JOHN LOCKE (¤ WRINGTON 29-8-1632 – † OATES 28-10-1704)

Sasaran utama dari program filosofis Locke adalah menganalisa pikiran manusia, apa fungsi, keterbatasan dan kemampuannya. Locke bermaksud memastikan genesis, esensi dan nilai pengetahuan manusia dengan menguraikan sampai di mana nalar bekerja, batasan mana saja yang tidak boleh dilangkahi dan wilayah mana yang menjadi bidang garapannya.

Locke sendiri menguraikan proyek filosofisnya dalam Essay Concerning Human Understanding. Ada beberapa poin yang digarisbawahinya.

a)      Sebelum menyelidiki segala sesuatu, perlulah menganalisa kemampuan kita untuk melihat obyek nalar dan hal ihwal yang berada di luar wewenangnya.

b)      Dengan mengetahui kemampuan kita, maka kita akan mengetahui dengan lebih baik apa yang dilakukan dengan harapan akan berhasil; dan ketika kita menganalisa secara baik kekuatan pikiran kita dan melakukan satu penilaian tentang apa yang kita nantikan dari padanya, kita tidak akan cenderung berdiam diri tanpa membuat pikiran bekerja, menyerah dalam upaya mengenal sesuatu atau malah meragukannya dan menolak setiap pengenalan karena beberapa hal tidak dapat dipahami.

c)      Tugas kita bukan mengenal semua hal, melainkan fokus pada perilaku kita. Jika kita dapat menemukan suatu ukuran lewat mana makhluk rasional dapat dan harus menata pendapat dan aksinya sendiri, kita seharusnya tidak terganggu olehnya jika berbagai hal lepas dari pengenalan kita.

d)      Jadi, dalam esay ini yang dikehendaki adalah memeriksa nalar kita, kemampuan kita dan melihat keselarasannya dengan apa saja. Banyak orang yang mengabaikan hal ini, kemudian memperluas ruang penyelidikannya melampaui kemampuannya dan membiarkan keliru pikiran dalam jurang terdalam, memunculkan banyak persoalan dan menimbulkan beragam perdebatan, sehingga tidak pernah mencapai solusi yang jelas, akhirnya memperpanjang dan menambah keraguan dan menjerumuskan mereka dalam skeptisme total.

e)      Setelah mengenal kemampuan intelek, menemukan keluasan, memilah horison dengan menentukan batasan dan bagian yang jelas dan gelap, apa yang diketahui dan belum, maka orang akan terlepas dari skrupolitas akibat ketidaktahuan dan memakai pikiran dan diskursus dengan keunggulan yang besar dan kepuasan bagi orang lain.

  1. 3.      Epistemologi

3.1. Asal Muasal Ide

Gagasan Locke tentang ide berbeda sama sekali dari konsepsi klasik maupun Cartesian. Baginya, kata ide digunakan untuk menyebut gambaran/kesan (immagine), pengertian (notion), jenis (species) atau segala sesuatu yang menjadi sasaran dari aktivitas berpikir. Jadi ide mengacu pada obyek nalar ketika seseorang berpikir. Karena itu, ide bukanlah bawaan tetapi selalu berasal dari pengalaman semata. “Tiada alasan untuk percaya bahwa jiwa berpikir lebih dulu daripada organ pengindera yang menyodorkan ide-ide yang dipikirkannya. […] dengan membuat semesta ide ini dan merefleksikan aksinya, berkembang pula warisan dan kemudahan nalar dalam mengingat, mencitrakan, menalar dan memanfaatkan cara berpikir lainnya”.

Bagi Locke jiwa adalah tabula rasa. “Dapat digambarkan bahwa jiwa seperti kertas putih, tanpa karakter dan ide. Dengan cara apa akan digoresi? Dari mana datang sekian simpanan yang telah ditandai oleh fantasi liar dan tanpa batas dengan variasi yang hampir tak berhingga? Dari mana diperoleh semua materi nalar dan pengetahuan? Kujawab hanya dengan satu kata: dari PENGALAMAN. Semua pengetahuan bersandar pada pengalaman dan berasal dari padanya”.

