REFORMASI GEREJA (Munculnya Protestantisme)

PENGANTAR

            Dalam sejarah perjalanannya, Gereja bukan hanya memperlihatkan keberhasilan dan kesatuan seperti yang dapat dilihat dan dirasakan seperti saat ini. Di dalamnya terdapat sejumlah konflik, pergulatan, dan perpecahan (memiliki sejarah). Dalam masa praksis hidup menggereja dan teologinya, masa depan Gereja dipertaruhkan dalam kurun waktu yang relatif lama. Sejarah Gereja yang panjang ini memiliki tahap-tahap yang berbeda dalam masanya.  Tahap-tahap ini dapat disebut sebagai reformasi di dalam Gereja. Gereja pada awal masanya telah berhadap-hadapan langsung dengan kebudayaan dan berbagai aliran agama. Komunitas gerejawi juga berkonfrontasi dengan kebijakan dan otoritas pemerintah dalam kasus penganiayaan dan struktur kepemimpinannya.

            Berikut juga akan diperlihatkan secara garis besar sejumlah tokoh utama reformasi yang tidak sejalan dengan pemikiran Gereja Katolik Roma. Munculnya reformasi ini dipicu oleh berbagai macam situasi, mulai dari politik, nilai-nilai moral yang buruk, dogma, dll. Hal tersebut memperlihatkan pergumulan dan dinamika yang hidup dalam ikhtiar Gereja untuk mempertanggungjawabkan ajaran dan rumusan-rumusan iman dan memperbaharui diri.. Pengalaman pada masa silam memperlihatkan bahwa orang terseret dalam alam pikiran yang sempit dan ekstrim, ketika ia secara berlebihan mengandalkan pada daya nalar insani belaka dan mengesampingkan misteri ilahi; bahkan yang Ilahi terkadang hanya diterangkan dengan premis-premis logika dan intelektualistis. Selain itu pemikiran yang  berat sebelah dalam menekankan paham tentang ajaran dan penafsiran Kitab Suci seperti yang akan di bahas dalam masa Protestantisme dalam karya tulis ini.

            Masa-masa yang sulit dalam perkembangan sejarah Gereja dapat dikatakan mencapai puncaknya dalam reformasi Gereja. Dalam masa inilah Gereja terpecah baik dalam struktur organisasinya, ajaran imannya, tata cara ibadatnya, dll. Dalam karya tulis ini, masa reformasi Gereja akan menjadi bagian yang paling inti. Karya Tulis ini mengantar pada pemahaman akan sejarah perkembangan Gereja yang lebih baik untuk memasuki pokok dari reformasi Gereja.

BAB I

FAJAR REFORMASI

 A.  Kemerosotan Nilai Hidup yang Membawa Pada Pembaharuan[1]

            Sebagaimana kehidupan gerejawi pada saat reformasi Gereja, demikian pula tarekat-tarekat religius dalam periode itu seakan memikul beban tak tertanggungkan lagi, yang bermuara pada dekadensi. Tarekat-tarekat “tua” selain Chartusian dan sebagian Cistersiensis terlalu sedikit memberikan jawaban pada apa yang seharusnya mereka berikan. Hal ini antara lain disebabkan oleh kelekatan pada kekayaan biara; peperangan berkelanjutan di lingkungan sekitar biara dan “pembalikan nilai-nilai” telah menyebabkan relaksasi disiplin religius dan “ilmiah” sistem per-pajakan yang sangat mengikat. Regula (Anggaran Dasar) dilaksanakan dengan tanpa kesetiaan dan bakti; previlese-previlese yang ditebar oleh pejabat Gereja menambah merosotnya nyali kebiaraan.

            Sejumlah pertapaan Benediktin seperti St. Gallo, Fulda, Reichenau, Ellwangen secara bertahap berubah menjadi tempat-tempat yang mendukung gaya hidup para bangsawan, dan menerapkan model kehidupan yang serba bebas, sebagaimana hidup para bangsawan zaman itu. Para kanonik regular pun telah melepas semangat askese, bahkan di antara anggota Tarekat Mendicantes tidak lagi ditemukan semangat asali (saudara-saudara pertama). Larangan untuk memiliki harta pribadi tinggal tetap di atas kertas dan sering kali imam-imam sekular (dengan dalih reksa rohani dan pastoral) kehabisan idealisme pelayanan dan merosot menjadi tuan-tuan yang bejat.

            Kasus yang sangat menarik terjadi di kalangan para Fransiskan, yang mengalami konflik internal dan sejumlah anggotanya melawan Paus Yohanes XXII yang dicap “Anti-Kristus” Demikian pula dalam Tarekat Carmelit. Ada dua aliran: yang satu lebih keras, yang lain lebih moderat. Sebagaimana tarekat yang lain, Carmelit pun terbelah menjadi dua kelompok ketika skisma besar Barat berlangsung. Sejumlah komunitas menolak Regula Eugenius IV (1431) yang mau memuaskan semua pihak. Sejak saat itu berkembang dua kelompok yang berbeda dari “semangat yang sama”: Carmelit Observan dan Carmelit Conventual. Tarekat Ksatria, dengan jatuhnya Tanah Suci ke tangan pasukan ekspansi Islam, telah kehilangan tujuan utama untuk apa tarekat didirikan. Tentu saja, mereka masih dapat bermanfaat untuk rnenyelesaikan sejumlah persoalan di Barat. Ketidaksepakatan antara Tarekat Templar dan Hospitaller (St. Yohanes) di Palestina lebih banyak merusak situasi Kekristenan daripada sebaliknya.

            Pada akhir abad XIII ada tekanan untuk menjadikan dua tarekat itu menjadi satu. Apalagi Konsili Vienne (1309-1311) di Francis telah mendorong dibubarkannya secara tragis Tarekat Templar atas desakan Raja Philips IV. Sejumlah besar kekayaan dialihkan ke Tarekat St. Yohanes. Kekayaan di Spanyol tetap dikelola oleh kelom­pok kesatria yang jumlahnya tidak seberapa; sementara yang di Portu­gal diserahkan pada Tarekat Militia Jesu Christi (Milisi Yesus Kristus). Pusat utama Tarekat St. Yohanes (Hospitaller) sejak 1310 berada di llodi. Karena itu orang menyebutnya Kesatria dari Rodi. Dua abad berikutnya, mereka ini dibutuhkan kembali dalam ikhtiar Eropa membendung pasukan Turki yang melakukan agresi militer memasuki wilayah Kropa Kristen. Ketika (1522) pulau yang telah mereka pertahankan secara heroik dirobek-robek oleh pasukan Sultan Soliman II, dari 1530-1798, pemimpin Agung Tarekat berdiam di Malta. Dari sinilah nama itu bertahan sampai dewasa ini Tarekat Ksatria dari Malta. Reformasi Protestantisme dan sekularisasi kemudian menyebabkan kerugian yang tidak ternilai bagi tarekat, dan tinggal segelintir saja yang bertahan hingga hari ini.

            Sejumlah kemerosotan dalam hal disiplin di sebagian besar hidup kerahiban memancing dan menghasilkan serial usaha reformasi. Refor­masi dalam Gereja sangat disuburkan bukan oleh teori dan orasi, melainkan oleh praksis iman yang radikal dan total para perempuan heroik seperti Catharina Siena (1347-1380), Catharina Bologna (1463), Catharina Genova (1510), Brigita Swedia (1303-1373), Yuliana Norwich (1414). Selain itu, Paus Benedictus XII (sebelumnya adalah rahib Cistersiensis) mendorong berlangsungnya pembenahan (1335) Kanonik Reguler St. Augustinus (1339) dan mendesak diadakannya kapitel umum, kunjungan kanonik (yang ditetapkan oleh regula tarekat), dll. Di sejumlah wilayah berdiri tarekat-tarekat baru, yang umumnya menyikapi kelesuan dan dekadensi dalam Gereja. Misalnya: Kongregasi St. Yustina (Padova), 1412. Hal yang sama muncul di Valladolit (Spanyol), 1390; di Kastl (di Oberpfals, Jerman), 1380, Petershausen, 1417, Bursfeld di Gottingen (1434). Akan tetapi, di antara tarekat-tarekat religius yang berkembang pesat adalah Fratres vitae communis atau Fraterherren, yang diinspirasikan oleh Gerard Groote (1340-1384). Pada usia 35-an, Groote meninggalkan hidup duniawi, melepaskan segala hak waris, rnenjalani hidup dalam permenungan yang intensif, dan akhirnya ditahbiskan menjadi diakon. Dengan izin dari Uskup Utrecht, Groote mengabdikan diri dengan penuh ketekunan dan kerajinan pada pewartaan tentang pertobatan serta pembaruan religius masyarakat dan para klerus. Tetapi tidak lama kemu-dian muncul permusuhan terhadap dirinya, yang memaksanya menarik diri ke kota asalnya, Deventer. Di sinilah bersama dengan teman dan murid-murid yang memiliki ide yang sama dengan dirinya, Groote memimpin hingga akhir hidupnya sebuah komunitas doa, studi, dan pengajaran. Pada awal abad XV komunitas ini mendapat izin resmi dari Uskup Utrecht. Segera gaya hidup komunitas ini menyebar di sejumlah kota di Belanda (terutama di Zwolle) dan Jerman Barat Daya.

            Komunitas Fraterherren ini hidup dari pekerjaan tangan, khususnya menyalin buku-buku liturgi dan buku-buku pelajaran. Mengembangkan misi populer, dengan kepedulian terhadap pendidikan pada orang muda dan calon imam, selain melakukan publikasi buku-buku serta pelestarian humanisme ningrat dalam sekolah-sekolah mereka. Di bawah bayang-bayang Groote, yang dipengaruhi oleh Meister Eckhart (meski tidak sepenuhnya mengikuti nasihat rohaninya) dan dalam relasinya yang akrab dengan seorang mistik Flamingo, J. van Ruysbroeck, para murid Groote mengolah suatu bentuk devosi yang hangat dan batini, yang dikenal dengan sebutan Devotio moderna, yang memberikan tekanan utama pada hal mengikuti Kristus dan latihan mistik.

