KRISTOLOGI GEREJA PERDANA  

  1. Kebangkitan Yesus

Kebangkitan adalah sebuah peristiwa yang menyelamatkan. Kehidupan Yesus menjadi lengkap ketika Dia menerima hidupNya secara penuh sebagai Anak Allah dan Anak Manusia dalam kebangkitanNya. Dia adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati (Kol 1:18). Dia diserahkan kepada kematian dan dibangkitkan demi pembenaran kita (Rom 4:25). Partisipasi kita dalam hidup Yesus merupakan syarat untuk dibangkitkan juga bersama Dia (Rm 6:3-11).  Ada dalam Kristus berarti hidup sebagai ciptaan baru (2 Kor 5:17).

Kebangkitan adalah prinsip dari keberadaan kita yang baru. Allah Bapa yang telah membangkitan Yesus dengan kuasaNya akan membangkitkan kita juga (2 Kor 4:14). Mereka yang mati bersama Kristus akan hidup bersama Kristus (2 Tim 2:11). Yesus menjadi sumber kebangkitan. Akulah kebangkitan dan hidup. Iman kepada Yesus merupakan dasar untuk hidup baru dan mengalami kebangkitan (Yoh 11:25-26; 6:39-44; 54). Paulus bahkan menyatakan bahwa kebangkitan Kristus menjadi dasar iman dan pengharapan bagi baik yang hidup maupun orang yang telah meninggal dunia. Dalam  1 Kor 15:17-19 Paulus mengatakan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Dan jika hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”

  1. Apakah kebangkitan sungguh-sungguh terjadi?

Yang kita tahu adalah bahwa ada sesuatu yang terjadi setelah kematian Yesus. Makam ditemukan kosong pada pagi-pagi hari Paskah. Banyak orang mengklaim bahwa mereka telah melihat Yesus yang bangkit dan hidup mereka diubah oleh kebangkitan Yesus. Pada awalnya, pengikut-pengikut Yesus sangat yakin bahwa sesungguhnya Yesus telah dibangkitkan, walaupun ada murid  juga yang tidak berpikir bahwa Yesus akan bangkit dari kubur. Percakapan dua murid ke Emaus menunjukkan kenyataan bahwa para murid sendiri terkejut mendengar berita dari perempuan yang menyampaikan bahwa Yesus bangkit dari kubur (Luk 24:13-35)

Masalahnya khususnya bagi orang modern yaitu bahwa tak seorang pun yang sungguh menyaksikan peristiwa kebangkitan itu. Tidak ada saksi mata tentang peristiwa itu. Pertanyaannya adalah: Apakah kebangkitan adalah sesuatu peristiwa historis? Jawaban “ya” jika peristiwa kebangkitan dilihat dari efek yang diakibatkan atau yang dialami oleh para murid yang menyaksikan Yesus yang bangkit. Jawaban “bukan peristiwa historis” kalau yang dimaksudkan dengan kata “historis”  dalam konteks pemahaman sejarah modern. Salah satu kriteria sebuah peristiwa disebut historis kalau ada saksi-saksi yang melihat dan memberikan laporan atas kebangkitan itu. Pertanyaan lanjut yang biasa diajukan: Apakah dengan demikian, karena tidak ada saksi, maka disimpulkan  kebangkitan itu  tidak historis,  artinya kebangkitan itu tidak terjadi dalam sejarah manusia?

Kebangkitan adalah peristiwa  real yang terjadi dalam sejarah manusia, pada waktu dan tempat tertentu. Yesus sendiri adalah pribadi yang historis yang wafat, mati dan bangkit dalam waktu dan  menampakkan diri kepada murid-murid  yang hidup, berada dalam ruang dan waktu. Para murid mengalami Yesus yang bangkit bukan di luar waktu, melainkan dalam waktu atau sejarah. Selain itu implikasi-implikasi historis dari peristiwa bisa dilihat  juga dalam perubahan hidup mereka yang mengikuti Yesus.[1]  Sama seperti pengalaman Paulus, dia tidak melukiskan secara detail peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus, sebagai bukti tentang kebenaran ajaran iman Kristiani. Bukti yang dapat dilihat adalah perubahan hidup Paulus setelah mendapat pengalaman penampakan Yesus yang bangkit dalam perjalanannya ke Damaskus.

Paulus menjelaskan kepada umat Korintus bahwa Injil yang disampaikan adalah Injil yang diterimanya dari Yesus sendiri; maksudnya bukan dari Yesus historis, tetapi Yesus post-Paskah. Paulus juga menyatakan juga  dalam suratnya kepada umat di Galatia, tentang kebenaran ajaran Injil yang dia wartakan. Ia menerima semuanya, bukan dari para Rasul, melainkan  dari Yesus yang menampakkan diri kepadanya (Gal  1:13-17). Kepada jemaat di Korintus ia mengatakan bahwa sesuai dengan Kitab Suci, Yesus mati bagi dosa-dosa manusia, dan bahwa Ia dikuburkan dan bahwa Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Selanjutnya, Paulus menjelaskan juga bahwa Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada Kefas, kemudian kepada keduabelas murid, lima ratus saudara sekaligus, kepada Yakobus dan terakhir kepada Paulus. Paulus yang memberitakan kebangkitan Yesus tahu bahwa ada di antara jemaat yang tidak percaya akan kebangkitan. “Bilamana kami beritakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di anatara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak akan dibangkitkan.”(1 Kor 15:12-13). Penampakan-penampakan yang dialami oleh murid-murid dan para Rasul adalah peristiwa historis; pengalaman yang memiliki dasar pada realitas kebangkitan Yesus, dan bukan pada sebuah proses poryeksi psikologis atau rekayasa para murid tentang Yesus.[2] Penampakan itu disaksikan, dialami oleh orang-orang pada waktu dan tempat tertentu.

McBrien mengusulkan bahwa kebangkitan sebaiknya disebut sebagai  sebuah peristiwa “transhistorical” atau “metahistorical.” Yang dia maksudkan dengan term ini yaitu bahwa kebangkitan itu terjadi setelah kematian dan tidak terkukung dalam ruang dan waktu. Dengan kebangkitan,“Yesus memasuki suatu alam keberadaan yang baru, sejarah-akhir zaman, yang melampaui sejarah dan berada jauh dari jangkauan penelitian para ahli sejarah.”[3]

  1. Lahirnya Iman Akan Kebangkitan: Data Awal Perjanjian Baru

Agak sulit bagi kita untuk mengetahui secara persis iman akan kebangkitan dari Gereja Perdana, karena tulisan-tulisan PB yang kita miliki sekarang berasal dari tahun 70, atau  dua puluan tahun setelah kebangkitan Yesus. Pheme Perkins mengatakan ada tiga sumber tradisi Paskah yang menjadi latar belakang narasi-narasi penampakan Yesus. Pertama, tradisi pewartaan/ kerygmatik seperti dalam 1 Kor 15:5-8. Kedua, tradisi penyampain para wanita tentang kubur kosong (Mrk 16); dan ketiga, tradisi nabi-nabi Kristen perdana yang mewartakan  pemuliaan Yesus.[4]

  1. Pewartaan Paulus tetang Kebangkitan

Teks yang sering dipakai sebagai acuan untuk memahami konsep  Gereja awal tentang kebangkitan Yesus yaitu  1 Kor 15:3-8.  Paulus mendasarkan kerygmanya tentang Kebangkitan Yesus atas Kitab Suci. Dia mengatakan bahwa Kristus mati karena dosa-dosa manusia dan Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai Kitab Suci. Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas (Petrus), keduabelas murid,  lima ratus saudara sekaligus (mungkin referensi kepada Pentakosta)  dan saksi-saksi itu masih hidup. Yesus menampakkan diri kepada Yakobus, semua Rasul dan yang paling terakhir kepada Paulus.

