemikiran yang mesti kita simak sungguh bahwa manusia bukanlah pusat dari kisah penciptaan. Kisah ini menggarisbawahi tindakan kreatif Allah sekaligus mewartakan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta. Ide dasar ini yang akan mewarnai seluruh pemahaman kita tentang hakekat manusia sebagai gambar dan rupa Allah.

            Kedua, kita perlu mencatat baik-baik bahwa kisah penciptaan dalam Kej tidak bermaksud untuk menjawab semua pertanyaan atau memecahkan seluruh persoalan yang berhubungan dengan penciptaan. Kej membiarkan misteri tetap sebagai misteri. Contohnya, Allah tiba-tiba begitu saja muncul tanpa awal dan asal (1:1). Si jahat juga merupakan suatu teka-teki yang penuh misteri. Ia dikisahkan sebagai salah satu ciptaan Allah (3:1), namun tidak dijelaskan dengan gamblang siapakah atau apakah ular (hewan) yang berbicara itu. Waltke dan Fredericks berpendapat bahwa “si pencoba itu bukanlah manusia, dia mestinya salah satu dari ciptaan-ciptaan lain.”[65] Kita sungguh dibuat binggung mengapa Allah menciptakan ciptaan yang dapat menuntun manusia untuk berontak melawanNya. “Asal muasal kejahatan tetap tinggal sebagai misteri besar.”[66] Kita tidak membahas lebih lanjut hal ini karena ini bagian dari teologi penciptaan, namun yang perlu kita pahami di sini adalah bahwa Kej tidak menjawabi semua persoalan seperti sering kita sangka.

            Ketiga, kita perlu mengerti dengan baik arti penciptaan Adam dan Hawa. Kata “adam” berarti kulit atau permukaan bumi. Dalam bahasa Arab Selatan dan Ibrani, kata ini dipakai sebagai pars pro toto (menyebutkan sebagian tapi memaksudkan keseluruhan) untuk menyebut manusia atau umat manusia.[67]  Kata “adam” dapat juga berarti setiap orang  (anyone) atau tak seorangpun (no one), dan menunjuk pada spesies manusia.[68] Kata ini menunjukkan status manusia sebagai ciptaan dan terus memaknai manusia sebagai demikian dalam penggunaan katanya.[69]  Maka dapat kita pahami bahwa Kej tidak menulis tentang penciptaan dua orang manusia yang berbeda jenis kelamin, lelaki dan perempuan,[70] tapi mengisahkan tentang penciptaan kolektif seluruh umat manusia. Penafsiran yang memahami kisah penciptaan dalam Kej sebagai penciptaan dua manusia terjadi dalam tradisi teologis Yahudi yang kemudian, seperti Rasul Paulus sebagai contoh. Ia memahami penciptaan Adam dan Hawa dalam konteks sejarah keselamatan, bukan dalam pengertian yang dipahami dalam PL.[71] Untuk memahami dengan tegas pesan teologis suatu kitab, kita mesti fokus pada pesan kitab itu sendiri, bukan pada penafsiran yang selanjutnya. Sekali lagi kita tidak sedang membahas eksegese Kej, namun hanya untuk memahami isi teologis Kej yang akan sangat berguna bagi refleksi lebih lanjut dalam bioetika Kristiani.

            Kej adalah suatu kisah tentang kehidupan kita. Dengan mengundang para pembacanya untuk menjadi satu dengan kisah, penulis Kej memberi pengajaran yang lebih implisit daripada eksplisit. Ia melontarkan dan menyatakan pada para pembaca pemikiran dan pandangan terhadap hidup yang sungguh tajam menantang. Kej menampilkan  manusia muncul ke permukaan kala kehidupan dipaparkan Allah. Kej mengajak untuk memahami siapa manusia dengan lebih jelas dan mengertinya sebagai suatu keseluruhan. Biografi yang ditampilkan oleh Kej adalah metafora kehidupan kita, suatu bentuk ikon kehidupan kita. Ikon yang memampukan kita untuk membandingkan dan menata kembali kehidupan kita. Lebih dari itu semua, Allah lebih dipahami sebagai Allah yang berperan serta aktif dalam kehidupan kita. Jauh berbeda dengan Allah yang jauh dan abstrak seperti ditampilkan dalam teologi sistematis.[72] Dengan pemaparan awal ini, kita siap untuk mengupas leih dalam apa makna pribadi manusia menurut Kej, makna yang akan mewarnai pemahaman kita tentang manusia dalam berhadapan dengan pemikiran-pemikiran yang modern.

1       Makhluk Ciptaan

            Pengertian yang paling mendasar tentang manusia dalam Kej dan juga dalam seluruh Alkitab adalah bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Gelar “gambar dan rupa Allah” dengan unik hanya diberikan pada manusia, bukan pada ciptaan lain. Ini memberikan kesan pada kita bahwa manusia itu istimewa dan terpisah dari makluk ciptaan lain.

            Kata “gambar” (selem) memiliki beberapa arti, seperti: potongan, ukiran, bayang-bayang atau bayangan. Kata ini juga dapat berarti penampilan fisik seseorang, seperti patung dewa-dewi yang menggantikan kehadiran dewa-dewi itu secara pribadi. Atau juga seperti orang melihat bayangannya sendiri di depan cermin. Inilah nuansa makna kata “gambar”.[73] Maka, kata “gambar” mengandung pengertian penampilan fisik. Namun patutlah dicatat bahwa kemiripan antara Allah dan manusia dalam hal ini bukanlah substansial tapi lebih fungsional.[74]  “Gambar” menjelaskan bahwa manusia adalah wakil yang layak akan kehadiran Allah di tengah dunia ciptaan. Waltke dan Fredericks berkata, “Jika Alkitab menampilkan Allah secara antropomorfis, manusia itu teomorfis, dia diciptakan seperti Allah sehingga Allah dapat mengkomunikasikan diriNya di tengah umatNya.”[75]  Sebagai representasi Allah, manusia mengemban hidup Allah yang ia wakili.[76]  Hal ini tercermin dalam ayat ini: “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Makhluk hidup yang disebut manusia ini responsif pada penciptanya, seperti yang disimpulkan Schüle, “Jika manusia adalah gambar Allah… maka kita mengemban suatu gambar yang mampu merespon penciptanya, suatu gambar yang mampu mendekatiNya dalam doa, penyembahan dan korban yang datang dari daya ciptanya sendiri dari   kebijaksanaannya dan dari devosinya yang terdalam pada apa yang dicipta olehNya sepertinya: sesama manusia yang terdiri dari daging dan darah.”[77]

            Di sisi lain, kata “rupa” (demut) menggarisbawahi bahwa manusia hanyalah dicipta mirip dengan Allah dan oleh karenanya berbeda denganNya. Jika di Timur kuno gambar dewa disejajarkan dengan dewa itu sendiri, kata rupa berfungsi untuk dengan jelas membedakan Allah dengan manusia menurut pemikiran biblis.”[78] Oleh karena itu, secara semantik “gambar dan rupa” mengandung arti baik kemiripan dan juga perbedaan antara manusia dan Allah.

            Pemahaman biblis bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah lebih menjelaskan pada kita tentang relasi antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Kej tidak mengajarkan bahwa kita adalah para clone Allah, seolah-olah kita semua adalah dewa-dewi kecil, sebaliknya Kej menggarisbawahi perbedaan besar antara Allah dan manusia. Kej mengajak kita untuk merayakan siapa kita dan tempat kita di antara pada ciptaan yang lain, karena kita ini sedikit lebih rendah daripada Allah (bdk. Mzm 8:5).[79] Towner menambahkan, “Jika kita mengemban gambar Allah dalam diri kita sebagai rahmat dari Sang Pencipta, hal ini membedakan kita dari ciptaan-ciptaan lain di dunia ini, dan jika hanya manusia yang diundang untuk menjalin relasi pribadi dengan Allah, relasi ini memberi kuasa pada manusia untuk memerintah di dunia. Ini semua menunjukkan bahwa kita semua sedang berhadapan dengan suatu pandangan yang amat tinggi tentang hakekat manusia!”[80] Westermann juga menambahkan, “Apa yang Allah putuskan untuk ciptakan mesti sesuatu yang memiliki relasi denganNya.”[81] Maksud diciptakannya manusia menurut gambar Allah adalah agar ia relasi antara pencipta dan ciptaan mungkin terjadi.[82] Philip Hefner juga menambahkan, “Diciptakannya manusia sebagai gambar Allah membuat ide tentang pribadi mungkin, karena pribadi mencerminkan relasi manusiawi yang Allah jalin dengan kita.”[83] Relasi ini menyingkirkan segala macam perbedaan antar manusia dan melampaui segala agama, kepercayaan, ras, dan suku.  “Keunikan manusia terletak pada jati dirinya sebagai rekan Allah. Relasi dengan Allah bukanlah sesuatu yang ditambahkan pada manusia, ia dicipta sedemikian rupa sehingga keberadaannya dimaksudkan untuk menjalin relasi dengan Allah.”[84] Singkat kata, manusia adalah rekan Allah, wakil Allah dan mereka “berkuasa”[85] di bumi bukan untuk semena-mena, tapi untuk menjadi pelayan Allah dalam memelihara alam semesta yang dipercayakan pada mereka.

            Antropologi biblis dalam menjelaskan hakekat manusia tidak menggunakan pola pikir substansialis yang sibuk dengan diskusi tentang apa yang membuat manusia sebagai gambar Allah dan di mana tepatnya letak gambar Allah itu dalam diri manusia. Pola pikir ini jauh dari dunia biblis, khususnya dari Kej. Kitab ini hanya mau menekankan manusia betapapun mulia posisinya di hadapan ciptaan lain. Ia hanya ciptaan dan Allahlah Sang Pencipta tunggal. Kej menunjukkan hal ini dengan menampilkan bahwa Allah memerintah manusia, [86]  bukan sebaliknya. Tindakan ini menunjukkan bahwa Allahlah pusat kisah penciptaan, bukan manusia.

2       Kesatuan Total

            Kisah penciptaan berbicara tentang diciptanya manusia dari tanah (adamah) dan kala Allah menghembusi tanah yang berbentuk manusia itu, ia menjadi hidup (bdk. Kej 2:7)[87]. Kita sebaiknya tidak membaca kisa penciptaan ini dari sudut pandang Helenistis yang mengerti bahwa jiwa dan badan sebagai terpisah, sehingga kita membaca bahwa pertama-tama Allah membentuk badan dari tanah dan kemudian Allah menyelipkan jiwa ke dalam badan itu. Kisah penciptaan hendak menyampaikan pada para pembacanya bahwa manusia itu lemah dan rapuh dan Allah itu jauh lebih kuat dan berkuasa daripadanya. Maka sekali lagi, kisah ini menggarisbawahi kuasa Allah sebagai Sang Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Inilah warta utama kisah penciptaan.[88] Konsep terpisahnya tubuh dan jiwa sangat jauh dari konsep biblis, terutama dari kisah penciptaan dalam Kej. Kisah penciptaan tidak mengenal atau mewartakan bahwa ada dua elemen dalam diri manusia yakni badan dan jiwa. Ide ini sangat jauh dari Kej 1-3. Westermann berpendapat:

 Kisah ini menunjuk pada pengertian akan kemanusiaan atau hakekat manusia yang telah ada selama ribuan tahun, yakni manusia tidak terdiri dari dua bagian (seperti tubuh dan jiwa, dst), tetapi sebagai ‘sesuatu’ yang menjadi ada dan hidup sebagai manusia. Di balik pemahaman ini terdapat suatu pengalaman hidup bahwa seorang manusia ‘berada’ dalam dua cara yang menyatu yakni: hanya sebagai sesuatu (melulu tubuh) dan sebagai sesuatu yang menjadi hidup. Berada sebagai manusia adalah berada sebagai kesatuan yang tak terpisahkan.[89]

 Teks kisah penciptaan ditulis dalam bentuk naratif, dan melalui narasi ini pengarang hendak menyampaikan bahwa sebelum tindakan kreatif Allah, manusia belum berada. Jadi pengarang bukannya mau menyampaikan bahwa Allah menciptakan dan menyatukan dua elemen yang berbeda. Sebaliknya, teks mengisahkan penciptaan “hidup manusia yang satu dan total.”[90] Westermann menambahkan, “’Demikianlah manusia itu menjadi makluk yang hidup’ (Kej 2:7)… Kalimat ini sangat penting untuk mengerti pemahaman biblis tentang kemanusiaan: manusia dicipta sebagai nefes hayah, ‘jiwa yang menghidupkan’ tidak dimasukkan dalam tubuh manusia. Pribadi manusia sebagai makluk hidup harus dimengerti sebagai keseluruhan dan teori yang berpendapat bahwa manusia tersusun dari tubuh dan jiwa bukanlah bagian dari pemahaman kisah penciptaan. Manusia dicipta sebagai makluk hidup berarti bahwa seseorang adalah pribadi manusia hanya jika dia berada dalam keadaan hidup.”[91]

Semua pembahasan ini hanya mau merujuk ke satu poin yakni bahwa manusia itu berada sebagai suatu kesatuan total.

3       Kesetaraan Radikal

            Konsekuensi logis dari diciptanya manusia menurut gambar dan rupa Allah adalah bahwa manusia saling berbagi hakekatnya sebagai makluk ciptaan.  Manusia setara dan berbagi kemanusiaannya dengan sesamanya meskipun masing-masing memiliki keunikkannya sebagai individu.

