Filsafat Politik, Senin 8 April 2013

Bagaimana hukum dimengerti secara lebih rinci oleh Thomas. Baginya, hukum dibagi menjadi dua: pertama, hukum yang langsung berhubungan dengan tata ilahi dan kedua, hukum yang menjadi milik manusia. Ia merancang hukum segaris dengan ajaran Gereja Katolik bahwa manusia diciptakan secitra dengan Sang Penciptanya. Secitra atau segambar bukan berarti serupa secara fisik, tetapi dalam arti kodrati (bukan kodratnya sama dengan Tuhan, tetapi kodrat manusia mengalir secitra dengan Allah). Thomas sangat konsisten. Ketika hukum menjadi tata akal budi (ordo rationis), tata akal budi manusia mengalir derivatif dari tata akal budi Ilahi. Tak mungkin manusia memiliki keteraturan yang berasal dari akal budi bila tidak dimengerti itu berasal dari Tuhan. Ciptaan itu punya kapasitas keteraturan rasional bila itu mengalir dari Sang Penciptanya.

Thomas berpikir apa jika hukum menyentuh tata akal budi ilahi? Menurut Thomas, hukum Ilahi itu ada dua. Pertama, disebut eternal law (hukum abadi, berarti hukum atau tata yang seutuhnya menjadi milik Allah dan itu tak terambah oleh akal budi manusia), dan kedua, hukum positif ilahi. Positif artinya, hukum itu memaksudkan hukum yang diberlakukan. Hukum positif ilahi ialah Kitab Suci. Mengapa Kitab Suci termasuk hukum ilahi? Karena Kitab Suci adalah sabda Tuhan. Kitab Suci bukan buatan manusia. Hukum yang ada dalam Kitab Suci, misalnya Sepuluh Perintah Allah.

Menurut Thomas, hukum yang menjadi milik manusia itu ada dua, yaitu (1) hukum sipil (hukum positif) misalnya UU, KUHP, dll. Hukum sipil diderivasi (diturunkan) dari tata ilahi. Jadi, membela korban kekerasan (misalnya dalam kasus pelecehan seksual) merupakan kebenaran universal yang berasal dari Tuhan. Hukum yang menjadi milik manusia itu, selain hukum sipil atau hukum positif, manusia memiliki (2) hukum Gereja. Hukum Gereja masuk dalam tata hidup manusiawi. Hukum Gereja menjadi contoh bahwa hukum harus ditarik dari Kitab Suci, sabda Tuhan. Untuk membuat hukum, orang harus memahami dari mana hukum itu dibuat. Misalnya Konstitusi Ordo Karmel, atau Konstitusi Pasionis, atau Konstitusi Vinsensian, atau Statuta Keuskupan, aturan ini harus dibuat bukan menurut tatanan yang dipikir sebagai pemimpin, tetapi harus diturunkan dari sumber yang benar. Biasanya sumber itu mengalir dari Hukum Gereja, lalu Statuta Regional. Pada akhirnya, semua harus dikembalikan pada Sabda Tuhan. Jadi, hukum bukan mengalir dari penguasa. Logika ini harus dikenal. Termasuk juga dalam membuat UU di kabupaten, provinsi, kota, dsb. harus dibuat berdasarkan UUD dan Pancasila.

Contoh hukum yang kurang direalisasikan dengan baik di Indonesia adalah UU perlindungan anak. Kerasulan Rm. Paul Janssen CM memberikan sumbangan yang besar bagi anak-anak cacat. Hukum manusiawi lahir dari hukum ilahi.

Masih ada satu hukum lagi yang masih sangat penting untuk didalami, sebagai ciri khas dari studi hukum dalam Gereja Katolik, yaitu hukum Natural. Hukum natural punya banyak nama, bisa law of nature, natural law, hukum kodrat. Bagaimana posisinya dalam Thomas Aquinas? Apa itu hukum kodrat? Hukum kodrat adalah nama yang dimaksud Thomas untuk menyebut TATA KETERATURAN ALAM CIPTAAN yang dari sendirinya mengalir dari Sang Penciptanya dan diketahui, dikenali dengan baik oleh akal budi manusia. Dari sendirinya, yang disebut hukum kodrat itu tak tertulis, tak positif, bukan seperti hukum sipil yang tertulis dan dibukukan, bukan seperti KHK, tetapi hukum kodrat adalah hukum akal budi itu sendiri. Mereka yang berasal dari fakultas hukum, hukum positivistik, sering kali tidak mengakui hukum kodrat karena memang tak tertulis, tidak ada yang memberlakukan. Tetapi dalam filsafat politik dan universitas-universitas Katolik, hukum kodrat adalah hukum universal manusia sebagai manusia. Contohnya, Tuhan itu begitu indah dalam menciptakan manusia, sampai-sampai Tuhan berkata, ketika Dia melihat manusia, Dia mengatakan bahwa manusia adalah ciptaan yang sangat indah, sehingga hidup manusia itu harus dijaga. Tak pernah boleh diintervensi pada level apapun. Itu hukum kodrat, bukan berasal dari Kitab Suci. Artinya, setiap manusia yang mungkin belum membaca Kitab Suci atau bahkan tak pernah mengenal Kitab Suci, kalau ada wanita hamil tidak boleh diintervensi dengan alasan apapun.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s