Kata “Kristus” dalam pewartaan Paulus (v.3) tidak menunjukkan fungsi tetapi menjadi nama Yesus.  Atau bisa juga dikatakan nama dan jabatan menjadi satu. Kristus mati karena dosa-dosa manusia dan Dia dibangkitkan. Pada hari ketiga” menunjuk pada penampakan Yesus yang dimulai pada hari ketiga setelah kebangkitan Yesus. Tetapi frase bisa juga menunjuk  pada tindakan eskatologis, tindakan penyelamatan Allah pada hari ketiga, seperti yang diungkapkan oleh nabi Hosea : “Allah  akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapanNya.” (Hos 6:2).

Mengkuti P. Perkins, McDermot menegaskan bahwa pewartaan Paulus tentang kebangkitan diformulasikan dalam dua bentuk yaitu bentuk yang mengungkapkan anthitesis antara kematian dan kebangkitan; dan bentuk kedua hanya mengungkapkan kebangkitan tanpa menyinggung kematian Yesus.[5] Contoh dari bentuk pertama, antithesis  antara kematian dan kebangkitan bisa ditemukan dalam Rom 14:9 yang menyatakan “Kristus telah wafat dan hidup kembali” atau dalam 1 Thes 4:14a:”Karena kita percaya bahwa Yesus telah mati dan bangkit kemabali.” Contoh dari bentuk kedua dapat ditemukan dalam surat Paulus 1 Thes 1:10 “Menanti PuteraNya dari Surga yang dibangkitkan Allah dari kematian.” (cf Rom 1:3-4; 4:24-25; 8:34; 10:19). Teks-teks lain yang menjadi referensi: 1 Tim 3:16;  Gal 1:3-5; 3:1-2; 4:6; Rom 2:16; 8:34; 10:8-9; Ibr 6:1.

Surat-surat Paulus munjukkan kerygma atau pewartaan awal Gereja tentang kebangkitan. Menurut Dupuis, ada beberapa element  yang mendasari kerygma tentang kebangkitan Yesus. Pertama, bahwa inti pengajaran atau pewartaan adalah misteri kematian dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan mendapat penekanan, tetapi tidak dipisahkan dari kematian yang mendahului. Kedua, kebangkitan dimengerti sebagai masuknya Yesus ke alam eskatologis dan disusul oleh pemuliaan diriNya sebagai Tuhan. Ketiga, bahwa kebangkitan dan pemuliaan membuka jalan keselamatan bagi mereka yang percaya.[6]

Khotbah-khotbah Paulus dan Petrus yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:14-39; 3:13-26; 4:10-12; 5:30-32; 10:34-43; 13:17-47 merupakan Kristologi dari pewartaan awal. Semua ini adalah pewartaan atau kerygma yang dibuat oleh Petrus dan Paulus kepada orang-orang Yahudi. Pewartaan Paulus kepada orang-orang di Aeropagita tentang Yesus merupakan pewartaan kepada orang-orang Yunani yang berbeda konsep tentang kebangkitan.

  1. Khotbah Petrus tentang Kebangkitan

Menurut McDermott, pewartaan Petrus pada hari Pentakosta (Kis 2:14-39) merupakan paradigma atau model kerygma apostolis bagi gereja perdana, dalam arti bahwa bagaimana warta tentang Yesus diwartakan kepada orang-orang Yahudi baik yang ada di Palestina maupun di luar Palestina (Kis. 2:5-13). [7]

Kisah Para Rasul 2:22-36 merupakan sebagian dari Khotbah Petrus pada Pentakosta. Beberapa point penting yang ada dalam khotbah ini. Menurut Petrus yang dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus, Yesus adalah orang Nazareth yang penuh kuasa, tetapi telah disalibkan dan dibunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Walaupun demikian Allah telah membangkitkan Yesus (akftif) dari kematian (Mengutip Mazmur Daud dan janji Allah kepada Daud). Petrus dan para rasul adalah saksi-saksi dari kebangkitan itu. Yesus yang telah dibangkitkan itu kemudian ditinggikan oleh Allah; Dia menerima Roh Kudus dari Allah dan mencurahkan Roh Kudus itu kepada para murid. Allah telah membuat Yesus yang telah disalibkan menjadi Tuhan dan Kristus (mengutip Daud sebagai raja).

Khotbah Petrus menampilkan sebuah Kristologi awal dari Gereja Perdana. Menurut Dupuis, ada tiga unsur penting dalam Kristologi Gereja perdana.[8] Pertama bahwa kebangkitan adalah tindakan Allah atau karya Allah. Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut. Allah yang berkuasa atas kematian dan dosa. Kebangkitan adalah kepenuhan atau puncak dari revelasi Allah sebagai Allah yang menyelamatkan.

Kedua, Kebangkitan terjadi atas diri Yesus. Dengan kebangkitan, Yesus masuk ke dalam suatu keadaan baru, kemuliaan akhir dan dunia Allah. Harapan akhir (harapan eskatologis) telah terpenuhi dalam diri Yesus. Ketiga, bahwa kebangkitan Yesus adalah tindakan Allah. Karya Allah itu menyelamatkan  manusia. Keselamatan diperuntukkan bagi manusia. Ada kesinambungan antara hidup, karya Yesus dan kebangkitanNya. Dupuis dengan sangat baik mengatakan:

Melihat kembali pada peristiwa-peristiwa hidup Yesus, orang-orang Kristen perdana menemukan makna yang sesungguhnya. Pelayanan kesembuhan Yesus, sikapnya terhadap hukum, belaskasihNya kepada para pendosa, kepeduliaanNya kepada orang miskin, keterbukaanNya kepada semua orang, sekarang semuanya nampak sebagai prefigurasi-prefigurasi dari tindakan penyelamat dari Dia Yang bangkit (Kis 2:22). Semua itu menyiapkan dan mengantar [kepada keselamatan, sic]. Jika Yesus telah menjadi Mesias, Tuhan dan Penyelamat melalui kebangkitanNya, Dia telah menyiapkan peranan ini selama keberadaanNya di dunia.”[9]

