SALIB TANDA CINTA DAN KESETIAAN

Oleh : Sr. Maria Rafaella, P.Karm

Pengantar

Sebagai seorang kristen, mendengar kata ‘salib’ membuat kita teringat kepada peristiwa 2000 tahun yang lampau saat seorang Anak Manusia menyerahkan diri-Nya untuk wafat di atas sebuah kayu salib. Kata ‘salib’ mengingatkan kita akan perjalanan panjang dan melelahkan yang dilalui Yesus dengan penuh kerelaan menuju ke puncak Bukit Golgota. Kata ‘salib’ juga akan mengingatkan kita akan perkataan Yesus sendiri kepada para murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” (Mat. 16 : 24)

Salib, apa yang ada di balik sebuah kata ini? Saat Yesus mengatakan kita harus memikul salib untuk mengikuti Dia, apa yang dimaksudkan-Nya? Salib seperti apakah yang harus kita pikul setiap hari itu? Salib mempunyai makna lebih dari sekadar sebuah kayu, karena dengan salib ini kita akan dibawa kepada kebangkitan dan kehidupan kekal seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Salib adalah Cinta

Seorang kudus Karmel, Santa Theresia Benedikta dari Salib, atau yang lebih dikenal dengan nama Edith Stein begitu dekat dengan salib ini. Edith Stein yang lahir dari keluarga Yahudi di Jerman mengalami begitu banyak penderitaan akibat penindasan yang dilakukan Nazi terhadap kaum Yahudi. Perjumpaan dengan orang-orang kristen semakin membuat ia mengenal Kristus dan misteri pengurbanan-Nya di kayu salib. Suatu ketika ia membaca buku riwayat hidup St. Teresa Avila dan merasa sangat tersentuh karena menemukan suatu kebenaran. Segera setelah itu Edith pun memberikan dirinya dibaptis dan menjadi milik Kristus. Pada umur 42 tahun, ia masuk Karmel, biara yang dicita-citakannya, ketika ia membaca riwayat hidup St. Teresa Avila. Ia memilih nama biara Teresa Benedikta dari Salib. Melihat namanya, maka tak heran bahwa hidupnya pun diwarnai oleh salib dan penderitaan, sampai pada akhirnya ia meninggal sebagai seorang martir dalam kamp penyiksaan dengan cara dimasukkan ke dalam kamar gas beracun. Edith Stein begitu mencintai salib, dan baginya salib itulah wujud dari cinta itu sendiri.

Bagi Edith Stein salib berarti jauh lebih banyak daripada memikul penderitaan dan menanggung beban dalam hidup. Baginya salib berarti kesetiaan dalam iman, harapan, dan cinta. Di sinilah letak nilai yang begitu luhur dari sebuah salib. Salib tak lain adalah cinta. Seperti Yesus sendiri telah menunjukkan cinta-Nya kepada kita dengan tak bersyarat, Ia menjadi manusia karena solider dengan kita. Yesus tak memandang dan menganggap manusia sebagai hamba yang tak berguna, namun Ia telah mengangkat kita menjadi saudara dan sahabat-Nya. Oleh karena itu Yesus pun berkata kepada para murid-Nya dalam perjamuan terakhir, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15 : 13) Karena kasih dan cinta yang besar itulah Yesus pun mau memberikan nyawa-Nya sebagai ganti dosa-dosa kita. Ia menyerahkan diri pada salib sebagai perwujudan cinta-Nya yang tak bersyarat. Yesus tak meminta manusia untuk memberikan imbalan atas apa yang diperbuat-Nya, atas semua pengurbanan yang telah diberikan-Nya. Namun Yesus telah memberikan suatu teladan cinta yang luar biasa dengan penyerahan diri secara total pada kehendak Bapa yang tak lain adalah ‘salib’ itu.

Edith Stein yang begitu tersentuh dengan cinta Tuhan ini menyadari bahwa dirinya pun harus bisa mengikuti teladan Dia yang telah lebih dahulu mencintainya itu. Dalam kehidupannya Edith Stein dengan begitu banyak cara menerapkan teladan cinta yang tak bersyarat ini dan menyatakan solidaritasnya kepada sesama manusia. Saat perang dunia terjadi, ia dengan sukarela dan didorong oleh cinta yang besar kepada Tuhan dan sesama membantu menjadi seorang perawat bagi para korban. Edith Stein juga mewujudkan tindakan cintanya ini saat hidup dalam lingkungan Karmel dengan para suster yang lain, mewarnai hidupnya dengan doa dan tulisannya. Dia menyadari bahwa sebagai pengikut Kristus, ia harus melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh-Nya dahulu.