Ada dua jenis pengalaman: i) pengalaman tentang obyek eksternal dan ii) pengalaman tentang kegiatan internal pikiran dan gerakan batiniah kita. Pengalaman tentang obyek eksternal dan kegiatan internal pikiran dan gerak jiwa menghasilkan dua bentuk ide.

1) Dari obyek eksternal muncul segenap ide sensasi dari satu pengindera, misalnya ide warna, suara dan rasa dan dari beberapa organ pengindera, seperti ide keluasan, figura, gerak dan immobilitas. 2) Dari kegiatan internal batiniah lahir ide refleksi, misalkan ide persepsi dan volisi, ide sederhana yang timbul dari refleksi yang berhubungan dengan persepsi: sakit, senang, lemah, kuat dst.

Ide berada dalam pikiran manusia, tetapi di luar pikiran terdapat satu kekuatan yang dapat menghasilkan ide, yakni kualitas subyek. “Semua yang dicerap oleh pikiran dalam dirinya kita sebut ide atau yang menjadi obyek langsung pencerapan, pikiran atau intelek. Sebaliknya daya yang mampu memproduksi ide dalam pikiran dinamakan kualitas subyek. Begitulah misalnya, satu bola salju memiliki daya menghasilkan ide putih, dingin dan bulat dalam kita. Jadi daya yang menghasilkan ide dalam kita disebut kualitas”.

Dari gagasan tersebut muncul distingsi kualitas primer dan kualitas sekunder. Kualitas primer dan riil melekat pada benda bersangkutan, misalnya kekentalan/keliatan, keluasan, figura, bilangan, gerak dan diam. Kualitas primer adalah obyektif, karena ide-ide yang dihasilkan dalam kita merupakan copian persis dari kualitas tersebut.

Kualitas sekunder merupakan daya kombinasi variatif kualitas primer, seperti warna, rasa, bau dst. Adapun kualitas sekunder adalah subyektif, karena bukan copian pas, melainkan daya produktif kualitas primer. Ada banyak kualitas yang berada dalam benda hanya merupakan daya memproduksi aneka sensasi melalui kualitas primer. Artinya, kualitas sekunder merupakan kwalitas yang timbul dari benturan antara obyek dengan subyek pencerap.

Pikiran bersifat pasif ketika menerima berbagai ide sederhana. Meski demikian, sekali menerima ide, pikiran mampu bekerja atas ide dengan berbagai cara, khususnya mengombinasi ide-ide dan memformat ide kompleks serta memisahkan ide-ide yang saling terkait (abstraksi) dan membentuk ide umum.

Ide kompleks terdiri atas tiga kelompok. i) ide modus/cara: mencakup semua ide yang terkombinasi secara demikian, tidak memuat pengertian berada per se, melainkan dianggap tergantung pada atau sifat substansi. Contoh: bunuh diri, bersyukur dst.

ii) ide substansi dari anggapan bahwa beberapa ide sederhana selalu berpadu, sehingga kita terbiasa mengira bahwa ada satu substratum/subyek yang menjadi landasan atau sandaran, meski kita tidak mengetahui apa dan bagaimana eksistensinya.

iii) ide relasi timbul dari pertemuan atau benturan antar ide dan perbandingan yang dilakukan oleh intelek atas ide-ide. Tiap ide dapat dihubungkan dengan aneka benda dalam sekian cara (manusia dikaitkan dengan sesama bisa menjadi: bapak, saudara, anak, kakek, cucu, ipar, keponakan dst.) Perbandingan itu berlaku untuk semua ide lainnya. Dari semua ide, terdapat beberapa ide relasi yang penting sekali, yakni ide relasi sebab dan akibat, relasi identitas dan relasi moral.

Locke tidak mengkritik gagasan mengenai substansi, esensi dan ide universal. Dia tidak menyangkal eksistensi substansi sebagai substansi, melainkan apa arti dan bagaimana eksistensi substansi dalam realitas. Substansi dimengerti sekedar sebagai sandaran bagi kualitas untuk berada.

Turunan dari kritik atas substansi adalah penolakan atas esensi. Kita tidak mengenal esensi riil sebagai id quod est, struktur ada sebagai ada, melainkan esensi nominal. Esensi nominal adalah nama yang diberikan kepada benda-benda tertentu.