Selanjutnya Dupuis mengatakan ada perubahan dalam penekanan terhadap peranan Yesus setelah kebangkitanNya. Yesus yang dulu datang ke dunia untuk mewartakan Allah dan Kerajaan Allah, sekarang berubah menjadi objek pewartaan para Rasul atau Gereja; Dia yang dulu sebagai utusan untuk mewartakan Kerajaan Allah sekarang Dia yang mengutus Gereja; dan Dia  juga diwartakan oleh Gereja. Dalam seluruh hidupNya Yesus telah menempatkan Allah sebagi pusat; tetapi sekarang Allah menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat dari rencana dan karya keselamatan Allah.[10]

  1. Injil Markus tentang kebangkitan

Banyak ahli berpendapat bahwa teks Markus 16:1-8 merupakan teks tertua dari sekian banyak teks yang berkisah tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Tokoh-tokoh yang tampil dalam kisah kebangkitan Yesus adalah beberapa perempuan: Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Salome, yang dalam tradisi Yahudi pada zaman Yesus, kesaksian dari perempuan sering diragukan kebenarannya. Mereka pergi membeli rempah-rempah lalu pergi ke kubur untuk meminyaki jenazah Yesus. Batu yang menutup pintu kubur merupakan tantangan bagi perempuan-perempuan itu. Tetapi ketika mereka tiba, batu penutup pintu kubur ternyata sudah terguling. Mereka masuk ke dalam kubur. Nampak  seorang anak muda berpakaian putih. Orang muda itu berkata:’Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazareth yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Pergi dan katakanlah kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana seperti yang sudah dikatakan kepadamu.’

Angelophany

Tidak ada saksi mata, tidak ada orang yang menyaksikan peristiwa kebangkitan Yesus. Yang ada adalah revelasi malaikat (angelophany) kepada perempuan-perempuan itu. Sepertinya hanya malaikat-malaikat saja yang menyaksikan peristiwa kebangkitan Yesus. Penampakan malaikat merupakan bagian dari tradisi agama dan kehidupan rohani Israel. Sebagai utusan Allah, malaikat menjelaskan peristiwa kebangkitan itu kepada para perempuan: Yesus dari Nazareth telah bangkit. Dia tidak ada di sini. Tempat Yesus dibaringkan kosong. Dia telah pergi mendahului para murid ke Galilea dan di sana mereka akan bertemu dengan Yesus. Yang mewartakan kebangkitan Yesus dan menjelaskan peristiwa itu adalah utusan Allah (malaikat) yang dalam tradisi Israel adalah personifikasi dari Allah sendiri.

Menurut McDermott, inti dari cerita ini adalah “bukan penemuan makam kosong karena tidak ada penyampaian tentang perempuan-perempuan yang mengetahui dengan pasti bahwa makam sungguh-sungguh kosong. Inti cerita terletak pada pewartaan dari Allah tetang kebangkitan Kristus.”[11] Menurut McDermot ada tiga hal yang dapat dijadikan kesimpulan dari kisah di atas. Pertama, tradisi yang tua menghubugkan beberapa perempuan dengan penemuan kubur kosong. Kedua, interpretasi yang benar dari arti makna kubur kosong diberikan oleh kebangkitan Yesus dan dan pewartaan iman serta yang paling utama oleh revelasi dari Allah sendiri. Ketiga, Gereja perdana merasa aman dengan keyakinan bahwa kepada perempuan-perempuan itu telah disampaikan kabar gembira tentang kebangkitan Yesus, terpisah dari penampakan-penampakan kepada Petrus dan keduabelas.[12]

 

  1. Beberapa Makna Paskah

Ada beberapa makna Paskah yang dapat ditarik dari PB.  Seluruh kehidupan, karya dan wafat Yesus berpucak pada peristiwa kebangkitan. Kebangkitan Yesus sering disebut juga “peristiwa pemuliaan (glorification), pengagungan (exaltation). McDermott[13] merincikan beberapa makna pasakah sebagai berikut:

Pertama, Paskah sebagai Peristiwa Eskatologis

Peristiwa Paskah  menyatakan peranan Yesus  sebagai nabi, Tuhan, Raja yang akan datang pada masa depan (Eschaton). Seluruh hidup dan karya Yesus berpusat pada Kerajaan Allah. Inti dari pewartaanNya adalah Kerajaan Allah. Kehadiran Yesus dan karyaNya adalah tanda masuknya Kerajaan atau pemerintahan Allah dalam dunia dan sejarah manusia. Walaupun demikian, kehadiran dan pelayanan serta kebangkitan Yesus dari kematian merupakan eskatologi yang sedang dalam proses untuk mencapai kepenuhan definitif pada kedatangan kedua Yesus. Pemenuhan secara total, definitif Kerajaan Allah terjadi pada masa yang akan datang di mana Allah sendiri meraja secara mutlak.

Ada ketegangan antara dimensi eskatologis: “sudah” dan “belum”. Dalam pewartaan atau pengajaran  Yesus tentang Kerajaan Allah dua dimensi ini muncul. Luk 11:20 :”Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.  Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dengan memohon datangnya kerajaan Allah Bapa dan Perumpamaan tentang Kerajaan Allah dalam Mat 25:31-46  menekankan dimensi eskatologi futur. Paulus dalam suratnya kepada umat Korintus menyatakan bahwa Kerajaan Allah akan terpenuhi pada saat yang akan datang, ketika Yesus menyerahkan kerajaan Allah kepada BapaNya (1Kor 15:22-24). Eskaton bukanlah sesuatu event yang terpisah dari masa sekarang; melainkan sudah dimulai sekarang ini  dan akan mencapai kepenuhan pada masa yang akan datang.

Kedua, Paskah sebagai Peristiwa Soteriologis

Selain itu Kristologi Gereja perdana adalah Kristologi yang berkaitan dengan demensi keselamatan atau soteriologis dari kehidupan Yesus. Yesus Kristus diutus Allah ke dunia untuk  menyelamatkan dunia dan manusia. Segala aktivitas Yesus: pengajaran, penyembuhan, pengampunan, mujizat-mujizat yang diadakan, cara hidup, kematian dan kebangkitanNya bertujuan untuk membebaskan dan menyelamatkan manusia dari dosa, kematian dan kuasa Iblis.

