Filsafat Politik, 6 Februari 2013

Ketiganya disebut sebagai filosof kristiani yang mengeksplorasi filsafat politik dari sudut pandang kristiani. Menarik untuk menyimak secara mendalam bahwa dalam poin-poin pemikiran filsafat itu, tak hanya berhubungan dengan konsep-konsep praktis dari apa yang kita sebut negara, tetapi itu berasal dari paham-paham yang lebih modern. Artinya, di dalamnya termasuk misalnya perang adil itu seperti apa. Ini tema penting dalam filsafat kristiani. Contoh lain yang juga layak untuk disimak ialah paham-paham yang berurusan dengan natural law, hukum kodrat.

Thomas Aquinas menjadi rujukan utama untuk memahami hukum kodrat. Cara mengerti hukum kodrat itu begini. Hukum kodrat adalah hukum yang difondasikan pada pengertian tentang kodrat (natura). Natura bagi Thomas Aquinas memiliki kepentingan langsung dari “Apakah manusia itu?” Thomas menjawab manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan secitra Allah, bukan dalam artian wajah, fisik, tetapi natura. Apa yang menjadikan sesuatu itu manusia dan bukan yang lain? Bukan karena wajahnya, tetapi akal budi. Hukum kodrat berarti hukum yang didasarkan pada pemahaman akal budi manusia. Bagaimana akal budi manusia memahami manusia, dirinya sebagai ciptaan? Thomas menjawab, Tuhan menciptakan manusia agar manusia datang kepada Allah. Manusia diciptakan untuk diri-Nya. Agustinus punya ungkapan yang lebih sama ketika dia mengatakan, “Hatiku gelisah . . .” Hati manusia gelisah ketika tidak kembali kepada Allah. Agustinus adalah contoh yang indah untuk menyebut bahwa kita tidak perlu mencari apa pun selain Allah. Agustinus seperti Thomas banyak terpengaruh oleh Plato, pandangannya selalu ke atas karena realitas ada di atas.

Ketika manusia diciptakan Tuhan, kehadiran manusia itu menggembirakan Tuhan. Natura manusia oleh Thomas Aquinas sebagai State of Innocent (status sebelum jatuh ke dalam dosa). Hubungannya sedemikian mesra dengan Tuhan. Hal ini dipakai Thomas untuk mengarahkan kembali manusia pada keadaan lepas dari segala dosa dan hidup mesra dengan Tuhan dan sesama. Tata hidup manusia harus kembali pada tata relasi seperti ketika manusia pertama kali diciptakan di Eden. Lantas politik menjadi elaborasi untuk memulihkan relasi manusia dengan sesamanya dan manusia dengan Tuhan. Inilah skema hukum kodrat Thomas Aquinas. Maka judul dari salah satu buku politiknya, “Summa Contra Gentiles.” SCG mengatakan bahwa Thomas ingin mengajak manusia kembali pada kodrat semula ketika manusia diciptakan. Sekarang politik malah memecah-belah dan menjadi kemunafikan manusia.

Thomas Moore punya skema yang berbeda. Moore berada pada kerumunan di mana politik dan agama menjadi satu. Agama menjadi aksioma. Moore mengacu pada sebuah pergulatan di mana negara dan agama bercampur baur dan tumpang tindih. Pejabat Gereja menjadi pejabat negara.

Machiavelli menulis Il Principe, di mana yang disebut politik adalah kekuasaan. Pemimpin politik berarti penguasa. Politik menjadi perebutan kekuasaan. Fondasinya ada pada kepentingan kekuasaan. Machiavelli disebut filosof modern politik, karena seolah-olah dia mengelaborasikan keterpautan dengan Kekristenan kepada kekuasaan. Karena dia mengaitkan dengan begitu dramatis, politik dengan kekuasaan, metodologi berfilsafatnya juga berubah sama sekali. Dari Aristoteles kita melihat bahwa politik punya tujuan tertinggi. Machiavelli bukan soal tujuan tertinggi, tetapi soal bagaimana mempertahankan kekuasaan. Logika ini disukai oleh para politikus yang gila kuasa. Machiavelli menggeser paradigma Kristiani dalam hubungannya dengan tatanan politik. Logika Machiavelli dimaknai sebagai sebuah metode realisme dalam politik. Machiavelli akan mengalirkan spirit Utilitarianisme dalam politik, artinya apa pun yang kita kerjakan sebagai sebuah keburukan yang perlu, tak perlu merasa bersalah para pemimpinnya apabila keburukan itu dilakukan untuk membela kekuasaan.

Logika realisme ini diteruskan oleh Hobbes. Ketika Hobbes menggebrak zamannya dengan berkata manusia itu dari kodratnya adalah serigala bagi lainnya, “Homo homini lupus est.” Manusia haus akan darah sesamanya. Di Cina, komunisme menghantam semua yang bukan komunis. Di Indonesia, yang bukan komunis, menghantam semua yang komunis. Hobbes mengajukan filsafat yang sangat penting bagi demokrasi baru.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s