GEREJA DAN BUDAYA MODERN (Teknolgi Multimedia Sebagai Salah Satu Media Pewartaan Gereja)

  1. PENGANTAR

Salah satu unsur penting dan amat menentukan pola pikir dan tingkah laku manusia pada jaman ini salah satunya adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Perkembangan ini semakin meresapi sendi kehidupan dan termasuk juga kehidupan beragama setiap orang. Zaman ini (zaman modern), manusia dipenuhi dengan budaya kemajuan teknologi di dalam berbagai segi kehidupannya.

Akan amat jarang sekali dijumpai suatu masyarakat, individu yang dalam hidupnya bebas dari kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi ini membawa suatu arus perubahan bagi masyarakat secara luas. Perubahan itu bisa saja baik dan juga buruk (mencakup pola pikir, cara bertindak, gaya hidup, dan memperoleh kemudahan-kemudahan hidup). Bahkan jarak tidak lagi menjadi suatu yang menghalangi. Namun dalam karya tulis ini tidak akan dibahas sisi negativ dari kemajuan teknologi. Karya tulis ini lebih memusatkan perhatian kepada sisi posotiv dan bagaimana Gereja memanfaatkannya sebagai media pewartaannya.

Menyikapi kemajuan ini, Gereja sebagai bagian dari dunia yang terus berkembang ini, tidaklah tepat jika hanya tampil sebagai penonton. Gereja juga haruslah menjadi pelaku dalam kemajuan teknolgi yang ada dan memanfatkannya (dalam pewartaan, memperkenalkan iman Kristiani, dan pengajaran-pengajarannya). kiranya tepatlah pesan Bapa Suci Benediktus-XVI dihari Komunikasi Sedunia  ke-44 tanggal 16 Mei 2010 “Imam dan pelayanan pastoral di dunia digital, media baru demi pelayanan Sabda” Dalam hal ini Gereja harus bijak memilih media teknologi yang tepat untuk mewujudkan hal itu. Berangkat dari itu semua, maka dalam pembahasan karya tulis ini, akan dibahas salah satu media teknologi yang tepat bagi Gereja yaitu teknologi multimedia, juga bagaimana sejauh ini Gereja mencoba masuk ke dalamnya.

Namun sebelum masuk pada pembahasan yang lebih menyeluruh (tentang media teknologi multimedia dalam pewartan Gereja), akan lebih mendalam jika teknologi dipandang dari sudut ilmu filsafat dan bagaimana gereja sendiri memandang teknologi dari sudut pandangnya.

2.  HAKEKAT TEKNOLOGI DALAM SUDUT PANDANG FILSAFAT DAN TEOLOGI GEREJA

A.  Teknologi dipandang dari Sudut Filsafat

Suatu yang sangat cepat, bahwa pada zaman modern ini dunia dipenuhi dengan berbagai kemajuan teknologi. Hidup manusia dipenuhi dengan alat-alat teknologi. Bahkan tanpa adanya alat-alat teknologi orang sering tidak tahu harus berbuat apa-apa dalam pekerjaan dan hidupnya. Kenyataan ini mendapat perhatian dalam dunia filsat dan Gereja. Lalu bagaimana pemikiran dunia filsafat mengerti teknologi? Bagaimana pula Gereja memandang kemajuan teknologi?

Heidegger adalah seorang filsuf yang memikirkan persoalan teknologi secara serius. Ia berusaha menyingkap esensi teknologi agar kita dapat menjalin suatu hubungan yang bebas dengan teknologi. Heidegger mengatakan bahwa esensi teknologi bukanlah berciri teknologis, melainkan esensi teknologi terletak dalam pembingkaian, artinya dalam cara orientasi kita terhadap alam. Penyingkapan baginya merupakan cara penyingkapan yang mendominasi esensi teknologi modern dan pada dirinya sendiri tidak teknologis.[1] Esensi teknologi justru eksistensial karena berkaitan dengan cara manusia memandang dunianya. Maka, definisi teknologi yang antropologis dan instrumental tidak memadai, oleh sebab itu tidak dapat dipertahankan. Defenisi teknologi baginya yang benar adalah defenisi ontologisnya.

