‘‘Manusia’’ Adalah ‘‘Manusia’’ Sekaligus Juga ‘‘Bukan Manusia’’ ( ‘aku’ adalah ‘aku’ sekaligus juga ‘bukan aku’)

Berangkat dari kesadaran bahwa hidupku adalah keseluruhan dari kesadaranku. Ketika ‘aku’ menjadi sebuah kesadaran, yang ada adalah hamparan kebenaran, keindahan dari segala konsep, dan realitas tentang keseluruhanku. Bahwa aku adalah makhluk  yang berakal budi. Ketika berakal budi, aku mengejar kebenaran, memeluk keindahan, menghendaki kebaikan. Ketika mengejar kebenaran, aku menenggelamkan diri dalam pencarian dan penelitian ilmu pengetahuan. Ketika memeluk keindahan, aku membuka diri seluas-luasnya akan nilai-nilai yang mengatasi pertimbanganku. Ketika menghendaki kebaikan, aku bergumul dalam aktivitas terus-menerus untuk sesama dan diri sendiri. Dengan demikian, hidupku adalah keseluruhan dari kesadaranku. Atau, manusia adalah keseluruhan dari kemanusiaannya.

Lalu, apa yang merupakan yang ‘bukan manusia’ dalam dirinya? Yaitu adalah apa saja yang bukan merupakan keseluruhan dari kemanusiaannya. Misalnya, tubuh, fisik, kemulusan, atau kecantikan wajah, keindahan kaki atau tangan atau bagian tubuh yang lain. Dalam diriku sendiri, tanganku bukanlah aku. Juga dalam diriku sendiri, wajahku bukanlah aku.
Tetapi, toh wajah ini milikku dan tangan ini juga tanganku? Yah.. benar.. wajah ini adalah wajahku, ketika wajah itu menjadi bagian dari keseluruhan kehadiranku. Artinya, andai ada patung wajah yang terbuat dari lilin, mirip sekali dengan wajahku, patung wajah itu pasti bukan wajahku. Alasannya, karena patung wajah yang mirip sekali dengan wajahku itu, tidak menjadi bagian dari kehadiranku. Andaikan kepalaku dipotong dan dibuang di pinggir jalanan, kepala (tentu juga wajahku) akan diambil, dikubur, (mungkin juga) dihormati oleh orang-orang yang menemukan, hanya karena memandang bahwa wajah itu menunjuk kepada wajah manusia, wajahku.
Dengan kata lain, bagian per bagian dari tubuh manusia dalam dirinya sendiri bukanrepresentasi ‘manusia’ itu. Bagian tubuh hanya akan merepresentasikan manusia jika itu dipandang secara keseluruhan. Dengan demikian, yang ‘bukan manusia’ dalam diri manusia adalah itu yang merupakan bagian per bagian dari kehadiran manusia secara terpisah-pisah.

****
Karena yang ‘bukan aku’ adalah keterpisahan satu sama lain, ‘aku’ berarti mengatakan kebersatuan, keterpaduan, kekompakan, keutuhan, keseluruhan kemanusiaanku. Manusia itu satu, utuh, karena ‘aku’-nya satu dan utuh. Jika ada orang yang meyakini bisa membagi dan memisah-misahkan ekemen manusia, itu pasti bukan ‘aku’-nya. Tangan kita bisa dipotong dan dipisahkan dari tubuh yang lain. Demikian juga dengan elemen fisik yang lain. Tetapi, ‘aku’ manusia tidak mungkin dan tidak bisa dipisah-pisahkan dalam cara apa pun.

****
Karena tidak bisa dipisah-pisahkan (indivisibilis), ‘aku’ itulah yang dimaksudkan dengan manusia. Manusia bukanlah sekedar badan dan jiwa (walaupun dari kebenaran itu sudah dideklerasikan oleh para filosof Yunani dan diyakini kebenarannya sampai sekarang). Manusia adalah ‘aku’. Manusia adalah keseluruhan dirinya. Dengan demikian, aku adalah keseluruhan diriku.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s