Catatan Kuliah Filsafat Barat Modern 4 Desember 2012 bersama Prof. Dr. Eko Armada Riyanto

Pemikiran Nietzsche bukan sekadar “gila”. Bagaimana Nietzsche membunuh Tuhan? Hal ini penting untuk memahami bagaimana dia memblokir filsafat modern. Ia membunuh Tuhan dengan kegilaan. Apa itu “gila”? Kegilaan yang dimaksud pertama-tama ialah narasi orang gila, narasi tentang kegilaan. Nietzsche membuat kisah, membuat cerita tentang orang gila yang bersorak-sorai karena telah membunuh Tuhan, dan yakin bahwa Tuhan sudah tak berkutik. Ingatlah bahwa cara bicara membunuh Tuhan, berarti Tuhan tidak lagi seperti yang ada dalam Mazmur: Tuhan itu raja, pembimbingku, sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, kalau ku pergi ke atas gunung di situ Kau ada, Tuhanlah gembalaku. Hal ini sudah tidak ada lagi. Artinya, seluruh infrastruktur Tuhan sudah lenyap, disangkal habis oleh orang gila itu. Nietzsche juga mengeksplorasi kegilaan ini dari mitos. Sudah lama kita tidak mendengar mitos, nyaris semenjak Aristoteles. Dalam arti tertentu Aristoteles adalah musuh Nietzsche, arena Aristoteles menghantam mitologi. Berabad-abad mitologi dinafikan, dianggap sebagai kebohongan, dipandang sebagai takhayul, dimengerti sebagai omong kosong, di sana-sini ditinggalkan. Mitos tidak ada lagi. Mitos hanya menjadi cerita pengantar tidur.

Nietzsche mengurai mitologi yang de facto sebenarnya sangat kita hidupi. Misalnya mitos Odyssey, kisah raja Odisius, kebangkrutan dunia itu seperti mitologi Odyssey. Odysseus adalah raja yang lihai. Lalu membantu Agamemnon untuk menyerang Troya, yang menculik Helen, istri Agamemnon. Paris, Putra mahkota Troya menculik Helen. Perang Troya menjadi ibu segala perang, karena terjadi selama sepuluh tahun. Singkat kata, setelah sepuluh tahun, benteng Troya bisa dibobol dengan cara membuat kuda, yang di dalamnya ada tentara Yunani. Taktik kotor perang ini berasal dari Odiseus. Dia tidak bisa membongkar pintu. Lalu ia punya ide, bagaimana kalau membuat kuda yang besar dan diantar oleh Xenon. Xenon bermain drama di hadapan para tentara, bercerita bahwa kuda besar ini adalah hadiah dari dewa atas kemenangan Troya atas Yunani. Xenon menjadi tokoh yang paling licik dalam cerita ini. Akhirnya tentara Yunani bisa masuk menyusup dalam kerajaan Troya. Lantas Oddyseus berhasil melawan Troya. Ia pulang melalui laut tanpa permisi atau pun berterima kasih kepada dewa Poseidon. Akhirnya Oddyseus terombang-ambing di laut selama 25 tahun. Selama 25 tahun itu, kerajaan Oddyseus mengalami banyak masalah dan tantangan.

Mitologi ini persis seperti hidup manusia. Manusia terus-menerus mengejar kemenangan, kejayaan, dll. Namun akhirnya manusia menyadari bahwa dirinya begitu rapuh, powerless. Sebelum naik kapal, dia mendapat pilihan jika lewat jalur ini, kamu akan mendengar suara yang membuatmu terpesona, tertarik, namun hal ini akan mengantar armadamu pada kehancuran. Oddyseus adalah raja yang pintar dan pemberani. Lalu sebelum melewati itu, ia menyumbat semua telinga, supaya mereka tidak mendengar suara yang sangat indah itu, dan tidak mengarahkan perahu ke suara itu, tetapi hanya dia yang mendengarkan. Namun pada saat yang sama, supaya ia menginginkan agar ke sana, ke suara itu. Lalu ia meminta agar dirinya diikat, tetapi telinganya tidak disumbat, sehingga dia siap mendengar suara yang sangat indah namun mencelakakan itu, tetapi dia tidak bisa memerintah orang-orang yang mendayung itu ke sana.

Ini adalah momen paling menyiksa Oddyseus. Suara yang begitu indah itu sangat memesona Oddyseus. Suara yang demikian indah itu membuat orang melupakan segala-galanya. Pendengar ingin memeluk sumber suara indah itu, namun itulah awal dari kehancuran. Mitos ini sebenarnya adalah cerita manusia, bahwa kita ingin memeluk keindahan, namun inilah yang menjadi celaka bagi manusia. Maka momen ini menjadi sangat menyiksa, karena Oddyseus berteriak-teriak supaya kapal diarahkan ke sana, namun pendayungnya tidak mendengar. Oddyseus dan para pendayung menjadi gambaran manusia. Simpelnya kalau mau selamat, janganlah mendengar keindahan dunia. Jangan sampai manusia terpancing pada keindahan.