            Fraterherren acap kali dimusuhi oleh para Mendicantes karena motto mereka, extra religionem religiose vivere (di luar agama hidup secara religius), mereka itu memperkenalkan hidup klausura (pingitan) dengan tidak mengucapkan kaul religius sebagaimana biasanya kaum religius. Untuk ini rumah-rumah mereka dibangun dengan ilham dari Regula Augustinae. Bentuk inilah yang menjadi daya dorong bagi reformasi Kanonik Reguler St. Augustinus, yang pada 1430 memiliki 37 biara, dan akhir 1399 mempunyai 84 biara. Di antara biara-biara Agustinian yang paling masyhur adalah biara Agnetenberg di Zwolle, di mana pernah hidup dan berkarya Beato Thomas Hemerken Kempen, pengarang De Imitatione Christi (1420-1424), sebuah buku yang paling diminati orang Kristen. Buku inilah yang paling banyak dicetak dan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain setelah Kitab Suci (lihat Thomas a Kempis, 1978).

            Thomas H. Kempis dikenal pula sebagai wakil utama devosi baru. Devosi ini pada prinsipnya merupakan upaya nyata dan praktis untuk menghidupkan kembali sekaligus memperdalam kehidupan spiritual, yang sejak akhir abad XIV berkembang dan tersebar di Negeri Belanda hingga wilayah-wilayah Jerman, Francis, dan Italia. Devosi ini menekankan secara proporsional kehidupan batin setiap pribadi beriman dan mendorong dilakukannya meditasi metodik, seperti misalnya tentang kehidupan dan penderitaan Yesus Kristus. Para pemandu spiritual devosi ini acap kali dipribadikan dalam Augustinus (Uskup Hippo), Bernardus (llairvaux, Bonaventura.

            Minat akan hal-hal ilmiah pada abad XTV dan XV dapat digeneralisasikan: “masih tinggi”. Hal ini terlihat dalam munculnya sejumlah universitas baru. Di Jerman, sampai dengan 1517, terdapat 16 perguruan tinggi, yang memang mendominasi kehidupan intelektual negeri tersebut. Tidak kurang jumlah ilmuwan yang mangembangkan kemampuannya untuk mencapai perkembangan-perkembangan baru. Tetapi jika melihatnya secara umum, kita akan berkesimpulan: kemampuan berkreasi para skolastik mulai memperlihatkan gejala-gejala penurunan. Kurangnya orisinalitas dan banyak skolastik hanya mengulang-ulang pandangan para maestro mereka. Studi tentang Kitab Suci dan warisan para bapak Gereja tidak terjamin lagi, tetapi pendekatan (pemikiran) dialektik dan logis semakin digemari. Lahirnya nominalisme tepat pada awal periode ini, yang menyebabkan ilmu pengetahuan teologi mengalami suatu krisis besar, yang berlangsung hingga lahirnya gerakan Protestantisme.

            Nominalisme merupakan aliran pemikiran teologis, yang berkem­bang, tetapi praktis merupakan reduksi terhadap paham-paham yang bersifat universal, yang selama ini menjadi objek pemikiran, menjadi tanda-tanda yang kosong, tidak berarti dan tinggal sebuah kata saja (nomina). Dengan demikian segala sesuatu yang dapat diperlihatkan dan secara rasional memiliki dasar-dasar yustifikasi tidak dapat diukur atau dihitung, terutama iman dipertanyakan. Sejalan dengan garis ini segera tiba sebuah afirmasi pada kebebasan absolut Allah dan pewahyuan yang tidak dapat diverifikasikan, sehingga halnya akan sampai pada arah yang berbeda hingga prinsip kebenaran ganda. Maksudnya, sesuatu dapat dikenali sebagai benar oleh iman, (dan) kendati bertentangan dengan akal budi.

            Sosok yang mewakili alam pikiran ini adalah William Ockham (1285-1349), seorang Fransiskan dari Inggris (Goddu, 1994:231-310; Merino, 1993:341-435), yang dihormati dengan gelar Doctor invincibilis et Venerabilis Inceptor (atau doktor yang tak terkalahkan dan pencetus yang terhormat). Gelar terakhir ini (Venerabilis Inceptor) tidak menunjuk pada perannya sebagai “pemrakarsa sekolah nominalis”, melainkan mengacu pada kenyataan bahwa Ockham lantaran konfliknya dengan Takhta Suci tidak dapat melanjutkan karir akademiknya, tetapi memperoleh dari Universitas Oxford bachaloreat (inceptor), pemula, tanpa pernah mencapai magister. Kepeduliannya antara lain adalah ingin membebaskan Gereja dari absolutisme kekuasaan politik (yang mempribadi dalam jajaran pemimpin seperti Yohanes XXII). la hidup dan berpikir dalam konteks eksistensial dari separasi nyata antara iman dan akal budi, filsafat dan teologi, teologi dan politik, Gereja dan Negara. Sejak 1329 Ockham tinggal di Munchen. Selain menjadi pendukung setia Ludwig dari Bavaria, yang diekskomunikasi Sri Paus, ia sendiri juga musuh Paus Yohanes XXII dalam persoalan tentang teori kemiskinan. Apakah sebelum kematiannya karena penyakit pes, ia rujuk dengan Gereja dan tarekat Fransiskan, tidak serba jelas. Seturut legenda, Ockham pernah berkata kepada Ludwig Bavaria (1314-1347), “O imperator, defende me gladio, et ego defendam te verbo”. Artinya, ya kaisar belalah saya dengan pedang, dan saya akan membela paduka dengan kata-kata.

            Ockham yang merupakan “sosok terbesar terakhir dari era skolastik dan dalam waktu yang sama sosok pertama zaman modern”, menyebarluaskan dan mematangkan doktrin nominalisme. Karakter umum kriterialoginya adedahanti metafisika. Menurut Ockham, alam semesta tidak memiliki apa-apa kecuali jiwa yang ia pandang bukan entitas nyata. Alam semesta semata-mata adalah gambaran dari pikiran atau hal-hal singular (conceptus mentis). Secara historis lebih pentinglah kenyataan ini: seraya meninggalkan setiap yustifikasi iman oleh pihak akal budi, Ockham meruntuhkan penopang kokoh iman itu sendiri. Pada dasar kepercayaan nominalistik terbujur pandangan ini: konsep-konsep dan realitas itu samasekali terpisah, sehingga sebuah metafisika tentang ada itu tidak mungkin. Konsekuensinya: tidak mungkin ada pengetahuan alami tentang Allah. Ockham memperlihatkan bahwa bukti-bukti yang umum tentang Allah bukanlah logika.

            Dalam kenyataannya, Ockhamisme tersebar luas di I nggris, Francis, dan Jerman dalam abad XIV-XV, terutama di universitas-universitas terkenal zaman itu seperti Oxford, Paris, Winn, Kriurl,Basel, Freiburg dan Tubingen. Persaingan antara dua jalan: via moderna (nominalisme, terministae, conceptistae) dan via antique (realisme, realis) memenuhi kurun waktu tersebut. Dengan separasi yang berlebihan antara iman dan ilmu pengetahuan, nominalisme mematangkan persiapan dan jalan bagi para pembaru keagamaan abad XVI. Martin Luther belajar banyak dari Ockham (sum Occamicae factionis). Perlu dikatakan, skolastik yang “konservatif dan klasik” terbagi dalam pelbagai kelompok sekolah: Thomis, Scotis, Augustin. Seorang Dominikan, Durando dari St. Porciano, profesor teologi di Paris dan Avignon, kemudian dijadikan uskup di Le Puy dan Meaux, yang disebut Doctor modcrnus, atau juga Doctor resolutissimus, kendati anti-tomistik tidak didaftar dalam bilangan nominalistik. Sebab ciri khas pemikirannya adalah platonis-augustinian. Sementara itu, Gregorius Rimini (Doctor authentic), general Tarekat Augustinian, Yohanes Bridano (rektor Universitas Paris 1327, 1348), Albertus Saxonia, Marsilio Inghen, Henrich Langenstein dinyatakan sebagai ockhamistis.

            Fajar Reformasi di dalam Gereja abad XVI sebenarnya juga dimeriahkan oleh tampilnya para reformator anti Gereja abad XV (Lea, 1962:43-55). Mereka itu adalah Jan (Pupper) Goch; Johannes (Ruchrat) Oberwesel dan Wessel Gansfort. Goch berpandangan bahwa hanya kebenaran-kebenaran religius saja yang diperlihatkan dalam Kitab Suci. la berjuang melawan paham yang mengatakan bahwa kaul para biarawan memiliki arti khusus, meski ia tidak sampai menghilangkan status religius yang de facto ada. Johannes Ruchrat dengan tegas menyatakan: prinsip sola scriptura (hanya Kitab Suci sumber kebenaran. Sebab di sanalah dinyata­kan penyingkapan Diri Allah kepada manusia). la menentang indulgensi, menolak ajaran tentang dosa asal, “perminyakan suci” tidak dipandangnya sebagai sakramen. la kemudian dicopot dari jabatan uskup Worms, 1477, lalu beralih ke Mainz (sebagai pastor paroki), tetapi kemudian diseret ke pengadilan inkuisisi dengan tuduhan ada hubungan dengan para pengikut Huss (di Bohemia).

            Kemudian karena ia bersedia menarik semua kesalahannya, lalu ia dihukum dengan tinggal di biara Augustinian di Mainz sampai ia wafat. Gansfort, seorang awam dari Groningen, dihormati oleh para pengagumnya sebagai Lux Mundi (Terang Dunia). Oleh para lawannya (skolas­tik) dia disebut Magister Contradictionum.

            Faktor lain yang perlu dicatat berkenaan dengan fajar Reformasi Protestantisme adalah munculnya krisis religius. Tentu hal itu tidak perlu meniadakan sejumlah prestasi seperti khotbah para imam dan religius yang membangkitkan kesalehan religius, bangunan-bangunan (seni religius dalam bidang arsitektur) yang sangat indah, munculnya fondasi-fondasi untuk pelayanan demi penyembuhan jiwa-jiwa, remedium animae, lahirnya konfraternitas yang berperan pada kultus, lembaga-lembaga sosial karitatif, karya-karya tulis dan katekese yang tak tertandingi, penyebaran Kitab Suci, drama-drama religius, lagu-lagu Gereja, tersebarnya latihan-latihan rohani, devosi dan doa-doa seperti rosario, angelus, jalan salib, keikutsertaan umat dalam pelayanan Gereja, gairah untuk mendapat indulgensi dan ziarah, meningkatnya kultus kepada orang suci dan barang-barang suci seperti relikui.

