JURGEN HABERMAS

      Perkembangan peradaban manusia semakin hari  semakin maju. Perkembangan ini bukan hanya dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Para filsuf pun berusaha memunculkan teori-teori baru dengan alasan supaya manusia bisa terarah sesuai keinginan mereka. Hal ini terlihat dengan munculnya teori-teori seperti teori kritis yang didasarkan pada filsafat Marxis. Teori ini ternyata mampu mampu mempengaruhi kehidupan sekitar tahun 60-an, sehingga menimbulkan perdebatan yang menarik diantara para filsuf.perkembangan inipun sangat mempengaruhi perkembangan filsafat barat. Jika kita berbicara perkembangan filsafat Barat abad XX khususnya Jerman-Inggris, kita akan bertemu dengan beberapa tokoh filsuf yang terkenal. Salah satunya adalah Jurgen Habermas. Dia merupakan salah satu pemikir utama sehingga tidak berlebihan kalau ia dijuluki sebagai filosof Jerman yang paling terkemuka.

Jurgen Habermas lahir di Gummersbach tahun 1929. Awalnya Habermas belajar kesusastraan Jerman, sejarah filsafat, psikologi dan ekonomi di Universitas kota Gottingen. pada tahun 1954 meraih gelar “doctor filsafat” di Universitas Bonn. Pada tahun 1956 Habermas berkenalan dengan lembaga penelitian social di Frankfurt, ia mengambil suatu proyek riset mengenai sikap politik mahasiswa-mahasiswa. Hasil penelitian ini terdapat dalam buku student und politik(mahasiswa dan politik) pada tahun 1964. Dia juga membuat sebuah karangan yang berjudul strukturwandel der oeffentlichkeit (perubahan dalam struktur pendapat umum) pada tahun 1962. Buku ini merupakan hasil sebuah studi yang mempelajari sejauh manakah demokrasi masih mungkin dalam masyarakat industry modern. Selain tulisan-tulisan tersebut masih banyak karangan-karangan Habermas yang menunjukkan bahwa dia bergiat di suatu wilayah ilmiah yang luas. Ia pun mempraktekkan filsafat dan sosiologi tanpa membedakan secara tajam dua disiplin ilmu tersebut.[1]

Jurgen Habermas seorang penganut teori kritis(filsafat kritis) yang berusaha  “menterjemahkan” warisan Marxisme bagi zaman kita sekarang. Ciri khas Filsafat kritis ini adalah ia selalu berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan-hubungan yang nyata. Selain itu ada juga satu hal yang sangat khas, mereka para pemikir kritis ini sangat heterogen. Tidak pernah sefaham satu sama lain kecuali dalam melanjutkan pemikiran Karl Marx secara kritis dan anti-dogmatis, makah menolak apa yang di sebut “Marxisme resmi”  seperti misalnya Habermas ini lebih radikal dari pada Marcuse. Kritik utama yang diajukan Habermas atas Karl Marx dapat disingkat sebagai berikut; menurut Habermas, Marx masih tergantung pada filsafat Hegel, praandaian-praandaian metafisis yang masih menentukan ajaran Marx harus diganti dengan kritik atas masyarakat dengan menghindari praandaian metafisis.[2] Habermas juga berkeyakinan bahwa Marx keliru dalam menunjuk kaum proletar sebagai subyek revolusi, walaupun sebenarnya Marx tahu hal tersebut. Dia juga berpendapat bahwa pemisahan antara Negara dan masyarakat yang terdapat pada Marx harus ditolak. Dengan demikian teori Marx tentang masyarakat kelaspun tidak dapat dipertahankan lagi. Buat Habermas, teori Marx pada dasarnya merupakan suatu filsafat sejarah. Yang khas bagi interpretasi Habermas tentang Marxisme adalah teori tentang masyarakat harus dibenarkan oleh keadaaan penelitian dalam ilmu sosial empiris.

Kritik terhadap Marx ini yang kemudian menjadi inti pemikiran Habermas. Menurut Habermas, perkembangan masyarakat adalah proses kompleks di mana sebuah masyarakat belajar bukan hanya dalam dimensi keterampilan-keterampilan teknis, melainkan juga dalam dimensi normative-etis.[3]  Tetapi cukup sulit juga untuk menentukan dasar pemikiran Habermas karena ruang lingkupnya yang luas. Yang sangat jelas terlihat adalah pengaruhnya dalam kehidupan manusia  misalnya dalam bidang politik, ilmu pengetahuan dan masyarakat. Khususnya yang berkaitan dengan kebebasan-kebebasan manusia dalam bidang-bidang tersebut.

