IMAN VS KETIDAKPERCAYAAN

SANG SABDA

IMAN VS KETIDAKPERCAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 6 Juli 2015)

YESUS  DENGAN OFFICIAL YANG ANAKNYA SAKITSementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar…

Lihat pos aslinya 815 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

IMAN VS KETIDAKPERCAYAAN

SANG SABDA

IMAN VS KETIDAKPERCAYAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 6 Juli 2015)

YESUS  DENGAN OFFICIAL YANG ANAKNYA SAKITSementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar…

Lihat pos aslinya 815 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN

SANG SABDA

MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 7 Juli 2015) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Kej 32:22-32…

Lihat pos aslinya 677 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

Lowongan Kerja PT Kalbe Farma Tbk. 2015

Saffa' | Inspiration

Lowongan Kerja PT Kalbe Farma Tbk. – PT Kalbe Farma merupakan penyedia layanan kesehatan terbesar di Indonesia, yang telah berdiri sejak 1966.

Pada saat ini, Kalbe sedang membutuhkan tambahan tenaga kerja dengan posisi sebagai berikut :

HVAC Maintenance Engineering Staff

Lihat pos aslinya 111 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat

KONDISI MANUSIA DALAM STATE OF NATURE DALAM HAKEKAT NEGARA MENURUT THOMAS HOBBES DAN JOHN LOCKE

Menurut Thomas Hobbes

Hobbes dikenal dengan pandangannya tentang “Negara sebagai Leviathan”. Adagio ini berawal dari pandangannya di mana manusia mimiliki kodrat egois dan antisosial. Jika demikian, bagaimana mungkin manusia yang egois dan anti sosial dapat hidup bermasyarakat? Untuk itu Hobbes menjawab melalui pandangannya tentang “Negara Alami” (state of nature), yang merupakan awal dari semua pemerintahan manusia.[1]

Dalam negara alami sebelum ada pemerintahan, setiap manusia ingin memertahankan hidupnya, menguasai orang lain, tidak ada kepemilikan, tidak ada keadilan atau ketidak adilan. Di dalamnya hanya perang dan kekuatan serta penipuan.[2] Lalu terjadi perubahan, manusia mulai menyatukan diri dan mengadakan kontrak sosial, semacam perjanjian damai yang menjadi dasar kehidupan sosial. Namun untuk memperkuat perjanjian ini, mereka menyerahkan kekuasaan dan hak-hak kodrati mereka semua kepada lembaga yang disebut negara.[3] Orang banyak yang bersatu ini disebutnya sebagi sebuah persemakmuran “Leviathan” (raksasa laut).

Warga negara itu harus memilih penguasa, ketika penguasa terpilih, itu berarti kekuasaan masyarakat itu berakhir. Warganegara kehilangan semua haknya, kecuali pemerintah memberi kebijakan lain. Mengapa demikian? Ini karena perjanjian itu mengharuskan ketundukan (kekuasaan yang tidak terbatas) di tangan penguasa yang mereka pilih.[4] Peran rakyat dalam sistem Hobbes berakhir dengan terpilihnya seorang penguasa. Semua harus ditentukan oleh penguasa. Masyarakat wajib mematuhi apa yang menjadi keputusan dari penguasa yang dipilihnya.

 

Menurut John Locke

Berbeda dengan Hobbes, konsep State of Nature Jhon Locke adalah keadaan manusia dimasa lampau yang damai, tidak ada perang, kedudukannya sama, dan berkeadilan, manusia hidup bermasyarakat dengan diatur oleh hukum-hukum kodrat. Gagasan negara alami yang paling mendekati defenisi negara alami yang ada dalam pemikiran Locke adalah: “manusia hidup bersama sesuai dengan pertimbangan nalar mereka, tanpa adanya pihak-pihak yang berposisi diantara mereka di dunia, dan masing-masing berwewenang untuk saling menilai sesamanya, itulah gambaran negara alami”.[5]