 Cara Heidegger memandang alat (instrument teknologi) sungguh menarik. Menurut Zimmermen analisis Heidegger mengenai alat dan dunia alat mempunyai tiga tujuan. Pertama, untuk memberi dasar pemahaman eksistensi manusia sebagai Ada-di-dalam-dunia. Kedua, untuk memnunjukkan kemandahuluan cara berpikir memperalat dan instrumental terhadap Ada entitas-entitas daripada pemikiran yang saintifik-objektif. Ketiga, untuk member dasar bagi terungkapnya ketersingkapan adalah amkna yang menyatukan semua ada entitas berada dalam temporalitas.[2]

Pemahaman tentang alat sebagai sebagai yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan tentang alat ditinjau dari aspek fungsinya merupakan merupakan pemikiran yang manipulative. Penggunaan actual alat itu oleh seseorang menghantar pada pemahaman primordial tentang apa alat itu. Namun jika seseorang hanya tahu untuk apa alat tersebut biasanya digunakan maka ia hanya mempunyai pemahaman yang positif mengenai alat itu. Suatu alat mungkin memiliki beberapa fungsi yang berbeda, tergantung pada penggunaannya. Misalnya, palu dapat digunakan untuk memaku atau untuk meng-ganjal pintu. Penggunaan alat dalam situasi tertentu menentukan apa alat tersebut. Bagi Heidegger alat itu tidak ditentukan oleh substansi yang objektif dari alat itu ataupun dari predikat subjek yang memberi makna pada alat. Alat dalam penggunaannya-lah yang menentukan apa alat itu.

Menurut Heidegger, ada dua hal yang menunjukkan sifat umum dari alat. “Alat memperlihatkan keumuman dan menuruti norma-norma.” Pertama, alat menunjuk­kan keumumannya (generality). Suatu alat adalah alat, terlepas dari siapa yang menggunakannya. Palu, mesin ketik, kendaraan bukan hanya diperuntukkan bagi orang tertentu, melainkan untuk semua orang yang hendak memakainya. Dengan kata lain, penggunaan alat bersifat umum. Kedua, penggunaan alat mensyaratkan cara yang sesuai dan tertentu, yakni satu cara yang biasa atau normal untuk menggunakan alat tersebut. Pulpen, misalnya, sewajarnya dipakai untuk menulis. Pengguna yang normal disebut Heidegger sebagai orang kebanyakan (das Man). Alat dan peranan masyarakat ditentukan oleh norma-norma yang berlaku untuk siapa saja. Cara memahami kursi adalah dengan duduk di atas kursi itu dan bukan dengan berdiri di atasnya atau dengan mengetahui bahwa kursi biasanya dipakai untuk duduk. Orang duduk di atas kursi, itulah cara yang normal. Penggunaan alat yang sesuai ditentukan oleh norma-norma masyarakat.

B.    Teknologi dari Sudut Pandang Gereja

         Gereja memiliki pandangan tersendiri akan kemajuan teknologi (secara khusus teknologi multimedia) dewasa ini. Pesan Bapa Suci Benediktus XI pada Hari Komunikasi sedunia memanggil dan mengingatkan dua kelompok dalam Gereja yaitu para imam dan kaum muda. Melalui tema “Iman dan pelayanan di dunia digital: Media baru demi pelayanan Sabda”, Paus Benediktus XII, 16 Mei 2010 kepada para imam: “Komunikasi digital adalah, adalah suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Menyangkut kita semua di zaman globalisasi seperti sekarang, kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial”. Pada hari komunikasi sedunia 2009 Paus dalam surat gembalanya menyapa anak muda dan menggaris bawahi bahwa kaum muda sangat peka terserap oleh perkembangan teknologi digital, yang berdampak pada perubahan secara mendalam. Paus menyebut kaum muda sebagai: generasi digital.

