Aborsi 2

  1. a.      Pengertian dan kesalahpahaman

            Aborsi adalah “tindakan penghentian kehamilan dengan hasil matinya bayi dalam kandungan.”[1] Kesalahpahaman terhadap ajaran Gereja sering terjadi dengan memahami bahwa Gereja menolak aborsi apapun jenisnya. Ini bukan ajaran resmi Gereja. Untuk itu kita perlu mengenal seluk-beluk aborsi.aborsi bor1 bor2

             Ada dua macam aborsi: spontan dan dikehendaki. Aborsi spontan seringkali disebut dengan keguguran, untuk hal ini karena terjadi spontan, tanpa disengaja ataupun dikehendaki, biasanya terjadi karena kelemahan uterus atau anomali struktur kromosom embrio/fetus, maka tidak ada penilaian moral pada aborsi spontan. Aborsi yang dikehendaki memiliki nama teknis berbagai macam: provocatus, induced, procured. Ketiga istilah teknis ini menunjuk pada satu fakta bahwa aborsi ini dikehendaki. Oleh karena dikehendaki, aborsi ini bersifat disengaja, dan tidak lepas dari tanggung jawab moral para pelaku, maka sarat penilaian moral.

            Aborsi provocatus ini masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Aborsi provocatus indirek biasanya dilakukan jika terdapat bahaya besar untuk kelangsungan hidup ibu dan janin. Biasanya bersifat terapeutis (menyembuhkan). Aborsi secara moral ini hendaknya dimengerti dalam prinsip akibat ganda (duplex effectus/double effect).[2]

            Aborsi yang ditentang dengan konsisten oleh Gereja adalah aborsi provocatus direk. Aborsi ini dengan sengaja direncanakan untuk langsung menyasar embrio/janin yang tidak lain adalah pribadi manusia pada tahap awal perkembangannya. Yohanes Paulus II menggolongkan aborsi direk ini pada pembunuhan manusia yang tak bersalah (EV 58). Pembunuhan ini termasuk perbuatan yang jahat pada dirinya sendiri (intrinsece malum). Dengan tegas dan agung ia menggarisbawahi ajaran konsisten Gereja: “Kami menyatakan bahwa pengguguran langsung, yakni, pengguguran yang dikehendaki sebagai tujuan atau sebagai sarana, selalu merupakan kekacauan moral yang berat, karena hal ini adalah pembunuhan dengan sengaja manusia yang tak bersalah” (EV 62). Katekismus menggarisbawahi kembali prinsip ini: “Sejak abad pertama Gereja telah menyatakan aborsi sebagai kejahatan moral. Ajaran itu belum berubah dan tidak akan berubah. Aborsi langsung, artinya aborsi yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana, merupakan pelanggaran berat melawan hukum moral” (KGK 2271).

  1. b.      Kontroversi tentang timing

            Sejak awal berdirinya Gereja selalu menentang aborsi dan pembunuhan bayi. Namun kemudian pertanyaan baru muncul, yakni sejak kapan aborsi dianggap pembunuhan. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan: kapan manusia bermula? Ada nuansa yang beragam dalam sejarah ajaran Gereja, namun konsistensi ajaran Gereja terletak pada larangan untuk aborsi pun jika kita ragu sedang berhadapan dengan seorang manusia atau bukan, probabilitas ini menjadi alasan yang cukup untuk melarang aborsi dan menjamin hak hidup janin.

            Karya-karya tulis pada zaman awali Gereja sudah menunjukkan kutukan pada aborsi. Tulisan terpenting adalah Pengajaran Keduabelas Rasul atau yang biasa dikenal dengan Didache. Pada bagian pembahasan moral tertulis, “Jangan membantai anak dengan aborsi. Jangan membunuh mereka yang baru dilahirkan” (Did. 2.2.).[3] Dalam buku ini aborsi dilarang karena dianggap sebagai menghina Allah karena tindakan ini menyerang apa yang telah Allah ciptakan. Ketika membahas jalan kematian, penulis menggolongkan pada mereka yang akan mati “para pembunuh anak yang mengaborsi gambar Allah (Did. 5.2.)[4] John Noonan mengatakan bahwa Didache tidak membedakan antara aborsi fetus yang telah terbentuk atau belum terbentuk, keduanya dengan tegas dilarang. [5] Surat Barnabas menyampaikan hal yang serupa dengan Didache serta memberi pendasaran pada perintah Injil untuk mencintai sesame, maka membunuh fetus untuk menyelamatkan diri sendiri dengan tegas ditolak.[6]

            Pada abad V, Agustinus tampil dan menolak aborsi. Dia tahu bahwa di zamannya telah  berkembang suatu debat tentang kapan masuknya jiwa rasional (ensoulment) ke dalam tubuh janin. Ia berpendapat bahwa kita tidak pernah tahu kapan hal itu dilakukan oleh Allah, maka sejak awal janin perlu dilindungi.[7] Dalam karyanya De nuptiis et concupiscentia, Agustinus menolak aborsi dan menyebutnya sebagai “kekejaman penuh nafsu.”[8] Dalam De Civitate Dei, Agustinus menyatakan bahwa kebangkitan dari kematian juga berlaku bagi “mereka yang mati dalam rahim ibunya” (22, 13).[9] Ini berarti bahwa jiwa telah ada sejak awal janin terbentuk.[10] Singkatnya, dalam karya-karyanya agustinus tidak dapat menyebutkan kapan penjiwaan itu terjadi, tapi meskipun demikian ia menolak aborsi. Para bapa Gereja lain, misalnya Gregorius Nazianze, Basilius dan terutama Tertulianus menganggap bahwa penjiwaan janin terjadi segera sejak awal terbentuknya janin (immediate hominization). Sejak awal janin adalah jiwa dan badan.[11] Tertulianus berkata, “Tidak ada bedanya antara mengambil hidup ia yang telah dilahirkan atau menghancurkannya sebelum ia dilahirkan. Siapa yang akan menjadi manusia, dia sudah seorang manusia sebelumnya (homo est et qui est futurus).”[12]

