PATROLOGI

I      

BAPA GEREJA, PATROLOGI DAN PATRISTIK

            Sebelum mendalami bidang mata kuliah patrologi, sebaiknya perlu dibedakan tiga hal pokok: Bapa Gereja, Patrologi dan Patristik, tujuannya agar kita bisa membedakan mata kuliah ini dengan mata kuliah lain yang sangat erat hubungannya dengan Patrologi. Ketiga termin memiliki karakter masing-maisng.

 

1. Bapa Gereja

            Termin Bapa telah digunakan pada Perjanjian Lama (Tradisi Yahudi) yang mengarah pada berbagai arti. Bapa adalah orang yang memimpin keluarga. Bapa juga mengarah pada Patriach yaitu Bapa dari para Bapa atau Bapa yang dihormati (disegani, dipertuan, kepala suku?); contohnya Abraham, Isak, Yacob. Abraham dinamai sebagai bapa dari segala bangsa (Kj 17: 4). “Bapa” juga mengarah pada nenek moyang, yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. “Bapa” digunakan untuk mengungkapkan kehormatan atau “dipertuan”; contohnya, orang Israel menghormati orang-orang farisi dengan “Bapa” yang memelihara tradisi dari nenek moyang mereka. Penghormatan ini juga diberikan kepada para imam, (bandingkan dengan “Romo” di Jawa), yang memiliki kewajiban untuk mengajar agama dan liturgi. Juga kita bisa menemukan nama penghormatan ini dikalangan ahli-ahli taurat yang mempelajari dan mengajar Taurat dan Hukum. Akhirnya “Bapa” juga diarahkan kepada Tuhan, yang artinya “Tuan/yang dipertuan”, (Mal 1: 6).

            Dalam tradisi Helenistik, predikat “Bapa” diberikan kepada guru (master) yang mengajar fisafat (Pitagoraci e Cinici) yang memiliki tendensi pengertian yang sama dengan tradisi Israel.

Paulus menyebut dirinya sendiri sebagai “Bapa” yang menurut dia Pewarta Kabar Gembira, (1 Kor. 4: 14-15; Gal. 4: 19; Fil. 10). Kemudian pada jaman sesudah para rasul, kristiani menamai mereka (para rasul) dengan para “Bapa”, karena mereka memberkan kesaksian hidup, dan menjadikan mereka sebagai contoh dalam iman dan kebenaran.

Policarpus, dalam suratnya kepada orang Filippi, menyebut uskup sebagai “Bapa” dan “Papa”; kemudian dalam Sejarah Gereja yang ditulis oleh Eusebus, ditemukan juga “Bapa” yang menunjuk kepada Imam. Ciprianus menyebut para uskup Alexander dengan para “Bapa”. Sedang Ireneus lebih suka menggarisbawahi kewajiban atau fungsi “Bapa”, yaitu pemimpin atau membimbing komunitas; dia juga menyebut para rasul sebagai “Bapa” yang mempunyai kewajiban untuk mengajar melalui kesaksian hidup. Clemen, Alexander dari Jerusalem dan Yustinus mengartikan “Bapa” sebagai guru yang tentunya dipengaruhi oleh tradisi helenistik dan yahudi. Kemudian, Yohannes Krisostomus menyebut imam juga sebagai “Bapa”. Akhirnya Palladius, dalam bukunya yag berjugul Sejarah Lausica, memanggil para rahip dengan “Bapa”.

            Pada abad ke empat, penggunaan “Bapa” lebih jelas berkat berbagai tulisan Basilius dari Cesarea yang menegaskan bahwa para uskup yang telah berpartisipasi pada consili Neicea adalah para “Bapa”; mereka telah merumuskan Iman Kepercayaan; Gregorius Nazianzus juga mengatakan yang sama.

            Agustinus dalam polemiknya dengan Donatis dan Palagian, lebih suka menekankan aspek autoritas “Bapa” dari mereka yang memimpin Gereja. Vincentius dari Lerin menyatakan bahwa istilah “Bapa” lebih cocok kepada mereka yang mengajar dan berpegang teguh pada iman dan dalam persekutuan dengan Gereja secara kudus, bijaksana dan mereka berani mati untuk Kristus dan mengorbankan hidup kepadanya.

            Berbagai sumber ini memberikan pengertian “Bapa” lebih luas, bahkan beberapa orang memberikan daftar para “Bapa”, seperti Eusebius dari Cesarea dalam bukunya Sejarah Gereja/W6680F4″FJ46¬ ÊFJ@\”; kemudian Jirolamus mengikuti jejak Eusebius dengan bukunya De Viris Illustribus, yang sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Eusebius. Sekitar tahun 480 Jennadius, seorang imam dari Marsiglia, menerbitkan sebuah buku dengan judul yang sama dengan Jirolamus dan mengikuti daftar yang ditulis olehnya, hanya menambahkan beberapa “Bapa”. Pada tahun 615-618, Isidorus dari Seviglia juga menerbitkan buku De Viris Illustribus yang menyajikan kesinambungan para penulis sebelumnya dan menambahkan para teolog Spanyol. Muridnya, Ildefonsus dari Toledo, juga menulis buku yang juga berjudul De Viris Illutribus (667); praktis ia mengikuti sang guru dan menambahkan 14 “Bapa” yang lain, yang semuanya berasal dari Spayol, kecuali Gregorius Magnus.

            Di Gereja Timur, buku Jirolamus, De Viris Illustribus sangat populer berkat jasa Sofronius dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Di Timur juga ada Myriobiblon (Perpustakaan) yang ditulis oleh Fotius, memuat berbagai infomasi dari sekitar 280 karya tulis baik itu dari orang kafir maupun kristen yang berisikan riwayat hidup, tempat dan kritik teks.

Karakter

            Melalui berbagai sumber ini, bisa dikatakan bahwa sosok para “Bapa” adalah pengikut para rasul yang mencakup uskup, imam, diakon, rahip dan martir. Lalu bagaimana dengan awam dan para janda? Jasa Vincentius dari Lerin membuka suatu gambaran lebih tepat tentang “Bapa”, yang mengatakan bahwa para “Bapa” adalah dalam persekutuan dengan Gereja, ditandai dengan iman akan Kristus dan guru dalam iman melalui ajaran-ajaran dan kesaksian hidup yang selalu dipautkan dengan Kitab Suci dan Regula Fidei. Dengan rumusan ini, “Bapa” mengarah bukan hanya kepada golongan hirarkis saja atau para rahib, tetapi kepada semua pengikut Kristus. Tetapi rumusan saja belum cukup, perlu juga menunjukkan karakter dari para “Bapa” ini:

  1. Ortodox: mengikuti doktrin yang benar dalam persekutuan dengan Gereja.
  2. Kudus dalam Hidup: hidup sesuai dengan Injil dan keselarasan antara ajaran dan contoh hidup.
  3. Pengakuan Gereja: pengetahuan pribadi dan ajaran dari pihak Gereja, walaupun tidak secara resmi. Pengakuan dari Gereja ini ditunjukkan dengan pengutiban teks-teks baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung (pemikiran dikutib oleh pihak kedua).
  4. Purba/Kuno: Menurut para patrolog karakter ini dibagi sebagai berikut: Untuk Gereja Timur sampai dengan Johannes Damascenus (749); untuk Barat sampai dengan Isodorus dari Seviglia (636) yang lazim diterima secara umum. Tetapi beberapa menganggap bahwa akhir dari periode para “Bapa” ini sampi dengan tahun 1050, tahun yang menyedihkan karena perpisahan Gereja Timur dan Barat.

Jirolamus menegaskan bahwa para “Bapa” adalah juga penulis grejani, karena beberapa penulis kristiani purba bukan gerejani, misalnya penulis apokrif, tulisan eretik, yang berusaha untuk memisahkan diri dari kesatuan Gereja, atau mengajarkan ajaran yang tidak ortodox atau di luar Regula Iman (Regula Fidei). Dengan demikian istilah “Bapa Gereja” adalah yang tepat untuk penulis grejani ini.

     Beberapa para “Bapa Gereja” adalah juga Doktor, yang sebenarnya bukan karakter dari Bapa Gereja, karena istilah ini tidak memiliki karakter purba/kuno. Memang tidak bisa disangkal bahwa beberapa dari “Bapa Gereja” adalah doktor, karena Gereja mau mengagungkan dan menghormati nilai kepribadian mereka yang berjuang gigih untuk iman dan doktrin Gereja. Oleh sebab itu, Paus Bonifavius VIII adalah yang pertama menggunakan istilah ini pada thun 1295 kepada para “Bapa Gereja” Barat (Latin): Ambrosius, Agustinus, Jirolamus dan Gregorius Magnus; kemudian Paus Pius V, dalam buku ibadat hariannya pada tahun 1568, juga memberkan gelar Doktor kepada para “Bapa Gereja” Timur: Atanasius, Basilius Agung, Gregorius Nazianzus dan Johannes Crisostomus. Muali dari saat itu para “Bapa Gereja” ini dihormati sebagai Doktor Gereja dari Barat dan Timur.

Patrologi

            Kosep “Patrologia” berasal dari pater (Bapa) yang dirumuskan pertama sekali oleh seorang lutheran Johannes Gerhard (meninggal pada tahun 1637),  sebagai judul karyanya Patrologia sive de Primitivae Ecclesiae Christianae Doctorum Vita ac Lucubrationibus (Patrologia sebenarnya mencari hidup dan karya dari Doktor Gereja Kristen purba), yang diterbitkan di Jena pada tahun 1653. Sebenarnya dia hanya melanjutkan karya dari berbagai penulis sebelumnya yang telah dimulai oleh Eusebius yang telah disebutkan sebelumya. Bagi kita sekarang, yang penting adalah termin “Patrologia”.

            “Patrologia” bisa dikatakan suatu study sejarah, hidup dan tulisan dari penulis purba/kuno yang mencakup semua penulis Gereja, baik itu ortodox maupn eretik; dengan demikian perlu mengetahui leteratur kristen purba/kuno dan situasi pada saat itu, dengan semua metode belajar dan aspek lain yang perlu untuk mengetahui literatur ini lebih mendalam.

2. Patristik

            Patristik mengarah kepada jaman para “Bapa Gereja”, semua yang berkaitan dengan jaman itu: tulisan, pemikiran teologi dari kristen Purba/kuno; dengan kata lain patristik adalah pembedaan teologi, sebagaimana pada abad XVII, para teolog luteran dan katolik membedakan teologi: teologi Kitab Suci, teologi Patristik, teologi Skolastik dan teologi Spekulatif. Tetapi sekarang lebih berpusat pada study ide dan doktrin para “Bapa Gereja”; suatu teologi yang banyak berhubungan dengan dogma, sejarah dalam kesatuan dengan Gereja. Bahkan saat ini, semua disiplin pengajaran Gereja selalu cenderung untuk mengamati pendapat para “Bapa Gereja”. Dengan demikian menujukkan betapa pentingnya mempelajari Patrologi pada saat ini.

3. Pentingnya Belajar Patrologi

            Patrologi adalah pnting karena karya mereka masih sangat aktual dalam perjalanan Gereja sampai pada saat ini. Untuk menunjukkan urgensi ini, Paus Yohannes Paulus II menegaskan bahwa sari hidup para “Bapa Gereja” masih tampak sampai saat ini seperti struktur Gereja, kegembiraan dan kegelisahan perjalanan Gereja dan kehidupan sehari-hari mereka.

Saksi Tradisi

            Karakter tradisi adalah memberikan/menyampaikan; menerima; memberikan kesaksian/hidup berdasarkan apa yang mereka terima. Isi tradisi adalah: Tradisi Issrael, Tradisi Kristen (yang diperoleh dari Kristus melalui para rasul), sikap Kristiani yang ditandai dengan doa, ekaristi menjadi regola/cara hidup.

Cara memperoleh Tradisi: berasal dari Kristus sendiri dan kemudian diterima oleh para Rasul dan Kristiani. Dengan demikian Tradisi adalah menjadi “deposito” yaitu menjadi tabunga/sumber segala aspek hidup kristiani dan menjadi tempat konsultasi. Tradisi ini  didokumenkan pertama kali yang disebut dengan Didache.

Para “Bapa Gereja” memiliki tempat pertama sesudah para Rasul untuk memberikan kesaksian Tradisi Kristen, fsn berlangsung sampai pada zaman kita. Kesaksian mereka akan Tradisi berasal dari sumber atau dekat dengan sumber Tradisi itu, karena beberapa dari mereka memperolehnya langsung dari para Rasul. Mereka melaksanakan Tradisi ini dalam hidup sehari-hari, bahkan mereka berani mati untuk memperjuangkannya. Kemudian mereka mengajarkan Tradisi ini kepada pengikut mereka. Mereka menyatakan iman mereka dan hidup menurut Regual Fidei dan regula ini dijadikan menjadi kontrol untuk cara hidup. Dengan demikian untuk mengetahui Tradisi yang benar, langkah yang tepat adalah melihat kembali hidup komunitas kristiani zaman para rasul da sesudahnya dan mengambil nilai iman untuk diaktualkan dalam hidup sekarang ini.

Kanon dan Metode Mengerti Kitab Suci

            Kitab Suci bersama dengan Tradisi adalah sumber hidup kristen pertama. Pada zaman Jesus, masih belum ada Kanon Perjanjian Lama, yang berarti Kanon Perjanjian Lama blum tertutup, belum ada teks resmi tetapi hanya teks manuskrip. Kemudian pada akhir abad pertama, ada teks Babilon, hasil study sekolah Babilon; kemudian terbit tkes Septuaginta, hasil sekolah Palestina dan Alexander; dan teks Masoretik, hasil sekolah Jabna. Para “Bapa Gereja” memiliki Septuaginta dalam tangan mereka dalam bahasa Yunani.  Sebenarnya Septuaginta memiliki tiga tradisi dalam dalam bahasa Yunani, yaitu: Aquila, Simmaco dan Teodotius. Kemudian Septuaginta diterjemahkan ke dalam bahasa Latin yang dinamai Vetus Latina. Girolamo membuat study dalam Kitab Suci dan membuat terjemahan Kitab Suci dari teks asli dengan membandingkan dengan teks yang telah ada, dan terjemahan yang dibuatnya dinamainya dengan Vulgata. Dengan demikian pada pada abad VI-VII, kita menemukan teks Vulgata dan Vetus Latina dan para Bapa Gereja menggunakan kedua teks ini.

            Pada abad II, telah banyak karya tulis, kemudian lmbat laun dalam komunitas kristen besar, seperti: Alexander, Cartagine dan Roma, saling menukar informasi yang mereka kumpulkan yang disebut dengan Perjanjian Baru, kecuali Wahyu yang kemudian ditambahkan. Melalui jerih payah para “Bapa Gereja” kanon Perjanjian Baru ditetapkan dengan karakter:

  1. Apostolik: berasal dari para Rasul atau dari murid para Rasul.
  2. Surat Publik dan Liturgi Universal: tidak dikumpulkan surat yang bersifat pribadi atau rahasia, melainkan dibacakan di berbagai Gereja atau kepada jemaat.
  3. Tidak Bertentangan dengan Regula Fidei

Para “Bapa Gereja” mencari metode untuk menjelaskan Kitab Suci, secara khusus hubungan antara Perjanjian Baru degan Perjanjian Lama. Kunci penjelasan mereka berpusat pada Yesus. Metode para “Bapa Gereja” adalah Allegory dan Lettery/harafiah. Metode Allegory yang menjadi kekhasan sekolah Alexander dengan tokoh Panteno, Klemen, Origenes, Eracla, Dionisius, Teongnotus, Pierius dan Didimus Buta. Sedangkan Sekolah Antiokia mengakui diri dengan kekhasan Lettery yang dipromotori oleh: Diodorus dari Tarsus, Teodorus dari Mopsuesta, Yohannes Crisostomus, Teodoretus dari Cirus. Kemudian Barat mengkombinasikan kedua metode ini. Para “Bapa Gereja” mengetaui baik sekali Kitab Suci dan mereka hidup menurut buku ini; mereka mengutip begitu saja Kitab Suci secara mudah dan mengalir dalam tulisan-tulisan mereka. Dengan kedua metode ini, mereka memperdalam Kitab Suci, oleh sebab itu Paus Pius XII menegaskan bahwa penafsiran mereka adalah suatu intuisi yang lembut mengenai hal-hal ilahi untuk direnungkan, terlebih-lebih keunggulan mereka dalam mendalami Sabda Tuhan.

