Filsafat Politik, 19 Maret 2013

Bagaimana Soekarno melakukan pidato untuk mengajak para pendiri negara yang lain berpikir tentang konstitusi? Salah satu yang sangat menonjol dari yang dikatakannya ialah discernment tentang siapa manusia Indonesia. Soekarnolah yang secara teliti dan mendetail serta eksplorasi menggali khazanah identitas Indonesia. Bagaimana dia menggali? Dia melihat realitas manusia Indonesia dari kedalaman jiwa, kedalaman cita-cita, dari kedalaman hakikat untuk disebut bangsa Indonesia itu seperti apa. Kata “cita-cita”, “jiwa”, “hakikat” bahkan “nafas” itu muncul dalam pidato. Salah satu temuan Soekarno adalah bahwa Indonesia memiliki keragaman yang sangat jelas di satu pihak, tetapi di lain pihak keragaman itu disimak sebagai sebuah kekayaan, realitas yang membuat Indonesia sebagai bangsa yang lain.

Dengan kata lain, Indonesia seperti punya keragaman dan kesatuan sebagai bangsa. Maka ide pertama dari Soekarno itu yang mengemuka adalah misalnya gaya berpikir gotong-royong. Gotong-royong adalah kearifan budaya yang ditampilkan dalam kebersamaan aktivitas, di lain pihak itu sebagai cetusan kegembiraan. Gotong-royong itu cita rasa memiliki, tetapi di lain pihak cita rasa menghormati. Jadi seolah-olah kebutuhan orang lain adalah kebutuhanku. Nah, bagaimana membahasakan Gotong-royong dalam konstitusi? Soekarno menyebut sila pertama ialah kebangsaan.

Ada yang bilang Pancasila bukan dari Soekarno, tetapi Yamin. Namun bukan demikian cara memahami sejarah. Sejarah harus dilihat dari konteks, bukan hanya dari satu poin saja. Konteksnya Yamin mencetuskan identitas manusia Indonesia. Soekarno memulainya dari kesadaran bahwa di Indonesia ada banyak suku (Jawa, Flores, Sunda, Kalimantan, Dayak, Batak, Bugis, Madura, Cina, dll.). Bagaimana membahasakannya? Apa itu nasionalisme? Nasionalisme adalah kemanusiaan, demikian kata Mahatma Gandi. Manusia Indonesia bukanlah suku yang lebih tinggi dari suku yang lain, tetapi disatukan oleh prinsip kemanusiaan, kerakyatan, keadilan. Baru muncul terminologi ketuhanan. Soekarno melihat fakta bahwa di Indonesia ada Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll. Yang dia ringkas bukan dalam keagamaan tetapi ketuhanan. Pancasila sebenarnya merupakan gramatika eksistensi bangsa Indonesia. Gramatika artinya kalau kamu tidak ke situ arahnya, maka kamu tidak mengerti apa yang digramatikakan. Kalau kamu bicara bahasa Inggris tanpa gramatika yang benar, orang tidak bisa mengerti. Me loving she. Gimana gramatikanya? Seharusnya “I love her.”

Pidato 1 Juni Soekarno masuk dalam kisi-kisi ujian komprehensif.

HUKUM

Konteks hukum dalam filsafat politik sangat penting. Apa itu hukum? Pertanyaan ini tak boleh disempitkan pada poin definisi. Kita tahu yang disebut hukum adalah larangan dan perintah. Ini bukan definisi. Hukum apapun selalu menunjukkan larangan dan perintah, misalnya “Jangan mencuri,” “Berbaktilah kepada-Ku saja,” “Jangan kencing di sini!” Hukum tak pernah harapan. Hukum tidak pernah “Moga-moga tidak kencing di sini.” Hidup selalu hidup dalam koridor hukum. Bukan “moga-moga mahasiswa pakai sepatu.” Menyebut hal ini belum memenuhi hukum itu sendiri.

Dari Thomas Aquinas, kita melihat lebih dalam. Kalau hukum memerintah, memerintah apa. Kalau melarang, melarang apa. Dari Skolastik, akal budi manusia memilik ketentuan yang jelas. Yang disebut perintah ialah kebaikan. Hanya kebaikan yang bisa menjadi hukum. “Orang seperti ini harus dibunuh.” Ini bukan hukum, karena yang bisa memerintah hanya kebaikan. Dan apa yang dilarang? Yang dilarang adalah melalukan keburukan. Thomas Aquinas juga mengajarkan kepada kita,”Apa itu baik?” Sebab baiknya Hitler itu berbeda dari baiknya Yohanes Paulus II. Bagi Hitler, baik itu membunuh orang-orang Yahudi. Baik menurut Yohanes Paulus II, sebaliknya, menyambut, melindungi, menemani orang Yahudi. Tetapi salah besar kalau kebaikan dipandang relatif. Menurut TA, baik itu keharusan yang harus dijalankan. Buruk itu keharusan untuk tidak dijalankan, keharusan untuk dihindari. Jadi, apa itu baik menurut TA ialah apa itu yang mengalir dari akal budi. Jadi kalau hukum adalah memerintahkan kebaikan, maka hukum itu bagi TA adalah keteraturan (order of ration / ordo rationes) dari akal budi. Keburukan di luar itu, di luar koridor masuk akal.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s