Postmodern: Sebuah Ruang Pewartaan Iman Kristiani

Postmodern telah menjadi suatu tema pembicaraan yang akrab di telinga banyak orang; mulai dari kalangan intelektual hingga kalangan awam. Banyak diskusi, baik formal maupun non-formal diselenggarakan hanya untuk membedah esensi postmodern. Berbagai pemikir, sudut pandang ditawarkan sebagai pisau bedah, guna menganalisis secara intensif tema tersebut. Mulai dari sejarah munculnya, hingga legitimasi sebagai sebuah diskursus.

Bebagai soal digelar bersamaan dengan tema postmodern, hanya untuk menunjukkan bahwa semua bidang telah dimasuki oleh tema tersebut. Mulai dari dunia seni (musik dan asitektur), budaya, kemanusiaan, hingga problem beriman kepada Tuhan. Banyak artikel dan buku-buku telah terbit, dengan tema postmodern. Bahkan di Amerika Serikat, diterbitkan majalah dengan judul, Feminisme dalam Era Postmodern[1]. Dalam tulisan ini, penulis  bermaksud membahas tema postmodern dalam kaitannya dengan peluang pewartaan injil atasnya.

Klarifikasi Istilah

Istilah postmodern memang sudah begitu akrab, namun belum ada kata sepakat mengenai arti istilah tersebut. Lahirnya berbagai pengertian tidak pernah dipersoalkan, bahkan adanya keragaman pengertian itu seakan sudah menjadi lazim untuk menunjukkan identitas manusia postmodern yang mengagungkan pluralitas.

Istilah postmodern muncul dari tahun 1930-an sebagai sebuah fenomena budaya ketika perubahan besar terjadi dalam sejarah dunia.[2] Awalnya, istilah tersebut menunjuk pada perkembangan dalam dunia seni atau arsitektur. Namun, kemudian terjadi pergeseran arti setelah elbow way through di kalangan cendikiawan. Bahkan menjadi sebuah label bagi teori-teori yang sedang popular, di universitas-universitas khususnya jurusan filsafat dan bahasa Inggris.[3]

Arti istilah postmodern menjadi begitu ngambang karena dibubuhi istilah “post”[4] di depan kata “modern”. Kata “post” seakan menjadi pengecoh arti istilah, sebab bila diartikan sebagaimana dikatakan Lyotard,[5] yakni; sebagai pemutusan hubungan pemikiran total dari segala pola  kemodernan maka menjadi kurang proporsional. Karena sejatinya  kemunculan “post-modern” tidak bisa lepas dari pemahaman akan modernisasi.

Untuk menghindari pengertian yang ambigu, maka penulis mengartikan postmodern sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern (yang identik dengan abad pencerahan) dan atas metafisik pada umumnya.[6]  Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah itu tak bisa lepas dari pemikiran modern. Ia lahir karena yang satu, bukan sesuatu yang independent.

Kebudayaan Postmodern

Kebudayaan postmodern lahir sebagai penyimpangan atas budaya modern. Ia mendapatkan legitimasi dari kegagalan era modern dalam menuntaskan proyek Pencerahan. Proyek modernisme yang dihidupi oleh semangat Pencerahan terasa mandek. Modernitas yang dengan keyakinan akan prinsip kemajuan  pemikiran, kebenaran ilmiah yang mutlak, keampuhan rekayasa bagi suatu masyarakat yang diidealkan, serta pembakuan tata pengetahuan dan sistem produksi yang keras  saat ini tengah menghadapi ujian besar dengan menyebarnya berbagai patologi modernitas[7].

Sebagaimana dikutip oleh Gud Reacht, Baudrillard menyatakan  bahwa kebudayaan postmodern  memiliki beberapa ciri menonjol.

Pertama, kebudayaan postmodern lebih mengutamakan media (medium). [8] Hal ini ditandai dengan meledaknya budaya massa, budaya populer serta budaya media massa.[9] Media komunikasi berkembang begitu pesat; mulai dari media cetak sampai elektronik.