Aktualisasi

            Para “Bapa Gereja” adalah tempat pertama dalam inkulturasi iman, karena dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, mereka menghadapi filsafat yang berusaha untuk menyangkal iman mereka. Melalui metode filsafat itu sendiri, mereka memberikan pertanggungjawaban posisi iman kristen dan dengan sendirinya mereka mengerti lebih dalam iman mereka melalui pertolongan dan latar belakang filsafat. Selain itu, mereka juga menggunakan filsafat untuk mempertahankan (apologi) keautentikan atau ortodox: iman, trinitas, cristologi, ecclesiologi, antropologi, escatologi dari para filsuf dan bahkan dari para eretik. Metode apologi mereka selalu aktual dalam perjalanan Gereja untuk mempertahankan dan membela iman di setiap zaman. Misalnya Agustinus menulis apologi untuk mempertahankan doktrin kristiani dari ajaran-ajaran yang lebih sesat sekalipun, seperti Akademik. Oleh sebab itu sejak dari awal, Gereja mempelajari untuk mengekspresikan Kristus, dengan menggunakan berbagai konsep dan bahasa yang berbeda; juga mereka mencari illustrasi untuk tujuan itu dengan menggunakan kebijaksanaan filsafat, bahkan mengadopsinya bila hal itu dianggap perlu bagi kepentingan kehidupan kristiani dan juga untuk esigensi bagi yang terpelajar.

Aktivitas liturgi dan pastoral

            Aktivitas liturgi yang paling kuno ditemukan dalam buku Didachè – *Ã*PZ (doktrin), yaitu liturgi baptis, puasa dan doa, doa ekaristi. Pada abad pertama sampai abad ke dua, aktivitas liturgi dirayakan di rumah-rumah keluarga. Sedangkan perayaan ekaristi dikemukakan secara tertulis oleh Justinus dan Hipplitus. Para wanita juga berpartisipasi dalam perayaan ini. Di dalam perayaan ini, Kitab Suci dibaca versi Septuaginta, sedngkan Perjanjian Baru masih dalam proses pembentukan kanon. Pada peropde ini, abad I – II, masih belum ada katekumenat, yang sebenarnya muncul pada awal abal abad ke tiga. Kalau ada orang yang mau menjadi kristen, orang tersebut dibawa ke komunitas dengan seorang wali baptis, wanita atau laki-laki, diajar karitas terhadap para janda, yatim piatu; diajar untuk berdoa, kemudian dibabtis dengan rumus: Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Pada waktu ini, sudah ada kebiasaan utnuk membaptis bayi dari keluarga kristen.

            Aktivitas pastoral lebih banyak dilaksanakn oleh para awam dengan kesaksian hidup sehari-hari; kalau mereka dalam perjalanan, mereka menceritakan iman mereka kepada teman seperjalanan, memberikan kesaksian iman dan tidak jarang banyak orang yang mau menjadi kristen, terutama para golongan rendah/budak.

            Semua ini hanya sekedar untuk menunjukkan betapa perlunya mempelajari para Patrologi pada jaman kita sekarang ini. Sebagaimana pada jaman mereka, demikian juta dengan jaman kita, pembedaan nilai-nilai dari praktek hidup memiliki peranan penting, dalam hubungannya dengan assimilasi dan pemurnian yang dibutuhkan untuk mempertahankan identitas dan mengarah untuk menampilkan panorama untuk kehidupan saat ini; kekayaan iman kepada manusia zaman sekarang ini, harus diberikan sekarang dan di sini.

Metodologi

            Disiplin yang mendukung untuk belajar Patrologi adalah pengetahuan akan bahasa klasik seperti: yunani, Siriak, Copto, Armenia, Latin, yang adalah menjadi bahasa teks resmi para Bapa Gereja. Terjemahan teks-teks ini ke berbagai bahasa modern (Italia, Prancis, Jerman, Inggris dan Spanyol), sangat membantu kita untuk lebih mudah memahami tulisan-tulisan mereka. Dalam Patrologi kita juga perlu juga mengetahui situasi politik, sosial – budaya, Filsafat, geografi, cara hidup pada saat itu, yang sangat berbeda dari abad yang satu dengan abad berikutnya. Sadar akan hal ini, maka setiap orang bisa menggali nilai-nilai tulisan mereka yang bisa kita hubungkan dengan setiap disiplin pelajaran yang kita peroleh saat ini; itu berarti bahwa Patrologi memiliki kaintan erat dengan disiplin lain; dan yang paling utama adalah mengambil nilai-nilai yang bisa kita kembangkan dalam hidup kita sehari-hari sebagai sorang kristen.

            Teks-teks resmi para Bapa Gereja adalah: PL (Patrologia Latina, edisi Migne), PG (Patrologia Greca, edisi Migne), CCL (Corpus Christianorum Latinorum, edisi Brepols), CCG (Corpus Christianorum Grecorum, edisi Brepols), CSEL (Corpus Scriptorum Ecclesiasticorum Latinorum, edisi Wien), GCS (Die Griechischen Christlichen Schriftsteller, edisi Leipzig). Kemudian berbagai edisi critik seperti: SCh (Sources Chrétiennes, Cerf, Paris); BA (Biblioteca Ambrosiana, edisi Città Nuova, Roma), NBA (Nuova Biblioteca Agostiniana, edisi Città Nuova, Roma), BGM (Biblioteca Gregorio Magno, edisi Città Nuova, Roma). Kemudian berbagai terjemahan bahasa modern.

Rangkuman

            Untuk menutup tema ini, kita dengarkan pernyataan dua paus yang telah mengemukakan perlunya belajar para “Bapa Gereja”. Belajar para “Bapa Gereja” adalah sangat besar manfaatnya kepada semua, terlebih-lebih mereka yang memiliki keinginan akan perkembangan teologi, pastoral, spritualitas. Banyak diantara para “Bapa Gereja” yang sesungguhnya menjadi dasar keauteitikan pembaharuan. Pemikiran Patristik adalah Kristosentrik, adalah contoh bagi teologi yang hidup dan berkembang, matang untuk menghadapi masalah pelayanan pastoral, contoh paling baik dalam berkatekese, sumber untuk pengetahuan Kitab Suci dan Tradisi, dan memberikan contoh identitas kristen yang sebenarnya.

 

Kepustakaan Sumber Utama

Agustinus:

De Baptesimo, (CSEL 51).

Contra Iulianum, (CSEL 60).

Didaché, (SC 248).

Eusebius Cesarea:

Historia Ecclesiae, (SC 215, 262,

Fotius:

Myriobiblon, (PG 103-4).

Gregorius Nazianzus:

Orationes, (PG 36).

Ildefonsus Toledo:

De Viris Illustribus, (PL 96).

Ireneus Lione:

Adversus Haereses, (SC 100).

Isidorus Seviglia:

De Viris Illustribus, (PL 58).

Jirolamo:

De Viris Illustribus, (PL 23).

Johannes Krisostomus:

De Laudibus S. Pauli, (SC 300).

Justinus:

Dialogi, (PG 6).

Klemen Alsexander:

Stromateis, (SC 30).

Klemen Roma:

Clementis Epistola ad Corinthios, (SC 167).

Palladius:

Historia Lausica, (PG 34)

Policarpus:

Martyrium Polycarpi, (SC 10).

Vincentius Lerin:

Commonitorum, (CCL 64).

Siprianus:

Epistola, (CCL 3).

Dokumen

Ai professori ed alunni dell’Istituto Patristico “Augustinianum”, AAS 74 (1982).

De patrum ecclesiae studio in sacerdotali instituzione, AAS 82 (1990).

Divino Affant Spiritu, AAS 35 (1943).

Ecclesiam Suam, AAS 56 (1964).

Lett. A sua Em.za il Card. Michele Pellegrino per il centinario di J. P. Migne, AAS 67 (1982).

L’inagurazione dell’Istituto Patristico “Augustinianum”, AAS 62 (1970).

Patres Ecclesiae, AAS 72 (1980).

 

Sumber Lain-Lain

Bellini E., I Padri nella Tradizione cristiana, a cura di Luigi Saibene, Milano, Jaca Book, 1982.

Bergamelli F., Il Metodo nello Studio dei Padri, in Salesianum, 53, 1991, pp. 19-43

Bosio G., dal Covolo. E., Maritano. M., Introduzione ai Padri della Chiesa, (Secoli I e II), Torino, Sicietà Editrice Internazionale, 1995.

dal Covolo E., Triacca, A. M., Lo Studio dei Padri della Chiesa oggi, in Biblioteca di Scienze Religiose, 96, Roma, 1991.

dal Covolo E., I Padri della Chiesa maestri di formazione sacerdotale, in Salesianum, 55, 1993, pp. 133-46.

Drobner H. R., Lo Studio dei Padri della Chiesa oggi, in Salesianum, 53, 1991, pp. 1-148, 219-72.

Drobner H. R., Patrologia, Casale Monferrato, 1998.

Hamman A., Padre, Padri della Chiesa, in Dizionario Patristico e di Antichità Cristiane, II, diretto da A. di Berardino, Casale Monferrato, Marietti, 1994, pp. 2562s.

Hamman A., Patrologia, Patristica, in Dizionario Patristico e di Antichità Cristiane, II, diretto da A. di Berardino, Casale Monferrato, Marietti, 1994, pp. 2708-18.

Metzger B. M., The Canon of the New Testament, Its Origin, Development, and Significance, Oxford, Clarendon Press, 1997.

Pasquato O., Studi patristici e discipline storiche, in Salesianum, 53, 1991, pp. 45-88.

Schrenk, Quell, Patér, in Theological Dictionary of the New Testament, V, edited by Gerhard Friedrich, translator and editor Geoffrey W. Bromiely, Michigan, Grand Rapids, 1993.

Schürer E, A History of the Jewish People in the Time of Jesus Christ, I, translated by Sophia Taylor and Peter Christie, Edinburgh, T & T Clark, 1995.

Siniscalco P., Patristica, Patrologia, in Augustinianum, 20, 1980, pp. 383-400.

Triacca A.M., L’uso dei “loci” patristici nei documenti del concilio Vaticano II: un caso emblematico e problematico, in Salesianum, 53, 1991, pp. 219-272.

Quasten J., Patrology, I (The beginnings of Patristic Literature, From the Apostles Creed to Irenaeus), Westminister, Maryland, Christian Classics, 1992. Traduzione in Italiano, Casale Monferrato, Marietti, 1992.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AGAMA PAGAN

1. Agama populer

            Agama populer adalah politeisme, pluralisme. Misalnya platonisme mengatakan bahwa hanya ada satu prinsip di dunia ini. Jadi lebih mengarah pada politeisme e animisme. Praktek agama ini memiliki masalah seperti: kehidupan, kematian, kehidupan sesudah kematian, sex. Praktek ini sudah ada sejak jaman Plato/Socrates, yang memiliki ritus dengan tujuan untuk masuk ke dalam kehidupan sesudah kematian. Lama kelamaan, mitos ini menjadi filsafat dengan metode allegoria, misalnya Omerio, yang pada abad pertama sampai abad ketiga mendapat tempat pada filsafat Stoicisme.

2. Agama Pagan

            Agama pagan adalah suatu ritus kota, tidak ada hubungan personal dengan Tuhan. Setiap kota memiliki ritus tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan kota lain. Ritus ini befungsi untuk keselamatan kota dan melindungi kota dari yang jahat, dari serangan musuh. Akibatnya mereka yang tidak berpartisipasi akan ritus ini, berarti melawan kota, bahkan mendatangkan mala pada kota. Pada abad-abad pertama, orang kristen dan yahudi tidak berpartisipasi akan ritus kota, tidak memberikan persembahan, sehingga mereka dituduh penyebab mala yang ada di kota. Kemudian dari jaman Alexander, ritus kaisar masuk ke seluruh kota jajahan romawi, dengan demikian kaisar disebut dengan Divus Caesar= kaisar adalah dewa yang tampak di dunia atau penjelmaan dewa. Lagi-lagi orang kristen dan yahudi menjadi korban akan ritus ini, karena mereka tidak mau menyembah kaisar walau mereka berdoa untuk kaisar dan kota.

            Etika-agama: Suatu agama, tidak memberikan cara hidup, tetapi filsafat memberikan etika. Dengan demikian, para bapa gereja menolak agama pagan dan mengambil ajaran filsafat terlebih-lebih pemikiran Cosmogono yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah roh, suatu sostanza yang berbentuk api dan sostanza rasional. Dari api ini lahir udara, air dan tanah; jadi tidak ada penciptaan, melainkan panteisme (partisipasi pada api), karena semua natura adalah percikan dari api ini, dari logos ini, dan berkembang ke ciptaan lainnya.

            Tujuan hidup/nasib: Setiap agama memiliki takut akan hidup sesudah kematian. Dengan demikian perlu pertolongan dari astrologi, keajaiban, majik, kurban.

 YUDAISME

 1. Tujuan

            Tujuan untuk argumen ini adalah: karena akar agama kita adalah agama yahudi; orang kristen yang pertama adalah mereka yang bertobat dari agama yahudi, membawa tradisi mereka dan mentransformasikan ke dalam agama kristen; para bapa-bapa gereja menulis polemik mereka dengan agama yahudi, beberapa dari mereka mengetahui yudaisme (misalnya Hironimus dan Justinus) tetapi yudaisme modern (sesudah 70, jatuhnya Jerusalem), akan tetapi beberapa dari mereka tidak mengetahui secara langsung karena mereka tidak mengetahui bahasa ibrani, aram; artinya mereka mengetahuinya dari mereka yang bertobat menjadi kristen dan dari polemik mereka; para bapa gereja perlu mengetahui yudaiseme untuk menentukan canon kitab suci, misalnnya untuk membedakan pseudoepigraf – apocrif yang akhirnya memberikan perbedaan jumlah kitab suci antar kristen dan katolik. Peran Filone yang menafsirkan Kitab Suci secara allegory sesudah tahun 70 menjadi penemuan baru yang kemudian banyak diikuti para bapa gereja. Kemudian penemuan manuskrit di Qumran (46/7) yang memuat regula hidup monastik dari abad kedua sebelum Kristus sampai dengan kehancuran Jerusalem (70).

2. Beberapa tradisi yudaisme

1        Targum: suatu tradisi ibrani yang diterjemahkan dalam berbahasa aram, karena pada waktu Jesus, ibrani adalah bahasa tulisan, sedangkan bahasa aram adalah bahasa sehari-hari yang dibawa dari pembuangan Babilon. Dalam Sinagoga kitab suci dibaca dalam bahasa ibrani, kemudian diterjemahkan atau dikotbahkan dalam bahasa aram, atau diberi penjelasan dalam aram.

2        Rabbiniche: rabbi, yaitu guru hukum, atau ahli hukum tetapi mengajar di sekolah para kaum farisi.

3        Saduci: kelompok para imam.

4        Esseni: mereka yang memiliki hidup monastik.

5        Zelot: kaum politkus atau revolusi politik.

6        Farisi: kelompok yang terpisah dari komunitas dengan tugas untuk memelihara torah (613 praturan), mengontrol kehidupan sehari-hari yang menentukan makanan halal atau tidak halal. Pada zaman Kristus, grup ini memiliki pengaruh yang sangat besar di sinagoga, kaena mereka mengajar di sini. Disampaing memelihara perintah-perintah, mereka juga menjaga tradisi oral yang mereka katakan berasal dari Musa dan Yosua serta para nabi. Farisi ini juga yang membuat hukum: misalnya hari sabtu, tidak bisa bekerja. Contoh: ayam yang mengkais pada hari sabtu, kalau dipotong, harus dihalalkan dulu karena telah bekerja dengan mengkais pada hari tersebut.

7        Midrash: tradisi oral yang diterima kaum farisi dari Musa, Yosua dan para nabi. Sinagoga yang besar membentuk hukum yang membaginya dalam dua bagian: halakah dan hgadah.

8        Halakah: halag= berjalan, yang mencakup semua hukum, liturgi, moral, praktek kehidupan sehari-hari.

9        Hagadah: sejarah teologi, menceriterakan secara teologi. Kaum farisi mengajarkan ini semua dengan hafalan. Sampai pada abad kedua, belum ada kodexs hukum, dan semua ajaran ini dilakukan secara oral, lagipula pada tahun 70, semua kodex dimusnahkan.