            Kesetaraan manusia ini, di luar perbedaan yang ada, mendapat pendasaran biblis dalam penciptaan manusia perempuan sebagai rekan manusia lelaki. Kej 2:18 mengisahkan bahwa tidaklah baik jika lelaki sendirian saja. Makna frase “tidaklah baik “ bukanlah melulu menunjuk pada seksualitas, seperti banyak dipahami orang, tapi frase ini menunjuk pada ketidaksetaraan antara manusia dengan hewan. Binatang bukanlah rekan sederajat manusia.[92] Itulah sebabnya Sang Pencipta melihat bahwa kesendirian manusia di tengah makluk ciptaan yang lain sebagai sesuatu yang negatif. Dengan mengisahkan bahwa Allah menciptakan bagi manusia seorang penolong yang lain “yang sepadan dengan dia” (ay. 18) menunjukkan bahwa manusia membutuhkan rekan yang sepadan dengannya. “Manusia dicipta Allah sedemikian rupa sehingga dia membutuhkan bantuan dari seorang rekan, maka dari itu saling membantu merupakan bagian esensial dari eksistensi manusia. Selain saling membantu, sikap saling tanggap, yakni saling paham dalam kata maupun dalam keheningan, membentuk hidup bersama.  Dua hal ini menjelaskan apa itu komunitas manusiawi dengan cara yang luar biasa.”[93] Maka, frase “tidaklah baik, kalau manusia itu seorang diri saja” menggarisbawahi pentingnya untuk mengakui bahwa manusia satu dengan yang lain adalah sederajat dan bersama-sama mereka membentuk suatu komunitas umat manusia (community among the equals).

            Tentang penciptaan perempuan, Kej 2 tidak hanya menyatakan bahwa seksualitas itu baik dan dikehendaki oleh Allah,[94] tapi juga menyatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemkan makna terdalam keberadaannya sebagai manusia melulu sebagai ciptaan, jika demikian, keberadaanya di tengah dunia tanaman dan binatang sudah cukup but also. Manusia hanya dapat menemukan makna hidupnya dalam komunitas umat manusia, karena hanya komunitas umat manusia yang memunculkan kemanusiaan sejati.[95] Luapan kegembiraan manusia lelaki yang menyambut kedatangan manusia perempuan dalam Kej 2:23 menunjukkan rasa syukurnya pada Allah yang memberinya seorang penolong yang sederajat dengannya.[96] Penolong ini diambil keluar dari tubuhnya sendiri. Ini menunjukkan kesetaraan antara dua jenis kelamin. Ide kesetaraan ini merupakan suatu ide yang baru dan berani di tengah dunia yang sangat paternalistik pada waktu itu yang sangat menekankan martabat dan peran lelaki di atas wanita. “Kej 2 merupakan suatu kisah penciptaan yang unik di seluruh dunia timur tengah kuno dalam hal penghargaannya pada perempuan”[97]

            Konsep ini sangat penting, karena konsep ini menggarisbawahi kesetaraan antar manusia di tengah segala macam perbedaannya, termasuk di dalamnya, perbedaan jenis kelamin. Manusia secara radikal setara satu sama lain. Tak seorangpun menurut tata penciptaan dapat mengklaim bahwa dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Gambar dan rupa Allah mengemban di dalamnya ide perbedaan dan komplementaritas, yakni bahwa umat manusia secara individu memang unik dan berbeda, tapi sekaligus individu yang unik dan berbeda ini hidup dalam suatu komunitas yang membuat mereka saling mengisi justru karena keberbedaan yang ada.[98] “Tata penciptaan ini kelak mendasari pewahyuan Allah selanjutnya mengenai tata sosial manusia. HukumNya (ajaraan Alkitab) serasi dengan dunia ciptaan. Oleh karena itu, mencemoohkan tata moral yang diwahyukanNya berarti menentang ciptaan itu sendiri, realitas yang diciptaNya.”[99]

            Komisi Kitab Suci Kepausan juga melihat diciptakannya manusia secitra dengan Allah mengemban makna kesucian hidup manusia dan martabatnya sebagai pribadi, suatu ‘ada relasional’ yang mampu berhubungan secara personal dengan Allah sebagai penciptanya dan dengan orang lain sebagai sesamanya yang sederajat.[100] Singkat kata, penciptaan manusia secitra dengan Allah menyediakan suatu dasar teologis yang kokoh untuk martabat manusiaI[101] karena alasan-alasan berikut:

            Pertama, menurut kisah penciptaan manusia memiliki tempat khusus di antara ciptaan-ciptaan lain. Posisinya yang terangkat menunjukkan dignus (martabat) mereka di antara yang lain (hewan dan tetumbuhan), karena manusia dianugerahi dengan dignitas. Yohanes Paulus II menegaskan hal ini seraya menjelaskan bahwa manusia itu secara misterius berbeda dengan makluk ciptaan lain, manusia telah mencapai suatu tahap kesempurnaan yang tinggi (bdk. EV 22). Posisi yang tinggi tidak serta merta mengandaikan bahwa manusia dapat dengan seenaknya mengeksploitasi dan menguasai ciptaan yang lain. Martabat ini dianugerahkan oleh Sang Pencipta dan tidak bermuasal dari tugas “menguasai” yang diberikan Allah pada manusia. Martabat ini dianugerahkan Allah agar manusia mampu berelasi secara khusus denganNya.

            Kedua, jika Sang Pencipta merupakan penganugerah tunggal martabat pada manusia, maka tak seorang manusiapun yang dapat mengklaim bahwa mereka dapat menganugerahkan martabat kepada sesamanya. Oleh karenanya, martabat manusia sudah ada secara intrinsik sejak awal hidup manusia, dalam semua manusia tanpa kecuali. Konsep teologis ini juga menolak sautu konsep bahwa martabat itu dianugerahkan secara sosial kepada manusia.

            Ketiga, kisah penciptaan menggarisbawahi pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan manusia adalah ciptaan. Pengakuan ini mendasari bagaimana manusia yang satu secara etis memperlakukan manusia lain. Manusia harus mengakui dan  sesamanya sebagai rekan yang secara radikal sederajat.

            Nilai hakiki manusia menjadi semakin intens dalam inkarnasi Yesus Kristus, Anak Allah. Dengan menjadi manusia seperti kita, Kristus mengamini nilai kita sebagai citra Allah, seraya memberikan teladan bagaimanakah semestinya menjadi secitra dengan Allah di tengah hakekat kita yang terluka oleh dosa ini. Yohanes Paulus II mengingatkan kita agar tetap menyadari kebenaran yang didengungkan oleh Vatikan II, “Dengan inkarnasiNya, Anak Allah telah menyatukan diriNya dengan setiap umat manusia” (GS 22). Ini menegaskan nilai setiap manusia. “Peristiwa yang menyelamatkan ini mengungkapkan kepada seluruh umat manusia bukan saja cinta Allah yang tanpa batas pada manusia yang ‘telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal’ (Yoh 3:16), namun juga mengungkapkan nilai yang tak tertandingi dari setiap pribadi manusia” (EV 2).

            Inkarnasi bukan saja bersangkut paut dengan misteri iman kita, tapi juga menyentuh setiap tindakan etis kita seraya memberinya arah. Yesus Kristus, sebagai citra Allah par excellence, telah menunjukkan pada kita dengan inkarnasinya bagaimana hidup dengan sungguh sesuai dengan citra Allah. Untuk hal ini Schockenhoff menambahkan,

 Hal ini membuat kita memahami setiap tindakan etis manusia sebagai suatu jalan historis antara dua kutub. Di satu sisi, sautu ide tentang manusia sempurna yang menjawab dengan tepat kepada Allah dalam setiap dimensi kehidupannya, telah menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, sehingga kepada setiap manusia kemungkinan historis ini terbuka lebar. Di sisi lain, dia yang telah dibaharui dalam baptis dan menerima rahmat Kristus adalah seorang makluk yang tak sempurna dan terbatas: oleh karenanya, dia harus tetap berada dalam perjalanan (in via) sepanjang hidupnya, agar ia dapat menanggapi dengan lebih baik tujuannya dicipta.[102]

4       Penciptaan Berlanjut Dalam Prokreasi

            Kita telah membahas dasarteologis martabat manusia, yakni bahwa ia dicipta secitra dengan Allah. Penciptaan ini tidak berhenti namun terus berlanjut dalam prokreasi, yakni dalam dikandungnya anak. Manusia bukan memproduksi namun melahirkan anak dengan pertolongan Allah, seperti yang direfleksikan dalam EV 43, “Suatu partisipasi manusia dalam kedaulatan Allah juga terlihat jelas dalam tanggung jawab khusus yang diberikan kepadanya atas hidup manusia itu sendiri. Tanggung jawab mencapai titik tertingginya dalam pemberian hidup melalui pengadaan keturunan (prokreasi) oleh pria dan wanita dalam perkawinan.”

            Kita manusia melahirkan seseorang yang seperti kita, bukan spesies lain. Secara biolgis, sebuah spesies hanya dapat melahirkan spesies yang sama. O’Donovan menambahkan, “Keturunan kita adalah manusia, yang berbagi dengan kita satu martabat manusia yang sama, satu pengalaman dan tujuan manusia yang sama. Kita tidak menentukan apakah keturunan kita itu, kecuali dengan hakekat kita sendiri, yang dengannya keturunan kita akan menjadi.”[103]

            Bukan kita yang mencipta atau membuat keturunan kita, seolah-olah mereka itu barang dan bukan pribadi, penciptaan hanya direservir oleh Allah, sebagai Pencipta tunggal. Berbicara tentang melahirkan anak berarti berbicara tentang melahirkan makluk lain yang hakekatnya sama dengan kita, yang dengan mereka kita berbagi persekutuan berdasarkan kesetaraan radikal sebagai sesama ciptaan Allah.[104]  Sebaliknya, sesuatu yang kita buat tidak memiliki kesetaraan radikal dengan kita. Oleh karenanya, kita sebagai pembuat akan teralienasi dari apa yang kita buat, mengunggulinya dengan kemauan kita dan kita bertindak sebagai hukum atas kodratnya.[105]

            Allah terus berlanjut mencipta sepanjang sejarah. Kej 5:1-3 mengisahkan tentang keturunan Adam. Dikisahkan bahwa bukan hanya Adam, namun juga Set yang diciptakan menurut citra Allah: “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set.” Teks ini hendak mengatakan bahwa citra Allah diteruskan melalui pengadaan keturunan. Yoh. Paulus menambahkan, “Jadi, pria dan wanita yang berpadu dalam pernikahan menjadi mitra dalam karya ilahi yakni melalui pengadaan keturunan, kurnia Allah diterima dan hidup baru terbuka bagi masa depan.” (EV 43).

            Hal ini mengandaikan bahwa manusia menerima tugas suci dari Allah untuk menjadi rekan penciptaNya dalam prokreasi. Allah sungguh memberkati prokreasi. Kej 1:28 menulis, “8 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak.” Vatikan II juga menandaskan, “Allah sendiri yang bersabda ‘”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja’ (2:18) dan ‘Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan’ (Mat 19:4), berkehendak membagi dengan manusia suatu partisipasi khusus dalam karya penciptaanNya” (GS 50). Yoh. Paulus menerangkan hal ini lebih lanjut demikian:

 Dengan berbicara tentang ‘partisipasi khusus’ pria dan wanita dalam karya penciptaan Allah, Konsili bermaksud mengemukakan bahwa mempunyai anak itu suatu peristiwa yang secara mendalam manusiawi dan penuh dengan makna religius, sejauh melibatkan suami istri, yang menjadi satu daging dan Allah yang menghadirkan diri. Dalam Surat kepada Keluarga-keluarga saya menulis: ‘Kala lahir manusia baru dari persatuan kedua insan dalam perkawinan, manusia membawa citra-keserupaan Allah sendiri ke dalam dunia. Garis keturunan manusia tertera dalam biologi pengadaan keturunan itu sendiri. Dalam menegaskan bahwa suami-istri, sebagai orang tua, bekerja sama dengan Allah, Sang Pencipta, dalam mengandung dan melahirkan manusia baru, di sini kita tidak membicarakan hal yang hanya berkenaan dengan hukum biologis. Sebaliknya, kita hendak menekankan bahwa Allah sendiri hadir dalam kebapaan dan keibuan manusia,  berbeda dengan kehadiranNya dalam peristiwa dikandungnya makluk-makluk lain di bumi. Sesungguhnya, hanya Allahlah sumber ‘gambar dan rupa’ yang pantas untuk manusia saja, seperti yang diterimanya dalam penciptaan. Menurunkan anak adalah kelanjutan dari penciptaan” (EV 43).

             Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa tindakan menurunkan anak, kita tidak hanya melahirkan seseorang yang serupa dengan kita manusia, tapi juga bekerja sama dengan Allah, kita meneruskan citra Allah kepada keturunan kita. Teologi kelanjutan penciptaan melalui prokreasi memberi bobot atas argumen kita bahwa manusia hanya dapat menurunkan manusia, bukannya calon manusia (potential person).  Manusia tidak dapat menurunkan apa yang bukan manusia dan hal ini merupakan karya penciptaan Allah yang bekerja melalui proses biologis prokreasi. Namun sayangnya, hal yang amat jelas dan jernih ini saat ini mendapat banyak tantangan dari kesombongan manusia. Manusia yang sejatinya adalah sesama kita yang sederajat, namun dengan kesombongannya mereka ingin menjadi allah atas sesamanya.

5       Bertindak Sebagai Allah dan Menyangkal Diri Sebagai Ciptaan

Mentalitas manusia zaman modern ini adalah menentang tata penciptaan dan pada saat yang sama menolak adanya Allah. Dengan cerdas Yoh. Paulus II menulis,

Ketika rasa akan Allah hilang, rasa akan sesama manusia akan juga terancam dan teracuni, seperti yang dengan bijak dinyatakan oleh Konsili Vatikan II: ‘Tanpa Sang Pencipta ciptaan akan lenyap… Ketika Allah dilupakan, ciptaan itu sendiri menjadi tak dapat dipahami.’ Manusia tidak akan mampu lagi untuk memandang diri sebagai makluk yang ‘secara misterius berbeda’ daripada makluk lain. Manusia akan menganggap diri hanya sebagai satu dari banyak makluk yang lain, sebagai suatu organisme yang, paling banyak, telah mencapai tahap penyempurnaan yang sangat tinggi. Terkungkung dalam cakrawala sempit hakekat fisiknya, manusia entah bagaimana telah direduksi menjadi seperti ‘benda’, dan ia tak dapat lagi menangkap ciri transenden dari keberadaannya sebagai manusia. Dia tak lagi menganggap kehidupan sebagai anugerah agung dari Allah, sesuatu yang sakral yang dipercayakan pada tanggung jawabnya dan juga ada pemeliharaannya yang penuh kasih serta mengagungkannya. Kehidupan itu sendiri hanya menjadi sebuah benda yang dituntut sebagai miliknya, yang sepenuhnya ada di bawah kontrol dan manipulasinya’ (EV 22).

