Melihat Keprihatinan Dan Tantangan Akan Pembinaan Iman Anak-Anak Dijaman Globalisasi

Bab I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar belakang

Proses pendidikan iman anak sejak dini sebenarnya merupakan usaha pendampingan dan pendalaman untuk meningkatkan mutu hidup beriman dari seseorang. Upaya tersebut diusahakan dengan aneka metode, situasi, dan suasana yang dikembangkan agar orang merasa ditumbuhkan pengolahan yang mendalam atas imannya baik pengetahuan maupun sikap hidupnya dalam beriman. Tumbuh dan berkembangnya iman orang tidak dapat dipengaruhi secara langsung dalam waktu saat itu juga. Dengan demikian, peran orang tua sebgai pendidik utama lebih sebagai usaha untuk menciptakan situasi dan suasana hidup beriman sedemikian rupa, sehingga membantu dan mendukung tumbuh kembangnya iman seorang anak. Proses tumbuh kembangnya hidup beriman ini menyiratkan bagaimana orang berkembang secara utuh, baik secara kognitif, afektif, maupun perilaku dan kehendaknya dalam menghayati apa yang diimaninya.

Situasi dunia dan cara pandang orang yang semakin kompleks, membawa implikasi yang serius bagi proses katekese. Katekese ditantang pada kemajuan cara berpikir, cara bertindak, cara menginternalisasikan makna dan berbagai perubahan yang mendasar menyangkut orientasi cara pandangnya. Untuk itu diperlukan pembaharuan katekese. Katekese harus merujuk kepada konsekwensi logis implikasi dan berbagai perubahan perilaku, sikap, dan tata budaya yang terjadi. Jika kita lihat, ruang hidup keagamaan dewasa ini tidak lagi bersifat single face melainkan sudah bersifat multifaces.

Begitu juga kemajua budaya, membawa ruang-ruang hidup keagamaan kepada relevansi keilmuan dan religiusitas yang majemuk dan beragam. Relevansi keilmuan ini pun cukup membingungkan, dimana ruang agama memasuki tarik menarik antara ilmu dasar dan ilmu terapan. Perkembangan berbagai itu membawa perubahan pada segi hidup cara berpikir. Sifat kehidupan agama yang multifaces membawa angin segar ruang agama yang tidak sarat hanya dengan permasalahan dogma. Ajaran dan teologi semata, melainkan membawa kepada relevansinya terhadap ruang realitas hidup. Namun sering kali ruang agama yang demikian akan membawa sebuah konsekwensi, yang membawa agama sebagai sesuatu yang sarat dengan kepentingan, termasuk dalam ruang politik. Agama bukan lagi sebuah pure scince yang bergerak pada wilayah sakral dan transedenitas. Melainkan sudah bercampur dalam wajah yang profan. Begitu juga, kekayaan religiusitas semakin berkembang sangat beragam, dari yang populer-devosional sampai pada posmo dan  new age.

Dengan perkembangan dunia saat ini masyarakat Indonesia juga sudah terpengaruh dengan apa yang terjadi. Masyarakat Indonesia mengalami suatu perubahan yang sangat luar biasa. Yang mana beralihnya suatu gaya hidup tradisional menuju kepada suatu gaya hidup modern. Dalam hidup sehari-hari, kita selalu disodorkan dan ditawarkan dengan berbagi hal yang menarik dan itu ditawarkan bukan menjadi kebutuhan yang mendesak tetapi menjadi hal yang dasar dan ukuran dalam hidup seseorang. Perkembangan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, politik sangat membawa pengaruh besar dan sekaligus menimbulkan keprihatinan bagi perkembangan manusia pada umumnya. Secara khusus yaitu anak-anak karena anak-anak yang dimana sifatnya mudah menerima apa saja tanpa mengetahui mana yang buruk dan yang baik.

Dalam situasi seperti ini, berdampak juga dalam perkembangan iman katolik terutama perkembangan iman akan anak-anak. Orang tua lebih banyak berfokus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehingga hal ini sehingga berimbas pada anak-anak untuk mendapat perhatian terutama dalam hal ini adalah iman. Mereka kerapkali hanya mendapat pembinaan iman hanya disekolah dan itu pun hanya sebatas kurikulum. Pada kegiatan sekolah minggu mereka jarang ikut dikarenakan jarang ada yang mau orang tua mengantar dengan alasan capek dan sebagainnya.

Karena itu, perlu katekese bagi anak-anak mulai dari usia dini supaya mereka diharapkan mampu untuk menghayati iman mereka. Oleh sebab itu judul paper kami adalah melihat tantangan dan keprihatinan akan pembinaan iman anak katolik di jaman Globalisasi. Disini kami mau mencoba menemukan metode atau cara yang bagimana untuk anak-anak supaya pengajaran akan iman Yesus Kristus dapat mereka pahami dengan lebih baik.