10    Misnah: tradisi oral yang pertama dibukukan pada tahun 210 yang berusaha mengumpulkan semua tradisi oral.

11    Midrashim: pada abad III, misnah dihubungkan dengan kitab suci dan dijadikan buku.

12    Tannaim: mereka yang mempertahankan tradisi midrash.

13    Moraim (200-400): rabbi yang mengomentari misnah.

14    Talmud Palestina (400): memberikan dua komentar misnah dan teks misnah di tengah.

15    Talmud Babilonia (500): juga memberikan dua komentar dan teks misnah di tengah.

16    Midrash besar: kumpulan talmud palestina dan talmud babilonia.

17    Homili: Sinagoga memiliki hubungan erat dengan kekristenan, karena didirikan sesudah tahun 70, yang didirikan atas misnah. Akan tetapi sesudah tahun ini fungsi sinagoga menjadi umum: tempat berdoa, sekolah pada anak-anak (sekolah minggu/katekese), pertemuan sosial (SSV). Sedangkan ritus bacaan: bacaan dari Pentateukh dilanjutkan dengan bacaan dari nabi-nabi atau kebijaksanaan dan kemudian sampai pada torah. Homili yang dibuat adalah semua mengarah kepada puncak yaitu torah. Kadang-kadang homili dimulai dengan pertanyaan, kemudian jawaban diberikan dalam bentuk homili. Kristus juga kadang-kadang melaksanakan bentuk homili ini. Liturgi kita sebaliknya, injil menjadi titik memulai kotbah dan semua bacaan lain dihubungkan dengannya, kalau itu mungkin.

Para bapa gereja menggunakan sumber misnah dan midrash atau sumber kedua, karena mereka tidak mengetahui bahasa aram dan ibrani.

3. Sejarah yudaisme (70-abad III)

            Sesudah kehancuran Jerusalem (70), orang-orang yahudi melarikan diri ke berbagai daerah seperti: Mesir, Mesopotamia, Arab, Babilonia. Sementara itu di Mesir waktu itu ada sinagoga tetapi di tempat ini tidak bisa mempersembahkan korban. Agripa II (Kisah Para Rasul) meninggal dan digantikan Titus dan membangun kekaisaran secara besar-besaran dan juga membangun kembali Yerusalem tetapi tidak menggunakan nama Yuda, karena nama ini dianggap kotor/najis. Titus juga membangun kekaisaran romawi. Dalam teologi yudaisme, sangat kuat akan apokaliktus, yaitu akhir dari dunia. Orang yahudi yang melarikan diri dari Yerusalem, banyak yang bertobat menjadi kristen, kebanyakan dari mereka adalah berasal dari kelompok farisi. Sementara itu kaum saduci juaga melarikan diri dan tidak ketinggalan juga kamum esseni yang harus lari dari biara mereka. Kaum farisi menafsirkan kehancuran Yerusalem dengan mengatakan bahwa kejadian ini adalah hukuman Tuhan karena orang yahudi tidak melaksanakan hukumnya dan adanya pertentangan dalam kalangan yahudi. Dengan demikian mereka menciptakan perdamaian di antara mereka; mereka mendirikan komunitas yang baru degan pelaksanaan hukum secara ketat. Seorang rabbi meminta ijin kepada Titus untuk membangun pusat studi di Yabne yang kemudian menjadi pusat yahudi untuk membentuk para rabbi. Yabne menjadi pusat untuk mengontrol semua doktrin (bandingkan dengan Vatikan).

            Sinagoga tidak berfungsi lagi seperti sinagoga yang Yerusalem (sebelum tahun 70), karena di dalamnya tidak bisa dipersembahkan korban, tetapi berfungsi sebagai: pusat sosial, pusat doa, spiritualitas, politik. Mereka berpendapat bahwa dimana dua atau tiga orang belajar hukum, di situ hadir Tuhan. Dengan demikian Yabne menjadi pusat ajaran Yahudi.

            Kemudian dalam perjalanannya, muncul juga grup fondamentalisme (yang disebut haberim). Kelompok ini menutup hubungan dengan elenisme, menutup kanon kitab suci pada abad II yang menyingkirkan penafsiran Filone dan buku apokrif. Pada saat ini, di Palestina terutama di Galilea dan Cesarea, banyak orang yunani, tetapi orang yahudi menutup pintu kepada mereka dan mengkleim bahwa Yabne adalah Jerusalem baru.

            Pajak: orang yahudi harus membayar pajak kepada kaisar dan mreka yang ada di diasprora juga harus membayarnya.

            Tanah, adalah sangat penting bagi orang yahudi, karena ini adalah perjanjian Tuhan bagi mereka, (bandingkan dengan pertentangan tanah antara palestina – Yahudi pada saat ini).

            Pada pemerintahan Traianus (112-113) dan Adrianus (117-135), bangsa yahudi kembali dalam situasi sulit, karena banyak mereka disingkirkan dari Yabne. Mereka yang ada di diaspora, berusaha melaksanakan revolusi, tetapi mereka gagal. Dengan demikian banyak dari mereka melarikan ke berbagai tempat di sekitar timur tengah.

            Rabbin Akiba: adalah seorang yang menikah dengan seorang gadis yang pintar, kemudian mengajarnya untuk menulis dan membaca, kemudian menjadi rabbi yang akhrinya mati sebagai martir yang mempertahankan palestina dari kekaisaran romawi. Seorang lain yang bernama Bar Koh Bar adalah politicus yang berasal dari Yabne yang berusaha mempersatukan politik-agama. Ia mengumpulkan 500.000 pengikut yang menganggapnya sebagai messiah. Orang kristen yang tidak mempercayainya sebagai messiah tidak ada yang menjadi pengikutnya dengan akibat bahwa kristen dituduh penghianat. Kelompok ini membuat perang selama tiga setengah tahun melawan kekaisaran womawi. Julius yang diutus kaisar untuk melawan kelompok ini, mencegah perang terbuka, mereka mengelilingi kota tanpa memerangi dan membiarkan mereka mati kelaparan.

            Sampai pada zaman kekaisaran Adrianus, orang yahudi belum memiliki hak, mereka tidak mau mempersembahkan korban kepada kaisar, hanya berdoa kepada kaisar seperti yang dilakukan oleh orang kristen. Sesudah tahun 135, pursat yahudi bukan Yabne lagi, melainkan di Galilea, Uska. Rabbin Simon, putra Gamaliere II dan rabbin Mair, putra Akibah adalah rekotor pusat sekolah. Kaum farisi yang memisahkan diri dari penduduk, tetap mempertahankan tugas mereka untuk mengajarkan hukum dan halal tidak halal. Sampai pada saat ini, orang yahudi hanya bisa ke Yerusalem satu kali satu tahun untuk menangisi tembok pertangisan.

            Penderitaan orang yahdi praktis sama dengan penderitaan orang kristen dan berlangsung sampai pada zaman Konstantinus, saat adanya damai antara kiriten dan kekaisaran. Alasannya: bagi orang romawi, kisten adalah satu sekte dari yudaisme, dengan demikian, kekaisaran romawi memperlakukan kristen sama dengan orang yahudi yaitu dalam penganiayaan, (bandingkan dengan kristen-katolik di mata kaum muslim). Tetapi orang kristen memberikan simpatik kepada orang yahudi dan pada waktu Yabne adalah pusat orang yahudi, banyak orang kristen yang bertobat ke yudaisme dan sebaliknya.

 YUDAISME-KRISTIANISME

            Yudaisme-kristianisme adalah suatu agama/sekte yang berasal dari orang yahudi yang bertobat menjadi kristen, tetapi mereka tetap memelihara hukum Musa. Yesus menyebutkan kelompok ini di dalam:

1        Matteus: pada kotbah di bukit: “Saya tidak datang untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menyempurnakannya.”

2        Juga ditemukan dalam buku Kisah Para Rasul, pada saat konsili di Jerusalem.

Komunitas Yerusalem memulai perlawanan kepada kekaisaran romawi sejak pada tahun 68, dan pada waktu Yerusalem dihancurkan, komunitas ini melarikan diri ke lembah sungai Yordan, tepatnya di Pella. Yacob adalah uskup pertama Yerusalem dan menjadi pemimpin para rasul pada tahun 62. Kelompok (yahudi kristiani) ini dituduh tidak tunduk kepada kaisar karena mereka adalah orang yahudi dan orang yahudi sendiri menuduh mereka penghianat.

Organisasi ini tidak begitu sistimatis, sehingga kelangsungannya tidak bertahan lama. Walaupun demikian, melalui uskupnya Yacob menahbiskan 72 murid (di`daska,loi) dan untuk menjadi uskup dibutuhkan persiapan selama 6 tahun. Mereka memberikan pertentangan kepada surat-surat apostolik. Kelompok ini adalah anti paulus, karena dia mengemukakan pembenarannya kepada umat di Galatia. Pada konsili Yerusalem pada tahun 41, masalah yang dibicarakan adalah bukan hukum, melainkan kebenaran akan ke-meisasan Kristus. Sedangkan Kisah Prara Rasul 7, tidak sepenuhnya dari Stefanus, melainkan dari Yacob. Paulus menamai Yacob dengan Simon, karena kepala eresia waktu itu adalah Simon Magis. Menurut kelompok ini, Paulus berusaha membunuh Yacob dan Paulus tidak benar melihat Kristus melainkan hanya penglihatan setan. Kelompok ini menolak buku Kisah Para Rasul dan memelihara tradisi.

Ajaran-ajaran mereka:

1        Kristologi: Yesus adalah nabi, yang disejajarkan dengan Musa yang harus didengarkan. Yesus juga sebagai Messiah, yang tidak hanya mengajarkan kebangkitan melainkan dia sendiri adalah kebangkitan, karena dia bangkit, kemudian akan kembali sebagai hakim; mengajarkan perlunya baptisan, mengutamakan missi kepada orang-orang pagan, memelihara hukum Musa. Sadic adalah nama kedua bagi Yesus yang artinya orang benar atau kebenaran, tetapi tidak percaya akan pre-esistensi dan kelahiran dari perawan Maria. Mereka menghindarkan kurban seperti di Yerusalem dan menggantinya dengan ekaristi yang dilambngkan dengan darah Kristus. Mereka mengadakan ekaristi dengan roti dan air yang didasarkan pada surat Yohannes. Kelompok ini adalah milleniaris, Yesus seperti malekat. Krustus adalah superior dari Musa, tetapi hukumnya masih tetap berlaku karena Siani dan Golgota adalah satu; Yesus adalah Adam yang baru, tetapi Tuhan hadir dalam diri Yesus bukan Yesus dalam diri Tuhan; Yesus adalah penjelasan dari hukum Musa.

2        Pesan Yahudi-kritiani: Jesus adalah bertentangan dengan kurban di mesbah Yerusalem, akibatnya dia duhukum mati oleh orang yahudi. Kurban Yesus Kristus diganti dengan ekaristi dan juga dengan baptisan, dan penghancuran Yerusalem adalah sebagai hukuman Tuhan (sama dengan pendapat orang farisi).

3        Profetik: tidak semua nabi diakui sebagai nabi. Mereka membedakan nabi palsu-benar, positv-negaiv, laki-laki (Adam, Musa, Isak, Jacob, Abel, Yesus, Petrus) – perempuan (Eva, Cain, Ismael, Esau, Aron, Johannes Pembaptis, Paulus). Nabi perempuan tidak semua palsu melainkan campuran. Pada abad I-II, telah dipertanyakan kedudukan kanon Perjanjian Lama, dengan demikian ada banyak pendapat yang berasal dari sekte-sekte yang berkembang pada saat itu. Marcionis: praktis mengesampingkan semua Perjanjian Lama dan menerima hanya beberapa Perjanjian Baru seperti Lukas dan 10 surat apostolik Paulus. Gnostisisme: Hanya menerima Perjanjian Baru. Valentinaisme: Menerima sebagian Perjanjian Lama yang berasal dari Tuhan.

4        Hukum: adalah untuk berbuat baik, melarang yang bersifat darah (makanya ekaristi dilakukan dengan air) tidak mempunyai hak milik, tidak memiliki dosa besar, baptisan adalah asal mula gereja, kebebasan pada nafsu.

5        Kekhasan lain: mereka menyebut diri sebagai perawan, bukan secara daging melainkan secara spiritual; memelihara tradisi hari sabtu dan pesta orang-orang yahudi; melaksanakan puasa; menikah dengan umur muda; monogami; memiliki aktivitas missi; tidak memiliki dosa asal; anti marcionisme dan gnosticisme.

Kelompok ini sudah tiak ada lagi sesudah abad ketiga.

 

GNOSTICISME

1. Sumber

            Dari tahun 1400-1950, kita mengetahui gnosticisme hanya melalui baba-bapa gereja yang berusaha untuk melawannya. Tetapi sesudahnya, kita juga memiliki sumber lain, karena tahun1947 ditemukan Nagahamadi di Mesir yang berisikan teks-teks asli gnosticisme. Itu berarti bahwa sekarang kita mempelajari gnosticisme langsung pada sumbernya, bukan hanya dari orang kedua, walaupun itu juga perlu.

2. Perlunya mempelajari gnosticisme

            Para bapa gereja pada abad I-III, berusaha untuk melawan ajaran gnosticisme, untuk itu kita perlu mengetahuinya ajaran dan akibatnya untuk mereka.

3. Problem mempelajari Gnosticisme

            Para ahli belum sependapat akan karakter gnosticisme. Bultman misalnya mengatakan bahwa gnosticisme adalah pra-cristiani yang dijiwai Perjanjian Baru, terlebih-lebih dalam Yohannes dan surat-surat Paulus. Hugo Bianchi (1951) menerbitkan Nagahamadi dan berkesimpulan bahwa gnosticisme persisnya pada abad I-II, dan menyangkal pendapat Bultman akan pra-kristiani; lebih lanjut dia mengatakan bahwa gnosticisme bukan kristiani (pra-kristiani); gnosticisme bukan suatu kesatuan, karena banyak sekte dan penebus dan ditebus bukan ajaran gnosticisme; tentu ada pengaruh Perjanjian Baru dan pada saat ini gnosticisme dikenal sebagai eresia, suatu agama yang pararel dengan kristianisme. Pezzi Grossi, Barbara Alan dan Manlio Simonetti berpendapat bahwa gnosticisme adalah eresia kristianisme. Maria Grazia Mara menambahkan bahwa Gnosticisme adalah percampuran kristianisme, yudaisme dan elenisme.

4. Asal usul

            Dalam buku gnosticisme, kita bisa menemukan kumpulan ajaran yudaisme, elenisme, agama-agama timur, kristianisme. Mereka mengambil sana sini ajaran agama-agama ini yang menarik bagi mereka. Mereka juga mengumpulkan ajaran-ajaran filsafat platonisme dan majik. Prosesnya adalah sebagai berikut: di diaspora, beberapa orang-orang yahudi disingkirkan dari komunitas dengan berbagai alasan, kemudian mereka menerima ajaran elenisme, ciristiani dan unsur-unsur lain yang telah desebutkan sebelumnya, kemudian mereka memfilternya dan merumuskannya menjadi suatu ajaran yang mirip dengan ajaran kristianisme, yudaisme atau agama lain. Ireneus mempelajari persamaan gnosticisme – kristianisme dan mengatakan kepada paus Victorius bahwa orang-orang ini (kelompok gnosticisme) bukan kelompok kita, mereka mendekati kristiani dan sangat berbahaya. Pada waktu itu di Roma telah banyak pengikut gnosticisme. Ireneus kemudian mengatakan bahwa gnosticisme adalah kelompok yang mrip dengan kristianesimo dan berusaha mempengaruhi kristiani. Ireneus akhirnya menyatakan bahwa Gnosticisme adalah eresia; yang kemudian menjadi sekte lain: manicheisme.

5. Eskatologi

            Ajaran eskatologi gnosticisme kita peroleh dari Ireneus. Eskatologi bagi gnosticisme adalah emanazisme artinya: berfungsinya kembali kepribadiannya sesudah kematian melalui cahaya yang berfungsi sebagai penebus, penerang untuk membangunkan jiwa dari tidurnya untuk mengenal dirinya kembali seperti kehidupannya di dunia. Kebangkitan tidak mungkin karena kepercayaan mereka akan emanasi/penerangan kepada jiwa, bersifat indifidual, melalui ritus majik. Dengan demikian menciptakan kebingunan kepada kristiani.

6. Teologi

            Clemen mengemukakan teologi gnosticisme degan mengatakan bahwa ide akan Tuhan tidak bisa diketahui, materi adalah jahat dan sumber akan kehancuran. Cara membebaskan diri dari yang jahat adalah melalui pengetahuan; tuhan adalah emanasi/penerangan.

7. Kristologi

            Krustus bisa sebagai Yesus, bisa semagai terang atau apa saja yang bisa mebangunkan jiwa. Kristus berobah menjadi Yesus pada saat pembaptisannya, pembebas pada saat kebangkitannya, Kristus terpisah pada saat kematiannya. Seblum baptisannya, dia buan Yesus, teapi sesuatu yang turun dari langit. Sesudah baptisan dalam dirinya ada dua pribadi. Mereka menafsirkan Kitab Suci secara allegory, menolak beberapa buku Perjanjian Lama, Injil bukan sabda Tuhan melainkan pewahyuan/rivelasi, kaena murid-mudrid Yesus menulis kitab ini secara rahasia.