              Apa arti dari semuanya itu? Gereja sadar bahwa untuk mencapai misinya dalam hal: misi (yang diutus), pewartaan Injil, pembaptisan, pemeliharaan kesejahteraan umat, dan pembentukan komunitas kristiani[3] haruslah melibatkan kemajuan teknologi. Segala sarana yang dapat membantu, mempermudah, dan lebih efisien dalam menjalankan misi itu hendaklah dimanfaatkan. Intinya semua media teknologi hanyalah alat yang mempermudah pewartaan sabda dan penghayatan iman umat. Seperti yang ditekankan oeh Paus, kita dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media komunikasi secara lebih berdaya guna bagi pelayanan Sabda. Gambaran ini kiranya dapat membantu berkenaan dengan perkembangan pemahaman baru Gereja terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi di atas:

“secara singkat relevansi perkem­bangan iptek bagi teologi sebagai penunjang pokok pewartaan dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, berkaitan dengan teologi dogmatik: beberapa pokok bahasan teologis tertentu seperti penciptaan, keabadian, kekuasaan Allah akan mendapat terang baru dalam pertemuan dengan pandangan-pandangan ilmu pengetahuan alam tentang asal-usul alam semesta, pemahaman tentang waktu, ruang dan materi, serta bagaimana ilmu sendiri mempostulatkan suatu kekuasaan ilahi. Dalam berteologi suatu pandangan dunia tertentu tidak bisa tidak terlibat. Pandangan dunia kita akan sangat dipengaruhi oleh kosmologi yang melatarbelakanginya. Berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia-manusia yang menjadi sasaran pewartaan Injil adalah manusia-manusia yang pandangan dunianya dibentuk oleh perkembangan pemahaman dalam ilmu pengetahuan, kiranya pewartaan kita akan bisa lebih menjawab kebutuhan mereka untuk mengerti kalau dunia ilmu penge­tahuan yang membentuk pandangan dunia mereka juga kita ketahui. Tidak jarang terjadi bahwa, seperti terungkap dalam pernyataan Sri Paus yang saya kutip pada permulaan tulisan ini, ilmuwan atau kaum intellektual bukannya terbantu, melainkan justru tersandung untuk beriman kepada Tuhan oleh pewartaan yang naif atau tidak cukup diterangi oleh permasalahan-permasalahan yang dimunculkan oleh perkembangan pemahaman dalam dunia ilmu pengetahuan.”[4]

              Kemajuan teknologi tetap dilihat sebagai sebagai sarana penting bagi Gereja dan bagi manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Bagi Gereja, media teknologi ini selalu dipandang  sebagai alat untuk pewartaan nilai yang lebih tinggi, yang memajukan kualitas hidup manusia dan nilai-nilai moral spiritual yang memajukan dinamika masyarakat secara keseluruhan. Bagi Gereja Kemajuan teknologi komunikasi selalu dipandang sebagai anugerah Allah, sejalan dengan maksud penyelenggaraan Ilahi.[5] Melalui sarana teknologi bersama dengan orang yang berkehendak baik, dan dalam bimbingan Roh Kudus. Paus Benediktus XI telah mempercayakan tanggungjawab ini kepada kaum muda sebagai generasi teknologi, dan para imam sebagai pribadi yang secara khusus memilih jalan untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini.

III.       KEMAJUAN TEKNOLOGI PERCETAKKAN DAN PENGARUH POSITIFNYA

Johannes Gensfleisch Zur Laden zum Gutenberg (sekitar 1398-3 Februari 1468), seorang yang pandai dan gemar membuat sesuatu yang baru. Dia berkebangsaan Jerman yang memperoleh ketenaran berkat sumbangannya bagi teknologi percetakan pada tahun 1450-an, termasuk logam huruf  dan tinta berbasis minyak.[6] Penemuan teknologi mesin cetak oleh Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg  merupakan awal baru,yang baik baik bagi manusia, karena penemuannya ini sangat membantu manusia dalam melakukan pekerjaan.

 Media cetak terus mengalami suatu siklus perkembangan yang berdasarkan inovasi dan teknologi. Sejarah juga mencatat bahwa perkembangan media cetak dimulai dari ditemukannya cara pembuatan kertas di Cina. Selanjutnya Perang Salib antara bangsa Arab dan Eropa akhirnya membawa teknologi ini sampai di Eropa.

Perkembangan selanjutnya adalah di mana Injil mulai di cetak oleh Gutenberg. Perkembangan percetakan kemudian tidak hanya pada kitab suci saja. Pemberitaan tentang suatu kejadian, opini atau pemikiran orang, ilmu-ilmu atau penemuan, semua disebarluaskan melalu media massa dengan bantuan media cetak.