             Rasa akan Allah yang hilang ini terekspresikan dalam bertindak sebagai allah, pencipta. Hal ini banyak dikenal dengan istilah bermain-main sebagai Allah (playing God). Istilah playing God kurang bermakna, maka lebih baik dipakai istilah “bertindak seperti pencipta,” yakni, “merampas kuasa yang hanya pantas untuk Allah.”[106] Apa yang saya maksud di sini adalah tingkah laku manusia terhadap sesama dan lingkungannya. Westermann menambahkan,

 Kala manusia menjadi pusat dari segalanya, Allah disingkirkan jauh dalam transendensinya… Kemudian ketika konsekuensi teknis dari perkembangan sains menggerogoti konsep utuh tentang alam dan menghasilkan manusia yang dalam keseharian hidupnya harus berhubungan dengan teknik produksi dan dengan benda-benda yang secara teknis diproduksi, konsep biblis tentang ciptaan dan pencipta semakin didorong jauh ke belakang layar. Pertanyaan mendasarnya sekarang bukanlah apakah seseorang percaya atau tidak pada seorang pencipta…, pertanyaan yang sebenarnya adalah apakah kita mampu atau tak mampu mencari jalan yang jelas dan sejati untuk berelasi dengan keberadaan kita yang tertekniskan – seperti yang sekarang kita hidupi, dengan mesin-mesin, fisika nuklir dan genetika modern, dengan apa yang Kitab Suci wartakan tentang Allah, Sang Pencipta.[107]

             Bertindak sebagai Allah itu malah menentang hakekat kita manusia sebagai ciptaan. Di dalam tindakan itu terkandung suatu hasrat untuk melakukan “lompatan hakekat”, dari manusiawi ke ilahi. Inilah tindakan yang contra naturam. Rupanya manusia belumlah cukup dengan kedudukannya yang paling tinggi di antara seluruh ciptaan, ia ingin menjadi Allah sendiri. Di sinilah letaknya tendensi manusia seperti leluhur mereka yang dicobai dan jatuh dalam pencobaan ini.[108] Tindakan penyombongan diri ini sia-sia dan tidak mungkin dapat dilakukan. Adalah hal yang menyedihkan bahwa manusia secara total hendak melepaskan diri dari Allah, tepatnya, mau bebas dari segala tanggung jawab moral di tengah kemungkinan-kemungkian liar budaya teknologi ini.[109]

            Bertindak sebagai Allah merupakan hasil dari kesalahpahaman tentang anugerah dan tugas dari Allah untuk “menguasai” semesta alam. Dalam Kitab Kej, anugerah ini tidak pernah dimaksudkan untuk mengeksploitasi alam. Kesalahpahaman akan pesan biblis ini membuat kita tidak hanya mengeksploitasi alam namun lebih buruk daripada itu manusia mendominasi dan mengeksploitir sesamanya. Sekarang manusia menuntut kuasa atas kehidupan, seperti Allah sendiri. Mereka lupa bahwa mereka hanyalah ciptaan yang tidak pernah dapat menuntut hak hidup rekan sederajatnya. Mereka juga lupa bahwa “kuasa” yang diberikan adalah “kuasa” sebagai pelayan-pelayan Allah untuk menjaga alam ini, seperti Allah sendiri juga menjaga alam ini. Ashley menggarisbawahi, “Meskipun manusia adalah tuan atas ciptaan lain yang lebih rendah, kuasa atas ciptaan lain dan atas dirinya sendiri hanyalah sebuah tugas pelayanan di mana manusia tetap bertanggung jawab pada Sang Satu Tuan… Manusia adalah pelayan atas alam semesta ini, sebagaimana mereka sendiri berasal dari dunia di mana Allah menempatkan mereka.”[110]

            Dalam konteks, misalnya, awal hidup manusia, saya menyetujui O’Donovan yang mengatakan bahwa kejahatan terbesar pada zaman ini bukanlah pertama-tama membunuh embrio, tapi secara halus dan intelektual meredefinisi embrio menjadi manusia ambigu.[111] Allah menciptakan kita menurut citraNya, sebaliknya kita mencoba “mencipta” sesama kita dengan meredefinisikannya sebagai yang bertentangan dengan citra kita. Tindakan inilah sautu contoh konkret bagaimana manusia yang satu bertindak sebagai Allah terhadap manusia yang lain. Tentu saja sah bahwa kita menawarkan suatu iman akan Allah sebagai Pencipta kepada masyarakat modern. Iman ini menjadi suatu kritik atas kecenderungan manusia untuk menjadi dan bertindak sebagai Allah. Dengan mengimani dan mengakui Allah sebagai Pencipta, dalam waktu yang sama pula kita mengakui bahwa kita bukanlah Allah dan tidak akan pernah bertindak sebagai Allah bagi sesama kita, melainkan menjadi rekan sederajat. James Gustafson melihat implikasi dari iman ini terhadap pemahaman kita tentang nilai-nilai pribadi manusia. Ia berpendapat bahwa mereka yang percaya akan transendensi Allah menjadi “better valuers” daripada mereka yang tidak percaya.[112]

Nilai yang ingin kita pertahankan sebenarnya sederhana, namun amat mendalam, yakni mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, dan kita manusia adalah ciptaan yang saling berbagi kesederajatan dengan manusia yang lain. Untuk menjadi penilai-penilai yang lebih baik nilai pribadi manusia, kita sebagai orang Kristiani menemukan model yang paling unggul dalam pribadi Yesus Kristus. Dia menunjukkan pada kita bagaimana seharusnya menjadi penilai-penilai yang lebih baik, terutama dalam menilai orang lain sebagai rekan dan sesama kita. Yesus mengajarkan dua hal besar yang tak terpisahkan satu dengan yang lain, yakni mencintai Allah dan manusia (Mat 22:34-40, par).

6       Perumpamaan “Orang Samaria yang Baik Hati”

            Setelah kita berdiskusi tentang siapakah manusia itu dalam kisah penciptaan, kini kita berdiskusi bagaimana kita semestinya memperlakukan orang lain yang adalah sesama kita. Ajaran Kristus dalam hal ini terungkap dengan apik dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Di sinilah kita akan memahami apa arti sesama dan apa yang patut kita lakukan pada sesama kita. Pendekatan Yesus yang radikal pada relasi antar manusia menjadi kerangka acuan dalam refleksi teologis cinta pada sesama.

            Cinta bukanlah sesuatu yang pasif. Cinta yang sejati bergerak untuk mempengaruhi tindakan kita. Oleh karena itu kita dapat merumuskan bahwa cinta itu sungguh praktis dan merupakan suatu tindakan, bukan ide. Yohanes menulis, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh 3:18). Cinta ini berasal dari tindakan Allah mencintai kita dan tindakan Allah ini kita alami, oleh karenanya pengalaman ini menggerakkan kita mencintai sesama kita. Maka tindakan cinta Allah menjadi dasar yang kuat untuk tindakan cinta kita. Von Balthasar berkata, “Dia atas segalanya, tingkah laku kristiani itu adalah suatu reaksi kedua jika dibandingkan dengan tindakan pertama Allah mencintai manusia.”[113] Dalam tindakan mencinta ini manusia bertemu dengan sesamanya, namun juga Allah sendiri (bdk. Mat 25:31-46), maka dua bentuk cinta ini tidak terpisahkan satu dengan yang lain. O’Donovan menyebut hal ini sebagai “aspek dobel hidup moral kristiani.”[114] Tentang hal ini Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya yang pertama menulis,

           Cinta pada Allah dan sesama tidak terpisahkan, keduanya membentuk satu perintah. Namun keduanya mendapatkan hidup dari cinta Allah yang terlebih dahulu mencintai kita. Oleh karenanya, hal ini bukan lagi suatu pertanyaan tentang ’perintah’ yang dipaksakan dari luar dan panggilan untuk melakukan sesuatu yang tak mungkin, melainkan lebih merupakan suatu pengalaman akan cinta yang dengan bebas dianugerahkan dari dalam, suatu cinta yang pada hakekatnya mesti dibagikan pada orang lain. Cinta tumbuh melalui cinta. Cinta itu ’ilahi’ kerena ia berasal dari Allah dan menyatukan kita pada Allah; melalui proses penyatuan ini, cinta membuat kita menjadi suatu ’kami’ yang melampaui keterpecahan kita dan membuat kita satu, sampai pada akhirnya Allah menjadi ’segala dalam segala’ (1 Kor 15:28).[115]

Siapakah sesamaku manusia?

Ajaran Yesus tentang cinta pada sesama dengan padat makna tersaji dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37).[116] Perumpamaan ini adalah suatu contoh par excellence dari argumen naratif, suatu argumentasi yang disampaikan melalui cerita.[117]

Perumpamaan ini adalah tentang seorang ahli Taurat yang untuk membenarkan dirinya mencobai Yesus dengan melontarkan pertanyaan yang aneh yakni “siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Yesus tidak pernah menjawab pertanyaan aneh ini. Ia berargumentasi dengan menceritakan perumpamaan. Dalam perumpamaan itu dibandingkan sikap orang Yahudi dari kalangan elite yakni seorang iman dan seorang dari kaum Lewi, mereka disibukkan untuk memenuhi hukum ritual (bdk. Im 21:11) sampai menutup mata dan tak peduli untuk menolong sesamanya yang sekarat. Namun sikap orang Samaria lain. Meskipun ia secara hukum tidak boleh bersentuhan dengan orang Yahudi, ia melanggar hukum itu demi kasih pada sesamanya. Dua hukum dilanggarnya, yakni hukum kenajisan menyentuh mayat (bdk. Im 21:11) dan hukum pemisahan antara orang Yahudi dan Samaria  (bdk. Luk 9:53, Yoh 4:9).[118]

            Dalam benaknya, si ahli Taurat menganggap bahwa sesama manusia adalah ia yang membutuhkan belas kasihan. Yesus menentang konsep salah ini, karena dengan demikian ia menjadikan sesamanya manusia sebagai obyek. Yesus memutar pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” menjadi “siapakah yang menjadi sesama manusia bagi orang lain?” (Lk. 10:36-37).[119] Sekarang pusatnya bukanlah pada orang yang harus ditolong, tapi ia yang harus menolong. Yang bermasalah bukanlah si obyek, tapi si subyek. Si imam dan si Lewilah yang bermasalah, bukan orang yang dirampok yang tengah sekarat. Si imam dan si Lewi tidak menjadi sesama bagi orang yang sekarat itu, sedangkan si Samaria menjadi sesama. Problemnya bukan terletak siapa yang harus ditolong, tapi siapa yang harus memberikan pertolongan. Bukan pada siapa yang pantas menjadi sesamaku, tapi apakah aku menjadi sesama bagi semua orang. G. Segalla lebih praktis dan sederhana dalam menjelaskan perumpamaan ini. Menurutnya, Yesus seolah-olah berkata demikian, “Orang itu membutuhkan pertolonganmu, berhentilah membuat pembedaan-pembedaan, jadilah sesama bagi dia, cukuplah sudah.”[120]

Hultgren menjelaskan dengan lebih tajam perumpamaan ini dengan memperlawankan antara “siapakah yang menjadi sesamaku dan siapa yang bukan.” [121] Dalam benak si ahli Taurat tentunya ada kategori-kategori ini. Ia yang memenuhi kategori atau kriteria tertentu pantas menjadi sesama, jika tidak maka ia bukan sesama. Jadi ia menarik perbedaan antar pribadi manusia dengan mengklaim bahwa pribadi A adalah manusia, pribadi B kira-kira manusia, dan pribadi C bukan manusia. Sekali lagi, ide berbahaya ini ditentang habis oleh Yesus dengan bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay. 36). “Tuntutan untuk mencintai sesama seperti diri sendiri tidak mengenal batas.”[122] O’Donovan menambahkan,  “Untuk mengenal siapakah sesamaku, aku harus pertama-tama membuktikan bahwa aku adalah sesamanya. Untuk memahami orang lain sebagai saudara atau saudariku, aku harus pertama-tama menerima dia apa adanya dalam suatu interaksi personal.”[123] Kita mengenali orang lain sebagai sesama manusia hanya dengan pertama-tama memiliki komitmen moral untuk memperlakukan orang itu sebagai manusia.[124]

B      Yesus Kristus, Sang Penyembuh Agung

            Jika kita nanti akan berdiskusi tentang tindakan penyembuhan yang dilakukan oleh manusia dalam rupa obat, pembedahan, dan perawatan, maka kita amat perlulah bagi kita untuk mengenal lebih dalam karya Allah, Sang Penyembuh Agung, dalam diri Yesus Kristus dan yang dilanjutkan oleh GerejaNya lewat sakramen-sakramen. James Gustafson mengatakan, “Kristus adalah sang norma untuk menerangi bagaimana seorang Kristen itu seharusnya dan apa harus ia lakukan dalam tingkah lakunya; Kristulah norma utama yang mengharuskan bagi mereka yang ingin mengatur hidupnya sebagai muridNya.”[125] Selaras dengan tujuan buku ini, kita akan melihat penyembuhan dari sudut pandang yang holistik.