Nietzche mengupload mitologi dengan cara yang berbeda. Mitos lain yang disukai Nietzsche adalah Dionisius. Dionisius adalah anak desa yang pandai, ibunya seorang bunga desa, namun dia adalah anak Zeus. Zeus adalah dewa yang playboy, senang membuat anak. Zeus punya banyak permaisuri dan istri, Hera. Dengan sendirinya, Hera cemburu luar biasa, lantas menyamar sebagai pembantu Dionisius untuk mencelakakan Dionisius dan Hera. Hera menghasut Dionisius muda untuk meminta senjata pada ayahnya. Ketika Zeus datang, Dionisius memnita senjata ayahnya, yaitu petir. Akhirnya, rumah Dionisius dan seisinya terbakar dan matilah ibunya. Lalu bagaimana? Dionisius akhirnya menjadi orang yang benar-benar frustrasi. Dionisius adalah manusia setengah dewa. Karena dia begitu sedih, ia pergi ke Afrika dan mabuk-mabukan. Lantas Dionisius diangkat menjadi dewa pesta di tempat dia tinggal. Dewa pesta artinya hidupnya tidak lagi difondasikan pada akal budi (reason), tetapi pada nafsu (passion). Nafsu bukan dalam konteks seks, tetapi hidup tidak lagi berada di bawah bimbingan akal budi, namun seutuhnya di bawah nafsu. Nafsu inilah yang menjadi pangkal Nietzsche untuk menggusur akal budi. Kalau dikatakan bahwa nafsu di sini berhubungan dengan seksualitas, hal ini terlalu banal, karena apa yang disebut keindahan berada pada wilayah manusia yang bukan dominasi dari akal budi. Dan de facto manusia – menurut Nietzsche – bergumul di sini. Manusia bukan yang bangun pagi, doa, meditasi. Itu karena peraturan. De facto manusia tanpa aturan, maka kacau balaulah hidup manusia.

Nietzsche bukan orang seperti yang kita pikir sebagai sosok yang naif dalam filsafat. Dalam hidup mungkin, tetapi bukan tugas filosof untuk menguraikan kenaifan dalam hidup. Mitologi Dionisius membuat Nietzsche memiliki gambaran bahwa hidup manusia itu driving force-nya, kekuatan yang menyetir, bukanlah reason tetapi passion. Menurut Nietzsche, manusia semakin menampilkan kreativitasnya sebagai manusia, justru ketika dia menggelorakan kapasitas passion-nya. Kebudayaan menurut Nietzsche bukan lahir dari kapasitas yang lain kecuali kapasitas yang menyentuh human passion. Secara khusus hal ini terkait dengan apa yang disebut keindahan, sebab kebudayaan itu eksplorasi keindahan. Lebih khusus lagi, kena pada seni. Seni, dalam filsafat Nietzschean, adalah seni yang menunjukkan gelora, semangat kehidupan. Jadi hidup itu sendirilah yang harus diakui sebagai ukuran dari keindahan. Kembali kepada romantisme, ketika kita mendengar bertapa harmonisnya musik dari Mozart, dkk., bagi Nietzsche harmoni musik itu mengatakan eksplorasi indahnya hidup ini. Ini jelas beyond dari batas-batas rasional yang kaku. Konteks filsafat Nietzsche dengan sendirinya seperti memacu eksplorasi seni sungguhan. Nietzsche itu pencetus revolusi seni. Dan seni itu bukan sekadar seni, seni adalah ekspresi dari hidup itu sendiri. Jadi kalau kamu hidup, buktikan itu dengan seni. Seperti lukisan Afandi, seperti guyuran warna di atas kanvas. Seni jenis ini, jika dilihat sepintas memang seolah-olah mengatakan passion-nya sendiri. Di sana tidak ada prinsip-prinsip rasional.

Kadang pendidikan kita kurang memanusiawikan. Ilmu diajarkan begitu saja, tanpa menghantar kita pada eksplorasi keindahan. Direktur Ferrari pernah berkata, “Kalau kamu menyetir Ferrari, kamu tidak sedang menyetir mobil, duduk di mobil, kamu tidak memegang setir mobil. Kalau menyalakan mesin mobil, kamu tidak menyalakan mobil, tetapi kamu sedang duduk di atas Ferrari, menyetir Ferrari.” Poinnya di sini adalah bahwa tindakan manusia bukan melakukan itu, tetapi mengeksplorasi keindahan. Hidup itu tidak berjalan sekadarnya. Hidup adalah eksplorasi keindahan.