Kedua, kebudayaan postmodern lebih condong pada budaya fiksi (fiction). Hal ini terlihat dengan jelas dari tulisan-tulisan postmodern yang memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh khayalan dengan segala perilakunya.[10] Mereka lebih mengutamakan estetika (aesthetic) daripada aspek etika (ethic). Hal ini terungkap dari seni postmodern yang menganut aneka ragam gaya.[11]

Ketiga, kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi[12], yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda, citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih. Konsekuensi logis karakter simulasi, budaya postmodern ditandai dengan sifat hiper-realitas, dimana virtual dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama. Bahkan kalau diterlusuri lebih jauh lagi realitas semu  seakan mengalahkan realitas yang sesungguhnya.

Manusia Postmodern

Manusia postmodern tidak lagi percaya bahwa pengetahuan itu mutlak. “Postmodernisme menyerang status khusus kebenaran yang satu, universal, total, dan absolut sebagaimana dipahami dalam modernisme. Kebenaran tunggal dan universal tidak diakui. Yang ada hanya kebenaran-kebenaran yang benar untuk setiap masyarakat atau komunitas.” [13] Yang diyakini seseorang sebagai sebuah kebenaran bukan lagi kebenaran tunggal melainkan bagian dari kebenaran plural. Maka untuk mengganti mitos abad pencerahan yang mengagungkan rasio (akal budi), manusia postmodern mengganti positifisme menjadi fesimime.[14] Iming-iming bahwa hidup manusia semakin hari akan semakin baik, berangsur-angsur lenyap.

Manusia postmodern adalah manusia sosialis. Dalam diri mereka muncul “kesadaran postmodern”, yakni bahwa manusia yang individualistis tidak akan pernah sampai pada penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan, justru sebaliknya; manusia harus bekerja sama satu dengan yang lain.[15] Sehingga dengan demikian lahirlah, komunitas sebagai dasar kebenaran. Kebenaran bukan lagi yang absolut, universal, melainkan kebenaran menurut kelompok, atau komunitas tertentu. Dengan demikian, kebenaran bukan lagi satu melainkan tergantung pada apa yang bisa dipahami oleh setiap manusia.

Manusia postmodern adalah manusia yang tak lagi percaya pada keobjektifan kebenaran rasio, melainkan kebenaran yang relikatif dan personal. Rasio bukan lagi segalanya. Hal ini dibuktikan oleh Nietzshe, dengan membunuh tuhan abad pencerahan. Rasio bukan segala-galanya adalah kesimpulan dari sebuah pengalaman bahwasannya ada saat dimana manusia tidak menemukan apa yang inginkannya dalam ratio[16].

Pewartaan dalam Dunia Postmodern

Sesudah kebangkitan-Nya Yesus berkata kepada para murid: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (Mrk 16:15). Perintah ini jelas mau mengungkapkan bahwa tugas mewartakan injil adalah tanggung jawab setiap orang beriman, dimanapun mereka berada dalam setiap masa. Itu sekarang mengahadapi tantangan berat. Meskipun demikian perintah ini haruslah dilakukan sebagai mana tugas utama umat Allah. Oleh karena itu; perintah itu sendiri seakan mengharuskan kita menerjemahkan pewartaan dalam konteks postmodern. Bagaimana kita mewartakan injil sedemikian rupa sehingga mengena pada konteks postmodern?