1       Penyembuhan Kristus

            Rudolf Bultmann, penganjur demitologisasi, seperti dikutip oleh John Meier, pernah mengatakan, “Adalah tidak mungkin bagi kita untuk menggunakan cahaya elektrik dan nir-kabel dan menghargai tinggi obat-obatan modern serta penemuan-penemuan dalam bidang pembedahan, dan pada waktu yang sama tetap percaya pada mukjizat dari dunia Perjanjian Baru.” [126] Namun di sisi lain, Meier juga mengamati bahwa survey yang dilakukan oleh George Gallup mencatat bahwa di Amerika Serikat 82% orang percaya bahwa sampai saat ini Allah melakukan mujizat, dan 6% yang menolak total percaya pada mukjizat. Apakah ini berarti bahwa hanya 6% saja dari rakyat negara termaju di dunia yang kadar intelektualnya sebanding dengan beberapa profesor Jerman yang sealiran dengan Bultmann?[127] Juga sangatlah sempit jika membandingkan kuasa Sang Pencipta dengan kekuatan listrik, wireless, dan obat-obatan. Sebaliknya, semuanya itu tersubordinasikan di bawah kuasa Allah. Mereka yang bekerja di ranah historis harus rendah hati dan tahu posisinya sehingga tidak mengambil kesimpulan teologis yang terlalu jauh.[128]

            Adalah fakta historis, menurut Meier, bahwa Yesus melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa dan mukjizat-mukjizat didukung oleh kriteria yang paling meyakinkan dari banyak sumber serta kesaksian, dan kesemuanya ini konsisten.[129] Fakta historis ini cukup untuk menyatakan secara teologis bahwa Sang Putra Allah melakukan banyak mukjizat dan di antaranya adalah menyembuhkan orang-orang sakit. Penyembuhan Kristus bukanlah mitos atau dongeng isapan jempol saja. Tidak berhenti di sini, Yesus juga memberi perintah pada para muridNya untuk melanjutkan karya penyembuhanNya sebagai bagian dari pembangunan kerajaan Allah sejak saat ini dan di dunia ini (bdk. Mat 10:5-15, par.).

            Jika demikian, apakah tindakan Yesus ini bertentangan dengan ajaranNya untuk menderita, yakni memanggul salib setiap hari (bdk. Mat 16:24)? Ternyata pemahaman kita tentang salib terlalu tergesa-gesa dihubungkan dengan penyakit, padahal penyakit adalah salah satu bagian saja dari penderitaan. Konteks pertama dalam perikop ini adalah kemuridan, yakni mengikuti Kristus. Yesus mengatakan bahwa kalau mau mengikuti Dia, maka seluruhnya harus ditinggalkan, termasuk nyawa, dan fokus perhatian utama adalah Dia sendiri sebagai Sang Guru. Nah, karena segala-galanya ditinggalkan demi mengikuti Dia, maka konsekuensi dari mengikuti Dia harus diterima, yakni memanggul salib. Jadi memanggul salib bukanlah fokus, karena kesengsaraan bukanlah fokus utama dalam kemuridan, tapi ketotalan dalam mengikutiNyalah fokus utama. Memanggul salib adalah konsekuensi.

            Namun apa arti memanggul salib di sini? Konteks pembicaraan Yesus tentang memanggul salib berada dalam perjalananNya ke Yerusalem, bukan dalam konteks berhadapan dengan penyakit. Jadi penderitaan yang dimaksudkan di sini bukanlah serta-merta penyakit, tapi lebih penderitaan dari luar, dari pihak lain yang jahat.[130] Demikian juga halnya dengan Paulus, ketika ia berbicara tentang penderitaan sebagai mengambil bagian dari penderitaan Kristus dia berbicara tentang pengejaran, penganiayaan dan kerja keras dalam mewartakan Injil (baca 2 Kor 11:23-29).[131] Memang sama sekali tidak keliru memandang penyakit yang tak tersembuhkan sebagai suatu kesempatan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, tapi amatlah gegabah jika semua penyakit dianggap begitu saja sebagai “salib,” karena penyakit adalah bagian dari misteri kejahatan.

Beberapa poin penting

            Memang penderitaan (juga penyakit) adalah sebuah misteri yang tak dapat dengan mudah dipecahkan, namun kiranya beberapa poin di bawah ini yang disumbangkan oleh McNut membantu kita untuk tidak mengambil keputusan atau pernyataan teologis yang gegabah tentang penyakit.

Allah bergembira atas kepenuhan hidup kita

            Allah adalah Sang Pencinta kehidupan, bahkan bukan kehidupan yang biasa saja, namun yang berlimpah (Yoh 10:10). Dalam diri PutraNya, Yesus, Allah telah datang semakin mendekat dengan manusia dan mengalami segala suka duka hidup manusia. Dalam perutusanNya, Yesus menyembuhkan banyak orang sebagai tanda-tanda kuasa Allah yang menyertai pelayananNya. Hal ini berarti Allah menginginkan agar kita menjadi utuh dan sehat baik dalam badan, pikiran dan jiwa kita. Allah tidak menyukai kita menjadi sakit. Inilah alasan di balik tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus dan yang dilanjutkan oleh para pengikutNya.

            Allah yang menyayangi kehidupan ini memegang kendali kuasa atas segala sesuatu. Ia Mahakuasa, seperti tertulis dalam credo. Ia akan menanggapi doa untuk memohon kesembuhan, kecuali jika ada beberapa halangan tersalurnya kuasa penyembuhannya atau jika penyakit itu dimaksudkan untuk suatu kebaikan yang lebih besar.[132]

Penyakit adalah kejahatan

            Penyakit adalah bagian dari kejahatan, meskipun kebaikan mungkin muncul darinya. Penyakit tidak secara langsung dikehendaki oleh Allah. Thomas Aquinas dalam De Malo mengatakan bahwa penyakit merupakan suatu konsekuensi dari dosa asal, suatu keadaan “jahat” di mana manusia dikandung dan dilahirkan.[133] Namun Aquinas, mengutip Yoh 9:3, mengatakan bahwa penyakit dapat menjadi kesempatan untuk menghindari dosa dan mengembangkan keutamaan, sehingga oleh karenanya ia diselamatkan.

            Dengan kekuatan kuasa kebangkitanNya kehidupan ilahi menerobos masuk dalam dunia yang terluka parah ini. Dia memberikan kepada kita kesempatan untuk bekerja sama dengan kuasa kebangkitanNya ini untuk menyembuhkan si sakit dan dunia yang juga sakit ini.[134] “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rom 8:20-21).

Kematian sebagai jawaban

            Berhadapan dengan orang tua renta yang sakit parah orang sering bertanya apakah kita perlu memohon penyembuhan. Dari sini orang juga berargumen bahwa untuk apa berdoa mohon kesembuhan jika suatu saat akan datang  juga saat kematian kita. Tentunya pemikiran yang demikian amatlah pesimis. Jika demikian jangankah doa untuk memohonkan penyembuhan, kehadiran dokter juga percuma, karena toh pada akhirnya orang akan mati.

            Diperlukan kebijaksanaan yang mendalam dalam menghadapi hal ini. Amatlah normal bagi jagung untuk tumbuh dan masak selama kurang lebih tiga bulan, namun amatlah aneh jika jagung harus jatuh busuk setelah berumur sebulan lebih. Demikian juga kita perlu memohonkan penyembuhan dari Kristus terhadap orang yang menurut kebijaksanaan kita patut sembuh, misalnya: seorang ibu muda yang sakit leukemia, sedangkan anak-anaknya masih kecil-kecil dan membutuhkan kehadirannya.

Sarana tercapainya sesuatu yang lebih luhur

            Beberapa penyakit, bukan semua, dapat menjadi sarana tercapainya sesuatu yang lebih luhur. Misalnya, kebutaan Saulus, rusaknya kaki Ignasius Loyola, dan sebagainya. Kita memiliki tradisi lama tentang “penderitaan yang menyelamatkan.” Namun kita sering tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua penyakit termasuk dalam “penderitaan yang menyelamatkan.” Terlalu cepat bagi kita untuk mengatakan bahwa semua penyakit adalah mempunyai tujuan yang luhur.

            Hal ini akan berdampak buruk di dalam pelayanan. Pastor pelayan rumah sakit dapat dengan mudah mengatakan pada semua pasien yang sedang dirawat untuk mendapatkan kesembuhan, “Allah menawarkan pada kalian kesempatan untuk menerima penyakit-penyakit ini sebagai berkat.” Ia tidak berbela rasa dengan mereka yang sakit untuk mengharapkan kesembuhan dari Allah, baik secara langsung maupun lewat sarana medis. McNut mengatakan, “Menurut Perjanjian Baru, umat Kristiani wajib berdoa agar penyakit disingkirkan, daripada berdoa untuk menerima penyakit. Penyakit yang menyelamatkan itu perkecualian, bukan hukum.”[135] McNut juga mencatat dalam Ritual Romawi tertulis doa dalam kesempatan kunjungan orang sakit demikian:

 Allah dari segala kuasa surgawi, dengan sabdaMu Engkau mengusir segala kelemahan dan penyakit dari tubuh manusia. Dalam belas kasihanMu, sertailah hambamu sekarang, sehingga penyakitnya boleh dienyahkan, kekuatan penuh dan kesehatannya boleh kembali, dan dia boleh memuliakan namaMu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.[136]

             Setelah kita memahami bahwa Kristus telah sungguh melakukan penyembuhan orang sakit, kini kita akan melihat bagaimana karya Kristus itu dilanjutkan oleh Gereja dalam rupa sakramen-sakramen.

2       Sakramen-sakramen Penyembuhan

            Kita adalah ciptaan dan bukan pencipta, maka hakekat kita tidak seagung Sang Pencipta. Sebagai ciptaan manusia mengemban kekurangan dan kelemahan, serta berada di bawah sengsara, penyakit dan kematian. Oleh karena itu Yesus mengutus Gereja agar terus melanjutkan apa yang telah Ia lakukan, yakni pelayanan penyembuhan dan penyelamatanNya sendiri di dalam kekuatan Roh Kudus (KGK 1421). Untuk hal inilah ada dua sakramen penyembuhan yakni: sakramen rekonsiliasi dan sakramen pengurapan orang sakit. Untuk tidak bertumpang tindih dengan sakramentologi, buku ini hanya membahas kedua sakramen ini dari sudut penyembuhan.

Sakramen Rekonsiliasi

            Sakramen ini bertujuan untuk berdamai dengan Allah, dan oleh karenanya buah hasil dari sakramen ini adalah “memberi kembali kepada kita rahmat Allah dan menyatukan kita dengan Dia dalam persahabatan yang erat” (KGK 1468). Dari sini manusia memperoleh kembali shalom dan kegembiraan oleh karena penghiburan Roh, suatu “kebangkitan rohani.” Bukan hanya perdamaian dengan dirinya sendiri dan Allah, sakramen ini juga memulihkan perdamaian dengan sesama dan seluruh ciptaan.

            Jika penyakit itu dipandang sebagai suatu dis-harmoni yang terjadi dalam pribadi manusia, maka dosa menjadi sumber subur akan dis-harmoni ini. Katekismus mengajarkan, “Dalam terang iman tidak ada yang lebih buruk daripada dosa; tidak ada yang mempunyai akibat yang sama buruk untuk pendosa, untuk Gereja dan untuk seluruh dunia” (1488). Oleh sakramen rekonsiliasi, jika diterima dan dihayati sungguh-sungguh, dosa dihapuskan dan manusia dipulihkan lagi, manusia dibuat lagi menjadi manusia yang harmonis, maka oleh karenanya ia disembuhkan dan dipulihkan dari dis-harmoninya yang menyumberkan penyakit.

Sakramen pengurapan orang sakit

            Gereja taat kepada Kristus, Sang Kepala. Ia yang memberi perutusan pada Gereja untuk juga menyembuhkan orang sakit, seperti yang Ia sendiri lakukan: “Mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:18). Gereja perdana mencatat apa yang mereka lakukan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak 5:14-15).

            Hal ini mereka dan kita lakukan karena kita yakin akan kehadiran Kristus yang menyembuhkan jiwa dan badan. Ia tidak saja berkarya di masa lampau, tapi juga dalam masa kini di mana ilmu kedokteran dan obat-obatan mencapai taraf yang begitu maju. Gereja menemani si sakit dengan doa-doanya yang memohon kesembuhan menyeluruh. Kesembuhan yang terjadi hendak menunjukkan pada dunia bahwa betapa berdaya gunanya rahmat dari Dia yang telah bangkit dari mati, untuk menunjukkan bahwa Allah itu Mahakuasa (bdk. KGK 1506). Namun jika penyembuhan tidak terjadi, Gereja tetap menemani orang dengan doa-doanya, agar mereka dapat dengan bebas dan ikhlas mengambil bagian dari sengsara Kristus, dan sengsara ini bukan tanpa arti.

            Sakramen ini bukan sakramen terakhir atau the last rite, teologi pesimis ini sudah ditinggalkan dalam katekismus yang baru. Sakramen ini adalah sakramen penyembuhan, bukan sakramen untuk mempercepat kematian. Namun tidak menutup kemungkinan mereka yang sedang berada dalam tahap terminal untuk menerima sakramen ini, karena sakramen ini juga memberikan bekal perjalanan untuk menuju hidup abadi.

            Sakramen ini membuahkan hasil berupa kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan penyakit berat atau kelemahan karena usia lanjut, namun juga kesembuhan jiwa dan badan.

C      Prinsip Dasar Atas Hidup: Hormat dan Mencintai

1       Hidup sebagai anugerah Allah

            Dari refleksi biblis di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kehidupan manusia itu berasal dari Allah, Sang Pencipta, jadi kehidupan itu adalah anugerah Allah. Karena merupakan anugerah cuma-cuma dari Allah, maka Allahlah satu-satunya Tuhan atas hidup (EV 39). Konsekuensi dari hal ini adalah manusia tidak pernah dapat berkuasa penuh atas hidup orang lain maupun hidupnya sendiri, apalagi mengambil hidup orang lain pun dirinya sendiri. Hak untuk itu hanya ada pada Allah.

            Anugerah hidup yang berasal dari Allah ini membuat hidup itu suci. “Kehidupan manusia adalah kudus karena sejak awal ia membutuhkan ‘kekuasaan Allah Pencipta’ dan untuk selama-lamanya tinggal dalam hubungan khusus dengan Pencipta, tujuan satu-satunya. Hanya Allahlah Tuhan atas kehidupan sejal awal sampai akhir: tidak ada seorangpun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan apapun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tak bersalah” (KGK 2258).