            Para pemikir abad pertengahan, semisal  Anselmus Canterbury (1033-1109), Thomas Aquinas (1225-1274) dan Dun Scotus (1270-1308) berpendapat lain tentang penjiwaan fetus. Mereka bergantung penuh pada biologi kuno Aristoteles yang baru saja ditemukan lagi.[13] Tentu saja biologi ini bersifat metafisik dan bergantung pada teori hilomofisme.[14] Anselmus berpendapat bahwa penjiwaan sejak awal adalah absurd.[15] Thomas Aquinas berpegang teguh pada Aristoteles dengan argumennya pemanusiaan tertunda (delayed hominization), janin lelaki menjadi manusia pada hari ke 40 dan janin wanita pada hari ke 90, pemikirannya ini tertuang dalam Summa Theologica and Summa contra Gentiles.[16] Menariknya ketika ia menjelaskan tentang dikandungnya Yesus, Aquinas menentang teorinya sendiri dengan mengatakan bahwa janin Yesus segera menjadi manusia karena Ia adalah Allah.[17] PEmikiran Aquinas ini berpengaruh pada Konsili Viena (1311-1312).[18] Namun, meskipun Aquinas berpendapat pemanusiaan tertunda, ia menentang aborsi dan menyebutnya “perbuatan secara berat salah bahwa pada setiap tahapnya, mengingat bahwa hal ini adalah dosa melawan kodrat menolak anugerah kehiidupan baru dari Allah.”[19] Menurutnya meskipun aborsi bukanlah pembunuhan, namun aborsi tetaplah sebuah dosa, yakni dosa menentang kodrat (contra naturam).

            Berabad-abad kemudian, muncullah teori yang menjadi tandaingan biologi Aristoteles. Teori ini menyebutkan bahwa pemanusiaan terjadi pada fertilisasi atau sesegera mungkin setelah fertilisasi. Pandangan ini muncul dari tahun 1620 oleh Thomas Fienus, profesor fakultas farmasi di Louvain, Belgia. Juga tampil Paolo Zacchia, seorang dokter dari Roma. Argumen Zacchia diterima dengan baik dan pada tahun 1644 oleh Paus Innosensius X ia dianugerahi gelar  “Jendral Utama Dokter untuk seluruh Negara Gerejawi Roma.”

            Biologi Aristoteles terus mendapat tantangan besar. Embriologi modern mulai lahir. Tahun 1677 Johan Ham van Arnheim dan Anthony van Leeuwenhoek untuk pertama kalinya menemukan sperma manusia melalui mikroskop sederhana. Meskipun mereka masih mengira bahwa sperma adalah semacam homunculus yang akan tumbuh besar dalam rahim wanita. Lazaro Spallanzani pada tahun 1775 menunjukkan bahwa sperma adalah agen pembuah yang memulai proses tumbuhnya individu baru. Pada tahun 1827, 150 tahun kemudian ketika sedang melakukan studi perbandingan embrio hewan Karl Ernst von Baer menemukan pertama kalinya ovum. Pada tahun 1839 Mattias Schleiden and Theodor Schwann memperkenalkan teorinya yang mengatakan bahwa embrio berkembang dari satu sel yang siebut zigot yang kemudian bekrmebang dengan membelah diri.

Dalam terang embriologi modern ini, dalam konstitusi apostolic Apostolicae Sedis (1869), Pius IX “menghapus rfernsi ke ‘fetus yang dijiwai’ berkaitan dengan ekskomunikasi bagi aborsi, sehingga sekarang ekskomunikasi menyangkut aborsi embrio.”[20] Sejak 1869 perbedaan antara janin yang telah atau belum dijiwai dihapus dari hukum Gereja. Maka keberpihakan Gereja pada posisi pemanusiaan segera (immediate hominization) semakin jelas.  Oleh karenanya, pada Hukum Gereja 1917 menganjurkan pembaptisan fetus hidup yang diaborsi.[21] Felix Cappello  dalam Summa Iuris Canonici menjelaskan bahwa baptis berkenaan dengan manusia yang berjiwa rasional, maka dengan demikian Gereja mengakui  bahwa fetus telah dijiwai oleh jiwa rasional.[22] Kemudian dalam ensiklik tentang prkawinan Kristiani, Casti Conubii (1930), Pius XI menekankan bahwa hidup itu suci dalam setiap tahapnya, juga hidup embrio itu suci, aborsi dapat dianggap sebagai membunuh orang tak berdosa.[23] Pada tahun 1951, dalam pembicaraannya di hadapan para bidan berkaitan dengan hakekat tugas mulia mereka, Pius XII menjelaskan bahwa anak di dalam rahim ibu adalah manusia yang sederajat dengan ibunya. Paus menjelaskan bahwa si anak memiliki hak untuk hidup yang didapatnya langsung dari Allah dan bukan dari keuda orang tuanya maupun dari masyarakat. Kemudian ia menolak sikap yang menyerang dengan langsung dan sengaja kehidupan yang sedang bertumbuh dalam rahim.[24]

Sepuluh tahun kemudian dalam ensiklik Mater et Magistra (1961), Yohanes XXIII menjelaskan bahwa hidup manusia tak dapat diganggu gugat dari saat awal pembuahan. Ia berkata, “Hidup manusia itu suci, semua manusia harus mengakui fakta ini. Dari sejak awal hidup ini menyatakan tangan Allah yang mencipta. Mereka yang melanggar hukum-hukumNya tak hanya melawan keagungan ilahi dan merendahkan dirinya dan kemanusiaan, namun juga melemahkan kehidupan komunitas politis di mana mereka juga menjadi anggotanya.”[25] Akhirnya, Paulus VI dalam pidatonya untuk New England Obstetrical and Gynecological Society (1964) ia menekankan ajaran Pius XIII dalam membela martabat manusia sejak saat awal keberadaannya.[26]

Kutukan pada aborsi atau pembunuhan bayi sebagai kejahatan tidak hanya keluar dari para paus, tapi juga dari Konsili Vatikan II. Dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (1965) tertulis, “Sebab Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan kepada manusia pelayanan mulia melestarikan hidup, untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindak kejahatan durhaka” (GS 51).[27]

Pada tahun 1974, diperkaya oleh data-data ilmiah, ajaran resmi Gereja mulai mengambil posisi yang lebih jelas tentang kapan manusia menjadi manusia. Kongregasi Ajaran Iman menerbitkan suatu Deklarasi tentang Aborsi yang Disengaja. Di sana tertulis,

Sejak ovum dibuahi, sebuah kehidupan yang bukan dari ayah atau dari ibu dimulai. Suatu kehidupan dari seorang manusia baru dengan pertumbuhannya sendiri. Ia tidak akan menjadi manusia jika ia sebelumnya bukan manusia… Dari sudut pandang moral hal ini pasti: bahkan jika ada keraguan apakah hasil pembuahan sudah manusia atau belum, adalah dosa berat mengambil risiko pembunuhan. ‘Ia yang akan menjadi manusia sudah adalah manusia.’[28]