Semua aktivitas itu didasari dari keinginan pasar yang selalu menginginkan perkembangan dan kebaruan. Teknologi percetakan mengikuti keinginan pasar yang selalu ingin mengembangkan informasi tentang baca-membaca yang ada. Peran perkembangan percetakan akhirnya membawa komunikasi massa yang menjangkau masyarakat secara luas. Sehingga informasi tersebut mampu dinikmati dan dibaca oleh semakin banyak orang.

Pada masa lalu semua bentuk media cetak, benar- benar berwujud fisik berupa cetakan menggunakan tinta pada bidang kertas atau obyek tertentu. Perkembangan percetakan dimulai dari yang sangat sederhana seperti yang dilakukan Guttenberg. Sampai sekarang yang mampu mencetak ribuan lembar halaman dengan penggunaan warna yang beragam.

Perkembangan percetakan yang canggih tersebut akhirnya tersaingi oleh pekembangan teknologi yang lebih modern. Yakni era digital, dimana setiap informasi berupa bacaan tak perlu lagi dicetak untuk dinikmati. Cukup dengan membacanya secara online, kita bisa mendapat informasi yang sama. Semua jenis tulisan yang tercetak semunya sudah di digitalkan mulai dari koran, buku, maupun majalah. Hal ini memberi banyak keuntungan. Misalnya berkurangnya biaya produksi, informasi yang lebih aktual dan lebih ramah lingkungan karena dalam pencetakkan memerluan kertas banyak yang notabene didapat dari penebangan pohon. Namun di sisi lain menimbulkan permasalahan misalnya berupa pembajakan.

Konsep komunikasi pada media cetak adalah tersebarnya informasi melalui suatu media dengan cara menyajikan tulisan atau data mengenai hal tertentu, pada hal ini informasi tersebut hanya menyediakan bacaan atau data, dan masyarakat di ajak agar menjadi proaktif mencari tahu sendiri dari data atau tulisan yang sudah disediakan. Para pembaca melakukan pencarian informasi secara mandiri. Sehingga rasa ingin tahu akan sesuatu  membuatnya terus menerus melakukan komunikasi dengan media-media tersebut.

Komunikasi melalui media-media, semakin berkembang dengan pesat semenjak ditunjang adanya teknologi internet. Para pembaca atau konsumen bisa mengakses informasi dengan cepat. Selain itu adanya internet membantu mereka terlibat jauh pada pemberitaan. Maksudnya adalah mereka tidak melulu jadi konsumen, mereka juga bisa menjadi informan berita. Misalnya melalui situs-situs blog. Masyarakat bisa menuliskan apa yang mereka pikiran dan sesuai dengan opini dan pendapat mereka.

Media cetak merupakan bentuk komunikasi yang cukup tradisional, dan sudah ada sejak waktu yang cukup lama. Komunikasi melalui media cetak merupakan bentuk komunikasi dasar selain melalui percakapan langsung sesama manusia. Meskipun pada zaman dahulu belum terdapat mesin cetak yang mampu melipatgandakan seuatu tulisan menjadi beberapa tulisan.

Melalui tulisan-tulisan yang terdapat pada media cetak tersebut setiap orang saling bertukar informasi sehingga menambah pengatahuan baru. Dalam pembentukan opini atau memberikan pengaruh terhadap pemikiran orang lain, media cetak menjadi salah satu tempat yang baik. Selain itu juga ekonomi ikut terkembangkan melalui penyebaran tulisan, misalnya ketika dilakukan pemberian informasi dagang.

Pers sebagai suatu lembaga yang punya peran besar di masyarakat. Mereka melakukan pencerdasan kepada masyarakat tentang suatu hal yang menyangkut kehidupan masyarakat. Mereka memberi pandangan sehingga terjadi pengontrolan terhadap kebijakan dan tindakan dari pemerintah. Pers menjadi pihak ke empat dalam politica, eksekutif, yudikatif dan legislatif.

