EKSISTENSIALISME DAN HUMANISME

Pertama-tama gagasan akan “Eksistensialisme dan Humanisme” yang digarap oleh Sartre ini terkesan emosional. Mengapa demikian? Gagasan ini selintas merupakan tanggapan terhadap kaum-kaum yang mengkritik jalur filsafat ini. kritik tentang Eksistensialisme dilancarkan oleh beberapa pihak, diantaranya kelompok komunis (eksistensialisme dikritik sebagai gerakan yang mengundang orang untuk tinggal tenang dalam keputusasaan. Karena, apabila setiap cara pemecahan masalah terhambat, orang harus menganggap bahwa setiap tindakan yang diambil di dunia ini sebagai tidak efektif, dan akhirnya orang akan sampai pada suatu filsafat kontemplatif). Dari sumber yang lain, eksistensialisme dituduh menggarisbawahi semua yang memalukan tentang situasi manusiawi, karena kami menggambarkan apa yang kasar, jorok, atau kotor untuk menghindari hal-hal tertentu yang memiliki pesona dan keindahan, termasuk sisi yang lebih terang watak manusia: misalnya, menurut seorang kritikus Katolik, Mlle. Dari perspektif Kristen, melontarkan kritik demikian, bahwa eksistensialisme sebagai orang-orang yang mengingkari realitas dan masalah-masalah manusia yang serius. Karena semenjak kita tidak mengindahkan perintah Allah dan semua nilai yang dianggap abadi, tidak ada lagi yang tinggal kecuali apa yang sepenuhnya menjadi kehendak manusia. Setiap orang dapat melakukan apa yang dikehendaki dan tidak akan dapat lagi, dari sudut pandang ini, menyalahkan sudut pandang ataupun tindakan orang lain.

Bertolak dari beberapa kritik diatas, Sartre menghadirkan gagasannya tentang Eksistensialismen dan Humanisme ini. Dia beranggapan, mungkin dengan cukup yakin bahwa jalur filsafat ini Karena sebenarnya filsafat ini, di antara ajaran-ajaran filsafat lain, adalah yang paling tidak melanggar susila dan sangat bermoral. Filsafat ini dimaksudkan secara khusus untuk para ahli subjek tertentu dan filosofis. Meskipun filsafat ini dapat dengan mudah didefinisikan. Hanya menjadi sedikit lebih rumit dengan adanya dua macam atau jenis eksistensialis. Kedua jenis eksistensialis ini adalah eksistensialis Kristen dan eksistensialis Atheis. Apa yang menjadi kesamaan antara kedua cabang eksistensialisme ini adalah bahwa kedua-duanya sama-sama meyakini bahwa eksistensi mendahului esensi.

Sartre memulai pembahasannya dari subjektivitas. Apa persisnya yang kita maksud dengan subjektivitas ini? disini dia mengambil dua contoh menarik untuk menjelaskan apa itu subjektivitas, yaitu dengan konsep “mencipta” yang dilakukan oleh Tuhan dan seorang pembuat pisau pemotong kertas. Tuhan menciptakan manusia seturut suatu prosedur dan suatu konsepsi, persis-mirip dengan orang membuat pisau pemotong kertas , yaitu mengikuti suatu definisi dan suatu formula. Dengan demikian, setiap individu manusia adalah perwujudan suatu konsepsi tertentu yang ada di dalam pengetahuan Yang Ilahi. Dalam Atheisme, filosofis abad kedelapan belas, ide tentang Tuhan dihilangkan, tetapi tidak dalam pengertian figuratif, melainkan ide bahwa esensi mendahului eksistensi ditolak; gagasan-gagasan yang serupa masih dapat ditemukan di mana-mana dalam karya-karya Diderot, Voltaire dan bahkan Kant. Manusia mempunyai watak manusia; “watak manusia” ini yang merupakan konsepsi manusia; dapat ditemukan dalam diri setiap orang; ini berarti bahwa setiap orang adalah sebuah contoh suatu konsepsi universal, yaitu konsepsi manusia universal. Dalam Kant, universalitas ini diterapkan sangat jauh sehingga manusia tidak beradab yang hidup di hutan, manusia sederhana, manusia borjuis semua mempunyai definisi dan kualitas fundamental yang sama. Di sini, sekali lagi, esensi manusia mendahului eksistensi historis yang kita alami dalam realitas sehari-hari.