Perdebatan reda selama beberapa tahun. Pada tahun 1978 terjadi terobosan baru dalam embriologi. Robert G. Edwards dan Patrick Steptoe menemukan teknik baru yang revolusioner dalam reproduksi manusia, yakni in vitro fertilization (IVF) atau pembuahan in vitro atau biasa dikenal dengan sebutan popular bayi tabung. Hasil nyata dari penemuan ini adalah lahirnya Louise Brown, bayi tabung yang pertama.[29] Penemuan revolusioner ini adalah hasil kerja keras selama sembilan tahun. Untuk dapat memperdalam riset yang masih baru ini, pada tahun 1982 Edwards mengusulkan pentingnya riset pada embrio manusia. Sejak saat inilah babak baru perdebatan yang lebih detil dan rumit mengenai status moral embrio manusia dimulai lagi. [30] Poin utama perdebatan adalah di sekitar penggunaan embrio hidup untuk keperluan riset. Di Inggris proposal dari Edward mendorong pemerintah membentuk komite penyelidikan kasus dan Mary Warnock diangkat sebagai ketua. Meskipun tidak mendapatkan persetujuan seratus persen dari parlemen, pada tahun 1990 Ratu Inggris menandatangani promulgasi hukum yang menyatakan bahwa embrio manusia hasil dari IVF dapat digunakan sebagai bahan riset sebelum berumur 14 hari. [31]

Dalam karyanya yang monumental Free and Faithful in Christ (1980), Bernard Häring, seorang teolog moral terkenal, menarik garis batas awal yakni pembuahan sebagai titik pangkal penilaiannya tentang aborsi. Argumentasinya mengarah kepada mengategorikan larangan aborsi sebagai bagian mendasar dari larangan untuk membunuh. Maka ia menolak penggunaan IUD sebagai alat KB, karena sifatnya yang abortif, menghalangi embrio untuk implantasi.[32]

Dari sudut hukum terjadi perubahan yang cukup signifikan pada hukum Gereja. Kitab Hukum Kanon 1983, kan. 1398 menyatakan, “Barangsiapa melakukan pengguguran kandungan dan berhasil, terkena ekskomunikasi yang bersifat otomatis (latae sententiae).”[33] Ini berarti bahwa eksomunikasi untuk aborsi langsung otomatis berlaku “ketika kejahatan itu dilakukan, hukuman seecara otomatis efektif dan tetap demikian sampai dicabut oleh otoritas Gereja yang layak, setelah penyesalan atas kejahatan itu.”[34] O’Donnell memperdalam penafsiran tentang kanon ini. Ia mengutip The Pontifical Commission of the Code of the Canon Law  yang memperluas penafsiran kanonis atas kata “pengguguraan.” Bahkan lebih luas dari definisi medis. Aborsi didefinisikan sebagai, “pengeluaran fetus muda (immature) dari rahim, untuk memasukkan setiap pembunuhan zigot atau embrio dengan cara apapun atau kapanpun sejak saat pembuahan.”[35]

Beberapa tahun kemudian, Kongregasi Ajaran Iman dengan instruksinya tahun 1987 yang berjudul Donum Vitae menyatakan dengan lebih yakin bahwa pemanusiaan (hominization) terjadi pada pembuahan (fertilisasi) adalah lebih meyakinkan menurut perkembangan biologi terkini. “Kemajuan embriologi telah membuat Kongregasi Ajaran Iman lebih yakin bahwa teori pemanusiaan tertunda (delayed hominization) secara ilmiah sudah ketinggalan zaman.”[36] Instruksi menuliskan,

Sejak saat pembuahan hidup setiap manusia harus dihormati, karena di bumi manusia adalah satu-satunya ciptaan yang dikehendaki Allah ‘demi dirinya sendiri dan jiwa rohani manusia ‘diciptakan langsung’ oleh Allah; manusia membawa dalam dirinya gambaran Pencipta (Pengantar, 5).

Dan lagi,

Maka dari itu buah prokreasi manusia sejak saat pertama, jadi sejak pembentukan zigot, menuntut hormat mutlak yang merupakan hak manusia dalam kesatuan menyeluruh jiwa raga. Manusia sejak saat pembuahannya harus dihormati dan diperlakukan sebagai pribadi, maka dari itu sejak saat itu harus diakui hak-haknya sebagai pribadi dan di antaranya terutama hak tak tergugat setiap manusia yang tak bersalah untuk hidup. Acuan pada ajaran Gereja ini memberikan kriteria untuk pemecahan mendasar aneka masalah, yang timbul karena perkembangan ilmu biomedik di bidang ini: karena embrio harus diperlakukan sebagai pribadi, maka sedapat mungkin ia harus dibela, dilindungi dan disembuhkan seperti setiap manusia dalam rangka perawatan medis, juga dalam integritasnya (I, 1). [37]

Ajaran ini digarisbawahi kembali oleh Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae. Tentang status moral embrio awal, ensiklik menulis,

Manusia takkan menjadi manusia, jika ia bukan manusia sebelumnya. Di masa lampau itu selalu jelas, dan ilmu genetika modern dengan jelas mengukuhkan itu. Ilmu itu menunjukkan bahwa sejak tahap petama sudah tersusun progam tentang akan menjadi apakah makluk hidup itu: seorang pribadi, pribadi individual dengan aspek-aspek khasnya yang telah ditetapkan dengan baik. (EV 60)

Dan Paus menyimpulkan,

                Tak sepatah katapun mampu mengubah kenyataan: pengguguran yang disengaja berarti pembunuhan yang disengaja dan langsung, entah apakah cara yang digunakan, terhadap manusia pada tahap awal hidupnya, antara saat pembuahan dan kelahiran. (EV 58) [38]

Katekismus Gereja Katolik (1997) mengulang dan menggarisbawahi serta memberi tekanan bahwa hormat dan perlindungan harus mutlak diberikan pada embrio sejak saat pembuahan, lihat art. 2270.

Pontifical Academy for Life tahun 2006 mengeluarkan suatu dokumen yang berharga yang mendukung semua pendapat di atas dengan data embriologis terkini dan menjelaskan, “bergabungnya gamet adalah proses yang tak dapat diubah yang menunjukkan bermulanya suatu organisme baru… pertumbuhan suatu individu baru yang menunjukkan pola genetis dan molekuler spesies manusia.” [39] Akhirnya, instruksi terbaru dari Kongregasi Ajaran Iman yang berjudul  Dignitas Personae (2008)[40], sebuah dokumen tentang beberapa pertanyaan bioetika, kembali menekankan posisi Gereja yang sudah tertuang dalam Donum Vitae dan Evangelium Vitae.