Paulus dalam surat-suratnya menekankan dimensi soteriologis dari kehidupan Yesus. “Dia telah diserahkan karena pelanggaran-pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rom 4:25). Bukan hanya wafat Yesus, tetapi juga kebangkitanNya memiliki daya penyelamatan. Wafat dan kebangkitan Yesus merupakan satu kesatuan tindakan penyelamatan yang dilakukan Allah melalui Yesus dalam sejarah. Pengangkatan, pemuliaan atau pentakhtaan Yesus  sebagai Kristus oleh Allah Bapa bukan hanya menjadi  bukti yang mensyahkan identitas Yesus sebagai Anak Allah dan karyaNya di dunia, melainkan juga semua itu mendatangkan pembebasan, penyelamatan bagi mereka yang percaya. “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia” (Ef 4:12)

Ketiga, Paskah sebagai Peristiwa Theologis

Yang dimaksudkan Paskah sebagai peristiwa theologis yaitu bahwa Paskah atau kebangkitan merupakan karya yang dilakukan oleh Allah (theos). Allah-lah yang membangkitkan Yesus dari kematian dengan kuasa Roh KudusNya. Dalam PB  kata “membangkitkan” merujuk pada Allah  sebagai subyek, pelaku utama  penyelamatan atau pembebasan. Yesus dibangkitkan oleh Allah; dalam authoritasNya Allah membangkitkan Yesus. Allah-lah yang mengalahkan kuasa dosa, kematian dan Iblis dan memberi kemenangan kepada Yesus, PuteraNya. Allah yang diimani oleh bangsa Israel adalah Allah orang-orang hidup dan bukan Allah orang mati. Allah yang telah membebaskan Israel dari penindasan, kematian, kini mewahyukan diriNya lagi dalam karyaNya membangkitkan Yesus Kristus PuteraNya dari kematian. Kebangkitan adalah tindakan Allah yang menyelamatkan orang-orang yang tertindas. Kebangkitan adalah sebuah kepenuhan revelasi atau pewahyuan diri Allah.

Keempat, Paskah sebagai Revelasi diri Kristus

Sebagaimana yang dikatakan di atas bahwa Paskah adalah karya Allah; Allah-lah yang membangkitkan Yesus dari kematian. Kebangkitan itu terjadi pada Yesus. Kebangkitan adalah peristiwa yang terjadi pada pribadi Yesus. Tubuh fisik Yesus diubah menjadi tubuh eskatologis, tubuh baru yang mengatasi ruang dan waktu. Tubuh rohani seperti yang diajarkan Paulus tentang kebangkitan badan. Paulus mengatakan: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitakan dalam ketidakbinasaan, ditaburkan dalam kehinaan, diabangkitan dalam kemuliaan; ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.” (1 Kor 15: 42-44).

Petrus dalam khotbahnya mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut. Dia juga ditinggikan oleh Allah dan mencurahkan Roh Kudus kepada para MuridNya. Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus (Kis 2: 32-33; 36). Melalui kebangkitan Yesus diwahyukan oleh Allah Bapa kepada manusia sebagai Tuhan, Kristus, Raja atau Hakim yang akan datang.

  1. Penampakan-penampakan Yesus

Dokumen tertua yang berisi kesaksian tentang wafat dan kebangkitan Yesus ditemukan dalam surat Paulus kepada umat di Tesalonika. Paulus mengatakan “kita percaya bahwa Yesus telah mati dan bangkit kembali” (1 Tes 4:14) dan  “Untuk menantikan AnakNya dari sorga yang telah dibangkitkanNya dari antara orang mati yaitu Yesus yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” (1 Tes 1:10). Kedua teks ini tidak menyebut kisah penampakan Yesus. Yang ditekankan Paulus adalah kebangkitan Yesus dan kedatangan Yesus kedua (parousia) untuk membebaskan manusia.

Pada kesempatan lain, khususnya dalam surat kepada umat Korintus ( 1 Kor 15:1-4) Paulus  menyinggung penampakkan  dalam kesatuan dengan pokok-pokok pengajaran iman: Yesus mati (apethanen); Dia dikuburkan (ethape); Dia dibangkitkan (egegertai) dan Dia menampakkan diri (ophte). Gereja perdana  sepakat tentang semua kebenaran iman ini dan mewartakannya kepada orang-orang yang percaya. Penampakan bukan merupakan sebuah tema yang terpisah  tetapi merupakan bagian penting dari seluruh kerygma. Penampakan dihubungkan dengan peristiwa keselamatan dari Yesus sendiri.

Yesus wafat, dikuburkan dan bangkit: kebenaran ini menegaskan kenyataan bahwa Yesus sungguh mengalami kematian dan penolakan. Penolakan terakhir adalah saat jenazahNya dikuburkan dan ditutup, serta dijaga. Kebangkitan Yesus merupakan sebuah tindakan penyelamatan Allah Bapa. Yesus dibunuh tetapi Allah membangkitkanNya.

Dari teks-teks di atas, rasul Paulus hendak menyatakan bahwa setelah kebangkitan, Yesus menampakan diriNya kepada orang-orang tertentu. Dalam terang pemahaman ini, kebangkitan bukan rekayasa psikologis para murid yang berusaha memahami peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus sebagaimana dikemukakan oleh beberapa theolog liberal. Tetang hal ini,  Edward Schillebeeckx secara tepat menulis:”Apa yang disebut penampakkan secara jelas tidak dicirikan sebagai sebagai peristiwa yang berasal dari psikologi manusiawi belaka; sebaliknya dilukiskan sebagai sebuah inisiatif dari Yesus sendiri, sebagai sebuah tindakan kebaikan Yesus: Allah dalam Kristus terlibat di dalamnya.”[14]

Yesuslah yang mengambil inisiatif untuk menampakkan diriNya (ophthe). Para murid yang sedang ketakutan dan merasa putus asa serta kehilangan makna hidup tidak bisa mencari jalan untuk merasionalisasikan atau merekayasa kisah-kisah kebangkitan dan penampakan Yesus. Selain itu penampakan diri orang yang telah meninggal dunia, dalam alam pemikiran Yahudi, bukanlah sesuatu yang umum. Yang umum dipahami tentang penampakan selalu berkaitan dengan hantu, roh-roh dunia atau peristiwa theophany dan angelophany. Hal ini bisa dilihat dalam pengalaman para murid ketika Yesus berjalan di atas air atau ketika Yesus harus meyakinkan para muridNya setelah kebangkitan bahwa Dia adalah Yesus, bukan roh atau hantu yang tidak bertubuh.

 

  1. Paulus: Saksi-saksi Penampakan

Paulus mengajarkan bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas dan kepada kedua belas murid (v. 5); kemudian Yesus menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus (v. 6); selanjutnya Yesus menampakan diri kepada Yakobus  dan semua Rasul (v.7) dan yang paling terakhir Yesus menampakkan diri kepada Paulus (v.8). Walaupun Paulus sendiri bukan termasuk dalam anggota keduabelas Rasul, dia mengatakan bahwa Yesus juga menampakan diri kepadaNya seperti kepada seorang anak yang lahir sebelum waktunya. Tujuan Paulus merincikan orang-orang yang mengalami penampakan Yesus yaitu bukan untuk menceritakan penampakkan Yesus in se, atau  juga bukan untuk menjelaskan atau melegitimasi status Paulus seperti yang banyak kemukakan oleh beberapa ekseget, tetapi untuk menegaskan bahwa Gereja-gereja pada saat itu mengajarkan dan percaya akan kebenaran iman yang sama.