Eksistensialisme atheistik, menyatakan dengan sangat konsisten bahwa jika Tuhan tidak ada, sekurang-kurangnya ada kehidupan yang eksistensi mendahului esensinya, kehidupan yang hidup sebelum ia dapat didefinisikan dengan konsepsi apa pun. Kehidupan ini adalah manusia, atau, meminjam istilah Heidegger, realitas manusia. Apa yang dimaksudkan dengan eksistensi mendahului esensi? Maksudnya ialah bahwa, pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia kemudian ia mendefinisikan dirinya. Seorang eksistensialis memandang dirinya sebagai eksistensi yang tidak dapat didefinisikan karena ia tabu ia memulai hidup atau eksistensinya dari ia yang bukan apa-apa. Ia tidak akan menjadi “apa-apa” sampai ia menjadikan hidupnya “apa-apa”. Dengan demikian, tidak ada watak manusia universal, karena tidak ada Tuhan yang mempunyai konsepsi semacam itu. Manusia adalah manusia itu sendiri. Bukan bahwa ia adalah apa yang ia anggap sebagai dirinya, tetapi ia adalah apa yang ia ingini, dan ketika ia menerima diri setelah mengada, ketika apa yang ia ingini terwujud setelah ia meloncat ke dalam eksistensinya. Manusia adalah bukan apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri. Itulah prinsip pertama eksistensialisme. Dan itulah apa yang kita sebut “subjektivitas”. Tetapi apa artinya ketika mengatakan bahwa manusia lebih bermartabat daripada sebuah meja atau batu? Artinya adalah bahwa manusia pertama-tama ada, yaitu bahwa, di atas segalanya, manusia adalah sesuatu yang meluncurkan diri ke masa depan dan menyadari bahwa ia melakukannya. Dengan demikian, manusia adalah sebuah proyek, yang memiliki kehidupan subjektif. Ia bukanlah sejenis lumut, jamur atau bunga kol. Sebelum proyeksi diri itu ia bukanlah apa-apa, bahkan dalam dunia ide sekalipun. Manusia hanya menjadi ada apabila ia menjadi apa yang ia inginkan. Bagaimanapun juga, manusia bukanlah apa yang ia inginkan. Karena apa yang biasanya dipahami sebagai harapan atau keinginan adalah keputusan yang diambil secara sadar (lebih sering disadari daripada tidak) setelah diputuskan.

Bagaimanapun juga, apabila memang benar bahwa eksistensi mendahului esensi, manusia menjadi bertanggung jawab atas hidupnya. Dengan demikian, efek eksistensialisme yang pertama adalah bahwa filsafat ini menempatkan manusia pada posisinya sebagai dirinya sendiri, dan meletakkan keseluruhan tanggung jawab hidupnya sepenuhnya di pundak manusia itu sendiri. Dan ketika kita mengatakan bahwa manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bukan bermaksud mengatakan bahwa tanggung jawabnya hanya meliputi individualitasnya sendiri melainkan mencakup tanggung jawab atas semua manusia. Kata “subjektivitas” harus dipahami dalam dua pengertian. Di satu sisi, subjektivitas berarti kebebasan subjek-subjek individual, dan, di sisi lain, bahwa manusia tidak dapat melampaui subjektivitas. Adalah yang kedua yang memiliki makna eksistensialisme yang mendalam. Apabila kita mengatakan manusia memilih dirinya sendiri, ini tidak berarti bahwa setiap orang dari antara kita harus memilih dirinya sendiri, tetapi juga bahwa dalam memilih untuk diri sendiri, manusia memilih untuk semua. Karena efek dari tindakan-tindakan yang ia pilih untuk menciptakan dirinya. Seperti keinginan, kehendaknya untuk menjadi, tidak ada satu pilihan pun, dan yang sekaligus merupakan citra manusia yang ia yakini mesti ia wujudkan, yang tidak kreatif. Memilih keputusan ini atau itu pada saat yang sama adalah penegasan nilai yang kita pilih, karena kita tidak pernah memilih pilihan yang paling buruk. Apa yang kita pilih selalu pilihan yang paling baik; dan tidak ada satu pilihan pun yang lebih baik bagi kita kecuali pilihan-pilihan yang lebih baik bagi sesama manusia. Lebih jauh lagi, jika eksistensi mendahului esensi dan kita ingin mengada dan pada saat yang sama mewujudkan citra kita, citra tersebut valid untuk semua manusia dan semua jaman di mana kita. hidup. Dengan demikian, ternyata tanggung jawab kita jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan, karena tanggung jawab kita meliputi seluruh umat manusia.

Humanisme bagi Sartre adalah pengertian bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Manusia merupakan makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan kesendiriannya, maka ia-lah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian dirinya). Relasi antara transendensi manusia dengan subjectivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri melainkan selalu hadir dalam semesta manusia) itulah yang disebut Sartre dengan existential humanism. Hal  ini disebut humanisme karena mengingatkan bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu. Manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah , Jean Paul berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindak secara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s