Catatan historis tentang perkembangan ajaran Gereja mengenai larangan aborsi dan hormat pada pribadi manusia sejak dini memberikan dasar yang kokoh bagi kita untuk mendiskusikan problema bioetis yang lain. Kini kita paham apa dasar biologis, filosofis dan teologis penghormatan pada pribadi manusia sejak detik awal keberadaannya.

  1. c.       Metode Aborsi 

      Terdapat beberapa macam teknik aborsi yang dikenal.[41] Biasanya aborsi sering dilakukan dengna bantuan tenaga medis, baik yang modern maupun yang tradisional. Dalam perkembangan selanjutnya, aborsi dapat dilakukan sendiri dengan bantuan obat. Kita melihat sepintas beberapa macam teknik aborsi agar kita dapat memahami fenomena kejam ini dengan lebih baik.

Bantuan tenaga medis

            Metode dilasi dan kuret (dilation and curretage). Dalam metode ini sebuah alat kecil yang berujung seperti sendok dimasukkan ke dalam rahim. Pelaku aborsi kemudian mengeruk dinding rahim, memotong janin menjadi potongan-potongan kecil, yang kemudian dikeluarkan sepotong demi sepotong melalui serviks. Pengerukan dinding rahim biasanya disertai dengan pendarahan besar dan dampak samping yang lain yang biasanya amat menyakitkan bagi wanita.

            Metode penyedotan (suction). Sebuah alat penyedot yang kuat dimasukkan dalam rahim melalui serviks. Janin dan plasenta dihancurkan kecil, kemudian disedot keluar dan dimasukkan dalam tempat penampungan. Kadang-kadang metode ini dilakukan setelah metode di atas dilakukan. Infeksi, kerusakan dan kesakitan pada serviks dan rahim dapat terjadi.

 

     

      Metode cairan garam (saline solution). Suatu jarum panjang dimasukkan ke rahim melalui perut ibu dan cairan garam kimiawi yang kuat disuntikkan ke dalam air ketuban yang menyelimuti si janin. Cairan garam kimiawi itu tertelan dan terserap ke dalam janin, membakar kulitnya dan menyebabkan kematiannya beberapa jam kemudian. Kematian janin menyebabkan ibu berkontraksi dan mengeluarkan janin yang mengkerut dan hangus. Janin dibuang ke sampah, hal ini dapat secara fisik dan psikologis menyakitkan si ibu. Kadang-kadang janin yang dilahirkan masih hidup, menderita kesakitan karena luka bakar yang hebat. Konsekuensi emosional dalam kasus-kasus seperti ini tak tertanggungkan oleh ibu.

 

            Metode prostaglandin atau aborsi kimiawi. Suatu cairan hormonal disuntikkan pada otot rahim. Hal ini menyebabkan rahim berkontraksi dan mendorong janin keluar. Proses ini sangat menyakitkan ibu. Kemudian janin ditarik keluar dengan alat semacam penjepit, biasanya kepala janin dihancurkan dan bagian-bagian tubuh lain ditarik keluar. Metode ini menimbulkan stress berat pada tubuh ibu dan dapat menyebabkan komplikasi lain.

            Metode histerotomi atau bedah. Metode ini biasanya dilakukan untuk janin yang sudah tua, yakni pada trimester terakhir. Rahim dibedah lewat dinding perut. Seperti layaknya operasi caesar, namun si janin dimatikan dalam uterus atau dibiarkan mati jika ia belum mati sebelum dibuang. Operasi besar ini mengandung risiko besar, komplikasi dan penyembuhan yang menyakitkan.

            Kenyataan ini menangkis bahwa aborsi itu aman, mudah, dan tak menyakitkan. Bahkan konsekuensi fisiologis dan psikologis pasti terjadi setelah aborsi. Hal ini dikenal dengan post traumatic disorder atau post abortion syndrome. Secara fisik penyembuhan luka luar dan dalam sangat menyakitkan dan kemungkinan terjadi aborsi ulang untuk kehamilan berikutnya akan sangat tinggi. Secara psikologis beban ibu sering tak tertanggungkan seperti kehilangan nafsu makan, insomnia, agitasi, kehilangan minat atas aktifitas hidup juga aktifitas seksual, kehilangan energi, rasa bersalah yang bertubi-tubi, kehilangan kemampuan konsentrasi, dan munculnya ide-ide untuk bunuh diri.

Aborsi personal

            Dalam perkembangan awal embrio, beberapa hormon aktif mempersiapkannya untuk implantasi dalam rahim ibu, di antara hormon-hormon itu yang terpenting adalah pregesteron yang biasa disebut dengan hormon kehamilan.[42] Tanpa hormon ini sistem kekebalan tubuh ibu akan menyerang embrio dan menolak embrio untuk masuk dalam rahim ibu.

            Ada beberapa pil aborsi yang menghalangi kehamilan terjadi, misalnya: Norplant, Depo-provera, Morning after pill, Methotrexate-Misoprostol, dan RU 486. Pil yang terakhir ini mendapat nama di pasaran sebagai mifepristone, mifegyne atau mifeprex. RU 486 ditemukan oleh peneliti pada perusahaan obat terkenal: Roussel-Uclaf SA.[43] Pil ini berfungsi sebagai anti-progestin, yakni memblokir fungsi normal hormon progesteron. Dampaknya adalah embrio tidak dapat melekat pada dinding rahim dan memasukinya (implantasi) sehingga akhirnya ia mati. RU 486 biasanya digunakan bersama dengan prostaglandin, yakni dua hari setelah diminum dan menyebabkan kematian embrio, si ibu datang ke klinik aborsi untuk menerima suntikan prostaglandin yang mendesak embrio mati itu keluar. Jika embrio tidak keluar sampai pada kunjungan klinik ke tiga, biasanya baru dilakukan medote pembedahan. RU 486 digunakan selama tujuh minggu sejak hari pertama masa menstruasi terakhir. Karena RU 486 digunakan setelah sanggama dan hasilnya adalah kematian embrio, maka ia dapat disebut sebagai pil aborsi.[44]

            Pil ini menimbulkan dampak sosial yang signifikan karena pil ini memperkenalkan suatu metode aborsi yang personal, tersembunyi, murah dan relatif “aman.” Masalah etispun muncul, sekarang pilihan bagi mereka yang hendak aborsi bukan lagi melakukan aborsi atau tidak, melainkan metode aborsi dengan bantuan orang lain atau yang personal. Pil ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah aborsi seperti dikira banyak orang, tapi malah memperparah praktek aborsi dan menjadikannya sebuah praktek yang makin personal dan privat. Mentalitas memandang manusia yang tak dikehendakinya dalam rahim sebagai setara dengan virus influenza yang mengganggu “kesehatan” seseorang dan harus dimusnahkan dengan meminum pill, semakin diteguhkan. Embrio bukan lagi manusia yang harus dihargai dan dijamin hak hidupnya, tapi diperlakukan semacam penyakit yang harus dimusnahkan. Apakah pil ini mengajar kita untuk melihat si kecil dalam kandungan sebagai sesama? (Luk 10:25-37). Tentu jawabnya tidak.