Semua Rasul atau Gereja perdana mengajar kerygma yang sama; tidak ada perbedaan di antara pengajaran para Rasul dengan yang diajarkan oleh Paulus, Rasul yang paling hina di antara semuanya. Semua Rasul dan murid yang mengalami penampakkan Yesus adalah misionaris, utusan-utusan untuk mewartakan iman yang sama akan Yesus yang hidup. Penampakan-penampakkan mengungkapkan secara jelas kerygma apostolis sebagai ‘iman universal dari Gereja”; mereka semua terlibat dalam misi dan pokok pengajaran yang sama yaitu pewartaan tentang: Yesus disalibkan, dikuburkan tetapi telah bangkit; Ia telah hidup kembali.[15]

Penampakkan Yesus kepada Petrus dan kesebalas murid, atau yang disebut juga penampakan apostolis, merupakan dasar dari kerygma Kristologis. Menurut Schillebeeckx, ada tiga element penting[16] dari kisah penampakan kepada Petrus dan kesebelas murid lain: Pertama, penampakan adalah inisiatif Yesus yang bangkit. Yesuslah yang berinisiatif menampakkan diriNya. Kedua, pengakuan: Yesus diakui oleh para murid sebagai Kristus, Tuhan yang hidup kembali dari kematianNya. Pengakuan para murid juga diikuti oleh penyembahan kepada Yesus (proskynesis) Mat 28:17 (see also Yoh 20:17, Mat 18:9-10, Luk 24:52. Ketiga, unsur misi atau kesaksian: ciri apostolis Gereja ditekankan di sini. Semua Rasul diutus untuk mewartakan Yesus yang bangkit. Sama seperti para wanita yang diutus oleh Malaikat untuk menyampaikan berita kebangkitan Yesus kepada Petrus dan para murid lainnya. Aspek apostolis-misioner  nampak jelas dan mulai berfungsi.

  1. Penampakan dalam tradisi Matius 28:16-20

Kisah penampakkan Yesus kepada murid-muridNya setelah kebangkitan terjadi di Galilea, di atas sebuah bukit. Hanya beberapa perempuan yang setelah bertemu dengan Malaikat (angelophany) di jalan pulang mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit (kristophany) dan Dia menyampaikan salam kepada mereka (v.9).  Dalam kisah penampakan Matius ada beberapa unsur penting: 1) Para murid melihat Yesus yang bangkit. Mereka menyembah Dia yang bangkit, tetapi ada  murid yang ragu-ragu. 2)  Pewahyuan diri  dan authoritas Yesus yang bangkit. Dia adalah seorang yang telah diberi kuasa (kosmokrator) baik di surga maupun di bumi. Kuasa itu diberikan Bapa kepadaNya. 3) Unsur misi:  Yesus memberi kuasa kepada para murid dan mengutus mereka pergi  untuk  membaptis dan menjadikan bangsa-bangsa  murid Yesus. Pembaptisan dibuat dalam formula Trinitarian: Bapa, Putera dan Roh Kudus serta pengajaran segala ajaran Yesus. 4) Unsur penyertaan ilahi: Yesus yang bangkit berkomitmen untuk menyertai para Rasul sampai akhir zaman.

Menurut Schillebeeckx, maksud, makna penampakan adalah sebuah theologoumenon artinya suatu pernyataan theologis tentang kekuasaan Yesus yang universal dan total yang merupakan basis dari misi universal Gereja kepada seluruh dunia. Kebangkitan dipandang sebagai pangkal tolak dan dasar dari kehidupan Gereja. Tetapi kebangkitan tidak berdiri sendiri sebagai  sebuah event indepent, tetapi memiliki hubungan dengan hidup, karya dan perbuatan-perbuatan Yesus historis.[17]

  1. Penampakan dalam tradisi Lukas 24:36-49

Kisah penampakan Yesus kepada para rasul secara bersama dalam Lukas sangat unik. Penampakan ini didahului oleh kisah penampakan Yesus kepada dua murid yang berjalan ke Emaus. Lukas mengisahkan bahwa Yesus menampakan diriNya kepada semua muridNya pada saat mereka berkumpul bersama-sama dalam sebuah rumah di Yerusalem.

Penampakan Yesus  dalam kisah Lukas mencakup beberapa unsur penting: Pertama, penegasan identitas diri Yesus sebagai Dia yang telah bangkit.  Dia yang menderita itu sungguh-sungguh telah bangkit; dan Dia bukan hantu atau roh. Dia menunjukkan luka-lukaNya dan meminta makan. Yesus yang bangkit mengajar para murid tentang Kitab Suci (Taurat, Kitab nabi-nabi dan Mazmur) dan menjelaskan arti serta misiNya sebagai Mesias yang menderita, wafat dan bangkit. Kedua,  unsur misi atau perutusan. Yesus yang menampakkan diri mengutus para murid  kepada segala bangsa. Dalam nama Yesus yang telah bangkit, mereka mewartakan Pertobatan dan pengampunan dosa. Ketiga,  Yesus menjanjikan Roh Kudus sebagai hadiah ilahi dari Allah. Roh Kudus hadir dan menyertai para murid dalam misi universal mereka.  Dimensi pneumatik misi Gereja ditekankan: Bahwa dalam kuasa Roh Allah, para murid atau Gereja perdana bisa mewartakan Injil kepada segala bangsa. Mereka mewartakan karya penyelamatan Allah dalam dan melalui Yesus Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus.

d.Kisah Penampakan dalam Yohanes 20:19-23

Yohanes memberikan kesaksian bahwa penampakan Yesus kepada semua murid terjadi dalam sebuah ruang tertutup di Yerusalem. Penampakan kepada Maria Magdelana mendahului penampakkan kepada semua rasul. Penampakan Yesus kepada para murid (kecuali Thomas, absent) terjadi pada malam hari.

Beberapa unsur  penting dalam kisah ini: Pertama, inisiatif Yesus menampakan diri dan penegasan identitasNya sebagai Dia yang telah bangkit (vv19-20). Kedua, unsur pengutusan atau misi yang didasarkan pada misi Allah. “Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (vv.21, 22). Ketiga, Yesus memberi para murid Roh Kudus (v 22). Keempat, Yesus memberi kuasa kepada para murid untuk mengampuni dosa (v.23).