1.2.  Rumusan Permasalahan

Adapun rumusan masalah katekese kontekstual dalam pembinaan iman pada anak-anak yang mengacu pada realita yang ada yang sudah dipaparkan dalam latar belakang, rumusannya  sebagai berikut:

1.2.1        Banyak anak-anak yang dibaptis sejak bayi sehingga dipertanyakan kualitas dari iman anak-anak?

1.2.2        Apakah pelajaran agama di sekolah bisa menumbuh kembangkan iman anak-anak?

1.2.3        Apakah orang tua dirumah memberikan pengajaran iman pada anak-anak mereka?

1.2.4        Bagaimana sikap gereja akan situasi ini?

1.3.  Batasan Masalah

Membahas katekese kontekstual untuk anak-anak bagi kami merupakan tema yang cukup luas maka dalam paper kami ini membahas perihal tentang metode katekese yang cocok untuk anak-anak. Anak-anak yang dimasudkan adalah anak-anak yang usia TK yaitu anak-anak yang berusia 4-5 tahun dan anak-anak yang usia SD yaitu yang berumur 6-11. Kami juga sedikit mengulas psikologi mereka secara umum sehingga kami dapat sedikit  mengetahui karakter dari mereka. Dengan mengetahui karakter dari mereka, kami mempunyai harapan untuk menemukan metode katekese yang dibutuhkan oleh di jaman ini.

1.4.  Tujuan pembahasan

Tujuan dari penulisan paper ini yang terutama adalah bagaimana harus berkatekese kepada anak-anak di jaman yang seperti ini. Sehingga iman mereka tetap terpelihara dengan baik. Kami juga berharap paper kami bermanfaat bagi para petugas pastoral khususnya di bidang anak-anak karena anak-anak adalah masa depan Gereja yang perlu di pelihara imannya.

1.5.  Metode Dan Sistematika Pembahasan

1.5.1. Metode

Dalam penyususan makalah seminar ini, kami melakukan studi kepustakaan pertama-tama untuk melandasi hal-hal yang akan dibicarakan supaya paper menjadi bahan kajian yang ilmiah. Kami  mau mengkaitkan teori yang ada dengan realita yang ada dengan harapan dapat menemukan hal yang  metode yang baru atau paling tidak bagaimana harus bersikap dalam pembinaan iman anak-anak pada jaman globalisasi.

1.5.2. Sistematika Pembahasan

Penulisan paper kami ini akan membaginya menjadi 5 bab. Pada bab pertama berisikan mengenai latar belakang permasalahn yang ada, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan pembahasan, metode dan sistematika pembahasan. Kemudian untuk bab kedua, kami mau menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan katekese seperti definisi dan lain sebagainya. Bab ketiga sendiri kami mau membahas tentang ilmu psikologi, dimana kami mau melihat psikologi anak yang berumur 4-5 tahun dan 6-11 tahun. Pada bab keempat kami mencoba membahas inti dari paper kami yaitu mengkaitkan antara realita yang ada dengan teori yang sudah ditulis. Bab kelima berisikan relavansi dan kesimpulan serta sara dari penulis untuk para petugas pastoral khususnya pastoral anak-anak.

Bab II

KATEKESE DAN IMAN KRISTIANI

2.1. Pengertian katekese

Panggilan orang beriman itu salah satunya mewartakan kabar gembira, termasuk juga dalam Gereja. Kenyataannya saya sadari juga belum sungguh sungguh menjalankan tugas mewartakan Injil, tetapi seringnya saya masih lebih suka mewartakan diri sendiri: “kalau ide saya tidak diikuti umat, saya masih tersinggung, kalau kotbah saya dikritik, saya lalu cemberut, kotbah misapun kadang-kadang lalai saya siapkan, sehingga kotbahku menjadi monoton dan tidak menyapa, saya mudah menghindar kalau diminta untuk menggantikan katekis mengajar komuni pertama, dsb.”

Kata katekese berasal dari kata catechein (kt. Kerja) dan catechesis (kt. Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema yang diperdengarkan/disampaikan ke arah luas/keluar[1]. Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah.

Katekese adalah karya Gereja yang mendasar. Gereja dipanggil untuk melanjutkan tugas Yesus, Sang Guru, dan diutus menjadi pengajar iman, dengan dijiwai oleh Roh Kudus. Oleh karena itu subyek katekese adalah Gereja. Iman yang diajarkan oleh Gereja dalam iman yang dihidupi oleh Gereja itu sendiri, yaitu : Pemahaman tentang Allah dan rencana penyelamatan-Nya, pandangan tentang manusia adalah ciptaan yang paling mulia, Warta Kerajaan Allah, Harapan dan Kasih.

2.2 Ketekese Dan Tujuannya

Tantangan zaman yang besar bagi kehidupan seorang beriman, baik mereka yang hidup dalam kesulitan dan mereka yang hidup dalam kelebihan, menjadikan mereka bertanya-tanya akan peranan Allah dalam hidupnya. Bagi yang hidup dalam kesusahan mereka akan mencari-cari apakah Allah adil membiarkan hidup mereka menderita dan apa rencana Allah dalam hidup mereka yang menderita. Sedangkan bagi mereka yang hidup berkelebihan akan mencari-cari kebahagiaan yang sesungguhnya, karena kelebihan yang mereka miliki tidak memberikan kepuasan batin bagi dirinya.  Bagi orang-orang yang setia kepada Allah mereka terus berusaha menemukan kehendak Allah dalam hidupnya. Katekese bagi mereka merupakan kesempatan untuk berefleksi menjawab kerinduan mereka.

