Relikwi dalam Gereja katolik

Dalam dunia moderen dewasa ini banyak sekali pertanyan-pertanyan yang muncul berkaitan dengan iman kekatolikan kita. Hal ini kita temukan bukan hanya berasal dari para penganut agama lain tetapi juga muncul dari orang katolik sendiri yang ingin mengetahui dan mendalami iman kekatolikannya. Salah satu pertanyaan yang seringkali muncul adalah soal relikwi. Apa itu relikwi? benarkah penghormatan relikwi orang kudus itu tahayul? apakah relikwi itu jimat? dan masih begitu bayak pertannyaan-pertanyaan lain yang bisa kita temukan sehubungan dengan relikwi. Bagaimana kiranya sikap dan tanggapan gereja sehubungan dengan pertannyaan-pertanyaan ini. Dalam paper ini penulis ingin menampilkan sejarah munculnya relikwi  dan sampai pada perkembangannya dewasa ini.

Apa sebenarnya Relikwi itu?

Kata relikwi berasal dari kata bahasa latin reliquiae yang berarti sebuah benda atau bagian dari tubuh orang suci yang telah meninggal dan juga benda-benda lain yang bersentuhan dengan benda-benda tersebut.[1]

Ada tiga kategori relikwi pertama peninggalan yang berhubungan langsung dengan peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus atau juga peninggalan bagian tubuh dari orang suci berupa  tulang, rambut, atau anggota badan lainnya. Biasanya relikwi tingkat pertama ini berupa bagian tubuh yang tidak hancur dari seorang suci yang telah meninggal dan kemudian oleh gereja diberi penghormatan yang cukup tinggi sebagai  relikwi tingkat pertama. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II  yang telah digelar kudus oleh gereja pada tanggal 1 mei 2011 yang lalu. Gereja memiliki 2 relikwi kelas satu dari tubuh Yohanes Paulus II yaitu relikwi rambut dan darah. Contoh lain  relikwi tangan St. Don Bosco yang belum lama ini datang ke indonesia.

Kedua,  relikwi berupa barang orang kudus yang kerap dipakai, seperti baju, sarung tangan, rosario, salib, kitab suci  dan barang-barang lain yang di gunakan oleh orang kudus tersebut. Ketiga, relikwi  tingkat ke tiga ini berupa barang-barang lain yang  disentuh  dengan relikwi tingkat pertama atau tingkat kedua. Kebanyakkan relikwi tingkat ketiga ini berupa potongan-potongan kecil kain, atau juga berupa minyak.[2]

Sejarah munculnya Relikwi

Penghormatan tehadap relikwi di dalam gereja katolik sudah dimulai sejak lama, diperkirakan sudah berkembang sejak abad ke 2, dimana ditemukan sebuah surat  yang ditulis oleh umat beriman dari Smyrna pada tahun 156-157 M, dalam surat tersebut menceritrakan wafatnya St. Polikarpus, uskup mereka yang dibakar di tiang. Isi Suratnya demikian: “Kami mengambil tulang-belulangnya, yang jauh lebih berharga dari batu permata dan jauh lebih murni dari pada emas murni, lalu meletakannya di suatu tempat yang pantas, di mana Tuhan akan mengijinkan kami untuk berkumpul bersama, sesering  yang kami dapat, dalam bahagia dan sukacita, serta merayakan hari kemartirannya.” Dalam perjalanan waktu seiring dengan begitu banyaknya mujizat yang terjadi maka devosi umat terhadap relikwi juga semakin meningkat.[3]

Maka mulai pada tahun 313 M, makam-makam para kudus mulai di buka dan relikwi-relikwi tingkat pertama berupa tubuh dari para santo dan santa mulai diberi penghormatan istimewah di dalam gereja.[4] Pada masa awal ini kita juga menemukan beberapa tulisan dari para orang kudus untuk meneguhkan jemaat pada saat itu antara lain yang dikatakan oleh St. Jerome yang hidup pada tahun 340-420 M, Ia  mengatakan “Kita tidak menyembah, kita tidak memuja, oleh sebab kita takut bersembah sujud kepada makhluk ciptaan dan bukan kepada Sang Pencipta, tetapi kita menghormati relikwi para martir guna terlebih lagi memuja Dia yang empunya para martir itu.”