2       Menghormati, mencintai dan membela kehidupan

            Terhadap anugerah kehidupan yang suci ini manusia wajib menghormatinya. Hormat pada kehidupan manusia tertuang dalam sikap yang mengakui bahwa hidup manusia itu tidak dapat diganggu-gugat (inviolability). Yohanes Paulus mengatakan bahwa ketakterganggu-gugatan hidup manusia ini sejak semua tertera dalam hati nurani manusia. Pertanyaan Allah pada Kain, “Apa yang telah kau lakukan?” (Kej 4:10) merupakan cerminan pergulatan apa yang terjadi di dalam lubuk hati manusia (bdk. EV 40). Pergulatan ini muncul jika manusia mencederai atau hendak mengambil hidup orang lain atau dirinya, manusia secara alamiah sadar bahwa hidupnya atau hidup orang lain itu bukanlah miliknya namun milik Allah.

            Menghormati dan membela kehidupan itu mengerucut dalam suatu tindakan yang paling luhur pada kehidupan, yakni, mencintai. Kewajiban mencintai ini tertuang secara positif dalam perintah kasih dari Yesus sendiri, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39, par). Untuk itu Konsili Vatikan II menyerukan seraya membuat semacam “daftar” atas perbuatan-perbuatan yang menentang hormat pada hidup manusia, “Segala penyerangan pada hidup itu sendiri, seperti pembunuhan, pembantaian ras, abosi, eutanasia, dan bunuh diri bebas; segala kekerasan pada keutuhan pribadi manusia, seperti mutilasi, penyiksaan mental dan fisik, tekanan psikologis yang tak layak… semuanya ini dan hal-hal yang serupa dengannya adalah tindak kriminal, mereka adalah racun peradapan” (GS 27).

D      Norma moral Kristiani

            Prinsip-prinsip dasar bagaimana bersikap pada kehidupan memberikan panorama yang umum. Prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan secara lebih detil dalam norma-norma moral Kristiani, dengannya perbuatan diatur dan diarahkan secara lebih konkret.

1       Larangan: membunuh, merugikan kesehatan, mutilasi, merugikan lingkungan

Jangan membunuh

            Perintah ke lima dalam dekalog memberikan larangan yang jelas untuk membunuh. Pembunuhan yang dimaksud adalah “occisio indirecta innocentis,” pembunuhan langsung dan dikehendaki (KGK 2268). Mereka yang melakukan pembunuhan “langsung dan dikehendaki” dan para pembantunya melakukan suatu dosa berat yang “berteriak ke surga menuntut pembalasan” (cf. Kej 4:10).

            Perintah ini juga melarang orang untuk melakukan sesuatu dengan maksud menyebabkan secara tidak langsung kematian seorang manusia, yakni, membiarkan orang berada dalam bahaya maut atau menolak menolong orang yang berada dalam bahaya maut. Inilah dosa mengabaikan atau melalaikan. Contoh konkretnya adalah ketika orang mengabaikan mereka yang terkena bencana kelaparan untuk mati. Penguasaha besar yang menghimpit pedagang kecil sampai usahanya bangkrut dan mati.

            Secara tegas perintah ke lima ini melarang abortus, karena kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi secara absolut sejak saat pembuahan (KGK 2270). Gereja amat serius dalam hal ini sampai diatur oleh hukum Gereja dalam can. 1398 yang berbunyi, “Barangsiapa melakukan pengguguran kandungan dan berhasil terkena ekskomunikasi.”

            Perintah ini juga melarang orang untuk mengakhiri hidup orang lain meskipun tanpa melibatkan rasa sakit. Hal ini terkenal dengan nama euthanasia (lit. mati gembira). Menurut katekismus, “Euthanasia langsung berarti bahwa orang dengan alasan dan cara apapun mengakhiri kehidupan orang cacat, sakit atau menghadapi ajalnya. Ini tidak dapat diterima secara moral” (KGK 2277).

            Pada akhirnya, perintah ini juga melarang orang untuk mengakhiri hidupnya sendiri atau bunuh diri. Sebab setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya yang merupakan anugerah Allah. Kita ini hanya berhak mengurus kehidupan kita dan tidak memiliki hak atau kuasa penuh atas kehidupan kita sendiri. Bunuh diri menentang hakekat manusia sebagai pemelihara kehidupan, merusak ikatan solidaritas dengan sesama, dan menentang Allah sebagai pencinta dan pemberi hidup (bdk. KGK 2281).

            Akan tetapi dalam keadaan terdesak yakni bila kehidupan diri dan orang lain terancam bahaya dari luar, maka pembelaan diri dapat diizinkan. Meskipun pada akhirnya secara tidak langsung, yakni demi membela kehidupan diri sendiri dan orang lain, perbuatan yang terjadi mengakibatkan kematian si penyerang kehidupan. Larangan absolut pembunuhan adalah pembunuhan langsung dan dikehendaki atas orang yang tak bersalah. Pembelaan diri bukan saja suatu hak, tapi merupakan kewajiban ketika hidup diri sendiri atau orang lain atau kepentingan umum berada dalam keadaan amat genting.[137]

Jangan merugikan kesehatan, mutilasi, dan merugikan lingkungan

            Terhadap kesehatan dalam tradisi moral kristiani ada kewajiban untuk menjaga kesehatan dengan sarana “biasa” (ordinary means), sedangkan memakai sarana “luar biasa” (extra ordinary means), untuk menjaga kesehatan tidak diharuskan melainkan hanya diperbolehkan. Kita akan kembali ke norma ini dalam pembahasan tentang akhir hidup manusia. Menjaga kesehatan melarang sikap yang berlebihan misalnya terlalu banyak makan maupun sikap kurang misalnya melalaikan gaya hidup sehat.

            Norma moral “jangan mutilasi” merupakan konsekuensi dari prinsip moral kristiani untuk mencintai, menghormati dan membela kehidupan. Manusia pada hakekatnya adalah totalitas yang menyatu atau corpore et anima unus (bdk. DV intr, 3), maka ketika berhadapan dengan tubuh manusia kita tidak sedang berhadapan dengan kelenjar, organ atau fungsi tubuh, tapi sebagai suatu kesatuan utuh. Untuk itulah dilarang mutilasi, karena mutilasi tubuh juga melukai seluruh pribadi manusia.[138]

            Jangan merugikan lingkungan merupakan ekstensi dari kewajiban menjaga kesehatan. Kesehatan bukan tergantung akan apa yang terjadi di dalam tubuh, tapi juga karena pengaruh lingkungan sekitar. Jika semua fungsi tubuh berjalan dengan optimal, namun lingkungan yang penuh dengan polusi CO2 akan merusak fungsi tubuh yang berjalan optimal itu.

2       Prinsip Akibat Ganda (Duplex Effectus)

            Untuk tidak mengulang apa yang telah dibahas dalam teologi moral fundamental, kita akan melihat penerapan langsung norma moral dalam menghadapi situasi sulit ini. Misalnya, ada seorang ibu yang hamil 2 bulan, tapi pada saat yang bersamaan di dalam rahimnya berkembang kanker ganas yang jika dibiarkan tumbuh dapat membunuh ibu dan juga anaknya. Prinsip duplex effectus mencoba mengatasi masalah pelik ini dengan 4 kondisi berikut:

1      Perbuatan itu sendiri harus baik atau setidak-tidaknya indiferen.

Memotong rahim yang dirusak kanker ganas adalah tindakan yang indiferen.

2      Efek langsungnya harus baik, bukan dihasilkan oleh efek yang buruk.

Menyelamatkan nyawa ibu dari ancaman kanker ganas bukan merupakan efek langsung dari kematian bayi, tetapi karena dipotongnya rahim yang dirusak oleh kanker ganas.

3      Intensi perbuatan harus baik, efek yang buruk tidak secara langsung dimaksudkan.

Intensi langsung adalah harus untuk menyelamatkan nyawa ibu, bukan untuk membunuh bayi.

4      Harus ada alasan berat yang proporsional untuk melakukan suatu tindakan.

Alasan berat yang proporsional untuk melakukan tindakan besar memotong rahim adalah bahwa jika nyawa ibu terancam, juga karena nyawa bayi akan terancam.

            Meskipun masih ada banyak perdebatan mengenai efektifitas dari prinsip moral ini, secara umum prinsip ini membantu orang dalam menghadapi perkara moral yang pelik. Ingat bahwa prinsip ini adalah prinsip moral, bukan protokol tindakan medis.

3       Kerjasama Legitim

            Lihat TM Fundamental tentang “cooperatio in malum” antara kerjasama langsung dan tak langsung.

 Norma 4 dan 5 lebih mengarah pada hubungan antara dokter dan pasien.

4       Persetujuan Bebas dan Dipahami (Informed Consent)

            Seorang pasien harus mendapatkan informasi yang cukup tentang keadaan kesehatannya (atau penyakit yang dideritanya) sehingga dia benar-benar paham akan situasi dirinya sehingga ia dapat mengambil keputusan yang bebas akan tindakan medis apa yang layak dilakukan dalam menghadapi situasi kesehatannya. Keputusannya harus didasarkan pemahaman yang jelas dan bebas, dalam arti, bukan dalam tekanan ataupun tipuan (bujuk-rayu) dari pihak lain, terutama para tenaga medis. Suatu persetujuan bebas dan dipahami tergantung dari tiga hal ini: kompetensi, kebebasan dari paksaan dan informasi yang cukup.

Kompetensi

            Kompetensi adalah kemampuan pasien untuk mengambil keputusan yang jelas atas situasi tertentu. Untuk memahami hal ini kita dapat merujuk kepada siapa saja yang tidak kompeten, yakni anak-anak (minors), orang yang tak sadar, koma, bingung, emosional, sehingga ia tidak dapat memahami situasi dengan baik dan jelas. Juga dimaksudkan ketidakmampuan yang sementara, misalnya: orang yang sedang dalam kesakitan yang luar biasa atau yang sedang dalam pengaruh obat-obatan. Mereka membutuhkan perwalian agar dapat mengambil keputusan dengan tepat. Para wali itu antara lain: orang tua untuk anak-anak, suami untuk istri dan sebaliknya, ataupun keluarga maupun teman dekat, ataupun wali yang ditunjuk.[139] Orang-orang ini wajib membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mereka atas diri pasien dan atas keinginan-keinginan yang pasien dambakan. Mereka bukan memaksakan haknya, tapi menjadi wali atas hak pasien.

Kebebasan dari paksaan

            Maksudnya adalah kebebasan pasien dari paksaan dari pihak para tenaga medis maupun pihak keluarga untuk memutuskan menerima atau menolak suatu tindakan medis.[140] Pasien harus otonom dalam hal ini, inilah juga yang disebut prinsip otonomi. Hak untuk bebas ini pada zaman sekarang seringkali dibahayakan oleh kecanggihan alat-alat medis dan aspek-aspek yang impersonal dari pelayanan kesehatan. Ingat bahwa hubungan antara pasien dan para tenaga medis adalah hubungan antara dua person/pribadi/manusia. Pihak keluarga juga seringkali bertanggung jawab atas dilanjutkannya atau tidak suatu tindakan medis yang biasa (ordinary means). Juga para psikoterapis terikat pada kewajiban untuk menggunakan atau tidak menggunakan metode atau teknik yang dapat mempengaruhi kebebasan pasien untuk memutuskan dengan jernih dan tepat.

Informasi yang cukup

            Adalah hak pasien untuk menerima dan mengetahui kondisi kesehatannya, juga tentang risiko-risiko apa yang ditanggung jika suatu tindakan medis tertentu harus diambil. Suatu penjelasan yang terlalu canggih tidak dituntut. Penjelasan harus “masuk akal” bagi pasien atau walinya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pendidikan mereka.[141]

            Jika ajal telah mendekat atau bahkan pasti, dokter wajib memberitahu pasien baik secara langsung maupun lewat perantara seperti perawat, tenaga rohani, keluarga, ataupun teman. Informasi ini mesti diberikan secara gradual dan sehalus mungkin, walaupun memang harus jelas. Jika diketahui bahwa informasi ini akan memperburuk keadaan pasien, maka informasi ini bisa ditahan, sambil tetap memperhatikan kebutuhan si pasien untuk mempersiapkan saat-saat kematiannya dengan tenang.[142]

5       Konfidensialitas

            Adalah suatu prinsip kerahasiaan profesional untuk mejaga privasi dan nama baik dari orang lain (pasien). Mengungkapkan rahasia orang lain dan mengobralnya merupakan suatu pelanggaran besar akan keadilan bagi si pasien. Dokter, perawat, apoteker, pekerja laboratorium, dan pribadi yang terkait lain diikat oleh tanggung jawab strict untuk menjaga rahasia pelayanan profesional mereka.

            Nilai ini penting tapi tidak sangat absolut. Misalnya jika kita berhadapan dengan penyakit menular yang dapat merugikan masyarakat, negara-negara tertentu mewajibkan secara hukum untuk melaporkan hal ini.

            Untuk memahami bahwa kelima prinsip di atas bersangkut paut dengan profesi para tenaga medis, terlebih para dokter, maka perlu dilihat juga pengaruh sumpah Hipokrates pada sumpah dokter Indonesia, yang berbunyi:

 “Demi Allah, saya bersumpah bahwa:

 Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;

Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya:

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan kerana keilmuan saya sebagai dokter;

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;

Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial;

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

 Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.”

E      Pengambilan Keputusan yang Bijaksana

            Pada point yang terakhir ini kita kembali diingatkan pada teologi moral fundamental bahwa di dalam suatu tindakan moral kita mesti memperhitungkan tiga hal yang penting ini yakni obyek atau perbuatan itu sendiri, situasi sekitar, dan intensi atau motivasi dilakukannya suatu perbuatan tertentu. Di samping itu kita perlu memperhatikan prinsip-prinsip yang menghormati dan mencintai kehidupan serta norma-norma moral yang berlaku. Kesemuanya ini menjadikan bahan pertimbangan kita untuk dapat mengambil suatu keputusan yang bijaksana yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Tentunya dalam hal mengambil keputusan yang tepat keutamaan kebijaksanaan, yakni “pengetahuan yang tepat akan apa yang harus dilakukan”[143] mesti mewarnai dan mengarahkan setiap keputusan kita.

            Sebagai orang beriman, baik sebagai tenaga rohani, pasien, maupun tenaga medis, kita percaya dan yakin bahwa Roh Kudus, Sang Sumber Kebijaksanaan, akan menuntun kita dalam mengambil keputusan yang bijak. Suatu keputusan yang dipenuhi oleh kasih Bapa dan sikap yang penuh hormat dan cinta pada kehidupan seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus, sehingga seperti si Samaria yang baik hati ketika kita melihat penderitaan orang lain di hadapan mata kita, tergeraklah hati kita oleh belas kasihan (bdk Luk 10:33).