Berdasarkan pengertian diatas  nampaklah bahwa tujuan dari katekese adalah menjawab kerinduan umat akan kehadiran Allah dalam hidup mereka sehingga mereka merasakan kehadiran Allah dalam pergulatan hidup umat sehari-hari, terus menerus memperbaharui hidup (metanoia) dan semakin beriman akan Yesus Kristus dengan mengamalkan kasih dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia

Ditinjau dari segi penyajiannya, katekese dapat dibedakan dalam 3 bentuk[2] :

  1. Bentuk Praktis

Bentuk ini mengarahkan peserta katekese untuk bergiat dan rajin dalam mempraktekkan kehidupan agamanya: rajin beribadah, rajin berdoa dan berdevosi, bergairah menghadiri perayaan Ekaristi dan perayaan lain, mengenal baik masa-masa liturgis segala sarana dan peralatannya. Sumber utamanya adalah liturgi Gereja.

  1. Bentuk Historis

Bentuk ini memperdalam pengenalan umat akan sejarah penyelamatan dari pihak Allah, yang diawali dengan janji-janji Mesianis dalam Perjanjian Lama dan memuncak dalam pribadi Kristus dalam Perjanjian Baru. Sumber utamanya adalah Kitab Suci.

  1. Bentuk Sistematis

Bentuk ini menyajikan kepada umat ajaran teologis dan dogmatis yang tersusun secara sistematis, singkat, dan padat. Sumbernya adalah buku Katekismus.  Pada prakteknya bentuk-bentuk tersebut berbaur. Tidak murni hanya satu bentuk yang dilaksanakan. Sebab nampaknya untur-unsur yang ditekankan oleh masing-masing bentuk saling berkaitan. Ajaran biblis, historis, teologis, dogmatis dimaksudkan untuk membantu umat semakin menyadari penyelamatan Allah melalui Gereja-Nya. Dengan kesadaran itu umat diharapkan akan terdorong untuk semakin giat dalam praktek-praktek keagamaan.

 2.3 Katekese Kontekstual

Istilah Katekese Kontekstual lebih digunakan sebagai sebutan prakstis. Katekese Kontekstual selain memperhatikan isi dan tujuan juga terutama mementingkan pendekatan dan metode. Katekese Kontekstual terkait erat dengan perkembangan teologi pada tahun 1980-an. Pada masa itu teologi dimengerti sebagai refleksi orang kristiani terhadap injil dalam terang situasi masing-masing orang atau kelompok orang. Sepaham dengan ini, teologi semakin meluas cakupannya. Sumbernya tidak hanya pada teks (Kitab Suci dan tradisi penafsirannya) melainkan juga pengalaman hidup manusia sebagai ”kon-teks”. Tak heran bila teologi Kontekstual amat menekankan, memperjuangkan dan memperkembangkan sifat multikultural dan multisentris dari gereja-gereja lokal, partikular dalam aneka ragam budaya.

Melalui buku Menuju Katekese Kontekstual Tahun 2000, katekese tidak menjelaskan secara akademis maksud penggunaan istilah katekese kontekstual. Ada dua alasan yakni pengandaian bahwa orang mulai mengerti dan tahu model-model katekese kontekstual (dalam hal ini istilah ”katekese umat” lebih akrab digunakan). Maka katekese kontekstual disini dimengerti tidak hanya untuk bidang katekese namun juga digunakan dalam bidang teologi. Dengan demikian sifat katekese menjadi lebih fungsional dan aplikatif dalam rangka pengembangan dan pemberdayaan iman umat secara langsung.

Katekese yang menjawab kebutuhan umat merupakan katekese yang relevan untuk zaman sekarang[3]. Umat memerlukan katekese yang kontekstual dimana umat diajak untuk terlibat dengan mengungkapkan pergulatan imannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga katekese bukan sekedar pengajaran teologis atau tempat mendengarkan kesaksian hidup dari orang-orang yang dipandang cukup mantap hidup rohaninya, tetapi katekese sungguh menjawab kerinduan umat akan kehadiran Allah dalam hidupnya di tengah tantangan zaman yang sedang dihadapi.

2.4 Pengertian Iman [4]

Kata “iman” dan  kata kerjanya “percaya” sering muncul dalam Al­kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng­gam­bar­kan hubungan antara umat  atau  seseorang  dengan Allah. Di bawah ini akan ditin­jau secara singkat  makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru.

Kata “iman” yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani pistis, sedangkan kata kerja­nya “percaya” adalah terjemahan dari kata pisteuoo.  Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani aman, yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me­nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima  apa yang sudah difirmankan-Nya itu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:

  1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
  2. mengandalkan/mempercayakan diri
  3. setia, dan
  4. taat.

Kata Yunani pistis sering mempunyai komponen-komponen makna seperti tersebut di atas, baik dalam Septuaginta maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku.

2.5 Hubungan Tuhan Dan Manusia

Gereja yang hidup adalah Gereja yang menjadikan seluruh perjalanan hidup di dunia ini sebagai medan beriman. Pengalaman hidup sehari-hari merupakan medan manusia untuk berjumpa dan berelasi dengan Allah. Dalam pengalaman hidupnya, manusia mengalami Allah yang menyapa dan campur tangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, dalam konteks pengalaman hidupnya, manusia menjalin komunikasi yang akrab dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah mengandaikan kesalingan dua hal. Di satu sisi, Allah mewahyukan diri kepada manusia dengan cara yang ditangkap oleh manusia. Di sisi yang lain, manusia menanggapi per-wahyuan yang ditangkapnya dengan menyatakan imannya. Konsili Vatikan II berkata:

“kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyatakan ketaatan iamn. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan dengan sukarela menerima sebagi kebenaran, wahyu dikaruniakan olehNya” (DV 5)