            Tetapi memang tidak dapat disangkal bahwa pada saat itu berkembang pula penyalahgunaan khotbah-khotbah demi menebarkan indul­gensi, ziarah-ziarah yang nyaris menjadi “virus”, dalam semangat avontur. Tersebar luas kepercayaan akan takhayul, gugon-tuhon (kepercayaan sia-sia), magia, astrologia, ilmu hitam (santet), dukun, sihir, nujum, peramal. Pada umumnya, kepercayaan akan setan ditafsirkan dan disebarluaskan dengan gambar-gambar, yang kadang-kadang berlebih-lebihan demi menciptakan jiwa yang “takut akan Allah” dan terror.

            Dalam kehidupan moral, terasa ada kekurangan besar berkaitan dengan otoritas gerejawi dan sipil yang sudah sangat merosot, suasana tidak aman, tidak ada kepastian hukum, penggunaan kekerasan, penipuan, riba, pelacuran. Sementara itu, terlalu banyak klerus hidup tidak sesuai dengan panggilan mereka, kehidupan duniawi terlalu merasuk dalam Curia, korps kardinal, bahkan para paus di Roma. “Orang-orang Gereja” itu memburu kekayaan dan’mengumpulkannya. Banyak tarekat religius dan pertapaan mengalami kemerosotan. Klausura dan regula kemiskinan nyaris tidak lagi dilaksanakan. Adalah sangat signifikan ke-nyataan bahwa pada saat meletusnya Reformasi Protestan, sejumlah besar anggota tarekat religius yang tidak merasa bahagia dan kecewa menemukan pintu keluar dari biara dengan membuang ke kakus semua kaul-kaul religius.

            Meski segala kekalutan dan situasi buruk menerjang Gereja, namun Roh Tuhan, yang tidak pernah meninggalkan Gereja, menyelamatkan juga dari situasi mengerikan ini seraya memberikan kehidupan baru. Dalam rahim Kekristenan masih ada di mana-mana kekuatan-kekuatan perawan dan kudus yang menjadi sumber penyehatan dan pengudusan. Umumnya kekuatan itu berasal dari “wilayah Latin”, terutama Mediteran, yakni Italia dan Spanyol, Negara terakhir ini selain memiliki semangat “penaklukan” kolonial yang berawal dengan ekspedisi fantastis yang dikepalai oleh Christoforus Columbus, juga menjadi negara “Katolik” yang sedang datang. Perjuangan panjang Spanyol untuk mengusir orang-orang Muslim, yang memuncak dalam perebutan kembali Granada, 1492, telah memberi sinyal akan bangkitnya semangat Kekristenan yang menuntut untuk selalu diperhitungkan, nyaris fanatik, yang mempersekutukan para bangsawan (priyayi) dan rakyat jelata.


BAB II

TOKOH-TOKOH REFORMASI GEREJA

A.        Alasan-alasan Munculnya Reformasi Protestantisme[2]

            Ada sekurang-kurangnya empat alasan munculnya Reformasi Protestantisme. Alasan-alasan itu sangat kompleks dan oleh karena itu tidak dapat disederhanakan, misalnya hanya menyangkut kebejatan moral kepausan.

            Alasan pertama yang mungkin bagi munculnya Reformasi Pro­testantisme adalah nasionalisme dan bangkitnya negara-negara nasional. Contoh yang paling mencolok adalah benturan frontal yang tidak terelakkan antara Paus Bonifatius VIII dan Raja Philips. Yang dimaksudkan dengan nasionalisme di sini adalah tumbuhnya kesadaran sebagai nasion dari sejumlah bangsa (yang berarti negara-negara) di benua Eropa.

            Alasan kedua yang mungkin adalah ketidakpuasan dan kekacauan di bidang ekonomi. Pada kurun waktu Reformasi, penghuni Eropa berjumlah sekitar 65 hingga 80 juta jiwa. Sistem ekonomi yang berlaku adalah “kapitalisme”. Kelas borjuis, yang sering dianggap sebagai pelaku ekonomi kapitalis, berkembang di kota-kota. Mereka ini tetap memegang peranan ekonomis sejak abad-abad terakhir Zaman Pertengahan. Teknologi baru di bidang pertambangan, perkapalan dan percetakan menyegarkan ekonomi. Tetapi tatanan perekonomian yang demikian menimbulkan sejumlah ketidakpuasan sekaligus kesenjangan dalam masyarakat pada umumnya. Para bangsawan (rendahan) semakin tidak mempunyai tempat dalam masyarakat yang mengalami erosi feodalisme. Sementara itu, kebanyakan orang tetap tinggal buta huruf. Para petani, khususnya di Jerman, adalah kelompok yang diperalat dan yang mencari perbaikan hidup melalui ekonomi uang. Kedua kelompok (bangsawan rendahan dan kaum tani) ini sangat rentan terhadap tendensi revolusioner. Kedua-duanya juga berperan bagi lajunya Reformasi Lutheran dan munculnya tradisi Anabaptis.

            Alasan ketiga yang mungkin adalah kelemahan kepausan. Ada sinyalemen yang memperlihatkan bahwa sejak 1300, suksesi dalam rangka kepausan mencapai ambang kejenuhan. Sejumlah peristiwa membuktikan sinyalemen tersebut, misalnya Masa Kepausan di Avignon, 1305-1377; Skisma Besar Gereja Barat, ketika dalam kurun waktu yang sama Gereja dipimpin oleh 3 (tiga) paus secara serentak, 1378-1417; Konsiliarisme, 1409-1460; Gagasan-gagasan para Reformator yang sangat berjasa, seperti Wycliffe dan Huss; para Paus yang berpola hidup borjuis. Selain itu Kepusan membiarkan lewat begitu saja reformatio in capite et membris (pembaruan dalam diri pimpinan dan anggota Gereja), yang sudah diserukan agar dilaksanakan (seruan Konsili Konstanz, 1414-1417). Lebih buruk lagi adalah kualitas dan moral para prelat dan hierarki dalam tata pemerintahan Kuria Roma, kemewahan dan nepotisme (misalnya beberapa saudara dekat dari paus, kendati masih sangat muda dijadikan kardinal. Paus Sixtus IV mengangkat 6 (enam) saudara dekatnya untuk dijadikan kardinal, di antaranya Kardinal Petrus Riario yang mati karena tidak mengontrol diri dalam makan, minum, dan nafsu syahwatnya. Usianya hanya 28 tahun. Innocentius VIII sebelum dipilih jadi paus sudah mempunyai sejumlah anak haram yang diketahui umum).

            Tentu saja, borok dan kebusukan para pemimpin Gereja tidak dapat disangkal. Situasi semacam ini de facto menyuburkan sikap berontak Irrhadap lembaga Gereja yang dipimpin orang-orang yang tidak becus dan bermoral bejat, dll. Upaya mereformasi Gereja sebenarnya hendak mengangkat pembaruan dalam Gereja yang tidak saja menyangkut adat kebiasaan (luaran), tetapi juga dan terutama dalam dogma serta struktur gerejawi. Bagi Luther, dosa para rohaniwan adalah mengkhianati kebenaran. Singkatnya, Luther tidak menuntut hukuman atas kebejatan moral dan penyalahgunaan, melainkan substansi dan doktrin kepausan yang menurutnya tidak benar.

            Alasan keempat yang mungkin adalah keadaan Gereja Roma yang sangat memprihatinkan. Sejumlah paus yang tidak layak dibanggakan sama sekali, misalnya Alexander VI. Dosa Gereja Roma yang teramat besar adalah kerakusannya. Tidaklah sulit percaya, bahwa orang Jerman berpikir tentang pajak (kepausan) itu diperuntukkan terutama demi memIayani gaya hidup para uskup gerejawi. Selain itu, para imam bawahan berpenghasilan sangat rendah, pendidikan mereka pun ala kadarnya, longgarnya penghayatan selibat, dan praktis mereka ini digolongkan dalam status sosial yang rendah sebagaimana rakyat kebanyakan. Sementara itu, para bangsawan dan pangeran gerejawi tersebut membawahi sejumlah Gereja (dan urusan administrasi keuangan), tetapi mereka ini lebih sering absen. Revitaliasasi hidup membiara merupakan bagian yang signifikan dari Reformasi Katolik.

  1. B.                 Martin Luther, 1483-1546[3]

             Luther lahir 10 November 1483 di Eisleben, Saxonia, wafat 18 Februari 1546. Berasal dari keluarga petani. Ayahnya, Hans Luder, mengawini Margaret Ziegler. Pada musim panas, 1484, keluarga Luder pindah ke Mansfeld, Magdeburg dan Einsenach, Pada 1501, Luther belajar di Universitas Erfurt dan meraih gelar MA. Salah satu ciri lingkungan universitas ini adalah pengaruh skolastik yang begitu kuat dalam wujudvia moderna, dan yang sarat dengan pengaruh nominalisme (Ockhamisme). Luther dibesarkan dalam lingkungan yang akrab dengan praktik-praktik kesalehan kepercayaan Katolik tradisional. Ibunya yang devosional mengajarkan kepada dan mendorong anak-anaknya agar menghadiri Perjamuan Tuhan secara teratur.