8. Gereja

            Mereka tidak memiliki oraganisasi karena bersifat dindividual dan pneumatik. Beberapa sekte memiliki sakramen, simbol, baptisan, perminyakan, krisma, perkawinan.

9. Beberaka skte besar gnosticisme:

1        Valentinianus: Tuhan adalah super, tidak bisa diketahui (platonisme). Untuk sampai kepada penciptaan, Tuhan memiliki tingkatan yang lebih rendah. Tingkat pertama ada 4 (Nous/intelligen, Alitheia/kebenaran, Aogos/sabda, zoé). Tingkat kedua ada 10 (Bythyos, Ageratos, Antofilos, Acinito, Monogenes, Mivis, Henosis, Hedone, Sincresis). Tingkat ketiga ada 12 (Paracleto, Patricos, Metricos, Ainos, Ecclesiasticos, Theletos, Pistis, Ephys, Agape, Synesis, Macarieto, Sofia). Tingkat yang lebih rendah adalah Achamod dan kemudian Demiurgo yang adalah pencipta dunia. Dunia dibagi menjadi tiga: tingkat yang lebih tinggi adalah langit yang adalah tempat para malaikat yang bersifat spiritual; di tengah-tengah adalah dunia hidup yang memiliki kemungkinan untuk memilih dunia atas dan bawah; dan tingkat yang lebih rendah adalah material yang tidak memiliki lagi kemungkinan untuk emanasi.

2        Simoniana: berasal dari Simon Magus yang ditemukan dalam Kisah Para Rasul, orang Samaria. Ajarannya adalah sinkretisme yudaisme, kemudian pada abad ke dua, sesudah berkontak dengan kristiani, dia disebut sebagai penebus. Dia didampingi oleh seorang perelmpuan yang bernama Elena.

3        Minander: pada akhir aabad I yang mengajar di Antiokia dengan ajaran: Tuhan diak dapat dimengerti, menciptakan para malaekat yang menciptaka dunia. Kita mengenal orang ini dalam surat kepada Kolose dan Ibrani. Menurut sekte ini, Kristus kadang-kadang menampilkan diri sebagai malaekat, Kristus adalah pencipta malaekat. Yang jahat berasal dari malaekat.

4        Saturninus: pada tahun 125. Pencipta dunia adalah salah satu dari malaekat. Kristus terpisah dari Yesus, Kristus memusnahkan Tuhan Perjanjian Lama.

5        Basilide: menerima tradisi rahasia dari Mattias, rausl, yang telah menerima rahasia yang sama dari Yesus. Dotrinnya adalah pessimisme, penebusan Yesus adalah membebaskan diri dari reincarnasi yang praktis diambil dari budhisme. Moral adalah kasih kepada semua hal, karena semuanya memiliki hubungan dengan manusia, tidak menginginkan apapun, tidak membenci apapun, Tuhan hadi ralam: nous, logos, pemikiran dan kebijaksanaan. Dari Tuhan sampai dengan tingkat paling bawah (para malaekat) ada 360 tingkat dan kepala dari malaekat menciptakan dunia. Asal yang jahat adalah malaekat, dan Tuhan mengutus Kristus untuk membebaskan manusia dari kungkungan jahat malaekat.

6        Carpocrates: Manusia harus melakukan setiap jenis yang jahat, dengan demikian dibebaskan. Yesus adalah hanya manusia, anak dari Yosep, tetapi memiliki kekuatan yang bisa menyelamatkan.

7        Marcione: pada tahun 140 mendirikan sekte yang membedakan tuhan Perjanjian Lama (pencipta)– Perjajian Baru (baik). Yang jahat berasal dari tuhan PL. Marcione menciptakan kanon, tetapi hanya menerima Lukas dan 10 surat Paulus. Sekte yang didirikannya menjadi model bagi semua dan juga menahbiskan imam perempuan. Doktrin: tuhan yang benar tidak bisa dikeal, hanya melalui Kristus. Tuhan benar ini membebaskan manusia bukan dari dosa dan jahat melainkan kemalangan dari PL/dari yang lampau. Yesus adalah storis dalam arti mati dan darahnya menebus bukan dosa melainkan dari kekuasaan PL. Marcione mengenal PL tetapi menyingkirkannya, karena kitab ini hanya pedagogi untuk Kristus. Marcione mengambil aliran Paulus, karena Paulus mengatakan bahwa hukum tidak ada lagi dalam arti sudah dibebaskan dari kungkungan hukum PL. Aliran ini ditekankan gereja lateran yang memegang surat Paulus kepada romawi. Mengambil lukas, untuk menekankan perkawinan yang ditekankan Injil ini (bab 19); Marcione percaya akan perkawinan. Menyangkal tradisi.

8        Apelles: murit Marcione, tetapi menerima PL, tetapi penuh dengan kesalahan; jiwa adalah percikan ilahi (stoicisme).

 

SEJARAH EKSEGESE

 

1. Asal usul

Eksegese telah dimulai dari PL; para penulis Kitab Suci PL itu sendri melakukan eksegese dengan re-eksegese/menafsir kembali, dengan tujuan untuk mengaplikasikan kebutuhan para pendengar. Misalnya pada jaman para nabi: ada bacaan misalnya dari pentateukh, kemudian ada penafisran yang diberikan oleh para nabi untuk melihat ke masa yang akan datang. Kemudian sesudah jaman para nabi, penafisran kembali, artinya untuk melihat zaman para nabi dan mengaplikasikan dengan pendengar pada waktu itu dan selalu melihat ke masa yang akan datang (Messiah). Kadang-kadang penafsir ulang menambahkan sesuatu dalam teks asli, dengan demikian kita harus jeli melihat redaksi, teks tambahan; karena waktu penafsir berbicara, terlebih-lebih para nabi, para murid mereka menulis tafsirannya. Demikian juga pada zaman Yesus, hal yang sama selalu tetap terlaksana.

2. Arti dibalik tkes/sesungguhnya (sens plenior)

            Membaca teks dan menafsirkannya dalam likup para pendengar; kemudian penafsir memberikan kemungkinan arti kemungkinan lain yang mungkin dimaksudkan oleh penulis teks. Atau bisa saja terjadi bahwa arti yang diberikan panafsir tidak dimaksudkan oleh penulis teks. Untuk memberikan pengertian yang sebenarnya, perlu menggunakan metode storis, melihat teks secara historis uantuk melihat arti yang dimaksud oleh penulis.

 

3. Berbagai sekolah eksegese

1        Zaman Yesus: pada zaman Yesus, orang yahudi memiliki berbagai sekolah eksegese. Misalnya midrash rabbin yang menafsirkan Kitab Suci dan mengaplikannya pada situasi pendengar pada waktu itu. Sekolah settaria: mengutip teks Kitab Suci dan mengaplikannya pada pendengar. Bagi mereka Kitab Suci memiliki arti yang tersembunyi, jadi perlu dibukan oleh penafsir untuk para pendengar.

2        Sekolah Alexandria: diprakarsai oleh Filo yang memberikan penafsiran Kitab Suci dengan berdasarka Filsafat. Dikatakan bahwa agama yahudi bagaikan sekolah filsafat dan menghubungkna Kitab Suci Perjanjian Lama dengan teks stoicisme dan platonisme.

4. Metode yang digunakan kristen

Kristen pada abad pertama menafsirkan Kitab Suci sangat berbeda dengan yahudi, karena PL dibaca dengan titik keberangkatan Kristus; yaitu dalam terah Messiah, Kristus bangkit, dalam arti semua penafsiran selalu dihubungkan dengan keselamatan yang dibawa Kristus. Sedangkan orang yahudi menafsirkan PL da membicarakan Messiah, Kristus. Orang krsten menggunakan dua metode eksegese: allegory dan letteral, yang kemudian menjadi kekhasan para bapa gereja untuk menafsirkan Kitab Suci. Pada abad kedua, ada dua sekolah eksegese, dan masihng-masing sekolah mengklaim diri dengan kekhasannya masing-masing. Tetapi sebelum didirikannya sekolah ini, Ireneus dan Justtinus martir telah melaksanakan metode allegory dan literal untuk menafsirkan Kitab Suci.

5. Sekolah Alexandria (Allegory)

            Clement adalah pendiri sekolah sekolah Alexandria, mengenal baik Filo, puisi yunani, filsafa yunani. Dia adalah orang pertama kristen yang menampilkan kultur yunani kada kristiani, yang melihat kekayaan filsafat yunani untuk kultur kristiani. Sebelum Clement, Filo telah memperkenalkan kultur yunani pada kultur yahudi.

            Sesudah Clement, Origenes menampilkan metode Allegory yang lebih cocok untuk menafsirka Kitab Suci. Clement memiliki kekhasan untuk menafsirkan Kitab Suci dengan tipologi dan symbol, yang menurut Origenes adalah bagian dari Allegory. Allegory berasal dari bahasa yunani (a,lla` a,goru,ein: melihat yang lain/melihat dibalik teks). Origenes juga mengenal Filo, sehingga kedua bapa ini memiliki latarbelakang Filo. Origenes mengatakan bahwa PL adalah sabda tuhan (untuk melawan gnosticisme) yang diterangi oleh Roh Kudus, dan Kristus sendiri; juga menerangi hukum Musa, dan kalau ditafsirkan secara letteral (harafiah) tidak akan membuka arti dibalik dari teks itu. Paulus telah menjelaskan secara allegory hukum Musa, yaitu orang ibrani tidak sanggup mengerti kemuliaan yang tersembunyi pada hukum Musa, (I Kor. 3: 14). Artinya bahwa PL masih tersembunyi dibalik kerudung, keilahian PL masih tersembunyi dengan demikian perlu disingkapkan, terlebih-lebih arti spiritual dan moral. Bagi Origenes, membaca Kitab Suci bukan arti lettral tetapi allegory. Ia yakin bahwa cengan cara ini, melihat arti yang tidak bisa ditampilkan metode letteral. Tetapi dengan cara allegory bisa membuka banyak hal seperti:

1        Moral: mencari arti moral dari Kitab Suci yang dibaca.

2        Spiritual: mengemukakan arti spiritual dari teks yang divaca.

3        Tiopologi: perbandingan dari yang sekarang ke yang akan datang, dari yang lampau ke masa yang akan datang, dari di dunia ini ke yang di surga.

4        Simbol: apa yang ditemukan di dunia ini adalah lambang yang akan datang atau yang di surga atau suatu antisipasi.

6. Sekolah Antiokia

            Tokohnya adalah: Diodorus dari Tarsus, Teodorus Mopsuesta, Yohannes Crisostomos, Teodoret dari Ciro. Sekolah ini menekankan metode eksegesi kekhasan mereka dengan letteral/teori/peramalan/penampakan; misalnya nabi meramal sesuatu kejadian, kemudian sesudah beberapa lama, ramalan itu terpenuhi, dengan demikian arti kata nabi ini dipenuhi juga. Para tokoh antiokia ini tidak mau menyebut diri dengan allegori, melaikan letteral, walaupun metode ini mereka ketahui dan kadang mereka laksanakan. Dalam metode mereka ini, narasi adalah hal yang paling unggul untuk metode eksegesi. Kristologi yang mereka kemukakan juga didekati dengan letteral, apa yang dimaksud oleh penulis; sedangkan tokoh Alexander, dengan metode allegori lebih hidup dan menarik dan memberikan pengertian spiritual yang lebih luas. Filsafat yang melatarbelakangi metode letteral adalah stoicisme; sedangkan allegory didasarkan pada platonisme.

            Sedangkan di Barat, mengkombinasikan kedua metode, allegory dan letteral, walaupun kelihatannya metode allegory selalu lebih favorit.

 EXEGETICAL METHODS

            Generally, the Fathers of the Church used the allegorical and the literal exegetical methods. These methods are based on Greek and Jewish traditions. In the third century, there were two schools, Alexandria and Antioch, and each school has a characteristic as to its exegetical method. Allegory, which is also called typology, was the characteristic of the Alexandrian school; the literal meaning is the characteristic of the Antioch school. And in the West, during the fourth century, the Fathers combined the two methods (literal and allegorical).

            Clement of Alexandria and Origen were the famous teachers who accentuated allegory to interpret the Scripture, which was then continued by others teachers. But before them Philo of Alexandria, the Jewish Hellenist, used this method, in which he combined the Greek and Jewish traditions. Jewish tradition interpreted the Scripture in the literal and allegorical senses in order to apply the sacred text into everyday life. The earliest Old Testament interpretation was predominantly oral. In fact, there are two oral traditions, Targum and Midrash. Targum is an oral tradition in the Aramaic language, which was brought from Babylon. In Jesus’ time, Aramaic was the spoken language and Hebrew was the written language. In the synagogue the Scripture was read in Hebrew and then translated into Aramaic, but the translation was very free, indeed properly it was a paraphrase. Sometimes halakhic or haggadic insertions were interpreted. Rabbis had the duty of doing this task. Midrash is an oral tradition, which is received by the Pharisees from Moses, Joshua and the prophets. It can indicate either a particular type of actual interpretation of the Old Testament, by a process of combining different passages, or the product of the interpretation itself, i.e. the actual commentary.

Of course, Greek tradition did not have the Jewish Scripture, but through the literal and allegorical methods, Hellenists re-interpreted the poetic and the philosophical texts.

 

1. Meaning of literal and allegorical

            Saint Paul in his letter 1 Corinthians uses allegory or typology to interpret the book of Exodus that uses the mirages of rock, water and manna. He says that the rock is the Christ and the manna and water are spiritual food.

            In another letter, St. Paul also uses allegory; he says that Adam is the typos of Jesus Christ: “Nonetheless death reigned over all from Adam to Moses, even over those whose sin was not the breaking of a commandment, as Adam’s was. He prefigured the One who was to come.” Again St. Paul sees Mount Sinai as a pre-figuration of Jerusalem city and at the New Jerusalem: “The one given on Mount Sinai that is Hagar, whose children are born into slavery; now Sinai is a mountain in Arabia and represents Jerusalem in its present state, for she is in slavery together with her children. But the Jerusalem above is free, and that is the one that is our mother.”

            Through these citations, Paul wants to point to other things behind the literal meaning, (Greek: •88 •(@Db,4<: to say other things). So allegory is to say one thing in order to signify another; a writer expresses concepts, which hide a more significant, hidden meaning behind the literal meaning. And the hermeneutical approach consists in discovering in a text another meaning apart from the literal sense, and also beyond the original intentions of the author.

2. Allegorical Importance

            Through the allegorical method the Fathers of the Church can enrich their interpretation of the Old and the New Testaments. So they did not have difficulty in presenting even the difficult texts of Scripture to their contemporaries. For example, the book of the Song of the Songs is a difficult text, because it speaks about a woman who falls in love with a man. But Origen, who was the first to interpret this book in allegory fashion, thereby expressed the profound spiritual sense. His interpretation influenced the whole history of the contemplative or the mystic life. He interprets the bride as the type of the Church and the soul, and the groom is a type of Christ. The union of the bride and groom is a spiritual marriage, the union of the Church and Christ, the union of soul with Christ, which is the goal and ultimate aim of life.

            The Fathers of the Church, through the allegorical method, can draw out the moral, spiritual and eschatological senses, as John Cassian explained in his conferences.  The moral or tropological sense is an explanation pertaining to the correction of life and practical instruction, as if we understood these in two covenants as praktike and as the theoretical discipline of the human being; the spiritual sense is the historical narrative; and the eschatological or anagogical sense is that by which words are directed to the invisible and to what lies in the future.

            The other example is in the Moralia in Iob of Gregory the Great. Job is the figure or type of the Christ and of the Church; so the attitude of Job is an authentic figure of the Christian in temptation, in penitence, in the virtues, in contemplation and action. Through Job’s personality, Gregory the Great draws out the moral, spiritual sense and ultimate aim of the human being.

3. Reinterpretation

            The Fathers of the Church stressed spirituality, which is the union of the believer with God in Jesus Christ through the Holy Spirit. To grasp this goal, they searched the way to re-interpret the Scripture in the light of Jesus Christ even if there are differences of how to do this in the Fathers themselves. The apostolic fathers live in the period following the time of Jesus Christ. There is still no New Testament, so they meditate in the Old Testament and the Jewish tradition in the light of Jesus Christ, under the inspiration of the Holy Spirit. They meditate on the words and the life of Christ in the light of Tradition. The post-apostolic tradition is a little bit different than apostolic tradition, because the canon of the New Testament was being formulated. They re-interpreted martyrdom as the ultimate aim of life; it is the perfect way to be united to Christ through the imitation of his suffering. After Origen’s time, the situation changed, because monastic life was growing. Union with Christ was not only through martyrdom of blood, which is to die in time of persecution, but through white martyrdom, which consists in a constant preparation of self, especially in fighting one’s own weakness and sins. Therefore the monk went to the desert to fight against Satan, not to find tranquility or peace. The monk must prepare himself with self-discipline, mortification and asceticism to gain apatheia, which is to control emotions and temptations, to direct or to summit oneself to Christ. Self-discipline, mortification and asceticism are the new model of martyrdom, not to fight in the stadium but in oneself against the devil, to participate in the suffering of Christ and in his resurrection.