3.2. Tiga Derajad Kepastian

Ide merupakan bahan pengetahuan, tetapi belum menjadi pengetahuan yang benar. Ide masih berada di luar benar dan salah; benar dan salah dari satu atau beberapa ide dipastikan oleh persetujuan-kesepakatan dan penentangan-penolakan. “Bagiku tampak bahwa pengetahuan merupakan persepsi tentang koneksi dan persetujuan atau penolakan dan pertentangan di antara semesta ide”.

Persetujuan dan penolakan mempunyai empat golongan. a) identitas dan diversitas, b) relasi, c) koeksistensi dan koneksi niscaya dan d) eksistensi rill.

Persetujuan antar ide yang dicerap lewat intuisi merupakan persetujuan yang didapat lewat evidensi langsung. “Didalamnya, pikiran tidak terbebani untuk mencoba dan menganalisa, tetapi mencerap kebenaran seperti mata mencerap cahaya, mengarahkan diri padanya. Begitulah pikiran mencerap bahwa putih bukan hitam, lingkaran bukan segitiga, tiga lebih daripada dua dan sama dengan satu tambah dua. Pikiran mencerap jenis kebenaran ini begitu melihat ide secara bersama-sama melulu oleh intuisi murni, tanpa bantuan dari ide lainnya: dan jenis pengetahuan ini adalah yang terjelas dan pasti dan kerapuhan manusiawi mampu mengenalnya. […] pikiran dipenuhi segera oleh sinar cahayanya. Dari intuisi ini bergantung semua kepastian dan kejelasan semua pengetahuan kita”.

Pembuktian didapat manakala pikiran mencerap persetujuan dan penolakan di antara ide-ide secara tidak langsung. Pembuktian dikerjakan melalui “jembatan” atau bantuan dari ide yang lain dan proses ini dinamakan penalaran. Validitas pembuktian didasarkan pada validitas intuisi.

Semua proses ini tanpa menimbulkan persoalan bagi tiga golongan dari persetujuan dan penolakan. Permasalah timbul pada golongan keempat, yakni eksistensi riil, karena meliputi persetujuan antara ide dan realitas eksternal dan bukan persetujuan antar ide belaka. Konsep klasik kebenaran veritas adaequatio intellectus ad rem est.

Untuk memecahkan persoalan tersebut Locke menempuh jalur demikian. Menurutnya, kita mempunyai pengetahuan tentang i) eksistensi kita melalui intuisi, ii) eksistensi Allah lewat demonstrasi dan iii) eksistensi yang lainnya melalui sensasi (Essay, IV, IX, 2).

a)      Berkaitan dengan pengetahuan tentang eksistensi manusia melalui intuisi, Locke mengatakan “tiada hal yang lebih jelas lagi bagi kita selain eksistensi kita. Saya berpikir, menalar, merasa senang dan sakit. Dapatkah salah satu dari semua ini lebih jelas bagiku daripada eksistensiku? Jika saya meragukan semua hal lainnya, keraguan ini membuatku mencerap eksistensiku dan menghapus keraguanku padanya. Dengan demikian, jika aku tahu merasa sakit, jelaslah bahwa aku memiliki satu pencerapan pasti tentang eksistensiku seperti eksistensi sakit yang kurasakan; atau bila aku meragukan, aku mempunyai pencerapan pasti tentang eksistensi sesuatu yang meragukan seperti pikiran yang kunamakan “keraguan”. Pengalaman meyakinkan kita bahwa kita memiliki pengetahuan intuitif tentang eksistensi kita dan satu pencerapan infalibile bahwa kita berada” (Ibid, 3).

b)      Pembuktian eksistensi Allah berangkat dari prinsip metafisik klasik: ex nihilo nihil dan prinsip kausalitas. “Manusia tahu, berkat kepastian intuitif, bahwa ketiadaan murni mustahil menghasilkan ada riil maupun tidak dapat sejajar dengan dua sudut tegak lurus.[…] Karena itu, jika kita tahu bahwa terdapat ada riil dan bahwa ketiadaan tidak dapat menghasilkan dua sudut, ini adalah pembuktian bernas bahwa dari keabadian ada sesuatu; karena sesuatu yang tidak ada dari keabadian memiliki awal; dan sesuatu yang memiliki awal harus dihasilkan dari sesuatu yang lain” (ibid, IV, X, 3).

c)      Terhadap eksistensi sesuatu di luar kita, keyakinan kita kurang begitu pasti. “Memiliki satu ide tentang sesuatu dalam pikiran bukanlah bukti tentang eksistensi sesuatu itu, lebih lagi gambar seorang manusia (tak) memperjelas keberadaannya dalam dunia atau penglihatan dalam mimpi tampak seperti sejarah yang benar nyata” (ibid, IV, XI, 1). Jadi gambar manusia yang dibuat dan tampilan dalam mimpi bukanlah bukti bahwa manusia tergambar dan tampilan mimpi yang dialami sungguh nyata ada.