BAB III

PERMASALAHAN KLINIS DAN TINJAUAN BIOETIKA KRISTIANI

A      Seksualitas dan Reproduksi

1       Arti seksualitas manusia

Pembahasan tentang seksualitas manusia memerlukan suatu buku tersendiri. Saya di sini tidak bermaksud memaparkan seluruh pembahasan tentang seksualitas manusia. Secara ringkas seksualitas adalah cara berada manusia sebagai pria atau wanita. Jadi seksualitas mencakup keseluruhan cara ada manusia. Seksualitas bukan hanya terbatas pada seks, yang berarti: jenis kelamin. Zaman ini mereduksi seks hanya pada tataran jenis kelamin, dan lebih parah lagi hanya pada kenikmatan seksual (sexual pleasure).

Seks manusia ditentukan sejak awal, yakni sejak fertilisasi. Maka sejak saat itu ia menjalani hidupnya sebagai pria atau wanita. Berbicara tentang seksualitas pasti akan bersngkut paut dengan hubungan seks antara pria dan wanita. Hubungan seks memiliki tujuan. Biologi sendiri menyebut seks sebagai alat reproduksi, dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan yang terjelas dari seks adalah untuk reproduksi. Dalam konteks Kristiani dimensi hubungan seks ini disebut sebagai prokreasi. Namun ini bukanlah satu-satunya tujuan hubungan seks antar manusia, karena unsur kenikmatan juga tertera di dalamnya. Ada banyak kontroversi dalam sejarah ajaran Gereja tentang kenikmatan seks, tapi Gereja memandang kenikmatan seks sebagai positif dan baik demi kesejahteraan suami-istri (lih. KHK 1050). Paulus VI dalam ensikliknya, Humanae Vitae (1968), yang mengundang diskusi hangat, untuk pertama kalinya menempatkan secara sejajar (sama pentingnya) unsur rekreatif dan prokreatif dalam hubungan seks. Dua dimensi yang tak terpisahkan itu disebut sebagai aspek unitif dan prokreatif dari hubungan seks (HV 12). Ensiklik ini memang bertujuan untuk secara langsung menanggapi masalah KB, tetapi prinsip dasarnya dapat menjadi inspirasi untuk menanggapi banyak hal dalam bidang seksualitas.

Yohanes Paulus II dalam ensikliknya tentang kabar gembira kehidupan, Evangelium Vitae (1995) menyatakan bahwa mengandung dan melahirkan anak merupakan kelanjutan dari karya penciptaan. Ia menulis:

 Allah sendiri hadir dalam kebapaan dan keibuan manusiawi dengan cara yang berbeda dengan kehadiranNya dalam semua cara kelahiran lainnya “di dunia.” Memang Allah sendirilah sumber “citra-keserupaan” yang khas bagi manusia, seperti diterima pada saat penciptaan. Melahirkan merupakan kelanjutan dari Penciptaan (EV 43).

Kiranya pembahasan sekilas tentang seksualitas manusia ini membantu kita untuk melanjutkan studi tentang awal hidup manusia.

2       Awal kehidupan manusia

Fertilisasi

Dalam hubungan seksual pada waktu ejakulasi jutaan sperma disemprotkan pada serviks atau mulut rahim. Dari situ sperma melakukan perjalanan panjang menuju ke tuba fallopian di mana ovum yang sudah matang terletak. Di dalam tuba fallopianlah terjadi pembuahan atau fertilisasi. Dari sekitar 500 juta sperma yang disemprotkan, hanya sekitar 200 yang sampai pada ovum, dan dari 200 sperma, hanya satu yang membuahi ovum.[144] Proses lengkap fertilisasi membutuhkan waktu kurang lebih 24 jam. Fertilisasi ini membawa hasil: menyatu dan utuhnya kembali jumlah kromosom, variasi spesies manusia, menentukan jenis kelamin embrio, dan mendorong pembelahan sel pada embrio.[145]

 (23 pasang kromosom manusia)

 Menyatu dan utuhnya kembali jumlah kromosom: Sperma dan ovum disebut dengan gamet atau sel seks yang berkarakteristik unik. Sel-sel ini hanya memiliki 23 kromosom, yakni setengah dari 46 kromosom yang dimiliki oleh sel-sel lain dalam tubuh. Pada waktu fertilisasi yakni ketika kedua inti sel (nukleus) menyatu. Dengan demikian terjadilah individu yang baru yang sespesies dengan ayah-ibunya, dengan DNA yang khas manusia. Akan tetapi kode genetik individu baru ini khas dan tak sama dengan orang tuanya. Dengan demikian terjadi variasi yang sangat khas dan unik dari spesies manusia, maka tak heran kata yang dikenakan padanya adalah individu.

Menentukan jenis kelamin embrio: sperma membawa kode-kode genetik tertentu yang diwarisi dari ayah dan kromosom X atau Y yang menjadi penentu jenis kelamin bayi. Ovum juga membawa kode-kode genetik tertentu yang diwarisi dari ayah dan hanya kromosom X. Bayi dengan kromosom XX akan berjenis kelamin perempuan dan dengan kromosom XY akan berjenis kelamin laki-laki.

Mendorong pembelahan sel pada embrio: pembelahan sel pada embrio sangat krusial untuk pertumbuhannya. Fertilisasi seolah memulai suatu orkestra kehidupan yang akan terus berlangsung sampai individu wafat.

            Nicanor Austriaco, seorang ahli biologi mikro dan imam, menjelaskan bawa sebelum fertilisasi ovum bersifat statis (static egg) dan akan mati dalam 12-24 jam, juga sperma akan mati jika dalam 48 jam tidak terjadi pembuahan. Fertilisasi saling memberikan pada keduanya. Sperma mengaktivasi ovum. Inilah yang disebut oleh Austriaco sebagai “contoh paradigmatis perubahan dari sel ke organisme” (the paradigmatic example of the cell-to-organism transition). Ia menjelaskan lebih lanjut dari kacamata biologi sistem yang digelutinya:

 Dari sudut pandang system (biologi), meleburnya telur dan sperma mengasilkan dua hal. Pertama, peleburan ini mempertemukan jaringan molekul yang berasal dari ayah ke dalam jaringan molekul ibu, yakni telur. Maka, komposisi system dalam telur berubah secara radikal. Karena ia sudah memiliki struktur yang baru, ia juga adalah sistem yang baru… sekitar satu sampai tiga menit setelah sprma dan telur menyatu, terjadi ledakan kadar kalsium dalam sel yang merangsang lenyapnya siklin B… siklin B adalah inhibitor molekuler kunci dari aktivitas dalam telur. Hilangnya siklin B memicu reaksi siklis dan interaksi molekuler yang mendorong pembelahan dan diferensiasi sel. Jika proses ini dibiarkan, proses interaksi molekuler yang bekerja dan hidup dari dirinya sendiri ini akan berlanjut selama Sembilan bulan dan seterusnya, mengubah sistem yang hidup yang disebut embrio menjadi system yang hidup yang disebut bayi berbobot tiga kilo.[146]

 Data embriologis ini cukup untuk mengenali bahwa embrio adalah manusia baru. Ia adalah individu baru, pribadi manusia baru. Ia boleh disebut sebagai substantia individua rationalis naturae, menurut term falsafati abad pertengahan.

Gereja tidak tinggal di zaman primitif, ia mengikuti perkembangan zaman dan dengan bijak menanggapinya. Berhadapan dengan data embriologis ini, Gereja dengan gembira menyambutnya. Instruksi Kongregasi Ajaran Iman Donum Vitae (1987) tentang “Hormat terhadap Hidup Manusia Tahap Dini” berpendapat dengan menulis demikian:

 Kongregasi ini mengetahui diskusi aktual tentang awal hidup manusia, individualitas manusia dan identitas pribadi manusia. Ia mengingatkan ajaran yang tercantum dalam Pernyataan tentang aborsi: “Sejak saat sel telur dibuahi, mulailah hidup baru, yang bukan hidup ayah dan bukan hidup ibu, melainkan hidup manusia baru, yang berkembang secara mandiri. Ia tak akan menjadi manusia, kalau belum manusia pada saat ini. Genetika modern secara mengagumkan meneguhkan perkari ini yang selalu jelas. Daripadanya jelas bahwa sejak saat pertama ada struktur tetap makluk hidup ini: manusia!, manusia individual ini yang sudah dibekali dengan ciri khas yang tepat. Dengan pembuahan mulailah petualangan hidup manusia, yang cikal bakal organnya membutuhkan waktu untuk berkembang dan mampu bertindak.”  Ajaran ini tetap berlaku dan selain itu andaikata masih diperlukan, diteguhkan hasil penelitian terbaru biologi manusia, yang mengakui bahwa zigot yang keluar dari pembuahan sudah membentuk identitas biologis individuum manusia baru… hasil penelitian embriologi menunjukkan indikasi berharga untuk menyimpulkan dengan akalbudi bahwa kehadiran personal sudah ada pada awal tampilnya kehidupan manusia: bagaimana mungkin individuum manusia bukan pribadi manusia? (DV I, 1).

 Kemudian, setelah dengan gembira menyambut hasil-hasil penelitian embriologis, dengan tegas Gereja mengajar:

 Maka dari itu buah prokreasi manusia sejak saat pertama, jadi sejak pembentukan zigot, menuntut hormat mutlak yang merupakan hak manusia dalam kesatuan menyeluruh jiwa raga. Manusia sejak saat pembuahannya harus dihormati dan diperlakukan sebagai pribadi, maka dari itu sejak saat itu harus diakui hak-haknya sebagai pribadi dan di antaranya terutama hak tak tergugat setiap manusia yang tak bersalah atas hidup (DV I, 1).

 Ajaran ini diperteguh lagi dalam EV ketika Yohanes Paulus II mengatakan, “Gereja senantiasa telah dan tetap mengajarkan bahwa buah hasil prokreasi, sejak saat pertama keberadaannya harus dijamin: supaya dihormati tanpa syarat, seperti ditinjau dari sudut moril harus ditunjukkan terhadap manusia secara keseluruhan dan kesatuan sebagai raga dan roh” (EV 60).

Perjalanan Embrio menuju Uterus

 (Perkembangan embrio awal)

             Setelah zigot terbentuk dan membelah, ia mendapat nama ilmiah: embrio. Nama ini dikenakan pada manusia tahap awal sampai dengan usia delapan minggu, setelah itu ia mendapat nama ilmiah baru, yakni fetus. Namun apapun nama ilmiah yang diberikan pada manusia tahap awal ini, kita menyebutnya: pribadi manusia. Nama-nama ilmiah tersebut membantu kita untuk memahami dengan tepat pada tahap atau usia berapakah keberadaan manusia tahap awal itu sedang didiskusikan.

            Embrio mengalami perkembangan dalam perjalanannya menuju ke uterus (rahim) di mana ia akan membenamkan diri dan menjalani pertumbuhan selanjutnya sampai dilahirkan sebagai bayi. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 6 hari.[147] Selama perjalanan ini ia membelah diri menjadi 2, 4, 8, menjadi morula (semacam buah murberi), dan akhirnya menjadi blastosis (lih. gambar di atas). Perkembangan awali embrio ini sangat krusial dan menunjukkan bahwa embrio awal ini bukan segumpal sel tak bernyawa, tetapi seorang individu manusia yang aktif dalam dirinya sendiri mengorkestrasi pertumbuhannya untuk menjadi makin sempurna. Helen Pearson mengemukakan pentingnya tahap-tahap ini yang sebelumnya tidak pernah dipandang serius, terutama adanya aksis atau poros yang memberikan arahan lanjut dalam pertumbuhan embrio.[148] M. Zernica dan K. Piotrowska berpendapat bahwa posisi masuknya sperma ke dalam ovumlah poros pertumbuhan embrio selanjutnya.[149]  Selain menentukan poros pertumbuhan, para ilmuwan mencatat bahwa aksis ini menandai berakhirnya totipotensi, yakni kemampuan embrio untuk berkembang menjadi embrio lain yang identik, jika dibelah. Secara logis hal ini menunjukkan bahwa diferensiasi, yakni keterarahan sel-sel embrionik untuk menjadi sel-sel tertentu, sudah bermula dengan aktif. Sel-sel dalam embrio bukanlah sel-sel yang tak terorganisir, melainkan sel-sel yang memiliki arah yang jelas dalam pertumbuhannya selanjutnya.[150]

            Pada tahun 2007, Akademia Pontifikal untuk Kehidupan (PAL) menerbitkan sebuah dokumen yang membahas tentang pentingnya mencermati perkembangan embrio pra-implantasi, yakni embrio sebelum tertanam di rahim ibu. PAL mencatat bahwa pada 6 hari pertama ini sudah terjadi komunikasi awal ibu dan embrio. Komunikasi ini terjadi secara fisiologis maupun biokimiawi. Secara fisiologis, dianalisis bahwa oviductus atau tuba fallopian melakukan gerakan peristaltik (semacam yang terjadi pada usus) yang mendorong embrio untuk bergerak ke arah uterus. Selain melakukan gerakan peristaltik, oviductus juga melepaskan protein untuk pertumbuhan embrio. Gerakan ini juga “membelai” dan “merawat” embrio dan merangsang faktor pertumbuhan di dalam embrio sendiri, sampai ia tertanam dengan baik dalam uterus.[151]

            Komunikasi terjadi semakin intensif, ketika embrio “mengetuk” dinding rahim agar “diizinkan” masuk oleh ibu ke dalam rahimnya. Ketika embrio sampai pada dinding rahim (endometrium) maka ia memberikan sinyal berupa hormon HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) yang menekan sistem pertahanan tubuh ibu (immune system) sehingga

(Pertumbuhan fetus dari 8 ke 40 minggu)

 rahim menjadi ramah dan menerima kehadirannya. Pada saat itulah sang ibu baru merasa bahwa ia sedang hamil. Tubuh ibupun bereaksi dengan mengeluarkan hormon yang membuat rahim menjadi ramah sehingga implantasi menjadi mungkin. Maka dengan indah PAL merefleksikan hal ini:

Interaksi ibu-embrio yang intens dan kompleks ini sungguh amat penting untuk perkembangan wajar embrio pra-implantasi: relasi ibu-anak, yang bermula pada saat pembuahan, berlanjut sepanjang seluruh kehamilan, terima kasih pada komunikansi biokimiawi, hormonal dan imunologis. Relasi yang tak terpisahkan ini menandai perkembangan seorang individu untuk selanjutnyadan suatu sisa ‘ingatan’ akan kontak biologis dan lorong-lorong komunikasi yang terjadi selama kehamilan tetap tinggal.[152]

            Untuk selanjutnya embrio mengalami perkembangan yang menakjubkan setiap harinya dengan orkestra kehidupan yang sangat teratur dan harmonis. Orkestra ini tak pernah berhenti sepanjang hidup. Orkestra ini juga tak pernah mengganti simfoninya, karena simfoni kehidupannya sudah ditentukan dengan cara spesifik-spesies sebagai manusia dan sifatnya kokoh. Tak pernah terjadi loncatan spesies sepanjang orkestra kehidupan ini. Sekali manusia, ia tetap manusia.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kehidupan sebagai manusia bukan bermula ketika ia dilahirkan, kehidupan bermula pada saat fertilisasi dan berakhir pada kematian natural. Di sepanjang rentang kehidupannya ini manusia harus dihormati dan dijamin haknya.

