LITURGI KURBAN EKARISTI

Liturgi bagi umat seringkali hanya bermakna sebagai suatu perayaan, sehingga tidak heran, jika berbicara mengenai liturgi ditengah umat mereka langsung berbicara mengenai lagu yang liturgis, sujud yang liturgis, ini dan itu yang harus liturgis. Bahkan para religius bergulat dengan  ini. Bukan tidak penting apabila kita berbicara mengenai perayaan liturgi, akan tetapi akan kehilangan arah jika kita selalu disibukkan dengan hal tersebut tanpa melihat makna yang lebih dalam daripada hanya sebatas perayaan.

Keadaan ini bukan tanpa problem. Keadaan ini akan mempengaruhi seluruh penghayatan dan pengertian akan liturgi sebagai perayaan dan makna liturgi itu sendiri. Inti dari perayaan menjadi sangat sulit dimengerti. Misalnya, perayaan Ekaristi adalah perayaan dimana Kristus hadir secara nyata dan berkarya dalam hidup umat-Nya. Akan tetapi umat ternyata lebih mementingkan kotbah imam daripada kehadiran Kristus dalam Kurban Ekaristi. Perayaan mengagumkan itu menjadi sebatas perayaan.

Lain dari pengertian dan anggapan ‘kebanyakan’ umat, kami akan melihat bagaimana seharusnya liturgi dipahami. Apa makna terdalam yang terkandung di dalamnya dan bagaimana kita harus menanggapinya. Tentunya makalah yang sangat singkat ini tidak dapat membahas liturgi secara keseluruhan bersama dengan bagian-bagiannya. Kami akan membahas Kurban Kristus sebagai Kurban Ilahi dalam makalah Yang Mulia Joseph Kardinal Ratzinger dan sekaligus tanggapan atasnya.

  1. 2.      Kurban Ekaristi

Pemahaman umat pertama-tama tentang  liturgi , yang dilihat dari perayaan ekaristi, adalah sebuah perayaan, perayaan kurban. Pemahaman ini  membawa konsekuensi besar terhadap iman umat dan penghayatannya dalam hidupnya. Bahkan para reforman sebelum konsili Trente jatuh pada pengertian akan Ekaristi sebagai perayaan kurban yang sangat mengerikan. Jelaslah pengertian semacam ini, yang melihat kurban hanya dari praktiknya saja tanpa melihat makna yang ada didalamnya. Selain itu, kurban ini dilihat pula sebagai suatu karya manusia, bukan karya Allah. Pantas saja bahwa perayaan ini menjadi perayaan yang menunjukkan ketidakberimanan. Hal ini menjadi permasalahan yang diperdebatkan oleh para ahli.

Kurban & Paskah

Kurban paskah memperoleh pendasarannya dalam Kitab Suci Perjanjian lama dan diberi arti baru dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Kel 24, kurban Paskah adalah anak domba yang darahnya menjadi tanda penyelamatan bangsa Israel dan Musa juga berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan” (Kel 24:8). Peristiwa kurban ini jelas ditafsirkan dari perjanjian lama. Paskah Kristiani diartikan secara baru dalam Perjanjian Baru melalui “misteri Paskah”. Misteri Paskah secara jelas mengacu pada permulaan Kamis Putih sampai Mingguh Paskah: dari Perjamuan Terakhir sebagai pendahulu salib, drama penyaliban di Golgota dan kebangkitan Tuhan. Dalam ungkapan “misteri Paskah” seluruh kejadian ini diungkapkan sebagai satu kesatuan peristiwa yaitu “karya Kristus”. Dalam drama penyaliban itulah ide kurban menjadi nyata bagi kita dan memperoleh arti yang sangat penting. Dimana kurban Kristus adalah kurban penebusan, tindakan penyelamatan manusia dari perhambaan dosa. Dalam konsep ini jugalah, kita tidak bisa memaksakan  liturgi  dan menyederhanakannya sekadar perjamuan persaudaraan atau hanya sebagai sebuah perayaan. Konsep kurban lambang ketidakberimanan ditantang dengan pengertian baru.

Pengurbanan sebagai Ungkapan Cinta

Karya penebusan ini menjadi sebuah ungkapan cinta Allah kepada manusia. Ia telah menyerahkan Anak-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia. Allahlah yang mengambil inisiatif untuk membangkitkan dalam diri manusia cinta sebagaimana Allah mencintai manusia. Allah justru tidak menginginkan kurban sembelihan dari manusia. Ia berkenan akan pertobatan manusia dengan dipenuhi cinta. Ungkapan cinta inilah yang menjadikan  liturgi  ini bukan suatu  liturgi  yang mengerikan, melainkan  liturgi  cinta kasih. Sehingga perayaan ekaristi bukan perayaan pengurbanan yang menakutkan, melainkan perayaan dimana manusia menerima dan merasakan cinta kasih Allah.

Bait Allah yang Baru

Yohanes dalam injilnya, menggambarkan reaksi Yesus di Bait Allah, yang mungkin menimbulkan kegaduhan besar sehingga orang yahudi sampai menantang Yesus: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2: 18-19). Kata hiasan ini, menurut Yohanes baru dipahami para murid setelah kebangkitannya (Bdk: Yoh 2:22) dimana bait Allah yang dimaksudkan Yesus adalah diriNya sendiri. Inilah kurban sejati yaitu ketika Yesus memberi diriNya dihancurkan sebagai manusia dan dengan keallahanNya Ia bangkit kembali untuk merombak bait Allah. Ia merombak tata ibadat lama dengan yang baru dan yang dapat menyelamatkan manusia.