Penampakan kepada para murid terjadi lagi setelah penampakan pertama. Dalam penampakkan itu, Thomas memberikan pernyataan imannya akan Yesus sebagai Tuhan. Penampakan-penampakan lain terjadi di Galilea kepada beberapa murid (Yoh 21:1-25). Kisah-kisah penampakan di atas memperlihatkan kerygma Gereja perdana atau pengajaran apostolis tentang Yesus Kristus. Schillebeeckx memberi ringkasan yang padat tentang penampakan Yesus:”

“Penampakan Dia yang bangkit dipenuhi dengan ‘kerygma apostolis’ dengan demikian dilihat sebagai sebuah pewahyuan murni dari pihak Allah, di mana  keduabelas murid secara sadar dikuatkan untuk memajukan misi Yesus. Penampakan secara tak langsung menyatakan bahwa yang menjadi inti dan pusatnya  adalah tindakan penyelamatan Allah dalam Kristus, yang memampukan para murid untuk mengindentifikasi Yesus sebagai Kristus, Tuhan dan Putera Allah dan untuk mengetahui secara pasti bahwa mereka diutus supaya mewartakan Kristus ke seluruh dunia sebagai Dia yang disalibkan-dan-dibangkitkan. Elemen penampakan menunjuk secara verikal pada kerygma apostolis dan praksis atau tindakan aktual Gereja sebagaimana dicirikan oleh rakmat dan revelasi. Dari sisi vertikalitas penampakan itu, sebagai ekspresi lama dari sebuah epifani atau pewahyuan Allah, ada rakhmat yang dipadukan, disatukan dengan peristiwa-peristiwa keselamatan dalam sejarah, tentang apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun dalam Gereja Matius, Lukas dan Yohanes: pewartaan Injil kepada orang Yahudi dan kafir, pembaptisan Kristen dan pelayanan pengampunan, dengan kepastian iman yang diwahyukan bahwa dalam semuanya ini Yesus sedang berkarya. Aktivitas Yesus surgawi dalam Gereja diungkapkan dalam konsep epifani. Pokok atau substansi dari manifestasi disampaikan dari kehidupan konkret Gereja sebagai komunitas Kristus. Ibadah, penyembahan, adalah jawaban terhadap tindakan rakhmat: mereka melihat Tuhan dan mereka menyembah Dia.”[18]

 

6.Keallahan Yesus: Preeksistensi

Kerygma Gereja perdana tentang Yesus Kristus berpusat atau bertolak dari peristiwa kebangkitan Yesus. Perkembangan refleski iman tentang Yesus Kristus mencapai kematangan dalam ibadah, liturgi, penyembahan di mana Yesus diakui, diimani dan disembah sebagai Allah. Dalam konteks iman monotheisme Israel  pengakuan dan penyembahan kepada Yesus sebagai Allah adalah sebuah langkah yang “progresif” dan “revolusioner.”

Dalam terang iman kebangkitan, Gereja perdana melihat ke belakang (retroprojection) seluruh kehidupan Yesus sampai kepada peristiwa kelahiranNya. Iman membantu mereka untuk melihat bahwa Yesus yang lahir dari perawan Maria adalah Anak Allah (Luk 1:32, 35). Gereja Kristen perdana secara sangat eksplisit menyatakan iman kepada Yesus yang bahkan melampaui keberadaan historis-Nya di dunia. Mereka sampai pada penemuan kebenaran bahwa pada mulanya (in principio) Yesus adalah Allah. Dua teks hymne yang terkenal adalah hymne Philippian dan Prolog Injil Yohanes.  Selain itu  Madah Kolose juga merupakan sebuah madah yang berisi refleksi Gereja tentang Kristus.

  1. Hymne Philippi 2:6-11

6 Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah (en morphè tou theou),

tidak mengganggap kesetaraan dengan Allah

sebagai milik yang harus dipertahankan (arpagmos),

 

7 melainkan telah mengosongkan (ekenòsen) diriNya sendiri

dan mengambil rupa seorang hamba (morphè doulou)

dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia,

8 Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati,

bahkan sampai mati di kayu salib.

9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia

dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama,

10 supaya dalam nama Yesus bertekuklah lutut pada nama Yesus

segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan

11 segala lidah mengaku:’Yesus Kristus adalah Tuhan’ (Kurios)

bagi kemuliaan Allah Bapa! [19]

 

Hymne ini adalah sebuah ungkapan pengakuan iman Gereja perdana akan pre-eksistensi ilahi dari Yesus (Divine Pre-existence) (v 6). Dia yang adalah Allah merendahkan diri dalam inkarnasi (humiliation of Incarnation) (v 7),  dan merendahkan diri pada salib (humiliation of Death) (v 8). Dia yang sangat direndahkan kemudian mendapat pemuliaan surgawi (heavenly exaltation) (v9) bahkan; penyembahan oleh seluruh alam semesta (adoration by the universe) (v 10) serta sebuah pengakuan dari seluruh bangsa manusia bahwa Yesus adalah  Tuhan (Kyrios) (v.11).

Gereja perdana mengakui pre-eksistensi Yesus. Frase “dalam rupa Allah” menunjukkan status ilahiNya.[20]  Ia hidup dalam kemuliaan (doxa) Allah. Sebagai Allah Dia masuk ke dalam dunia dan menjadi manusia dalam peristiwa inkarnasi. Ada yang menafsirkan Yesus sebagai Adam Baru (Manusia Baru) yang mengosongkan diri, menanggalkan kemuliaan Allah dan menjadi manusia (adama). [21]  Dia berbeda dengan Adam lama yang diciptakan dari debu tanah. Adam Baru berasal dari Roh Kudus dan sangat taat setia kepada Allah; tidak seperti Adam lama yang memberontak kepada Allah. Adam lama  meninggalkan, menolak kemanusiaannya dan ingin  menjadi sama seperti Allah dengan makan buah terlarang (Kej 1:26-27).

Dia merendahkan diriNya lebih rendah lagi sebagai seorang hamba dan Dia mati secara keji pada salib. Term “hamba” mengingatkan kita pada figur Hamba Yahweh yang menderita, seperti yang dikisahkan dalam Kitab Deutro Yesaya. Hamba Yahweh yang menderita itu kemudian dibenarkan oleh Allah.

Melalui kebangkitanNya, Yesus ditinggikan oleh Allah Bapa. Dia yang telah meninggalkan “doxa” (kemuliaan), menjadi “hamba” (morphe dolou),  kemudian Dia dijadikan “Kyrios”  yang dipuji dan disembah oleh seluruh ciptaan baik di surga, di bumi, dan di bawah bumi. Kyrios (Tuhan) adalah nama yang melampaui segala nama yang diberikan Allah Bapa kepada Yesus.[22]

 

  1. Madah Kristus dalam Kolose 1:15-20

Selain hymne, madah Filippi, ada madah  lain yang menekankan pre-eksistesi Yesus. Paulus dalam Kolose 1:15-20 memberikan sebuah pernyataan theologis atau Kristologis yang dihayati dan diimani oleh Gereja.