Kita pun di masa sekarang ini juga dapat mewujudkan cinta yang tak bersyarat sebagai wujud bahwa kita pun mau mengikuti Dia. Mengasihi sesama yang ada di dekat kita tanpa mengharapkan balasan, terlebih jika kita mampu mengasihi mereka yang menyakiti kita tanpa ada keinginan untuk balas dendam, itulah wujud dari cinta tak bersyarat ini. Menerima setiap beban dan penderitaan yang ada dalam kehidupan kita dengan hati rela dan penuh syukur, tanpa mengeluh dan memberontak juga merupakan wujud dari kesediaan kita memikul salib sebagai tanda cinta kepada Kristus.

Cinta penuh penyerahan diri

Dalam hidup Edith Stein, ia menyadari bahwa salib telah memberikan kepadanya pengertian tentang penyerahan diri kepada Tuhan , pengertian akan kekuatan doa yang penuh dengan sikap penyerahan ini. Edith Stein percaya bahwa hidupnya yang penuh dengan penyerahan diri kepada Tuhan serta solidaritas dalam doa memberikan kekuatan kepadanya dalam segala sesuatu yang dialaminya. Cinta penuh penyerahan diri ini membuat dirinya tak gentar sedikitpun saat penderitaan demi penderitaan harus ditanggungnya. Saat salib itu datang, Edith Stein melihatnya sebagai suatu kesempatan yang sangat baik untuk menyatakan rasa cinta dan penyerahan dirinya kepada Tuhan.

Kematian Edith Stein yang seakan-akan tidak bermakna apa-apa sebenarnya justru mengandung suatu kemenangan yang datang dari pemikiran tentang lambang salib Kristus. Kemartirannya datang dari pemikiran bahwa dia sepenuhnya adalah seorang pribadi yang di mata Tuhan dicintai dan dihargai. Pengorbanan dan kematiannya melambangkan adanya suatu keterlibatan akan cintakasih yang mendalam kepada Tuhan dan sesama. Penyerahan dirinya yang dipenuhi oleh cinta ini telah membuatnya menjadi seorang yang sangat berkenan kepada Tuhan.

Salib sebagai suatu wujud kesetiaan

Kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa begitu nyata terlihat saat Ia berada dalam kegelapan Getsemani. Sebagai seorang manusia Yesus juga mengalami ketakutan dan kecemasan akan sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Bahkan Ia pun sempat berkata kepada murid-Nya, “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati saja rasanya…” (Mrk. 14 : 34). Namun dalam doa-Nya kepada Bapa, terlihat begitu jelas akan kesetiaan-Nya itu. “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk. 14 : 36)

Yesus begitu setia kepada kehendak Bapa, Ia tak mau semua terjadi menurut kehendak-Nya sendiri, melainkan menurut kehendak Bapa. Karena kesetiaan-Nya itu maka Yesus pun menyerahkan diri kepada salib dan penderitaan. Tanpa berpikir lagi Ia memberikan diri-Nya tanpa syarat di atas kayu salib. Kesetiaan Yesus inilah yang juga menjadi suatu kekuatan pada diri Edith Stein untuk menyerahkan dirinya pada salib. Edith Stein telah menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan seperti yang telah dilakukan Yesus sendiri. Edith tetap setia pada panggilan Tuhan, juga ketika ia dipisahkan dari keluarganya dalam kesedihan, dan akhirnya ia harus terbunuh dengan cara yang hina pula. Dia telah mengosongkan diri dan menyerahkan diri kepada Tuhan dalam kemenangan salib. Sampai akhir hidupnya Edith tetap bebas dan kuat, suatu hal yang hanya dapat dicapainya dengan kesetiaan kepada Tuhan dan Salib. Seperti Kristus yang menang atas dosa dan maut, Edith pun telah memenangkan pertempuran melawan kejahatan yang terjadi saat itu. Dengan kemartirannya ia tidak ditaklukkan oleh kejahatan, namun sebaliknya ia menang atas kejahatan itu.

Sebagai seorang kristen, kita pun ditantang untuk dapat menunjukkan kesetiaan itu. Apakah kita masih tetap mau mengikuti Dia jika mulai banyak penderitaan dan masalah-masalah datang dalam kehidupan kita. Bisakah kita mengucapkan doa seperti yang diungkapkan oleh Yesus di Taman Getsemani itu?

Bagi Edith Stein salib ini juga berarti adanya harapan sebagai lawan dari keputusasaan. Dia mempertahankan agar harapan dan imannya kepada Tuhan akan menghasilkan kebaikan yang menang atas kejahatan. Dia percaya bahwa meskipun ada begitu banyak tragedi kekejaman dan kejahatan pada masa itu, penderitaan yang dialami oleh begitu banyak orang akibat kekerasan Nazi, namun Tuhan akan memberikan suatu perdamaian.

