Filsafat Politik, 11 Maret 2013

Konstitusi menunjukkan bagaimana sebuah negara dibentuk dan dijalankan. Itu bukan bentuk negara. Misalnya Plato menyebut timokrasi, itu sebuah pemerintahan yang dijalankan oleh militer. Konsekuensi besarnya adalah bahwa negara itu memiliki apa yang disebut dengan cinta akan perang. Misalnya Korea Utara. Korut itu negara yang punya kebijakan amat jelas, porsi terhadap anggaran belanja negara itu adalah ada pada preferensi bidang militer.

Dan demikian seterusnya misalnya dengan tirani. Mungkin tidak ada negara yang berani menyebut negaranya tiran, tetapi itu tampak dalam sebuah tata hidup bersama diurus / diselenggarakan. Jerman semasa Hitler begitu tiran, tetapi misteri kehadirannya sangat sosiologis, pada waktu itu Jerman amat sangat terpuruk. Jerman kalah perang dunia I dengan perjanjian Versailles. Jerman praktis kalah total. Kehancuran itu diteken di Versailles, di mana Jerman betul-betul tidak punya apapun untuk dibanggakan. Jerman dikuasai Prancis, sehingga harga kebutuhan pokok melambung tinggi sekali. Jerman sangat terpuruk. Banyak orang Jerman menjadi pengemis. Lebih parah lagi pada waktu musim dingin, banyak yang mati. Jerman membutuhkan sosok pribadi yang bisa mengangkat keterpurukan bangsa itu. Muncullah Hitler. Dalam bukunya, Mainkampfh, Hitler masuk dalam relung keterpurukan Jerman pada waktu itu. Negara tiran terbentuk ketika negara itu sangat terpuruk. Indonesia juga pernah mengalaminya yaitu pada masa awal pemerintahan Suharto. Logika ini terus terulang ketika urusan ekonomi menjadi urusan yang sangat berat.

Di satu dua negara, misalnya di Italia, muncul pemilu yang tak dapat membentuk pemerintahan. Italia memiliki sistem parlemen. Warga Italia memilih anggota parlemen. Ada tiga partai mayoritas yaitu partai kiri, partai kanan, dan partai gerakan lima bintang. Partai kiri memiliki kebijakan ekonomi politik yang namanya melawan “pengencangan ikat pinggang”, pengetatan pengeluaran melalui pemotongan pengeluaran. Partai kanan membelanjakan semua anggaran. Dua partai besar ini bertentangan dan tidak bisa sejalan. Gerakan lima bintang tidak mau ikut salah satu partai besar ini. Mereka justru mengajukan referendum untuk keluar dari zona Euro. Dalam filsafat politik, pengalaman munculnya gerakan lima bintang ini menunjukkan bahwa negara-negara Eropa itu bangkrut karena masuk dalam zona Euro. Ide pertama ialah pemimpin gerakan lima bintang menggelorakan semangat anti Euro dengan bukti-bukti keterpurukan. Untuk lepas dari krisis, harus keluar dari zona Euro. Tirani muncul ketika negara masuk dalam keterpurukan. Demikianlah kita ketika jatuh dalam keterpurukan. Kita mudah untuk terombang-ambing.

Konstitusi negara menurut Aristoteles dan Plato mengajar kita banyak hal. Tentu sangat sederhana dari sudut pandang konstitusi negara. Tetapi indikasi pertama yang paling jelas soal konstitusi mereka, seolah-olah memercik dalam negara-negara modern. Misalnya konstitusi pertama ialah konstitusi Amerika Serikat. Apa yang kita pelajar dari konstitusi negara modern? Konstitusi ini menunjukkan secara jelas apa arti dari sebuah bangsa. “We are the people of the united states proclaim our freedom.” Begitu juga dengan teks proklamasi Indonesia. Hal ini yang diutamakan. Hal yang lain belakangan. Kalimat proklamasi kita punya rujukan yaitu konstitusi United States. Amerika adalah contoh nyata bagaimana mereka sebagai sebuah bangsa didera oleh berbagai macam perpecahan. Pada waktu perang saudara di Amerika, sering muncul kelompok utara dan selatan. Misalnya Chicago, menjadi ibukota Amerika utara. Maryland menjadi ibukota Amerika selatan. Perang saudara ini luar biasa berdarah-darah. Lalu negara ini, setelah negara selatan kalah, mereka membentuk kesatuan. Unity in diversity (Bhineka Tunggal Ika) muncul pertama di Amerika. Itu bukan produk asli Indonesia. Itu dari Amerika, setidaknya Amerika punya konsep itu. Bendera Amerika menunjukkan keragaman wilayah-wilayah tersebut. Dari Amerika Serikat, kita belajar di situ ada prinsip-prinsip perlindungan terhadap warga negara, perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Konsep yang sama ditiru oleh konstitusi Indonesia. Konstitusi kita punya sejarah yang sangat unik, sayangnya sejarah ini tidak terlalu didalami. Bagaimana konstitusi terbentuk? Konstitusi dimulai dari kumpulan perwakilan bangsa yang melakukan brain storming dalam rapat. Setiap orang mengungkapkan idenya.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s