CANON

 

1. Perjanjian Lama

            Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa canon PL belum ditutup pada zaman Kristus dan belum ada teks resmi; mereka menggunakan manuskrit, dengan demikian masih bisa ditambahkan sesuatu dengan cara: memberikan komentar pada teks Alkitab dan menuliskannya di sebelah kanan atau kiri teks yang disebut dengan glosa. Kemudian pada akhir abad pertama canon PL ditutup dengan adanya sekolah Yabna. Sampai sekarang, kita memiliki manuskrit Babilon, karena mereka yang masih tinggal di Babilon pada zaman pembuangnan, mendirikan sekolah, semacam pusat spiritualitas, dan menulis teks Alkitab; ada juga manuskrit Palestina dan Alexandria yang kemudian menjadi Septuaginta (gabungan manuskrit Babilonia, Palestina dan Alexandria). Sesudah tahun 70, para rabbi sekolah Yabna memutuskan untuk membuat teks resmi Alkitab; mereka mengumpulkan semua manuskrit dari berbagai sinagoga dan menetapkan teks resmi Alkitab, dengan cara mastoretico (tanpa vokal, hanya konsonan). Kemudian berkat penemuan Qumran (1947), ditemukan dua manuskrit Alkitab, yang kemudian disebut dengan pre-mastoretico. Para rabbi mengobah metode untuk mempelajari Alkitab dengan studi perbandingan antara teks mastoretico dengan pre-mastoretico, yang bukan berarti merendahkan satu sama lain, melainkan untuk saling melengkapi.

Di diaspora, orang ibrani menggunakan septuaginta dalam bahasa yunani dan bahasa siria, dan teks ini selalu digunakan oleh para bapa gereja. Dan bahkan sesudah jaman mereka, teks septuaginta selalu menjadi referensi dengan studi perbandingan. Para bapa gereja sebelum jaman Hironimus, menggunakan septuaginta, karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui bahasa ibrani, sehingga mengabaikan tkes mastoretiko. Bahnkan septuaginta menjadi Alkitab pegangan dan jika mengalami kontraversi dengan orang ibrani, mereka tetap menggunakan septuaginta. Septuaginta ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa latin yang disebut dengan Vetus Latina. Manuskrit Septuaginta dalam bahasa yunani ada tiga: Aquila, Simmaco dan Teodozio.

Hironimus, menterjemahkan septuaginta dari bahasa ibrani ke bahasa latin dengan mengkonultasikan terjemahan yunani; hasil karya ini disebut dengan Vulgata. Sehingga pada abad VI-VII, para bapa gereja sering menggunakan kedua Alkitab, Vetus Latina dan Vulgata. Dan saat ini, standart untuk PL adalah dalam ibrani yang didasarkan pada manuskrit Leningrad (1500). Dan sesudah penemuan Qumran, Vulgata mendapat edisi baru lagi dengan mengkonsultasikannya dengan pre-mastoretico. Kenapa hanya Vulgata? Karena Vulgata ditulis berdasarkan teks ibrani, sedangkan Septuaginta ditulis berdasarkan manuskrit bahasa yunani; dan pre-mastoretico ada dalam bahasa ibrani.

2. Perjanjian Baru

            Masalah kanon PL sama dengan masalah PB, karena terlalu banyak kodex da volume, (ada kira-kira 3000). Bentuk manuskrit PB ada dua: volume dan kodex. Volumen: ditulis dalam pergamena yang disatukan satu sama lain menjadi volume, kemudian teks ditulis dengan colom-colom. Kodex: terbuat dari papirus atau pergamena. Pergamena ini umum digunakan sejak abab pertama. Kodex: tidak begitu umum digunakan, kecuali kristiaani karena lebih praktis dan mudah mempelajari/menghapal isinya terutama menghapal ayat-ayat Kitab Suci. Biasanya manuskrit terbuat dari berbagai macam: meja kecil, yang terbuat dari kayu atau batu, yang diberi figura; digunakan sampai pada abad IV. Papirus: yang terbuat dari daun papirus yang banyak ditemukan di sungai Nil; digunakan sampai pada abab IX. Pergamena: terbuat dari kulit binatang atau kayu yang dibunakan sampai pada abad XIII. Kertas: digunakan dari abad ke  XIV/XV.

            Untuk menentukan kwalitas manuskrit, tidak begitu mudah, karena pada abad II, teks PB ditulis dengan cepat-cepat, simpel dan banyak keliru, walau tidak tertutup kemungkinan bahwa kadang-kadang teks yang ditulis adalah yang lebih baik dan karena sesuai dengan sumber yang diperoleh. Para bapa gereja sampai abad II mengutib berbagai variasi PB. Baru sesudah pertobatan Constantinus, dibuat kodex PB dengan mengumpulkan semua manuskrit sebanyak 50, dan sekarang kita masih memiliki 2 kodex yang terdapat di perpustakaan Vatikan, yang disebut dengan kodex B dan Simmaco. Codex ini biasanya ditulis dengan hurf besar, dan manuskrit sesudah abad V/VI, dengan huruf kecil; tanpa paragraf, tanpa titik. Dengan demikian kita bisa mengerti pentingnya seorang lektor pada jaman para bapa gereja, untuk mengetahui semua tanda baca dalam manuskrit; misalnya Agustinus mengingatkan lektor dengan berkata bahwa harus membedakan kata kerja dengan suara lebih tinggi; (bandingkan dengan fungsi lektor pada saat ini).

4. Pembentukan jumlah buku

            Pada waktu zaman Yesus, orang ibrani memiliki 24 buku PL. Sementara itu di diaspora, beredar beberapa buku yang “hampir” masuk kanon PL yang ditulis dalam bahasa yunani dan orang kristiani menerima buku ini masuk kanon PL. Sementara orang ibrani di Palestina menutup kanon PL pada abad pertama/pertengahan abad II yang menyebut kanon palestina dalam suasana contraversi dengan kristiani yang menerima buku-buku yang “hampir” masuk kanon PL. Kristiani selalu menggunakan buku-buku ini dan mengatakan deutro kanon (termasuk kanon PL). Beberapa bapa gereja tetap mendiskusikan buku-buku ini sampai pada Hironimus yang menyatakan buku-buku ini masuk kanon PL.

            Tidak ada kepastian berapa buku PB, seperti yang telah disebutkan sebelumnya; yang jelas, surat-surat Paulus dibaca dalam pertemuan-pertemuan kristiani; bahkan sebelum ditetapkan kanon PB, ada 200 injil; kemudian dalam komunitas utama, seperti Antiokia dan Alexandria, menggunakan 27 buku yang disebut dengan kanon PB dengan kriteria:

1        Apostolik: berasal dari para rasul atau dari murid mereka.

2        Surat yang dibacakan dalam liturgi.

3        Surat bersifat umum, tidak bersifat pribadi.

4        Tidak bertentangan dengan regula fidei .

 APOKRIF

 

1. Arti

            Penulis baik itu ibrani maupun kristiani yang telah menulis buku yang di luar buku resmi (kanon), tetapi karena alasan karakter tulisan, mengakibatkan keraguan untuk digolongkan pada buku resmi (kanon).

2. Perjanjian Lama

            Ada perbedaan terminologi kanon antara protestan dan katolik. Terminoligo katoloik ditetapkan pada konsili Trente (13-12-1545 s/d 4-12-1563) untuk menanggapi pendapat protestan.

KATOLIK

PROTESTAN

1. Kanonik

Kanonik. 1

2. Deutro: δεύτερος:

ditambahkan kemudian

Apokrif: άποκρϊτος: terpisah/pilihan. 2

3. Apokrif

Pseudo: ψεύδος: palsu. 3

Pada abad II, setelah kanon ditutup, buku-buku deutro dan apokrif digunakan kristen, disisipkan dan akhirnya begitu banyak daftar-buku-buku, lihat: The Lost Book of the Bible, New York, Gramercy books, 1979.

4. Perjanjian Baru

 

            Dalam PB, kita hanya mengenal dua jenis buku: kanon dan Apokrif. Pada akhir abad I-II, ada begitu banyak buku yang mirip dengan karakter buku-buku kanon PB, seperti: Injil, surat-surat apostolik, wahyu.

Karakter Apokrif:

1        Meniru karakter buku autentik.

2        Kadang-kadang mengambil beberapa ayat dari buku kanon, kemudian menafsirkannya dengan leteratur pada waktu itu, menampilkan sejarah yang menjelaskan atau membenarkan ritus yang dibuat (dosologia), mempromosikan doktrin yang baru, dengan demikian kelihatannya termasuk dalam buku kanon. Misalnya, problem synoptik: Kita ketahui bahwa Markus dan Q adalah sumber Matteus dan Lukas. Tetapi megapa Q tidak pernah menjadi Injil? Karena Q menceriterakan bahwa Kristus tidak menjadi daging (incorporatus) sedangkan Matteus dan Lukas menyebutkan Kristus menjadi daging (corporatus). Gnosticisme dalam “injil” Tomas hanya mengambil Q sebagai sumber, sehingga buku Tomas berisikan Kristus incorporatus.

Injil Apokrif:

Inji Petrus, Kebenaran, ke-12 rasul, Manichei, Filippus, Judas, Tomas, Maria.

Apokrif surat postolik:

Surat-surat ini mengambil nama para rasul yang menunjukkan kimunitas yang bersifat apostolik. Misalnya surat kepada umat Macedonia dan umat Alexandria.

Apokrif kisah para rasul:

Buku yang mengambil bentuk kisah para rasul yang menceriterakan perjalanan, gnosticisme dan praktek populer.

Apokrif apokaliptik:

Berkembang pada abad III, tetapi ide juga bisa ditemukan pada PL (Ezechiel [bandingakan dengan buku Gregorius Magnus, kotbah kitab Ezekiel II], Zakaria yang menunjukkan ide apokaliptik dan kenabian.)

Karakter: bersifat kenabian dalam arti mengetahui yang baik dan yang jahat, scandal, melihat waktu yang akan datang sebagai suatu pengadilan, yang diungkapkan oleh seorang nabi dan menulis atau mengkotbahkannya; bersifat sejarah, banyak menggunakan simbol pagan dan gnosticisme, anti Kristus, bicara tentang surga dan neraka, perjalanan menuju surga dan astronomi.

Apokaliptik: mengkonfermasikan hari tetapi tidak secara langsung, penglihatan ke surga dan melihat pertentangan antara yang baik dan yang jahat; pergulatan antara Tuhan-jahat, Kristus-jahat dan yang baik selalu menang. Semua sejarah di dunia dilihat antara baik-jahat tetapi berbicara secara simbol, tidak berbicara atas nama sendiri yang diungkapkan dalam bentuk narasi atau sejarah.

Waktu penulisan: Pada waktu krisis untuk menghibur, memberikan dorongan pada komunitas.

Argumen: waktu lampau dan yang akan datang yang dilambngkan dengan binatang yang mendahului penglihatan, pendengaran, penceriteraan sejarah dunia, memberikan berkat, kebijaksanaan.

Doktrin: memiliki doktrin waktu sekarang dan yang akan datang, pessimis dalam memberikan penilaian kepada dunia dan sikap optimis untuk waktu yang akan datang.

 ERESIA

 

1. Arti

Eresia berasal dari kata αίρεσις: sekte/pembiasan; yaitu pembiasan dari ajaran resmi (όρθόδοξος: ortodox). Kategori ini tidak ada dalam ibrani, karena mereka tidak memiliki doktrin yang ditetapkan, melainkan halal atau tidak halal untuk kultus; jadi mereka mengenal eresia berdasarkan kultus, (bandingkan dengan ajaran islam). Contoh: orang samaritan walaupun mereka orang benar, bahkan lebih benar dari orang ibrani, mereka adalah eretik berdasarkan kultus. Siapa yang tidak melaksanakan hari sabad berarti melawan kultus. Pada abad pertama orang kristen yang bertobat dari ibrani, masih sering mempraktekan halal-tidak halal berdasarkan kultus (ingat yudaisme-kristianisme).

2. Kriteria ortodox-eresia

ORTODOX

ERESIA

1. Apostolik

Tidak apostolik. 1

2. Pengakuan akan iman

Tidak menurut ajaran iman. 2

3. Berdasarkan argumen/alasan

Berdasarkan argumen. 3

4. Berdasarkan R. Kudus dan Karisma

Tidak berdasarkan R. Kudus, karisma. 4

5. Berdasarkan Tradisi

Tidak berdasarkan Tradisi. 5

6. Berdasarkan Kitab Suci

Tidak berdasarkan Kitab Suci. 6

7. Membawa ke iman

Tidak membawa ke iman. 7

3. Beberapa contoh eresia dalam kitab suci

1        Galazia: problem sunat untuk melaksanakan hukum Musa dan kemudian Paulus menjawab: autoritas apostolik (1:6-8), konili jerusalem (2:9), kehadiran Roh Kudus dan tergantung pada Kitab Suci (3:1-3), ajaran Kristus (9:11).

2        1 Korintus: karena bagi elenistik tidak mungkin ada kebangkitan (1Kor. 15:1-5).

3        Kolose dan Ibrani: Kristus bukan salah satu dari malaekat (Ko. 1:15~), (Ib. 1:5~).

4        Kisah Para Rasul: Konsili Jerusalem menekankan autoritas Roh Kudus untuk ortodox.

5        Johannes: polemik melawan mereka yang menolak untuk percaya akan Kristus, murid Johannes Baptista, 2:22~: melawan yudaisme-kristianisme; 6:60-63: melawan Roh Kudus. 1Yoh. 4:14; 5:1-5: melawan yudaisme-kristianisme.

 KEHIDUPAN SEHARI-HARI KRISTIANI

 1. Iman

            Pewarta iman pertama adalah para rasul dengan para awam melaksanakan perdagangan. Cara mereka mewartakan iman adalah dengan percakapan sepanjang perjalanan. Pada abad-abad pertama, banyak pedagang datang ke Palestina yang berasal dari: Spanyol, Mesopotamia, Afrika dan daerah lain dari Timur Tengah. Titik keberangkatan para pewarta iman ini adalah Antiokia, Efesus dan Asia kecil yang menjadi pusat kristiani sesudah jaman Kristus.

2. Perkembangan kristiani

1        Jerman: melaksanakan aksi iman melalui serdadu.

2        Prancis/Gallia: masuk melalui Marsiglia yang waktu itu adalah pelabuhan utama di Prancis dan juga menjadi pusat filsafat dan kedokteran/studi obat-obatan. Di Prancis, ditemukan banyak orang asia, misalnya Ireneus yang menjadi uskup di Vienne; Lione juga kota yang penting pada saat itu. Orang asia yang tinggal di sini berbicara bahasa Yunani dan Latin dan juga bahasa setempat.

3        Afrika: ada tiga daerah yang terkenal: Numidia, Mauretania dan Cartagine yang menjadi pusat. Mereka menerima ajaran kristen mngkin dari yudaisme-kristianisme.

4        Alexandria: kota yang paling besar, waktu itu penduduk kira-kira 1 juta jiwa; dan didatangi oleh kristen yang bertobat dari yudaisme, kemudian oleh rasul Markus.

5        Mesopotamia: dievangelisasi dari yudaisme-kristianisme.

 

3. Perjalanan

1        Laut: perjalanan melalui laut tidak dilaksanakan dari bulan November sampai dengan Maret; orang yang bepergian pada saat itu tinggal di pelabuhan, dengan demikian ada waktu untuk melaksanakan pewartaan. Kapal pada waktu itu cukup besar, bisa memuat 100 orang. Para pewarta melakukan perjalanan bersama dengan orang lain yang waktu itu melaksanakan perdagangan. Dengan demikian di kapal, juga melaksanakan pewartaan dan kemudian dilanjutkan di kota pelabhan. Perjalanan pada waktu itu banyak tergantung dari angin.

