POLITIK MENURUT AGUSTINUS DAN THOMAS AQUINAS SERTA PENILAIAN ATAS PANDANGAN KEDUA TOKOH

Filsafat Politik St. Agustinus

Gagasan politik St. Agustinus berpusat pada konsepnya tentang “dua kota.”Terdapat dua kategori manusia yang saling bercampur. Kategori pertama, yaitu kota duniawi (kota manusia). Manusia yang menghuni kota ini hidup mengikuti sifat lahiriah mereka, mencintai diri sendiri dan merendahkan Tuhan. Kebanyakan manusia masuk dalam kategori ini. Kategori kedua, kota surgawi (kota Tuhan). Manusia yang menempati kota ini adalah mereka yang merendahkan diri dan mencintai Tuhan serta hidup dengan roh.[1]

Manusia pada kategori pertama tidak mencintai Tuhan, hidup menurut dirinya sendiri, maka terkena kutukan: hidup dengan penuh masalah, penuh nafsu-nafsu, pertikaian, dan kekerasan. Perlulah suatu kekuatan eksternal (dibutuhkan negara) untuk mengatur kekacauan manusia itu.Dengan adanya kekuatan negara kekacauan dapat dikendalikan dan menikmati hidup duniawi tanpa adanya kekacauan.Pada tatanan kota surgawi, manusia yang hidup dengan mencintai Tuhan, penuh kedamaian, dan keadilan sejati hanya akan terwujud dengan suatu kebangkitan (tidak tahu kapan akan terpenuhi). Kota Tuhan ini, terdiri dari manusia yang terpilih, namun tidak banyak.Hanya sebagian yang dapat dilihat secara nyata, yaitu di dalam Gereja, mungkin mereka ada di antara wakil-wakil Tuhan di dunia.[2]

 

Filsafat Politik St. Thomas Aquinas

Gagasan politik St. Thomas Aquinas tampak dalam bukunya The Governance of Rulers (De regimine principum).Ia memperluas gagasan Aristoteles Zoom Politikon“manusia secara alamiah adalah binatang politik dan sosial.”Artinya manusia yang mengunakan akal dan kemampuan bicaranya untuk bekerjasama membangun komunitas politik sebagaitanggapan atas kebutuhan kelompok dan pribadi-pribadi yang menyusunnya.[3] Dari sini, politik akan menjadi persatuan orang-orang bebas di bawah arahan suatu penguasa yang betujuan mendorong kebaikan bersama.

Bentuk pemerintahan terbaik menurut Aquinas adalah monarki.Pemerintahan monarki yang digagas olehnya bersifat agama. Dia mengansumsikan ‘hierarki para malaikat dibawah satu Tuhan diproduksi di dunia dengan adanya beragam tingkatan dalam Geraja, dan dalam masyarakat, serta masing-masing mengemban posisinya di bawah satu raja tunggal.”[4]Dapat diandaikan, bahwa sistem pemerintahannya berdasar pada hukum Ilahi (Tuhan menjadi pimpinan, penguasa tertinggi).Bahkan setelah sistem itu diterapkan dalam pemerintahan duniawi, Tuhan tetap menjadi yang utama.

 

Penilaian atas Pandangan Keduanya

Kedua gagasan politik di atas sangat bernada kekristenan (agama). St. Agustinus membandingkan suatu pemerintahan kota menjadi hal yang duniawi dan surgawi, yang baik dan buruk di mana yang baik adalah kota surgawi dan yang buruk kota duniawi. Penduduk kota surgawi adalah mereka yang hidup dengan roh dan taat pada Tuhan, sementara mereka yang duniawi ialah penduduk atau orang-orang yang tidak taat pada Tuhan. Karena itu, penduduk kota duniawi butuh lembaga yang mengatur kekacuan yang ada. St. Thomas mendasarkan pemerintahan berdasarkan hirarki hukum Ilahi

Akan sulit untuk menilai mana yang lebih baik jika pendasarannya berkisar pada agama.Bagi saya ini adalah sah-sah saja, tidak ada yang perlu diperdebatkan (selaku pribadi yang beragama Katolik). Namun jika dilihat, dikritisi dari sudut pemikiran murni (lepas dari iman), apa yang ditampilkan keduanya tidak berdasar pada realitas, sungguhkah ada pendasaran dari teori mereka itu. Pendasaran yang “diawang-awang,” jauh dari kenyataan yang dapat dipikirkan oleh banyak orang, yang mungkin berbeda iman dengan keduanya.

Namun, gagasan yang ditampilkan keduanya paling tidak memberi gambaran “identifikasi” akan suatu bentuk pemerintahan, tingkatan kekuasaan dalam negara. Tidak hanya itu, juga memberi gambaran akan mengapa ada kekacauan, kejahatan, dan lahirnya negara di dunia. Paling tidak, itu berguna bagi orang yang berada di luar iman yang sama dan menjadi penguat bagi iman yang sama dengan keduanya.

[1] Joseph losco, Leonard Williams, Political Theory: Kajian Klasik dan Kontemporer, H. Munandar, (terj.), Vol. 1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 336-337.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hlm. 438-400.

[4]Ibid.

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s