Melalui budaya baca pada tulisan-tulisan dan media yang lain, terbentuk juga suatu komunikasi massa yang luas. hal ini merupakan salah satu sumber untuk mempengaruhi dan menginformasikan banyak hal kepada orang lain secara cepat. Memang tujuan dari media cetak adalah untuk pemberian atau penyebarluasan informasi secara makro.

Media cetak sudah berkembang sangat populer di Indonesia. Dimulai sejak era kolonial yang ketika itu Orang Belanda membawa mesin cetak bersamaan dengan perkembangan pers yang terjadi di Eropa. Perkembangan pers tersebut turut menular ke tanah jajahan Belanda di Asia yakni Hindia Belanda.

Dari keberadaan mesin cetak tersebut, perkembangan komunikasi melalui tulisan-tulisan semakin pesat. Informasi dagang yang semula dominan, bergeser menjadi informasi mengenai kesadaran berbangsa. Selain itu terbentuk pula jiwa nasionalisme. Pada akhirnya melalui pencerdasan dan penyebarluasan informasi, media menjadi salah satu faktor pendukung Indonesia bisa meraih kemerdekaan.

Perkembangan selanjutnya adalah ketika teknologi digital mulai masuk ke Indonesia. Persis seperti yang terjadi di luar negeri, digitalisasi terhadap media cetak juga terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan media-media pemberitaan online. Buku-buku digital juga sudah banyak dipakai terutama di bangku perkuliahan. Jadi intinya, Indonesia sudah cukup berkembang dalam mengunakan teknologi secara khusus teknologi berbasis multi media.

Perkembangan teknologi multimedia membuka potensi besar dalam perubahan cara belajar, cara memperoleh informasi dan sebagainya. Dengan perkembangan multimedia ini juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sistem supaya menghasilkan hasil yang optimal. Demikian pula dengan bidang-bidang yang lain. Dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah menentukan dengan cara apa dan bagaimana menyerap informasi yang disampaikan secara cepat dan efisien. Sumber informsi dan ilmu yang mereka peroleh tidak lagi hanya terpaku pada buku tetapi lebih luas dan beraneka ragam. Apalagi dengan adanya jaringan internet yang akan membuat kemudahan dalam memperoleh informasi yang diperlukan. Dampak positif perkembangan multimedia dalam berbagai bidang:

v  pendidikan Siswa / mahasiswa menjadi tidak mudah bosan dihadapkan hanya pada buku teks. Suasana pengajaran dan pembelajaran yang interaktif akan menggalakkan komunikasi berbagai hal (pelajar-guru, pelajar-pelajar, pelajar-komputer). Gabungan berbagai media yang memanfaatkan sepenuhnya indra penglihatan dan pendengaran mampu menarik minat belajar. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) Pada bidang Pendidikan, dampak yang muncul ialah kegiatan belajar dan mengajar yang dikenal dengan konsep elearning.

v  Bidang bisnis sejumlah perusahaan memberikan training pada pegawainya dengan materi training berbasis multimedia dalam bentuk simulasi.

v  Dalam bidang entertainment multimedia membuat edukasi menjadi lebih menarik.  Multimedia sebagai pendukung kegiatan entertainment, misalnya: animasi dan laser show yang terintegrasi pada konser music video/music player.

v  Bidang kesehatan, kini telah terdapat alat-alat medis kedokteran serba canggih untuk megetahui atau mendeteksi keadaan tubuh dalam manusia.Seperti USG,Rontgen, Tensi darah, alat citiscan, HD, dll.

v  Bidang politik, dalam melakukan aksi kampanye pada jaman sebelum multimedia belum terlalu berkembang masih menggunakan lisan atau tulisan di selembaran atau sticker atau baleho. Kini setelah multimedia berkembang sangat baik, aksi kampanye telah menyebar ke dunia maya.

Teknologi informasi dan komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi, informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan, dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Makin canggih dukungan teknologi tersebut, makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Maka dibutuhkan peran gereja di dalamnya.