2        Darat: Perjalanan melalui darat melelahkan dan berbahaya. Karena kalau pergi dari Palestina ke Roma, harus melalui Alexandria, kemudian menyusuri Afrika utara yang sangat berbahaya baik itu dari binatang buas maupun dari perampok; kemudian dari Cartagine menyebrang ke Malta, Sicilia atau langsung ke Italia dengan kapal. Atau bisa juga lewat asia kecil terus ke Yunani dan kemudian menyebrang dengan kapal ke Italia. Perjalanan dengan darat biasanya menggunakan kuda. Kemudian di daerah-daerah tertentu ada semacam stasium untuk mengganti kuda, mengisi perbekalan, dan juga mengganti mata uang. Pada waktu itu banyak mengadakan perjalanan ke Roma dari berbagai provinsi rimawi, karena Roma adalah pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan study. Orang yang tinggal di Roma juga sering mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan pesta Yahudi atau yahudi-kristiani. Sedangkan orang kristen yang mengadakan perjalanan membuat sharing akan iman atau situasi gereja. Di tempat penginapan, juga menyediakan menu yang sangat menarik, dan juga tidak ketinggalan menyediakan tempat hiburan bahkan pelacuranpun ada. Di komunitas-komunitas kristiani, mereka mengadakan kollekte untuk para missionaris yang mengadakan perjalanan, dan kalau komunitas mereka didatangi missionaris ini, kolekte ini diserahkan kepada mereka untuk keperluan bekal. Dalam Didaché dikatakan bahwa para missionaris tidak tinggal lebih dari tiga hari pada stasiun, mengapa? Mereka saling membagikan makanan, keramahan, saling mmberikan surat dari gereja asal dengan gereja yang dikunjungi yang kita miliki sampai sekarang dalam buku-buku apokrif.

4. Pos

            Ada dua jenis surat, pribadi dan publik, yang dibawa oleh para pejalan; tetapi sayang sekali banyak juga surat yang hilang atau tidak sampai.

5. Sosial

            Mayoritas kristiani berasal dari kedudukan rendah, dalam arti bukan dari golongan bangsawan atau dari mereka yang bekerja di pemerintahan melainkan dari semua umur, kaum wanita juga termasuk. Dalam komunitas tidak ada penggolongan kelas, yang waktu itu mayoritas orang berada dalam golongan ini. Mereka juga banyak pedagang, filsuf yang memiliki rumah untuk tempat pertemuan untuk berdoa (bandingkan dengan cara hidup kristen pertama dalam Kisah Para Rasul). Mereka mengadakan kollekte untuk menolong orang miskin, menolong yang sengsara, para janda, yang dipenjarakan dan berusaha untuk membebaskan mereka, dan tidak jarang menjual diri menjadi budak untuk kepentingan komunitas. Diantara kristiani ada juga dokter, retor, avvokat, ada juga yang kaya, ada juga yang menjadi serdadu. Singkatnya, kristiani mendududuki hampir semua kelas masyarakat, tetapi bukan orang yang memiliki kedudukan penting dalam pemerintahan.

6. Pendidikan anak

            Anak-anak diajarkan astronomi, iman, dan melarang kultus pagan.

7. Perempuan

            Sangat penting dalam komunitas, karena melaksanakan keperawanan, ketaatan pada perkawinan, tidak abortus, memiliki pengaruh untuk mepertobatkan suami yang buakan kristen.

8. Evangelisasi

            Dilaksanakan oleh awam, yang melaksanakan perjalanan bersama dengan orang yang bepergian dan berusaha mempertobatkan orang selama dalam perjalanan dengan memberikan kesaksian hidup. Para budak yang katolik, kadang-kadang juga mepertobatkan tuannya atau sebaliknya. Motif pertobatan: Alkitab, cara hidup, kemiskinan, kasih, persaudaraan, memberikan pengharapan kepada dunia, ketulusan, castitas dan ajaran kebangkitan. Juga pengaruh dari kemartiran yang memberikan kesaksian bisu. Para filsuf mengagumi hidup kristiani dan beberapa dari mereka menjadi ksriten.

9. Kehidupan di dunia

            Kristiani banyak hidup di katakombe atau di daerah terpencil, atau daerah tersembunyi, dan tidak jarang juga hidup di kota-kota. Mereka juga pergi ke tempat-tempat umum. Pemerintah setempat menuduh kristiani ateisme dan mengucilkan dari kehidupan dunia. Kristiani bukan berasal dari golongan marginal.

10. Keluarga

            Kalau istri kristen, suami memiliki kesulitan untuk ke cultus publik (theater, aphiteater, sirkus), karena sang suami mengalami kesulitan memperoleh tempat di tempat-tempat ini. Mengapa? Di tempat-tempat hiburan, suami istri memiliki tempat tersendiri, kalu tidak, masuk ke dalam golongan yang belum menikah, yang tempatnya lebih rendah. Kalau istri kristen, tidak akan pergi ke tempat ini untuk mendampingi suami, karena bertentangan dengan iman. Dengan alasan ini, pagan menuduh keluarga ini dan melarang mereka untuk berpartisipasi pada kultus kaesar.

11. Situasi umum

            Penduduk memandang rendah kristiani, melarang untuk berpartisipasi ke tempat-tempat umum, dituduh tidak normal, kannibal karena perayaan ekaristi, tidak bermoral. Dan juga dari berbagai sekte kristiani atau eresia juga memojokkan kristiani.

12. Organisasi

            Greja purba bersifat kekeluargaan, lokal, kelompok kecil, hubungan erat dengan pelayan yang memimpin aktivitas kristiani; diakon bertugas untuk asisten pekerjaan sosial dan ekaristi dari uskup. Pada awal abad II, keuskupan adalah: Yerusalme, Smirna, Atena, Lion yang bisa kita temukan dalam surat Ignasius Antiokia. Kemudian pada tahun 150, sudah banyak ditemukan uskup di kota-kota yang dipilih dan diresmikan dengan penumpangan tangan; dan seorang uskup tidak boleh melakukan perdagangan, posisi pemerintahan, teapi harus mempelajari dan mengetahui Kitab Suci dan melayani daerahnya sesuai dengan regola iman (regula fidei). Pada zaman ini sudah ada sinode lokal untuk menyelesaikan masalah-masalah setempat, kesatuan dalam perbedaan, dan gereja Roma sudah menjadi prinsip utama akan iman. Contohnya untuk menentukan perayaan paskah.

 

13. Hari bersama

Hari dibuka dengan doa bersama dan ditutup juga dengan doa bersama; Alkitab dibaca terlebih-lebih mazmur, menghadap ke Timur kalau melaksanakan doa (mengapa?), kemudian memberikan tanda salib di dahi. Sikap berdoa adalah sebagai berikut: dengan tangan terangkat, berlutut atau berdiri. Mereka membagikan makanan. Mereka mengadakan dua sarapan, pagi dan sekitar tengah hari, kemudian makan sekitar jam 5 sore, (mengapa?). Kalau ada puasa, tidak melaksanakan sarapan kedua. Mereka tidak pergi ke pertunjukan, melainkan ke perkumpulan doa.

 

 

14. Liturgi

Liturgi dimulai dari kelompok kecil dan bersifat kekeluargaan dan tidak jarang perayaan liturgi dilaksanakan dibawah tanah karena situasi dalam penganiayaan. Perayaan ekaristi kemudian ditulis oleh Yustinus dan Ippolitus dan perempuan juga berpartisipasi pada perayaan ekaristi ini, yang hal ini tidak mungkin dilaksanakan dalam kultus pagan. Mereka membaca PL, dan sementara itu PB dalam pembentukan, walau sudah ada komunitas membaca surat-surat dari Paulus. Kadang-kadang komunitas juga membaca surat Clemen dari Antiokia dan Pastor dari Erma. Mereka merayakan paskah dan pusat perayaan adalah malam paskah.

 

15. Baptisan

Pada abad I-II, belum ada katekese, baru dimulai pada awal abad III. Lalu untuk menjadi kristiani, calon dibawa oleh bapa dan ibu rohani pada komunitas dan melaksanakan karitas kepada para janda (pada waktu itu ada banyak janda karena ditinggal suami yang meninggal pada peperangan; menjadi serdadu adalah hal yang gampang dan sangat umum), yatim piatu, mempelajari iman kepercayaan dan kemudian dibaptis dalam trinitas. Tugas bapa/ibu rohani selalu mendampingi calon melaksanakan semua kegiatan ini (bandingkan dengan fungsi ibu/bapa rohani pada baptisan sekarang ini). Pada saat ini, kita kenal juga baptisan dengan darah, karena mereka yang belum sempat di baptis, telah menghadapi kemartiran dari kekaisaran romawi. Juga sudah ada baptisan bayi.

 

 

16. Pelayan

Sudah umum melaksanakan keperawanan, selibat. Di Asia, keperawanan lebih ketat, tetapi di Roma, masih mengalami kesulitan, karena kalau mereka yang melaksanakan keperawanan, harus membayar pajak lebih banyak, karena dituduh mempraktekkan pelacuran, karena waktu itu pelacur membayar pajak lebih karena memiliki penghasilan lebih banyak. Akibatnya perempuan kristiani ini mengalami tuduhan dengan hidup tidak bermoral. Kemudian pada abad III, situasi berobah, karena mulai ada komunitas para perawan dan para janda.

MARTIR

 1. Terminologi

            Martir berasal dari bahasa yunani μαρτύριον: kesaksian: berarti kristiani yang menderita bahkan mati karena iman. Para martir menjadi puncak pertunjukan bagi pagan; tetapi bagi orang kristen kemartiran itu sendiri adalah kesatuan akan penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Kesaksian ini dalah jalan yang paling sempurna untuk bersatu akan Kristus yang menderita, mati dan bangkit. Dengan alasan ini, banyak orang tidak ragu untuk menjadi martir dan menjadi suatu keinginan. Contoh, Origenes, waktu ia masih kecil, mau menjadi martir dan walau keinginannya ini tidak tercapai karena dihalangi oleh ibunya; maka ia menulis buku tentang martir.

2. Alasan kemartiran

            Gereja purba ditandai dengan hidup martir, mualai dari Kristus sampai pada saat damai (dari kekaisaran terhadap kristianisme). Selama periode yang panjang itu, ada dua alasan tuduhan untuk kemartiran.

1        Kultus: seseorang yang tidak melaksanakan kultus atau melawan kultus, dengan demikian tuduhan menghojat Tuhan. Ingat Kristus dihukum mati orang yahudi dengan alasan kultus, karena mengaku diri sebagai putra Allah. Contoh kedua adalah Stefanus dalam proses “pengadilan” memiliki penglihatan akan surga, dan bagi orang yahudi hal ini adalah penghojatan.

2        Proselit: karena seseorang diketahui menganut agama terlarang. Kristianisme adalah agama terlarang di kekaisaran sampai saat damai. Tuduhan yang diterima kristen adalah: karena menjalankan praktek keagamaan terlarang itu, kannibalisme, incest, tidak menghormati kultus kaisar dengan demikian orang kristen mendatangkan mala pada kota/kekaisaran, atau ditemukan memiliki barang-barang rohani seperti Alkitab, salib.

3. Bentuk teks kemartiran

1        Kisah: Kisah adalah bentuk kemartiran yang paling kuno; kristen dihadapkan pada pengadilan, baik itu pemerintah setempat atau pusat. Lebih sering dilaksanaan kalau pemerintah pusat mengunjungi pemerintah daerah, dan salah satu atraksi utama dan yang lebih menarik adalah proses kemartiran, yang biasanya agak panjang, karena harus menginterrogasi tertuduh. Biasanya dilaksanakan di stadion. Contohnya, kisah martir Yustinus da teman-temannya: ditanya identitas, doktrin, tempat berkumpul, memberikan kesempatan untuk menyangkal iman, kemudian kalau tidak mau maka di hukum mati dengan melawan binatang atau di bakar.

2        Passio: bentuk kemartiran yang mengungkapkan penglihatan ke surga, atau kehidupan di surga; penglihatan ini memperkuatkan mereka untuk  mempertahankan iman. Teks yang paling kuno adalah passio dari Policarpus (167). Sebenarnya, Stefanus juga mengalami hal yang sma. Kemudian para martir di Lione, Agape, Perpetua, Irene dll.

3        Legenda: Meninggalkan tulisan tetang kemartiran yang oleh sejarawan menuliskannya dalam bentuk fantasi atau tendensi untuk mengungkapkan semacam roman. Misalnya Apollonio, Martir di Pionio dan Dasio dll.

4. Atlet

            Atlet adalah nama lain yang diberikan kepada para martir yang dijiwai oleh Alkitab; Atlet berjuang di stadion untuk memperoleh kemenangan, demikian seorang martir berjuang di stadion untuk memberikan kesaksian imannya, untuk memperoleh kemenangan, yaitu kesatuan sempurna kepada Kristus.

 

 

 

 

 

KEHIDUPAN MONASTIK

 

1. Etimologi

Monastik/monakeisme berasal dari kata: μοναχός: hanya satu jalan; hanya dengan satu cara; kemudian μοναχικός: monastik, hidup monastik. Pada awalnya kehidupan monastik dikenal dengan dua cara, baik itu kehidupan sendiri (kita kenal dengan kehidupan ermit) dan kehidupan bersama yang jauh dari kehidupan.

 

2. Alasan untuk hidup monastik

Para ahli mengemukakan beberapa alasan terjadinya hidup monastik.

1        Kelanjutan tradisi ibrani yang telah ditemukan dalam PL. (Ingat kelompok ibrani yang memilih menjadi hidup monastik). Dalam PL, kehidupan monastik telah menjadi hal yang biasa dilaksanakan. Elia adalah model pertama untuk melaksanakan cara hidup ini, sehingga bayak mereka yang pergi ke Gunung Horeb dan di Gunung Karmel (ingat akan penemuan Qumran).

2        Kelanjutan dari tradisi para rasul; pengikut kristus telah melaksanakan kehidupan monastik, untuk mengikuti jejak Kristus, untuk menyatukan diri dengan sempurna dengan Kristus.

3        Hasil buan iman iman yang dijiwai oleh Injil Kristus. Antonius: “Belum ada 6 bulan sesudah kematian orangtuanya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaanya pergi ke gereja, melaksanakan apa yang didengarnya dari Alkitab dan merenungkannya, sebagaimana para rasul meninggalkan rumah mereka untuk mengikuti Kristus; demikian juga Kisah Para Rasul yang mengungkapkan bahwa kristiani menjual harta benda mereka dan diberikan kepada  mereka yang membutuhkannya. Pada suatu saat, ia masuk ke gereja dan mendengarkan Kitab Suci yang berkata: kalau kau ingin menjadi sempurna, pergi dan jual harta bendamu dan berikan kepada yang miskin dan datang kepadaku dan ikutilah aku, da kamu akan memperoleh harata kekayaan di surga. Kemudian Antonius pergi dan menjual apa yang dimilikinya yang diperoleh dari orangtuanya dan memberikan kepada yang miskin.”

4        Kelanjutan dari kehidupan martir; hidup monastik adalah salah satu bentuk kemartiran (martir putih, sedangkan kehidupan martir disebut dengan martir merah, karena menumpahkan darah) yang menyatu dengan Kristus tidak dengan menumpahkan darah, tetapi dengan askese dan puasa, (ingat sikap Origenes).

5        Alasan politik, yaitu karena kristiani mengalami penganiayaan, sehingga melarikan diri dari kota dan menyendiri di tempat tersembui dan pilihan utama adalah padang gurun. Alasan ini diberikan oleh beberapa orang, tetapi kurang diterima para ahli.

 

3. Ermit pertama

Tidak usah heran bahwa para ermit pertama adalah awam; pada dasarnya mereka tidak membutuhkan imam, karena mereka dikenal dengan pejuang untuk melawan setan dan menganggap diri mampu menjadi pembimbing rohani. Dengan alasan ini imam/uskup tidak dibutuhkan. Dengan demikian banyak orang datang untuk mencari mereka untuk bimbingan hidup.

 

4. Tempat

Tempat yang paling ideal untuk kehidupan monastik adalah di padang gurun, sekitar lembah sungai Nil. Alasan untuk memilih padang gurun, bukan untuk menjauhkan diri dari pencobaan atau tantangan, melainkan sebaliknya, karena di padang gurun para pertapa bergelut dengan setan; di padang gurun tidak ditemukan makanan, sulit ditemukan air, sulit bertemu dengan orang; oleh sebab itu tantangan lebih besar yang berasal dari setan, (bandingkan dengan Yesus yang mengalami cobaan dari setan di padang gurun).

 

5. Bentuk hidup monastik

1        αναχώρησις (anachoresis): menyendiri/pergi menyendiri dan juga disebut tempat menyendiri. Jadi anachoretik adalah orang yang menjauhkan diri dari keramaian kota dan pergi menyendiri di tempat yang sunyi, biasanya di padang gurun di sekitar oasi. Dalam bahasa modern orang yang menyendiri ini diberi panggilan ermit yang artinya sama (lihat etimologi ermit pada pembahasan sebelumnya).