Dalam era postmodern disposisi iman kristiani menemukan sebuah paradoks. Di satu sisi postmodern yang menolak mentah-mentah pemikiran pencerahan akan adanya kebenaran obyektif; secara tidak langsung pemikiran semacam ini menolak adanya doktrin yang dianut oleh Gereja. Selain itu, postmodern yang tidak mengakui kebenaran universal, sehingga melahirkan skeptsisime, sangat kontras dengan komitmen Kristiani yang menyatakan diri sebagai pengikut Yesus Kristus yang mengharuskan dirinya berpegang teguh pada titik pusat.[17] Singkatnya; manusia yang hidup dalam mentalitas postmodern ini sungguh memerlukan sebuah pemahaman baru tentang realitas iman sebagai suatu hubungan real dengan Allah.[18]

Pewartaan kristiani tidak bisa lepas dari konteks. Artinya; mau tidak mau perubahan dari era modern ke postmodern juga mengubah pewartaan kita. Bukan isi pewartaannya melainkan lebih pada metode pewartaannya[19]. Berbeda dengan era modern, dimana para pewarta menghabiskan tenaga hanya membuktikan kebenara iman kristen secara rasional.[20] Terbukti, metode pewartaanya senantianya becampur baur dengan apologetik rasional untuk mempertahankan dan membuktikan kebenaran Allah, yang menjelma menjadi manusia sebagaimana diwartakan dalam Kitab Suci.

KV II dengan jelas menggambarkan apa persoalan beriman yang dihadapi dewasa ini.

“Akhirnya hidup keagamaan sendiri terpengaruh oleh keadaan-keadaan baru. Di satu pihak kemampuan mempertimbangkan secara lebih kritis menjernihkannya dari pandangan dunia yang bercorak magis dan dari takhayul-takhayul yang masih cukup luas tersebar, serta semakin menuntut kepatuhan pribadi dan aktif terhadap iman. Dengan demikian tidak sedikitlah orang yang lebih hidup kesadarannya akan kehadiran Allah. Tetapi dipihak lain banyaklah kelompok cukup besar, yang menjauhkan diri dari pengalaman agama. Berbeda dengan masa lampau, ingkar terhadap Allah serta agama, atau tidak lagi mempedulikannya, bukan lagi merupakan kekecualian atau soal perorangan saja.  Sebab dewasa ini tidak jaranglah sikap-sikap itu diperlihatkan sebagai tuntutan kemajuan ilmiah atau suatu humanisme baru. Itu semua di pelbagai daerah  bukan hanya diungkapkan dalam kaidah-kaidah para filsuf, melainkan secara sangat luas menyangkut dunia sastra dan alam kesenian, pun juga penfsiran arti ilmu-ilmu manusia dan sejarah, serta hukum-hukum sipil sendiri, sehingga banyak orang karena itu mengalami kekacauan batin”.[21]

                      Apa yang dialamai dunia sebagaimana yang dinyatakan oleh Konsili tersebut, menjadi tanggung jawab bagi para pewarta untuk membawa kabar baik. Apakah masih ada ruang untuk pewartaan injil? Tentu saja postmodern, yang memanggil kembali agama ke pangkuan manusia[22], dengan sendirianya menjadi ruang bagi pewartaan injil. Sekarang tergantung bagaimana kita menterjemahkan injil dalam situasi postmodern. Stanley J. Grenz menawarkan 4 cara penginjilan dalam era postmodern:[23]

1         Postindividualistik

Dalam dunia postmodern, kita tidak dapat mengikuti modernisme yang menjadikan individu sebagai pusat segalanya.[24] Artinya, dunia postmodern  mendorong kita melihat pentingnya aspek komunitas iman, aspek sosiologis iman dalam pewartaan.[25] Komunitas basis menjadi suatu yang relevan.

Konsep Allah Tritunggal kiranya cukup menjadi rujukan yang memampukan kita melihat bahwa iman kita bersifat sosial. Kehadiran kita sebagai pewarta terwujud dalam hidup bersama dengan situasi dan kondisi yang sama.Meskipun Alkitab tetap mengajarkan bahwa persatuan dengan Allah adalah relasi yang sangat personal. [26]

2         Postrasionalistik

Manusia postmodern  mengakui bahwa refleksi intelektual dan sains tidak cukup menyentuh setiap aspek realitas atau tidak cukup memimpin manusia menemukan setiap aspek akan kebenarah Allah. Justru sebaliknya; iman kristiani membuka ruang bagi konsep misteri; bukan sebagai pelengkap unsur rasional tetapi mengingatkan manusia bahwa realitas Allah yang kita imani melampaui rasio manusia.[27] Tapi, bukan berarti pewartaan iman kristen tidak boleh menyentuh ranah intelektual.