Gambaran awal yang baik dan indah dari manusia. Jika demikian, bagaimana terbentuknya negara? Untuk apa adanya negara? Locke menjawab bahwa justru karena keadaan yang damai, bebas, indah, harmonis, dan independen dari manusia harus dipertahankan serta menjamin keamanan seluruh masyarakat maka dibutuhkan negara. Negara pun terbentuk dengan adanya keinginan mempertahankan situasi yang demikian. Maka,masyarakat melakukan kontrak sosial yang menghasilkan pemerintahan yang berkuasa, yang dibatasi oleh hukum-hukum dasar tertentu.[6]

Bentuk kekuasaan dari pemerintahan yang didasarkan pada kontrak sosial itu berbeda dengan pandangan Hobbes. Menurut Locke pemerintahan merupakan bagian dari kelompok dalam kesepakatan itu, yang dapat dituntut mundur jika gagal dalam tugasnya. Kekuasaan ini hanya berkisar pada kemasyalatan saja. Menurutnya “tujuan pertama dan utama dari orang-orang yang bersatu dalam sebuah negara, dan menempatkan diri dibawah pemerintahan adalah penjagaan harta milik mereka” dan lebih lanjut ia mengatakan” kekuasaan tertinggi tidak dapat mengabil alih hak milik seseorang tanpa persetujuan mereka.[7] Untuk itu agar kekuasaan pemerintah itu tidak menjadi suatu tirani bagi masyarakat diperlukan pemisahan kekuasaan antara eksekutif dan legislatif.[8]

 

Penilaian atas Pandangan Keduanya

Perbedaan gagasan ditampilkan oleh kedua filsuf di atas. Thomas Hobbes yakni kondisi awali manusia digambarkan sebagai manusia yang egois dan anti sosial. Negara timbul akibat kerjasama sosial, berkaitan dengan situasi awali manusia yang egois, yaitu untuk menjaga kekacauan, ketidakadilan, dan kekerasan akibat situasi awali. Negara menjadi penguasa absolut dan masyarakat kehilangan kebebasannya. Di pihak satunya, Jhon Locke memandang situasi awali manusia yang penuh keadilan, damai, dan kebaikan. Negara timbul untuk mempertahankan situasi awali, kedamaian, keharmonisan, dan kebaikan manusia. Negara tidak menjadi kekuasaan absolut, dapat diturunkan jika gagal melaksanakan tugasnya dan jika melanggar hak masyarakat.

Secara pribadi saya tidak setuju dengan gagasan awali Hobbes dan sistem politik pemerintahannya yang absolut, yang akhirnya begitu membatasi masyarakat. Jika harus memilih, pilihan akan jatuh pada gagasan Jhon Locke. Pandangan awali Hobbes begitu memandang rendah manusia, seakan tidak ada yang baik dari manusia, dan hanya kekacauanlah milik manusia. Bukankah negara dijalankan oleh manusia juga. Jika demikian, mengapa manusia yang sama, yang kacau, justru harus memimpin dan mengatur? Sistem pemerintahan negara yang begitu absolut, yang semua harus diatur dan tunduk pada keputusan negara, justru membuat pribadi manusia tertekan, dan kehilangan daya kritis dan kreatifnya.

Gagasan Jhon Locke sebaliknya, lebih pada penghargaan pada manusia. Menghormati hak-hak pribadi.Gagasan negaranya tidak menekan, justru menjadi bagian dari masyarakat itu. Maka, adanya ruang tersebut membuat manusia lebih kritis dan kreatif dalam hidup dalam menjalankan tanggungjawab kepada negara dan sesama, dan juga dapat menuntut hak-hak yang menjadi miliknya.

 

[1]Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, p. 723

[2] Ibid.

[3] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavalle Sampai Nietzsche, Jakarta: 2007, p. 71

[4] Bertrand Russell, Ibid., p 724

[5] Bertrand Russell., Loc. Cit., p. 821

[6] F. Budi hardiman., Loc.Cit., p. 81

[7] Bertrand Russell, Ibid., p. 821

[8] F. Budi hardiman, Ibid., p. 81

Tinggalkan komentar

Filed under Filsafat