15 Dialah gambaran dari Allah yang tidak kelihatan[23]

Yang sulung dari segala makhluk

16 karena dalam Dia dijadikan segala yang ada

Baik yang di lapisan-lapisan langit maupun di bumi,

Baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan

Segala Takhta, Pertuanan, Pemerintahan dan Penguasaan:

segala-galanya itu dijadikan olehNya dan bertujuan kepadaNya

17 Ia pun mendahului segala-galanya itu

dan segala-galanya itu mempunyai adanya dalam Dia.

18 Ia pun adalah kepala tubuh, yaitu umatNya [Gereja]

Ia adalah pokok pangkal. Ia yang sulung dari antara orang mati

supaya dalam segala-galanya Ialah yang pertama.

19 Allah telah menghendaki seluruh kepenuhan hidup di dalamNya,

20 dan dengan perantaraanNya memperdamaikan dengan DiriNya segala-galanya yang ada di bumi dan di sorga,

mengadakan perdamaian oleh darah salibNya.

 

Perikop ini adalah Madah atau hymne untuk Kristus. Dia diimani oleh jemaat sebagai penguasa, pencipta, penyelamat kosmos dan kepala Gereja.[24] Paulus menyatakan bahwa Yesus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan.”  Image atau ikon mempresentasikan atau menghadirkan sesuatu. Yesus disebut sebagai ikon, gambar Allah yang tak terindrai. Di sini Kristus dilihat  sebagai Adam Baru.[25] Adam lama diciptakan dalam image dan rupa Allah, referensi pada penciptaan manusia pertama dalam kitab Genesis. Kristus, Adam Baru, menampakan Allah dan Dia sendiri adalah Allah. Yesus dalam tubuh manusiawi mewahyukan, menyingkapkan Allah yang tidak kelihatan; Artinya melalui Dia yang manusia, kita dapat melihat Allah. Yesus yang hadir  dalam dunia menyatakan kepada manusia dan dunia sifat-sifat Allah, khususnya Allah yang sangat mengasihi manusia.[26] Kasih dan kerahiman Allah yang tak kelihatan itu menjadi sangat real, dapat dirasakan dan dialami dalam diri Yesus.

Yang sulung” di sini dimengerti bukan hanya sebagai anak sulung, anak pertama dalam keluarga, tetapi juga seorang pribadi yang memiliki status dan peranan penting dalam sebuah keluarga. Dalam konteks keluarga Allah, Yesus memiliki otoritas seperti seorang putera sulung. Dia  memperhatikan, melindungi dan menjamin hidup seluruh anggota keluarga yang lain, teristimewa saudara-saudarinya. Dia menjadi anak kepercayaan Bapa dan yang akan meneruskan otoritas Bapa. Yesus sebagai putera sulung berhak membagi-bagi warisan Allah kepada semua anggota keluarga Allah. Warisan itu tidak lain adalah kebahagiaan abadi bersama Allah di surga. [27]

Dalam madah di atas peranan Yesus sebagai Pencipta sangat ditekankan. Dia mencipta bersama Bapa segala sesuatu yang ada. Dia adalah ide abadi dalamNya Allah dan Dia sendiri menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu baik di surga, di bumi yang kelihatan dan tak kelihatan. Singgasana, pemerintahan dan penguasa adalah tingkatan atau hirarki para malaikat. Para malaikat   diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Pseudo Dionysius dan teolog-teolog abad pertengahan seperti Bonaventura melihat dunia para malaikat sebagai satu hirarki; keteraturan yang mencerminkan Allah sebagai kepala hirarki ilahi. Hirarki ilahi itu mencakup juga gereja dengan segala peranan dan fungsinya. Seluruh hirarki ini mencerminkan Allah sebagai sumbernya.

Ada dalam Dia” maksudnya bahwa eksistensi, hidup segala sesuatu berasal dari Kristus, Sang Sabda.

Yesus Kristus pre-eksist bersama Allah sebelum segala sesuatu diciptakan (v 17).  Dia ada sebelum segala sesuatu tercipta. Dia ada sebelum waktu dan Dia ada bersama-sama dengan Allah.

Dalam Yesus “segala kepenuhan Allah” berdiam (v 19) menekankan status ilahi dan pre-ektensi Yesus sebagai Allah. Dalam Yesus Allah yang tak kelihatan secara total berada dan nampak. Yesus adalah prinsip, pusat dan dasar rekonsiliasi karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Dia juga yang menyatu-damaikan  kembali segala sesuatu. Rekonsiliasi kosmis-surgawi dan rekonsiliasi manusia dengan Allah Bapa dilaksanakan oleh dan dalam Yesus. Rekonsiliasi itu berpuncak pada darah salibNya (v 20). Paulus menekan dimensi kosmis kuasa Yesus dan efek dari keselamatan bukan hanya tertuju kepada manusia tetapi juga seluruh alam ciptaan.[28] Kristuslah pokok, pusat dan sumber pendamain dan penebusan manusia dan seluruh dunia.

 

  1. Hymne  (Prolog) Yohanes

Pre-eksistense Yesus atau identitas Yesus sebagai Allah mencapai kematangan dalam Kristologi Yohanes, khususnya dalam prolog (1:1-18). Prologue adalah sebuah hymne atau madah yang dibuat oleh pengarang untuk membuka Injilnya. Madah digunakan umat perdana dalam ibadah atau liturgi di mana Yesus disembah dan dimuliakan sebagai Allah.

 

1 Pada mulanya adalah Firman (logos):

Firman itu ada bersama dengan Allah (ho theos)

dan Firman itu adalah Allah (theos)

2 Dia bersama dengan Allah sejak awal mula

3 Melaluinya segala sesuatu menjadi ada

dan segala sesuatu yang ada

tidak satupun berada tanpa melalui Dia

4 Dalam Dia ada hidup

dan hidup itu adalah terang manusia

5 dan terang bercahaya dalam kegelapan

dan kegelapan itu tidak menguasainya…..

14 Sabda itu telah menjadi (egeneto) daging (sarx)

Dia tinggal (eskènòsen) di antara kita

Dan kita telah melihat kemuliaan (doxa)-Nya

Kemuliaan yang Dia miliki sebagai Anak Tunggal (monogenes)

dari Bapa

penuh rahmat (charis) dan kebenaran (alètheia)….

16 Dari kepenuhanNya kita semua telah menerima satu hadiah (charis) demi hadiah

17 karena Hukum diberikan melalui Musa,

rahmat (hè charis) dan kebenaran (hè alètheia) telah datang

melalui Yesus Kristus

18 Tak seorang pun yang pernah melihat Allah;

Anak Tunggal (monogenès) yang ada

Dekat dengan hati Bapa

Dialah yang telah menyatakannya (exègèsato). [29]

 

Prolog Yohanes adalah sebuah madah kepada Kristus yang berisi reflesksi iman pengarang dan jemaat Kristen tentang Yesus. Prolog memperlihatkan gerakan kurva, ibarat gerakan sebuah bandul yang dimulai dari Allah (di tempat tinggi) menurun (descend) ke titik yang terendah (inkarnasi) dan dari inkarnasi gerakan itu perlahan naik (anscend) dan mencapai titik kulminasi yaitu pada Allah. Yohanes, dalam himne ini, mau menunjukkan keilahian dan pre-eksistensi Yesus sebagai Allah sebelum segala sesuatu diciptakan. Logos atau hokmah ada bersama dengan Allah; dan Dia adalah Allah.