Dari kutipan itu kiranya dapat ditangkap bahwa iman merupakan rahmat Allah. Agar orang mampu beriman, rahmat Allah diperlukan. Dengan kata lain, rahmat Allah itu mendahului iman. Rahmat yang mendahului iman itu tak lain adalah Roh Kudus yang berperan untuk membawa manusia menyadari karya Allah dalam hatinya. Roh Kuduslah yang membuka mata budi dan menimbulkan iman pada setiap orang.Dari situ dalam DV 5 dapat dikatakan bahwa : Iman merupakan rahmat Allah, Iman juga merupakan jawaban bebas manusia terhadap Allah, Iman mengandung unsur pengertian manusia (akal budi). Dengan kata lain, dalam peristiwa iman ada 3 unsur yaitu : rahmat, akal budi dan kehendak bebas manusia. Iman mengandaikan pengertian sebab iman adalah tindakan intelektual dan sekaligus mengandaikan kehendak bebas manusia yang sangat membutuhkan rahmat. Akhirnya, KV II memaknai iman sebagai tanggapan manusia berkat bantuan Roh Kudus kepada pemberian diri Allah dalam Kristus, yang berupa penyerahan diri secara bebas kepada Allah.

Allah dan manusia menjadi subyek dalam relasi ini. Dari sudut wahyu, Allah-lah yang menjadi subyeknya, dan dari sudut iman manusia-lah yang menjadi subyeknya. Dengan kata lain, tesis ini hen-dak berbicara tentang jalinan komunikasi antara Allah dengan manusia yang khas manusiawi. Perwahyuan Allah bermula dari kehendak Allah sendiri yang mengalir dari kebaikan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mewahyukan diri, Allah berkehendak untuk menyapa dan menyatakan rahasia kehendak-Nya. Allah menjumpai manusia dan menjalin relasi yang akrab dengan ma-nusia. Pada puncaknya, dengan perwahyuan-Nya itu, Allah mengundang manusia masuk dalam persekutuan dengan-Nya. Dengan kata lain, Wahyu Allah merupakan komunikasi Allah yang mengajak manusia berpartisipasi. Wahyu Allah merupakan pernyataan diri Allah tentang diri-Nya sendiri kepada manusia dan mengajak manusia untuk menanggapinya.

Bab III

PSIKOLOGI ANAK-ANAK

3.1 Pengantar Umum

Anak usia dini adalah anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang. Pada usia ini segala aspek perkembangan anak mengalami kemajuan yang sangat pesat. Aspek perkembangan yang ada pada anak usia dini meliputi aspek intelektual, fisik motorik, sosial-emosional, bahasa, moral dan keagamaan. Semua aspek perkembangan yang ada pada diri selayaknya menjadi perhatian para pendidik agar aspek perkembangan diri dapat berkembnag secara maksimal. Tidak berkembangnya aspek perkembangan anak ini akan berakibat di masa yang akan datang, tidak saja akan mengalami hambatan dalam perkembangan pada masa perkembangan berikutnya, tetapi anak juga akana mengalami kesulitan dalam mengahadapi kehidupan di masa yang akan datang.

Membantu  proses  pengembangan  berbagai  aspek  perkembangan  anak  perlu diawali  dengan  pemahaman  tentang  Psikologi  Perkembangan  Anak ,  karena perkembangan anak berbeda dengan perkembangan  anak  remaja  atau orang  dewasa. Anak  memiliki  karakteristik  tersendiri  dan  anak  memiliki  dunianya  sendiri.  Untuk mendidik  anak  usia  dini,  kita  perlu  dibekali  pemahaman  tentang  dunia  anak  dan bagaimana  proses  perkembangan  anak.  Dengan  pemahaman  ini  diharapkan  para pendidik  anak  usia  dini  memiliki  pemahaman  yang  lebih  baik  dalam  menentukan proses pembelajaran ataupun perlakuan pada anak yang dibinanya.

3.2 Pengertian Psikologi Serta Pembagiannya[5]

Manusia  merupakan  subyek  dalam  kehidupan,  sebab  sebagai  makhluk  ciptaan Tuhan dialah  yang selalu  melihat, bertanya, berpikir  dan mempelajari  segala sesuatu yang  ada dalam kehidupannya.  Manusia bukan  hanya  tertarik  dan ingin mempelajari apa  yang  ada   pada  lingkungannya  atau  sesuatu  di  luar  dirinya  tetapi  juga  hal-hal yang  ada  dalam  dirinya.  Dengan  kata  lain,  manusia  ingin  mengetahui  keadaan dirinya  sendiri.  Ilmu  pengetahuan  yang  berobyek an  manusia,  dan  mempelajari berbagai perilaku manusia sebagai individu adalah Psikologi.  Pada  dasarnya  psikologi  terbagi  atas  dua  bagian,  yaitu  psikologi  umum  dan psikologi  khusus.

Psikologi  umum  adalah  ilmu  yang  mempelajari  konsep  umum tentang  perilaku  individu,  apa,  mengapa  dan  bagaimana  individu  berperilaku. Sedangkan psikologi  khusus  adalah kelompok  psikologi  yang  mempelajari  perilaku individu  secara  khusus,  baik  kekhususan karena  tahap perkembangannya,  posisinya, aspek  yang  mendapatkan  sorotan  utamana  atau  karena  kondisinya.  Yang  termasuk dalam  kelompok  psikologi khusus adalah  psikologi  perkembangan  yang  terbagi  atas psikologi anak, remaja,  dewasa  dan  usia lanjut, psikologi  pria  dan  wanita,  psikologi abnormal, psikologi kepribadian, psikologi diferensial dan psikologi binatang.