Meski demikian, karena kita tidak menghasilkan ide-ide, jelaslah bahwa semua ide harus dihasilkan oleh obyek eksternal. Hanya saja kita merasa pasti tentang eksistensi dari suatu obyek yang menghasilkan ide dalam kita ketika sensasi terwujud nyata. “Kita memiliki berita tentang eksistensi benda-benda eksternal melalui indera kita” (ibid,3) atau “kerap kali ide-ide dihasilkan dalam kita dengan rasa sakit” ( ibid, 6), misalkan, rasa lapar, haus, sakit kepala.

Jadi, gagasan klasik mengenai kebenaran dimengerti Locke bukan dalam artian kesesuaian (korispondensi) melainkan kemiripan (conformitas), sejauh ide-ide dihasilkan kembali persis seperti model (archetipe) benda bersangkutan.

Di luar ketiga kepastian, masih terdapat apa yang disebut dengan keputusan probabilitas, yang berarti persetujuan antar ide tidak dicerap secara langsung maupun mediatif melainkan hanya diperhitungkan. Probabilitas merupakan tampilan dari persetujuan dan penolakan melalui bantuan bukti di mana kaitan ide-ide tidak konstan dan tetap atau sebagaimana adanya, “tetapi muncul begitu saja dan sudah memadai untuk menuntun pikiran mempertimbangkan pernyataan apakah benar atau keliru daripada sebaliknya”.

Secara alamiah ada beberapa bentuk probabilitas. Pertama, probabilitas yang disandarkan pada kemiripan sesuatu dengan pengalaman masa lalu dan dari pengalaman kita melihat bahwa hal ihwal tertentu selalu terjadi secara tertentu pula. Dari kesenantiasaan kejadian, kita dapat memperkirakan bahwa bisa jadi hal tersebut berlangsung dengan cara yang sama atau mirip. Kedua, probabilitas jenis kedua didasarkan pada  kesaksian orang lain. kemungkinan suatu hal lebih besar bila terdapat persetujuan dari banyak saksi. Jenis ketiga adalah probabilitas yang dibangun di atas analogi melalui spesies yang lain, misalnya eksistensi intelek lain yang berbeda dari intelek kita atau malaikat atau cara kerja alam. Jenis keempat adalah iman. “Di luar semua yang telah disebutkan, terdapat satu jenis pernyataan yang mensyaratkan taraf tertinggi persetujuan kita yang disandarkan di atas kesaksian sederhana, entah sesuai atau tidak dengan pengalaman umum atau alur biasa segala sesuatu. Alasan dari semua ini adalah bahwa kesaksian tentang yang Tunggal yang mustahil menipu dan tertipu. Ia memuat jaminan bahwa Dia berada di atas semua keraguan, bukti tanpa kekecualian. Dengan nama khusus disebut pewahyuan dan persetujuan kita atasnya dinamakan iman. […] Iman adalah persetujuan yang dibangun di atas alasan tertinggi”.

  1. 4.      Bahasa

Gagasan Locke tentang asal usul ide dan cara kerjanya dalam struktur pengetahuan kita menimbulkan kesulitan besar dalam memahami abstraksi. Dalam gagasan metafisika klasik, abstraksi mengacu pada aktivitas nalar dalam mengupas dimensi material (dematerialisasi) dari ada tertentu, sehingga berhasil menangkap esensi atau hakekatnya. Mengingat bahwa Locke menyangkal esensi riil ada atau menolak kedapatdikenalkan esensi riil ada, maka gagasannya tentang abstraksi berbeda pula dari pengertian klasik.