3       Aborsi

Pengertian dan kesalahpahaman

Aborsi adalah “tindakan penghentian kehamilan dengan hasil matinya bayi dalam kandungan.”[153] Kesalahpahaman terhadap ajaran Gereja sering terjadi dengan memahami bahwa Gereja menolak aborsi apapun jenisnya. Ini bukan ajaran resmi Gereja. Untuk itu kita perlu mengenal seluk-beluk aborsi.

Ada dua macam aborsi: spontan dan dikehendaki. Aborsi spontan seringkali disebut dengan keguguran, untuk hal ini karena terjadi spontan, tanpa disengaja ataupun dikehendaki, biasanya terjadi karena kelemahan uterus atau anomali struktur kromosom embrio/fetus, maka tidak ada penilaian moral pada aborsi spontan. Aborsi yang dikehendaki memiliki nama teknis berbagai macam: provocatus, induced, procured. Ketiga istilah teknis ini menunjuk pada satu fakta bahwa aborsi ini dikehendaki. Oleh karena dikehendaki, aborsi ini bersifat disengaja, dan tidak lepas dari tanggung jawab moral para pelaku, maka sarat penilaian moral.

Aborsi provocatus ini masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Aborsi provocatus indirek biasanya dilakukan jika terdapat bahaya besar untuk kelangsungan hidup ibu dan janin. Biasanya bersifat terapeutis (menyembuhkan). Aborsi secara moral ini boleh dilakukan dengan menerapkan prinsip akibat ganda (duplex effectus/double effect).[154]

Aborsi yang ditentang dengan konsisten oleh Gereja adalah aborsi provocatus direk. Aborsi ini dengan sengaja direncanakan untuk langsung menyasar embrio/janin yang tidak lain adalah pribadi manusia pada tahap awal perkembangannya. Yohanes Paulus II menggolongkan aborsi direk ini pada pembunuhan manusia yang tak bersalah (EV 58). Pembunuhan ini termasuk perbuatan yang jahat pada dirinya sendiri (intrinsece malum). Dengan tegas dan agung ia menggarisbawahi ajaran konsisten Gereja: “Kami menyatakan bahwa pengguguran langsung, yakni, pengguguran yang dikehendaki sebagai tujuan atau sebagai sarana, selalu merupakan kekacauan moral yang berat, karena hal ini adalah pembunuhan dengan sengaja manusia yang tak bersalah” (EV 62). Katekismus menggarisbawahi kembali prinsip ini: “Sejak abad pertama Gereja telah menyatakan aborsi sebagai kejahatan moral. Ajaran itu belum berubah dan tidak akan berubah. Aborsi langsung, artinya aborsi yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana, merupakan pelanggaran berat melawan hukum moral” (KGK 2271).


[1] Bdk. The Cambridge Dictionary of Philosophy (2005), s.v. “I-Ching” oleh Philip J. Ivanhoe.

[2] Bdk. Geoffrey Gorham, Philosophy of Science (Oxford: Oneworld Publications, 2009), 4-5.

[3] Lih. beberapa karya penting Aristoteles yang telah disatukan dan diterjemahkan: Richard McKeon, ed., The Basic Works of Aristotle (New York: The Modern Library, 2001).

[4] Leon R. Kass, Towards A More Natural Science: Biology and Human Affairs (New York: Free Press, 1988), 228-29. Lihat juga pengaruh sumpah Hipokrates ini pada sumpah dokter Indonesia pada bab II.

[5] Bdk. Elio Sgreccia, Manuale di Etica Biomedica: Fondamenti ed Etica Biomedica,  vol I, quarta edizione (Milano: Vita e Pensiero, 2007), 14.

[6] Samir Okasha, Philosophy of Science (New York: Oxford University Press, 2002), 2.

[7] Ibid., 7.

[8] Ibid., 8.

[9] John A. Moore, From Genesis to Genetics: The Case of Evolution and Creationism (Berkeley, CA: University of California Press, 2002), 195.

[10] Ibid., 195-96.

[11] Cf. Charles Darwin, On the Origin of Species (New York: Oxford University Press, 2008), 356. Dalam teks asli tertulis, “Analogy would lead me one step further, namely, to the belief that all animals and plants have descended from one prototype… Therefore I should infer from analogy that probably all the organic beings which have ever lived on this earth have descended from some one primordial form, into which life was first breathed by the Creator.” Menarik untuk disimak bahwa meskipun Darwin membela teori evolusi, dia tidak pernah menolak Allah sebagai Sang Pencipta. Para murid Darwin, seperti Thomas Henry Huxleylah yang mengubah karya Darwin menjadi evolusionisme yang menolak peranan Sang Pencipta.

[12] Darwin, Origin of Species, 331. “Embryology rises greatly in interest, when we thus look at the embryo as a picture, more or less obscured, of the common parent-form of each great class of animals.”

[13] Keith L. Moore & T.V.N. Persaud, The Developing Human: Clinically Oriented Embryology (Philadelphia: Saunders Elsevier, 2008), 11.

[15] Lih. Leon R. Kaas, Life, Liberty and the Defense of Dignity: the Challenge for Bioethics (San Francisco: Encounter Books, 2002), 35.

[16] Ibid., 36.

[17] Sgreccia, Manuale di Etica Biomedica, 3.

[18] Ibid., 5

[19] Benedict M. Ashley, Jean Deblois, & Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Catholic Theological Analysis, 5th ed. (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 2006), 4.

[20] David Bohr, Catholic Moral Tradition: In Christ, A New Creation (Huntington, IN: Our Sunday Visitor, 1999), 279.

[21] Francesco D’Agostino & Laura Palazzani, Bioetica: Nozioni Fondamentali (Brescia: Editrice La Scuola, 2007), 9.

[22] Bdk. Sgreccia, Manuale di Etica Biomedica, 4.

[23] Lih, D’Agostino & Palazzani, Nozioni Fondamentali, 23-56.

[24] Ashley, Deblois, & O’Rourke, Health Care Ethics, 9.

[25] Ibid., 14.

[26] Bdk. Ibid., 14.

[27] Bohr, Catholic Moral Tradition, 279.

[28] Adam Schulman, “Bioethics and the Question of Human Dignity,” in Human Dignity and Bioethics: Essays Commissioned by the President’s Council on Bioethics (Washington, D.C.: Government Printing Office, 2008), 6.

[29] Christopher McCrudden, “Human Dignity and Judicial Interpretation of Human Rights,” The European Journal of International Law 19, no. 4 (2008): 657.

[30] Schulman, “Question of Human Dignity,” 7.

[31] Ibid.

[32] Ibid., 8. See also McCrudden, “Human Dignity and Rights,” 658-59.

[33] Ibid.

[34] Ibid.

[35] John F. Kavanaugh, Who Count as Persons?: Human Identity and the Ethics of Killing (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 2001), 79.

[36] Schulman, “Question of Human Dignity,” 10. Cf. The Cambridge Dictionary of Philosophy (2005), s.v. “Dignity,” by Michael J. Meyer. “In Kant’s influential account of the equal dignity of all persons, human dignity is grounded in the capacity for practical rationality… Kant holds that dignity contrasts with price and that there is nothing – not pleasure nor communal welfare nor other good consequences – for which it is morally acceptable to sacrifice human dignity. Kant’s categorical rejection of the use of persons as mere means suggests a now-common link between the possession of human dignity and human rights.”

[37] Bdk. McCrudden, “Human Dignity and Rights,” 659.

[38] Documents of United Nations, Charter for United Nations, sourced from the internet: http://www.un.org/en/documents/charter/preamble.shtml, accessed September 7, 2009.

[39] Cf., “Morality of Human Rights,” in Commonweal 13, no. 133

[39](July 14, 2006), 17.

[40] Documents of United Nations, The Universal Declaration of Human Rights, sourced from the internet: http://www.un.org/en/documents/udhr/, accessed September 7, 2009.

[41] Bdk. Indonesian Embassy for Romania, Pancasila: The State Philosophy, sourced from the internet: http://www.indonezia.ro/republic.htm, accessed September 8, 2009.

[42] The reason is practically political, that is, to prevent another genocide like that of Hitler’s.

[43] Bdk. Schulman, “Question of Human Dignity,” 13. See also the elaboration of the universality of the human dignity in J. Herranz, “The Dignity of the Human Person and Law,” in The Nature and Dignity of the Human Person as the Foundation of the Right to Life: The Challenges of the Contemporary Cultural Context (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2003), 21-37.

[44] See also Leon R. Kass, “Defending Human Dignity,” in Human Dignity and Bioethics: Essays Commissioned by the President’s Council on Bioethics (Washington, D.C.: Government Printing Office, 2008), 297-331. Although Kass is at first reluctant to employ a religious viewpoint, in the end he defends human dignity by giving a very strong religious basis that man is created in God’s image. He argues that man is god-like, and this biblical truth does not rest on biblical authority only, but also in the nature itself” (cf. p. 324).

[45] Francesco Compagnoni, “Bioetica,” in Francesco Compagnoni, ed., Etica della vita (Milano: Edizioni San Paolo, 1999), 25. “È possibile quindi introdurre nel discorso bioetico razionale, cioè comunicabile per via linguistica, la categoria di ‘dignità umana assoluta perché immagine creata di Dio’. Chi non accetta la fondazione, non per questo non può comprendere l’affermazione, ne tanto meno deve negare la dignità umana o la sua assolutezza.” See also the definition of human nature presented by Lisa Sowle Cahill, “Germline Genetics, Human Nature and Social Ethics,” in Design and Destiny: Jewish and Christian Perspectives on Human Germline Modification, Ronald Cole-Turner, ed., (Cambridge, MA: The MIT Press, 2008), 150-53.

[46] See Ebehard Schockenhoff, Etica della vita: un compendio teologico (Brescia: Editrice Queriniana, 1997), 177-82.

[47] Schockenhoff, Etica della vita, 180. “La fondazione teologica ultima della dignità umana e il suo ancoramento nell’orientamento trascendente della persona umana non contraddicono tuttavia il suo carattere vincolante universale.” Simon Glick also confirms that the Jewish faith share the same notion even underlines the sanctity of human life, see Simon Glick, “The Jewish Approach to Living and Dying,” in Edmund D. Pellegrino and Allan I. Faden, eds., Jewish and Catholic Bioethics: An Ecumenical Dialogue (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1999), 43-53. Islamic tradition also has not any difficulty to accept of the human dignity based on the God as the Creator, see Irene Oh, The Rights of God: Islam, Human Rights, and Comparative Ethics (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 2007), 25-35; and also Michele Aramini, Bioetica e religioni (Milano: Figlie di San Paolo, 2007), 90-104. Although the path taken is different with the monotheistic religions, Hinduism and Buddhism share the similar account on the “creator” and creation, therefore I believe that they are ready to engage a fruitful dialogue on this matter. Hinduism believe the concept of God creator in the existence of Brahman, see Steven J. Rosen, Essential Hinduism (Westport, CT: Praeger Publishers, 2006), 169-80. Buddhism dismisses the concept on the personal God as creator, but still inherits its mother religion, Hinduism, in thinking about the creation and considers man as the highest among other living beings, see Damien Keown, Buddhism and Bioethics (Hampsire: Palgrave, 2001), 21-57. Confucianism has a great sense of divine and is concentrated on living the virtuous life under the guidance of Heaven with its hierarchical structure; God (the Supreme Being) together with the Heaven reveal their natural and moral order to men to be followed, see Jeniffer Oldstone-Moore, Capire il confucianesimo (Milano: Giangiacomo Feltrinelli Editore, 2007), 23-7.

[48] Perry, “Morality of Human Rights,” 17.

[49] Joseph Torchia, Exploring Personhood: An Introduction to the Philosophy of Human Nature

[49](NewYork: Rowman & Littlefield Publishers, 2008), 251-54 .

[50] Lih. Francis J. Beckwith, “Explanatory Power of Substance View of Persons,” Christian Bioethics 10 (2004): 34. Ia berkata, “… organisms, including human beings, are ontologically prior to their parts, which means that the organism as a whole maintains absolute identity through time while it grows, develops, and undergoes numerous changes, largely as a result of the organism’s nature that directs and informs these changes and their limits. The organs and parts of the organism, and their role in actualizing the intrinsic, basic capacities of the whole, acquire their purpose and function because of their roles in maintaining, sustaining, and perfecting the being as a whole.

[51] J.P. Moreland, “Humanness, Personhood, and the Right to Die,” Faith and Philosophy 12, no. 1 (1995): 101.