IV.     KEMAJUAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEWARTAAN IMAN GEREJA

Konsili Vatikan II menerbitkan dokumen Inter Mirifica, dokumen ini menyerukan  memanfaatkan sarana komunikasi modern untuk karya pewartaan dan penggembalaan Gereja. Ensiklik Communio et Progressio, art. 128, Paus Paulus VI menegaskan bahwa media modern menawarkan cara-cara baru untuk menghadapkan manusia dengan pesan Injil. Ensiklik Evangelii Nuntiandi, art. 45 “Gereja akan merasa bersalah di hadapan Kristus bila gagal menggunakan media untuk evangelisasi.” Ensiklik Redemptoris Missio, art. 37 beliau menyebut media sebagai aeropogus pertama di zaman modern. Maka “Gereja belumlah cukup untuk menggunakan media sekedar untuk menyebarkan pesan Injil dan ajaran otentik Gereja. Namun juga perlu mengintegrasikan pesan Injil ke dalam kebudayaan baru yang diciptakan oleh komunikasi modern.”

Dari beberapa data di atas jelas bahwa Gereja tidak hanya menjadi penonton dalam memanfaatkan kemajuan teknologi multimedia. maka pastoral media pertama-tama dilakukan dengan menyelenggarakan pendidikan media, khususnya bagi kaum muda. Apa saja materi yang perlu disajikan dalam pendidikan media? Dokumen The Church and Internet menyebut: “Lebih dari sekedar pengajaran tentang teknik-teknik, pendidikan media membantu orang membentuk standard rasa baik dan penilaian moral dengan benar, sebuah aspek akan kesadaran formasi. Sementara Communio etProgressio art.107 menggarisbawahi pendidikan media bagi kaum muda, “Kaum muda secara khusus perlu diajar ‘ tidak hanya menjadi orang Kristiani yang baik saat mereka menjadi penerima tetapi juga aktif dalam menggunakan semua alat komunikasi dalam media, sedemikian sehingga kaum muda akan sungguh menjadi warga dari era komunikasi sosial yang baru dimulai.”  Selain itu juga perlu diperhatikan perlunya pembinaan umat sadar media digital. Umat harus dididik untuk memilih dan memilah dalam menggunakan kekuatan teknologi digital secara tepat guna. Karakter khas orang di zaman digital adalah multitask ( bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan) namun ingatannya pendek. Maka, orang-orang zaman sekarang memerlukan pertolongan untuk tetap sampai pada kemendalaman.

Di tengah era digital, disadari ada banyaknya informasi yang terbuka. Maka orang perlu dibantu agar bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak, termasuk juga dalam hal iman. Dengan demikian, selain diajar soal teknik, mereka juga perlu diajar bagaimana memfungsikan dengan baik dunia multimedia membuat pembedaan dan penilaian berdasarkan kriteria moral atas apa yang mereka dapat di sana, serta menggunakan teknologi baru untuk perkembangan mereka secara integral dan bagi keuntungan Gereja.

Berangkat dari itu semua, dalam memanfaatkan dunia teknologi multimedia perlu juga dipikirkan aneka peluang perlu dilakukan. Dalam hal ini peluang-peluang yang saat ini telah diterapkan dan perlu diperdalam oleh Gereja adalah:[7]

v  sebenarnya multimedia mencakup semua sarana komunikasi modern yang memanfaatkan kekuatan suara dan gambar, termasuk televisi dan film. Misalnya saat ini telah beredar film-film orang kudus, homily-homili para room yang di filimkan, dll.

v  Melengkapi sarana katekese audiovisual, dengan membuat video, program animasi komputer, powerpoint yang bisa disebarkan melalui milis-milis ataupun didownload di internet, dan penyaj ian aneka informasi iman katolik di website. Perlunya pusat data untuk katekese yang mudah diakses untuk umat ini sangat dibutuhkan dewasa ini.

v   Membuat milis atau forum diskusi iman, dimana materi tidak hanya mencakup informasi kegiatan gereja, atau untuk menambah wawasan iman, tetapi juga memotivasi sharing pengalaman iman dan saling mendukung dalam doa.

v   Membuat suatu “facebook bersama” atau situs rohani yang lumayan komplet untuk menyediakan aneka layanan konsultasi kebutuhan manusia seutuhnya (bdk. Yoh 10:10), mulai dari konsultsi psikologi, kesehatan, belajar, karir dan ekonomi, dsb. tentunya di situ disediakan juga ruang pengenalan dan pendalaman iman Katolik, sehingga sesewaktu para pengunjung bisa mengklik dan membacanya.