 

3.3 Psikologi Perkembangan

Psikologi  Perkembangan  merupakan  salah  satu  cabang  dari  psikologi  khusus yang    mempelajari  perilaku  dan  perubahan  perilaku  individu  dalam  berbagai  tahap perkembangan,  mulai  dari  masa  sebelum  lahir  (prenatal),  masa  bayi,  masa  kanak-kanak,  masa  anak  kecil,  masa  anak  sekolah  dasar,  masa  remaja  awal,  masa  remaja tengah  dan  adolesen,  masa  dewasa  muda,  dewasa  dan  dewasa  tua,  serta  masa  usia lanjut.  Tiap  tahap  masa  perkembangan  tersebut  menjadi  obyek  studi  dari  psikologi sebab setiap masa memiliki ciri-ciri atau karakteristik perkembangan yang berbeda.  Dalam  makalah  ini  hanya  akan  mengungkapkan  tentang  psikologi perkembangan  anak  yang  merupakan  salah  satu  bagian  dari  psikologi perkembangan. Pengembangan anak dipengaruhi umur, dengan uraian sebagai berikut:

PEKEMBANGAN SECARA FISIK[6]

  1. 1.      usia 4-5 tahun (taman kanak-kanak)
  • Perkembangan yang pesat. Aktif, ribut.
  • Tenaga yang terbatas, mudah kena penyakit.
  • Kegiatan yang terarah. Anak usia ini meniru orang, binatang, benda. Dia bisa berpura-pura jadi ayah, kuda, polisi, kereta api, dll.
  1. 2.      Usia 6-8 Tahun (Pratama, Sd Kelas 1,2,3)
  • Giat dan mempunyai banyak tenaga, sekalipun cepat lelah sehingga kegiatan perlu diselingi dengan istirahat.
  • Dapat memusatkan perhatian selama 10-15 menit, tapi karena sifatnya yang gelisah menyebabkan ia tidak dapat duduk tenang tapi harus selalu bergerak. Kegiatan ini membantu pertumbuhan dan perkembangannya.
  • Suka kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga ia memperoleh banyak manfaat. Permainan yang dipilih anak laki dan perempuan mulai berbeda.
  1. 3.      Usia 9-11 Tahun (Madya, Sd Kelas 4,5,6)
  • Giat dan memiliki tenaga yang berlimpah-limpah. Otot berkembang.
  • Relatif bebas dari penyakit, nafsu makannya besar sehingga perlu diatur.
  • Melalaikan diri sendiri. Perlu diajar merawat diri, rapi: pakaian, barang, dll.

PERKEMBANGAN SECARA MENTAL[7]

  1. 1.      usia 4-5 tahun (taman kanak-kanak)
  • Menyadari identitas diri: mengenal perbedaan kelamin.
  • Pertambahan perbendaharaan kata. Sering menggunakan kata-kata yang baru baginya, yang kadang belum terlalu dia pahami.
  • Pengertian tentang konsepsi terbatas tentang waktu, ruang dan angka.
  • Bicara bebas mengutarakan perasaaan.
  • Daya khayal yang kuat
  1. 2.      Usia 6-8 Tahun (Pratama, Sd Kelas 1,2,3)
  • Seorang pengamat yang ingin mengumpulkan berbagai informasi.
  • Berpikir harfiah. Masih sulit mengerti istilah abstrak dan kiasan.
  • Berpusat pada pengalaman.
  • Ingatan yang baik.
  1. 3.      Usia 9-11 Tahun (Madya, Sd Kelas 4,5,6)
  • Serba ingin tahu, suka menyelidik. Suka akan perlombaan.
  • Pengumpul yang rajin: kartu bergambar, perangko, buku, dll.
  • Gemar membaca. Menghafal dengan cepat: masa ingatan yang cerah.
  • Pengamat yang teliti. Dapat berpikir dengan baik

PERKEMBANGAN SECARA EMOSIONAL[8]

  1. 1.      usia 4-5 tahun (taman kanak-kanak)
  • Pengawasan diri lebih baik dari anak batita dalam hal emosi, tapi masih perlu bimbingan untuk belajar bergaul. Ia harus mengihindari tingkah laku yang tidak bisa diterima seperti menggigit, memukul, mencubit, mendorong.
  • Takut kepada banyak hal. Karena itu jangan ditakut-takuti, agar jiwanya dapat berkembang dengan sehat.
  • Kadang timbul kecemburuan, misalnya terhadap adik.
  1. 2.      Usia 6-8 Tahun (Pratama, Sd Kelas 1,2,3)
  • Merasa tidak aman, cepat emosi.
  • Mendambakan kasih dan bimbingan.
  • Mencari pelayanan: menaruh perhatian dan simpati pada orang sekitarnya.
  1. 3.      Usia 9-11 Tahun (Madya, Sd Kelas 4,5,6)
  • Menyatakan perasaannya. Dia perlu belajar kapan bersikap serius, kapan bisa bersukaria.
  • Tidak sabar. Cepat membantah dan membela diri, tapi cepat tenang lagi.
  • Tidak suka menunjukkan rasa terharu dan tidak mau dikasihani orang lain bila dalam kesulitan.
  • Menyukai humor. Bantu dia memilih lelucon yang sehat dan baik

ADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN[9]

  1. 1.      usia 4-5 tahun (taman kanak-kanak)
  • Sadar akan kelompok dan mudah menyesuaikan diri. Ia belajar sikap egois dan keras kepala berarti terpisah dari kelompok, jadi ia belajar bekerja sama.
  • Mengatasi sifat berpusat pada diri sendiri.
  1. 2.      Usia 6-8 Tahun (Pratama, Sd Kelas 1,2,3)
  • Peramah.
  • Ingin diterima dan berperan serta dalam kelompok.
  • Senang bekerja sama dengan rekan. Anak laki dan perempuan bisa bermain bersama walau kadang ada permusuhan. Berikan gambaran yang sehat tentang pria dan wanita.
  1. 3.      Usia 9-11 Tahun (Madya, Sd Kelas 4,5,6)
  • Menyesuaikan diri, suka bergabung dengan teman sebaya.
  • Memihak kepada orang yang disenangi.
  • Sering terjadi pemisahan antara anak laki dan perempuan.
  • Menginginkan keadilan dan lebih banyak bersaing.

PERKEMBANGAN ROHANI[10]

  1. 1.      usia 4-5 tahun (taman kanak-kanak)
  • Mudah percaya pada apa yang diajarkan kepadanya.
  • Perlu dibimbing untuk dapat membedakan secara jelas antara realitas dan khayalan.
  • Mulai tertarik pada pengalaman ibadah dan pengertian rohani. Dia perlu belajar misalnya tentang akibat dusta dan pahala kebajikan. Mulai bisa membedakan mana yang benar dan salah.
  • Anak usia ini perlu dilatih untuk mendisiplin dirinya demi kebaikannya.
  1. 2.      Usia 6-8 Tahun (Pratama, Sd Kelas 1,2,3)
  • Hati nuraninya peka, terdorong untuk patuh dan memiliki kepercayaan penuh, namun ia mulia mencari bukti dan kepastian dari yang dipercayainya.
  • Bisa membedakan dengan jelas antara fakta atau khayalan, benar atau salah.
  • Mengikuti teladan.
  • Siap mengambil keputusan.
  • Berminat terhadap ibadah. Ibadah yang menarik dan teratur akan memberikan kesan positif terhadap hal rohani.
  1. 3.      Usia 9-11 Tahun (Madya, Sd Kelas 4,5,6)
  • Mulai memiliki idola (memuja pahlawan).
  • Siap menerima keselamatan.
  • Mengerti kebenaran dan mulai bertumbuh secara rohani.

Bab IV

ANALISIS

 4.1 Katekese Dalam Pengembangan Iman

Tempat dan kedudukan katekese lebih ditentukan oleh kegiatan pedagogisnya, karena katekese memuat unsur pengetahuan, pengembangan, dan pemberdayaan setiap pribadi umat beriman. Seluruh proses katekese bertujuan memberdayakan peserta untuk semakin mengembangkan diri selaku orang beriman,  yaitu menghantar umat ke dalam proses komunikasi iman agar semakin terlibat sebagai anggota dalam persekutuan iman. Dalam hal ini, katekese berperan sebagai wahana pendidikan dan komunikasi iman. Kiprah konkret Tim Katekese secara khusus berperan sebagai wahana pendidikan iman, lebih spesifik lagi pendidikan iman bagi para calon penerima sakramen baptis dan sekaligus bagi para katekisnya sendiri.

Pendidikan iman merupakan suatu usaha untuk membantu, menolong menciptakan situasi dan suasana hidup beriman hingga mempermudah memperkembangkan iman. Pendidikan iman yang bersifat menyeluruh mengarahkan orang beriman memenuhi panggilan hidup kristiani. Semua itu mencakup seluruh aspek Iman yang meliputi pengetahuan iman, perayaan iman (liturgi), penghayatan iman dalam hidup sehari-hari (moral kristiani) dan doa. Artinya setiap orang beriman kristiani tidak hanya mengetahui apa yang diimani, tetapi merayakan dalam sakramen dan hidup doa, serta menghayati dan mewujudkannya dalam kehidupan konkrit sehari-hari. Aspek-aspek pedagogis tersebut menjadi bagian dari program pengajaran Tim Katekese.

4.2 Melihat Hubungan Metode Pembinaan Iman anak-anak dari Psikologi

Setelah melihat dan mendalami sisi psikologi perkembangan anak dengan aneka keunikkannya maka pada bagian ini, kami mengajukan metode pembinaan yang sesuai dengan perkembangan anak. Patut untuk diperhatikan bahwa metode pembinaan ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yakni membawa anak untuk dapat mengenal Tuhan dan dunia sekitarnya. Selain itu, katekese ini juga patut untuk memperhatikan dan memahami kebutuhan-kebutuhan anak, sehingga katekese itu dapat diterima dan dimengerti.

Metode komunikasi dan metode permainan adalah sarana yang mudah dilakukan dan dapat disesuaikan dengan psikologi seorang anak. Dalam metode ini diandaikan anak memiliki hasrat ingin tahu yang besar sebagai akibat pengenalan mereka terhadap situasi di sekitar mereka (dunia). Dengan metode komunikasi ini dapat memudahkan anak untuk menyampaikan hasrat keingintahuannya.