Pewartaan injil dalam dunia postmodern harus bersifat postrasionalistik karena iman kekristenan tidak hanya mementingkan masalah otak (akal budi). Kitab suci sebagai dasar dan sumber iman Kristiani, sangat memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. Kalau mau ditelusuri lebih dalam, Kitab Suci lebih mementingkan masalah hati ketimbang rasio. “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7)

3         Postdualistik

Sebagai pewarta kita harus berani mengambil kritik postmodern atas modenisme[28], karena manusia postmodern menyadari kemanusiaannya secara menyeluruh. Injil yang diwartakan harus menyentuh manusia dalam keutuhan mereka. Yang mencakup; integrasi antara sisi emosi dan sisi tubuh inderawi dengan sisi rasional dalam suatu pribadi.[29]

Namun, selain itu pewartaan postmodern dengan sifat postdualistiknya hendak mengatakan bahwa Tuhan telah melayani manusia seutuhnya dan pribadi manusia dalam hubungan dengan pribadi manusia lain.[30] Allah yang hendak diwartaklan bukan lagi Allah yang jauh, melainkan Allah yang sungguh dekat, bahkan berada di tengah kehidupan dan permasalan manusia.

4         Postnoetisentrik

Pewartaan injil dalam dunia postmodern juga bersifat  Postnoetisentrik artinya; kita harus mengakui bahwa tujuan hidup manusia lebih dari sekedar mengumpulkan pengetahuan.[31] Meski demikian postmodern tidak menyangkal bahwa intelektual atau pengetahuan tidak penting sama sekali. Sebab kita tahu bahwa pengetahuan yang benar akan Allah juga mengantar pada persatuan dengannya. Singkatnya; pewartaan dalam dunia postmodern yang bersifat postnoetisentrik berarti menekankan relevansi iman dalam setiap dimensi kehidupan, bukan melulu pada dimensi intelektual.

Penutup

Oleh karena itu unsur metodogis dari sebuah pewartaan harus senantiasa dievaluasi. Hal ini dimaksudkan untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan manusia postmodern. Pewartaan kita hendaknya mengetengahkan kepuasan emosional dan  yang menyetuh seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks ini perlu dipikirkan dan dipertimbangkan sesuatu yang mensinergikan hal-hal yang berkaitan pikiran dan perasaan. Supaya terjadi keseimbangan pikiran dan perasaan, karena keduanya adalah bagian dari hidup manusia.[32]

Dengan demikian jelas, bahwa postmodern, menjadi sebuah ruang bagi pewartaan iman. Tergantung, bagaimana para pewarta menginterpretasikan isi pewartaan dalam konteks manusia yang hidup dalam era postmodern.

****

Kepustakaan

Grenz, Stanley J. A Primer Postmodern: Pengantar untuk memahami Postmodernisme dan peluang penginjilan Atasnya. Yogyakarta: Yayasan Andi, 2001.

Hardawiryama. R. SJ (terj). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor, 2009.

Jacob, Tom, SJ. Paham Allah: Dalam Filsafat, Agama-Agama dan Teologi. Yoyakarta: Kanisius, 2002.

Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Posmodernisme. Yogyakarta: Ar-Ruzmedia, 2008.

Lash, Scott. Sosiologi Postmodern. Yogyakarta: Kanisius, 2000.

Sugiarto, I. Bambang dan Agus Rachmat W. Wajah Baru Etika dan Agama. Yogayakarta: Kanisius, 2000.

