Filsafat Politik, Senin 25 Maret 2013

Dalam bahasa latin, HUKUM disebut LEX, dari kata kerja: ligare yang artinya mengikat, ligere yang artinya membaca. Lex sebagai sebuah hukum memiliki karakter mengikat dan memiliki keharusan untuk dibaca dan dipahami secara menyeluruh. Ius berarti benar, Gereja mengaplikasi terminologi Ius dalam hukum Gereja. Thomas Aquinas mengusung filsafat hukum yang langsung berhubungan dengan kodrat manusia yang menjadi ketentuan yang memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan itu harus bersumber dari akal budi; Hukum adalah keteraturan dari akal budi Ordo Rationis. Cara mengerti hukum, tak boleh dipahami sebagai larangan sebagai larangan, perintah sebagai perintah; misalnya sepeti orang Yahudi yang dieksterminasi oleh Hitler. Hukum Hitler mengabdi pada ideologinya. Setiap hukum memiliki konsekuensi.

Menurut Thomas Aquinas, hukum juga harus mengabdi kepada komunitas secara keseluruhan yang memiliki karakter tujuan kebaikan (bonum commune). Kedalaman harus merujuk kepada momen-momen sejarah seperti itu. Hukum itu tak boleh dimengerti hanya sekedar larangan dan perintah. Hukum itu akan berlaku apabila dipromulgasikan / diberlakukan, dia yang memiliki responsibilitas keberlangsungan dari komunitas.

Hukum itu memiliki karakter kepastian. Pasti artinya tidak ada konflik dan kontradiksi. Pasti ada 2 yakni kepastian dalam delik ketentuan, dalam hukum yang setiap pasalnya tidak boleh bertentangan dengan pasal yang lain. Contoh UU tentang kerukunan umat beragama, yang bagi Prof. Armada, hukum ini salah misalnya orang melaksanakan ajaran agamanya itu hak, tetapi dalam hukum itu dikatakan “Karena orang wajib menjalankan agamanya maka orang harus menghormati orang lain ketika orang lain menjalankan imannya.” Ini kalimat yang problematif. Apabila orang wajib menjalankan agamanya itu berarti wajib menjalankan agama masing-masing sesuai imannya, hukum ini bertentangan dengan undang-undang perkawinan yang tidak mengakui perkawinan yang tidak seagama. Kalau ada yang beda agama maka salah satu harus ada yang mengalah, padahal dalam hukum ini wajib. Misalnya lagi ada “hukum anti murtad,” hukum ini pun tidak benar.

Ordo rationis ordo artinya tata/keteraturan; rationis artinya akal budi

Tema OR Thomas ini mendominasi logika hukum, artinya hukum tak boleh sekadar dilihat sebagai aturan yang diberlakukan oleh penguasa. Hukum harus menerjemahkan recta ratio. Recta berarti benar, recta ratio berarti akal budi benar. Karena keterpautan yang begitu mencolok antara kebenaran hukum dan kebenaran akal budi, maka dalam TA hukum itu menyatu dengan moralitas.

Apa artinya keterkaitan hukum dengan moralitas, artinya

(1) moralitas filosofis sebagaimana diusung oleh TA itu selalu menunjukkan perpanjangan dari apa yang merupakan produk akal budi. “Jangan membunuh orang tak berdosa” merupakan hukum yang tak perlu ratifikasi dari siapa pun. Moralitas identik dengan rasionalitas. Pada poin ini, Gereja mengadopsi kebenaran ini, bahwa embrio, janin, zygot, sejak pertemuan sperma dan ovum tak boleh diapa-apakan karena itu sudah menjadi manusia walaupun masih berupa darah, tetapi in potentia activa manusia, maka tidak boleh diintervensi. Logika kebenaran ini bukan doktrin. Ini adalah produk dari akal budi. Hukum itu gandeng dengan moralitas, maka dalam arti tertentu moralitas identik dengan rasionalitas. Hukum harus mengabdi pada moralitas.

(2) Dalam kasus “Hukum itu tidak adil” – artinya hukum yang mengabdi pada kepentingan tertentu, bukan kepentingan komunitas untuk meraih bonum commune – menurut TA, hukum tidak adil itu jelas kehilangan rasionalitasnya. Artinya, kehilangan karakter moralitasnya. Karena hukum itu kehilangan karakter moralitas, maka tunduk kepada hukum tidak adil itu menurut TA sama dengan tindakan yang tidak bermoral. Kebalikannya, ketaatan terhadap hukum yang tidak adil merupakan ekspresi dari tindakan moral.

Hukum yang salah misalnya tentang LBGT. Ada semacam suasana yang diproduksi hukum yang menunjukkan bahwa eksistensi mereka tidak perlu ada, tetapi de facto mereka ada meskipun mereka sendiri tidak mau menjadi seperti ini. Bukannya membela hukum perkawinan homoseksual, tetapi karena suasana hukum bagi mereka begitu mengkhawatirkan karena seolah-olah mereka tidak dianggap manusia. Contoh lain juga hukum tentang PKI. Asal orang tampak, atau bahkan pernah membonceng PKI, orang akan diciduk atau bahkan dibunuh tanpa proses pengadilan, dan ada jutaan manusia yang diperlakukan seperti ini.

Dalam TA hukum punya 2 kepastian, delik hukum dan ketentuan pelaksanaan hukum. TA menggunakan konsep-konsep realistik. Yang oposit dari gagasan TA disebut hukum perspektif voluntaristik. Persepktif voluntaristik memiliki karakter jelas yang pertama, yaitu bahwa hukum itu ekspresi dari voluntas (kehendak) pemegang kekuasaan. Hukum ada kalau ada yang menghendaki untuk diberlakukan. Logika kecilnya, hukum bukan perkara akal budi, tetapi kehendak dari penguasa. Pengusung perspektif ini yang ditunjuk misalnya Fransesco Soares, SJ dari Spanyol, lalu Thomas Hobbes, Jean Jacques Rousseau. Rousseau malah menyebut bahwa kehendak rakyat, itulah hukum. Voluntarisme menggariskan bahwa hukum semata-mata kehendak penguasa. Kalau demikian, hukum tidak boleh sewenang-wenang tentu akan mengatakan bahwa betapa penguasa ini tiranis. Dalam praktik, hukum voluntaristik banyak menyisakan contoh-contoh ketidakadilan yang sangat jelas, terutama dalam pemerintahan tiranis. Pada zaman Soeharto, serta-merta pada waktu itu ada karikatur Kompas, Suharto memegang sapu sambil menyapu peta Indonesia, dan yang disapu Soeharto adalah manusia-manusia PKI. Negara menjadikan hukum dari kehendak penguasa dan hukum ini mengalir pada rakyat. Rakyat menjadi perpanjangan tangan hukum pemerintah. Rakyat ikut menyapu para PKI. Di sini kehendak tidak berjalan semestinya. Seharusnya hukum menjadi tata hidup bersama.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s