Hal ini dapat terjadi bila dalam pembinaan diberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk berbicara. Tentunya hal ini tetap terpandu. Artinya pertanyaan anak itu lahir dari keingintahuan mereka akan tema yang sedang didalami. Tentunya pembina perlu pro aktif untuk menyapa anak dan memberikan sejumlah pertanyaan yang kiranya dapat memancing rasa keingintahuan anak itu.

Metode komunikasi ini kiranya dapat mengakomodisi sejumlah kebutuhan anak seperti perhatian dan sapaan. Lewat sapaan, juga apresiasi atas pertanyaan atau pekerjaan mereka anak dapat terbantu menjadi pribadi yang percaya diri dan bukannya sosok yang penakut. Lewat metode ini, dapat memudahkan pembina untuk menyampaikan pandangan-pandangan atau pengetahuan baik yang berkaitan dengan iman dan sejumlah pedoman moral praktis bagi anak.

Pembinaan anak lewat metode komunikasi juga membantu pembina untuk dapat memantau perkembangan anak didiknya itu. Seperti telah diuraikan bahwa anak perlu bimbingan yang ekstra sebab pada masa-masa inilah mereka mulai mengenal dunia dan sekitarnya terlebih hal-hal yang berkaitan dengan iman seperti ibadah, Allah, tokoh-tokoh dalam Kitab Suci. Dengan senantiasa berkomunikasi dengan anak, pembina dimudahkan untuk melihat pencapaian-pencapaian mereka yang terwujud dalam berbagi pemahaman mereka tentang yang ada dan dicercap dari situasi sekitarnya. Dan dari sinilah kiranya pembina dapat memberikan penjelasan yang dapat makin memperkaya pemahaman mereka dan mengarahkan sikap dan perilaku mereka ke arah yang baik.

Anak adalah insan yang senantiasa ingin aktif dan bergerak. Mereka tidak dapat diam, mendengar dalam rentang waktu yang begitu lama. Oleh sebab itu, untuk mengkomodasi realita ini, maka kiranya permainan dapat digunakan. Lewat permainan bahan-bahan yang disampaikan dapat diaktulisasikan secara nyata. Pada kesempatan itulah anak dapat mulai menyerap makna dari yang diajarkan. Di sini pembina diharapakan untuk mampu mencari permainan-permainan edukatif yang memberi sejumlah makna dan pesan. Pembina juga diharpkan mampu menggerakkan anak untuk mampu melihat sejumlah pesan positif dari permainan yang baru saja dilakukan.

Bab V

Penutup dan Relevansi

 5.1 Proses katekese Pada Peserta Katekese

Dalam proses katekese, ada dua unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu segi isi dan suasana. Isi memuat proses edukatif dan konsientisasi menyangkut visi dan pengetahuan iman, nilai dan pesan moral bagi audince atau peserta katekese. Isi katekese tidak dapat dilepaskan dari pengaruhnya atas suasana, baik faktor perkembangan psikologis peserta katekese itu sendiri dan aspek-aspek eksternalnya, yaitu lingkungan, sarana, pendekatan dan metodenya. Maka diperlukan suasana akomodatif yang mampu menghantar isi kepada peserta katekese. Suasana tanpa isi akan membuat proses katekese hanya sekedar ruang hiburan, tetapi isi tanpa suasana akan membuat proses katekese bagaikan ruang ceramah yang membosankan dan sama sekali tidak edukatif bagi segi afektifitas peserta katekese. Untuk itu segi isi dan suasana menjadi bagian yang tak terpisahkan. Isi haruslah berjalan dengan suasana, begitupun suasana haruslah memuat isi yang membangun iman peserta katekese.

5.2 Metode Multitasking sebagai model pembinaan anak-anak

Orang-orang di zaman sekarang ini menginternalisasim segala sesuatu dengan multitasking, yang meliputi 3 komponen pokok, yaitu visual, auditori dan kinestetik (gerak). Untuk itu pengaruh media informasi sudah menjadi tiang penyangga kehidupan dan sekaligus menjadi ciri khas setiap orang bersosialisasi dengan sesamanya dewasa ini. Bahasa yang dulunya cenderung mengajar, kemudian berubah menjadi bahasa media yang bersifat membujuk, menggetarkan hati, dan penuh dengan resonansi, irama, cerita, dan gambar yang tervisualisasikan. Bahasa media tersebut lebih berpusat pada getaran hatiSelain itu, bahasa menjadi simbol untuk mengangkat dan memberi tekanan pada aneka kekayaan cita rasa. Segalanya seakan diciptakan kembali menjadi sesuatu yang kreatif .

Metodologi katekese pada intinya adalah pengembangan hidup beriman. Metodologi tersebut terbuka pada pengetahuan yang bersifat edukatif, namun juga pada proses komunikasi itu sendiri dengan memperhitungkan berbagai keberagaman metode katekese dan berbagai pendekatan yang mendukung. Untuk itu, tantangan multitasking harus memberikan konsekwensi bagi perubahan cara untuk mencari secara kreatif mediasi paling progresif. Proses katekese harus terbuka kepada 3 komponen pokok, yaitu visual, auditori dan kinestetik (gerak). Artinya katekese harus memperhitungkan dan menyesuaikan dengan bahasa visual, bahasa auditori dan bahasa kinestetik.