[1] Benedict M. Ashley and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Theological Analysis (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1997), 253.

[2] Lih. bab II, bagian D. Norma Moral Kristiani dalam pembahasan mengenai prinsip akibat ganda.

                [3] Umberto Mattioli, trans. Didachè: dottrina dei dodici apostoli (Roma: Edizioni Paoline, 1984), 110.

            [4] Ibid., 114.

                [5] Cf. John T. Noonan, Jr., “An Almost Absolute Value in History,” in The Morality of Abortion: Legal and Historical Perspectives, John T. Noonan, Jr., ed., (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1972), 10.

                [6] Ibid. Also see United States Conference of Catholic Bishops (USCCB) Secretariat for Pro-Life Activities, Respect for Unborn Human Life: The Church’s Constant Teaching, sourced from the internet: http://www.usccb.org/prolife/constantchurchteaching.shtml, accessed January 14, 2010.

                [7] See Noonan, “Almost Absolute Value,” 15.

                [8] Augustine of Hippo, On Marriage and Concupiscence, no. 17, source from the internet: http://www.newadvent.org/fathers/15071.htm, accessed date January 14, 2010.

                [9] Augustinus, De Civitate Dei (Corpus Christianorum Latina 48), cap. 22, 13, (Turnholti: Typographi Brepols Editores Pontifici, 1955). The complete citation writes, “Abortivos fetus, qui cum iam vixissent in utero, ibi sunt mortui, ressurecturos ut adfirmare, ita negare non audio; quamuis non videam quo modo ad eos non pertineat resurrectio mortuorum, si non eximuntur de numero mortuorum. Aut enim non omnes mortui resurgent et erunt aliquae humanae animae sine corporibus in aeternum, quae corpora humana, quamuis intra viscera materna, gestarunt; aut si omnes animae humanae recipient resurgentia sua corpora, quae habuerunt, ubicumque viventia at morientia reliquerunt, non invenio quem ad modum dicam ad ressurrectionem non pertinere mortuorum quoscumque mortuos etiam in uteris matrum [emphasis mine]. Sed utrumlibet de his quique sentiat, quod de iam natis infantibus dixerimus, hoc etiam de illis intellegendum est, si resurgent.”

                [10] Noonan, “Almost Absolute Value,” 16. See Tertulianus, De Anima (Corpus Christianorum Latina 2), cap. 27, 1, (Turnholti: Typographi Brepols Editores Pontifici, 1954). The text writes, “Quomodo igitur animal conceptum? Simulne conflata utriusque substantia corporis animaeque an altera earum praecedente? Immo simul ambas et concipi et confici, perfici dicimus, sicut et promi, nec ullum intervenire momentum in conceptu quo locus ordinetur.” Compare to Tertulian, A Treatise on Soul, sourced from internet http://www.newadvent.org/fathers/0310.htm, access date January 26, 2010. Tertulian writes,”How, then, is a living being conceived? Is the substance of both body and soul formed together at one and the same time? Or does one of them precede the other in natural formation? We indeed maintain that both are conceived, and formed, and perfectly simultaneously [emphasis mine], as well as born together; and that not a moment’s interval occurs in their conception, so that, a prior place can be assigned to either” (ch. 27).

                [11] Cf. Enciclopedia di bioetica e sessuologia (2004), “Aborto interruzione di gravidanza,” by Giovanni Russo.

                [12] Tertullianus, Apologeticum (Corpus Christianorum Latina I), cap. 12, 8, (Turnholti: Typographi Brepols Editores Pontifici, 1954). The text writes, “Nobis vero homicidio semel interdicto etiam conceptum utero, dum adhuc sanguis in hominem delibatur, dissoluere non licet. Homicidii festinatio est prohibere nasci, nec refert, natam quis eripiat animam an nascentem disturbet. Homo est et qui est futurus; etiam fructus omnis iam in semine est.” See also: Salvino Leone, “The Ancient Roots of a Recent Debate,” in Juan de Dios Vial Correa and Elio Sgreccia, eds., Identity and Statute of Human Embryo: Proceedings of Third Assembly of the Pontifical Academy for Life (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 1998), 36; Benedict M. Ashley and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Theological Analysis (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 1997), 232.

                [13] See Ashley-O’Rourke, Health Care Ethics, 228. They notes that some Catholic philosophers have recently attempted to rehabilitate the theory of delayed hominization as proposed by Aquinas (Joseph F. Donceel, Gabriel Pastrana, William A. Wallace) or Scotus (Thomas A. Shanon and Allan B. Wolter)

[14] At that time the works of Aristotle was retranslated in some languages, especially in Arabic and Latin. In order to understand Aristotle’s hylomorphic theory about hominization of the human embryo, we need to read his two significant works, De anima and De generatione animalium. First we need to look at De Anima, where Aristotle applied his hylomorphic theory in explaining the relation between body and soul. He writes, “Since then the complex here is a living thing, the body cannot be the actuality of the soul; it is the soul, which is the actuality of certain kind of body…That is why it is in a body, and a body of a definite kind…Reflection confirms the observed fact; the actuality of any given thing can only be realized in what is already potentially that thing, i.e. in a matter of its own appropriate to it. From all this it follows that soul is an actuality or formulable essence of something that possesses a potentiality of being besouled.” Aristotle, De Anima, 414a: 12-13. Second, it is helpful to compare De anima with De generatione animalium, where Aristotle explains in more detail the process of hominization. He writes, “For nobody would put down the unfertilized embryo as soulless or in every sense bereft of life… For at first all such embryos seem to live the life of a plant. And it is clear that we must be guided by this in speaking of the sensitive and the rational soul.” Aristotle, De generatione animalium, 736a: 30 – 736b: 10.