Abstraksi merupakan aktivitas memangkas atau melepas beberapa bagian dari ide kompleks dari bagian lainnya atau parsialisasi ide-ide lain yang lebih kompleks. Misalkan, saya memiliki ide tentang Budi dan Iwan. Lalu ide-ide kompleks yang kurang umum disingkirkan (misalnya rendah, muda, kurus, sipit, keriting, hitam dan pincang) dan ide yang umum bagi keduanya dipertahankan. Ide umum tersebut diberi nama “manusia” dan nama ini digunakan pula untuk menunjukkan semua individu lainnya.

Istilah manusia merupakan nama belaka. “Jelaslah bahwa yang biasa dan umum (general dan universal) bukan termasuk pada eksistensi riil dari sesuatu, melainkan temuan dan ciptaan intelek, dibuat intelek untuk dimanfaatkannya serta menyangkut tanda-tanda semata, kosakata atau gagasan”. Kosakata adalah general ketika digunakan sebagai penanda ide-ide biasa, sehingga dapat diterapkan secara berbeda pada berbagai macam hal partikular; ide-ide bersifat general manakala diposisikan untuk mengungkapkan aneka hal partikular. Namun universalitas bukanlah bagian dari benda itu sendiri, yang berciri partikular dalam eksistensinya, termasuk kosakata dan gagasan yang berciri general dalam maknanya. Karena itu, begitu kita menjauh dari yang partikular, generalitas yang tersisa merupakan rekayasa dari ketrampilan kita; secara hakiki hakekat generalitas adalah kapasitas penyimpulan intelek untuk memaknai atau menyata-kan berbagai hal partikular. Makna yang dipunyai hanyalah satu relasi yang dikaitkan dengan hal partikular oleh pikiran manusia”. Dengan demikian, istilah atau sebutan yang dialamatkan pada setiap benda merupakan rekayasa pikiran belaka dan rekayasa tersebut ditandai dengan nama, yang oleh sekian orang disetujui sebagai penanda baginya. Jadi, bahasa hanyalah ungkapan pikiran untuk menandai suatu obyek partikular yang dicerapnya melalui organ penginderaan.

  1. 5.      Etika dan Politik

Locke menyintesiskan doktrin moralnya secara demikian. “Hal apa yang mendorong kehendak melakukan aksi? Dipikir lebih jauh, saya yakin bahwa bukanlah kebaikan yang ada di depan mata, sebagaimana diyakini banyak orang, melainkan berbagai kesusahan (sebagian besar kesusahan yang menekan) yang menimpa manusia. Itulah yang berulang kali menentukan kehendak dan menggerakkan kita untuk beraksi. Kesusahan itu dapat disebut desiderium, yaitu kesusahan hati karena memerlukan hal baik yang tidak ada. Kesakitan badan jenis apapun dan gangguan pikiran merupakan kesusahan dan padanya, rasa sakit atau susah, hasrat, senantiasa menyatu dan sukar sekali dibedakan darinya. Maka, hasrat tiada lain adalah kesusahan karena keperluan pada hal baik yang mangkir, mengacu pada satu rasa sakit, ganjarannya adalah hal baik yang absen; dan sejauh pemenuhan tersebut belum tercapai, kita dapat menamakannya hasrat, sebab tiada seorangpun merasa sakit atas sesuatu yang tidak ingin digapai, dengan hasrat yang sama, dengan rasa sakit itu dan terpadu dengannya”.

Jadi yang mendorong individu berbuat dan menentukan kehendak untuk melakukan aksi adalah pencaharian akan kesejahteraan dan kebahagiaan. Kebebasan bukan lagi cetusan dari kehendak bebas individu; bukan berada dalam menghendaki, melainkan “dalam kemampuan beraksi dan berpantang dari aksi”. Kekuasaan ada dalam tangan manusia; dia berkuasa untuk menunda pelaksanaan pemenuhan kebutuhan guna memeriksa kegunaan atau kemubazirannya.

“Baik dan buruk tiada lain adalah kesenangan dan kesakitan atau yang mendatangkan dan menyediakan bagi kita senang dan sakit. Kebaikan dan keburukan moral merupakan sekedar kemiripan atau penolakan aksi bebas kita dengan beberapa kaidah, lewat mana kebaikan dan keburukan disodorkan pada kita oleh kehendak dan kekuasaan legislasi; dan kebaikan atau keburukan itu, senang dan sakit yang mengiringi ketaatan dan pelanggaran hukum yang telah dimaklumatkan penguasa, kita namakan ganjaran dan hukuman”. Jadi, etika Lockian adalah utilitaristis dan eudemonistis.