Kemudian Cyril dari Alexandria yang hidup pada tahun 378-444 M, Ia  mengatakan  “Kita, bukanlah menganggap bahwa para martir kudus sebagai Tuhan, atau bersembah sujud menyembah mereka, tetapi hanya menghormati.” Demikian pula dengan St. Agustinus, Ia memberikan penghormatan yang besar kepada relikwi para kudus yang telah meninggal dan bahkan St. Agustinus mengecam mereka yang memperdagangkan relikwi-relikwi, yang sering kali sangat diragukan keasliannya. Dan masih begitu banyak tulisan dari para santa dan santo yang menyatakan bahwa sudah semestinya umat beriman menghormati relikwi, sehingga umat beriman dapat lebih memuji dan menyembah Tuhan yang memberikan inspirasi dan berkat kepada para kudus dan para martir.

Dalam gereja katolik, penghormatan kepada relikwi sudah ditulis dan didiskusikan dalam konsili Trente (1545-1563).  Konsili ini memberikan penegasan bahwa agar para uskup dan para imam mengajak umatnya untuk  menghormati tubuh para orang kudus yang sekarang telah menikmati keabadian bersama kristus.  Kita mencintai dan menghormati para kudus yang sangat dekat dengan Tuhan. Kita menghormati tubuh mereka karena tubuh mereka adalah ‘bait Roh Kudus’ (1 Kor 6:19).[5]

Devosi umat terhadap relikwi pada jemaat awali sangat berkembang, seiring dengan itu banyak pula terjadi peyimpangan-penyimpangan  dimana  relikwi diperjual belikan dengan bebasnya yang sering kali masih sangat diragukan keasliannya. Maka sudah sejak semula  gereja  menyikapi hal ini dan dibahas secara mendalam dalam Konsili Trente,  sesi ke-25, yang mengeluarkan peraturan untuk menghindari penipuan – penipuan terhadap relikwi “Tubuh sakral para martir yang kudus maupun para kudus lainnya yang hidup dalam Kristus, yang adalah anggota-anggota tubuh Kristus yang hidup dan bait Roh Kudus, dan yang dimaksudkan untuk dibangkitkan serta dimuliakan oleh-Nya dalam kehidupan kekal, hendaknya juga dihormati oleh umat beriman. Dari padanya, banyak manfaat dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia.”  Dan hal  ini kembali diteguhkan dalam Kitab Hukum Kanonik  no. 1237 – § 2.  “Hendaknya tradisi kuno untuk meletakkan relikwi-relikwi para Martir atau orang-orang Kudus lain di bawah altar-tetap, dipertahankan menurut norma-norma yang diberikan dalam buku-buku liturgi.”

 

 Kitab Hukum Gereja menulis dalam kanon 1190 demikian:

§ 1. Sama sekali tidak dibenarkan menjual relikwi-relikwi suci.

§ 2. Relikwi-relikwi yang bernilai tinggi dan relikwi lain, yang sangat dihormati oleh umat, tidak bisa dengan sah dialih-milikkan dengan cara apapun atau dipindahkan untuk selamanya tanpa izin Takhta Apostolik.

§ 3. Ketentuan § 2 itu berlaku juga untuk gambar atau patung suci yang dalam suatu gereja sangat dihormati oleh umat.[6]

Dasar Alkitab

Dalam menjalankan praktek penghormatan terhadap relikwi tentu saja gereja katolik selalu berangkat dari apa yang telah diajarkan dan ditulis dalam kitab suci. Hal ini dapat kita temukan dalam kitab suci baik dalam perjanjian lama maupun dalam perjanjian baru. Dalam perjanjian lama sangat jelas ditampilkan bahwa, Musa membawa tulang-tulang Yusuf sebagai pemenuhan akan permintaan Yusuf  (Kel 13:19; Yos 24:32).  Dan juga dapat kita temukan dalam kisah Elia dan Elisa  2 raja-raja, bagaimana Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan sehingga air terbelah dan kemudian Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14).  Dalam  kitab yang sama diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21).