v  Membuat situs yang menampilkan kekuatan ajaran iman Katolik dalam mengkaji persoalan keseharian dan di tengah masyarakat, sekaligus juga bisa ditampilkan titik temu iman katolik dengan aneka budaya masyarakat Indonesia dewasa ini. Situs rohani demikian akan menjadi pintu dialog dan sekaligus menawarkan pencerahan bagi mereka yang tengah mencari SangKebenaran.

v   Pribadi-pribadi pun bisa membuat web, blog, facebook atau twitter dimana dengan leluasa kita bisa mensharingkan pengalaman iman kita, yakni mensharingkan pengalaman keseharian dalam terang ajaran iman dan bagaimana kita menemukan dan mengalami kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sharing iman demikian niscaya akan jauh menarik dan menyentuh hati pembaca. Tentu dalam aneka situs pribadi ini kita juga bisa menampilkan sisi iman katolik atau mentautkannya dengan situs-situs rohani yang banyak menyajikan ajaran iman Katolik.

v   Ambil bagian dalam milis-milis umum, dengan berupaya ikut membentuk opini publik dan menjadi garam dan terang di sana. Beberapa orang juga mencantumkan teks Alkitab di akhir postingan dalam milis-milis.

Hal-hal di atas ini menjadi penting karena kemajuan teknologi informasi dan komputer telah merambah ke berbagai unsur masyarakat. Teknologi telah menjadi bagian dalam hidup sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat pada dekade terakhir ini. Berkat kemajuan teknologi, anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan dunia komputer daripada dengan alam sekitar. Lebih mengenal teman yang berada di seberang lautan daripada dengan tetangga sebelah.

            Belajar dari cara Yesus dalam mewartakan Kabar Gembira, yang selalu memanfaatkan apa yang aktual dan faktual pada saat itu sebagai media pewartaanNya, maka kita bisa memanfaatkan apa yang ada pada dunia anak zaman sekarang untuk dijadikan sebagai media dalam menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai Injil. Memanfaatkan teknologi informasi dan komputer untuk menjadi salah satu media dalam menyampaikan materi pembelajaran Agama Katolik.

 Gereja telah membuka peluang dan memberikan anjuran kepada para pewarta Kabar Gembira agar pengajaran kateketis dapat menggunakan segala sarana, daya upaya didaktik dan alat-alat komunikasi sosial yang dipandang efisien, agar kaum beriman mengingat sifat, kemampuan, umur dan keadaan hidupnya, dapat mempelajari ajaran Katolik dengan lebih lengkap dan dapat mempraktekkannya dengan lebih tepat (Lih. KHK Kan.779).

Namun perlu diingat, bahwa multimedia dalam pembelajaran agama Katolik hanyalah sebagai salah satu alternatif, bukan juga sebagai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sebab banyak unsur positif yang terkandung di dalamnya tetapi juga ada berbagai faktor negatif yang mengiringinya. Maka dari itu kemampuan dan keterampilan guru dalam menciptakan dan memanfaatkan multimedia menjadi tuntutan yang sangat urgen. Akan tetapi perlu diingat juga bahwa pembelajaran dengan multimedia jauh lebih baik daripada pembelajaran tanpa media apa pun.

V.       PENUTUP

Gereja Katolik bersikap amat positif terhadap kemajuan pesat atas sarana-sarana komunikasi sosial, termasuk internet. Sikap itu selalu diungkapkan dalam acuan yang konsisten terhadap jati diri dan perutusan gereja sendiri bagi seluruh umat manusia di tengah dunia modern ini, khususnya setelah Konsili Vatikan II (1926-1965). Kendati tampak narsisistik, namun untuk zaman sekarang bergaul di internet itu amat diperlukan. Ini merupakan langkah gereja yang konkret dalam merefleksikan misterinya dalam terang wahyu ilahi dalam konteks zaman modern.