[15] Convinced by the Aristotelian theory of hominization Anselm rejects the view of hominization at the moment of conception, writing, “It is against the common human conviction, however, that an infant has a rational soul right from the moment of its conception. For it would follow that every time a human seed that has been conceived perishes before it attains to be a human figure – even right after the instant of conception – a human soul is lost with it, because it is not reconciled with Christ. But that is simply absurd.” Anselm of Canterbury, Why God Became Man and The Virgin Conception and Original Sin, trans. Joseph M. Colleran, (Albany, NY: Magi Books, Inc., 1969), 179-80.

[16] Cf. J.E. Royce and E.J. Furton, “Origin of Human Soul,” in New Catholic Encyclopedia, vol. 13, 355. In the Summa Theologica (S.T.), Aquinas explains the delayed hominization theory by arguing that there is a change from vegetative to intellectual soul. He writes, “It is therefore impossible for the seminal power to produce the intellectual principle…the same soul which was at first merely vegetative, afterwards through the action of seminal power, becomes a sensitive soul; and finally, this same soul becomes intellectual, not indeed through the active seminal power, but by the power of a higher agent, namely God enlightening the soul from without” S.T., I, Q. 118.2. We can compare S.T.’s description with that in Summa Contra Gentiles, where Aquinas explains in more detail what he does not describe in S.T., that the process of change, which delays hominization is signified by corruptions. He writes, “Wherefore in the generation of an animal or a man in which the form is most perfect, there are many intermediate forms and generations, and consequently corruptions, since the generation of one is the corruption of another. Therefore the vegetative soul comes first, when the embryo lives the life of a plant, is corrupted, and is succeeded by a more perfect soul, which is both nutritive and sensitive, and then the embryo lives an animal life; and when this is corrupted it is succeeded by the rational soul introduced from without.” SCG, 2, 89.

                [17] He explains, “For the conception to be attributed to the very Son of God, as we confess in the Creed, when we say, ‘who was conceived by the Holy Ghost,’ we must need to say that the body itself, in being conceived, was assumed by the Word of God…. that the Word of God assumed the body by means of the soul, and the soul by means of the spirit, i.e. the intellect. Wherefore in the first instant of its conception Christ’s body must needs have been animated by the rational soul [emphasis mine]… The beginning of the infusion of the soul may be considered in two ways. First, in regard to the disposition of the body. And thus, the beginning of the infusion of the soul into Christ’s body was the same as in other men’s bodies: for just as the soul is infused into another man’s body as soon as it is formed, so was it with Christ. Secondly, this beginning may be considered merely in regard to time. And thus, because Christ’s body was perfectly formed in a shorter space of time, so after a shorter space of time was it animated [emphasis mine]” S.T. III, Q. 33.2. And also read: “If Christ’s flesh had been formed or conceived, not instantaneously, but successively, one of two things would follow: either that what was assumed was not yet flesh, or that the flesh was conceived before it was assumed. But since we hold that the conception was effected instantaneously, it follows that in that flesh the beginning and the completion of its conception were in the same instant. So that, as Augustine says: “We say that the very Word of God was conceived in taking flesh, and that His very flesh was conceived by the Word taking flesh” S.T. III, Q.33.3.

[18] The original text says, “…we reject as erroneous and contrary to the truth of the catholic faith every doctrine or proposition rashly asserting that the substance of the rational or intellectual soul is not of itself and essentially the form of the human body, or casting doubt on this matter.…that whoever shall obstinately presume in turn to assert, define, or hold that the rational or intellectual soul is not the form of the human body in itself and essentially must be regarded as heretic.” Denzinger Schönmetzer, Sources of Catholic Dogma (Enchiridion Symbolorum Definitionum Declarationum), trans. Roy J. Deferrari, (London: B. Herder Book, 1957), 190.

                [19] USCCB Secretariat for Pro-Life Activities, Respect for Unborn, sourced from the internet, http://www.usccb.org/prolife/ constantchurchteaching.shtml, accessed January 19, 2010. Aquinas considers preventing insemination in intercourse as sin against nature, stating: “The lustful man intends not human generation but venereal pleasures. It is possible to have this without those acts from which human generation follows: and it is that which is sought in the unnatural vice” (S.T., II-II, Q. 154.11). He is clear that when an ensouled embryo is killed, there is actual homicide, stating: “He that strikes a woman with child does something unlawful: wherefore if there results the death either of the woman or of the animated fetus, he will not be excused from homicide, especially seeing that death is the natural result of such a blow”(S.T., II-II, Q. 64.8).

                [20] Noonan, “Almost Absolute Value,” 39.

[21] See Henry de Dorlodot, “A Vindication of the Mediate Animation Theory,” in Theology and Evolution, ed. E.C. Messenger, (Westminster, MD: Newman Press, 1949), 278. See Benedictus XV, prom., Codex Iuris Canonici (Roma: Typis Polyglottis Vaticanis, 1919), 251. The CIC 1917, can. 747 writes, “Curandum ut omnes fetus abortivi, quovis tempore editi, si certo vivant, baptizentur absolute; si dubie, sub conditione.”

                [22] See Felix M. Cappello, Summa Iuris Canonici: In Usum Scholarum, vol. II, (Roma: Universitas Gregoriana, 1945), 146. The text writes, “Omnes fetus abortivi, quovis tempore editi, sunt baptizandi (can. 747). Ratio est quia, iuxta sententiam communius receptam et ex praescripto citati canonis certam, ut putamus, fetus humanus a primo conceptionis momento anima rationali informatur. Diximus certam; nam subiectum capax Baptismi est omnis et solus homo (can. 745); atqui nemo dicitur estque homo nisi habeat animam rationalem; ergo, si canon cit. praecipit ut omnes fetus abortive, quovis tempore editi, baptizentur et quidem absolute, si vivant, manifeste supponit, huiusmodi fetus certo anima rationali iam informari.