 

Yesus berperanan sebagai ko-kreator karena melaluiNya Allah menciptakan segala sesuatu. Penulis menggunakan motif sapiental (kebijaksanaan) dalam Perjanjian Lama untuk melukiskan peranan dabar, logos/ sophia dalam penciptaan. Dalam kitab Kebijaksanaan, hikmah/ hokmah  dikatakan ada bersama Allah dan menjadi agen penciptaan. Dia ada bersama Allah dan menciptakan dunia. Dia bermain-main bersama dengan makhluk ciptaanNya.

Dalam prolog Yohanes, Logos (dabar: Hebrew), Hikmah (sophia) menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazareth melalui peristiwa inkarnasi. Dia datang ke dalam dunia dan tinggal di tengah-tengah umatNya. KehadiranNya di dunia mengingatkan kita akan Kebijaksanaan yang “memasang tendanya” di tengah anak-anak manusia. Dia ada untuk mengajar mereka kebijaksanaan. Sebagai Sabda dan Hikmah yang menjelma, Yesus menampakkan kemuliaan Allah (doxa/ shekinah). Dan manusia telah menyaksikan, melihat kemuliaan Allah itu. Kemuliaan itu dinyatakan melalui karya, pengajaranNya, tetapi juga melalui salib yang merupakan satu bentuk pemuliaan (doxa) dan akhirnya  pentahtaan Yesus sebagai Anak Allah di masa eschaton.

Dalam PL Kebijaksaanan ditampilkan sebagai “konsentrasi cahaya kemuliaan” Allah. Yohanes menggunakan term “terang” untuk menyatakan kemuliaan Logos dan sekaligus menyatakan tugas misioner dan redemptif Logos.  Allah diwahyukan melalui Yesus sebagai kebenaran tertinggi dan rahmat, karunia atau hadiah (charis, hesed) terbaik dari Allah. Yesus-lah yang menafsirkan Allah atau menjadi Penafsir (exègèsato ) Allah.[30] Pribadi dan karya Yesus menyatakan kepada dunia siapa Allah dan bagaimana Allah berelasi kepada manusia.

Kristologi Gereja perdana merefleksikan identitas ilahi dan pre-eksistensi Yesus. Mereka semakin menyadari iman mereka kepada Yesus yang  historis, yang hadir dalam sejarah dan proses itu berjalan sampai pada suatu pemahaman yang sangat mendalam tentang Yesus. Dalam terang Paskah mereka diantar untuk percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dia adalah Allah yang eksis sebelum segala sesuatu diciptakan. Dia datang dan berkarya dalam dunia. Dalam hidup dan karyaNya, doa dan relasiNya dengan Allah yang disapa sebagai Abba, Yesus mewahyukan Allah dan diriNya.

 

Hymne-hymne Gereja perdana bukan hanya buah dari proses refleksi rational belaka, tetapi buah dari pertumbuhan iman tentang pengalaman akan Yesus historis dan peristiwa-peristiwa keselamatan yang Dia kerjakan. Dengan bantuan Roh Kudus, Sang Guru Kebenaran Ilahi (Yoh 14:26; 16:12-13) mereka menemukan kebenaran yang sesungguhnya tentang siapa Yesus dan Allah Bapa. Kristologi dalam konteks ini adalah buah pengajaran Roh Kudus kepada umat beriman.

Refleksi iman tentang Yesus tidak hanya menjadi kerygma tetapi kebenaran iman yang dirayakan dalam liturgi komunal/ Gereja. Dalam liturgilah, iman akan Yesus sebagai Anak Allah dirayakan. Dalam liturgi seluruh Gereja menyembah dan memuji Yesus sebagai Allah bersama Bapa dan Roh Kudus. Kesadaran ini mengingatkan kita bahwa “kristologi” dan “theologi” lahir dari iman Gereja, berkembang dalam Gereja dan membentuk Gereja. Theologi dan Kristologi lahir sebagai tanggapan iman Gereja kepada Allah. Liturgi adalah moment atau  locus pewartaan, pengajaran tentang Yesus Kristus, Anak Allah

 

 

 

[1] McBrien, pp.434-435

[2] McBrien, p.435

[3] McBrien, p. 435

[4] As quoted in McDermott, p.106.

[5] McDermott, pp.106-107

[6] Dupuis, p.59

[7] Dupuis, p.60

[8] Dupuis, pp.61-62

[9] Dupuis, p.62

[10] Dupuis, p.63

[11] McDermott, p.109

[12] McDermott, p.110

[13]  McDermot, pp.118-125

[14] E. Schillebeeckx, p.347

[15] Schillebeeckx, p. 348

[16] Schillebeeckx, pp.353-354

[17] Schillebeeckx, p.355

[18] Schillebeeckx, p.358

[19] Joseph A. Fitzmeyer, “The Letter to the Philippians”, dlm The Jerome Biblical Commentary, Eds. Raymond E. Brown, et. al., London: Geoffrey Champman, 1970, p. 250; Teks menggunakan teks dan penjelasan Dupuis, p. 68

[20] Fitzmeyer, Op.Cit., p. 251

[21]  Ivan Havener, “Filipi”, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Eds. Dianne Bergant, Robert J. Karris,  Yogyakarta: Kanisius, 2002, p.355-6

[22] Fitzmeyer, p. 251

[23] Dikutip dengan perubahan dari Injil  Tuhan Kita Yesus Kristus, terjemahan menurut naskah-naskah Yunani oleh P.J. Bouma, SVD, cetakan VII, Ende: Percetakan Arnoldus, 1996, pp.802-803.

[24] Ivan Havener, “Kolose”, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, (eds.) Dianne Bergant, Robert J. Karris,  Yogyakarta: Kanisius, pp.363-4

[25]  Joseph A. Grassi, “The Letter to the Colossians”, dalam The Jerome Biblical Commentary, (eds). Raymond E. Brown, et. al., London: Geoffrey Champman, 1970, p. 337

[26] P. Bouma, SVD, Op.Cit. p.802 komentar pada catatan kaki.

[27] Ibid.,

[28] Ibid.,

[29] Menggunakan keterangan teks Dupuis, p. 73,  berdasar  The New Jerusalem Bible.

[30] Neal M. Flanagan, “Yohanes”, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Eds. Dianne Bergant, Robert J. Karris,  Yogyakarta: Kanisius, p. 164

Tinggalkan komentar

Filed under Diktat dan Catatan Kuliah, Teologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s