            Secara mendadak ia memutuskan untuk masuk biara. Keputusan ini merupakan pemenuhan atas ikrar kepada Santa Anna yang diucapkannya, karena ia selamat dari bahaya petir yang mengancam keselamatan jiwanya (2 Juli 1505), “Saya akan masuk biara, jika saya selamat!” Ikrar itu dipenuhi dengan menjadi anggota kelompok rohaniwan Kanonik Regular Santo Augustinus (Ordo Sancti Augustini Eremitae) di Erfurt. Keputusan ini tentu mempunyai akar mendalam: kecemasan yang sejak masa kecilnya menghantuinya, kegalauan pikiran akan pengadilan Allah yang menakutkan dan perlunya keselamatan jiwa. Pada 1507, ia ditahbiskan menjadi imam di Wittenberg. Masuknya Luther dalam lingkup kebiaraan terutama dimotivasi oleh ketakutan religius akan malapetaka seandainya nasar (ikrar) pribadinya tidak dipenuhinya. Dalam hal ini “menjadi biarawan” identik dengan usaha menenangkan dan menenteramkan diri dari segala usikan jiwa.

            la mengalami krisis antara 1515-1517. Krisis ini membuatnya tidak dapat memenuhi lagi kewajiban-kewajibannya sebagai biarawan. Ia terjatuh dalam melankonia. Kegersangan yang bermuara pada kegelisahan rohani itu akhirnya terjawab dalam Turmerleibnis, atau pengalaman menara. Di dalam sebuah menara ia mendapat pencerahan melalui bacaan Roma 3:28 dan 4:6-8, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Dan lagi, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.”

            Maka bagi Luther, kebenaran Allah itu adalah rahmat, suatu pemberian cuma-cuma dari Allah. Konkupisensi, baginya, tetap tidak dapat diatasi dan menjadi dosa pribadi sungguhan dalam diri orang Kristen yang telah dibaptis. Luther menyatakan, kata “keadilan” dalam Kitab Suci tidak mengisyaratkan hukuman terhadap pendosa, melainkan mengacu pada tindakan, dengan mana Allah menyilih dosa-dosa sejauh dosa-dosa itu ditinggalkan melalui jalan iman, yakni pertobatan. Luther memperoleh jalan keluar dari ke-cemasannya: cukuplah beriman, untuk mengetahui dan merasa disela-matkan. Dari hal ini, yang adalah jalan singkat untuk mencapai tesis-tesis lainnya, Luther membela perlunya keselamatan sebagai inti ajaran. Luther samasekali tidak memimpin pemberontakan mana pun juga. la hanyalah mempercepat saat proses perubahann dalam tubuh Gereja.

            Secara substansial doktrin teologis Martin Luther yang paling penting terdiri atas tiga hal, yakni:

 1) Ajaran tentang yustifikasi (pembenaran) yang radikal atas manusia melalui sola fide. Slogan yang paling terkenal dari gerakan pembaruan keagamaan yang dilancarkannya berbunyi, “Pembenaran hanya oleh iman.”

 2) Ajaran tentang infalibilitas (ketidak-sesatan) Alkitab, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber kebenar-an. (Tetapi ada pandangan yang mengatakan bahwa butir ini agaknya tidak diajarkan oleh Martin Luther, dan halnya baru muncul dari para pengikutnya yang tertentu, antara lain Kaum Konservatif Injili abad XX).

3) Ajaran tentang imamat umum dalam kaitannya dengan kuasa untuk menafsirkan Alkitab. Semua proposisi teologis lainnya yang dimajukan Luther selalu merupakan konsekuensi dari prinsip-prinsip tersebut, misalnya ajaran tentang yustifikasi; predestinasi; kembali ke Alkitab; sakramen; Gereja; pemikiran politik reformasi dan pengaruh pemikiran reformasi atas sejarah. Berikut ini dikemukakan penjabaran atas substansi doktriner tersebut di atas:

            Doktrin tradisional Gereja mengatakan, manusia diselamatkan oleh iman dan karya-karyanya (iman menjadi nyata sungguh-sungguh ketika diwujudkan dan diungkapkan secara konkret dalam karya-karya). Karya manusia menjadi kesaksian otentik hidup Kristen, manakala diinspirasikan dan digerakkan oleh iman yang benar. Jadi, karya insani itu mutlak perlu. Dengan gigih Luther menentang nilai karya manusia. Secara psikologis Luther frustrasi, karena tidak mampu memperoleh keselamatan dengan karya dan usahanya sendiri. la merasa cemas akan keselamatan kekal. Solusi yang tepat dari kebuntuan tersebut cukuplah beriman demi keselamatan. Imanlah yang membebaskan dan secara radikal mencabut kekhawatiran hidup insan beriman.

            Hanya karena iman (sola fide) manusia dibenarkan. Maksudnya, hanya iman yang menyelamatkan manusia, dan bukan karya-karya (sekalipun baik dan terpuji dari pihak) manusia, misalnya amal kasih (derma); matiraga. Keselamatan itu bukan merupakan imbalan dan terjadi lanpa jasa dari pihak manusia. Jika otoritas tidak merupakan jaminan (baca: otoritas itu falibel), maka satu-satunya yang menjamin kepastian adalah iman dalam Allah.

lustitia Dei (keadilan Allah) semata-mata dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Keadilan ini tanpa jasa dan hak manusia. Kedaulatan Allah atas keadilan semata-mata menjadi hak prerogatif-Nya, tanpa kemampuan manusia sedikit pun untuk menggugatnya. Pengampunan Allah tidak membawa manusia pada suatu pembaruan batin secara ontologis: manusia telah dan tetap berdosa, tetapi Allah menghendaki supaya manusia diperbarui dan disucikan. Manusia itusimul iustus et peccator (benar serentak pendosa). Memang, akhirnya ajaran ini mempunyai bobot otoritatif dalam gerakan teologi Protestantisme. Manusia mendapat keadilan Allah bukan lantaran karya-karyanya, melainkan hanya merupakan kepastian akan keselamatan yang dilakukan Allah.

Hanya Alkitab sajalah otoritas yang infalibel (yang-kalis-dari-kesesatan) yang manusia butuhkan. Sri paus, uskup, konsili-konsili dan seluruh tradisi insani bukan saja tidak berguna, tetapi juga dan malahan menghalangi manusia memahami Alkitab secara benar. Sola Scriptura (hanya Alkitab). Maksudnya, Alkitab yang merupakan asas tunggal tanpa ada yang lain dalam hidup menggereja, berisi semua kebenaran yang diwahyukan Allah. Pada dirinya sendiri Alkitab cukup memberikan kepada Gereja kepastian tentang semua kebenaran ilahi. Dalam konteks ini, tidak ada hubungan antara tra­disi dan kepengantaraan Gereja dengan kuasa mengajar (magisterium), sehingga bagi Luther terbukalah jalan untuk menguji atau menafsirkan secara bebas. Alkitab menjadi tempat pengungsian yang terakhir. Alkitab adalah batu karang, di mana tiada badai dan bencana insani mampu menggoyahkannya. Dengan demikian Luther menolak Gereja yang hierarkis sebagaimana diperlihatkan oleh Gereja Roma. Manusia beriman tidak membutuhkan mediasi insani. Sebab kebebasan manusia beriman, yang adalah anak-anak Allah, telah memungkirrkan Allah berhubungan langsung dengan masing-masing or­ang beriman. Akibatnya adalah ia menolak Ekaristi sebagai kurban. Karena kurban (salib) Yesus Kristus hanya terjadi sekali (di Kalvari), tidak terulang dan untuk selama-lamanya. Luther kemudian mereduksikan jumlah sakramen dari 7 (tujuh) menjadi 2 (dua): Baptis dan Ekaristi. la juga mendevaluasi pengertian/pemahaman tradisional tentang sakramen. Dikuranginya tanda-tanda lahiriah dari rahmat (sakramentali), iman dan kebebasan yang sungguh kuat tentang kultus.

Reaksi hierarki Gereja Katolik Roma. Dengan tersebarluasnya tesis tentang indulgensi, Leo X mengundang Luther untuk datang dan mempertanggungjawabkan pandangannya ke Roma. Friederich “yang bijaksana” dari Saxonia meminta, agar Luther hadir di Roma; dan cukuplah diinterogasi di Augsburg tetapi interogasi sendiri tidak menghasilkan banyak hal. Sebab bagi Luther paus telah dicekoki dengan informasi yang bukan saja tidak cukup, tetapi juga salah; jika demikian halnya situasi akan menjadi lebih rumit lagi.

Kemudian, 1519, di Leipzig berlangsung perdebatan ekstra sengit antara Luther dan Johannes Eck (1486-1543), yang, meski gagal meyakinkan Luther untuk meninggalkan pandangan-pandangannya, berhasil menyampaikan penjelasan kepada publik untuk pertama kalinya doktrin tentang primat paus dan infalibilitas konsili-konsili. Sementara itu, Luther berpegang teguh pada prinsip dasariah gerakannya, yakni menganggap Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang diwahyukan oleh Allah. Setelah perdebatan teologis di Leipzig tersebut, Eck pergi ke Roma untuk membantu mempersiapkan kecaman terhadap Luther. Pada 15 Juni 1520, Paus Leo X mengeluarkan bulla Exsurge Domine (Bangkitlah Tuhan), yang menutup proses terhadap Luther (DS 1451-1492). Bulla ini mengecam 41 (empat puluh satu) tesis yang ditarik dari ajaran-ajaran Luther, yang dipandang “As either heretical, scandalous, false, offensive I o pious ears or seductive of simple minds, and against Catholic truth”. Eck dan Duta Besar, Aleander, bertanggung jawab atas penyebarluasan bulla Exsurge Domine di Jerman. Kedua tokoh tersebut mendesak Martin Luther untuk menarik ajarannya dalam 2 (dua) bulan. Tentu saja, taat pada desakan, yang berarti menarik kembali ajaran yang sudah tersebar luas bukanlah perkara mudah. Sebab banyak orang sudah terlanjur berbondong-bondong memperkuat barisan Luther (orang-orang terdidik dan tidak terdidik, kaya dan miskin, dari lapisan atas maupun bawah dalam strata masyarakat).

