Filsafat Politik, 19 Februari 2013

ASAL-USUL NEGARA

Bagaimana negara terbentuk? Hobbes memperluas wawasan tentang asal-usul negara. Negara bisa dimengerti dalam dua perspektif untuk menyebut bagaimana negara dibangun, direalisasikan dalam pemahaman filosofis. Dua itu ialah Natural dan Artifisial. Yang disebut artifisial bukan dalam arti sehari-hari yang berkonotasi dangkal, tetapi menunjuk pada pemahaman yang mendalam yaitu negara merupakan produk dari seni dan kepandaian. Jika diperhatikan, apa yang disebut Natural? Apa yang ada di benak kita perihal negara yang merupakan sesuatu yang natural? Natural dalam terminologi yang penting dalam filsafat etika politik. Kalau dirunut dengan baik, maka kita dapat melihat poin-poin penting untuk memahami filsafat politik. Natural berasal dari kata kerja Latin nascirenatus, artinya dilahirkan (natus). Jadi natural punya konotasi, hubungan arti yang berhubungan dengan pengertian “yang dilahirkan”. Apa arti “yang dilahirkan”? Maksudnya bukan berasal dari buatan tangan manusia. Bukan produk manufaktur (manus + facere = tangan + membuat = buatan tangan). Natural berarti, itu yang bukan buatan manusia. Bukan buatan manusia berarti itu yang mengalir along with my existence. Jadi, natural berarti itu yang mengalir seiring dengan keberadaanku. Apa yang “seiring dengan keberadaanku”? Yang seiring dengan keberadaanku ialah hidup. Hidup tak boleh dimengerti hanya sekadar bernafas, maka hidup pada saat yang sama mengatakan hidup baik. Kalau negara asal-usulnya ada dalam perspektif natura, negara itu keberadaannya untuk dimaksudkan sebagai pencapaian hidup baik. Negara adalah itu yang di dalamnya manusia mengejar tujuan hidup baik. Dengan maksud tersembunyi, kalau manusia hidup sesuai dengan natura sebagai manusia, maka hidup itu ialah hidup yang memiliki tujuan. Jadi, kalau manusia hidup tanpa tujuan yang jela, itu tidak kodrati sama sekali. Hidup haru sesuai dengan tujuan. kalau kita kembali pada Aristoteles, ia mengatakan bahwa manusia adalah makhluk polis, maka polis adalah tempat di mana manusia mencapai hidup baik. Maka jelas bahwa Aristoteles masuk dalam politik negara natural. Manusia dari lahirnya mengejar tujuan hidupnya, polis. Polis adalah tata hidup bersama / komunitas yang mengejar tujuan tertinggi. Kalau Aristoteles menyebut manusia sebagai binatang berakal budi, asosiasinya seperti binatang yang lain tapi berakal. Namun bukan itu maksudnya. Maksudnya manusia adalah dia yang memiliki tujuan. Manusia adalah makhluk yang tujuan hidupnya ialah dimilikinya sendiri. Jadi kalau manusia hidup tanpa tujuan, manusia sungguh tidak ada bedanya dengan sapi, anjing, kucing, dll. Aristoteles dengan kata lain luar biasa dalam hal ini. Bahwa tujuan itu adalah milik manusia. You are the very owner of your destination. Agustinus, selanjutnya, berkata bahwa tujuan itu ialah untuk Tuhan. “Engkau membuat kami untuk-Mu, ya Tuhan.” Ketika negara itu natura, maka akan sesuai dengan tujuan manusia.

Poin lain, jika asal-usul negara natural, maka negara itu menjadi kelanjutan dari kodrat manusia. Hal ini sangat jelas dalam Aristoteles. Di mana jelasnya? Aristoteles berkata, every art and every investigation, and similarly every action and pursuit, is considered to aim at some good, selalu terarah kepada kebaikan. Kata-kata ini dikutip dalam politik Nicomachean. So what is good? Kalau semua tindakan manusia, seni, investigasi, aksi, tertuju pada kebaikan, good is that considered admit human action in aim. Itu yang menjadi keterarahan pada yang baik.

Bagaimana Aristoteles menjelaskan politik? Every polis is a community of some kind, and every community is established with a view to some good; for mankind always act in order to obtain that which they think good. But, if all communities aim at some good, the state or political community, which is the highest of all, and which embraces all the rest, aims at good in a greater degree than any other, and at the highest good. (Politics by Aristotle) Artinya, setiap negara adalah komunitas yang didirikan dengan pandangan untuk meraih kebaikan, karena manusia selalu bertindak dan berpikir untuk mendapatkan itu yang mereka pikir baik. Tetapi jika semua komunitas itu mengejar kebaikan, maka polis (komunitas politik), yang adalah lebih tinggi dari semuanya, dari sendirinya merangkul segalanya, dan terarah kepada kebaikan yang lebih tinggi tingkatannya dari segala yang lain, itulah kebaikan tertinggi.