Hal yang menarik dari Jurgen Habermas juga mengusulkan sebuah model nonselektif untuk rasionalisasi masyarakat. Habermas mulai dengan menjelaskan “hubungan-hubungan pragmatis formal”manusia.[4] Yaitu dengan kenyataan obyektif dengan kenyataan sosial, dan dengan kenyataan subyektif.berdasarkan hubungan  pragmatis tersebut Habermas lalu manyusun teori rasionalisasi Weber didalam sebuah kerangka skematis yang luas.[5] Habermas berpendapat bahwa hanya ada enam pola hubungan manusia dan dunianya yang bisa dirasionalisasikan.[6] Kompleks pertama dan kedua yang bisa dirasionalisasikan adalah sikap mengobjektifkan alam dan masyarakat yang menghasilkan rasionalitas kognitif-instrumental. Kompleks ketiga dan keempat adalah sikap konformatif-rma terhadap masyarakat dan dunia batin yang menghasilkan kompleks rasionalitas praktis moral. Kompleks kelima dan keenam yang dapat dirasionalisasikan adalah sikap ekspresif terhadap dunia batin dan alam yang menghasilkan kompleks rasionalitas praktis estetis. ada tiga kompleks yang tidak bisa dirasionalisasikan; sikap mengobjektifkan dunia batin sejauh sebagai subjektivitas tidak bisa menghasilkan pengetahuan yang bisa dipelajari. Juga sikap konformatif norma terhadap alam. Akhirnya, sikap ekspresif terhadap interaksi sosial.[7] Keenam kompleks yang dapat dirasionalisasikan sesuai dengan tiga nilai kultur otonom yaitu: bidang kognitf-instrumental, normative-etis, dan ekspresif-estetis. Habermas memberi evaluasi atas proses modernisasi yang tidak seimbang. Sebuah masyarakat menjalankan modernisasi secara tidak seimbang, kalau sekurang-kurangnya satu bidang nilai cultural diinstitusionalisasikan secara tidak memadai sehingga tidak member efek pada masyarakat sebagai keseluruhan. Keseimbangan akan dicapai bila bidang-bidang nilai cultural itu diinstitusionalisasikan secara seimbang sehingga mencegah dominasi salah satu bidang.

Salah satu maksud praktis dari teori kritis adalah untuk membantu proses refleksi diri masyarakat atas proses pembentukan diri masyarakat. Demikianlah pandangan Habermas dalam beberapa esaynya; berlawanan dengan rasio substantif, istilah rasio formal dimengerti Horkheimer sebagai rasio yang memiliki tujuan diluar dirinya. Rasio ini tampak pada matematika atau logika formal. Di sini rasio dipakai sebagai alat pikir untuk berbagai tujuan. Sifatnya formal hanya memberi cara. Dalam tulisan ini juga menjelaskan secara singkat sejarah singkat Jurgen Habermas dan perkembangan pemikirannya. Teori-teori dan penyempurnaannya terhadap teori Marxis kelihatan sangat rumit. Tetapi jika didalami lebih lanjut bukan hanya berguna bagi masyarakat di jamannya juga bagi masyarakat sekarang. Misalnya pendapat Habermas tentang pelu atau tidaknya suara rakyat dalam pollitik. Jika kita memperhatikan keadaan sekarang, pertanyaan yang samapun bisa muncul terlebih dalam hal demokrasi. Habermas telah membuka dimensi yang lebih luas untuk proyek rasionalisasi masyarakat modernisasi kapitalis berjalan timpang karena mengutamakan rasionalisasi dalam bidang subsistem tindakan rasional dan mengesampingkan rasionalisasi dalam bidang kerangka kerja institusional atau komunikasi. Habermas juga belum memberi penjelasan yang memadai mengenai kompleks yang tidak bisa dirasionalisasikan. Alasan yang diberikan adalah karena kita tidak bisa mencapai kesahihan dan tidak bisa belajar apa-apa dari kompleks-kompleks tersebut. Pernyataan ini tentu saja tidak mengurangi muatan imperative skema Habermas bagi masyarakat yang sedang membangun, sebab sebagaimanapun Habermas telah berhasil merumuskan proses belajar yang sudah maju yang sadar akan bahaya-bahaya bila rasionalisasi memutlakkan rasionalitas kognitif-instrumental dan menjajah kompleks-kompleks rasionalisasi lain. Rasionalisasi sebagai “proyek pencerahan” belum selesai didunia barat, lebih lagi dengan Negara yang baru mulai dengan modernisasi. Hal inipun sangat berpengaruh pada perkembangan pola pikir manusia modern. Habermas memberikan evaluasi atas modernitas kapitalis. Modernitas kapitalis diatur oleh tatanan-tatanan kehidupan dimana manusia spesialis sekaligus manusia yang mengejar kenikmatan. Fenomena hilangnya makna dan kebebasan menunjukkan penindasan atas rasionalitas praktis-moral dalam kehidupan modern ini. Inilah yang harus kita waspadai bersama dengan cara memahami teori Habermas secara lebih mendalam.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bertens, K.Filsafat Barat Abad XX.Jakarta:Gramedia.1990.

Hardiman, F.B.Menuju Masyarakat Komunikatif.Yogyakarta: Kanisius.1993.

Magnis,S-Suseno.Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius.1992.


[1] K Bertens . Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman.Gramedia. Jakarta .1990.

[2] Ibid

[3] F.B Hardiman. menuju masyarakat komunikatif. Kanisius. Yogyakarta. 1993

[4] F. Budi Hardiman. Menuju masyarakat Komunikatif.Kanisius. Yogyakarta.1993.

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s