Adapun hukum yang mengatur tingkah laku manusia mempunyai tiga sumbernya dan karena itu ada tiga jenis hukum. i) hukum ilahi, ii) hukum sipil, iii) hukum opini publik atau reputasi. Dinilai dari sudut hukum ilahi, perbuatan individu terbagi dalam dosa dan kewajiban; dipandang dari kacamata hukum sipil, tindakan manusia dikategorikan sebagai jahat dan inosen; dilihat dari sudut pandang opini publik atau reputasi, aksi individu digolongkan ke dalam kebajikan atau keutamaan dan cacat cela. Pada dasar moralitas ada hukum rivelasi yang bertalian dengan hukum yang dimaklumkan melalui lumen naturae, hukum yang dapat ditemukan oleh nalar manusia.

Berkaitan dengan konstitusi politik, Locke mengelaborasi teori konstitusi liberal. Konsep ini kemudian diperjuangkan selama revolusi politik tahun 1688 di Inggris. Dalam pandangan Locke, monarki bukan bersandar pada hak ilahi, karena hak demikian tidak ditemukan dalam Kitab Suci maupun Patristik.

Masyarakat dan Negara lahir dari hak kodrati, yang sehaluan dengan nalar. Asal muasal Negara adalah nalar dan bukan insting liar untuk hidup dan mempertahankan hidup. “Karena setiap orang adalah sederajad dan merdeka, tiada seorangpun boleh membahayakan yang lain dalam hidup, kesehatan, kebebasan dan kepemilikan”. Hak hidup, hak bebas, hak milik dan hak untuk melindungi semua hak manusia merupakan hak kodrati.

Ketika manusia melebur dalam masyarakat dan negara, maka setiap orang melepaskan haknya untuk membela diri seturut kepentingan sendiri. Pengemban tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi hak hidup setiap orang diemban oleh negara. Karena itu, negara memiliki kuasa untuk membuat hukum (kuasa legislatif), menerapkan dan mengawasi aplikasi hukum (kuasa eksekutif). Batas kekuasaan negara ditentukan oleh hak semua warga negara yang melekat pada setiap orang; warga negara berhak melawan kuasa negara, manakala perilakunya bertentangan dengan finalitas negara sebagai penjamin hak asasi manusia. Pemerintah tetap tunduk pada keputusan penduduknya.

Berhadapan dengan agama, negara mesti mengambil jarak dan sekaligus memberi ruang bagi setiap orang untuk menghayati imannya dengan bebas. Iman merupakan pilihan bebas tiap pribadi dan jangan pernah dipaksakan, sehingga mesti dihargai dan ditoleransi oleh semua. “Toleransi pada mereka yang saling berbeda karena iman merupakan hal yang senafas dengan Injil dan nalar”.

  1. 6.      Agama, Nalar dan Iman

Dalam Postscript of Letter to Edward Stillingfleet 1697, Locke menulis demikian. “Kitab Suci selalu menjadi penuntun tetap pemikiranku sekarang dan nanti; dan saya senantiasa mendengarkannya karena memiliki kebenaran infallibile menyangkut hal ihwal yang paling penting. Seakan tiada misteri dalam Kitab Suci; tapi harus saya akui bahwa bagiku selalu ada dan akan demikian adanya. Ketika ada kekurangjelasan tentang sesuatu, saya akan menemukan dasar memadai, sebab saya bisa yakin: Allah telah menyabdakannya. Saya akan menghakimi langsung dan menolak setiap doktrinku, begitu terbukti bertentangan dengan doktrin rivelasi dalam Kitab Suci”.

Meskipun identitas dan iman kristiani demikian kuat terungkap dalam tulisannya, Locke tetap mempertahankan kemandirian nalar dan agama; keduanya berada pada domain yang berbeda. Mustahil kebenaran nalar bertentangan dengan kebenaran iman yang diwahyukan lewat Kitab Suci, karena pada dasarnya semua kebenaran mengalir dari satu sumber semata: Allah sendiri sebagai sang Kebenaran Sejati.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s