            Pada 1520, Luther menerbitkanAn den christlichen Adel deutscher Nation (Kepada Bangsawan Kristen Bangsa Jerman) yang tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Pengarang dengan sengaja menulisnya dalam bahasa Jerman. Sebab karya ini dikhususkan bagi orang Jerman. Di sini Luther mau merobohkan tiga tembok yang memungkinkan Gereja Roma bertahan. Tembok pertama: perbedaan antara imam (kekuasaan spiritual) dan awam (kekuasaan duniawi). Tembok kedua: hak istimewa hierarki untuk menafsirkan Kitab Suci. Tembok ketiga: previlese paus untuk memanggil konsili (Perihal Malapetaka Pembuangan Babilonia Gereja) yang dimaksudkan Luther untuk menghancurkan doktrin tradisional Gereja Roma tentang sakramen-sakramen. Luther tetap mempertahankan sakramen Baptis dan Ekaristi, sambil menyangkal transubstansiasi dan makna kurban Ekaristi. Dalam De libertate Christiana (Tentang Kebebas-an Kristen) Luther menyanjung kebebasan (batin) manusia, yang dibenarkan oleh karena iman dan kesatuan dengan Kristus. Baginya perbuatan-perbuatan yang baik tidak bermanfaat untuk pembenaran. Manusia tentu saja tetap wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, akan tetapi hal itu tidak lebih daripada konsekuensi logis dari pembenaran. Dengan kata lain, justru karena manusia dibenarkan karena imannya, maka ia wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan-perbuatan baik.

            Setelah melewati batas waktu yang ditentukan dari penetapan l”.\::urge Domine, Melanchthon memimpin para mahasiswa fakultas di VV111 ctiberg ke lembah Sungai Elbe untuk melakukan ritus pembakaran I in k u-lmku. Selain teks-teks hukum dan skolastik klasik, turut dimusnahkan karya-karya Eck. Luther sendiri membakar bulla Exsurge Domine, iIn11 sobuah salinan Kitab Hukum Kanonik, dasar yuridis bagi corpus (‘lirislianorum Abad Pertengahan. Tindakan ini bersifat provokatif. Ia sendiri menyadari arti perbuatannya. Pada 3 .l.in. 1521, dikeluarkanlah bulla Decet Romanum Pontificem yang mengekskomunikasi Luther dan para pendukungnya. Pemimpin Gereja  Roma saat itu sudah kehilangan akal, dan tidak tahu lagi cara mempertahankan kekuasaannya di Jerman, tanpa dipermalukan oleh ulah salah seorang anggota Gereja, Martin Luther.

            Sebelum menegaskan sikap melalui bulla Decet Romanum Pontificem tersebut Roma memanfaatkan Karel V. Akan tetapi, Kaisar Katolik ini memiliki tiga buah pemikiran demi memberikan masukan kepada Roma: Kaisar dapat taat kepada Roma dan mengutuk Luther dengan mandat kekaisaran, sebab dirinya selalu berada dalam sabuk pengaman paus atau dia berusaha melakukan negosiasi pribadi untuk meyakinkan Luther agar tunduk pada Roma; atau memberi kesempatan kepada Luther untuk menjelaskan duduk perkaranya di depan Parlemen dan biarlah parlemen yang memutuskannya. Karel V memilih yang terakhir. Singkatnya, Parlemen Worms akhirnya memutuskan, Luther dan semua prndukungnya diusir dari wilayah kekaisaran; karya-karyanya dinyatakan sebagai bidaah dan harus dimusnahkan; penyebarluasan doktrin I Aitheran dilarang; siapa saja yang berkomunikasi dengan Luther akan ditangkap dan harta kekayaannya akan disita.

            Ketika terlihat bahwa otoritas Negara dan Gereja menolak Martin Luther, maka ia menyeru pada para bangsawan dan terutama kepada rakyat jelata. Bagaikan gayung bersambut Luther kini menjadi pemimpin gerakan keagamaan yang segera melahirkan sebuah revolusi. Dalam perjalanan kembali ke Wittenberg, Luther “diculik” oleh satuan laskar berkuda yang bertindak atas suruhan Friederich dari Saxonia dan mengamankannya di kastel Wartburg. Selama sekitar satu tahun (awal Mei 1521 hingga awal Maret 1522) Luther tinggal di kastel tersebut. Di sini Luther memakai nama samaran Junker Georg. Sementara itu, di dalam masyarakat beredar isu, misalnya ia diculik oleh para musuhnya (kaki tangan Karel V), ia sudah dihabisi, dan lain sebagainya. Di kastel Wartburg Luther benar-benar aman. Kesibukan utamanya menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Jerman yang selesai ia kerjakan dalam 3 bulan dan dicetak di Wittenberg, September. 1522, yang disebut September-testament. Cetakan pertama sebanyak 3.000 eksemplar terjual habis dan cetakan kedua dibuat pada Desember, yang kemudian disebut Dezember-testamenf). Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman bukanlah yang pertama. Sebab sudah ada puluhan terjemahan sebelumnya. Akan tetapi, kualitas terjemahannya tidak baik. Apalagi terjemahan-terjemahan itu merupakan “terjemahan” dari Vulgata, bukan dari teks asli yang berbahasa Ibrani dan Yunani. Luther ingin menerjemahkan Alkitab sedekat mungkin dengan teks aslinya. Terjemahan ini mempunyai arti positif, khususnya bagi perkembangan bahasa Jerman dan nasionalisme. Hanya dua belas tahun kemudian, 1534, Luther berhasil menyelesaikan terjemahan seluruh Alkitab. Selain itu, Luther menulis sejumlah karya, misalnya Rationis Latomianae confutatio. Buku ini selesai dicetak pada 7 Mei 1521. Berisi jawaban Luther atas tulisan seorang profesor di Louvain, Latomo. De votis monasticis; De abroganda missa privata dan Vom Miflbrauch der Messe. Selain itu, Luther menulis buku-buku sekunder, misalnya Komentar tentang Mazmur, Surat-surat Paulus, Bacaan-bacaan dalam Perjamuan Tuhan, Argumen-argumen Melawan Bulla Ekskomunikasi, In coena Domini dan Magnificat verdeutschet und ausgelegt (1521), yang ditujukan kepada Pangeran Johann Friederich Saxonia. Kepadanya Luther berterima kasih, karena laskar Pangeran sudah “menculik”-nya setelah ekskomunikasi kepausan dijatuhkan.

 C.                REFORMASI CALVINIS[4]

             Ketika Lutheranisme terancam krisis dan nyaris kehilangan daya lariknya, Calvin (1509-1564) mengambil alih kepemimpinan Reformasi di dalam Gereja Kristus (pada pertengahan abad XVI). Yohanes Calvin lahir di Noyon, Piccardia (Francis), 10 Juli 1509. Calvin, yang lebih muda 26 tahun daripada Luther, adalah generasi kedua reformis.            Calvin menempuh formasi formal di Paris, dan mendapat pengaruh humanis dari lingkungan Jacques Lefevre d’Etaples (atau Faber Stapulensis, 1455-1536). Pada usia 18 tahun ia memperoleh gelar MA. Gelar sarjana hukum diperolehnya pada 1532.

            Ia seorang teolog otodidak (Calvin pernah menjadi mahasiswa fakultas teologi dan mempelajari teologi formal, sebelum studi hukum, meski ia hanya mempelajari tahap-tahap awal dan dasar teologi. Calvin adalah seorang Francis. Negeri ini menganut paham monarki absolut. Para Reformis di Francis hidup “tanpa perisai”, singkatnya, reformasi di Francis menciptakan sebuah Gereja yang disirami oleh darah para martirnya yang menentang kekuasaan otoritas sentral yang membenarkan diri dengan istilah un roi, une loi, une foi (satu saja, satu hukum, satu iman). Pada akhir 1533 Calvin mulai menyatakan dirinya sebagai penganut Protestan. Kemudian Calvin menetap di Basel. Di kota ini ia menerbitkan karya utamanya, Christianae Religionis Institutio (1536). Dalam karyanya ini Calvin menuduh Gereja Katolik Roma memperbudak nuraninya di bawah hukum yang menyebabkan kekhawatiran dan teror serta ketidakpastian keselamatan. Dalam edisi pertama Christianae Religionis Institutio Calvin, mengajarkan bahwa Gereja pada hakikatnya adalah invisible. Gereja itu orang-orang terpilih bersama-sama,  hanya dikenali oleh Allah semata-mata. Pada mulanya Institutio dimaksudkan sebagai katekismus atau buku pelajaran agama. Sudah menjadi rahasia umum, Luther sangat berpengaruh pada Institutio. Pada pokoknya Institutio (edisi I) terdiri atas 6 (enam) bab: Perihal hukum; Syahadat; Doa Tuhan; Sakramen Baptis dan Perjamuan Tuhan; Argumen-argumen Melawan Sakramen-Sakramen (Gereja) Roma; pembicaraan tentang kemerdekaan kristiani. Calvin menulis (1543) sebuah karya polemik, di mana ia meminta secara ironis menginventarisasi semua “tubuh” orang suci dan relikui mereka yang ada di Italia, Francis, Jerman dan Spanyol serta kerajaan-kerajaan lain.

            Reformis Calvin menetap di Geneva sampai ajal merangkulnya, 27 September 1564. Geneva boleh dikatakan sebagai pusat gerakan Calvinis. Di sanalah Calvin berhasil mewujudkan sebuah pemerintahan teokratis yang diinspirasikan oleh Reformasi, sangat keras dalam tataran hidup religius dan moral. Di Geneva pula ia melaksanakan prinsip-prinsip keagamaan secara organisatoris dan definitif.

            Reformator dari Geneva ini dikenal karena karya kerasulannya yang tidak mengenal letih, seorang sahabat yang setia dan penuh perasaan, kaya akan minat dan cita-cita, mampu menghadapi dan memecahkan pelbagai kasus. Terhadap manusia Calvin lebih pesimis daripada Luther, Calvin lebih optimis di hadapan Allah. Teks utama bagi Calvin adalah Roma 8:31, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Calvin yakin bahwa Allah bersama dengan dirinya dalam usaha membangun kota orang-orang terpilih di atas bumi, yakni Geneva, Israel baru dari Allah. Yang menonjol pada diri Calvin cita rasa keagamaan yang mendalam. Tumbuh padanya sikap mau mencari Tuhan yang mewahyukan diri-Nya sekaligus yang tersembunyi, Allah dalam Kitab Suci dan Allah para nabi. Jasa utama Calvin tidak terdiri atas orisinalitas konsep-konsep pernikiran teologisnya, melainkan dalam sistematisasi organis dari tesis-tesis reformator sebelumnya, yang sering kali tidak teratur, bahkan berlawanan. Oleh karena itu, Christianae Religionis Institutio merupakan Summa Theologiae bagi para Calvinis. Beberapa simpul dari pandangan Calvin dapat dikemukakan berikut ini:

*     Calvin menyangkal kehadiran nyata (presentia realis) dan hanya mengakui presensi virtual, sejauh Kristus melalui sakramen menyatakan rahmat-Nya kepada manusia.