Menurut Aristoteles, manusia memiliki tujuan untuk mengejar kebaikan. Kalau ada manusia-manusia (komunitas), maka mereka memiliki tujuan untuk mengejar kebaikan-kebaikan. Ketika kita bicara tentang kebaikan sebagai tujuan dari manusia, kita diajar oleh Aristoteles dalam apa yang disebut etika. Inilah etika. Etika berada dalam ranah politik. Maka pembicaraan politik tidak pernah lepas dari etika. Asal-usul negara natural berada dalam ikatan etika komunitas. Individu Aristoteles berarti manusia memiliki keterarahan pada polis. Kalau manusia tidak tinggal dalam polis, maka tidak hidup. Akibat dari skema ini, logika kecilnya ialah begini. Menurut Socrates, yang lebih banyak mengkritisi Platon, manusia terdiri atas rasio, spirit, dan appetitive (keinginan). Maka skema negara menjadi pemimpin, militer dan produsen.

Masalahnya sekarang bagaimana dengan negara artifisial?

Bagi Hobbes, manusia itu bukan dilahirkan lantas mengejar kebaikan. Manusia, begitu dilahirkan, meraung-raung (menangis), dan manusia dilahirkan bebas.

Bagaimana kalau manusia tinggal dalam komunitas seperti ini? Jika manusia bebas, di mana kebebasan Hobbes berarti saling mengancam, berarti satu sama lain terancam. Satu sama lain saling mengancam. Tak ada waktu semenit pun bagi manusia untuk merasa aman dan nyaman. Tidak ada sense of gathering, rasa kebersamaan. Maka logikanya, tidak ada komunitas. Thomas Hobbes melukiskan bahwa hidup jenis ini, brutish, poor, short, kumuh, kumal, pendek, dan penuh dengan segala ketakutan. Dalam Hobbes, hati nurani ialah keterlaluan kalau kamu kerasan tinggal dalam komunitas macam ini. Bagi Hobbes, tujuan manusia adalah keluar dari situasi itu. Inilah awal dari negara.

Dari sendirinya, kira-kira “negara itu apa” bagi Hobbes kalau de facto manusia seperti yang digambarkan di atas? Apa yang harus dikerjakan? Hidup bersama dalam The State of Nature seperti dalam Leviathan 13 (L 13) In such condition, there is no place for industry (kerajinan tangan), because the fruit thereof is uncertain: and consequently no culture of the earth; no navigation, nor use of the commodities that may be imported by sea; no commodious building; no instrument of moving and removing such things as require much force; Industri tidak dapat dijalankan karena hasilnya tidak pasti. Misalnya kalau bertani, baru bertunas sudah dicabut orang. Konsekuensinya tidak ada kultur bumi, tidak ada navigasi transportasi, tidak ada gunanya komoditas-komoditas diimpor melalui laut, tidak ada pelabuhan, tidak ada bangunan yang nyaman, semua saling mengancam, tidak ada instrumen untuk mengangkut ke sana ke mari apa saja yang membutuhkan tenaga. No knowledge of the face on the earth, tidak ada ilmu pengetahuan, no account of time, tidak ada aturan waktu, no arts, tidak ada seni, no letters, tidak ada surat menyurat, no society and which is worst of all, continual fear, and danger of violent death; and the life of man, solitary, poor, nasty, brutish, and short. Yang paling parah adalah ketakutan terus-menerus, bahaya kematian, dan hidup manusia menjadi sendiri, miskin, kotor, kumuh, dan pendek.