                [23] Pius XI, Encyclical on Christian Marriage Casti Conubii, sourced from the internet: http://www.vatican.va/holy_father/pius_xi/encyclicals/documents/hf_p-xi_enc_31121930_casti-connubii_en.html, access date July 2, 2008. AAS 13 (1930): 539-91. Art. 64 writes, “As to the ‘medical and therapeutic indication’ to which, using their own words, we have made reference, Venerable Brethren, however much we may pity the mother whose health and even life is gravely imperiled in the performance of the duty allotted to her by nature, nevertheless what could ever be a sufficient reason for excusing in any way the direct murder of the innocent? This is precisely what we are dealing with here. Whether inflicted upon the mother or upon the child, it is against the precept of God and the law of nature: ‘Thou shalt not kill:’ The life of each is equally sacred, and no one has the power, not even the public authority, to destroy it. It is of no use to appeal to the right of taking away life for here it is a question of the innocent, whereas that right has regard only to the guilty; nor is there here question of defense by bloodshed against an unjust aggressor (for who would call an innocent child an unjust aggressor?); again there is not question here of what is called the ‘law of extreme necessity’ which could even extend to the direct killing of the innocent. Upright and skillful doctors strive most praiseworthily to guard and preserve the lives of both mother and child; on the contrary, those show themselves most unworthy of the noble medical profession who encompass the death of one or the other, through a pretense at practicing medicine or through motives of misguided pity.

                [24] Pius XII, Address to Midwives on the Nature of their Profession, sourced from the internet: http://www.papalencyclicals.net/Pius12/P12midwives.htm, access date January 20, 2010. AAS 43 (1951): 835-54. The text writes, “Besides, every human being, even the child in the womb, has the right to life directly from God and not from his parents, not from any society or human authority. Therefore, there is no man, no human authority, no science, no “indication” at all—whether it be medical, eugenic, social, economic, or moral—that may offer or give a valid judicial title for a direct deliberate disposal of an innocent human life, that is, a disposal which aims at its destruction, whether as an end in itself or as a means to achieve the end, perhaps in no way at all illicit. Thus, for example, to save the life of the mother is a very noble act; but the direct killing of the child as a means to such an end is illicit. The direct destruction of so-called “useless lives,” already born or still in the womb, practiced extensively a few years ago, can in no wise be justified. Therefore, when this practice was initiated, the Church expressly declared that it was against the natural law and the divine positive law, and consequently that it was unlawful to kill, even by order of the public authorities, those who were innocent, even if on account of some physical or mental defect, they were useless to the State and a burden upon it. The life of an innocent person is sacrosanct, and any direct attempt or aggression against it is a violation of one of the fundamental laws without which secure human society is impossible. We have no need to teach you in detail the meaning and the gravity, in your profession, of this fundamental law. But never forget this: there rises above every human law and above every “indication” the faultless law of God.”

                [25] John XXIII, Encyclical on Christianity and Social Progress Mater et Magistra, sourced from internet: http://www.vatican.va/holy_father/john_xxiii/encyclicals/documents/hf_j-xxiii_enc_ 15051961_mater_en.html, access date January 20, 2010. AAS 53 (1961): 401-64.

                [26] Paul VI, Address to the Member of New England Obstetrical and Gynecological Society, sourced from internet: http://www.vatican.va/holy_father/paul_vi/speeches/1964/documents/hf_p-vi_spe_19641003_obstetrical-gynecological_en.html, access date January 20, 2010. The text writes, “We are certain that the consciousness of your professional function will illuminate and guide your skillful medical art, and that, in the exercise of your practice, you will always recall the principles of ethics which Christian morals raise to their highest and most exigent expression, particularly when it is a matter of defending the life of each human being. You know that the voice of the Church, acting as interpreter of that Christian law, was heard in the teaching of Our Predecessor, Pope Pius the Twelfth, concerning a fundamental point, when he said: «Innocent human life, no matter in what condition it may be, is from the first instant of its existence, to be secure from every direct voluntary attack. This is a fundamental right of the human person… (and) this principle is valid for the life of the child, just as it is valid for the life of the mother.”

                [27] The document’s employment of the term “from the moment of conception” shows the traces of the influence of the immediate hominization paradigm, although the document does not take this position officially. John Paul II uses this part of document to endorse the seriousness of procured abortion as the deliberate and direct killing of a human being in the initial phase of his or her existence, extending from conception to birth. See EV 58 and its footnote no. 54.

            [28] Congregation for the Doctrine of Faith, Declaration on Procured Abortion, Quaestio de Abortu, art. 12-13, sourced from the internet http://www.vatican.va/roman_curia/congregations /cfaith/documents /rc_con_cfaith_doc_19741118_declaration-                abortion_en.html, access date June 20, 2008. AAS 66 (1974): 730-47.

The document’s footnote no. 19 shows its departure from the question of the moment when the spiritual soul is infused, for the sake that there is not a unanimous tradition on this point and authors are as yet in disagreement. However, the CDF takes into account seriously the significance of fertilization and its consequences, the hallmark of immediate hominization’s biological argument.

                [29] Moore and Persaud, Developing Human (8th ed.), 11.

                [30] Enciclopedia di bioetica e sessuologia (2004), s.v. “Embrione umano,” by Angelo Serra.

                [31] Cf. ibid. See also Michael Mulkay, “The Triumph of the Pre-embryo: Interpretations of the Human               Embryo in Parliamentary Debate over Embryo Research,” Social Studies of Science 24 (1994): 635. In the note Mulkay writes, “The Warnock Committee was composed of seven scientists and/or doctors, three persons from the legal profession, two social workers, one professor of theology, one director of a charitable trust and one head of a health authority. Warnock was a moral philosopher. At least six members of the Committee were women. Expressions of dissent from the main recommendation on embryo research were signed by both social workers, one of the legal representatives, the theologian, the head of the health authority, the general practitioner and one of the scientists.”

                [32] Bernard Häring, Free and Faithful in Christ: Moral Theology for Clergy and Laity, vol. 3, (New York: Crossroad, 1981), 27-32.

                [33] The Latin text writes, “Qui abortum procurat, effectu secuto, in excommunicationem latae sententiae incurrit.” Redazione di Quaderni di Diritto Ecclesiale, Codice di diritto canonico commentato (Milano: Ancora, 2001), 1099. This formulation is not very different from the previous canon on abortion in CIC 1917, can. 2350, §1, which writes, “Procurantes abortum, matre non excepta, incurrunt, effectu secuto, in excommunicationem latae sententiae Ordinario reservatam; et si sint clerici, praeterea deponantur” (Procurers of abortion, the mother non excepted, incur, upon the effect being secured, automatic excommunication reserved to the Ordinary, and if they are clerics, they are also deposed). To understand this canon see its commentary on A. Vermeersch and J. Creusen, Epitome Iuris Canonici cum Commentariis ad Scholas et ad Usum Privatum (Roma: H. Dessain, 1928), 258. In which they explain that in order to end the controversies, the canon text omits all the distinction between animated and inanimated fetus, also between the moment of animation of female and male fetus, and only consider the significance of the conception.