*     Melalui kehendak-Nya Allah samasekali tidak tergantung pada jasa manusia atau dosa-dosa manusia. la memilih beberapa orang untuk kehidupan kekal, dan yang lain sudah ditetapkan-Nya untuk hidup dalam api yang kekal.

*   Karya-karya baik (secara moral) manusia tidak berpengaruh pada keselamatan. Kendati demikian manusia beriman tetap berkewajib-an melakukan karya-karya itu demi memuliakan Allah.

*      Perlindungan ilahi merangkum semua aktivitas temporal orang-orang terpilih. Kepastian ini mendorong orang Calvinis untuk menghadapi dengan penuh keberanian segala bentuk risiko yang terkandung dalam komersialitas. Gereja tidak memiliki suatu kekuasaan temporal yang langsung, tetapi otoritas sipil mereduksi diri sebagai suatu instrumen dalam tangan-tangan Gereja.berikut penetapan penitensi yang keras.

            Ciri-ciri Hakiki Teologi Calvinis,  adalah bagi Calvin sumber satu-satunya dan terlengkap dari iman kepercayaan Kristen adalah Kitab Suci, tidak ada sumber pelengkap iman, seperti misalnya tradisi. Hal ini tidak perlu berarti bahwa Calvin mengesampingkan kesaksian tradisi yang meneguhkan eksegese. Kepengantaraan Gereja yang menjamin bahwa Alkitab adalah karya dan tulisan suci, menyeluruh tidak diterima oleh Calvin. Karena tidak ada sesuatu pun yang menjamin kepengantaraan Gereja dan kesaksian Gereja itu semata-mata insani. Kitab Suci sendiri memiliki kemampuan untuk menunjukkan dirinya sendiri, yakni para jemaat ber­iman mengenal melalui tindakan Roh yang berkarya. Kitab Suci menjadi istilah perbandingan untuk membuktikan otentisitas Kristen dari dekrit-dekrit konsili Gereja Kuno, bapak-bapak Gereja, sekurang-kurangnya sampai dengan Santo Augustinus. Akibatnya, Calvin mengkritik Ana-baptis yang dicampuradukkan dengan spiritualistis, yang menegaskan kembali bahwa diri mereka adalah revelasi-revelasi baru Roh Kudus.

            Selain itu, Calvin juga mengkritik Gereja kepausan yang menempatkan hubungan Roh Kudus dengan magisterium (kuasa mengajar). Calvin memiliki eksegese yang kurang bebas ketimbang Luther, kendati tidak sepenuhnya harfiah, ada unsur eksegese subjektif, mengingat Calvin sendiri mengedepankan eksegesenya sendiri. Visi teologis yang muncul dari pandangan tersebut dipusatkan pada gagasan: kedaulatan yang mutlak dan bebas serta kemuliaan Allah Pencipta dan Penyelenggara. Tujuan penciptaan adalah pengenalan dan penyembahan dari pihak manusia kepada Allah. Tujuan penebusan adalah membangun kembali gambaran Allah dalam manusia yang dirusak oleh dosa dengan model Kristus, Gambar Sempurna Bapa. Hanya melalui pemulihan kembali seperti itu manusia dapat mengenal dan menyembah Allah secara sempurna serta mengabdi pada kemuliaan-Nya.

            Tujuan dari semua ciptaan dan penebusan adalah pemuliaan diri Allah, oleh karena itu dapat direncanakan dan diprogramkan secara tepat aeterno (sejak kekal) oleh Allah demi tercapainya tujuan tersebut.  Program kedaulatan dan kemuliaan Allah terwujud dalam Gereja melalui tindakan Putra Allah. Sebab selain Ia adalah Sabda pencipta alam semesta dan manusia; Dia juga melakukan rencana Allah dengan memimpin dunia serta semesta ciptaan. Kesimpulannya: siapa yang mengenal Kristus berarti mengenal rencana dan kehendak Allah serta tahu bagaimana harus mewujudkannya. Kedaulatan mutlak dan bebas dari pihak Allah ini tidak dikondisikan oleh apa dan siapa pun juga. Allah mewujudkan rencana keselamatan-Nva bukan hanya dengan menciptakan Gereja, tetapi di dalam Gereja sendiri sambil menyelamatkan orang-perorang dengan memilih secara bebas, dan dengan pencurahan rahmat. Dalam artian tidaklah dibutuhkan kepemimpinan hirarki dalam manentukan keselamatan. Allah menghadirkan panggilan umum (universalis vocatio) yang tidak termasuk keselamatan; dan menghadirkan panggilan khusus (specialis vocatio) yang termasuk keselamatan. Pilihan ini dilakukan secara bebas dan berasal dari Allah semata-mata. Allah sajalah memutuskan siapakah yang memperoleh keselamatan dan siapakah yang ditentukan untuk tidak selamat. Namun demikian, masing-masing pribadi dapat yakin akan keselamatan ilahi bagi dirinya, jika ia didapatkan bersatu dengan Kristus.

             Kedaulatan bebas Allah juga berkaitan dengan paham tentang eklesiologi. Bagi Calvin, Gereja adalah universus electorum numerus (segenap orang yang terpilih): para malaikat, orang hidup dan mati, di mana pun ditemukan. Gereja itu meliputi sejumlah “orang” yang terpilih. Mereka ini dipilih di dalam Kristus; dan oleh karena itu dimasukkan di dalam Kristus supaya terbentuklah semuanya menjadi satu tubuh dengan-Nya. Kristuslah satu-satunya kepala Gereja. Gereja itu tidak dapat dilihat (invisible). Jadi, Gereja ini pasti tidak sebagaimana dipresentasikan oleh institusi Gereja Katolik Roma. Gereja yang terdiri atas orang-orang pilihan itu menjadi terlihat lantaran notae. Maksudnya: pewartaan Kabar Gembira; pelaksanaan sakramen-sakramen seturut penetapan Kristus. (Inilahraotae dari The Confession of Augsburg); ketaatan pada firman Allah, yakni tata tertib, sesuatu yang khas dalam Gereja Calvinis.

             Notae Gereja itu terungkap melalui para pelayan (diakon, pastor, doktor, penatua) terutama tiga terakhir. Ketiganya tidak lebih daripada orgareon Allah. Artinya, lembaga ilahi, sarana tindakan penyelamatan dari pihak Allah. Oleh karena itu, mereka adalah pelayan manusia, terutama karena dilakukan oleh manusia dan di antara manusia. Jadi, Gereja adalah tempat, di mana Allah bertindak secara berdaulat.

  1. D.                REFORMASI ANGLIKAN[5]

            Anglikanisme muncul di Inggris pada abad XVI melalui kebijakan politik keagamaan. Raja Henry VIII berikut konstitusi satu Gereja nasional. Kebijakan dan alasan Henry VIII (1491-1547) untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma bukanlah menyangkut soal teologis, melainkan lebih-lebih bersifat personal dan politis. Aspirasi-aspirasi ini sudah digeluti Inggris sejak abad pertengahan. Hal itu didukung oleh kebijaksanaan pemerintah Inggris untuk tidak menaklukkan Eropa Kontinental, melainkan dengan mencari wilayah baru di luar Eropa dalam bentuk ekspansi kolonialisme dengan wajah perdagangan dan eksplorasi keilmuan dan kemanusiaan. Pemisahan antara Inggris dan Roma itu mencapai klimaksnya secara lima tahap yang menegaskan pola kebijakan politis Negeri Inggris di bawah kekuasaan Henry VIII, Edward VI, Maria Katolik Tudor, dan Elizabeth I. Berikut ini kita lihat satu demi satu pola kepemimpinan tokoh-tokoh tersebut.

             Raja Henry VIII. Henry VIII dari dinasti Tudor menikahi janda Cathrine Aragon, putri Raja Ferdinand “Katolik”, raja Spanyol dan paman Karel V (pada 1509). Cathrine sudah dinikahi oleh (mendiang) saudara kandung Henry VIII, yang bernama Arthur. Pada 1525, Cathrine berusia 40 tahun. Dalam usia tersebut Cathrine tak memperlihatkan lagi harapan akan mendapat keturunan (laki-laki) dari perkawinannya. Bukannya tanpa usaha gigih pasangan ini, mengingat dari rahim Cathrine Aragon telah lahir 5 (lima) orok, tetapi vang bertahan hidup lama hanyalah Maria (Katolik) Tudor. Raja Henry VIII sangat mendambakan keturunan laki-laki, dan berencana bercerai untuk kemudian menikahi Anne Boleyn yang lebih mudah. Keinginan untuk mendapatkan keturunan laki-laki itu diperkuat kuat dengan alasan stabilitas kekuasaan wangsa Tudor. Henry VIII konon dihantui oleh perang sipil yang pernah terjadi di Inggris, jika putrinya, Mary Tudor, memegang kendali pemerintahan Kerajaan Inggris. Dengan kata lain, stabilitas dan kesejahteraan (seluruh warga) Kerajaan hanya dijamin oleh kekuatan dan kearifan yang lebih banyak ditumpukan pada laki-laki daripada perempuan. Henry VIII merasionalisasikan keinginan untuk menikahi Anne Boleyn dengan menghadirkan dalam ingatannya sosok Mathilda, putri Raja Henry I (1135) yang memerintah Kerajaan Inggris. Di bawah kekuasaannya Inggris hancur berantakan dalam perang sipil selama hampir 2 (dua) dekade.

