Filsafat Politik, 9 April 2013

Hukum natura atau hukum kodrat atau lex naturalis itu punya beberapa perspektif. Maksudnya, perspektif yang pertama tentu hukum kodrat adalah hukum yang berada dalam ranah filsafat. Gereja Katolik memaknai dengan sungguh-sungguh untuk mengatakan bahwa makna yang diatribusikan Gereja berdasarkan bukan pada wahyu tetapi pada akal budi, makna hukum kodrat menjadi fondasi / dasar dari perkara penilaian moral atau etika dalam banyak kasus. Hukum kodrat juga menjadi fondasi untuk melihat hak-hak asasi manusia. Hukum kodrat dimaknai sungguh-sungguh penting. Kalau kamu mau jadi dosen moral, atau dosen filsafat kamu harus mengerti dengan baik hukum kodrat. Hukum kodrat itu punya kepentingan yang immens (sangat penting) dalam Gereja Katolik. Kamu harus tahu ketika belajar filsafat politik, yang disebut filsuf sebangsa Hobbes, Locke, dst. Itu juga filsuf-filsuf yang mendasarkan tesis-tesis filsafat politiknya pada natura. Thomas Aquinas juga mengurus hukum kodrat.

Apa arti hukum kodrat menurut Thomas? Menurut Thomas, hukum kodrat berarti tata kodrati manusia. Tata kodrati manusia itu rujukannya adalah kisah penciptaan. Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, itulah ideal dari tata cipta. Menurut Thomas, tata ciptaan itulah kesempurnaan kodrati. Dari ciptaan itu, mengalir hukum. Hukum jangan dimengerti seperti larangan dan perintah. Hukum itu tata akal budi. Menarik untuk menyimak Thomas, karena menurutnya ketika Adam dan Hawa diciptakan, di situ segala kesempurnaan hidup manusia dihadirkan, ditampilkan, yaitu misalnya kesederajatan antara laki-laki dan perempuan. Relasi keduanya adalah relasi cinta. Bukan hanya keduanya, tetapi juga dengan Penciptanya. Cinta itu mengalir dari Tuhan. Tuhan dan manusia saling mencintai. Jadi hukum kodrat adalah tata yang dikembalikan pada wilayah kodrati, dan kodrati manusia itu ialah ketika manusia diciptakan oleh Tuhan. Tetapi, kodrat manusia lalu dilukai oleh dosa. Dosa itu bukan kodrat manusia. Mengacau kodrat manusia. Dalam teologi moral, dosa itu menurut Thomas, berarti melawan kodrat manusia. Melakukan hubungan seks itu dosa, bila dikerjakan bukan dalam kapasitas sebagai suami istri, karena itu melawan kodrat. Masturbasi itu dosa, karena tidak kodrati. Thomas mengintroduksi kepada kita, bahwa dosa berarti manusia tidak hidup sesuai dengan kodrat. Lantas apa arti terdalam kodrat. Bagi Thomas, kodrat berarti itu yang menjadi tujuan dari penciptaan. Allah menciptakan manusia itu bukan asal suka melihat manusia. Menurut Thomas, Tuhan menciptakan manusia bukan karena senang melihat manusia, tetapi karena penciptaan itu mempunyai tujuan. Setiap orang ada sampai sekarang ini, punya tujuan. Dosa berarti, ketika langkah manusia, perbuatan tangan, kaki, matamu, tidak sesuai dengan tujuan itu.

Manusia membawa apa yang disebut finalitas, punya tujuan. Kalau tangan mengambil apa yang bukan saya miliki, itu bertentangan dengan finalitasnya. Kaki juga demikian. Kaki bukan untuk menginjak, sebab kalau saya menginjak orang, saya jelas melawan finalitas kaki. Sapi tidak memiliki finalitas semacam ini. Lalu kalau menurut Rm. Armada, bahwa sapi itu tidak punya finalitas, apakah itu perlu bukti? Apa perlu tanda? Ya sudah. Ya begitu saja. Hanya kita yang punya finalitas, karena tubuh manusia dan kehadiran manusia punya finalitas. Hukum kodrat menurut Thomas, berarti ketika tata akal budi itu dikembalikan kepada finalitas saya sebagai ciptaan.

Misalnya perlindungan terhadap hak berpendapat karena finalitas mulut yang diciptakan manusia itu untuk bersuara. Seluruh tubuh manusia harus ditempatkan pada posibilitas manusia untuk mengembangkan diri karena Tuhan menciptakan segala yang kita miliki untuk belajar, mengambangkan diri. Dosa itu ketika manusia melawan kodrat manusia. Melawan kodrat berarti, dalam kisah penciptaan, Adam dan Hawa melakukan apa yang disebut penyangkalan, penolakan terhadap Tuhan Allah.

Drama kejatuhan manusia begitu dramatis. Di mana dramatisnya? Yaitu ketika manusia membiarkan dirinya melakukan negosiasi dengan setan. Produk dari negosiasi itu ialah bahwa manusia itu lalu mendengarkan setan. Mendengarkan setan berarti manusia menolak Allah. Dan tidak ada yang lebih buruk daripada kenyataan bahwa cinta pun ditolak. Dan ini perkara cinta Allah yang menyelamatkan. Jatuh ke dalam dosa berarti manusia memeluk kematian. Urusan kita ialah, manusia itu karena kodratnya, ia secitra dengan Allah. Muncul masalah besar, yaitu ketika natura manusia diobrak-abrik oleh konsep-konsep yang salah.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s