Wegig, R. Wahana, SJ. Pewartaan Iman Kontekstual. Yoyakarta: Kanisius, 2001.

Sumber internet

Anonim, http://urapan-ilahi.blogspot.com/gereja-era-postmodern.html diakses pada tanggal 23 Maret  2010.

Reacht, Gud Hayat Padje. Mengenal Lebih Dalam Postmodernisme, http://opayat.multiply.com/journal/item/2 diakses pada tanggal 23 Maret  2010.

Anonim,  http://www.sttcipanas.ac.id/index.php, diakses pada tanggal 8 April 2010.

 

*****

 


[1] Lih. Scott Lash, Sosiologi Postmodern,  Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 13.

[2] Stanley J. Grenz, A Primer Postmodern: Pengantar untuk memahami Posmodernisme dan peluang penginjilan Atasnya, Yogyakarta: Yayasan Andi, 2001, hlm. 8.

[3]  Bdk. Ibid, hlm. 9.

[4] I. Bambang Sugiarto dan Agus Rachmat W, Wajah Baru Etika dan Agama, Yogayakarta: Kanisius, 2000, hlm. 12.

[5] Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Posmodernisme, Yogyakarta: Ar-Ruzmedia, 2008, hlm. 305.

[6] Ibid, hlm. 309.

[7] Gud Reacht Hayat Padje, Mengenal Lebih Dalam Postmodernisme
http://opayat.multiply.com/journal/item/2. diakses pada tanggal 23 Maret  2010.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Stanley J. Grenz, Op.cit. hlm. 48

[11] Ibid, hlm. 42.

[12] Gud Reacht Hayat Padje, Art.cit.

[13] Anonim, Htt://urapan-ilahi.blogspot.com/gereja-era-postmodern.html

[14] Stanley J. Grenz, Op. cit, hlm. 16.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Titik pusat yang dimaksudkan adalah Yesus Kristus, sebagai pusat iman dan pewartaan Kristiani. Ibid, hlm.  266-267

[18] Tom Jacob, SJ, Paham Allah: Dalam Filsafat, Agama-Agama dan Teologi, Yoyakarta:Kanisius, 2002, hlm. 113.

[19] Kredibilitas Gereja tidak terletak pada apa yang diajarkannya melainkan bagaimana ia mewartakannya. Mewartakan injil bukan lagi penyampaian ajarannya melainkan lebih pada sharing iman dalam seluruh aspek kehidupannya. Bdk. R. Wahana Wegig, SJ, Pewartaan Iman Kontekstual,  Yoyakarta:Kanisius, 2001, hlm. 116.

[20] Stanley J. Grenz, Op.cit, 263

[21] Dokumen Konsili Vatikan II, art.7.

[22] Bdk. Tom Jacob, Op. Cit., hlm. 234.

[23] Stanley J. Grenz, Op.cit,  271-281

[24] Ibid.

[25] Ibid.

[26] R. Wahana, Op.cit, hlm. 118

[27] Ibid.

[28]  Ibid, Dimana modernisme membangun program pencerahan antara materi dan pikiran. Jiwa sebagai substansi yang berpikir dan tubuh sebagai substansi fisik. Artinya; modernism menomorduakan tubuh, demi menyelamatkan jiwa. Faham dualistik modern, yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek dan objek, spiritual dan material, manusia dan dunia, dsb. Dunia menjadi semakin terkotak kotak, manusia cenderung disintegrasi. Bahkan manusia kadang-kadang sudah kehilangan nilai-nilai kebudayaan yang sehat dan hati nuraninya semakin menjadi abu-abu.

[29]  Stanley J. Grenz, Op.cit., 277

[30] Ibid, hlm. 277

[31] Ibid, hlm. 278

[32] Anonim, http://www.sttcipanas.ac.id/index.php, diakses pada tanggal 8 April 2010.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s