Konsekwensi multitasking itu bagi katekese, maka katekese perlu mempertimbangkan segi message appeals atau himbauan pesan yang bersifat himbauan emosional yang terkait dengan motif transendental atau nilai religius. Untuk itu berbagai media yang tepat dan mampu menyentuh cita rasa perlu dikembangkan. Proses hermeneutik harus menjadi proses komunikatif, dimana citra manusiawi dikemas dengan berbagai metode pendekatan untuk sampai kepada nilai religius. Media visual-auditori-kinestetik menjadi salah satu jembatan untuk menghubungkan realitas dan cita rasa kepada inti visi Kristianitas sejati. Hal itu lebih merupakan proses sintesa media dan katekese dengan perkembangan budaya serta tehnologi yang mempengaruhi anak-anak berkaitan dengan gaya hidup (life style) dan berbagai kemajuan cara berpikir lengkap dengan progresifitas pendekatannya.

5.3 Media Sebagai Sarana Pewartaan

Media visual-auditori-kinestetik menjadi jembatan paling strategis jika rancangan katekese merupakan rancangan yang imaginatif dan kreatif. Untuk itu pola pemikiran visual-auditori-kinestetik yang kaya akan cita rasa perlu menjadi bagian utama yang dikembangkan. Proses hermeneutik harus terbuka kepada pola-pola gagasan apresiatif yang kaya. Kegiatan apresiasi merupakan sebuah kegiatan yang memuat dua unsur penting. Unsur yang pertama adalah upaya pemahaman. Unsur yang kedua, bahwa di dalam kegiatan berapresiasi ada suatu upaya untuk memberikan bentuk pendapat dan tanggapan atau yang umum disebut sebagai intrepetasi. Begitu juga, katekese menjadi ruang ekspresi atau ungkapan yang representatif dan kaya akan makna(performance), apa yang menjadi perasaan dan diiternalisasi diungkap sedemikian rupa dalam bingkai visi yang teologis dan humanis namun dengan bahasa yang visualitatif.

Salah satu media yang dapat digunakan agar katekese itu mampu menyapa aspek multitasking adalah media komunikasi populer. Media komunikasi populer adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses komunikasi yang metodologinya bersifat “dekat” dengan kehidupan dewasa ini, misalnya film, foto digital, poster, hasil download internet, tampilan-tampilan presentasi dengan powerpoint dan flash player, musik, potongan artikel, potongan cergam-komik, dan lain-lain. Media komunikasi populer ini dapat menjadi salah satu bantuan, agar jembatan untuk menghubungkan pengalaman hidup orang zaman sekarang dengan visi kristianitas mampu terjadi.

5.4 Bentuk Kongkrit dari Multitasking

5.4.1 Acara Liburan ceria bersama Yesus

Liburan merupakan saat yang sangat dinantikan oleh seluruh keluarga. Bagi anak sekolah, liburan merupakan momen di mana mereka bisa menikmati rekreasi bersama keluarga dan teman-teman. Bagi para anak-anak, liburan juga penting untuk menghindari untuk menghindari kejenuhan kegiatan sekolah. Tetapi kerapkali liburan yang terlalu panjang membuat bosan juga dengan tanpa kegiatan pula. Oleh sebab itu Paroki HKY surabaya mengadakan kegiatan untuk mengisi libuaran anak-anak biak khususnya dengan acara Liburan ceria bersama Yesus. Dalam acara ini dimaksudkan juga untuk melakukan katekese kepada anak-anak melalui kegaiatan-kegiatan yang ada.

Daftar Pustaka

Sumber Buku

Papo Jakob. Memahami katekese. Nusa indah: Ende, Flores, 1987

Komisi keteketik KWI. Menuju Katekese Kontekstual Tahun 2000. Obor: jakarta 1989.

Walgito. Prof. Dr. Bimo. Pengantar Psikologi Umum. ANDI: Yogyakarta 2010.

Soekanto. Prof. DR. Soerjono, SH., MA. Anak Dan  Pola Perikelakukan. Yogyakarta: Kanisius, 1985.

Sene Alfons. Kita Berkatekese Demi Anak. Nusa Indah: Ende, Flores 1984

Sumber Internet

http://www.imankatolik.or.id. Diakases tanggal 1 oktober  2010, pukul  18.00.

http://www.alkitab.or.id/biblika/RuangIstilah4.htm. Diakases tanggal 1 oktober  2010, pukul  18.00.

http://www.gbi-bethel.org/index.php?option=com_content&view=article&id=121:psikologi-anak&catid=8:keluarga&Itemid=29.  Diakases tanggal 1 oktober  2010, pukul  18.00.


[1] Bdk. Jakob Papo. Memahami katekese. Nusa indah: Ende, Flores, 1987 .  Hal 11.

[2] http://www.imankatolik.or.id. Diakases tanggal 1 oktober  2010, pukul  18.00.

[3] Bdk. Komisi keteketik KWI. Menuju Katekese Kontekstual Tahun 2000. Obor: jakarta 1989. Hal 60.

[4] http://www.alkitab.or.id/biblika/RuangIstilah4.htm. Diakases tanggal 1 oktober  2010, pukul  18.00.

[5] Prof. Dr. Bimo walgito. Pengantar Psikologi Umum. ANDI: Yogyakarta, 2010. Hal 18.

[7] Bdk. Prof. DR. Soerjono Soekanto, SH., MA. Anak Dan  Pola Perikelakukan. Yogyakarta: Kanisius, 1985, hal 115-118.

[8] Idem

[9] Idem

[10] Bdk. Alfons Sene. Kita Berkatekese Demi Anak. Nusa Indah: Ende, 1984, hal 51-53.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s