Paus Yohanes Paulus pernah berkata mengenai kebesaran Edith Stein ini, “Dia melihat pendekatan yang jelas kepada salib. Dia tidak melarikan diri karena ketakutan, namun dia justru mendekati salib dalam harapan kristen, dengan cinta dan pengorbanan, serta dalam misteri Paska dia juga menyambut salib dengan salam ‘Ave crux, spes unica’ (salam oh salib, satu-satunya harapan kita).” Di sinilah terlihat dengan jelas betapa Edith Stein begitu memahami arti salib dengan begitu mendalam. Dia menyadari di dalam salib itulah terdapat harapan kita, yaitu Kristus sendiri. Dengan kesadaran itulah ia tak pernah merasa ragu lagi untuk datang mendekat kepada salib dan menyerahkan diri seutuhnya pada salib itu.

Harapan harus selalu ada dalam hidup kita. Jika kita tak mempunyai harapan, maka hidup kita akan menjadi sa-sia. Dengan menyerahkan diri secara bebas kepada setiap salib yang ada dalam kehidupan kita, telah menunjukkan juga bahwa kita percaya akan adanya suatu pengharapan, bahwa di balik penderitaan dan salib yang harus kita pikul, ada suatu kebahagiaan yang akan kita raih.

Pengetahuan Salib

“Kreuzeswissenschaft”, yang artinya “Pengetahuan Salib” merupakan karyanya yang terakhir sebagai seorang teolog dan mistikus Karmel. Melalui karyanya ini ia mencoba merefleksikan tulisan-tulisan St. Yohanes Salib. Namun lebih daripada itu, karyanya ini merupakan suatu kesaksian pribadi tentang jalan salib yang dialaminya sendiri. Buku ini ditulisnya sebagai kesaksian pribadi pada puncak kesulitan dalam hidupnya, dan hal ini akan mendapat kepenuhan juga dalam hidupnya.

Jika St. Yohanes Salib seolah-olah lebih memandang akibat dari salib bagi masing-masing individu, yaitu proses pemurnian yang harus dilalui sebelum dipersatukan sepenuhnya dengan Tuhan dalam cintakasih, dan secara mengagumkan dituliskan dalam karyanya “Malam Gelap”, maka sebaliknya Edith Stein mengarahkan pandangannya secara langsung kepada Salib Kristus dan arti penyelamatannya untuk seluruh Gereja. Walaupun ada perbedaan pandangan namun ini sama sekali tidak mengakibatkan perbedaan yang berarti. Dengan cara yang berbeda keduanya telah menunjukkan betapa salib pada akhirnya akan membawa kita kepada kemenangan dalam Kristus.

Edith Stein dan juga Yohanes Salib memahami bahwa buah salib adalah satu dan sama, yaitu kebangkitan, persatuan dengan Allah, dan pengilahian. Dengan kebangkitan-Nya Kristus telah membebaskan jalan bagi kita mempelai-Nya untuk menuju kepada Bapa. Mempelai ini adalah setiap anggota Gereja.

Jalan salib yang telah dilalui oleh Yesus telah membuahkan kebangkitan dan kemuliaan. Yesus berjaya dan menang atas kuasa dosa dan maut. Dalam kehidupan ini jika kita juga mau menapaki jalan salib itu, maka pada akhirnya nanti kita pun akan menikmati kemuliaan dan sukacita bersatu dengan Tuhan. Jalan salib bukanlah untuk dihindari, namun jalan salib ini adalah sebuah jalan yang harus kita lalui untuk sampai kepada kebangkitan dan kehidupan kekal itu.

Maka bersama dengan Edith Stein yang telah terlebih dahulu menikmati kebahagiaan itu, dalam masa yang penuh rahmat ini kita berusaha untuk tidak menghindari salib namun mau mendekati salib dan menyatu dengan salib itu.

Sharing :

  • Bagaimana selama ini pandangan Anda tentang salib? Bagaimana pula Anda menerima dan mengalami salib-salib dalam kehidupan selama ini? Apa yang Anda rasakan saat harus memikul salib itu? Sudahkah Anda merasakan buah dari salib yang harus Anda pikul tersebut? Sharingkanlah pendapat dan pengalaman Anda dalam sel
  • Penyerahan diri secara total seperti apakah yang pernah Anda lakukan dalam kehidupan Anda? Bagaimana pengalaman Anda sat ditantang untuk dapat menyerahkan diri secara total itu? Kesulitan-kesulitan apa yang pernah Anda rasakan dalam penyerahan diri itu? Sharingkanlah dengan teman dalam sel

 

Sumber: http://web.holytrinitycarmel.com/causes/salib-tanda-cinta/, di akses Kamis, 13 Maret 2014, Pukul 07.00

Tinggalkan komentar

Filed under Orang Kudus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s