Filsafat Politik, 5 Februari 2013

Aspek Historis

The Beginning of Political Philosophy sering kali diasalkan oleh para sejarawan filsafat pada Socrates. Socrates adalah the founder of Political Philosophy. Mengapa bukan filosof sebelumnya? Para filosof sebelumnya banyak disebut kaum sofis. Bukan juga dari filosof kosmologis. Filosof sering kali berawal dari alam. Namun Socrates punya cara bicara yang baru dalam ranah pergumulan rasionalitas yaitu apa yang disebut dengan filsafat politik. Kalau kita melihat dengan teliti pergulatan filosofis Socrates, Socrates disebut filosof politik bukan karena dia menulis filsafat politik, bukan penulis buku politik, bukan teoritis politik, bukan penasihat penguasa, tidak ada hubungan dengan kekuasaan. Inilah Adventure of Socrates’ Political Philosophy. Mengapa disebut pendiri, bahkan inisiator political philosophy. It’s based on what Socrates Concern with. Socrates pertama-tama bergulat dengan manusia, the human being. Manusia adalah tema filsafat Socratean. Kita tahu bahwa Aristofanes, Xenophanes, orang-orang ini berada pada bilangan filosof sofis, filosof sebelum Socrates, juga berurusan dengan manusia. Lantas apa beda filsafat manusia Socratean dengan Sofis? Apa yang khas dari Socrates ialah pertanyaannya. Apa pertanyaan Socrates? Apakah manusia?” Bagaimana dengan sofis? Mereka bertanya pada hal-hal praktis. Sofis sering kali mendapat konotasi kurang baik dalam sejarah filsafat, sebab gaya bertanya mereka adalah gaya yang menelikung, seperti hanya untuk perdebatan bertele-tele yang ujung-ujungnya menjadi bingung sendiri. Ketika Socrates bertanya “Apa itu manusia?” dia menemukan apa sebagai jawaban? “Apa itu manusia” oleh Socrates dipakai untuk menggali natura manusia, kodrat manusia. Jadi “Apa kodrat manusia?” Inilah yang menjadi awal filsafat politik.

Apa artinya “kodrat manusia”? Socrates deklamator, pencetus pertanyaan mengenai natura manusia, itu sama dengan apa itu natura negara. Ini yang membuat Socrates menjadi pendiri Filsafat Politik. Ini adalah statement yang akan menghantar kita pada politik. Sesudah Socrates adalah Plato, Aristoteles. Sebelum mengurus apa yang disebut politik, bertanya dulu “Apa itu manusia?” Nanti kita tahu Agustinus, Thomas Aquinas, Machiavelli, Thomas Hobbes yang dalam buku pertama bertanya soal “Siapa manusia?” Locke, Rousseau, Montesqiu, Karl Marx bertanya siapa manusia yaitu Homo Oeconomicus, Lenin. Bayangkan ketika revolusi Amerika, konstitusi Amerika pertama-tama menyebut “We are the people of United States of America . . .” Sukarno juga menyebut, “Kami bangsa Indonesia . . .” Dalam pidato 1 Juni 1945, pertama-tama ia bertanya “Kita mau apa?” Sukarno tidak menyebut aturan-aturan. Pertama-tama yang harus ditanyakan adalah “Siapakah manusia Indonesia?” Jawabannya bukan manusia Indonesia itu orang Jawa, Sumatra, Kalimantan. Manusia Indonesia adalah persatuan Indonesia. Manusia-manusia Indonesia bukan manusia-manusia beragama, tetapi ber-Ketuhanan.

Jadi cara mendefinisikan politik Indonesia itu bukan melalui abstraksi mayoritas – minoritas. Manusia Indonesia bukan yang secara mayoritas didominasi oleh siapa. Dan ini tampak sekali dari apa yang disebut dengan BAHASA. Peran para pendiri negara lebih hebat dari apa yang dapat mereka rumuskan pada tahun 1945 menjelang 17 Agustus. Waktu itu didirikanlah BPUPKI, dan para pendiri keliru kalau hanya sekadar dimengerti dari rumusan, produk rumusan, melainkan kejeniusan para pendiri ini sudah diintroduksi dari cara mereka mendefinisikan manusia Indonesia. Ini tampak kelak dari cetusan tentang kesepakatan penggunaan bahasa.

Dalam filsafat politik, bagaimana peradaban politik berkembang, dapat dilihat dari perkembangan para filosof politik yang tampak dari judul bukunya.

Title of Political Philosophy:

  • Plato à Republica / Politeia
  • Aristoteles à Politics (sama dengan Plato, hanya saja Plato menulisnya dalam dialog)
  • Agustinus à De Civitate Dei / Kota Allah (Civitas = keseluruhan dari perihal negara)
  • Thomas Aquinas à Summa Contra Gentiles (Summa = ringkasan; contra = melawan; kekafiran)
  • Thomas More à Utopia
  • Machiavelli à Il Principe / The Prince
  • Hugo Grotius à Natural Law
  • Thomas Hobbes à De Cive, dan Leviathan
  • John Locke à Treatis of Government dalam dua buku: 1st dan 2nd
  • Social Philosophers of France à menulis traktat-traktat tentang Economical Analisies. Pada periode sesudah Revolusi Prancis adalah analisis-analisis ekonomi.
  • Karl Marx à Das Capital, Communism
  • Frankfurt School 1920an-1950an antara lain Adorno, Erich From, Marcuse, Habermas à mereka melakukan kritik-kritik tentang Marx Socialism.
  • Sukarno dkk. à Pancasila
  • Habermas à Theory of Communicative Society
  • John Rawls à Theory of Justice “Justice as Fairness”
  • Eric Voegelin à Aspek Historis dalam Filsafat Politik
  • Leo Strauss à Essoterism Analisys
  • Hannah Arendt à The Origins of Totalitarianism

Dari judul-judul buku filsafat politik ini, Plato dan Aristoteles berada pada satu wadah / asal-usul, yaitu bahwa filsafat politik berurusan dengan polis. Politik berarti penataan polis, maka disebut Politheia. Agustinus, Thomas, dan More masuk dalam filosof Kristen. Mereka memiliki kekhasan untuk membela karakter kekristenan. Utopia kita pahami sebagai sesuatu yang tidak ada di mana pun, namun dalam More, Utopia berarti suatu cita-cita untuk menjelaskan bahwa inilah tata pemerintahan yang baik. Ini adalah cita-cita yang sangat baik. Utopia merupakan perpaduan politik dengan Kekristenan. Utopia adalah karya More sebelum dia dieksekusi mati karena membela iman Katolik ketika skisma Gereja Katolik dengan Henry VIII. Inilah periode di mana politik digandengkan dengan spirit kekristenan.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s