Menarik sekali untuk disimak bahwa jati diri gereja tidak lagi dilihat sebagai suatu organisasi kelembagaan melulu, melainkan sebagai persekutuan yakni cara berelasi yang ditandai oleh saling berbagi kehidupan dan komunikasi. Dalam konteks pewartaan Injil, semua media bisa dipergunakan oleh gereja pada suatau kedalaman yang melibatkan suara hati dan moralitas. Semua ini dalam semangat kekaguman dan syukur atas kemurahan yang telah dianugerahkan Allah Pencipta kepada makhluk manusia untuk bisa menemukan sarana-sarana itu

Di awal abad ke-21 ini teknologi multimedia telah menunjukkan peran pentingnya dalam berbagai hal. Sebagai alat komunikasi tercanggih yang ada di bumi saat ini, teknologi multimedia sudah digunakan lebih dari 120 juta orang. Lewat Internet, beragam organisasi – profit maupun non profit  dan para anggotanya dapat saling berkomunikasi dan mengakses informasi tak peduli dimana pun mereka tengah berada, di belahan dunia manapun. Oleh sebab itu sudah selayaknya gereja ikut memanfaatkan peran perkembangan dan kemajuan teknologi ini dalam mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat.

Melalui teknologi multimedia gereja bahkan bisa memperbesar perannya sebagai penerang, penghibur, penenang, dan (jika memungkinkan) penolong bagi siapa saja yang membutuhkan. Terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang, yang bukan hanya terasa sulit bagi umat Kristiani tetapi juga bagi umat beragama lainnya di berbagai tempat di Indonesia.

Tantangan jaman agaknya membuat nilai-nilai yang dikemukakan gereja Katolik makin tenggelam oleh kekuasaan kepentingan bisnis dan materil. Sementara media umum makin mengedepankan pertimbangan bisnis, media Kristiani tidak bisa senyaring yang diharapkan karena memiliki berbagai keterbatasan. Penting disadari bahwa gereja tidak boleh diam di tempat, tetapi terus bergerak mengikuti pergeseran-pergeseran yang terjadi di masyarakat. Pergeseran-pergeseran itu telah terjadi dari yang semula merupakan kebudayaan lisan ke kebudayaan cetak dan lalu ke kebudayaan elektronik dan cyberspace.

Apapun alasannya gereja berkepentingan untuk selalu memperdengarkan suaranya, mewartakan dan menawarkan nilai-nilai Kristiani kepada dunia. Bisnis gereja itu adalah bisnis pewartaan. Dan sarana ampuh yang diharapkan dapat berperan sangat efektif pada masa-masa mendatang adalah pewartaan melalui dunia maya, pewartaan multi media melalui cyber space yang pada saatnya nanti akan menjadi suatu wabah yang tak terhindarkan.

Memang tidak ada kata terlambat, tapi mengapa gereja harus membiarkan diri tertinggal kalau sebenarnya semuanya bisa dimulai dari sekarang. Lagipula, mengapa gereja harus membiarkan diri terisolir jika dengan pewartaannya melalui multimedia umat dapat memetik buah interaksi langsung dengan gembalanya. Rasa terisolir ini terutama dirasakan oleh umat kita yang berada di keuskupan terpencil semacam Sorong atau Flores. Berangkat dari itu maka tepatlah gagasan bahwa gereja sepatutnya turut ambil bagian dalam kemajuan teknologi multimedia di zaman modern ini dalam pewartaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Iman Dan Pewartaan Di Era Multimedia, dalam seri Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang,2010.

Lim Francis: Filsafat Teknologi,Yogyakarta: Kanisiua,2008.

Zaman Teknologi Menantang Pewartaan Iman, dalam Orientasi Baru Pustaka Filsafat dan Teologi, no3, Yogyakarta, Kanisius, 1989

http://perkembanganteknologididuniamodern.blogspot.com/2012/01/pencipta-teknologi-cetak-pertama.html,


[1] Heidegger, The question Concerning Technology, 20.

[2] Bdk, Zimmerman, Heidegger’s Confrontation with Modernity, 137.

[3] Seri Filsafat Teologi Widya Sasana: Iman dan Pewartaan di Era Multimedia, 126

[4] Pustaka Filsafat dan Teologi: Zaman Teknologi Menantang Pewartaan iman, 21

[5] Ibid., hal 125.

[7] Ibid.,hal 219.

Tinggalkan komentar

Filed under Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s