            Pada 1527, Henry VIII “Si Pendukung Poligami” yang jatuh cinta pada Anne Boleyn berupaya memperoleh alasan-alasan legal dengan pelbagai dalih, yakni demi membatalkan perkawinannya yang pertama (dengan Cathrine Aragon). Dalih yang dipakai oleh pihak Henry VIII demi membatalkan perkawinan dengan Cathrine adalah lmamat 20:21. Bersikukuh pada penegasan Imamat 20:21 tersebut, Henry VIII setelah mendengarkan pandangan para “Durna Kerajaan”, menyatakan bahwa perkawinan pertama itu tidak sah. Dispensasi yang diberikan oleh Paus Yulius II juga tidak sah. Sebab dispensasi itu melawan hukum yang ditetapkan sendiri oleh Allah. Pada 1529, mungkin juga karena paus khawatir, seandainya tidak memutuskan, maka akan menjengkelkan paman Cathrine, Kaisar Karel V, yang saat itu berpengaruh di Italia, paus memperlihatkan diri lebih energik. Henry kemudian pasang kuda-kuda dengan memanggil sidang umum antar-imam kepala Gereja Inggris, 1531. Thomas More bereaksi atas klausul itu, dan menarik diri. Lalu di-angkatlah primat Inggris yang baru, Thomas Cranmer, yang pada Januari 1533 memberkati perkawinan antara Henry VIII dan Anne. Hanya beberapa bulan kemudian, untuk memperlihatkan legalitas tindakannya, ia sendiri menyatakan pembatalan perkawinan yang pertama: Henry dan Cathrine. Paus Clemens VII lalu mengekskomunikasi Henry. Yang terakhir ini menjawab, dengan tindakan supremasi, yang menegaskan bahwa sebagai Raja Inggris ia berdaulat atas Gereja di wilayah Inggris, yang hingga saat itu berada di bawah kekuasaan paus Rezim yang baru ini kemudian mempertahankan iman yang lama dan mengikuti sebagian tata cara Katolik dan Lutheran. Reformasi Gereja di Inggris ini diterima begitu saja oleh sebagian besar rakyat Inggris, tanpa resistensi: uskup melekat pada massa dan para pembantunya mengikuti begitu saja para pembesar mereka.

            Keberhasilan reformasi Gereja di Inggris ini adalah berkat kemampuan para pimpinan. Mereka itu tahu bagaimana mempersiapkan secara berangsur-angsur tanpa menghambur-hamburkan hal-hal yang diperlukan. Juga pada saat itu ada ketidakjelasan teologis. Hal ini dalam kcnyataannya telah menghalangi orang untuk melihat gawatnya keadaan dan masalah di Gereja Inggris. Selain itu, Paus Clemens VII sendiri larut dalam sikap tidak tegas dan serba ragu-ragu terutama dalam menghadapi peristiwa genting seperti kasus Gereja di Inggris.

            Raja Edward VI. Edward VI (1547-1553), pengganti Henry VIII, lahir dari perkawinan kctiga (hasil perkawinan antara Henry VIII dan Jane Seymour). Kokuasaan kerajaan sebenarnya dijalankan oleh paman Edward. Pada masaini skisma berubah kodratnya menjadi bidah. Sebab atasprakarsa raja diciptakanlah ritus baru, yang disebarluaskan dalam Book of Com­mon Prayer, 1549, yang lebih dikenal dengan istilah The Prayer Book.

Dalam The Prayer Book dibuanglah setiap ungkapan (atau kalimat) yang menyatakan Ekaristi sebagai kurban. KemudianSimbol (Pengakuan Iman) diungkapkan dalam 43 artikel (yang dalam redaksi definitive dalam 1571, direduksi menjadi 39). Dalam Simbol ini Gereja Inggris menerima tesis Calvinisme tentang Ekaristi. Di sana pula ditambahkan perkenanan bagi para imam untuk menikah dan pentahbisan. Hal terakhir ini mengidentifikasikan para imam Gereja Anglikan pertama-tama sebagai pelayan Sabda (dalam pengertian Protestantisme). Reformasi Edward VI ini praktis mereduksi jumlah sakramen Gereja menjadi dua saja, yakni Baptis dan Komuni Suci. Pada akhirnya kontroversi religius pada masa Edward VI seakan digiring dan dipusatkan pada sakramen-sakramen sekitar altar, yakni Ekaristi dan Pelayanan Komuni Suci serta masalah teologis yang disebut transubstansiasi. Berkat revisi atas Prayer Book (1552) yang dikerjakan oleh Cranmer, menjadi sempurnalah penempatan Anglikanisme dalam ranting gerakan pem-baruan keagamaan Protestantisme.

             Ratu Maria “Katolik” Tudor. Edward VI memimpin Kerajaan Inggris dalam kurun waktu relatif singkat. Kematiannya mengantar Maria “Katolik”Tudor (1553-1558), putri Henry VIII dan Cathrine Aragon, ke takhta kerajaan. Marialah yang berupaya dengan gigih merestorasi Gereja Katolik Roma di Kerajaan Inggris. Upaya ini pada mulanya berhasil. Tetapi keberhasilan berhenti bersama kematian Ratu Maria. Ada pula kemungkinan bahwa kegagalan restorasi Ratu Maria lan­taran aliansi mandul dan steril antara Inggris dengan Spanyol. Per­kawinan dengan Philips II dan sikap re/aii/keras terhadap segala bentuk oposisi religius maupun politis. Selama lima tahun berkuasa tidak kurang dari 300 orang dihukum mati atas alasan yang berbau keagamaan. Ratu Maria dengan demikian mengembalikan Kekatolikan di Inggris dengan tangan besi. Hukuman yang dijatuhkan pada lawan-lawan politik keagamaannya menerjang tanpa ampun sejumlah elite politik, seperti Hooper, Latimer, Ridley dan Cranmer, yang memperlihatkan gelagat dan terang-terangan mengusahakan separasi Inggris dari Gereja Katolik Roma.

            Reaksi atas “politik tangan besi” Ratu Maria demi memulihkan Kekatolikan di Kerajaan Inggris terlihat dalam karya propagandis berjudul Acts and Monuments, 1563, karya John Foxe. Kekatolikan pada masa Ratu Maria ditegakkan di Inggris dengan daya fanatisme dan semangat keduniaan. Pada hal yang dibutuhkan ‘Inggris saat itu adalah penemuan kembali spirit kepemimpinan dan pemerintahan yang bersih, di samping infusi yang sehat dari iman-kepercayaan. Pada 1550-an agama Katolik Roma tidak dapat menawarkan tuntutan dan kebutuhan mendasar tersebut. Dan mungkin “komunitas (Geneva” ala Calvinisme memberikan inspirasi bagi pemenuhan tuntutan tersebut. Ratu Maria dan Kardinal Pole wafat pada hari yang sama, November 1558. Mereka menyaksikan kegagalan politik mereka, masa kepemimpinan Ratu Maria telah menggagalkan (kesempatan) Roma unluk berpengaruh dalam Gereja Inggris. Perang, jauhnya Calais, bangkitnya kekuasaan Spanyol, anti-klerikalisme dan ketidaksukaan akan kepausan turut mematangkan keberpihakan Inggris pada protestantisme, sekaligus ketidakpopuleran agama Katolik Roma.

            Ratu Elizabeth I. Ratu Maria digantikan oleh Elizabeth, yang sepanjang pemerintahan-nya mengancam pendukung Katolik Roma dan dominasi Spanyol. Elizabeth yang naik takhta pada usia 25 tahun, fasih berbicara Francis, Latin, dan Italia. Pada 1559, dipromulgasikan hukum yang mengakui ratu adalah pemimpin tertinggi Gereja Inggris, dan menetapkan bahwa setiap fungsionaris negara dan Gereja wajib melakukan sumpah setia pada yang berdaulat, yakni Ratu. Dalam tahun itu, Mattias Parker ditahbiskan menurut ritus terbaru primat Inggris. Tahbisan itu tidak sah demi cacat esensial dalam materi dan forma. Sebab di dalam ritus itu ditiadakan setiap bentuk rumusan yang langsung atau tidak langsung mengungkit Ekaristi sebagai kurban. Akibatnya, sejak saat itu tidak ada juga konsekrasi, yang dikatakan merupakan asal-usul hierarki Anglikan yang baru, juga tidak ada tahbisan. Sebab Gereja Anglikan telah memutuskan hubungan dengan pengganti para Rasul di Roma.

            Pada 1570, Paus Pius V mengekskomunikasi Ratu Elizabeth. Ekskomunikasi ini (di luar perhitungan paus) membahayakan posisi, bahkan kehidupan orang-orang Katolik di Inggris dan di Irlandia. Mereka ini dianggap sebagai pengkhianat (politik) negara. Beberapa tahun kemudian tersingkaplah rahasia mengenaskan ini: Sri Paus Gregorius XIII melalui sekretarisnya tidak menghalangi upaya “menyingkirkan” Ratu Elizabeth. Upaya “penyingkiran” ini seandainya berhasil akan dinilai “sah” dan sangat berarti bagi Gereja Katolik Roma. Syukurlah, gagasan edan itu gagal dalam pelaksanaannya.


  1. E.                 Reformasi Katolik[6]

Bagaman upaya reformasi dilakukan Gereja Katolik? Sebenarnya upaya itu sudah ada sebelum reformasi Luther, misalnya: gerakan devotio moderna, pembaharuan di bidang hidup membiara, mendidik kaum klerus agar berpengetahuan dan disiplin, dll. Tapi deng pecahnya reformasi Luther & yg lain, Gereja perlu membentuk refonmasi yang lebih terarah.

            Reformasi yg Diimpikan. Sepanjang paruh pertama abad 16, Gereja Katolik baru bisa merindukan reformasi. Mengapa `terlambat’? ada dua alasan: pertama, para Paus takut akan konsiliarisme yg muncul akibat sekularisme. Kedua, berkaitan dg keterlibatan Paus dalam menagani konflik antara 3 raja yg haus kekuasaan: Henri VIII, Fransiskus I, dan Karel V.

Dalam situasi krisis seperti itu, dituntut kesabaran. Gereja sesungguhnya telah berjuang melalui tarekat-terekat yang ada. Tarekat-tarekat religius yang ada inilah yang akan mejadi instrumen dalam menjalankan reformasi Gereja.