Sedangkan dalam Perjanjian Baru sendiri diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga mereka dapat terkena bayangan dari rasul Petrus, dan kemudian sembuh (Kis 5:15).[7]

Dari ayat-ayat ini sangatlah jelas bagi kita bahwa penghormatan kita terhadap relikwi bukanlah tanpa dasar. Tetapi sudah sejak awal mula dalam perjanjian lama maupun dalam perjanjian baru sudah ada praktek penghormatan terhadap para orang kudus yang sudah meninggal yang diyakini bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan menjadi teladan bagi kita sekalian umat beriman untuk senantiasa percaya kepada Allah dan berharap kepadanya.

Relikwi Di Altar

Praktek penyimpanan relikwi di Altar merupakan tradisi kuno yang dijalankan sudah sejak lama dalam gereja. Hal ini dapat kita ketahui dari relikwi-relikwi yang ada di basilik-basilik besar yang masih ada sampai saat ini, misalnya Basilik St. Petrus, Basilik St. Helena, Basilik St. Katarina dan di sanalah ditempatkan relikwi-relikwi para santo dan santa tersebut. Hal ini mereka lakukan karena begitu besarnya penghormatan umat terhadap Santo dan Santa tersebut, yang mereka percayai sebagai orang suci dan dipilih oleh Allah sendiri. Hal ini kemudian ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik,

KHK Kan. 1237 ayat 2: “ hendaknya tradisi kuno untuk meletakkan relikwi-relikwi para martir atau orang-orang kudus di Altar tetap dipertahankan menurut norma-norma yang diberikan dalam buku-buku liturgi”. Melalui kanon ini gereja menghimbau agar setiap gereja hendaknya memiliki relikwi para kudus. Namun perlu untuk disadari bahwa tidak semua gereja paroki di indonesia memiliki relikwi. Hal ini sangat tergantung dari kebijakan dari suatu paroki dan juga sulitnya menemukan bentuk relikwi yang asli.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat mengerti bahwa praktek penghormatan relikwi dalam gereja katolik mempunyai dasar teologis yang kuat,. Relikwi dapat membawa umat kepada Tuhan yang memberikan inspirasi dan berkat kepada para kudus. Pada akhirnya ini dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengikuti jejak para kudus yang bekerja sama dengan rahmat  Tuhan, sehingga seperti mereka, kita bisa tetap setia beriman dan berbuat kasih sampai akhir hayat kita. Akhirnya, kita tidak dapat memperlakukan relikwi sebagai sebuah jimat yang mendatangkan keuntungan bagi kita. Sebab, kalaupun terjadi mukjizat, kita harus senantiasa mengingat bahwa itu semua adalah karena kebesaran Tuhan yang bekerja melalui relikwi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 Marianto, Ernest. Kamus Liturgi sederhana. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Wijaya, Lorens. Martir-martir. Ende: Nusa    Indah, 1994.

Http//:id.wikipedia.org/wiki/Relikwi.

Http//:katolisitas.org/2009/04/17/relikwi-menghantar-kita-kepada-tuhan/.

Http//:yesaya.indocell.net/id926.htm.

                                                                                                          


[1] Ernest Mariyanto.,Kamus Liturgi sederhana.,Yogyakarta: Kanisius, 2004. hlm 187.

[2] Http//:id.wikipedia.org/wiki/Relikwi.diakses, minggu 18 September 2012, jam 10,30.

[3]Http//:katolisitas.org/2009/04/17/relikwi-menghantar-kita-kepada-tuhan/.diakses minggu 18 September 2012, jam 10,45.

[4] Http//:yesaya.indocell.net/id926.htm.senin 19 September 2012, jam 14,00.

[5] Lorens wijaya.,martir-martir., Ende: Nusa indah 1994. Hlm. 36.

[6] Http//:katolisitas.org/2009/04/17/relikwi-menghantar-kita-kepada-tuhan/.Ibid.

[7] Ibid.

Tinggalkan komentar

Filed under Liturgi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s