Kurban Rohani

Ketika Bait Allah telah dihancurkan pada zaman para nabi dan ketika tidak ada lagi tempat untuk mempersembahkan kurban sembelihan, satu-satunya kurban adalah kurban ungkapan diri dan hati manusia (Bdk. Dan 3:37-41). Kurban bukan lagi melulu kurban anak domba, akan tetapi kurban yang lebih sejati yaitu ucapan bibir yang memuliakan Allah (Bdk. Ibr 13:15) dan persembahan kepada Allah ialah jiwa yang menyesal. Inilah kurban sembelihan yang memiliki arti baru sebagai kurban rohani.

Kristus sebagai Subyek Liturgi

Akhirnya dapat dipahami bahwa Kristus bertindak dalam  liturgi. Manusia sendiri tidak dapat membangun jalan menuju Allah. Tuhan sendirilah yang membukakan jalan bagi manusia. Lagi pula, jalan manusia tidak tertuju kepada Allah. Akan tetapi dalam  liturgi  jalan itu dibukakan bagi kita; tidak hanya berbicara, Dia hadir juga dengan tubuhNya, jiwaNya, dagingNya, dan darahNya keilahianNya dan kemanusiaanNya, untuk menyatukan diriNya dengan manusia. Dalam  liturgi  Kristiani sejarah keselamatan dan sejarah manusia berada dalam pencarian akan eksistensi Allah, yang hadir, dan dituju.

  1. Tanggapan beberapa pandangan dalam makalah “ Theology of The  liturgi ”

Pengertian kurban yang ditangkap Luther dan para pendukungnya, bagi Ratzinger berawal dari kenyataan bahwa mereka hanya melihat ke dalam praktik Ekaristi tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Kemudian Ratzinger menjelaskan dalam makalahnya mengenai makna Ekaristi sebagai kurban itu sendiri. Tetapi pandangan Ratzinger dalam makalahnya ini seakan-akan memisahkan antara makna Ekaristi dari dengan praktiknya. Bila ia ingin menjelaskan makna Ekaristi sebagai kurban, maka sebenarnya ia harus menjelaskan makna dari praktik-praktik yang ada itu juga. Karena antara praktik dan maknanya merupakan satu kesatuan.

Ratzinger berpendapat bahwa prinsip penelitian liturgi, pertama-tama harus mempercayai dan mendasari segalanya dengan Kitab Suci. Tetapi dalam makalahnya ini terutama penjelasan mengenai Ekaristi sebagai Kurban Ilahi, Ratzinger lebih banyak mengutip filsafat terlebih pemikiran Agustinus daripada Kitab Suci sendiri. Pemikiran Ratzinger ini sebenarnya bisa dipahami, dimana ia mau menjelaskan gagasan misa Abad Pertengahan sebagai penjelasan atas pemikiran Luther yang juga mengambil misa Abad Pertengahan.[1]

Dalam makalahnya Ratzinger menekankan subjek liturgi adalah Kristus sendiri, tetapi perlu diingat pula bahwa liturgi tidak bisa terlepas dari Gereja. Dalam liturgi, Kristus bertindak melalui dan bersama Gereja, sekaligus dalam liturgi yang satu dan sama, Gereja bertindak melalui dan bersama Kristus.[2] Kristus dan Gereja dilambangkan oleh Rasul Paulus sebagai kepala dan Tubuh, dimana mereka merupakan satu kesatuan yang terpisahkan.

Pada artikel yang keenam disebutkan dalam peristiwa Ekaristi merupakan perjumpaan dengan Kristus yang melampaui ruang dan waktu. Gagasan ini memang sulit untuk diterima terutama oleh kaum reformis. Gagasan ini lebih mudah diterima pada zaman patristik dimana mereka terbiasa dengan pola pikir simbolis. Pada prisipnya hal ini dapat dimengerti pada teologi simbol, dimana simbol itu tidak hanya menunjuk pada realitas yang dilambangkan melainkan melalui dan dalam simbol itu nyatalah apa yang dilambangkan. [3]

  1. 4.      Penghayatan Kurban Ekaristi

Pemahaman kurban Ekaristi kini menjadi lebih jelas bagi kita, bahwa kurban Ekaristi adalah perayaan misteri paskah dimana Yesus merelakan diriNya sebagai silih atas dosa-dosa kita. Kurban ekaristi tidak bisa dipahami sebagai suatu peristiwa historis belaka dan sebagai perayaan, ekaristi inipun bukan juga sebagai ilmu yang hanya dapat dipikirkan dalam konsep-konsep manusia. Akan tetapi kurban Ekaristi sebagai Misteri Paskah, ungkapan cinta Allah terhadap manusia dan Bait Allah baru, serta menjadi kurban rohani yang tidak hanya ada dalam konsep pemikiran ataupun hanya dapat dimengerti dari praktik belaka tetapi benar-benar hidup dalam diri manusia. Ekaristi menjadi kekuatan penggerak dalam budi dan hati manusia. Dengan demikian  liturgi  yang mengungkapkan pengenangan dan karya Kristus tidak seharusnya dijadikan bahan percobaan dan menjadi produk “konsensus” manusia. Sebab Kristus bertindak dan menyatakan diriNya dalam  liturgi .

DAFTAR PUSAKA

Bosco Da Cunha. Diktat litugi

Martasudjita E.. Pengantar Liturgi. Yogyakarta: kanisius, 2007


[1] Bosco Da Cunha. Diktat litugi. Hlm. 29

[2] E. Martasudjita. Pengantar Liturgi. Yogyakarta: kanisius, 2007, hlm. 36

[3] Ibid. hlm. 35

Tinggalkan komentar

Filed under Liturgi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s