Kalau hidup manusia saling mengancam, apakah masih ada rasionalitas? Apakah masih ada hal yang tersisa dalam rasionalitas manusia? Bagi Thomas Hobbes ketika manusia menjadi liar, jalang, dan asling mengancam, dari sendirinya rasionalitas berupa itu yang dimiliki oleh setipa manusia yang digunakan untuk membela diri. Bagaimana caranya? Kalau caranya masih pribadi per pribadi, persona per persona, setiap orang masih memasang pedang untuk berhadapan dengan yang lain. Maka harus diakui adanya kodrat kedua (law of nature yang kedua), artinya ini kita membicarakan manusia, bukan binatang. Manusia jelas tidak mungkin kerasan hidup seperti ini. Maka harus diandaikan dalam diri manusia ada kerinduan yang dimiliki oleh umum bahwa tak mungkin hidup seperti ini diteruskan. Harus ada yang disebut dengan kedamaian sebagai second law of nature. Bagaimana caranya berdamai? Menurut Thomas Hobbes, bahwa kondisi state of nature yang kacau ini harus diatur, harus diluruskan. Bagaimana caranya? Caranya Thomas Hobbes ialah harus ada apa yang disebut kontrak, kesepakatan untuk memilih, memutuskan yang menjadi pemimpin di antara mereka. Bagaimana caranya memilih pemimpin? Sebelum ada PEMILU, ada poin filosofis yang jauh lebih penting yaitu ketika pemimpin ada, pemimpin itu harus memiliki segala hak untuk mengeksekusi kepemimpinannya. Dia harus punya kekuasaan untuk meratifikasi hukum, meluruskan kehidupan. Komunitas-komunitas juga harus rapi dalam tata hidupnya. Hukum berfungsi untuk melindungi hak dari setiap manusia yaitu hidup. Jangan sampai ada ancaman. Karena logika Hobbes ialah bahwa manusia seperti serigala (homo homini lupus), penguasa ini harus kuat sekali. Pemerintahan harus kuat, bahkan sangat kuat, tak terkalahkan. Namun tidak ada pemerintahan seperti ini di dunia. Pemerintahan sekuat Leviatan, tak akan ada yang mengalahkan. Inilah pertama kali negara disebut organ badan. Manusia adalah bagian dari tubuh.

Non est potestas super teraam que comparatur ei. Tak ada kekuasaan di atas bumi ini yang sebanding dengan dia (Ayub 41:24) Tidak ada taranya di atas bumi; itulah makhluk yang tidak mengenal takut.

Bagaimana dengan kepemimpinan Aristoteles?

Bagi Plato, pemimpin adalah filosof. Bagi Aristoteles, pemimpin adalah orang dengan kebijakan praktis.

Apa bedanya pemimpin menurut Aristoteles dan pemimpin menurut Hobbes? Aristoteles adalah representasi dari filsafat politik klasik. Hobbes merepresentasikan filsafat politik modern. Aristoteles memulai filsafat politiknya dari jalan pikiran yang rapi dan rinci untuk menunjukkan siapa kodrat manusia. Tetapi kerapian gagasan kodrat manusia aristoteles berada pada wilayah klasik. Artinya kodrat manusia dikurung dalam koridor keutamaan. Karena manusia itu bernilai dan berharga seutuhnya karena keutamaan, maka konsep selanjutnya ialah bahwa manusia itu tidak sama. Betul-betul manusia tidak sama, karena logika Aristoteles bisa dibenarkan dalam konsep keutamaan. Ada manusia yang memiliki kepandaian, ada yang memiliki kekuakatan. Mereka yang punya kekuatan fisik, mereka bekerja untuk hal-hal fisik. Mereka yang bijak, berada pada koridor sebagai pemimipin. Maka bagi Aristoteles, pemimpin berarti sebuah keniscayaan. Jadi manusia tidak bisa jadi pemimpin kalau tidak punya keutaman kebijaksanaan mengenai tata hidup bersama. Bagi Aristoteles, filsafat politik cannot be otherwise. Teologi Kristiani sangat dibantu oleh filsafat Aristoteles.

Dalam Hobbes, manusia bukan diambil yang baik, tetapi dilihat, diobservasi realitasnya. Realitasnya manusia kacau balau. Tampaknya saja manusia bisa mengikuti aturan atau tata jadwal yang dibuat manusia. Hal ini hanyalah penampakan semata, bukan menyentuh natura manusia. Apa artinya? Hobbes berkata bahwa manusia bisa demikian karena lingkungannya. Bagaimana kalau aturan itu dilanggar, hidup tanpa aturan, tanpa pemimpin, tanpa hukum, tidak ada RT-RW? Apa jadinya? Hobbes merangkai sebuah hipotesis mengenai hidup manusia bahwa dari kodratnya, manusia tidak teratur, tidak digerakkan oleh akal budi, melainkan nafsu. Hal ini tampak dalam situasi konflik. Banyak orang mati dalam situasi konflik. Hobbes berangkat dari sebuah realitas, bukan dari yang ideal. Akibatnya manusia menjadi pengancam bagi sesamanya. Maka manusia harus diakui memiliki segala kebebasan untuk membela hidupnya. Hobbes tampak banal dalam memahami manusia. Hobbes memasukkan konsep filsafat yang menjadi fondasi semua filsafat politik modern, yaitu bahwa manusia terlahir sama yaitu dalam kebebasan. Maka tidak ada yang pandai, bodoh, kuat, lemah, sehat, sakit. Tidak ada bedanya karena masing-masing bisa saling membunuh. Akibatny selanjutnya ialah manusia hidup dalam situasi yang sama sekali tidak nyaman. Maka dengan sisa rasionalitany,a mereka harus masuk dalam konsen bersama membentuk pemimmpin. Siapa pemimpin dalam Hobbes? Bisa siapa saja asal dipilih. Sementara dalam Aristoteles tidak bisa.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s