[52] Ibid. Compare to Palazzani, “The Meanings of Person,” 94. Dia menulis, “The personal being belongs to the ontological order: the possession of a substantial person status cannot be acquired or diminished gradually, but is a radical condition (one is not more or less a person, but either a person or not a person). The absence (understood as non-actuation or privation) of properties or functions does not negate the existence of the ontological referent, which remains such by nature, since ontologically speaking it pre-exists its own qualities [emphases mine].”

[53] Ibid., 172-75.

[54] Bdk. Keith Ward, The Big Questions in Science and Religion (West Conshohocken, PA: Templeton Foundation Press, 2008), 177.

[55] Ibid. Kemudian dia mengutip Aristoteles dengan berkata, “Aristotle made the point ages ago: an organ – for example, the eye – has magnitude, has extension, takes up space; you can hold the eye (or the brain) in your hand. But the power of sight – or the activity of seeing – has neither magnitude nor extension; one cannot touch or hold or point to ‘sight.’”

[56] Benedict M. Ashley and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Theological Analysis (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1997), 22.

[57] Ibid., 23.

[58] Histologi adalah suatu cabang biologi yang mempelajari jaringan-jaringan tubuh.

[59] Clayton L. Thomas, ed., Taber’s Cyclopedic Medical Dictionary (1983), s.v. “Medicine.”

[60] Sgreccia, Manuale di Etica Biomedica, 281.

[61] Ashley-O’Rourke, Health Care Ethics, 42.

[62] Ibid., 43.

[63] Claus Westermann, Genesis 1-11: A Commentary (Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1987), 177. Banyak tradisi, redaksi, atau pengarang Kej (Elohis, Yahweis, Para Imam, dan Deuteronomis), meskipun saya paham adanya perbedaan eksegesis dalam memahami mereka, saya lebih memusatkan perhatian pada pesan Kej sebagai keseluruhan/satu kitab.

[64]  Bruce K. Waltke and Cathi J. Fredericks, Genesis: A Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001), 58.

[65] Westermann, Genesis 1-11, 236.

[66] Ibid., 239.

[67] Ibid., 201.

[68] Ibid., 202. See also W. Sibley Towner, “The Clones of God: Genesis 1:26-28 and the Image of God in the Hebrew Bible,” Interpretation 59, vol.4 (October 2005): 345.

[69] Westermann, Genesis 1-11, 202.

[70] See Waltke and Fredericks Genesis, 66. They explain that the creation story does not speak about the creation of man and woman, but male and female human, and this adjective is referred to the word adam.

[71] Westermann, Genesis 1-11, 202.

[72] Waltke and Fredericks, Genesis, 39.

[73] See ibid., 65. Also see Towner, “The Clones of God,” 345-46. Compare to Dictionary of Biblical Theology (1988), s.v. “Image,” by Xavier Léon-Dufour.

[74] See Christian Frevel and Oda Wischmeyer, Che cos’è l’uomo: prospettive dell’antico e del nuovo testamento (Bologna: Centro Editoriale Dehoniano, 2006), 66.

[75] Waltke and Fredericks, Genesis, 65. See also Andreas Schüle,“Made in the Image of God: The Concepts of Divine Images in Gen 1-3,” Zeitschrift für die Alttestamentliche Wissenschaft 117 vol. 1 (2005): 19. He underlines the importance of responsiveness of human beings to God, this leaves the ancient concept that an image is just a passive thing which does not correspond anything to its creator. Stating this, he conveys that human beings are more than a dead thing like statue, but they are the only living creatures that can respond to their creator. This makes the position of human beings higher than other creatures.

[76] Waltke and Fredericks, Genesis, 65.

[77] Schüle,“Made in the Image of God,” 19.

[78] Waltke and Fredericks, Genesis, 66.

[79] Cf. Towner, “The Clones of God,” 354.

[80] Ibid., 354.

[81] Westermann, Genesis 1-11, 157.

[82] Ibid., 158.

[83] Philip Hefner, “Imago Dei: the Possibility and Necessity of the Human Person,” in The Human Person in Science and Theology, eds. Niels Henrik Gregersen, Willem B. Dreers, and Ulf Görman (Edinburg: T&T Clark, 2000), 89.

[84] Westermann, Genesis 1-11, 158.

[85] See ibid., 155. Dia mengingatkan bahwa “menurut teks kuasa atas ciptaan bukanlah suatu penjelasan, tapi suatu konsekuensi dari diciptakannya manusia menurut gambar Allah. ”

[86] See ibid., 223.

[87] Tertulis, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7).

[88] Bruce Vawter, A Path Through Genesis (New York: Sheed & Ward, 1961), 53. “The passage tells us that man is God’s creation, nothing more.”

[89] Westermann, Genesis 1-11, 206. The process of creating the human being is not firstly that God created the body from the soil and then God created human soul and then He puts it inside the body so that that man is alive, but it simply narrates that before God finishes creating the human being, he is not alive or existing.

[90] Eberhard Schockenhoff, Natural Law and Human Dignity: Universal Ethics in an Historical World (Washington, D.C.: The Catholic University Press, 2003), 233.

[91] Westermann, Genesis 1-11, 207.

[92] Westermann, Genesis 1-11, 226.

[93] Ibid., 227.

[94] See Waltke and Fredericks, Genesis, 89. They emphasize importance of the gift of marriage (bride) in this text, but they do not see that the creation account is about the creation of humanity (human beings). It does not mean that the text does not refer to the ideals of marriage, but it conveys that marriage is not the main topic of this text. We need to keep in mind that this account is not about the creation of two individuals, but a species, human beings.

[95] Bdk. Westermann, Genesis 1-11, 226.

[96] Ibid., 231.

[97] Ibid., 232.

[98] Cf. Ibid., 50.

[99] Waltke and Fredericks, Genesis, 55.

[100] Cf. Pontifical Biblical Commission (hereafter PBC), The Bible and Morality: Biblical Roots of Christian Conduct (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2008), 19.

[101] See chapter four where it is argued that the strongest basis for human dignity is that human beings are created in the image of God.

[102] Schockenhoff, Natural Law and Human Dignity, 236-37. See also Hefner, “Imago Dei,” 89.     He says, “It (the image of God) also makes personhood necessary, because it is only as free, centered selves, that we can decide to carry out the kinds of behaviors that can serve to portray God to creation, in the paradigm of Jesus Christ. Our possibilities for personhood are set in motion as we respond to the calling that is set before us.”

[103] Oliver O’Donovan, Begotten or Made? (Oxford: Clarendon Press, 1984), 1.

[104] Cf. Ibid., 2.

[105] Cf. Ibid. For example, when we make a pottery from clay, we transcend the nature of the clay, and we can do anything that we want to that clay, thus we become the law of clay’s being. The result of this creative act is a pottery which is substantially different from us. We are the creators and the pottery is the creation.

[106] Allen Verhey, “’Playing God’ and Invoking a Perspective,” in On Moral Medicine: Theological Perspectives in Medical Ethics, 2nd ed., eds. Stephen E. Lammers and Allen Verhey (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company), 288.

[107] Claus Westermann, “The Human in the Old Testament,” Word and World 9, vol. 4 (1989): 320.

[108] The text form the Genesis writes, “But the serpent said to the woman, ‘You will not die, for God knows that when you eat of it your eyes will be opened, and you will be like God, knowing good and evil.’ So when the woman saw that the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the tree was to be desired to make one wise, she took of its fruit and ate; and she also gave some to her husband who was with her, and he ate” (Gen 3:4-6).

[109] Cf. Paolo Carlotti, “Genetica umana e bene commune,” Rasegna di teologica 3 (Iuglio-Settembre 2008): 502.

[110] Benedict M. Ashley and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Theological Analysis (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1997), 43.

[111] Cf. O’Donovan, Begotten, 65. See also Robert Barry, “’Imago Dei’ and the Sanctity of Human Life,” Angelicum: Periodicum Trimestre Pontificiae Studiorum Universitatis A Sancto Thoma Aquinate in Urbe 2, vol. 73 (1996): 217-54. From his study on the relation among the concepts of  imago Dei, the sanctity of life and the prohibition of direct killing (the innocent), he concludes that, “This form of killing is wrong because the human person was created precisely not to be deliberately brought to death by us. This ground is also an appropriate grounds for the doctrine of the sanctity of human life’s prohibition of direct killing because like the sanctity of human life, it is a theological and transcendent category.”

[112] Bdk. James M. Gustafson, “The Transcendence of God and the Value of Human Life,” in On Moral Medicine, eds. Lammers and Verhey, 163.

[113] Hans Urs von Balthasar, Love Alone is Credible (San Francisco: Ignatius Press, 2004), 112.

[114] Oliver O’Donovan, Resurrection and Moral Order: An Outline for Evangelical Ethics (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986), 226.

[115] Benedict XVI. God is Love, Deus Caritas Est, art. 18 (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2006), 40-1.

[116] For a profound exegesis on this parable, see Joseph A. Fitzmyer, The Gospel According to Luke X-XXIV, (Garden City: Doubleday & Company, Inc., 1985), 882-85.

[117] Giuseppe Segalla, Un’etica per tre communità (Brescia: Paideia Editrice, 2000), 196.

[118] Fitzmyer, Gospel According to Luke, 883. He points several details that are essential in understanding this parable. Those essential details are: (1) The privileged status of a priest and the Levite in Palestinian Jewish society – their Levitical and/or Aaronic heritage, which associated them intimately with the Temple cult and the heart of Jewish life as worship of Yahweh. (2) The defilement considered to be derived from contact with a dead (or apparently dead) body. (3) The attitude shared by Palestinian Jews concerning the Samaritans, summed up so well in the Johannine comment, “Jews, remember, use nothing in common with Samaritans” (John 4:9).

[119] See O’Donovan, Resurrection and Moral Order, 242. The lawyer also does not ask Jesus a deeper understanding of who one’s neighbor is, but to test Jesus and to justify himself (cf. v. 25. 29). Bovon understands this as a question that is far from the eternal life. Jesus, however, uses this occasion to deepen the understanding of one’s neighbor. See François Bovon, Luca 2: commentario (Brescia: Editrice Paideia, 2007), 106-7.

[120] Segalla, Un’etica per tre communità, 197.

[121] Arland J. Hultgren, The Parables of Jesus: A Commentary, (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000), 100. As a comparison also see Paul Ramsey, Basic Christian Ethics, (Louisville: Westminster/John Knox Press, 1950), 93.

[122] Ibid.

[123] O’Donovan, Begotten, 60.

[124] Cf. O’Donovan, “Who is a Person?” 126. See also Werpehowski, “Persons Argument,” 487. Also see Samuel K. Roberts, “Becoming the Neighbor: Virtue Theory and the Problem of Neighbor Identity,”  Interpretation 62, vol. 2 (April 2008): 146-55. He proposes three points in accepting others as neighbor. Those are: developing a posture toward the ‘other’; affirming a theocentric foundation for human nature; becoming attentive to the virtue of prudential wisdom.

[125] James M. Gustafson, Christ and the Moral Life (Chicago: The University of Chicago Press, 1979), 265.

[126] John P. Meier, A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus, vol. 2, (New York: Doubleday, 1994), 520. Lih. Rudolf Bultmann, “New Testament and Mythology,” in Hans Werner Bartsch, ed., Kerygma and Myth (New York: Harper & Row), 5.

[127] Bdk. Ibid.

[128] Baca Meier, A Marginal Jew, 509-21.

[129] Bdk. Meier, A Marginal Jew, 630.

[130] Bdk. Francis McNut, Healing (Notre Dame, IN: Ave Maria Press, 1999), 63.

[131] Ibid., 65.

[132] McNut, Healing, 67.

[133] Thomas Aquinas, De Malo, q. 5, art. 4. Dari Thomas Aquinas, On Evil, trans. Richard Regan (Oxford: Orxford University Press, 2003), 242-45.

[134] Bdk. Ibid., 68.

[135] Ibid., 69.

[136] Ibid.

[137] Bdk. David Bohr, Catholic Moral Tradition: In Christ, A New Creation (Huntington, IN: Our Sunday Visitor, 1999), 283.

[138] Di sini harus dibedakan antara mutilasi dengan maksud jahat dan mutilasi dengan maksud baik, yakni sebagai langkah terapeutis: seperti memotong kaki (amputasi) agar jaringan kaki yang luka karena diabetes tidak menyebar ke seluruh tubuh.

[139] Bdk. Bohr, Catholic Moral Tradition, 288.

[140] Ibid.

[141] Ibid., 289.

[142] Ibid.

[143] Dominic M. Prümmer, Handbook of Moral Theology (Fort Collins, CO: Roman Catholic Books, 1957), 105.

[144] Keith L. Moore and T.V.N. Persaud, The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, 8th ed. (Philadelphia: Saunders Elsevier, 2003), 33.

[145] Ibid.

[146]Nicanor Pier Giorgio Austriaco, “On Static Eggs and Dynamic Embryos: A Systems Perspective,” The National Catholic Bioethics Quarterly 2, no. 4 (Winter 2002): 666. See also Colombo, Embryo before Implantation, 117-27, where he explains in detail the important of Ca2+ and its molecular influence to the fertilized egg. And for the detailed explanation of the functions of enzymes in this fusion see Primakoff-Myles, “Penetration,” 2184-5.

[147]Moore-Persaud, The Developing Human, 3.

[148] Helen Pearson, “Your Destiny from Day One,” in Nature 418, no. 6893 (July 4, 2002): 14. See, for example, the previous argument in J.M.W. Slack, From Egg to Embryo: Determinative Events in Early Development (New York: Cambridge University Press, 1983).

[149] Karolina Piotrowska and Magdalena Zernicka-Goetz, “Role for Sperm in Spatial Patterning of early Mouse Embryo,” Nature 409, no. 6819 (January 25, 2001): 517-8.

[150] Pontifical Academy for Life (PAL), The Human Embryo in Its Pre-implantation Phase: Scientific Aspects and Bioethical Considerations (Vatican: LibreriaEditriceVaticana, 2006), 19.

[151] Cf. PAL, Embryo Pre-implantation, 24.

[152]PAL, Embryo Pre-implantation, 26.

[153]Benedict M. Ashley and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Theological Analysis (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1997), 253.

[154]Lih.bab II, bagian D. Norma Moral Kristiani dalam pembahasan mengenai prinsip akibat ganda.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s