                [34] Thomas J. O’Donnell, Medicine and Christian Morality (New York: Alba House, 1991), 152.

                [35] Ibid., 152-3. O’Donnell continues, “This recent authentic interpretation of the word ‘abortion’ as it is understood in Canon Law obviously brings the various so called ‘contraceptive’ techniques which may prevent the implantation of an embryo, such as the ‘contraceptive pill,’ the intrauterine device, the ‘morning after’ pill, and dilation with curettage to prevent implantation of a suspected conception, within the ambit of the excommunication. While it is true that the inability to know that conception had occurred and implantation had been blocked in a given case, and hence the impossibility of verification that an abortion had actually occurred, would render the excommunication inoperative, nonetheless these are now practices subject to excommunication and the use of them includes the moral guilt of abortion. This is because the use of such practices includes the willingness to cause an abortion, whether or not this occurs in a given instance.”

Compare to Redazione di Diritto, Diritto canonico commentato, 1099-100. In understanding the definition of abortion, the commentary refers to the immediate hominization argument in EV 58. The commentary also provides the authentic interpretation of the code of canon law’s answer the question whether abortion is only dealing with the immature fetus or with the embryo since the moment of conception and the answer is both. The text writes, “D. Utrum abortus, de quo can. 1398, intelligatur tantum de eiectione fetus immaturi, an etiam de eiusdem fetus occisione quocumque modo et quocumque tempore a momento conceptionis procuretur. R. Negative ad primam; affirmative ad secundam.AAS 81 (1989): 1818. Also compare the same commentary made by Pio Vito Pinto, Commento al codice di diritto canonico (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2001), 829-30.

John Beal et al. in their commentary on the same canon observe that the abortion practices today involve procedure killing fetus in womb using methods such as suction, dilation, curettage, prostaglandin drugs RU-486. This makes the authentic Code Commission broadened the understanding of abortion to maximize the protection of the fetus or embryo. “Abortion means not simply the deliberate ejection of an immature fetus, but also any intentional killing of the fetus through whatever means at anytime after conception.” John Beal, James A. Corriden, and Thomas J. Green, eds., New Commentary on the Code of Canon Law (New York: Paulist Press, 2000), 1603.

More precisely, Ángel Marzoa, et al. in their commentary pose a very good question about the applicability of this canon in the case of embryos created outside the womb, such as from IVF. They ask, “Can the destruction of embryos fertilized in vitro be included in the offense of abortion under c. 1398?” It is because the applied definition of abortion is the expulsion of an unviable fetus from mother’s womb, causing death of the fetus; while IVF practice does not involve any expulsion of a fetus from a mother’s womb. For the sake of clarity they propose a new canon to respond to this problem, since according to them the transition from moral to juridical-penal is not automatic, that is why the precise/strict interpretation is needed here. In this sense, an act should be a malice act and the latae sententiae can only be incurred in the case of outstanding and malicious offences. Ángel Marzoa, Jorge Miras, and Rafael Rodríguez-Ocaña, Exegetical Commentary on the Code of Canon Law (Montreal: Wilson & Lafleur, 2004), 556. In this case, Chiappetta observes that killing the early embryo inside the womb is put under the penalty of the canon on abortion, and killing the early embryo outside the womb is put under the penalty of canon 1397 on homicide. See Luigi Chiappetta, Prontuario di diritto canonico e concordatario (Roma: Edizioni Dehoniane, 1994), 7-8.

                [36] Ashley and O’Rourke, Health Care Ethics (4th ed.), 229. Also see Benedict M. Ashley, Jean Deblois and Kevin D. O’Rourke, Health Care Ethics: A Catholic Theological Analysis, 5th ed., (Washington, D.C.: Georgetown University Press, 2006), 73.

[37] AAS 80 (1987): 70-102.

                [38] John Paul II, The Gospel of Life, Evangelium Vitae (Boston: Pauline Books and Media, 1995), 97. AAS 87 (1995): 401-522.

                [39] Pontifical Academy for Life (hereafter: PAL), The Human Embryo in Its Pre-implantation Phase: Scientific Aspects and Bioethical Considerations (Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 2006), 13-14.

                [40] CDF, Instruction on Certain Bioethical Questions, Dignitas Personae. AAS 100 (2008): 858-87. The text writes, “The body of a human being, from the very first stages of its existence, can never be reduced merely to a group of cells. The embryonic human body develops progressively according to a well-defined program with its proper finality, as is apparent in the birth of every baby. It is appropriate to recall the fundamental ethical criterion expressed in the Instruction Donum vitae in order to evaluate all moral questions which relate to procedures involving the human embryo: “Thus the fruit of human generation, from the first moment of its existence, that is to say, from the moment the zygote has formed, demands the unconditional respect that is morally due to the human being in his bodily and spiritual totality. The human being is to be respected and treated as a person from the moment of conception; and therefore from that same moment his rights as a person must be recognized, among which in the first place is the inviolable right of every innocent human being to life” (n. 4).

[41] Randy Alcorn, Prolife Answers to Prochoice Arguments (Oregon: Multnomah Publishers, 2000), 184-95.

                [42] State University, Progesterone: Chemistry, Sources, Levels, Effects, Medical Applications, sourced from the internet: http://encyclopedia.stateuniversity.com/pages/17892/progesterone.html, access date November 29, 2009.

            [43]  Rousel-Uclaf SA, Company Description, sourced from internet, http://www.business.com/directory/pharmaceuticals_and_biotechnology/roussel_uclaf_sa/profile/, access date November 23, 2009. It is a major French manufacturer of healthcare, chemical, animal health, agro-chemical and environmental and related products. Healthcare development programs include anti-biological, cardiovascular systems, immunological and endocrinological research. The company has more than 10,000 patents in force worldwide. Roussel-Uclaf transferred its agro-chemical, hygiene and environmental activities to Hoechst Schering (Germany) in November 1994.

                [44] See Keith L. Moore, T.V.N. Persaud, and Mark G. Torchia, The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, 8th ed. (Philadelphia: Saunders Elsevier, 2008), 7. They clinically define abortion as: “A premature stoppage of development and expulsion of a conceptus from the uterus or expulsion of an embryo or fetus before it is viable – capable of living outside the uterus.” See also the similar definition in Enciclopedia di bioetica e sessuologia, s.v. “Aborto interruzione di gravidanza,” by Giovanni Russo. He defines that RU 486 pill is contragestative. It produces a chemical abortion both in the earlier or later phase.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel lepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s