2        κοινός βίος (koinos bios/hidup bersama) = cenobitisme: artinya hidup bersama; cara hidup ini bisa dibandingkan dengan kehidupan membiara pada saat ini.

Pada dasarnya kedua cara hidup ini, anakoretik dan cenobitisme, dilaksanakan segaligus oleh para ermit, karena disamping kehidupan menyendiri, juga melaksanakan kehidupan bersama. Dengan alasan ini maka disebut kehidupan monastik, karena walaupun hidup menyendiri, toh ermit tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehidupan komunitas.

 

6. Kehidupan sehari-hari

1        Pencobaan: Pencobaan utama yang dialami para ermit di padang gurun berasal dari setan yang berusaha menjatuhkan mereka dengan berbagai cara. Cara yang paling biasa digunakan adalah dengan penampilan setan dalam sosok wanita, baik itu dalam mimpi maupun sebagai tamu para ermit. Ini bisa dimengerti karena para ermit jarang bertemu dengan wanita, misalnya Johanne Likopolis baru bertemu dengan wanita sesudah 40 tahun sebagai ermit; kemudian seorang lagi yang tidak disebut namanya, bertemu dengan wanita sesudah 60 tahun. Tentu banyak ermit yang sering bertemu dengan manita, karena mereka selalu membawa hasil kerja mereka untuk diperdagangkan ke kota atau ke pasar.

2        Sikap pada wanita: Sikap para ermit kepada para wanita: extrimis, bisa dan luar biasa; dalam arti: ada ermit yang menolak samaseklai untuk bertemu dengan wanita, karena menganggapnya sebagai halangan untuk hidup sebagai ermit. Ada ermit yang menjamu para wanita seperti tamu biasa yang berkunjung atau meminta bimbingan rohani. Ada juga ermit yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, kamum wanita juga menjadi pasien mereka. Misalnya: Johannes Likopolis menyembuhkan mata dari seorang istri; Antonius bisa menyembuhkan penyakit dari jauh, juga kaum wanita; Longinus menyembuhkan tangan seorang wanita yang menyodorkannya melalui jendela ke selnya; ia juga tidak ragu-ragu meraba dada seorang wanita yang sakit pernapasan; Makarius menggosok dengan minyak seorang wanita yang kerasukan setan selama 20 hari. Ini berarti bahwa sikap para ermit kepada wanita, tergantung dari kepribadian para ermit; yang penting para ermit berusaha untuk menolong semua orang, termasuk kaum wanita.

3        Gua/liang: Di padang pasir di Mesir, tanpa tempat berlindung dari: sengatan matahari pada siang hari, dingin pada malam hari, angin, hujan dan serangan binatang liar, adalah tidak mungkin. Oleh sebab itu gua atau liang yang dimodifikasi sedemikian rupa adalah tempat yang paling ideal dan gampang ditemukan di sepanjang sungai Nil atau di lembah-lebah dimana ditemukan wadi, menjadi pilihan utama para ermit.

4        Pondok: Kadang-kadang para ermit sulit menemukan gua, disekitar lembah wadi, dengan demikian, mereka mendirikan pondok untuk tempat berlindung. Di lebah-lembah wadi di Mesir, gampang ditemukan air; cukup menggali sekirar 10 meter, air sudah ditemukan walau itu kadang asin, tetapi bagi seorang ermit, sudah lumayan daripada tidak ada. Kadang-kadang banyak ermit yang mendirikian gubuk mereka jauh baik itu dari wadi/sungai maupun dari pemukiman untuk menjaga keheningan. Seroang ermit anonim mengatakan bahwa ia harus mengambil air sejauh 10 km dari pondoknya; yang lain mengatakan sejauh 70 km. Johannes Swarf mengatakan bahwa dia harus mengambil air setiap malam untuk menghindari panas terik matahari karena jauhnya tempat sumber air. Para ermit setiap hari minggu pergi missa ke gereja bersama dengan umat, dan biasanya berjalan berjam-jam untuk sampai ke gereja, bahkan ada yang berjalan sampai satu hari; dan sepulangnya mereka membawa bekal, terutama air untuk satu minggu. Misalnya, Paphnutius, harus berjalan kaki setiap hari minggu sejauh 10 km untuk menghadiri misa an mendapatkan bekal selama satu minggu. Biasanya setiap ermit memiliki satu gubuk/cell yang hanya memiliki satu kamar; kadang juga dua kamar, tetapi kamar yang bagian dalam adalah untuk tempat berdoa dan tidur sedangkan kamar bagian luar untuk kerja tangan atau menyambut tamu.

5        Tamu: Para ermit yang memiliki dua cell, yang satu digunakan untuk pengunjung yang datang; sedangkan kalau ermit memiliki hanya satu kamar, maka tamu disambut di pintu atau di jendela. Kalau ada yang ingin menjadi murid atau pengikut seorang ermit, maka didirikan cel yang baru, dan dalam satu hari sudah selesai. Biasaya pondok terbuat dari batu atau bata atau tanah liat.

6        Pintu dan Jendela: Biasanya pondok memiliki pintu kecil yang ditutup dengan batu atau kain; jarang pokdok memiliki pintu dari kayu, karena di padang gurun termasuk barang yang sangat mahal. Alasan pintu kecil untuk menjaga agar udara panas dan dingin tidak terlalu banyak masuk ke pondok. Biasanya pondok tidak memiliki ventilasi untuk menghindari kedua hal ini. Sedangkan jendela, yang juga kecil, digunakan untuk menerima tamu/pengunjung, komunikasi ke luar, menerima bahan makanan yang diberikan para pengunjung, memberikan nasehat, memberikan berkat atau menyembuhkan. Para tamu tidak bisa masuk ke pondok. Misalnya Johannes Lykopolis memperoleh kebutuhan hidup dan menolong pengunjung selama 30 tahun, tanpa keluar dari pondoknya dan setiap hari Sabtu dan minggu, ia selalu berada di jendela untuk menjamu para pengunjung. Theon, selama 20 tahun tanpa keluar dari pondoknya dan memberikan berkat dan menyembuhkan banyak orang dari jendelanya.

7        Tembok: Tidak jarang ermit juga mendirikan tembok di sekitar pondok, untuk melindungi ermit dari serangan para perampok, pencuri dari hasil buah kerja, dan juga untuk menjaga ketenangan kalau tempat ermit sudah dikelilingi pemikiman. Model ini kemudian dibawa ke Barat yang juga kita kenal di biara klausura sekarang ini.

8        Pakaian/jubah: Para ermit pertama, tidak menghiraukan bentuk pakaian atau jubah yang mereka gunakan, karena mereka menafsirkan secara letteral Kitab Suci untuk mengikuti Krisuts, sperti: “Pergi, jual apa yang kau miliki dan ikutilah aku” atau “Putera manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya.” Bahkan beberapa ermit tidak menggunakan pakaian sama sekali; dan hal ini mungkin dilaksanakan di padang gurun, karena ermit jarang bertemu dengan orang. Misalnya Macarius menemukan dua ermit di padang gurun tanpa pakaian waktu mereka sedang minum di sauatu wadi. Sulpicius Severus, hidup tanpa pakaian selama 50 tahun. Lama kelamaan, para ermit menggunakan pakain, atau bisa dikatakan jubah tetapi jarang dicuci, karena mengingat situasi di padang gurun. Kalau mereka menemukan sungai, baru berendam dan kesempatan untuk mencucui jubah. Bahkan buayapun menyingkir, karena tau bahwa yang sedang mandi adalah pertapa. Misalnya, Antonius, mencuci jubahnya hanya satu kali dalam hidupnya, ketika ia pergi ke Alexandria untuk memberikan pengakuan. Biasanya mereka hanya memiliki satu pasang jubah yang terbuat dari kulit binatang yang mengambil inspirasi bentuk jubah Elia dan Johannes Pembaptis. Bagian luar jubah adalah kulit binatang, kemudian bagian yang dalam yang berkenaan dengan tubuh, dipakai kain semacam linen. Kemudian dalam hidup monastik, jubah menjadi suatu simbol untuk memasuki hidup ini secara resmi. Kalau si calon dianggap tidak layak untuk mengikuti hidup ini, maka pemimpin mencopot jubah darinya, itu berarti tanda secara resmi kelar dari kehidupan monastik. Pada perkembangan hidup monastik selanjutnya, para ermit, memiliki dua jubah, satu yang bagus yang digunakan pada pesta dan hari raya seperti hari minggu; dan yang satunya kurang baik, yang digunakan sehari-hari untuk bekerja. Mereka juga sudah menggunakan skapular dan kapus. Kelihatannya warna jubah yang dominan adalah putuh, walapun kemudian berobah menjadi coklat atau hitam.

9        Sandal: Sandal sangat dibutuhkan di padang gurun baik itu pada siang hari, untuk menghindari panas matahari yang memantul dari padang pasir, maupun pada malam hari untuk menghindari dingin yang menggigit. Fungsi lain, untuk menghindari sengatan binatang berbisa, kalajengking misalnya, yang sangat berbahaya dan banyak ditemukan di padang gurun. Tetapi jangan lupa bahwa kaki para ermit, jarang sekali dicuci. Misalnya Antonius, menurut Athanasius, tidak pernah mencuci kakinya.

10    Rambut dan janggut: Para ermit tidak perduli akan rambut dan janggut, dan tidak terpelihara kebersihannya, seperti halnya dengan pakaian. Abbas Johannes misalnya memiliki janggut seperti yang dimiliki Aaron. Abbas Or juga tidak kalah menarik, karena dalam umurnya yang 84 tahun memiliki janggut seperti salju sampai pada dadanya. Palulus dari Thebes, memiliki rambut sampai pada engkel kakinya.

11    Puasa: Di padang gurun para ermit melaksanakan puasa dan pantang yang mengikuti tradis Kitab suci, baik itu Yesus sendiri maupun yang lain seperti: Johannes Pembaptis, Musa dan Elia. Beberapa ermit juga mengikuti tradisi Kitab Suci yang berkenaan dengan lamanya berpuasa tanpa makan dan minum selama 40 hari; misalnya: James berpuasa selama 40 hari tanpa makan dan minum di guanya setelah mendapat pencobaan dari setan; dan setelah puasa, hampir mati. Moses, berusaha melebihi 40 hari (42 hari), dan akhirnya dia bebas dari berbagai pencobaan. Sarmatas bahkan sering melaksanakan puasa selama 42 hari. Akan tetapi banyak ermit yang melaksanakan puasa hanya beberapa hari saja. Puasa selama 40 hari di padang gurun hanya bagi ermit tertentu saja. Kebanyakan ermit mengatur puasa mereka, sehingga hidup mejadi suatu perjalanan puasa.

12    Frekuesi makan: Seorang ermit Etiopia mengatakan: “Kalau ada orang makan satu kali satu hari, dia itu seorang ermit; kalau makan dua kali sehari, dia itu orang yang suka makan; kalau tiga kali atau lebih sehari, dia itu binatnag buas.” Mayoritas ermit, hanya makan satu kali satu hari, yaitu pada siang hari; beberapa ermit makan satu kali dalam dua hari atau lebih. Misalnya Or dan Apollo makan setiap enam hari, dan pada hari minggu makan bersama dengan saudara-saudara yang lain. Akan tetapi, beberapa abbas kadang makan sering sehari; karna ia harus menyambut tamu dan sebagai rasa kekeluargaan, maka ia makan bersama dengan tamu. Pada suatu ketika serang tamu berkunjung ke biara, dan mengatkan bahwa dia kenyang sekali dengan makanan yang disediakan para tamu. Lalu sang abbas berkata, saya sudah ke-enam kali makan yang sama, masih belum merasa kenyang. Akan tetapi, di luar masa prapaskah, kadang para ermit mengambil makan siang pada jam 3 waktu kita (jam ke-sembilan) kalau masih memilikit roti, bisa dimakan sebelum tidur.

13    Roti: Roti adalah makanan utama di padang gurun yang bisa disimpan sampai lama. Setiap ermit, membawa bekalnya dari komunitasnya masing-masing ke tempat pertapaannya untuk satu minggu; karena biasanya setiap hari minggu turun dari pertapaannya ke komunitas. Sedangkan komunitas bisa mendapatkan roti dari penjualan hasil kebun; atau setiap komunitas membuat roti untuk semua anggotanya. Biasanya roti dibuat keras sehingga bisa tahan lama. Kalau memakannya harus direndam dulu ke air dan membiarkannya sampai hancur dan membubuhi garam atau semacam kecap, sehingga menjadi semacam sup. Ini dimakan dengan buah jaitun. Setiap ermit diberi jatah dua roti satu hari, satu untuk sang ermit dan satunya untuk pengunjung; kalau tidak ada pengunjung, sang ermit memiliki makan malam.

14    Sayur-sayuran: ditanam di kebun biara atau disekitar sel. Jenis sayur-sayuran yang ditanam adalah yang bisa dimakan mentah yang dibubuhi garam dan buah jaitun (lalapan) dan dimakan bersama dengan roti. Disamping itu, juga menanam semacam kacang-kacangan yang bisa disimpan lama untuk jangka panjang.

15    Minyak jaitun dan anggur: minyak jaitun (biasanya digunakan untuk menggoreng dan sebagai bumbu utama makanan termasuk lalapan) dan anggur (biasanya diminum pada waktu makan baik itu malam dan siang) adalah salah satu tradisi mediteran, tetapi tidak demikian halnya di padang gurun bagi para ermit, karena minyak jaitun dan anggur termasuk makanan istimewa. Minyak jaitun memang digunakan para ermit, tetapi untuk bahan penerang; sedangkan anggur untuk perayaan missa. Akan tetapi kalau para ermit mendapat tamu atau pengunjung, maka para ermit memberikan yang terbaik dengan menghidangkan gorengan, lalapan dengan minyak jaitun kalau dibubuhkan lagi dengan tiga buah jaitun sudah menjadi makanan istimewa, apalagi dengan sajian anggur. Kadang kadang pengunjung membawa minyak jaitun atau anggur, dan untuk penghormatan, ermit juga menyajikan barang bawaan itu untuk disantap bersama dengan tamu. Kecuali kalau ada yang sakit, maka para ermit lain menyajikan makanan yang lebih istimewa, yaitu dengan bumbu minyak jaitun. Para ermit dengan sendirinya sadar untuk menghindari kedua jenis makanan ini, karena dianggap sebagai halangan untuk askese. Pada hari paskah dan minggu, beberapa komunitas para ermit menyediakan kedua jenis makanan ini. Misalnya Palamon mengatakan bahwa saya ini tidak sampai hati makan dengan minyak jaitun dan minum anggur sedangkan Kristus menerita dan mati di salib.

16    Aturan umum: Secara umum para ermit sadar bahwa aturan umum untuk makan adalah: “Mengambil dan memakan apa yang dibuthkan untuk menopang tubuh yang tidak pernah akan merasa puas.” Alasannya, bahwa setan berusaha untuk mengganggu para ermit melalui hal ini. Setan pertama-tama menyapa dengan hal-hal duniawi, kemudian menyemukan kita dengan mengurangi abstinensi dan kemudian membutakan mata. Kadang para ermit idak kekurangan makanan dan minuman berkat para pengunjung. Untuk tidak mengaburkan tujuan utama menjadi ermit, dibutuhkan aturan umum ini.