Nietzsche tidak hanya mengajukan seni. Ia juga mengurus moralitas, etika. Menurutnya, etika itu tidak seperti yang kita kira, yaitu kalau mencuri itu tidak baik. Menurut Nietzsche manusia itu belum beretika. Manusia sebatas tidak mencuri karena aturannya begitu. Kita berdoa karena memang ada acara tersebut di biara. Pemikiran Nietzsche ini rasanya perlu masuk dalam biara, menghantam kemunafikan biarawan. Mereka yang tidak berdoa pun, kadang menjustifikasi dengan cara naif. Moralitas Nietzsche sepenuhnya difondasikan pada humanisme, konsep tentang manusia. Ketika Tuhan mati, manusia tidak punya kepastian moral. Manusia akan mencarinya. Pencarian inilah yang akan memberikan pilihan-pilihan etis. Moral Nietzschean bertolak dari kegilaan. Gila di sini bukan dalam arti psikologis, tetapi gila untuk menyangkal infrastruktur akal budi. Karena manusia tidak punya infrastruktur rasional, moral didasarkan pada kepentingan manusia. Contohnya adalah perkawinan gay. Hal ini ditentang juga karena hukum yang mengatur adopsi anak bagi kaum homoseksual. Disposisi terhadap hukum ini bertentangan dengan kodrat anak kecil yang merindukan seorang papa dan mama. Kalau hukum ini dilegalkan, hal ini harus ditinjau ulang. Sebaliknya, di Indonesia kaum gay ditindas sedemikian rupa.

Humanisme punya konotasi atheisme, tetapi maaf, itu dalam konteks Nietzsche. Humanisme punya konteks yang lebih luas. Asal-usul moral Nietzschean adalah kegilaan, dalam arti ketika Nietzsche meninggalkan akal budi, rumusan-rumusan akal budi menjadi sesuatu yang menindas, represif.

Poin selanjutnya adalah apa yang penting yang disebut Nietzsche, “Buku untuk segala sesuatu dan tak satu pun.” Menurutnya, nilai-nilai dalam hidup adalah ciptaan. Kalau kita memandang cinta itu indah dan berlanjut pada perkawinan dan menumbuhkan keluarga baru, maka itu sebiah ciptaan. Itu bukan sesuatu yang berasal dari hidup manusia. Dan lagi, apa yang merupakan kehendak bebas, itulah yang menyetir hidup manusia. Salah satu aksentuasi filsafat Nietzsche dengan mitologi Dion ialah bahwa manusia itu memiliki kehendak bebas. Kehendak itulah yang menyetir hidup manusia. Dalam tulisan “Kehendak untuk Berkuasa”, Nietzsche mengafirmasi bahwa manusia itu memiliki power yang luar biasa. Nietzsche menyebut manusia sebagai will to power, inilah yang disebut kehendak bebas. Dalam Thomas, kehendak bebas untuk mencapai kebaikan, dalam N, kehendak itu ialah untuk berkuasa. Contohnya, seperti yang disebut Thomas Hobbes, ketika manusia lahir, dia menangis. Tangisan ini bukanlah sekadar tangisan. Tangisan itu adalah raungan untuk menerkam yang lain. Manusia itu bukan manusia yang suka menjadi orang yang lebih lemah. Tak mungkin kamu menjadi manusia untuk mempunyai posisi yang lemah. Pemerkosaan adalah cetusan yang paling jelas dalam hal ini. Tentu saja Nietzsche tidak bicara soal pemerkosaan. Tetapi Nietzsche bicara bahwa kepentingan dari nilai itu kerap berada pada kutub untuk berkuasa. Dalam Nietzsche, tidak ada yang namanya baik buruk sedemikian rupa, sebab tindakan atau perbuatan manusia itu berdasarkan pada kesadarannya sendiri, pada dirinya sendiri. Bagaimana kalau de facto ia ingin membunuh orang? Yang bersangkutan pasti bukan membunuh untuk membunuh, tetapi dia berada pada self deception, artinya penipuan diri sendiri. Seorang teroris misalnya, ia membunuh diri bukan karena dia ingin bunuh diri, tetapi dia mengira bahwa dia mati untuk jihad, dengan mati syahid.

Nihilisme bukan soal orang yang tidak punya tujuan. Teroris itu saat briefing tidak ngantukan. Mereka disiplinnya bukan main. Pada waktu dia mau meledakkan dirinya dengan bom, dia bukan tidak tidur. Poinnya, nihilisme berada pada wilayah ini, bahwa sering kali mereka jatuh dalam posisi self deception, penipuan diri. Nietzsche juga menyebut bad conscience, “kesadaran buruk”, misalnya perasaan bersalah, membenci dan dibenci, perasaan apatis. Nietzsche tidak menulis, “Mari kita menjadi gila.” Nietzsche bertolak seutuhnya pada apa yang menjadi pengalaman hidup manusia. Dia mencetuskan “kesadaran buruk” sebagai peringatan, bahwa itu memperburuk kualitas hidup.

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s