            Reformasi yg Terprogram. Upaya terprogram yang dilakukan Gereja adalah Konsili Trente (1545-1563). Konsili ini dibagi jadi 3 periode (1545-147; 1551-1552; 1562-1563). Konsili ini menghasilkan program pembaharuan yang bersifat pastoral, selain menandaskan kembali kebenaran-kebenaran iman yang diserang Protestan.

            Reformasi yg Diterapkan. Hasil konsili Trente dijabarkan dalam suatu aksi pembaharuan yang konkrit. Munculnya buku Katekese, penerbitan Kitab Suci Vulgata, buku misa dan ibadat harian yg baru adalah bukti konkrit konsili. Selain itu ada juga tokoh-tokoh reformator dari Gereja Katolik. Misalnya: Uskup Karolus Boromeus. la dipandang sebagai model uskup yang dirindukan Konsili Trente. Uskup lainnya adalah Fransiskus dari Sales. Saat itu Spanyol menjadi tempat yang penting di mana reformasi dapatt menembus kehidupan Gereja.

Konsili Trente juga memikirkan pembinaan imam yg baik. Maka konsili menegaskan perlunya seminari sebagai tempat mendidik calon imam. Konsili juga mendorong kunjungan pastoral yang intensif. Dengan demikian, reformasi Gereja Katolik merupakan penegasan kembali atas iman yg telah diterima, sekaligus perbaika segi kehidupan, moral, iman dan ajaran.

BAB III

PENUTUP

                   Zaman modern yg dimaksud di sini mengacu pada rentang waktu antara akhir abad 15 sampai pertengahan abad 17.  Peristiwa-peristiwa historis saat itu muncul suatu refleksi teologis: Ecclesia semper reformanda (Gereja selalu diperbarui). Kesadaran akan pembaruan ini sebenarnya sudah ada sejak abad 13 dg Reformasi Gregorian. Dalam konteks zaman modern, kata ‘reformasi’ berarti munculnya gerakan Reformasi Protestan. Pad abad itu muncul dua gerakan reformasi, yaitu Reformasi Protestan & Reformasi Katolik.

Latar Belakang Timbulnya Reformasi Protestan Setidaknya ada 2 kategori alasan munculnya Reformasi Protestan: yaitu alasan sosial (sosio-religius) clan alasan teologis. Alasan sosio-religius:

  • Reformasi Protestan muncul krn kebobrokan moral pihak kepausan. Alasan mi dianggap tdk lagi memadai bagi bnyk kalangan.
  • Alasan sosial lainnya: faktor nasionalisme. Bangsa-bangsa di Eropa menginginkan hidup mandiri & berhak menuntut pajak sendiri, tanpa campur tangan pihak kepausan.
  • Faktor ekonomi: kesenjangan di bidang ekonomi menimbulkan ketidakpuasan bnyk pihak. Para petani menjadi sangat rentan terhadap gerakan revolusioner.
  • Alasan lain: fakta bahwa pihak kepausan tidak tampil sebgai lembaga yang berwibawa.

        Alasan teologis: dengan melihat 3 doktrin Protestan: pembaharuan oleh krn iman, imamat semua org beriman & ketidaksesatan KS; gerakan Protestan bisa memberikan jawaban teologis terhadap kecemasan batin bnyk orang. Gerakan Martin Luther ditandai dengan munculnya Individualisme dan sekularisme. Semangat individual tampak dalam kecenderungan untuk menegaskan identitas kepribadian mereka. Bangsa-bangsa Eropa saling berperang memperluas daerah kekuasaan. Sedag semangat sekuler tampak daalm kecenderungan untuk berpisah dari Inkuisisi Gereja.

            Reformasi Martin Luther Luther adalahan seorg biarawan yang pandai. Ia pernah mengalami krisis rohani. Ketika ia membaca Kitab Suci, ia menemukan teks: Rom 1:16-17. Sejak itu dia berubah pikiran tentang Allah. Allah ternyata mahamurah, bukan pemarah. Pertentangan dalam Gereja muncul karena adanya praktik indulgensi. Pada saat berkhotbah, seorang anggota Ordo Dominikan,Tetsel, menyerukan teologi yg membahayakan umat: ‘begitu kotak bergemericig & jiwa akan terbang dari api penyucian’ : Teologi ini ditentang oleh Luther, meskipun ia tidak menolak praktik indulgensi. Tapi ia mengingatkan bahwa pengampunan itu berasal dari Allah. Indulgensi semacam itu mengandung resiko bhw org akan mencari rasa aman yang keliru (asal memberi kolekte banyak, akan selamat). Luther mempertanyakan kuasa hirarki Gereja. Menurutnya, hanya Tuhan yag bisa mengampuni dosa. la bertanya juga: ‘jika Paus memiliki kuasa membebaskan jiwa-jiwa dari api penyucian, mengapa ia tidak punya kasih untuk mengosongkan api penyucian? Paus Leo X menginginkan agar Luther menarik kembali dalil-dalilnya. Tapi. Luther tetap berpegang Pada pernyataannya.

Yohanes Calvin. Alasan kepindahan Calvin ke Gereja Reformasi (tahun 1533) tidak terlalu jelas. Mungkin karena pengaruh ajaran Melchior Wohnar yang menganut gagasan Luther, mungkin karena kematian ayahnya yang diekskomunikasi, atau kondisi keluarganya yang direndahkan krn bnyk hutang. Calvin mewariskan pandangan teologis yg khas. Awalnya, Calvin menerima penyelamatan karena iman. Tapi akhirnya ia sampai pada doktrin predestinasi. Menurutnya, tindakan saleh merupakan tanda sbg seorg terpilih. Kekuatan para terpilih adl baptis & sakramen perjamuan kudus. Tpi, bagi Calvin, roti dan anggur bukanlah tubuh dan darah Kristus. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi hanya bersifat spiritual. Calvin sangat membenci gambar Kudus. Baginya, gambar-gambar itu `gambaran yg keliru’ (pendewaan). Maka bentuk penolakannya diungkapkan dgn menghancurkan gambar & patung Kudus.

            Reformasi di Inggris Tokoh penting dalam revolusi di Inggris adalah Raja Henri VIII. la semula mempertahankan ortodoksi Gereja Katolik melawan Lutheran. Tapi karena pernikahan rahasianya dengan Katarina dari Aragon oleh Uskup Thomas Cranmer, ia diekskomunikasi Gereja bersama dengn isteri dan uskup tersebut. Ekskomunikasi terhadap raja dibalas dengan pernyataan Henri VIII bahwa dirinya adalah `satu-satunya pemimpin tertinggi di Gereja Inggris’. Para klerus, biarawan, pegawai negeri, dan kalangan intelektual diwajibkan bersumpah setia terhadap raja. Tahun 1536, Henri VIII membubarkan biara-biara & mengejar-ngejar para rahib. la memaksa mereka menikah dan merampas tanah mereka. Henri VIII juga mendekatkan diri pada Protestan. Ketika Elizabet naik tahta menjadi ratu, ia membenci kepausan. Ia membangun Gereja Anglikan dengan model kombinasi antara Gereja Katolik dan Kalvinis. Hal itu untuk meredam pertentangan Katolik dan Protestan dalam tubuh Gereja Anglikan. la hanya menetapkan dua sakramen, menolak aspek kurban misa, mengakui kehadiran Kristus dalam Ekaristi, dan memberikan hak kepada uskup serta imam untuk menikah.

            Sedangkan Reformasi dari diri Gereja Katolik sendiri sebenarnya sudah ada sebelum reformasi protestantisme di mulai. Namun bobot dari pergerakan itu amatlah kecil dan terbatas. Setelah munculnya pergerakan yang mendongkel kemapanan gereja Katolik barulah pembaharuan dalam tubuh Gereja Katolik mendapat perhatian yang serius. Hal itu ditunjukkan dengan adanya pembaharuan hidup dalam berbagai bidang termasuk di dalamnya perbaikan akan kebenaran ajaran iman.

            Adanya reformasi dalam Gereja yang mengakibatkan perpecahan bukanlah suatu yang diinginkan dalam Gereja. Situasi dan perihal hidup yang terjadi pada jaman itu, memang menuntut suatu perubahan yang radikal di dalamnya. Saat ini bukalah masalah siapa yang harus dipersalahkan dala situasi ini. Pertanyaannya adalah bagaimana membina hubungan dengan situasi yang telah terjadi, apa yang harus dilakukan untuk mempersatuan kembali perpecahan yang telah terjadi, meskipun tampaknya hal ini tidak mungkin. Namun hal ini haruslah senantias di cari dan di usahakan solusinya senantiasa.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Berkhof. H, Sejarah Gereja (disadur oleh Dr. I.H. Enklaar dalam bahasa Indonesia). BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009.

Dr. De Jonge. C. Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009.

Kenneth, Curtis.A, dkk. Seratus Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

Kristiyanto Eddy. OFM, Gagasan Yang Menjadi Peristiwa. Kanisus, Yogyakarta, 2001.

Kristiyanto Eddy. OFM, Reformasi Dari Dalam (Sejarah Gereja Zaman Modern). Kanisus, Yogyakarta, 2004.


[1] Pada bagian ini, penulis merangkum dan membahasakan sendiri secara sistematis bagian yang perlu dalam membahas bab ini dari buku Eddy Kristiyanto OFM, Reformasi Dari Dalam (Sejarah Gereja Zaman Modern). Kanisus, Yogyakarta, 2004, hlm 22-32.

[2] Bdk; Dr. De Jonge. C. Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, hlm, 33-38.

[3] Bdk; Kenneth, Curtis.A, dkk. Seratus Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. BPK Gunung Mulia, hlm 50-67.

[4] Bdk;Dr. Berkhof. H, Sejarah Gereja (disadur oleh Dr. I.H. Enklaar dalam bahasa Indonesia). BPK Gunung Mulia, hlm, 44-54

[5]Bdk; Kristiyanto Eddy. OFM, Gagasan Yang Menjadi Peristiwa. Kanisus, hlm, 35-47.

[6] Ibid; hlm 55-60

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s