17    Kehidpan sell: Kalau kita mendengar kata sell, bayangan mengarah pada penjara, tempat para tahanan tinggal, terkunci, terisolasi, tidak ada kontak dengan orang luar, keadaan terpaksa tinggal di dalam sell. Sebenarnya kata sell ini tidak cocok dengan kehidupan para ermit; mungkin kata yang paling cocok digunakan adalah pondok, karena para ermit tidak terisolasi dari dunia luar, tidak terkunci dan ada kontak dengan orang lain dan tidak ada paksaan untuk tinggal di pondok, melainkan keinginan. Di dalam pondok biasanya hanya ditemukan semacam tikar untuk tempat duduk dan sejenis bantal untuk tempat berlutut, menulis atau membaca. Para ermit duduk seperti kaum muslim berdoa, dengan demikian, kadang butuh penopang supaya tahan duduk lama. Para ermit biasanya lebih suka tinggal di pondok daripada di luar pondok, karea di luar banyak pencobaan yang datang, menjaga ketenangan terlebih-lebih waktu padang gurn sudah mulai ramai dengan para pengunjung (sesudah abad V). Para abbas juga menganjurkan para ermit untuk selalu tinggal di sell dengan alasan: kalau mereka tinggal di sell untuk berdoa, makan, minum tidur maka Tuhan akan menganugerahkanmu pertolongan. Abbas Moses mengatakan untuk mengajarkan segala sesuatu yang baik, harus tinggal di sell. Abbas Serenus mengatakan kepada para ermitnya, kalau kalian tinggal di sell, kalian akan mendapat ketenangan (apátheia). Mengapa para ermit bisa tinggal di sell bertahun-tahun? Ada rasa keinginan untuk tinggal (bisa dibandingkan dengan orang yang berpacaran atau yang berkungjung yang selalu ada keinginan untuk bersama, demikian juga para ermit selalu memiliki keinginan bersama dengan Tuhan yang ditemukan di dalam sell). Dengan rasa keinginan ini, para ermit tidak merasa jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu hingga tahun demi tahun berlalu. Sebaliknya para ermit yang sudah merasa bosan tinggal di pondok, cobaan semakin gampang datang, dan dengan cepat bisa meninggalkan hidup ermitnya, (hal ini bisa dibandingkan dengan kehidupan membiara sekarang ini, kehidupan berkeluarga, kalau tidak ada rasa keinginan untuk hidup bersama lagi, maka timbul keinginan untuk mencari dunia lain, dan pada situasi seperti ini setan semakin mendorong untuk lebih jauh).

18    Buku: pada abad ke-tiga, para ermit mengalami kesulitan untuk memperoleh buku. Dengan demikian, mereka biasanya saling meminjamkan buku, mendikte buku ke atas papirus dalam bentuk kodex (bukan volumen, alasannya untuk lebih gampang membuka dan menghapalkan ayat-ayat Kitab Suci, terlebih-lebih Kitab Mazmur) dan kadang diberi figura yang bagus. Buku ini ditulis untuk digunakan sendiri dan kadang dihadiahkan pada pengunjung. Kadang juga dijual, untuk kebuthan mereka dan untuk menolong yang miskin. Kadang pencuri mencuri buku-buku para ermit dan dijual dengan harga yang mahal. Para ermit juga membaca buku pada waktu senggang mereka pada waktu siang dan malam. Kemudian pada abad ke lima, komunitas para ermit menghasilkan buku-buku yang sangat berharga dalam tradisi hidup monastik dan juga kehidupan kristen yang ditulis dalam bahasa coptik (bahasa asli di Mesir sebelum kedatangan tradisi yunani); juga setap komunitas para ermit memiliki perpustakaan. Sayang sekali semua buku-buku ini musnah dibakar oleh kaum muslim pdada akhir abad VI dan awal abad VII. Kita memiliki tradisi hidup monastik ini dari mereka yang berkunjung ke Mesir seperti: Johannes Cassianus, Hironimus, Atanasius, Basilius dll.

19    Doa: Epiphanius mengatakan bahwa ermit yang sesungguhnya harus selalu memiliki Mazmur yang merupakan doa di dalam hatinya. Artinya bahwa mendaraskan Kitab Suci sambil bekerja. Aktivitas ini menjadi kebiasaan para ermit. Alasannya, menurut Evagrius, tidak memberikan resep (petunjuk) secra constant untuk bekerja, berpuasa, tetapi suatu aturan untuk berdoa tanpa henti-hentinya. Doa menjadi explisit dan kuat kalau para ermit berhenti bekerja tangan dan berdiri, merentangkan tangan ke surga sesudah berlutut. Memang benar bahwa frekuensi doa tergantung dari masing-masing ermit, situasi, inspirasi yang menentukan jumlah frekuensi berdoa. Misalnya: Musa berdoa setiap hari sebanyak 50 kali, Evagrius 100 kali, Paulus dari Phreme 300. Apollo berdoa sambil berlutut seratus kali setiap malam sedangkan pada waktu siang lebih dari jumlah itu. Doa yang sering didoakan adalah “Bapa Kami” dan meminta pengampunan dosa.

20    Ibadat harian: pada awalnya, para ermit tidak membagi-bagi ibadat harian, karena mereka berdoa sepanjang hari dan bahkan sepanjang malam. Mereka mengikuti tradisi para rasul, yang datang inspirasi dari malaekat. Kemudian pada abad IV, sesudah semakin berkembangnya kehidupan monastik, para ermmit perlu menentukan waktu untuk berdoa. Dengan demikian, ditentukan ibadat pagi dan sore dengan mendoakan 12 Mazmur; dan akhirya ke-12 mazmur dibagi untuk acara doa sepanjang hari. Kadang, kalau ermit berkumpul dua atau tiga orang saja, salah satu mempersiapkannya sebelumnya untuk dinyanyikan dan yang lain mendengarkan.

21    Kegiatan malam: pada umumnya para ermit mengisi malam hari dengan tiga bentuk kegiatan yang diungkapkan oleh Pacomius: berdoa dari sore hari sampai dengan tengah malam kemudian, berdoa selanjutnya tidur sampai pagi; atau tidur dari sore sampai tengah malam kemudian tidur sampai pagi; atau tidur dan berdoa silih berganti, demikian selanjutnya dari sore sampai pagi. Akan tetapi ada beberapa orang yang berdoa sepanjang malam. Misalnya, Moses beroda sepanjang malam di dalam sellnya selama 6 tahun. Elpidus, bahkan selalu berdoa sepanjang malam di dalam selnya. Sarmatas memiliki hidup lebih lunak dibandingkan dengan kedua ermit sebelumnya, karena dia hanya beroda sepanjang malam selama periode masa puasa. Biasanya para ermit tidur di atas semacam tikar atau tanpa tikar. Kadang ada yang tidur dengan duduk, Pacomius dan saudaranya Johannes misalnya. Bessarion dan Macarius tidak pernah berbaring kalau tidur.

22    Membaca: adalah bukan suatu acara yang umum ditemukan diantara para ermit, karena: mahalnya buku pada saat itu; karena tidak semua ermit bisa membaca. Dengan demikian para ermit lebih suka mendengarkan bacaan yang bisa dibacakan oleh ermit yang tau membaca atau pada waktu missa, kemudian para ermit berusaha mengingatnya sepanjang hari. Disamping itu yang dibaca juga terbatas, yaitu Kitab Suci dan jarang ditemukan terjemahan dalam bahasa setempat; dan jarang orang yang bisa membaca dan mengerti bahasa Yunani. Misalnya, Antonius selalu medengarkan dengan sangat perhatian semua bacaan pada hari minggu dan tidak pernah tertidur selama di gereja. Banyak para ermit yang turun pada hari sabtu dan minggu dari sell ke paroki untuk menghadiri missa dan mereka berusaha mengingat bacaan-bacaan untuk bekal selama satu minggu.

23    Ruminasi (memamah biak): adalah metode untuk mengingat Kitab Suci, dengan demikian metode ini menjadi suatu sistim yang kita kenal dengan lectio diuna, yaitu ruminasi (memamah biak); artinya: para ermit berusaha mengingat dan mengulang kata tau kalimat atau isi dari bacaan sepanjang hari sementara mereka melaksanakan kerja tangan. Misalnya, Daniel bisa me-ruminasi 10.000 ayat Kitab Suci setiap hari. Lucius selalu meruminasi ayat pertama Mazmur 50 (51); Sedangkan Paul lebih suka selalu mengulang “Kasihanilah aku Tuhan”; Isak lebih suka mengingat ayat pertama dari Mazmur 69 (70); Sedangkan Isodore lebih suka akan: “Jesus kasihanilah aku, Jesus tolonglah aku, Tuhan berkatilah aku. Kadang kalau para ermit di sell, sering mengulangi dengan suara yang agak keras, sehingga para tamu bisa menguping, bahkan kadang bisa terdengar dari sell ermit yang lain yang tentu menguntungkannya.

24    Kerja tangan: adalah bukan yang utama, melainkan untuk mengisi waktu senggang dan untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari. Kerja tangan para ermit pertama adalah membuat tali dari palem; daunnya direndam di air supaya lunak, kemudian diuntai menjadi tali yang kemudian bisa dijadikan tikar atau keranjang untuk dijual atau dipakai sendiri. Ada juga ermit yang mengisi waktunya dengan mengumpulkan batu untuk membentuk sell untuk ermit yang baru.

25    Sakit: Beberapa ermit memiliki umur yang panjang; misalnya: Amoun dari Nitria 62 tahun; Pamdo dan Serapion 70 tahun; Paphnutius 80 tahun; Benjamin 81 Tahun; Isodore meninggal pada umur 85 tahun; Cronides dari Nitria, Elias dari Thebaid, Copres dan Macarius dari Mesir memiliki umur 90 tahun; Mark hampir sampai pada umur 100 tahun; Chaeremon lebih dari 100 tahun; Antonius meninggal pada umur 105 tahun; Moses dan Pachon memiliki umur 110 tahun; Paulus meninggal pada umur 113 tahun. Tetapi tidak jarang para ermit memiliki umur yang pendek. Beberapa para ermit memiliki kesehatan yang baik, misalnya Antonius pada saat dia meninggal giginya masih lengkap; matanya masih bening; kaki dan tangannya masih sempurna kesehatannya, bahkan kelihatannya dia lebih sehat daripada ermit yang lain. Akan tetapi beberapa ermit memiliki kesehatan yang minim, bahkan sakit-sakitan. Jenis penyakit pada umumnya adalah lever, sakit perut, karena terlalu banyak askese. Kalau para ermit sakit-sakitan, ermit yang lebih sehat memperhatikannya dengan mengantar makanan. Alasan berikutnya beberapa para ermit tidak peduli akan kesehatan; dan juga mau berpartisipasi akan penderitaan Kristus yang lebih keras. Tidak jarang abbas harus keliling ke sel-sel para ermit untuk mengontrol apakah ada ermit yang sakit, dan kalau dia keliling tidak pernah lupa membawa obat dan makanan yang bergiji seperti buah anggur dan buah-buahan lainnya.

26    Tentang meninggal: para ermit datang ke padang gurun untuk menunggu tanah terjanji; sehingga mereka tidak takut akan sakit bahkan akan kematian. Bagi mereka hidup setiap hari adalah seperti sedang meninggal, artinya selalu siap sedia untuk meninggal. Misalnya Evagrius dan Macarius mengatakan bahwa para ermit selalu bepikir bahwa besok akan meninggal. Bahkan seorang ermit tua berpikir bahwa dia bisa mati setiap saat. Yang lain mengatakan bahwa dia selalu menuggu kematian siang dan malam. Seorang lagi mengatakan kepada tubuhnya: “Engkau akan mati dan apakah saya mati besok atau tidak.” Ini adalah suatu metode untuk menghindari patah semangat untuk hidup ini. Beberapa ermit mengetahui saat meninggalnya, kata Johannes Likopolis; karena seorang ermit mengatakan kepada ermit yang lain bahwa dia akan meninggal tiga hari lagi; dan apa yang dikatakannya itu benar, sesudah hari ketiga ia meninggal. Tetapi kebanyakan ermit tidak mengetahuinya, da banyak sudah mempersiapkan diri tetapi kematian toh tidak kunjung datang, dan dia menangisi dirinya. Ada seorang ermit yang namanya tidak disebutkan, sudah hampir meninggal dan para ermit yang lain sudah berkumpul di sekelilingnya sambil menangis. Kemudian sang ermit membuka matanya dan tertawa tiga kali. Kemudian seorang ermit bertanya kepadanya mengapa tertawa tiga kali dan jawabnya: “Pertama, saya tertawa karena kalian belum siap untuk meninggal; kemudian saya tertawa kedua kalinya karena kalian takut meninggal; saya tertawa ketiga kalinya karena saya melepaskan diri dari kerja dan pergi istirahat.”

27    Cara meninggal: pada umumnya kalau ada ermit yang mau meninggal, para ermit yang lain mengelilinginya dan mendoakannya. Akan tetapi, ada ermit yang sudah tau saat ajalnya tiba, ia menyendiri dan meninggal di sana. Bahkan ada ermit yang meninggal di selnya tanpa diketahui ermit yang lainnya dan ditemukan oleh pengunjung. Bagi para ermit, cara meninggal itu tidak penting, tetapi yang penting adalah mendapatkan tanah terjanji. Beberapa ermit meninggalkan nasehat atau pesan-pesan kepada ermit yang lain, sebagaimana halnya dengan keadaan kita sekarang ini.

28    Pemakaman: ada berbagai cara pemakaman para ermit: cara pertama, dengan menggali padang pasir tidak begitu dalam dan kemudian memakamkannya di situ; dan tidak jarang binatang buas menggali dan memakan jenazah ermit ini; cara kedua dengan memperisapkan pemakaman dengan baik, mencuci jenazah membungkus dengan kain linen dan memakamkannya di pemakaman, karena menurut mereka ini, orang yang meninggal juga membutuhkan perlakuan yang baik. Bahkan pada suatu ketika saat memasukkan jenazah seorang ermit ke dalam makam, seorang ermit menanyakan kepada yang meninggal: “Apakah sudah cukup sedalam ini?” Lalu dari liang kubur menyahut: “Sudah, terimakasih.” Ada juga erimit yang dimakamkan ke atas bukit atau gunung, karena menurut tradisi orang Mesir, pemakaman adalah di atas bukut yang jauh dari tempat tinggal dan jauh dari genangan air (ingat akan piramit yang sebenarnya adalah tempat pemakaman yang didirikan diatas bukit). Lalu ada ermit meminta jenazahnya dibuang di padang gurun, supaya dimakan binatang buas, sebagai silih akan dosa-dosanya kepada Tuhan. Bagaimana pemakaman, itu tidak penting bagi para ermit, yang penting adalah bahwa jiwa mereka hidup bersama para malaekat di surga dengan iringn surgawi bersama para martir. Inilah harapan dan tujuan para ermit pergi ke padang gurun.

 

7. Hidup monastik di barat

Kehidupan monastik di barat dibawa dari gereja timur, karena pada awal abad ke IV, banyak dri barat mengadakan perjalanan ke timur, dan melihat bahwa hidup monastik adalah cara yang baik untuk mengikuti Kristus. Cara ini diterapkan di barat dengan situasi yang berbeda. Di barat, padang gurun tidak ditemukan, lalu kehidupan monastik dilaksanakan di daerah-daerah yang sunyi di berbagai pulau kecil-kecil, yang jauh dari keramaian penduduk. Di biara, para ermit, disamping melaksanakan pekerjaan sehari-hari, doa bersama dan pribadi (lectio divina) juga mempelajari Kitab Suci, dan lama kelamaa biara menjadi pusat studi, pusat liturgi dan menulis berbagai manuskrit dan buku liturgi. Kemudian dari abad pertengahan, muncul universitas, yang kemudian mengambil alih posisi biara. Para ermit juga kadang-kadnag mendirikian biara di dekat katedral (St. Petrus, St. Laurentius dan St. Sebastianus), untuk melaksanakan pelayanan di gereja, seperti koor dan liturgi lainnya. Pada tahun 800, sudah ada kira-kira 46 bira di kota Roma.

Biara pertama yang ditemukan di Italia didirikan oleh Eusebius di Vercelli pada pertengahan abad IV, kemudian di Bologna dan Verona, Aquileia (Trieste) sekitar tahun 370. Paulus di Nola mendirikan bira juga di Nola (dekat Napoli). Kemudian pada abad V, Benediktus mendirikan dua biara di Subiaco dan Gunung (Monte) Cassino yang kita ketahui dari buku Dialogi 2 Gregorius Agung. Pada abad ke VI, sudah bayak ditemukan bira di Italia, termasuk yang didirikan oleh Gregorius Agung yang bernama biara St. Andreas di bukit Coelius. Cassiadorus mendirikan biara di Vivarium, dekat Scylacium, Calabria pada tahun 583. Kemudian di Gallia (Prancis) juga sudah ditemukan biara pada abad IV di Tours yang didirkan oleh uskupnya Martinus, kemudian di Poitiers, kemudian di Marsiglia pada abad V oleh Johannes Cassianus. Kemudian di Iberia (Spanyol) sudah dumulai pada akhir abad IV di Tarragona; pada abad VI dimulai di Braga, Seviglia. Di Cartagine, sudah banyak para perawan yang hidup di bira pada abad ke IV, kemudian pada akhir abad ini (397), Agustinus menambahkan lagi untuk para laki-laki dan perempuan. Di Irlandia dimulai oleh Patritius yang meninggal pada tahun 461, sedangkan di Inggris, mulai pada akhir abad VI, oleh ermit missioner yang dikirim oleh Gregorius Agung dari biara yang didirikannya, St. Andreas di Roma.

 

 

1 Komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

One response to “PATROLOGI

  1. Ping-balik: Catatan Kuliah Patrologi | The Journal of Philosophy and Theology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s